Ar Raniry : International Journal of Islamic Studies
Not a member yet
137 research outputs found
Sort by
Classroom Management: Learners’ Motivation and Organize The Learning Environment of PAI
Classroom management is the key to success and improves the quality of PAIlearning in the classroom. Learners are potential classes who can be utilized througheffective classroom management. Teachers are required to have classroommanagement skills to optimize the PAI learning process in the classroom effectively.Conducive, challenging and inspiring classroom situations can develop PAI learningmotivation. This is the positive implication of effective classroom management on PAIlearnin
Interkulturalisme Bahasa Melayu dalam Hikayat Raja- Raja Pasai
Penelitian ini mencoba mengkaji bagaimana bahasa melayu diterima dalam masyarakat Aceh yang digunakan sebagai bahasa kerajaan dan sebagai bahasa internasional bahkan sebagai Lingua Pranca dalam masyarakat Aceh. Tujuan utama penulisan ini adalah untuk melihat pengaruh Hikayat Raja Pasai pada kemunculan bahasa melayu dalam kehidupan masyarakat Aceh pada masa itu, yang dikaji dengan menggunakan perspektif interkulturalisme. Interkulturalisme berbicara tentang dua atau lebih sebuah budaya yang saling berhadapan. Interaksinya berupa reaksi dan respon terhadap hadirnya budaya yang lain. Jadi interkulturalisme lebih mengacu pada munculnya pengaruh budaya luar dalam salah satu budaya loka
Pembinaan Karakter Intelektual Aceh dalam Pembangunan Masyarakat Madani
Pembinaan karakter di beberapa negara sudah mendapatkan prioritas sejak pendidikan dasar dimulai. Namun di Indonesia, khususnya Aceh pendidikan karakter masih dipandang sebagai wacana dan belum menjadi bagian yang terintegrasi dalam pendidikan formal. Makalah ini membahas tentang pentingnya pembinaan karakter intelektual Aceh dalam pembangunan masyarakat madani. Dimulaidengan melihat pengertian dari esensi karakter itu sendiri yang terintegrasi dengan format pembinaan karakter dan peran dari intelektual dalam pembangunan bangsa secara umum dan Aceh secara khusus
Hadis-Hadis Hukum yang Kontra Pembaruan Al-Qur’an: Tinjauan Pola Pemahaman Mu’abbad dan Mu’aqqat
Artikel ini ditulis untuk menjawab pertanyaan bagaimana pola pemahaman ulama terhadap hadis-hadis yang tampak kontra dengan semangat al-Qur‟an dan bagaimana alternatif pola pemahaman terhadap hadis-hadis tersebut sehingga produk fikih yang dihasilkan serasi dengan semangat al-Qur‟an? Ini dilakukan mengingat ada ketidaksinkronan antara sebagian teks-teks hadis hukum dengan semangat umum al-Qur‟an. Penelitian ini menggunakan kerangka teori yang mengatagorikan hadis menjadi dua, yaitu mu‟abbad (berlaku universal dan abadi) dan mu‟aqqat (berlaku hanya untuk masa dan kondisi tertentu). Kesimpulannya, ulama mazhab cenderung memahami hadis-hadis yang tampak bertentangan dengan al-Qur‟an hadis-hadis tasyrīʻiyyah dengan pola pemahaman lafẓiyyah; menganggapnya sebagai hadis-hadis mu‟abbad yang berlaku universal, lintas waktu dan tempat, dan berlaku ketat. Dengan pendekatan asbāb al-nuzūl dan asbāb al-wurūd al-ḥadīts dalam makna yang luas—sejarah sosial hukum Islam, ditemukan bahwa hadis-hadis yang tampak bertentangan dengan al-Qur‟an tersebut harus dipahami berlaku berbatas waktu atau pada masa Nabi Muhammad hidup di Semenanjung Arabia abad ke-7 Masehi. Dengan demikian, hadis-hadis tersebut dikategorikan kepada hadis-hadis mu‟aqqat, yang berlaku temporal; hanya pada masa, kondisi sosial masyarakat pada atau yang sama dengan di Semenanjung Arabia pada abad ke-7 Masehi
Qarinah As Evidence in Deciding Case
Qarinah as evidence leading to a conviction has been used by judges as the consideration basis in resolving a case. Its uses as evidence is still controversial especially in Fiqh. This is not the case in positive law as positive laws are regulated by a nation. The most important part of qarinah as evidence is how the results of technological advancements such as DNA could be used as qarinah. Positive law seems to have adopted DNA as qarinah so as to use it in imposing a legal decision. In reference to the Islamic law, can a DNA technology be used as qarinah? Apparently further research regarding this topic is required. This article discusses fundamental arguments for possible adoption of DNA as qarinah evidence
Wawasan Al Quran tentang Pemberantasan Korupsi
Korupsi merupakan salah satu tantangan terberat bagi pembangunan di sebuah negara. Kemakmuran rakyat akan sangat sulit tercapai apabila di wilayah tersebut terjadi korupsi. Semakin tinggi tingkat kuantitas dan kualitas praktek korupsi, semakin mempersulit pencapaian kemakmuran rakyat. Dari sisi lain, korupsi tergolong sebagai kejahatan yang luar biasa, dan oleh karenanya pemberantasannya pun harus dilakukan dengan cara luar biasa pula. Pemberantasan secara luar biasa antara lain berupa pengerahan segenap potensi dan pemanfaatan segala instrumen yang ada dalam masyarakat. Salah satu di antaranya adalah pemanfaatan ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan pemberantasan korupsi. Pemanfaatan ayat-ayat al-Qur’an untuk keperluan pemberantasan korupsi tidak dapat dilakukan secara serampangan, tetapi harus melalui kategorisasi dan interpretasi yang memadai. Dari sana akan diketahui bahwa al-Qur’an mempunyai wawasan tersendiri mengenai pemberantasan korupsi yang spesifi
Eksistensi Peran Majelis Adat Aceh Dalam Mensosialisasikan Nilai-Nilai Pendidikan Islam Di Wilayah Barat-Selatan Aceh
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-analitik yang dikonkritkan dalam bentuk penelitian lapangan dan didukung dengan data-data kepustakaan. Untuk mencapai akurasi penelitian, dilakukan dua langkah strategis, yaitu pengumpulan data dan analisis data. Pengumpulan data dilakukan untuk memilah sumber data yang bersifat primer dan skunder. Adapun analisis data dilakukan untuk menemukan pola-pola objek penelitian secara sistematis. Secara teknis, proses analisis data dilakukan dengan menggunakan metode hermeunetik. Metode ini digunakan untuk menemukan makna, peran, dan urgensi MAA dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam kepada masyarakat melalui sosialisasi adat. Hasil penelitian yaitu: Pertama, Terjawabnya pertanyaan bahwa majelis Adat Aceh sangat eksis dalam mensosialisasikan nilai-nilai pendidikan Islam melalui adat terbukti dengan terlaksananya beberapa kegaiatan sosialisasi adat kepada masyarakat wilayah Barat Selatan Aceh dalam rentang tiga tahun terakhir, Kedua; bentuk kegiatan sosialisasi nilai-nilai pendidiakan Islam yang dilakukan oleh Majelis Adat Aceh Wilayah Barsela di antaranya dalam bentuk seminar, FGD, Pelatihan, dan menerbitkan majalah atau buletin yang terkait dengan adat,. Ketiga, kendala yang dihadapi oleh Majelis Adat Aceh Barat Selatan Aceh diantaranya adalah: Kurangnya anggaran,Sarana dan prasarana yang belum memadai, Tidak adanya rumah adat sebagai simbol daerah, Dukungan pemerintah masih kurang maksimal, Simbol simbol adat yang ada tidak terawat dengan baik dan kurang keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan mensosialisasikan nilai-nilai pendidikan Islam dalam Adat Aceh
Can We Reconcile The Universal Human Rights with Islam
The Universal Human Rights is one of the most intrigued issues and often hotly being discussed around the globe. The issue seems never escape from media. This is not because the Human Rights is irrelevant to the human being, rather its value isessential. Several countries, for example, shift human rights discourses when drafting certain bill before passing it to citizens. The international agreement also, like UN Resolution, and other international laws, often taking the human rights value into account before exercising it. All of these facts highlighted that the Universal Human Rights is an important principle to be integrated within the global citizens
The Effects Of Information And Communication Technologies (ICT) On The Teachings/ Learning Of Arabic And Islamic Studies
Arabic and Islamic Studies are very wide to be covered extensively within the confines of classroom lessons. These confines can be broadening to cover all areas of the subjects using modern information and communication technologies to meet and stimulate the interest, appreciation and curiosities of students. This paper, therefore, intends to investigate the overall effects of ICT in the teaching/learning of Arabic and Islamic Studies for the 21st century in Nigeria. It, also, investigates the role of ICT in the teaching/learning of the two subjects and the challenges facing the teachers of the subjects. The ICT resources for teaching/learning of the subjects would also be examined. The methodology employed in this study was derived from books, journals, archives, newspapers, reports, internet and the Holy Qur’an. The paper emphasizes the importance of making schools conducive for learning and one major factor that contributes to learning process is the use of ICT. It, also, revealed that, ICT is used as a teaching aid possibly in the demonstration and discussion processes. The paper recommended that it is significantly important for the Arabic and Islamic studies teachers to understand the skills and knowledge required in the ICT era. Also, priorities for future development and acquiring of ICT knowledge is essential to Arabic and Islamic Studies teachers so as to be able to apply ICT knowledge where appropriate in their professional lives as educators, education analysts and school managers. While it concluded that the ICT has a lot of roles in the teaching/learning of Arabic and Islamic studies
Kontribusi Pemikiran Islam Kontempoter Bagi Pengembangan Filsafat Ilmu-Ilmu Keislaman
Pengembangan Filsafat Ilmu-ilmu Keislaman dapat dilakukan dengan merumuskan kembali landasan ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis ilmu yang bersumber dari kontribusi pemikiran Nasr, al-Attas, dan Sardar. Landasan ontologis tersebut menentukan wilayah objek kajian Ilmu-ilmu Keislaman, yang meliputi aspek-aspek metafisika dan empiris. Landasan epistemologis mengakomodir keragaman (pluralitas) metodologis (berbagai prosedur atau cara mengkaji ilmu), sesuai dengan kebutuhan intelektual masyarakat Islam. Landasan aksiologis mengarahkan dan menuntun pemahaman ontologis dan epistemologis tersebut sesuai dengan nilai-nilai dasar Islam. Berdasarkan ketiga landasan tersebut, pengembangan Filsafat Ilmu-ilmu Keislaman dapat dilakukan secara terpadu (integratif), tidak hanya dengan menumbuhkan kesadaran historis untuk menggali khazanah kemajuan intelektual Islam masa lalu, tetapi sekaligus juga dengan merespon kemajuan-kemajuan metodologi masa kini yang relevan dengan nilai-nilai intelektual Islam yang kekal dan universal.