Perspektif Ilmu Pendidikan
Not a member yet
344 research outputs found
Sort by
PENERAPAN METODE MATERNAL REFLEKTIF (MMR) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN PADA SISWA DENGAN HAMBATAN PENDENGARAN: APPLICATION OF MATERNAL REFLECTIVE METHODS TO IMPROVE READING COMPREHENSION FOR STUDENTS WITH HEARING IMPAIRMENTS
The purpose of this classroom action research was to improve the reading comprehension of students with hearing impairments through the application of Maternal Reflective Methods (MMR) in the learning activity. Based on the results of observations and initial tests on students with hearing impairment in grade 4 of school for students with disabilities, it is evident that students reading comprehension skills need to be improved further. The Maternal Reflective Method is utilized to improve reading comprehension for students with hearing impairments. The research participants consisted of a male and three females with hearing impairment students. The research was held in two cycles. Each cycle consists of 4 stages: planning, implementation, observation, and reflection. The data were obtained through classroom observation, reading comprehension tests, and supplementary documents. The results showed that the utilization of the Maternal Reflective Method in learning activity could significantly improve reading comprehension for students with hearing impairments.Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa dengan hambatan pendengaran melalui penerapan Metode Maternal Reflektif (MMR) dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi dan hasil tes kemampuan awal yang dilakukan pada siswa dengan hambatan pendengaran kelas IV di SLB yang menjadi partisipan penelitian, dapat dilihat bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa masih perlu ditingkatkan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 1 siswa laki-laki dan 3 siswa perempuan. Penelitian dilakukan dalam dua siklus, dalam setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Metode dalam pengumpulan data berupa observasi kelas, tes kemampuan membaca pemahaman, dan dokumentasi data pelengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan MMR dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa dengan hambatan pendengaran secara signifikan.
The purpose of this classroom action research was to improve the reading comprehension of students with hearing impairments through the application of Maternal Reflective Methods (MMR) in the learning activity. Based on the results of observations and initial tests on students with hearing impairment in grade 4 of school for students with disabilities, it is evident that students reading comprehension skills need to be improved further. The Maternal Reflective Method is utilized to improve reading comprehension for students with hearing impairments. The research participants consisted of a male and three females with hearing impairment students. The research was held in two cycles. Each cycle consists of 4 stages: planning, implementation, observation, and reflection. The data were obtained through classroom observation, reading comprehension tests, and supplementary documents. The results showed that the utilization of the Maternal Reflective Method in learning activity could significantly improve reading comprehension for students with hearing impairments
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI: THE INFLUENCE OF PICTURE AND PICTURE LEARNING MODELS ON GEOGRAPHIC LEARNING OUTCOMES
This research was conducted in social studies class X of a state high school in Ciamis Regency with the aim to determine the effect of using the type of picture and picture cooperative learning model on the improvement of student learning outcomes. The method used is quasi-experimental model with a pre-test post-test control group design. Data analysis was performed by calculating the value of t. The results showed that the use of the cooperative learning model type picture and picture gave a significant effect in learning outcomes of students' cognitive domains (tcount > ttable). It is necessary to use varied learning models so that students will be more active and have better acceptance of the material presented so that it contributes to improving learning outcomes and the achievement of the specified KKM.Penelitian ini dilakukan di kelas X IPS sebuah SMA Negeri di Kabupaten Ciamis dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif type picture and picture terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan model pre-test post-test control group design. Analisis data dilakukan dengan menghitung nilai t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar domain kognitif peserta didik (thitung > ttabel). Diperlukan penggunaan model pembelajaran yang lebih bervariasi lagi agar peserta didik lebih aktif dan memiliki penerimaan lebih baik terhadap materi yang disampaikan sehingga berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar dan pencapaian KKM yang ditetapkan
SUBKULTUR DAN FAKTOR-FAKTOR BIOGRAFIS MAHASISWA DALAM KEHIDUPAN DI PERGURUAN TINGGI: SUBCULTURE AND BIOGRAPHIC FACTORS OF STUDENT LIFE IN COLLEGE
This study aims to obtain a picture of the students subculture grouping tendency in viewing the tertiary institutions and value-oriented information service design about tertiary institutions. The method used was a survey of 2 batches in four study programs in a university in Pontianak, namely Guidance and Counseling studies, PG-PAUD, Mandarin Language Education and Sociology Education of FKIP. A total of 224 students from the four study programs of the 2018 and 2019 classes was participated in this study. The results showed that (1) biographically, students had subcultural tendencies starting from politics, then vocational, academic, non-conformist and collegial. (2) the overall student subculture is in the medium category, (3) there are differences in the student subculture between the two batches in viewing tertiary institutions, (4) ADDIE design as a value-oriented information service about tertiary institutions. This study recommends optimizing the role of the Academic Advisor, and (2) the FKIP guidance and counseling service unit and the center for guidance and counseling in carrying out student coaching activities.Penelitian ini bertujuan untuk memeroleh gambaran kecenderungan pengelompokan subkultur mahasiswa dalam memandang perguruan tinggi, dan desain layanan informasi orientasi nilai tentang perguruan tinggi. Metode yang digunakan adalah survei, di 2 angkatan pada empat program studi di Universitas Tanjung Pura Pontianak, yaitu studi Bimbingan dan Konseling, PG-PAUD, Pendidikan Bahasa Mandarin dan Pendidikan Sosiologi FKIP. Partisipan berjumlah 224 mahasiswa berasal dari keempat program studi dari angkatan 2018 dan 2019. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa (1) biografis mahasiswa mempunyai kecenderungan subkultur mulai dari politik, berikutnya vokasional, akademik, non-konformis dan kolegial. (2) subkultur mahasiswa secara keseluruhan berada pada kategori sedang, (3) ada perbedaan subkultur mahasiswa di antara dua angkatan dalam memandang perguruan tinggi, (4) desain ADDIE sebagai layanan informasi orientasi nilai tentang perguruan tinggi. Penelitian ini merekomendasikan untuk mengoptimalkan peran dosen Pembimbing Akademik, dan (2) Unit layanan bimbingan dan konseling FKIP maupun pusat bimbingan dan konseling dalam melaksanakan kegiatan pembinaan kemahasiswaan
PERSPEKTIF MAHASISWA TERHADAP PENDEKATAN PEDAGOGI SPIRITUAL DALAM PEMBELAJARAN DARING: STUDENTS’ PERSPECTIVES ON THE SPIRITUAL PEDAGOGY APPROACH IN ONLINE LEARNING
Dalam masa pandemi sekarang ini, semua kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam bentuk daring atau tatap maya dengan bantuan gawai dan jaringan internet. Pada masa seperti ini, apakah pendekatan pedagogi spiritual dapat terjadi dan dirasakan oleh mahasiswa? Pedagogi spiritual adalah pendekatan pembelajaran yang berparadigma spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan perspektif mahasiswa tentang pedagogi spiritual dalam pembelajaran daring. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur yang dilakukan terhadap subjek penelitian menggunakan media komunikasi whatsapp. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga yang berjumlah 15 orang dari berbagai program studi. Data hasil wawancara dikumpulkan dan dikategorikan menurut pedoman wawancara yang ada yang disarikan dari komponen karakteristik kelas yang melakukan pembelajaran dengan paradigma spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagogi spiritual pada pembelajaran daring dialami secara berbeda oleh mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa memiliki perspektif tidak merasakan dan mengalami pedagogi spiritual dalam pembelajaran daring yang disebabkan oleh berbagai faktor yang terlibat dalam pembelajaran daring tersebut. Ada juga mahasiswa yang memiliki perspektif mengalami dan merasakan pedagogi spiritual dalam pembelajaran daring, sehingga dapat memberi gambaran nilai spiritual dosen yang mendasari pembelajaran tersebut. Praktik pedagogi spiritual dalam pembelajaran daring terus dicarikan bentuk yang sesuai kondisi dan kebutuhan mahasiswa.In the current pandemic era, all learning activities are carried out online with the help of electronic devices and internet networks. At times like this, can a spiritual pedagogical approach occur and be felt by students? Spiritual pedagogy is an approach to learning which put forward spiritual paradigm. This study aims to determine and describe student perspectives on spiritual pedagogy in online learning. This research is a qualitative descriptive study. Data was collected through structured interviews conducted on participants using WhatsApp communication media. Participants in this research were 15 Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) students in Salatiga from various study programs. Interview data were analyzed according to the existing interview guidelines which were extracted from the characteristic components of a class conducting learning with a spiritual paradigm. The results showed that the spiritual pedagogy of online learning was experienced differently by students. Most students have the perspective of not feeling and experiencing spiritual pedagogy in online learning which is caused by various factors involved in online learning. There are also students who have the perspective of feeling and experiencing spiritual pedagogy in online learning. So that it can give an idea of the spiritual value of the teacher that underlies the learning. Spiritual pedagogical practice in online learning continues to look for forms that suit the conditions and needs of students.Dalam masa pandemi sekarang ini, semua kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam bentuk daring atau tatap maya dengan bantuan gawai dan jaringan internet. Pada masa seperti ini, apakah pendekatan pedagogi spiritual dapat terjadi dan dirasakan oleh mahasiswa? Pedagogi spiritual adalah pendekatan pembelajaran yang berparadigma spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan perspektif mahasiswa tentang pedagogi spiritual dalam pembelajaran daring. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur yang dilakukan terhadap subjek penelitian menggunakan media komunikasi whatsapp. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga yang berjumlah 15 orang dari berbagai program studi. Data hasil wawancara dikumpulkan dan dikategorikan menurut pedoman wawancara yang ada yang disarikan dari komponen karakteristik kelas yang melakukan pembelajaran dengan paradigma spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagogi spiritual pada pembelajaran daring dialami secara berbeda oleh mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa memiliki perspektif tidak merasakan dan mengalami pedagogi spiritual dalam pembelajaran daring yang disebabkan oleh berbagai faktor yang terlibat dalam pembelajaran daring tersebut. Ada juga mahasiswa yang memiliki perspektif mengalami dan merasakan pedagogi spiritual dalam pembelajaran daring, sehingga dapat memberi gambaran nilai spiritual dosen yang mendasari pembelajaran tersebut. Praktik pedagogi spiritual dalam pembelajaran daring terus dicarikan bentuk yang sesuai kondisi dan kebutuhan mahasiswa.In the current pandemic era, all learning activities are carried out online with the help of electronic devices and internet networks. At times like this, can a spiritual pedagogical approach occur and be felt by students? Spiritual pedagogy is an approach to learning which put forward spiritual paradigm. This study aims to determine and describe student perspectives on spiritual pedagogy in online learning. This research is a qualitative descriptive study. Data was collected through structured interviews conducted on participants using WhatsApp communication media. Participants in this research were 15 Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) students in Salatiga from various study programs. Interview data were analyzed according to the existing interview guidelines which were extracted from the characteristic components of a class conducting learning with a spiritual paradigm. The results showed that the spiritual pedagogy of online learning was experienced differently by students. Most students have the perspective of not feeling and experiencing spiritual pedagogy in online learning which is caused by various factors involved in online learning. There are also students who have the perspective of feeling and experiencing spiritual pedagogy in online learning. So that it can give an idea of the spiritual value of the teacher that underlies the learning. Spiritual pedagogical practice in online learning continues to look for forms that suit the conditions and needs of students
PELAKSANAAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH DASAR NEGERI KOTA TANGERANG: THE IMPLEMENTATION OF EXTRACURRICULAR ACTIVITIES IN THE PUBLIC ELEMENTARY SCHOOLS OF TANGERANG CITY
This study aims to evaluate the process of carrying out extracurricular activities in public elementary schools in the city of Tangerang. This study used a qualitative verification approach that was carried out in 8 schools. The results show that extracurricular activities at the school have been carried out very well especially for mandatory extracurricular activities. As for the non-mandatory extracurricular activities, the implementation varies greatly depending on the school's policies and pupils’ interest which is supported by the presence of extracurricular choices. The coaching of extracurricular activities is carried out by the vice principal in the fields of curriculum, student affairs, teachers and alumni.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi proses pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar yang berada di Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif verifikatif yang dilaksanakan di 8 sekolah dasar negeri. Dari hasil observasi yang dilakukan, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tersebut telah dilaksanakan dengan baik sekali terutama untuk kegiatan ekstrakurikuler wajib. Sedangkan untuk kegiatan ektrakurikuler pilihan dilakukan sangat bervariasi tergantung kebijakan sekolah dan sesuai peminatan siswa yang di dukung oleh adanya ekstrakurikuler pilihan. Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler ini dilakukan oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum, bidang kesiswaan, guru-guru dan alumni
PENGEMBANGAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) TEMATIK BERBASIS KARAKTER: THE DEVELOPMENT OF A CHARACTER BASED THEMATIC LESSON PLAN
The application of Character Education (PPK) is an education policy that aims to implement the values of religiosity, nationalism, independence, mutual cooperation, and integrity. To be implemented in learning, it is necessary to develop lesson plans that are integrated with those values. The aim of this study was to produce a prototype of thematic Lesson Plan (RPP) that is specific to students in grade 2 of elementary school. This study is a simplified educational Research & Development (R&D). This study was carried out from June to October 2019, which took place at SD Muhammadiyah 24 Jakarta Timur. Product validation was done by experts and small groups. The results of the study in general show that the quality of the prototype based on the validation by instructional design and material experts were 76% and 98%. Additionally, based on the small-scale trials the quality of the prototype was 90%. These results indicate that the prototype of the Thematic Lesson Plan (RPP) developed can be applied in the learning process of grade 2 elementary schools’ students so that it can have an accompanying impact that will produce character of religiosity, nationalism, independence, mutual cooperation and integrity in accordance with The application of Character Education (PPK). Further research is needed to perfectly develop the prototype.Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan kebijakan pendidikan yang bertujuan untuk mengimplementasikan nilai religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Agar dapat terimplementasi di dalam pembelajaran diperlukan pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang terintegrasi dengan nilai-nilai tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan prototipe produk RPP tematik yang dikhususkan untuk siswa kelas 2 SD. Penelitian ini dilakukan dengan metode Research & Development (R&D) yang disederhanakan. Penelitian dilaksanakan dari Bulan Juni sampai Oktober 2019, bertempat di SD Muhammadiyah 24 Jakarta Timur. Validasi produk dilakukan oleh ahli dan kelompok kecil. Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa kualitas prototipe yang dihasilkan berdasarkan validasi dari ahli desain pembelajaran dan ahli materi adalah sebesar 76% dan 98%. Sedangkan berdasarkan hasil ujicoba skala kecil kualitas yang didapatkan adalah 90%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa produk prototipe RPP tematik yang dikembangkan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran pada siswa kelas 2 SD sehingga dapat memberikan dampak pengiring yang akan menghasilkan karakter yang sesuai dengan PPK. Dan sebaiknya ada penelitian lanjutan yang akan mengembangkan produk ini menjadi lebih sempurna
UPAYA PENGEMBANGAN SOFT SKILL SISWA SMA MELALUI PRAMUKA: EFFORT TO DEVELOP HIGH SCHOOL STUDENTS’ SOFT SKILLS THROUGH SCOUTING ACTIVITIES
Penelitian ini mengkaji upaya pengembangan soft skill siswa SMA melalui kegiatan pramuka. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan teori fungsionalisme struktural dari Talcott Parsons dengan sistem AGIL, yaitu Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency sebagai dasar analisis data. Partisipan penelitian adalah 24 siswa dan 1 pembina pramuka di sebuah SMA Negeri di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pramuka dapat membantu mengembangkan soft skill siswa terutama kemampuan sosial dan kemampuan personal. Kemampuan sosial terdiri dari communication skill, relationship building, dan team work, sedangkan kemampuan personal terdiri dari time management, leadership skill, dan transforming character (percaya diri, tanggung jawab, mandiri, kreatif, cinta alam, dan berjiwa sosial). Kedua kemampuan soft skill dikembangkan melalui partisipasi siswa dalam kegiatan Pramuka dan keanggotaan siswa sebagai Dewan Ambalan Pramuka.This study examines efforts to develop soft skills for high school students through scouting activities. This research is a qualitative descriptive study that uses Talcott Parsons’ structural functionalism theory with the AGIL system, namely Adaptation, Goal Attainment, Integration, and Latency as the basis for data analysis. Research participants were 24 students and one scout coach in a public high school in Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The results showed that scouting activities could help develop students' soft skills, especially social skills and personal abilities. Social skills consist of communication skills, relationship building, and team work, while personal abilities consist of time management, leadership skills, and transforming character (self-confidence, responsibility, independence, creativity, love of nature, and social spirit). Both soft skill abilities are developed through student participation in scouting activities and student membership as Scouting Council.Penelitian ini mengkaji upaya pengembangan soft skill siswa SMA melalui kegiatan pramuka. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan teori fungsionalisme struktural dari Talcott Parsons dengan sistem AGIL, yaitu Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency sebagai dasar analisis data. Partisipan penelitian adalah 24 siswa dan 1 pembina pramuka di sebuah SMA Negeri di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pramuka dapat membantu mengembangkan soft skill siswa terutama kemampuan sosial dan kemampuan personal. Kemampuan sosial terdiri dari communication skill, relationship building, dan team work, sedangkan kemampuan personal terdiri dari time management, leadership skill, dan transforming character (percaya diri, tanggung jawab, mandiri, kreatif, cinta alam, dan berjiwa sosial). Kedua kemampuan soft skill dikembangkan melalui partisipasi siswa dalam kegiatan Pramuka dan keanggotaan siswa sebagai Dewan Ambalan Pramuka.This study examines efforts to develop soft skills for high school students through scouting activities. This research is a qualitative descriptive study that uses Talcott Parsons’ structural functionalism theory with the AGIL system, namely Adaptation, Goal Attainment, Integration, and Latency as the basis for data analysis. Research participants were 24 students and one scout coach in a public high school in Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The results showed that scouting activities could help develop students' soft skills, especially social skills and personal abilities. Social skills consist of communication skills, relationship building, and team work, while personal abilities consist of time management, leadership skills, and transforming character (self-confidence, responsibility, independence, creativity, love of nature, and social spirit). Both soft skill abilities are developed through student participation in scouting activities and student membership as Scouting Council
HARGA DIRI MAHASISWA YANG TERLAMBAT MENYELESAIKAN STUDI: PRIDE OF STUDENTS WHO DELAYED THEIR STUDY
Mahasiswa yang mengalami keterlambatan penyelesaian studi umumnya mengalami masalah akademik. Kondisi ini berdampak terhadap harga diri yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat harga diri mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studi di wilayah Jabodetabek. Harga diri adalah penilaian seseorang terhadap dirinya, dalam penelitian ini diukur menggunakan Roserberg self-esteem scale. Metode penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 71 orang, terdiri dari 49 mahasiswa perempuan dan 22 mahasiswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat harga diri pada mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studi di wilayah Jabodetabek berada pada kategori sedang. Berdasarkan kondisi tersebut penting bagi mahasiswa untuk merencanakan kuliah dengan tepat sehingga bisa lulus tepat waktu, karena berdampak pada aspek psikologis, termasuk harga diri. Harga diri akan berdampak kepada keyakinan diri untuk melaksanakan sesuatu.Students who experience delays in completing their study generally experience academic problems which impacting their pride. This study aims to determine the level of pride of students living in the Jabodetabek area who are late in completing their study. Pride is a person's assessment of her/himself which in this research is measured using the Rosenberg self-esteem scale. The research method used is a quantitative descriptive study with 71 participants, consisting of 49 female students and 22 male students. The results showed that the level of self-esteem of students living in the Jabodetabek area who were late in completing their study was in the medium category. Based on these conditions, students are suggested to plan their study appropriately so that they can graduate on time. Unplanned study will impact psychologically, including self-esteem which will have domino effects on other psychological aspect such as self-confidence.Mahasiswa yang mengalami keterlambatan penyelesaian studi umumnya mengalami masalah akademik. Kondisi ini berdampak terhadap harga diri yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat harga diri mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studi di wilayah Jabodetabek. Harga diri adalah penilaian seseorang terhadap dirinya, dalam penelitian ini diukur menggunakan Roserberg self-esteem scale. Metode penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 71 orang, terdiri dari 49 mahasiswa perempuan dan 22 mahasiswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat harga diri pada mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studi di wilayah Jabodetabek berada pada kategori sedang. Berdasarkan kondisi tersebut penting bagi mahasiswa untuk merencanakan kuliah dengan tepat sehingga bisa lulus tepat waktu, karena berdampak pada aspek psikologis, termasuk harga diri. Harga diri akan berdampak kepada keyakinan diri untuk melaksanakan sesuatu.Students who experience delays in completing their study generally experience academic problems which impacting their pride. This study aims to determine the level of pride of students living in the Jabodetabek area who are late in completing their study. Pride is a person's assessment of her/himself which in this research is measured using the Rosenberg self-esteem scale. The research method used is a quantitative descriptive study with 71 participants, consisting of 49 female students and 22 male students. The results showed that the level of self-esteem of students living in the Jabodetabek area who were late in completing their study was in the medium category. Based on these conditions, students are suggested to plan their study appropriately so that they can graduate on time. Unplanned study will impact psychologically, including self-esteem which will have domino effects on other psychological aspect such as self-confidence
PENGEMBANGAN MEDIA CAI (COMPUTER ASSISTED INSTRUCTION) PADA MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK KELAS X DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN: DEVELOPMENT OF CAI (COMPUTER ASSISTED INSTRUCTION) MEDIA IN ENGLISH SUBJECT FOR CLASS X IN VOCATIONAL HIGH SCHOOL
Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan media pembelajaran interaktif yang dirancang berdasarkan karakteristik pembelajaran dengan bantuan komputer atau CAI (Computer Assisted Instruction) untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris di SMK. Media pembelajaran ini dikembangkan untuk membantu siswa Sekolah Menengah Kejuruan yang belum mencapai standar kompetensi yang ditetapkan pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan. Model pengmbangan yang digunakan untuk mengembangkan media CAI ini adalah model Hannafin and Peck. Data dikumpulkan menggunakan angket, wawancara, dokumen hasil pembelajaran dan tes. Hasil uji validasi pakar materi, media, desain instruktional, uji satu-satu, uji kelompok kecil serta hasil uji lapangan dengan menggunakan perhitungan t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media CAI. Dengan kata lain media CAI untuk pembelajaran Bahasa Inggris dinilai efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.The purpose of the study is to develop an interactive learning media that are designed based on the characteristics of learning with the help of computer or CAI (Computer Assisted Instruction) to improve English learning outcomes in vocational high school. This learning media was developed to help Vocational High School students who have not yet reached the competency standards set in English subjects. The research method used is a research and development method. The development model used to develop CAI media is the model from Hannafin and Peck . Data were collected using questionnaires, interviews, learning outcomes documents and tests. Validation test results for material, media and design experts instructional, one-on-one test, small group test and the results of field tests using t-test calculations showed that there were significant differences in student learning outcomes before and after using CAI media. In other words, CAI media for learning English was considered effective and can help improving students’ learning outcomes.Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan media pembelajaran interaktif yang dirancang berdasarkan karakteristik pembelajaran dengan bantuan komputer atau CAI (Computer Assisted Instruction) untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Inggris di SMK. Media pembelajaran ini dikembangkan untuk membantu siswa Sekolah Menengah Kejuruan yang belum mencapai standar kompetensi yang ditetapkan pada mata pelajaran Bahasa Inggris. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan. Model pengmbangan yang digunakan untuk mengembangkan media CAI ini adalah model Hannafin and Peck. Data dikumpulkan menggunakan angket, wawancara, dokumen hasil pembelajaran dan tes. Hasil uji validasi pakar materi, media, desain instruktional, uji satu-satu, uji kelompok kecil serta hasil uji lapangan dengan menggunakan perhitungan t-test menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media CAI. Dengan kata lain media CAI untuk pembelajaran Bahasa Inggris dinilai efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.The purpose of the study is to develop an interactive learning media that are designed based on the characteristics of learning with the help of computer or CAI (Computer Assisted Instruction) to improve English learning outcomes in vocational high school. This learning media was developed to help Vocational High School students who have not yet reached the competency standards set in English subjects. The research method used is a research and development method. The development model used to develop CAI media is the model from Hannafin and Peck . Data were collected using questionnaires, interviews, learning outcomes documents and tests. Validation test results for material, media and design experts instructional, one-on-one test, small group test and the results of field tests using t-test calculations showed that there were significant differences in student learning outcomes before and after using CAI media. In other words, CAI media for learning English was considered effective and can help improving students’ learning outcomes
KEMANDIRIAN BELAJAR PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN DARING PADA MASA PANDEMI COVID -19: SELF-REGULATED LEARNING OF STUDENTS STUDYING ONLINE DURING COVID-19 PANDEMIC
Kemandirian belajar penting bagi para peserta didik, terutama pada saat pembelajaran dilaksanakan secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kemandirian belajar remaja yang melakukan pembelajaran daring. Metode kuantitatif dengan rancangan deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Sampel pada penelitian dipilih melalui teknik snowball yang melibatkan 579 responden terdiri dari siswa SMA dan SMK dan mahasiswa di Jakarta dengan rentang usia mulai dari 16 sampai dengan 21 tahun. Instrumen yang digunakan adalah kemandirian belajar pada mahasiswa yang dikonstruksi oleh Hidayati & Listyani (2010), yang memiliki 19 butir pernyataan. Reliabilitas instrumen ini adalah Alpha Cronbach 0,879. Hasil pengukuran terhadap kemandirian belajar menunjukkan bahwa responden memiliki kemandirian yang cenderung rendah (rerata = 2.78/St.Dev. 0.289 dalam skala 5) dan komponen yang terendah adalah tanggung jawab dan inisiatif belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa para pemelajar (siswa/mahasiswa) belum cukup siap untuk belajar secara daring, penyebabnya adalah karena kebiasaan belajar, dan teknologi yang kurang mendukung.Self-regulated learning is important for students, especially when learning is carried out online. This study aims to obtain a description of the self-regulated learning of students who carry out online learning. Quantitative method with descriptive research design was used in this research. The sample in this study was selected through the snowball technique involving 579 respondents consisting of secondary and vocational high school students as well as university students with age range between 16 and 21 years. The instrument used was self-regulated learning on students constructed by Hidayati & Listyani (2010) which has 19 statements. The reliability of this instrument is Cronbach Alpha 0.879. The results show that the respondents have low self-regulated learning ability (mean = 2.78 / St.Dev. 0.289 on a scale of 5) and the lowest components are learning responsibility and initiative. These results indicate that the learners are not quite ready to learn online caused by study habits and less supportive technology.Kemandirian belajar penting bagi para peserta didik, terutama pada saat pembelajaran dilaksanakan secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kemandirian belajar remaja yang melakukan pembelajaran daring. Metode kuantitatif dengan rancangan deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Sampel pada penelitian dipilih melalui teknik snowball yang melibatkan 579 responden terdiri dari siswa SMA dan SMK dan mahasiswa di Jakarta dengan rentang usia mulai dari 16 sampai dengan 21 tahun. Instrumen yang digunakan adalah kemandirian belajar pada mahasiswa yang dikonstruksi oleh Hidayati & Listyani (2010), yang memiliki 19 butir pernyataan. Reliabilitas instrumen ini adalah Alpha Cronbach 0,879. Hasil pengukuran terhadap kemandirian belajar menunjukkan bahwa responden memiliki kemandirian yang cenderung rendah (rerata = 2.78/St.Dev. 0.289 dalam skala 5) dan komponen yang terendah adalah tanggung jawab dan inisiatif belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa para pemelajar (siswa/mahasiswa) belum cukup siap untuk belajar secara daring, penyebabnya adalah karena kebiasaan belajar, dan teknologi yang kurang mendukung.Self-regulated learning is important for students, especially when learning is carried out online. This study aims to obtain a description of the self-regulated learning of students who carry out online learning. Quantitative method with descriptive research design was used in this research. The sample in this study was selected through the snowball technique involving 579 respondents consisting of secondary and vocational high school students as well as university students with age range between 16 and 21 years. The instrument used was self-regulated learning on students constructed by Hidayati & Listyani (2010) which has 19 statements. The reliability of this instrument is Cronbach Alpha 0.879. The results show that the respondents have low self-regulated learning ability (mean = 2.78 / St.Dev. 0.289 on a scale of 5) and the lowest components are learning responsibility and initiative. These results indicate that the learners are not quite ready to learn online caused by study habits and less supportive technology