Perspektif Ilmu Pendidikan
Not a member yet
    344 research outputs found

    PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LURING DAN MODEL PEMBELAJARAN DARING TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA METTA SCHOOL

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara model pembelajaran luring dan model pembelajaran daring terhadap prestasi belajar siswa SD Metta School Surabaya. Desain yang digunakan dalam penelitian berbentuk eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket yang disebarkan kepada 44 siswa SD dari kelas III-VI dan dokumen berupa nilai raport siswa. Data yang telah diperoleh dari penyebaran angket kemudian dianalisis menggunakan skala likert dan diuji dengan menggunakan uji-z. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran luring dan model pembelajaran daring ada pengaruh terhadap prestasi belajar, jika ditinjau dari persen capaian sebesar 95% dan 79,75%. Selanjutnya berdasarkan uji-z diperoleh nilai signifikansi 6,827> , sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang sangat nyata pada model pembelajaran luring dan model pembelajaran daring terhadap prestasi belajar. Jadi, peran guru dalam proses pembelajaran sangat penting untuk memancing motivasi belajar anak. Hal tersebut, juga harus didorong oleh usaha peserta didik dalam kegiatan belajar, sehingga pengalaman yang diperolehnya dapat memberikan manfaat dalam belajar. Kata-kata Kunci: Luring, Daring, Prestasi Belajar   Abstract: The study aims to determine the difference in the effect of offline learning model and online learning model on student achievement at Metta School Surabaya Elementary School. The design used in this research is in the form of an experiment with a quantitative approach. The instrument used in this study was a questionnaire distributed to 44 elementary school students from grades III-VI and a document in the form of student report cards. Data obtained from questionnaire distribution and then analyzed using a Likert scale and tested using the z-test. The results of this study indicate that the offline learning model and online learning model have an influence on learning achievement, when viewed from the percentage of achievement of 95% and 79,75%. Furthermore, based on the z-test, a significance value of 6,827>  was obtained, so it can be concluded that there is a very significance effect on the offline learning model and online learning model on learning achievement. Keywords: Offline Learning Model, Online Learning Model, Learning  Achievemen

    ANALISIS HASIL ASESMEN DIAGNOSTIK PADA KONSENTRASI MAHASISWA DALAM PROSES PEMBELAJARAN DARING DI PERGURUAN TINGGI KEAGAMAAN ISLAM NEGERI (PTKIN): THE ANALYSIS OF DIAGNOSTIC ASESMENT RESULT ON STUDENT CONCENTRATION IN THE PROCESS OF ONLINE LEARNING AT ISLAMIC STATE UNIVERSITIES

    Full text link
    Pembelajaran daring selama pandemik Covid-19 berhadapan dengan sejumlah permasalahan. Penelitian ini merupakan studi pendahuluan bagi penelitian terkait permasalahan konsentrasi mahasiswa saat melaksanakan pembelajaran daring. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data untuk menegakkan diagnosis melalui tes asesmen diagnostik bahwa telah terjadi permasalahan pada konsentrasi mahasiswa selama  proses pembelajaran daring, yang akan menjadi dasar dalam tindakan penyelesaian atau intervensi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner melalui googleform selama seminggu di Bulan Juni 2020. Pertanyaan bersifat tertutup dan terstruktur yang disesuaikan dengan karakteristik asesmen diagnostik berupa selected response. Kuesioner yang lengkap terisi sebanyak 163 buah. Partisipan penelitian adalah 163 mahasiswa dari PTKIN, dengan rincian 122 dari UIN, 36 mahasiswa dari IAIN, dan 5 mahasiswa STAIN. Hasil asesmen diagnostik terhadap konsentrasi mahasiswa dalam pembelajaran daring menunjukkan bahwa terdapat permasalahan konsentrasi belajar mahasiswa baik pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, yang menjadi alat ukur konsentrasi dalam belajar. Hasil tersebut, menegakkan diagnosis bahwa telah terjadi permasalahan pada konsentrasi mahasiswa PTKIN saat mengikuti pembelajaran daring. Penelitian ini merekomendasikan untuk dilakukan intervensi pada proses pembelajaran terkait konsentrasi mahasiswa dalam belajar.   This study aims to proof that there is concentration problem faced by students during online learning process. This research is a preliminary study of a research  focusing on students concentration problems. The data was collected through survey with a questionnaire which sent to the participants via google form. The questionnaire distribution was started on June 21 to June 26, 2020. The participants who completed the questionnaire were 163 students with details of 122 students from UIN, 36 students from IAIN, and 5 STAIN students. The results of the diagnostic assessment show that there is a problem with student concentration in online learning on three aspects, namely cognitive, affective, and psychomotor as the measuring tools for concentration in learning. These results proofed the diagnosis that there has been a problem with the concentration of PTKIN students while participating in online learning. Based on the result showed, this study recommended further intervention to overcome the problems faced by the students.Pembelajaran daring selama pandemik Covid-19 berhadapan dengan sejumlah permasalahan. Penelitian ini merupakan studi pendahuluan bagi penelitian terkait permasalahan konsentrasi mahasiswa saat melaksanakan pembelajaran daring. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data untuk menegakkan diagnosis melalui tes asesmen diagnostik bahwa telah terjadi permasalahan pada konsentrasi mahasiswa selama  proses pembelajaran daring, yang akan menjadi dasar dalam tindakan penyelesaian atau intervensi. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner melalui googleform selama seminggu di Bulan Juni 2020. Pertanyaan bersifat tertutup dan terstruktur yang disesuaikan dengan karakteristik asesmen diagnostik berupa selected response. Kuesioner yang lengkap terisi sebanyak 163 buah. Partisipan penelitian adalah 163 mahasiswa dari PTKIN, dengan rincian 122 dari UIN, 36 mahasiswa dari IAIN, dan 5 mahasiswa STAIN. Hasil asesmen diagnostik terhadap konsentrasi mahasiswa dalam pembelajaran daring menunjukkan bahwa terdapat permasalahan konsentrasi belajar mahasiswa baik pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, yang menjadi alat ukur konsentrasi dalam belajar. Hasil tersebut, menegakkan diagnosis bahwa telah terjadi permasalahan pada konsentrasi mahasiswa PTKIN saat mengikuti pembelajaran daring. Penelitian ini merekomendasikan untuk dilakukan intervensi pada proses pembelajaran terkait konsentrasi mahasiswa dalam belajar.   This study aims to proof that there is concentration problem faced by students during online learning process. This research is a preliminary study of a research  focusing on students concentration problems. The data was collected through survey with a questionnaire which sent to the participants via google form. The questionnaire distribution was started on June 21 to June 26, 2020. The participants who completed the questionnaire were 163 students with details of 122 students from UIN, 36 students from IAIN, and 5 STAIN students. The results of the diagnostic assessment show that there is a problem with student concentration in online learning on three aspects, namely cognitive, affective, and psychomotor as the measuring tools for concentration in learning. These results proofed the diagnosis that there has been a problem with the concentration of PTKIN students while participating in online learning. Based on the result showed, this study recommended further intervention to overcome the problems faced by the students

    RECEPTIVE LANGUAGE OF AUTISM-DEAF STUDENT: Study case at SLB Kembar Karya Pembangunan II

    No full text
    This study aims to determine the receptive language shown by autism-deaf students. The subject in this study was an autism-deaf student at SLB Kembar Karya Pembangunan II. The research method used in this research is a case study with a qualitative research approach. The data was collected by observing, interviewing and documenting further data analysis in the field using the Miles and Huberman model. The results showed that the autistic-deaf students showed several receptive languages ​​that they had. The results shown are being able to match pictures, knowing nouns, being able to group colors and being able to follow instructions. These results indicate that autism-deaf students have receptive language and can develop language skills such as receptive and expressive language. Therefore, parents and teachers need to know the needs and abilities of autism-deaf students so that they can design appropriate activities and provide appropriate teaching and activities so that autistic-deaf students can develop receptive language skills.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahasa reseptif yang ditunjukkan oleh peserta didik autis-tunarungu. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang peserta didik autis-tunarungu di SLB Kembar Karya Pembangunan II. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi selanjutnya analisis data di lapangan dilakukan dengan model Miles and Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik autis-tunarungu menunjukkan beberapa bahasa reseptif yang dimiliki. Hasil yang ditunjukkan seperti mampu menyamakan gambar, mengetahui kata benda, mampu mengelempokkan warna dan dapat mengikuti intruksi. Hasil ini menunjukkan bahwa peserta didik autis-tunarungu memiliki bahasa reseptif dan dapat mengembangkan kemampuan bahasa seperti bahasa reseptif dan ekspresif. Oleh sebab itu, orang tua dan guru perlu mengetahui kebutuhan dan kemampuan peserta didik autis-tunarungu sehingga dapat merancang kegiatan yang tepat dan memberikan pengajaran dan kegiatan yang sesuai agar peserta didik autis-tunarungu dapat mengembangkan kemampuan bahasa reseptif

    HUBUNGAN KEBERSYUKURAN DENGAN TEACHER WELL-BEING PADA GURU YANG MENGAJAR DI SEKOLAH DASAR INKLUSI

    Full text link
    This research aims to find the relationship between gratitude and teacher well-being for teachers who teach in inclusive elementary schools. The research method used is quantitative with descriptive analysis techniques and correlation analysis. The sample in this study was 185 inclusive elementary school teachers obtained by purposive sampling technique. The gratitude variable was measured using The Gratitude Questionnaire-Six Item Form (GQ-6) developed by McCullough, Emmons, and Tsang (2002) and the teacher well-being variable was measured using the Teacher Well-Being Scale (TWBS) developed by Collie et al. (2015). The results of the correlation analysis show that there is a significant relationship towards positive gratitude with teacher well-being for teachers who teach in inclusive elementary schools. The positive relationship between gratitude and teacher well-being is defined as the higher the gratitude, the higher the teacher well-being of teachers who teach in inclusive elementary schools.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kebersyukuran dengan teacher well-being pada guru yang mengajar di sekolah dasar inklusi. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif dan analisis korelasi. Sampel dalam penelitian ini adalah 185 orang guru sekolah dasar inklusi yang didapat dengan teknik purposive sampling. Variabel kebersyukuran diukur dengan menggunakan The Gratitude Questionnaire-Six Item Form (GQ-6) yang dikembangkan oleh McCullough, Emmons, dan Tsang (2002) dan variabel teacher well-being diukur menggunakan Teacher Well-Being Scale (TWBS) yang dikembangkan oleh Collie et al., (2015). Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan ke arah positif kebersyukuran dengan teacher well-being pada guru yang mengajar di sekolah dasar inklusi. Hubungan positif antara kebersyukuran dengan teacher well-being diartikan sebagai semakin tinggi kebersyukuran maka akan semakin tinggi pula teacher well-being pada guru yang mengajar di sekolah dasar inklusi

    OPTIMALISASI KEBUTUHAN MURID DAN HASIL BELAJAR DENGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

    Full text link
    Abstract: Differentiated learning is an attempt to adjust the learning process in the classroom to meet the individual learning needs of each student. Differentiated learning is an adjustment to interests, learning profiles, and student readiness in order to achieve increased learning outcomes. Through differentiated learning activities, all their needs are accommodated according to their interests or learning profiles. In classes that apply differentiation learning, teachers must think that students have diverse learning needs and differ from one another. There are four (4) components of differentiated learning, namely: content, process, product, and learning environment. Differentiated learning is able to help students achieve optimal learning outcomes, because the products they will produce are according to their interests. Differentiated learning process must provide ample space for students to demonstrate what they have learned. Products produced by students can be presented in an article, song, poem, infographic, poster, video performance, video animation or other forms according to the skills and interests of each group.Abstrak: Pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan penyesuaian terhadap minat, profil belajar, kesiapan murid agar tercapai peningkatan hasil belajar.Melalui kegiatan pembelajaran berdiferensiasi, semua kebutuhan mereka terakomodir sesuai minat atau profil belajar yang mereka miliki.Pada kelas yang menerapkan pembelajaran diferensiasi, guru harus berpikir bahwa murid-murid memiliki kebutuhan belajar yang beragam dan berbeda satu dengan yang lainnya. Terdapat empat (4) komponen pembelajaran berdiferensiasi, yaitu: isi, proses, produk, dan lingkungan belajar. Pembelajaran berdiferensiasi mampu membantu murid mencapai hasil belajar optimal, karena produk yang akan mereka hasilkan sesuai minat mereka. Proses pembelajaran berdiferensiasi harus memberikan ruang yang luas kepada murid untuk mendemostrasikan apa-apa yang telah mereka pelajari. Produk yang dihasilkan oleh murid dapat disajikan dalam sebuah artikel, lagu, puisi, infografis, poster, video performance, video animasi atau bentuk lain sesuai keterampilan dan minat kelompok masing-masing

    PENGARUH SELF-MANAGEMENT DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA STAB KERTARAJASA, BATU

    No full text
    Abstrak Penelitian ini dilakukan berdasarkan nilai hasil belajar mahasiswa berupa IPK. Rendahnya hasil belajar dikarenakan beberapa faktor salah satunya faktor dari dalam diri. Self-management dapat mempengaruhi tinggi rendahnya nilai hasil belajar mahasiswa. Self-management merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh individu dalam mencapai tujuan yang dirumuskan dengan cara mengelola, mengatur, dan memaksimalkan potensinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat dan pengaruh Self-management terhadap prestasi belajar mahasiswa sāmaṇera/Aṭṭhasīlani dan reguler STAB Kertarajasa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Variabel penelitian ini meliputi Self-management (variabel bebas) dan prestas belajar (variabel terikat). Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang berjumlah 28 orang. Metode pengambilan data yang digunakan adalah skala Self-management dan nilai Indeks Prestasi Komulatif. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan analisis Uji t dan skala likert. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Self-management berpengaruh sangat efektif terhadap prestasi belajar, jika ditinjau dari persen capaian sebesar 76%. Berdasarkan analisis uji t nilai IPK Sāmaṇera/Aṭṭhasīlani dan Reguler menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata antara IPK mahasiswa Sāmaṇera/Aṭṭhasīlani dengan reguler karena t hitung (2,564)  t 0,05 = 2,056  t 0,01 (=2,779). Hal ini karena Sāmaṇera/Aṭṭhasīlani memiliki disiplin yang lebih baik. Kata kunci: self-management, prestasi belajar, mahasiswa. Abstract This research was conducted based on the value of student learning outcomes in the form of GPA. The low learning outcomes are due to several factors, one of which is internal factors. Self-management can affect the high and low value of student learning outcomes. Self-management is an effort made by individuals in achieving the goals formulated by managing, regulating, and maximizing their potential. This study aims to determine the level and influence of self-management on student achievement sāmaṇera/Aṭṭhasīlani and regular STAB Kertarajasa. This research is a quantitative research. The variables of this study include self-management (independent variable) and learning achievement (dependent variable). The subjects in this study were 28 students. The data retrieval method used is the Self-management scale and the value of the Cumulative Achievement Index. The data analysis technique of this research used t test analysis and Likert scale. The results of this study indicate that self-management has a very effective effect on learning achievement, when viewed from the percentage of achievement of 76%. Based on the t-test analysis of Sāmaṇera/Aṭṭhasīlani and Regular GPA values, it shows that there is a significant difference between the GPA of Sāmaṇera/Aṭṭhasīlani students and regular students because t count (2.564) > t 0.05 = 2.056 < t 0.01 (=2.779). This is because Sāmaṇera/Aṭṭhasīlani have better discipline.     Keywords: self-management, learning achievement, students

    PENERAPAN PEMBELAJARAN LANGSUNG DALAM MEMFASILITASI KETERAMPILAN TEKNIK BERMAIN BOLA BASKET UNTUK SISWA TUNAGRAHITA KELAS XI SMALB-C: THE IMPLEMENTATION OF DIRECT LEARNING TO FACILITATE BASKETBALL TECHNIQUE SKILLS FOR SECOND-GRADE STUDENTS OF HIGH SCHOOL FOR STUDENTS WITH INTELLECTUAL DISABILITIES

    Full text link
    Kondisi Penelitian ini bertujuan untuk memfasilitasi keterampilan teknik bermain bola basket pada mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (Penjaskes) pada siswa tunagrahita dengan menggunakan metode pembelajaran langsung. Partisipan penelitian adalah 7 orang siswa kelas XI SMALB-C, dan seorang guru. Tindakan dilakukan sebanyak 2 siklus di mana setiap siklus berlangsung dalam 2 kali pertemuan. Setiap siklus mempunyai empat kegiatan utama yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar keterampilan Penjaskes materi teknik permainan bola basket pada anak tunagrahita kelas XI SMALB-C, yang dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran langsung. Pembelajaran anak tunagrahita perlu mempertimbangkan penggunaan prinsip keperagaan, pengulangan dan individualisasi. Penelitian ini melaporkan bahwa metode pembelajaran langsung dapat digunakan untuk memfasilitasi keterampilan teknik bermain bola basket pada siswa tunagrahita.   This research aims to facilitate basketball technique skills in physical education, sports, and health subject for students with intellectual disability using direct learning methods. The participants of this research are seven second-grade students and a teacher of high school for students with intellectual disabilities. The actions were carried out in 2 cycles, where every cycle lasts for 2 sessions. Every cycle has four main activities; planning, action, observation, and reflection. The results showed an improvement in the learning outcomes of basketball technique skills of physical education, sports, and health subject for second-grade high school students with intellectual disability using the direct learning method. Learning for students with an intellectual disability needs to regard the use of modeling, repetition, and individualization principles. This research reported that the direct learning method could be used to facilitate basketball technique skills for students with intellectual disabilities.Kondisi Penelitian ini bertujuan untuk memfasilitasi keterampilan teknik bermain bola basket pada mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (Penjaskes) pada siswa tunagrahita dengan menggunakan metode pembelajaran langsung. Partisipan penelitian adalah 7 orang siswa kelas XI SMALB-C, dan seorang guru. Tindakan dilakukan sebanyak 2 siklus di mana setiap siklus berlangsung dalam 2 kali pertemuan. Setiap siklus mempunyai empat kegiatan utama yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar keterampilan Penjaskes materi teknik permainan bola basket pada anak tunagrahita kelas XI SMALB-C, yang dilakukan dengan menggunakan metode pembelajaran langsung. Pembelajaran anak tunagrahita perlu mempertimbangkan penggunaan prinsip keperagaan, pengulangan dan individualisasi. Penelitian ini melaporkan bahwa metode pembelajaran langsung dapat digunakan untuk memfasilitasi keterampilan teknik bermain bola basket pada siswa tunagrahita.   This research aims to facilitate basketball technique skills in physical education, sports, and health subject for students with intellectual disability using direct learning methods. The participants of this research are seven second-grade students and a teacher of high school for students with intellectual disabilities. The actions were carried out in 2 cycles, where every cycle lasts for 2 sessions. Every cycle has four main activities; planning, action, observation, and reflection. The results showed an improvement in the learning outcomes of basketball technique skills of physical education, sports, and health subject for second-grade high school students with intellectual disability using the direct learning method. Learning for students with an intellectual disability needs to regard the use of modeling, repetition, and individualization principles. This research reported that the direct learning method could be used to facilitate basketball technique skills for students with intellectual disabilities

    EFIKASI DIRI MAHASISWA PESERTA KEGIATAN PERTUKARAN PELAJAR MELALUI PERKULIAHAN JARAK JAUH: SELF-EFFICACY OF UNS-UNY EXCHANGE STUDENTS IN DISTANCE LEARNING

    Full text link
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang salah satu kegiatannya adalah pertukaran pelajar. Namun adanya pandemik Covid-19 menyebabkan perkuliahan pada kegiatan pertukaran pelajar dilaksanakan secara jarak jauh (daring). Pembelajaran jarak jauh sering  menimbulkan masalah bagi mahasiswa seperti academic burnout, stres, dan kelelahan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efikasi diri mahasiswa pada kegiatan pertukaran pelajar dalam pembelajaran daring. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Teknik pengumpulan data dengan menyebar kuesioner pada 20 mahasiswa dan wawancara pada 6 mahasiswa peserta kegiatan pertukaran pelajar di program studi PGSD UNS-UNY. Lima faktor untuk melihat efikasi diri dalam menyelesaikan pembelajaran daring; berinteraksi secara sosial dengan teman sekelas; menangani alat di CMS (Course Management System); berinteraksi dengan instruktur di pembelajaran daring; dan berinteraksi dengan teman sekelas untuk tujuan akademis (Shen et al., 2013). Hasil penelitian menunjukkan tingkat efikasi diri mahasiswa pertukaran pelajar pada masa pembelajaran jarak jauh dalam kategori tinggi dan cukup tinggi. Mahasiswa memiliki keyakinan atau kepercayaan diri yang baik untuk mengikuti program transfer kredit dan berada pada kriteria tinggi.   The Ministry of Education and Culture launched merdeka belajar kampus merdeka program which one of the activities is student exchange. However, during the COVID-19 pandemic, the lecture activities in the meant programs is carried out remotely (online). Distance learning often poses problems for students such as academic burnout, stress, emotional fatigue. This study aims to determine the level of self-efficacy of the students who took part in the exchange program which conducted online. The method used in this research is mixed between survey and interview. Questionnaire was given to twenty students of PGSD UNS-UNY who join the exchange program through google form and six of them were interviewed. The results showed that the level of self-efficacy of UNS-UNY exchange student during distance learning is in moderate and high categories. It means that students have good self-confidence and in high criteria to join the credit transfer program. Researchers recommend further research to deepen information.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang salah satu kegiatannya adalah pertukaran pelajar. Namun adanya pandemik Covid-19 menyebabkan perkuliahan pada kegiatan pertukaran pelajar dilaksanakan secara jarak jauh (daring). Pembelajaran jarak jauh sering  menimbulkan masalah bagi mahasiswa seperti academic burnout, stres, dan kelelahan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efikasi diri mahasiswa pada kegiatan pertukaran pelajar dalam pembelajaran daring. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Teknik pengumpulan data dengan menyebar kuesioner pada 20 mahasiswa dan wawancara pada 6 mahasiswa peserta kegiatan pertukaran pelajar di program studi PGSD UNS-UNY. Lima faktor untuk melihat efikasi diri dalam menyelesaikan pembelajaran daring; berinteraksi secara sosial dengan teman sekelas; menangani alat di CMS (Course Management System); berinteraksi dengan instruktur di pembelajaran daring; dan berinteraksi dengan teman sekelas untuk tujuan akademis (Shen et al., 2013). Hasil penelitian menunjukkan tingkat efikasi diri mahasiswa pertukaran pelajar pada masa pembelajaran jarak jauh dalam kategori tinggi dan cukup tinggi. Mahasiswa memiliki keyakinan atau kepercayaan diri yang baik untuk mengikuti program transfer kredit dan berada pada kriteria tinggi.   The Ministry of Education and Culture launched merdeka belajar kampus merdeka program which one of the activities is student exchange. However, during the COVID-19 pandemic, the lecture activities in the meant programs is carried out remotely (online). Distance learning often poses problems for students such as academic burnout, stress, emotional fatigue. This study aims to determine the level of self-efficacy of the students who took part in the exchange program which conducted online. The method used in this research is mixed between survey and interview. Questionnaire was given to twenty students of PGSD UNS-UNY who join the exchange program through google form and six of them were interviewed. The results showed that the level of self-efficacy of UNS-UNY exchange student during distance learning is in moderate and high categories. It means that students have good self-confidence and in high criteria to join the credit transfer program. Researchers recommend further research to deepen information

    PENGEMBANGAN MEDIA POWER POINT INTERAKTIF PADA PEMBELAJARAN TEMATIK SISWA KELAS V

    Full text link
    This research aimed to produced an interactive powerpoint as the proper media in thematic learning process for five graders. Proper means this research able to produce a product that can be used in the thematic learning process for five graders. The resulting product aimed to make a flexible learning media. This research was a kind of research and development based on the model developed by Borg and Gall. This research was done by steps: preliminary studies, planning, development of draft media product, validation, one on one trials, small group trials, revision II. The developed media was validated by a material expert and a media expert before conducted direct trials at school. Subject of this research was SD N Trenten 2, Candimulyo, Magelang Regency, Jawa Tengah. The trials were conducted to a teacher for one on one trials, and to four students for the small group trials. Instruments used to collect data were unstructured observation, unstructured interview, and questionnaire (material expert validation, media expert validation, and product trial questionnaire). The result of this research shows that material expert validation gets 4,38 belongs to the very good category. The result of media expert validation gets 3,56 belongs to the good category. The result of one on one trials gets 4,17 belongs to the good category. The result of small group trials gets 4,23 belongs to the very good category. Based on those results, thematic learning interactive powerpoint which is packaged in the form of an interactive CD proper to be used in the subtheme 1 theme 5 thematic learning process for five gradersPenelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah powerpoint interaktif sebagai media yang tepat dalam proses pembelajaran tematik untuk siswa kelas lima. Layak berarti penelitian ini mampu menghasilkan produk yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran tematik untuk siswa kelas lima. Produk yang dihasilkan bertujuan untuk membuat media pembelajaran yang fleksibel. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan berdasarkan model yang dikembangkan oleh Borg and Gall. Penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah: studi pendahuluan, perencanaan, pengembangan draft produk media, validasi, uji coba satu lawan satu, uji coba kelompok kecil, revisi II. Media yang dikembangkan divalidasi oleh ahli materi dan ahli media sebelum dilakukan uji coba langsung di sekolah. Subjek penelitian ini adalah SD N Trenten 2, Candimulyo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Uji coba dilakukan kepada seorang guru untuk uji coba satu lawan satu, dan kepada empat siswa untuk uji coba kelompok kecil. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi tidak terstruktur, wawancara tidak terstruktur, dan angket (validasi ahli materi, validasi ahli media, dan angket uji coba produk). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa validasi ahli materi mendapat 4,38 termasuk dalam kategori sangat baik. Hasil validasi ahli media didapatkan 3,56 termasuk dalam kategori baik. Hasil uji coba satu lawan satu mendapatkan 4,17 termasuk dalam kategori baik. Hasil uji coba kelompok kecil mendapatkan 4,23 termasuk kategori sangat baik. Berdasarkan hasil tersebut, pembelajaran tematik powerpoint interaktif yang dikemas dalam bentuk CD interaktif layak digunakan dalam proses pembelajaran tematik subtema 1 tema 5 untuk siswa kelas lima. &nbsp

    STUDI CURIOSITY, EPISTEMIC CURIOSITY, DAN KEBERHASILAN BELAJAR DALAM KONTEKS AKADEMIK

    Full text link
    Abstract: The role of learning is pretty diverse has provided convenience in wading into human life. It is not in a doubt, learning cannot be obtained easily, because it takes various elements that can accelerate success during the process. This can very least be realized by the existence of curiosity. Scientists believe that curiosity can create a more dynamic learning atmosphere, such as to conduct deep exploration and avoid the adequacy of acquiring basic knowledge only. Therefore, an understanding of all subjects involved in the process of developing curiosity while learning is required. This literature study will also be presented a lot of information about the four dimensions in curiosity, including diversive curiosity, specific curiosity, perceptual curiosity, and epistemic curiosity. Of these four dimensions, the study of epistemic curiosity becomes a key point of learning success in an academic setting. Epistemic curiosity is a type of curiosity in the form of a desire to acquire knowledge that motivates learners to learn new ideas, minimize information gaps, and solve complex problems that require critical thinking. Although learning is not always connected to school and academics, the academic world that is the main focus regarding becoming an insight that complementing study of epistemic curiosity itself. Based on reconfirmed information, epistemic curiosity is the dimension playing the most role in improving the learning achievement. Keywords: academic, learning, curiosity, epistemic curiosityAbstrak: Peran belajar yang sangat beragam telah memberikan kemudahan dalam mengarungi kehidupan manusia. Tentu saja, belajar tidak dapat diperoleh dengan mudah, karena dibutuhkan berbagai unsur yang dapat mengakselerasi kesuksesan selama prosesnya. Hal ini yang setidaknya dapat terwujud dengan keberadaan curiosity. Para ilmuwan percaya bahwa curiosity dapat menciptakan suasana belajar yang lebih dinamis, seperti untuk melakukan eksplorasi mendalam dan menghindari kecukupan perolehan pengetahuan dasar saja. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman dari seluruh subjek yang terlibat dalam proses mengembangkan curiosity saat belajar. Dalam studi literatur akan banyak disajikan informasi mengenai empat dimensi dalam curiosity, diantaranya diversive curiosity, specific curiosity, perceptual curiosity, dan epistemic curiosity. Dari keempat dimensi ini, kajian terhadap epistemic curiosity menjadi titik kunci kesuksesan belajar dalam konteks akademik. Epistemic curiosity merupakan jenis curiosity berupa keinginan untuk memperoleh pengetahuan yang memotivasi peserta didik untuk mempelajari ide-ide baru, meminimalkan kesenjangan informasi, dan memecahkan masalah kompleks yang memerlukan pemikiran kritis. Walaupun belajar nyatanya tidak selalu melekat dengan sekolah dan akademik, tetapi dunia akademik yang menjadi fokus utama dalam hal ini menjadi sudut pandang yang melengkapi kajian epistemic curiosity. Bahkan berdasarkan penelusuran, epistemic curiosity adalah dimensi yang paling berperan dalam peningkatan prestasi peserta didik. &nbsp

    309

    full texts

    344

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Perspektif Ilmu Pendidikan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇