Institutional Repository of UIN SATU Tulungagung
Not a member yet
37599 research outputs found
Sort by
POLITIK HUKUM DALAM PENUNJUKKAN KEPALA OTORITA IBU KOTA NUSANTARA PERSPEKTIF HUKUM TATA NEGARA DAN FIQIH SIYASAH DUSTURIYAH
Skripsi dengan judul “Politik Hukum Dalam Penunjukkan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara Perspektif Hukum Tata Negara Dan Fiqih Siyasah Dusturiyah” ini ditulis oleh Jesica Oktaviana Putri, NIM.1860103223256, dengan pembimbing
Ahmad Yuzki Arifian Nawafi’, M.IP.
Kata kunci: Politik Hukum, Kepala Otorita IKN, Hukum Tata Negara, Fiqih Siyasah Dusturiyah.
Pemindahan Ibu Kota Negara ke Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa implikasi yang signifikan terhadap tatanan ketatanegaraan Indonesia, khususnya dalam pembentukan Otorita Ibu Kota Nusantara sebagai bentuk pemerintahan
khusus. Salah satu isu utama yang muncul adalah mekanisme penunjukan Kepala Otorita IKN yang dilakukan secara langsung oleh Presiden setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat tanpa melalui mekanisme pemilihan umum, sehingga menimbulkan perdebatan dari sudut pandang demokrasi dan
konstitusionalitas.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana politik hukum dalam penunjukan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara menurut perspektif Hukum Tata Negara Indonesia dan bagaimana tinjauan fiqh siyasah dusturiyah terhadap penunjukan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis politik hukum penunjukan Kepala Otorita IKNdari perspektif Hukum Tata Negara dan fiqh siyasah dusturiyah.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual, yang menggunakan bahan hukum primer dan sekunder sebagai sumber utama penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perspektif Hukum Tata Negara, penunjukan Kepala Otorita IKN merupakan kebijakan hukum yang sah dan konstitusional, sejalan dengan sistem pemerintahan presidensial serta ketentuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara. Mekanisme
tersebut dimaksudkan untuk menjamin efektivitas pemerintahan dan mempercepat pembangunan IKN. Sementara itu, dari perspektif fiqh siyasah dusturiyah, penunjukan Kepala Otorita IKN dapat dibenarkan sepanjang dilaksanakan dengan
memperhatikan prinsip-prinsip keadilan (ʿadl), kejujuran, dan musyawarah (syūrā) demi terwujudnya kemaslahatan umat.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa penunjukan Kepala Otorita IKN secara yuridis konstitusional sah menurut Hukum Tata Negara Indonesia, namun dalam pelaksanaannya tetap harus diselaraskan dengan nilai-nilai fiqh siyasah dusturiyah agar tujuan kesejahteraan rakyat dapat tercapai
ANALISIS PERAN KEPOLISIAN DAN PEMERINTAH KABUPATEN DALAM PENCEGAHAN PENERBANGAN BALON UDARA LIAR YANG MENGGANGGU KESELAMATAN PUBLIK DALAM PERSPEKTIF HUKUM POSITIF DAN FIQIH SIYASAH (Studi Kasus Kabupaten Tulungagung)
Skripsi dengan judul ““Analisis Peran Kepolisian Dan Pemerintah Kabupaten Dalam Pencegahan Penerbangan Balon Udara Liar Yang Mengganggu Keselamatan Publik Dalam Perspektif Hukum Positif Dan Fiqih Siyasah (Studi Kasus Kabupaten Tulungagung)” ini ditulis oleh Yoga Bhakti Hexzananta, NIM. 1860103223300, dengan pembimbing/promotor Yusron Munawir, S.H.I., M.H.
Kata kunci: balon udara liar, keselamatan publik, Kepolisian, Pemerintah Kabupaten, hukum positif, fiqih siyasah.
Tradisi penerbangan balon udara merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya masyarakat yang lazim dilakukan pada momentum hari besar keagamaan di Kabupaten Tulungagung. Namun, praktik penerbangan balon udara secara liar tanpa izin dan pengawasan menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan publik dan keselamatan penerbangan di Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Kepolisian dan Pemerintah Kabupaten dalam pencegahan penerbangan balon udara liar yang mengganggu keselamatan publik di Kabupaten Tulungagung dalam perspektif hukum positif dan fiqih siyasah.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis-empiris. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Landasan hukum yang digunakan meliputi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 40 Tahun 2018 tentang Penggunaan Balon Udara pada Kegiatan Budaya Masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepolisian Kabupaten Tulungagung telah berperan aktif dalam pencegahan penerbangan balon udara liar melalui patroli, razia, sosialisasi, serta penindakan hukum. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten melalui Satuan Polisi Pamong Praja belum berperan dalam menjaga ketertiban umum, hal itu disebabkan karena belum adanya perda tentang balon udara, sehingga upaya pencegahan berupa pembinaan dan sosialisasi kepada masyarakat masih belum dapat dilaksanakan. Dalam perspektif fiqih siyasah, peran kepolisian tersebut sejalan dengan konsep ulil amri dan prinsip sadduz dzari’ah, yaitu kewajiban penguasa menjaga kemaslahatan umum dan mencegah terjadinya kerusakan. Sementara itu bagi pemkab diharapkan secepatnya membuat perda atau perbup mengenai balon udara agar dapat ikut andil dalam pencegahan penerbangan balon udara liar dan dapat sejalan dengan konsep ulil amri dan prinsip sadduz dzari’ah
تطبيق وسائط يوتيوب للرسوم المتحركة في تعليم اللغة العربية لطلاب الصف ٧ في المدرسة المتوسطة ٦ تولونج أجونج
البحث العلمي تحت العنوان " تطبيق وسائط يوتيوب للرسوم المتحركة في تعليم اللغة العربية لطلاب الصف ٧ في المدرسة المتوسطة ٦ تولونج أجونج "، كتبته هاني كريستينا، رقم القيد: ١٢٦٢٠٢٢١٣٠٨٩، قسم تعليم اللغة العربية، كلية التربية والعلوم التعليمية، جامعة سيد علي رحمة الله الإسلامية الحكومية تولونج أجونج، بإشراف الأستاذ البروفيصور الدكتور الحاج أسعار المهاجر الماجستير.
الكلمات الرئيسية: وسيلة اليوتيوب الرسوم المتحركة، تعليم اللغة العربية، المفردات.
تعد منصة اليوتيوب واحدة من المنصات التكنولوجية الأكثر شعبية والتي تمتلك إمكانيات كبيرة في دعم عملية التعلم. يعمل اليوتيوب كوسيلة سمعية بصرية قادرة على تقديم المواد بشكل ملموس، حيث تجمع بين الصوت والصورة، مما يجعلها أكثر قدرة على جذب اهتمام الطلاب وتحسين استيعابهم. يركز هذا البحث بشكل خاص على استخدام فيديوهات اليوتيوب للرسوم المتحركة. توفر الرسوم المتحركة مزايا في تقديم المعلومات من خلال تصورات جذابة وتفاعلية، مما يعزز إتقان المفردات ويزيد من دافعية التعلم لدى الطلاب. بالإضافة إلى ذلك، يتيح استخدام الرسوم المتحركة عبر منصة اليوتيوب للطلاب التعلم بشكل مستقل خارج الساعات الدراسية، حيث يمكنهم مراجعة المواد، وتعميق المفردات، ومشاهدة تفسيرات المعلم في أي وقت. يوفر هذا مرونة أوسع في التعلم ويدعم مفهوم "التعلم المدمج" المطبق حالياً في العديد من المؤسسات التعليمية. ومع سهولة الوصول إلى الإنترنت، تصبح هذه الوسيلة جسراً بين التعلم الرسمي في الفصل والتعلم الذاتي في المنزل.
مسائل البحث: ١) كيف تتم عملية التخطيط وتطبيق وسيلة يوتيوب المتحركة في تعليم اللغة العربية لطلاب الصف السابع في المدرسة المتوسطة الإسلامية الحكومية السادسة تولونغ أغونغ؟ ، ٢) ما العوامل الداعمة والمعيقة لتطبيق وسيلة يوتيوب المتحركة في تعليم اللغة العربية لطلاب الصف السابع في المدرسة المتوسطة الإسلامية الحكومية السادسة تولونج أجونج.
منهج البحث: هذا البحث هو بحث نوعي ذو منهج وصفي. أُجري البحث في المدرسة المتوسطة الإسلامية الحكومية ٦ تولونج أجونج. وتشمل تقنيات جمع البيانات المقابلات، والملاحظة، والتوثيق. أما تحليل البيانات فيستخدم تقنيات تقليل البيانات، وعرض البيانات، واستخلاص النتائج. وللتحقق من صحة البيانات، تم استخدام تقنية التثليث.
نتائج البحث: ١) أثبت تطبيق وسيلة اليوتيوب الرسوم المتحركة في تعليم اللغة العربية في المدرسة المتوسطة الإسلامية الحكومية ٦ تولونج أجونج فعاليته في زيادة حماس الطلاب وإتقانهم للمفردات من خلال تصور ملموس وتفاعلي للمادة. يقوم المعلم بتخطيط دقيق من خلال اختيار الفيديوهات بناءً على ملاءمتها للمنهج الدراسي، وجودة النطق، والمدة الزمنية، ثم يتم تطبيقها عبر مراحل: ما قبل المشاهدة، وأثناء المشاهدة، وما بعد المشاهدة. وعلى الرغم من دعم المرافق المدرسية الكافية، يجب على المعلم أن يظل مستعداً للتغلب على العوائق التقنية مثل الإعلانات المزعجة وتعديل سرعة الفيديو لتناسب فهم طلاب الفصل السابع. ٢) ومن العوامل الداعمة أن المدارس توفر البنية التحتية التكنولوجية، التي تعتبر حاسمة لنجاح الابتكار التعليمي في العصر الرقمي. ومع ذلك، كشفت هذه الدراسة أيضًا عن عقبات، مثل ظهور إعلانات غير ذات صلة، وقيود الشبكة، ومشاكل سمعية وبصرية، مثل النصوص الصغيرة جدًا، والتي تمثل تحديات حقيقية في هذا المجال
ANALISIS KESENJANGAN ANTARA BEBAN KERJA DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN GURU TK BERDASARKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 1 TAHUN 2017 DAN FIQH SIYASAH (Studi Kasus Perbandingan di TK Tunas Kasih Trenggalek dan TK Kemala Bhayangkari 52 Trenggalek)
Skripsi dengan judul “Analisis Kesenjangan Antara Beban Kerja dan
Tingkat Kesejahteraan Guru TK Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten
Trenggalek Nomor 1 Tahun 2017 dan Fiqh Siyasah (Studi Kasus Perbandingan di
TK Tunas Kasih Trenggalek dan TK Kemala Bhayangkari 52 Trenggalek)” ini
ditulis oleh Salma Arindia (NIM. 1860103221091), dengan pembimbing Moh.
Nu’man, M.H.
Kata Kunci: Beban Kerja Guru TK Tunas Kasih Trenggalek dan TK Kemala
Bhayangkari 52 Trenggalek, Kesejahteraan Guru TK Tunas Kasih Trenggalek dan
TK Kemala Bhayangkari 52 Trenggalek, Peraturan Daerah Kabupaten Trenggalek
Nomor 1 Tahun 2017, Fiqh Siyasah.
Latar belakang penelitian ini Berdasarkan observasi awal, di TK Kabupaten
Trenggalek khususya di TK Tunas Kasih yang masih terdapat kesenjangan antara
beban kerja guru dan tingkat kesejahteraan TK Sedangkan di TK Kemala
Bhayangkari 52 Trenggalek, Guru yang sebagian besar telah bersertifikasi memiliki
tingkat kesejahteraan yang relatif lebih baik dibandingkan guru TK non-sertifikasi.
Penelitian ini juga mengkaji pada Peraturan Daerah Kabupaten Trenggalek Nomor
1 Tahun 2017. Dalam perspektif Fiqh Siyasah, pemerintah sebagai pemegang
amanah berkewajiban mewujudkan keadilan dan kemaslahatan melalui pemenuhan
hak pekerja secara proporsional, sehingga diperlukan kajian mengenai kesesuaian
kebijakan kesejahteraan guru TK dengan prinsip hukum positif dan nilai-nilai Fiqh
Siyasah.
Rumusan masalah yang diteliti dalam skripsi ini adalah (1) Bagaimana
kesenjangan antara beban kerja dan tingkat kesejahteraan guru TK di Kabupaten
Trenggalek serta Faktor-faktor yang mempengaruhinya? (2) Bagaimana Analisis
kesenjangan antara beban kerja dan tingkat kesejahteraan guru TK berdasarkan
Peraturan Daerah Kabupaten Trenggalek Nomor 1 Tahun 2017? (3) Bagaimana
Analisis kesenjangan antara beban kerja dan tingkat kesejahteraan guru TK
berdasarkan Fiqh Siyasah? Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis
kesenjangan antara beban kerja dan tingkat kesejahteraan guru TK di Kabupaten
Trenggalek serta Faktor-faktor yang mempengaruhinya. (2) Mengkaji kesesuaian
Analisis kesenjangan antara beban kerja dan tingkat kesejahteraan guru TK
berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Trenggalek Nomor 1 Tahun 2017. (3)
Mengidentifikasi Analisis kesenjangan antara beban kerja dan tingkat kesejahteraan
guru TK berdasarkan Fiqh Siyasah.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan
pendekatan yuridis-empiris. Pendekatan yuridis digunakan untuk mengkaji
peraturan perundang-undangan yang mengatur penyelenggaraan pendidikan dan
kesejahteraan guru, khususnya Peraturan Daerah Kabupaten Trenggalek Nomor 1
Tahun 2017. Pendekatan empiris dilakukan untuk mengetahui kondisi nyata di lapangan terkait beban kerja dan tingkat kesejahteraan guru TK., Penelitian
lapangan melalui wawancara dengan staff Dinas Pendidikan khususnya, Guru TK
dan Kepala Sekolah TK Tunas Kasih Trenggalek dan Guru TK dan Kepala Sekolah
TK Kemala Bhayangkari 52 Trenggalek. Analisis data dilakukan secara deskriptifanalitis
dengan mengaitkan temuan lapangan terhadap teori dan kerangka hukum
yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru TK non-sertifikasi di TK Tunas
Kasih Trenggalek menerima tingkat kesejahteraan yang belum layak dan tidak
sebanding dengan beban kerja yang ditanggung. Sementara itu, guru TK
bersertifikasi di TK Kemala Bhayangkari 52 Trenggalek memperoleh kesejahteraan
yang relatif lebih baik melalui tunjangan profesi, meskipun beban kerja yang
dijalankan secara substantif tidak jauh berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa
perbedaan kesejahteraan guru lebih dipengaruhi oleh status sertifikasi dibandingkan
dengan proporsionalitas beban kerja. Ditinjau dari Peraturan Daerah Kabupaten
Trenggalek Nomor 1 Tahun 2017, pemerintah daerah secara normatif telah
menyediakan landasan hukum mengenai pemenuhan hak dan kesejahteraan guru
TK. Namun, implementasi kebijakan tersebut belum sepenuhnya merata dan
optimal, terutama akibat keterbatasan anggaran daerah dan perbedaan status
kepegawaian guru. Dalam perspektif Fiqh Siyasah, kondisi ini menunjukkan belum
optimalnya perwujudan prinsip keadilan (al-‘adl) dan kemaslahatan (al-maslahah)
dalam pemenuhan hak guru sebagai amanah negara. Oleh karena itu, diperlukan
kebijakan yang lebih adil, proporsional, dan berpihak pada kesejahteraan guru TK
guna mendukung kualitas pendidikan anak usia dini di Kabupaten Trenggalek
DISKRESI HAKIM PADA PERKARA PEREMPUAN BERHADAPAN DENGAN HUKUM DALAM PERSPEKTIF KEADILAN (Studi Kasus di Pengadilan Agama Malang Raya dan di wilayah Kediri)
Lailatul Nikmah, NIM 1880509230012 “Diskresi Hakim pada Perkara Perempuan
Berhadapan dengan Hukum dalam Perspektif Keadilan (Studi Kasus di
Pengadilan Agama Malang Raya dan di wilayah Kediri)”. Prodi Hukum
Keluarga Islam, Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali
Rahmatullah Tulungagung, 2026, Pembimbing: Dr. Zulfatun Ni’mah, S.H.I.,
M.Hum. dan Dr. Rohmawati, M.A
Kata Kunci: Diskresi, Perempuan Berhadapan dengan Hukum, Keadilan.
Data Komnas Perempuan menunjukkan tingginya angka perceraian dan
kekerasan berbasis gender yang dialami perempuan, baik dalam ranah personal
maupun negara, yang dipengaruhi oleh faktor struktural seperti budaya patriarki,
ketimpangan gender, serta keterbatasan akses perempuan terhadap keadilan,
sehingga menempatkan perempuan sebagai kelompok rentan dalam sistem hukum.
Dalam konteks tersebut, Mahkamah Agung menerbitkan Perma Nomor 3 Tahun
2017 sebagai pedoman untuk menjamin perlindungan, kesetaraan, dan nondiskriminasi terhadap perempuan berhadapan dengan hukum, sekaligus
menegaskan peran hakim khususnya di lingkungan Peradilan Agama Malang Raya
dan di wilayah Kediri dalam mewujudkan keadilan yang responsif terhadap kondisi
sosial dan pengalaman perempuan.
Fokus dan pertanyaan penelitian ini adalah: 1) Bagaimana diskresi hakim
pada perkara perempuan berhadapan dengan hukum di Pengadilan Agama Malang
Raya dan di wilayah Kediri?; dan 2) Bagaimana diskresi hakim pada perkara
perempuan berhadapan dengan hukum dalam perspektif keadilan?
Metode penelitian yang digunakan adalah empiris atau studi sosiolegal
dengan pendekatan kualitatif, melalui wawancara terstrukruk dengan hakim, dan
analisis putusan di Pengadilan Agama Kota Malang, Kota Kediri, Kabupaten Kediri
dan Kabupaten Malang; dengan data primer, berupa: informasi tentang diskresi
hakim terhadap perempuan oleh informan dan data sekunder berupa: buku atau
literatur, jurnal ilmiah, hasil penelitian terdahulu dan website Pengadilan Agama
Kota Malang, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, dan Kabupaten Malang dianalisis
dengan menggunakan teori keadilan John Rawls dan konsep keadilan hakiki Nur
Rofiah melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan
serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Diskresi hakim di Pengadilan
Agama Malang Raya dan wilayah Kediri dilaksanakan melalui penggunaan
kewenangan ex officio dalam perkara cerai talak, cerai gugat, dan permohonan izin
poligami seperti pembebanan nafkah iddah, mut’ah, nafkah madhliyah, dan nafkah
anak, meskipun tidak secara eksplisit dimohonkan oleh Perempuan; dan 2)
Penggunaan diskresi ini mencerminkan prinsip justice as fairness oleh John Rawls
serta penafsiran hukum yang responsif terhadap pengalaman biologis dan sosial
perempuan sebagaimana dikemukakan oleh Nur Rofiah
ANALISIS SURAT EDARAN KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN NOMOR M/6/HK.04/V/2025 TENTANG LARANGAN DISKRIMINASI DALAM PROSES REKRUTMEN TENAGA KERJA DALAM PRINSIP KEADILAN BERNEGARA
Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/V/2025 merupakan respons pemerintah terhadap praktik diskriminatif dalam rekrutmen tenaga kerja yang telah lama mengakar di Indonesia, dipicu oleh viralnya hashtag #KaburAjaDulu di awal 2025 yang mencerminkan frustrasi generasi muda terhadap kesulitan mendapatkan pekerjaan layak akibat persyaratan diskriminatif seperti batasan usia, penampilan menarik, tinggi badan, status pernikahan, dan faktor-faktor lain yang tidak relevan dengan kompetensi. Prof. Yassierli selaku Menteri Ketenagakerjaan menerbitkan surat edaran ini untuk melarang pencantuman syarat diskriminatif dalam proses rekrutmen dan mendorong sistem perekrutan yang lebih transparan, adil, dan berbasis kompetensi, dengan harapan dapat menekan praktik diskriminasi dan menciptakan kesetaraan kesempatan kerja bagi semua pencari kerja termasuk penyandang disabilitas, meskipun muncul pertanyaan apakah instrumen surat edaran cukup efektif untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan tersebut mengingat sifatnya yang hanya sebagai pedoman administratif.
Rumusan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Bagaimana substansi hukum Surat Edaran Kementerian Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/V/2025 dalam mengatur larangan praktik diskriminasi pada proses rekrutmen tenaga kerja? 2) Bagaimana kewenangan pemerintah dalam mewujudkan prinsip keadilan dalam bernegara melalui Surat Edaran Kementerian Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/V/2025?
Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah yuridis normatif dengan pendekatan kepustakaan yang bersifat deskriptif analitis untuk menganalisis larangan diskriminasi dalam rekrutmen tenaga kerja berdasarkan Surat Edaran Kementerian Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/V/2025, dengan memanfaatkan bahan hukum primer (peraturan perundang-undangan terkait ketenagakerjaan dan anti-diskriminasi), sekunder (buku, jurnal, dan doktrin hukum), serta tersier (kamus dan ensiklopedia hukum), yang kemudian dianalisis melalui tahapan pembacaan, klasifikasi, verifikasi, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber untuk menjamin keabsahan dan kredibilitas hasil penelitian secara ilmiah.
Adapun hasil dari penelitian ini adalah : 1) Surat Edaran Kementerian Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/V/2025 merupakan aturan kebijakan (beleidsregel) yang dibuat berdasarkan kewenangan diskresi untuk mengisi kekosongan hukum dan memperjelas norma kabur dalam Pasal 5 dan Pasal 35 ayat (1) UU Ketenagakerjaan, yang meskipun tidak memiliki kekuatan mengikat secara umum layaknya undang-undang, namun sangat relevan untuk mengoperasionalisasikan jaminan konstitusional tentang hak atas pekerjaan layak dan larangan diskriminasi dalam praktik rekrutmen. Ruang lingkupnya mencakup larangan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, usia, agama, SARA, dan disabilitas di seluruh tahapan rekrutmen dengan menekankan prinsip kesetaraan, meritokrasi, objektivitas, dan transparansi, serta memiliki landasan hukum yang kuat karena telah memenuhi prinsip harmonisasi vertikal dan selaras dengan UUD 1945, UU HAM, UU Ketenagakerjaan, UU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dan UU Penyandang Disabilitas. 2) Penerbitan Surat Edaran Kementerian Ketenagakerjaan Nomor M/6/HK.04/V/2025 tentang Larangan Diskriminasi dalam Proses Rekrutmen Tenaga Kerja merupakan instrumen kebijakan publik yang lahir dari kewenangan diskresi pemerintah berdasarkan UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, yang bertujuan mengisi kekosongan hukum dan memperjelas norma anti-diskriminasi dalam rekrutmen tenaga kerja. Kebijakan ini mengimplementasikan prinsip keadilan dan kesetaraan yang bersumber dari nilai-nilai universal Islam (Q.S. An-Nisa ayat 58 dan Q.S. Asy-Syura ayat 15), Pancasila (Sila Kedua dan Kelima), teori keadilan John Rawls tentang "justice is fairness", serta konsep keadilan substantif Satjipto Rahardjo, dengan melarang segala bentuk diskriminasi berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, agama, status perkawinan, atau kondisi fisik yang tidak relevan dengan kompetensi jabatan. Surat Edaran ini memenuhi prinsip good governance UNDP dan teori New Public Service Denhardt, serta telah diimplementasikan secara nyata oleh BUMN melalui program Rekrutmen Bersama BUMN 2025 dan perusahaan swasta seperti PT IMIP, Starbucks Indonesia, serta UMKM inklusif seperti Cupable Coffee, Kopi Tuli, Kopi Kamu, dan ONNI House, yang menerapkan rekrutmen berbasis meritokrasi murni tanpa diskriminasi, sehingga mewujudkan pasar tenaga kerja yang adil, transparan, inklusif, dan menjamin hak konstitusional setiap warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai amanat Pasal 27 ayat (2) dan Pasal 28D ayat (2) UUD 1945
PENGELOLAAN ROYALTI COVER LAGU DI PLATFORM DIGITAL MENURUT PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 56 TAHUN 2021 PERSPEKTIF FIQH SIYASAH
Skripsi dengan judul “Pengelolaan Royalti Cover Lagu Di Platform digital Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021 Perspektif Fiqh Siyasah” ditulis oleh Peti, NIM 1860103221072, Program Studi Hukum Tatanegara, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Pembimbing Dr. Ahmadi Abdul Shomad Faiz Nahdhiyanto, M.H.
Kata Kunci: Royalti, Cover Lagu, Platform Digital, PP No. 56 Tahun 2021, Fiqh Siyasah
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi digital yang mendorong maraknya praktik cover lagu di berbagai platform digital yang berpotensi menghasilkan keuntungan ekonomi. Fenomena tersebut menimbulkan persoalan hukum terkait pemanfaatan hak cipta, khususnya mengenai pengelolaan royalti atas lagu yang digunakan kembali oleh pihak lain. Negara kemudian menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik sebagai upaya memberikan perlindungan hukum dan kepastian bagi pencipta lagu. Namun, dalam praktiknya, pengelolaan royalti atas cover lagu di platform digital masih menimbulkan perdebatan, baik dari sisi kepastian hukum maupun keadilan. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang tidak hanya meninjau aspek hukum positif, tetapi juga dianalisis dari perspektif fiqh siyasah.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan pengelolaan royalti cover lagu di platform digital menurut Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021 serta menilai pengelolaannya dalam perspektif fiqh siyasah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Sumber data diperoleh dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif dengan teknik analisis deskriptif-analitis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021 telah memberikan dasar hukum bagi pengelolaan royalti lagu melalui sistem pengelolaan kolektif yang terpusat di bawah Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Namun, pengaturan tersebut belum secara rinci mengatur mekanisme pengelolaan royalti atas cover lagu di platform digital, sehingga menimbulkan ketidakjelasan hukum dalam praktiknya. Ditinjau dari perspektif fiqh siyasah, kebijakan pengelolaan royalti tersebut pada dasarnya sejalan dengan prinsip kemaslahatan umum dan perlindungan hak ekonomi (hifz al-mal), tetapi masih memerlukan penyempurnaan agar lebih mencerminkan prinsip keadilan, amanah, dan kepastian hukum bagi seluruh pihak yang terlibat
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI TERHADAP PEMAHAMAN BILANGAN BULAT SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 NGANTRU TULUNGAGUNG
Skripsi dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Berdiferensiasi Terhadap Pemahaman Bilangan Bulat Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Ngantru Tulungagung” ini ditulis oleh Mei Priska Ningtyas, NIM. 126204212132, Program Studi Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, yang dibimbing oleh Beni Asyhar, S.Si., M.Pd.
Kata Kunci: Pembelajaran Berdiferensiasi, Pemahaman, Bilangan Bulat, Eksperimen Semu.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya proses pembelajaran matematika yang cenderung seragam dan belum sepenuhnya memperhatikan perbedaan kemampuan siswa. Kondisi ini berdampak pada rendahnya pemahaman dasar matematika, salah satunya materi bilangan bulat yang menjadi fondasi bagi penguasaan materi matematika di jenjang selanjutnya. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang mampu mengakomodasi keberagaman karakteristik siswa menjadi salah satu kebutuhan penting dalam proses pendidikan, salah satunya melalui penerapan model pembelajaran berdiferensiasi. Model pembelajaran ini memberikan ruang bagi setiap siswa untuk belajar sesuai dengan tingkat kesiapan, kebutuhan, serta gaya belajar masing-masing, sehingga dapat membantu mewujudkan proses pembelajaran yang lebih bermakna, mendalam, dan inklusif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penerapan model pembelajaran berdiferensiasi terhadap pemahaman bilangan bulat pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngantru Tulungagung. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu melalui desain Post-Test Only Control Design. Sampel penelitian terdiri atas kelas VII–J sebagai kelas eksperimen yang mendapatkan pembelajaran berdiferensiasi berbasis Problem Based Learning dan kelas VII–F sebagai kelas kontrol yang memperoleh pembelajaran konvensional berbasis Problem Based Learning.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang cukup signifikan antara nilai pemahaman siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Nilai rata-rata pemahaman siswa pada kelas eksperimen mencapai 81,4, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas kontrol sebesar 64,4. Berdasarkan hasil uji Independent Sample T-Test, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berdiferensiasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman bilangan bulat siswa. Selain itu, hasil perhitungan ukuran pengaruh menggunakan uji Cohen’s d menunjukkan nilai sebesar 1,3544 yang termasuk dalam kategori pengaruh sangat besar. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya mampu meningkatkan keaktifan, kemandirian, serta interaksi antarsiswa selama proses pembelajaran, tetapi juga berkontribusi secara nyata dalam meningkatkan pemahaman konsep matematika secara keseluruhan
CORRELATION BETWEEN SPOTIFY APP USAGE AND STUDENTS' LISTENING SKILLS DURING TASK COMPLETION OF THE SIXTH SEMESTER STUDENTS AT UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG
The thesis entitled “Correlation Between Spotify App Usage and Listening Skill
During Task Competion of The Sixth Semester Students at UIN Sayyid Ali
Rahmatullah Tulungagung” was written by Syahrina Windayanti Husna, NIM
126203212177, English Education Department, Faculty of Tarbiyah and Teacher
Training, supervised by Prof. Dr. Erna Iftanti, S.S., M.Pd.
Keywords: Spotify app usage, listening skills, correlation, cognitive load theory,
technology acceptance model
In today’s digital era, music streaming platforms such as Spotify have
become a common part of students’ academic routines. Many learners listen to
music or podcasts through Spotify while completing academic tasks. However,
whether this habit supports or distracts from their academic performance
particularly in listening skills remains unclear. This study explores the correlation
between Spotify usage and students’ listening skills during task completion.
This research employed a quantitative correlational design. Data were
collected from 47 sixth-semester students of the English Education Department at
UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Two instruments were used: a Spotify
usage questionnaire to measure frequency, duration, and content type, and a
listening test to assess comprehension. Data were analyzed using descriptive
statistics and Spearman’s rank-order correlation.
The findings showed that while students reported moderate to high Spotify
usage, their listening test scores varied considerably. The correlation coefficient (ρ)
was +0.023 with a p-value of 0.880, indicating a very weak and statistically
insignificant relationship between Spotify usage and listening skill.
The study concludes that frequent use of Spotify does not significantly
impact students’ listening skills during academic tasks, especially when the app is
used primarily for entertainment. These results highlight the need for more
intentional use of digital platforms in learning and suggest that future research
should examine additional variables such as content type, student motivation, and
guided listening strategies
DILEMA PEMBUKTIAN DALAM UJI FORMIL DI MAHKAMAH KONSTITUSI: MENAKAR PROSPEK PEMBUKTIAN TERBALIK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena meningkatnya pengabaian terhadap prosedur pembentukan undang-undang dalam praktik ketatanegaraan di Indonesia. Padahal prosedur pembentukan undang-undang sejatinya merupakan fondasi penting untuk menjamin agar kewenangan legislasi tidak dijalankan secara sewenang-wenang serta tetap berorientasi pada prinsip negara hukum dan konstitusionalisme. Meskipun konstitusi telah memberikan kewenangan kepada Mahkamah Konstitusi sebagai mekanisme pengawasan melalui pengujian formil undang-undang, dalam praktiknya pelaksanaan kewenangan tersebut masih menunjukkan berbagai keterbatasan. Hal ini tercermin dari rendahnya tingkat keberhasilan permohonan uji formil yang dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi, di tengah kecenderungan pembentukan undang-undang yang mengarah pada praktik abusive lawmaking.
Dari persoalan tersebut, rumusan masalah yang ingin diangkat dalam penelitian ini yakni: (1) Bagaimana problematika dan tantangan pembuktian dalam perkara pengujian formil undang-undang di Mahkamah Konstitusi; (2) Bagaimana prospek dan relevansi penerapan mekanisme pembuktian terbalik dalam pengujian formil di Mahkamah Konstitusi; serta (3) Bagaimana rekonstruksi hukum acara Mahkamah Konstitusi untuk mengakomodir pembuktian terbalik dalam pengujian formil.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan analitis. Data penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, putusan Mahkamah Konstitusi, serta literatur hukum yang relevan. Analisis bahan hukum dilakukan secara deskriptif-normatif melalui penafsiran gramatikal, sistematis serta ekstensif guna mengkaji problematika pembuktian serta relevansi penerapan pembuktian terbalik dalam pengujian formil undang-undang..
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Problematika utama dalam pengujian formil undang-undang terletak pada ketidakseimbangan beban pembuktian yang secara dominan dibebankan kepada Pemohon, sementara alat bukti yang krusial justru berada dalam penguasaan pembentuk undang-undang. Kondisi tersebut menyebabkan posisi Pemohon berada dalam keadaan yang tidak setara dan berimplikasi pada rendahnya tingkat keberhasilan pengujian formil. (2) Penerapan mekanisme pembuktian terbalik meski lebih dikenal dalam sistem peradilan pidana namun dinilai tetap memiliki prospek yang kuat dalam konteks ketatanegaraan untuk menjawab kesulitan pembuktian sekaligus memperkuat fungsi pengujian formil sebagai instrumen pengawasan konstitusional. Meskipun begitu, pembuktian terbalik yang dilakukan secara absolut (reversal burden of proof) akan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar dalam hukum acara MK. Oleh karenanya agar tetap relevan dengan prinsip-prinsip dalam peradilan MK maka lebih tepat apabila yang digunakan ialah pembuktian terbalik dengan menggeser beban pembuktian (shifting burden of proof). (3) Agar mekanisme tersebut dapat diterapkan secara efektif dan memiliki legitimasi yuridis, diperlukan rekonstruksi hukum acara Mahkamah Konstitusi, terutama melalui pemisahan rezim pembuktian antara pengujian materil dan pengujian formil, pengaturan akibat hukum atas ketidakpatuhan pembentuk undang-undang terhadap perintah Mahkamah Konstitusi, reformulasi kedudukan Presiden dan DPR sebagai pihak yang berkewajiban membuktikan ketaatan prosedural dalam proses pembentukan undang-undang, serta penambahan kategori Alat Bukti Permulaan sebagai bagian dari klasifikasi alat bukti yang selama ini telah dikenal.
Kata Kunci: Pengujian Formil, Beban Pembuktian, Pembentukan Undang-Undang, Mahkamah Konstitusi, Pembuktian Terbali