Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura
Not a member yet
919 research outputs found
Sort by
ANALISIS TINGKAT KERUSAKAN JALAN SEBAGAI DASAR PENENTUAN JENIS PEMELIHARAAN YANG SESUAI MENGGUNAKAN METODE BINA MARGA DAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX (PCI) (STUDI KASUS RUAS JALAN SIDAS – TANJUNG STA 8 + 000 s/d STA 12 + 000)
Ruas jalan Sidas – Tanjung merupakan jalan Nasional. Hasil analisis menggunakan metode Bina Marga adalah segmen 1 s/d segmen 22, segmen 24 sampai dengan segmen 40 yaitu urutan prioritas A dengan rekomendasi penanganan pemeliharaan rutin,dan segmen 23 yaitu urutan prioritas B dengan rekomendasi penanganan pemeliharaan berkala. Hasil analisis menggunakan metode Pavement Condition Index (PCI) adalah segmen 1, 10, 20, 33, dan 39 adalah sedang (fair), segmen 2, 3, 5, 8, 12 s/d 19, 22, 24, 25, 28 s/d 32, 35, 36, dan 38 adalah sempurna (excellent), segmen 4 dan 21 adalah sangat baik (very good), segmen 6, 34, dan 37 adalah buruk (poor), segmen 7 dan 23 adalah gagal (failed), Segmen 9, 11, 26, 40 adalah baik (good), segmen 27 adalah sangat buruk (very poor). Rekomendasi penanganan jalan metode Pavement Condition Index (PCI) dengan metode Asphalt Institute MS-17 yaitu pemeliharaan rutin pada segmen 2, 3, 5, 8, 12 s/d 19, 22, 24, 25, 28 s/d 32, 35, 36, dan 38, tambalan dan lapis tambahan pada segmen segmen 1, 4, 6, 9 s/d 11, 20, 21, 26, 27, 33, 34, 37, 39, 40, dan rekonstruksi pada segmen 7 dan 23
ANALISIS KEMAMPUAN MANGROVE DALAM MEREDAM GELOMBANG
Pesisir Desa Kuala Karang, Kecamatan Teluk Pakedai didominasi oleh hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan ekosistem hutan di pantai dan habitatnya tumbuh dipengaruhi pasang surut air laut. Hutan mangrove mempunyai fungsi lain yaitu untuk mencegah abrasi pantai dikarenakan dapat meredam energi gelombang laut sebelum sampai di pesisir. Tujuan dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan mangrove dalam meredam energi gelombang di Desa Kuala Karang, kecamatan Teluk Pakedai. Dari hasil perhitungan yang dilakukan, nilai porositas mangrove (NP) yang didominasi oleh Avicennia, sp adalah 0,0392. Tinggi gelombang yang didominasi dari arah barat daya dan barat adalah sebesar 1,617 dan 1,758. Dengan menggunakan 3 metode perhitungan didapatkan nilai reduksi gelombang adalah negatif. Hal ini menunjukkan bahwa mangrove di daerah tersebut tidak mampu meredam gelombang. Kerapatan dan ketebalan hutan mangrove yang kurang merupakan salah satu penyebab mangrove di daerah tersebut tidak dapat mereduksi gelombang. Selain itu, tingginya sedimentasi membuat akar mangrove jenis Avicennia, sp tertimbun
OPTIMALISASI BIAYA DAN WAKTU PROYEK MENGGUNAKAN METODE CRASHING DENGAN PENAMBAHAN WAKTU KERJA LEMBUR DAN SISTEM KERJA SHIFT
Proyek konstruksi merupakan kegiatan yang dikerjakan dalam jangka waktu tertentu dengan sumber daya terbatas sehingga harus mengedepankan efektif dan efisien dalam pelaksanaannya. Pembangunan Gedung Kejaksaan Negeri Pontianak, mengalami keterlambatan selama 2 minggu akibat pondasi lama yang harus dibongkar. Target penelitian ini untuk mencari biaya yang lebih ekonomis setelah dilakukan percepatan. Untuk mendapatkan jalur kritis yang akan dilakukan crashing. Penyusunan Network Diagram dilakukan menggunakan metode PDM dengan bantuan program Microsoft Project. Pada penelitian ini dilakukan percepatan ( Crashing ) dengan penambahan kerja lembur 1 jam, lembur 2 jam, lembur 3 jam dan kerja shift untuk mencapai target waktu 2 minggu atau 12 hari kerja. Hasil percepatan dengan penambahan kerja lembur 1 jam diperoleh total durasi percepatan yaitu 10 hari dengan melakukan melakukan penerapan crashing sebanyak 17 kali namun tidak mencapai target durasi percepatan yaitu 12 hari. Percepatan dengan penambahan kerja lembur 2 jam diperoleh total durasi percepatan 12 hari dengan melakukan penerapan crashing sebanyak 10 kali dengan total biaya Rp. 5.523.671.307. Percepatan dengan penambahan kerja lembur 3 jam diperoleh total durasi percepatan 12 hari dengan melakukan penerapan crashing sebanyak 10 kali dengan total biaya Rp. 5.526.239.403. Percepatan dengan jam kerja shift diperoleh total durasi percepatan 12 hari dengan melakukan penerapan crashing sebanyak 7 kali dengan total biaya Rp. 5.520.146.950. Maka disimpulkan bahwa dengan melakukan percepatan menggunakan jam kerja shift lebih efektif dan ekonomis
ANALISIS KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR KABUPATEN SANGGAU DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH
Kabupaten Sanggau merupakan satu di antara kabupaten yang memiliki fungsi sebagai Pusat Kegiatan Wilayah dan berperan vital sebagai perbatasan Indonesia-Malaysia. Namun, keberadaan infrastruktur di Kabupaten Sanggau saat ini masih sangat kurang. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan infrastruktur di Kabupaten Sanggau dalam pengembangan wilayah. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan menggunakan standar Keputusan Menteri Kimpraswil 534/KPTS/M/2001 dan SNI 1733-03-2004. Infrastruktur yang dikaji berupa jalan, telekomunikasi, kelistrikan, air bersih, pendidikan dan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan, infrastruktur jalan sudah memenuhi standar panjang jalan minimum dengan jumlah ketersediaan jalan eksisting berlebih dari standar sepanjang 743,447 km. Sementara, infrastruktur telekomunikasi belum memenuhi standar jaringan telepon dengan kebutuhan sesuai standar masih kurang 54.895 sambungan telepon. Infrastruktur kelistrikan sudah memenuhi standar aliran listrik minimum dan berlebih dari standar yaitu 196.544.165 kWh. Begitu juga dengan infrastruktur air bersih sudah mencukupi standar minimum kebutuhan air rumah tangga bahkan berlebih 3.660.280 m³. Infrastruktur pendidikan masih terdapat fasilitas yang kurang seperti Taman Kanak-kanak sebanyak 326 unit dan Sekolah Menengah Atas 50 unit. Sama halnya dengan infrastruktur kesehatan masih ada yang kurang yaitu fasilitas balai pengobatan warga sebanyak 185 unit dan apotik sebanyak 5 unit. Dibutuhkan peningkatan jumlah unit infrastruktur yang kurang dalam mendukung pengembangan wilayah Kabupaten Sanggau
PENGARUH PEMBANGUNAN DUPLIKASI JEMBATAN KAPUAS 1 TERHADAP KINERJA PERSIMPANGAN JL. TANJUNGPURA – JL. SULTAN HAMID II – JL. IMAM BONJOL – JL. PAHLAWAN KOTA PONTIANAK
ABSTRAKSimpang Jl. Tanjungpura – Jl. Sultan Hamid II – Jl. Imam Bonjol – Jl. Pahlawan merupakan persimpangan terpadat di kota Pontianak, Serta penghubung jembatan Kapuas 1 yang membuat pergerakan pada simpang mencapai puncaknya pada jam-jam sibuk. Hambatan dan kemacetan lalu lintas yang terjadi pada simpang akan mempengaruhi kapasitas jalan yang bersangkutan dan tingkat pelayanan pada simpang akan menurun. Pengaturan arus lalu lintas yang baik sangat diperlukan dalam upaya membantu pergerakan kendaraan pada persimpangan agar tidak terjadi konflik yang berlebihan antar kendaraan. Maka dari itu, peneliti melakukan analisis kinerja simpang pada kondisi eksisting serta bagaimana kinerja simpang jika duplikasi jembatan Kapuas 1 mulai beroperasi dalam waktu 5 tahun yang akan datang (2023-2028). Metode yang digunakan pada analisa simpang bersinyal untuk mengetahui kinerja simpang bersinyal kondisi eksisting dan proyeksi 5 tahun dengan metode Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2014 dan Software VISSIM. Survei dilakukan selama tiga hari yaitu hari Sabtu, Minggu dan Senin. Setelah dilakukan analisa diperoleh tingkat kinerja simpang terbaik yaitu alternatif kedua, Dengan nilai Derajat Kejenuhan Pendekat Utara Dj = 0,67, Barat Dj = 0,58, Selatan Dj = 0,73, Timur Dj = 0,81. Dan Menggunakan Software VISSIM diperoleh tingkat pelayanan simpang LOS C. Kata kunci : Alternatif Proyeksi Simpang Bersinyal,Derajat Kejenuhan, VISSI
Identifikasi Potensi Bahaya dan Pengendalian Risiko (IBPR) Pertambangan Bauksit Pada Tahap Muat dan Angkut di PT. Labai Persada Tambang Site Balai Berkuak Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat
ABSTRAKPT. Labai Persada Tambang merupakan perusahaan pertambangan dengan komoditas tambang bauksit, seluas 13.770 Ha. Keselamatan kerja pada tahap muat angkut dapat mempengaruhi efektivitas kerja, oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi potensi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko. Identifikasi potensi bahaya dan risiko pada tahap muat dan angkut menggunakan metode hazard identification risk assessment and risk control (HIRARC), penilaian risiko menggunakan metode analisis risiko semi kuantitatif berdasarkan Australian Standard/New Zealand Standard (AS/NZS) 4360: 2004 dengan menggunakan parameter kemungkinan, paparan, dan konsekuensi. Data didapat dengan melakukan observasi langsung dilapangan dan kuesioner yang diisi oleh pekerja yang ada dilapangan. Hasil identifikasi dari potensi bahaya terdapat sebanyak 38 risiko yang mungkin terjadi, risiko dengan nilai tertinggi pada tahap pemuatan (loading) yaitu, risiko unit dump truck tumbang dengan nilai risiko (750), pada tahap pemuatan (hauling) yaitu, risiko tabrakan antar unit yang berlawanan arah dengan nilai risiko (1500), serta pada tahap dumping yaitu, risiko tertimbun material dengan nilai risiko (600), semua risiko tersebut termasuk dalam tingkat risiko very high. Pengendalian secara umum yaitu pengendalian engineering dengan melakukan perbaikan jalan pada tikungan dan tanjakan yang melampaui standar.Kata Kunci : Bahaya, HIRARC, Identifikasi, Pengendalian, RisikoABSTRACTPT. Labai Persada Tambang is a mining company with bauxite mining commodities, covering an area of 13,770 Ha. Occupational safety at the load and carry stage can affect work effectiveness, therefore it is necessary to identify potential hazards, risk assessment, and risk control. Identification of potential hazards and risks at the load and transport stage uses the hazard identification risk assessment and risk control (HIRARC) method, risk assessment uses a semi-quantitative risk analysis method based on Australian Standard/New Zealand Standard (AS/NZS) 4360: 2004 using probability parameters, exposure, and consequences. Data were obtained by direct observation in the field and questionnaires filled in by workers in the field. The results of the identification of the potential hazards are as many as 38 risks that may occur, the risk with the highest value is at the loading stage, that is, the risk of the dump truck unit collapsing with a risk value of (750), at the hauling stage, that is, the risk of collisions between units in the opposite direction to the risk value (1500), and at the dumping stage, namely, the risk of material accumulation with a risk value of (600), all of these risks are included in the very high-risk level. General control, namely engineering control by carrying out road repairs on bends and inclines that exceed the standard.Keywords : Hazard, HIRARC, Identification, Control, Ris
PERENCANAAN JEMBATAN BAJA TYPE TRUSS DI JEMBATAN MELAWI II, KECAMATAN NANGA PINOH, KABUPATEN MELAWI
Prasarana transportasi darat tidak lepas dari peranan jalan dan jembatan. Keduanya memiliki hubungan penting sebagai sarana untuk menghubungkan jalan yang dipisahkan oleh jurang, sungai, rel kereta api, dan median lainnya. Adanya bangunan jembatan akan menghasilkan jarak atau arah tujuan yang lebih pendek dan hemat biaya ke tempat tujuan daripada mengambil jalan memutar lebih jauh untuk menghindari hambatan tersebut. Khususnya di Kalimantan Barat, banyak ruas jalan yang harus melintasi sungai – sungai besar dan kecil. Untuk mencapai tujuan iniPemerintah Kabupaten Melawi membangun jembatan yaitu jembatan rangka baja. Pada kesempatan kali ini penulis akan merancang ulang struktur bangunan atas pada jembatan rangka baja dengan tipe truss. Jembatan ini merupakan alternatif baru yang akan berfungsi sebagai sarana penghubung antar Kota Nanga Pinoh – Kecamatan Nanga Pinoh Utara, Kabupaten Melawi. Secara struktural, pemilihan jembatan rangka baja dikarenakan lebar sungai mencapai kurang lebih 240 m yang akan terbagi menjadi 3 bentang.Peraturan pembebanan yang digunakan untuk merancang ulang jembatan rangka baja ini menggunakan peraturan Standar Nasional Indonesia (SNI) T-03-2005, SNI 1725:2016, SNI 2833:2016 merupakan pedoman peraturan untuk merancang sebuah jembatan. Tahap awal perancangan jembatan rangka adalah analisis lantai kendaraan, analisis gelagar memanjang, analisis gelagar melintang, analisis struktur rangka utama, sambungan dan perletakan jembatan. Dari hasil analisis perancangan struktur atas jembatan rangka tipe truss diperoleh tebal dari pelat lantai kendaraan 20 cm. Dimensi profil yang digunakan pada gelagar memanjang WF 450.200.9.12, profil gelagar melintang WF 900.300.16.28 dan profil rangka utama WF 496.432.45.70
PENGARUH KEPADATAN TANAH YANG DISTABILISASI DENGAN KAPUR TERHADAP PARAMETER KUAT TEKAN TANAH
Tanah lempung memiliki daya dukung tanah yang rendah. Dengan adanya permasalahan ini, maka diperlukan improvisasi pada tanah yang akan dijadikan sebagai bahan lapisan tanah dasar dengan menggunakan metode stabilisasi tanah atau perbaikan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji atau mengetahui pengaruh kepadatan tanah yang distabilisasi dengan kapur (Ca(OH)2) terhadap parameter kuat tekan tanah berdasarkan pengujian kuat tekan bebas. Sampel tanah yang digunakan adalah jenis tanah lempung yang berlokasi di Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan di laboratorium dengan mencampurkan tanah dan kapur sebesar 3%, 6% dan 12% terhadap berat kering tanah, serta dilakukan pemeraman selama 7, 14 dan 28 hari. Hasil pengujian didapatkan bahwa nilai kuat tekan bebas tanah dengan campuran kapur mengalami peningkatan dari kondisi tanah asli. Lamanya waktu pemeraman berpengaruh terhadap peningkatan nilai kuat tekan bebas. Penelitian ini membuktikan bahwa semakin besar persentase kadar kapur yang digunakan dan semakin lama waktu pemeraman yang dilakukan, nilai kuat tekan bebas tanah akan semakin meningkat.Kata kunci : desa bukit batu, kapur, kuat tekan bebas, stabilisasi, tanah lempung, waktu pemeraman Clay soil has a low soil carrying capacity. Given this problem, it is necessary to improvise the soil that will be used as subgrade material using soil stabilization or soil improvement methods. This study aims to examine or determine the effect of soil density stabilized with lime (Ca(OH)2) on the compressive strength parameters of the soil based on the unconfined compressive strength test.’The soil sample used is a’type of clay soil located in Bukit ‘Batu Village, Sungai Kunyit District, Mempawah Regency, West Kalimantan Province’. The research was conducted in the laboratory by mixing soil and lime at 3%, 6% and 12% of the dry weight of the soil, and curing for 7, 14 and 28 days. The test results showed that the unconfined compressive strength of the soil with lime mixture increased from the original soil condition. The length of curing time affects the increase in the value of the unconfined compressive strength. This study proves that the greater the percentage of lime content used and the longer the curing time, the unconfined compressive strength of the soil will increase.Keywords: bukit batu village, clay soil, curing time, lime, stabilization, unconfined compressive strengt
Evaluasi Geometrik dan Manajemen Lalu Lintas Kawasan Internal Universitas Tanjungpura
ABSTRAKUniversitas Tanjungpura adalah perguruan tinggi negeri di Kota Pontianak, berada di salah satu jalan utama Kota Pontianak. Beberapa jalan di sekitarnya memiliki arus lalu lintas cukup tinggi, dan beberapa tikungan yang memiliki simpang bersiku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geometrik dan manajemen lalu lintas dan melakukan evaluasi pada kawasan Internal Universitas Tanjungpura. Analisis yang digunakan adalah analisis kinerja ruas jalan, analisis kinerja ruas simpang dan analisis kondisi marka dan rambu jalan. Setelah dilakukan evaluasi geometrik dan manajemen lalu lintas didapatkan hasil. Geometrik pada lokasi 1 tidak memenuhi standar kondisi geometrik menurut MKJI 1997 dengan nilai derajat kejenuhan 0,24 dan (LoS)B. Geometrik pada lokasi 2, lebar bahu efektif tidak sesuai dengan standar karakteristik menurut MKJI 1997 dengan nilai derajat kejenuhan 0,17 dan (LoS)A. Geometrik pada lokasi 3 tidak memenuhi standar, lebar jalur dan bahu pada jauh dari standar kondisi geometrik menurut MKJI 1997 dengan nilai derajat kejenuhan 0,24 dan (LoS)B. Geometrik pada lokasi 4 tidak memenuhi standar dengan nilai derajat kejenuhan 0,09 dan (LoS)A. Geometrik pada U-Turn didepan gerbang fakultas teknik tidak memenuhi standar nilai maksimum radius putar. Simpang 1 nilai tundaan 7,68det/smp dengan (LoS)B. Simpang 2 nilai tundaan 6,89det/smp dengan (LoS)B. Simpang 3 nilai tundaan 6,78det/smp dengan (LoS)B.Kata kunci : Evaluasi Geometrik, Kinerja Jalan dan Simpang, Manajemen Lalu Lintas, Untan
PENGEMBANGAN KELING KUMANG AGROWISATA DI KECAMATAN KELAM PERMAI KABUPATEN SINTANG
Keling Kumang Agrowisata merupakan objek wisata baru di Kecamatan Kelam Permai yang memiliki berbagai potensi wisata alam. Keling Kumang Agrowisata saat ini masih dalam tahap pembangunan, sehingga masih belum sempurna dan masih diperlukan pengembangan sebagai pelindung dan pelestari lingkungan. Permasalahan tersebut meliputi masih kurangnya fasilitas umum dan infratsruktur kurang memadai. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi wisata Keling Kumang Agrowisata di Kecamatan Kelam Permai. Pendekatan penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. sedangkan variable yang digunakan meliputi aspek 3A, yaitu atraksi, aksesbilitas dan amenitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa Keling Kumang Agrowisata berada di posisi yang strategis dan tidak juah dari Kota Sintang. Sedangkan sarana dan prasarana yang tersedia, jumlahnya sudah mencukupi dan kondisinya cukup baik