Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
    1439 research outputs found

    Pengaruh Penggunaan Limestone sebagai Substitusi Agregat Halus pada Bahan Pembuatan Bata Beton  terhadap Kuat Tekan dan Daya Serap Air

    No full text
    Melonjaknya permintaan terhadap bangunan rumah tinggal menyebabkan kebutuhan material konstruksi juga meningkat termasuk batu bata yang digunakan untuk pasangan dinding. Bangunan di Indonesia kerap kali menggunakan beberapa jenis batu bata, salah satunya adalah bata beton. Bata beton yang terbuat dari campuran beberapa bahan, seperti semen, pasir, dan air. Namun jauhnya sumber material pasir mengakibatkan harga jual menjadi lebih mahal. Hal tersebut mendorong pencarian alternatif agregat halus seperti limestone, yang memiliki sifat dan komposisi mirip dengan pasir. Penelitian ini menganalisis karakteristik bata beton yang menggunakan limestone sebagai agregat halus dengan beberapa pengujian seperti, uji berat isi, uji daya serap air dan kuat tekan pada variasi campuran perbandingan semen dengan limestone yaitu 1:5, 1:6, 1:7, 1:7.5, 1:8 saat benda uji berumur 7, 14 dan 28 hari. Sifat limestone yang berongga dan mudah menyerap air menyebabkan semakin kecilnya nilai kepadatan benda uji, sehingga benda uji mengalami penurunan kekuatan dan mudah menyerap air. Namun nilai kuat tekan dan daya serap air benda uji masih memenuhi syarat dalam standar SNI 03-0348-1989 dengan klasifikasi kelas mutu tertentu

    Kuat Tekan Beton dengan Variasi Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag dan Akselerator

    No full text
    Pembangunan infrastruktur membutuhkan material kuat dan tahan lama seperti beton, namun produksi semen sebagai bahan utama beton menghasilkan emisi CO₂ yang tinggi. Untuk mengatasinya, Ground GranulateddBlast Furnace Slag (GGBFS) atau limbah dari industri baja digunakan sebagai bahan pengganti sebagian semen. Selain ramah lingkungan, GGBFS juga membuat beton lebih kuat. Pada penelitian ini dilakukan pembahasan mengenai pengaruh persentase GGBFS dan penambahan akselerator terhadap kuat tekan beton pada umur 28 dan 56 hari. Penelitian ini mengganti semen secara parsial dengan GGBFS dengan persentase 0%, 20%, dan 50% dari berat semen. Selain itu, merek semen yang digunakan adalah Semen Padang. Penelitian ini menggunakan benda ujiisilinder dengan ukuran 15 cm x 30 cm. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan GGBFS sebagai substitusi sebagian semen dalam beton memberikan peningkatannsignifikan pada kuat tekan, dengan titik optimum pada penggantian 20%, yang menghasilkan kuat tekan tertinggi dibandingkan dengan 0% dan 50%. Selain itu, umur beton berpengaruh terhadap kuat tekan, di mana beton berumur 56 hari cenderung memiliki kekuatan lebih tinggi dibandingkan beton berumur 28 hari, baik dengan maupun tanpa GGBFS, menunjukkan bahwa beton dengan GGBFS menguat seiring bertambahnya usia. Penambahan akselerator juga meningkatkan kuat tekan beton, terutama pada umur 56 hari, dengan akselerator membantu mempercepat hidrasi awal. Kombinasi GGBFS 20% dan akselerator menghasilkan kuat tekan tertinggi (40,54 MPa) pada umur 56 hari, menjadikannya kombinasi yang paling optimal dalam penelitian ini. Kata kunci : Ground Granulated Blast Furnace Slag, Akselerator, Kuat Teka

    Evaluasi Lengkung dan Komponen Jalan Rel pada Segmen Malangkotalama-Pakisaji

    No full text
    Terdapat kecenderungan untuk meningkatkan waktu tempuh perjalanan kereta api di Indonesia melalui pengoptimalan kecepatan prasarana melalui langkah penggantian komponen jalan rel dan pengoptimalan kecepatan kereta api pada lengkung. Pada beberapa lintas, pembatasan kecepatan telah ditingkatkan hingga 120 km/jam. Pada segmen Malangkotalama—Pakisaji, saat ini masih dibatasi dengan pembatasan kecepatan 80 km/jam. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk mengevaluasi potensi peningkatan kecepatan pada segmen Malangkotalama—Pakisaji berdasarkan beberapa faktor yaitu evaluasi kelas jalan eksisting, evaluasi kondisi desain lengkung dan komponen jalan rel eksisting, serta evaluasi kemampuan kecepatan sarana eksisting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa segmen Malangkotalama—Pakisaji memiliki daya angkut lintas sebesar 5.159.722 ton/tahun sehingga termasuk dalam kelas jalan III dengan kecepatan maksium rencana kelas jalan 100 km/jam. Terdapat 5 lengkung yang seluruhnya belum berpotensi untuk memadai peningkatan kecepatan: lengkung 2 diperkirakan memiliki kemampuan kecepatan 60 km/jam; lengkung 1, 3 dan 4 diperkirakan 70 km/jam; dan lengkung 5 diperkirakan 80 km/jam. Komponen jalan rel telah memenuhi syarat kelas jalan dan berpotensi memadai peningkatan kecepatan. Beberapa sarana memiliki kemampuan kecepatan 90 km/jam sehingga belum memadai potensi peningkatan kecepatan. Kata Kunci: kereta api, kecepatan, lengkung, komponen jalan rel, saran

    Analisis Kebutuhan Material Beton dan Baja pada Pekerjaan Struktural melalui Penerapan Building Information Modelling (BIM) pada Proyek Pembangunan Gedung Serbaguna GKI Pengharapan Jayapura

    No full text
    Dalam perkembangan industri konstruksi yang pesat, manajemen konstruksi dituntut atas perencanaan pekerjaan yang terintegrasi, cepat, dan efektif. Konsep kerja terintegrasi dan kolaborasi tersebut dimungkinkan dalam suatu sistem informasi yang disebut Building Information Modelling (BIM). Penerapan Autodesk Revit, sebagai salah satu software BIM, perlu didorong dalam proyek-proyek yang ada di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jumlah kebutuhan volume material beton dan baja pekerjaan struktural dari hasil pemodelan menggunakan Revit, serta besar perbedaannya dengan kebutuhan material beton dan baj pada hasil perencanaan pada BOQ pada proyek pembangunan Gedung Serbaguna GKI Pengharapan Jayapura. Penelitian ini dilakukan dengan menghitung ulang perencanaan kebutuhan volume material baja dan beton pada pekerjaan struktural Gedung Serbaguna GKI Pengharapan Jayapura dengan menggunakan Autodesk Revit. Pemodelan dilakukan dengan berpedoman pada Detail Engineering Design (DED) dan SNI 2847:2019 ssebagai acuan pemodelan detail pekerjaan struktural. Hasil volume material diperoleh melalui Quantity Take off (QTO) secara langsung pada Autodesk Revit serta penyusunan Bar Bending Schedule (BBS). Setelah pemodelan 3D pada Revit dan penyusunan BBS, diperoleh hasil kebutuhan volume material beton sebesar sebesar 809.883 m3 dan kebutuhan material baja tulangan 98.346,848 kg. Sedangkan, kebutuhan volume kebutuhan material beton pada BOQ sebesar 808.474 m3 dan kebutuhan volume baja tulangan sebesar 130.444,145 kg. Dengan demikian, diketahui bahwa kebutuhan volume atas material beton menunjukkan perbedaan selisih sebesar 1,409 m3 atau 0,17% dan kebutuhan baja tulangan perbedaan kebutuhan volume sebesar 32.097.297 kg atau 24,61%. Perbedaan hasil kebutuhan material beton dan baja tulangan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain efektivitas software Revit yang mampu memodelkan tulangan dan beton secara lebih akurat, sesuai dengan kebutuhan lapangan, dan mampu menghasilkan angka kebutuhan volume secara automatis

    Pengaruh Penggunaan Agregat Kasar Expanded Polystyrene Berukuran Satu Sentimeter dengan Coating Pasta Semen terhadap Kuat Tekan dan Modulus Elastisitas Beton dengan Metode Destructive Test

    No full text
    Pertumbuhan infrastruktur yang cepat meningkatkan kebutuhan beton, yang berujung pada eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Untuk meminimalkan dampak lingkungan, limbah expanded polystyrene (EPS) dipertimbangkan sebagai pengganti agregat kasar dalam pembuatan beton ringan. Di perairan Indonesia, sebagian besar limbah terdiri dari EPS yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan. Penggunaan EPS dalam beton dapat mengurangi berat beton dan limbah lingkungan, namun cenderung menurunkan kekuatan beton. Penelitian ini mengevaluasi penggunaan EPS yang dilapisi pasta semen untuk mengatasi kelemahan EPS yang memengaruhi kekuatan beton. Lima jenis beton diuji, yaitu beton dengan 25% EPS, 50% EPS, 75% EPS, 100% EPS, dan beton kontrol yang menggunakan agregat kasar alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beton dengan EPS yang dilapisi pasta semen memiliki modulus elastisitas dan kekuatan tekan yang lebih rendah dibandingkan beton dengan agregat alami. Pengujian kuat tekan dilakukan menggunakan compression testing machine dan extensometer sebagai metode pengujian.  Kata Kunci: Expanded polystyrene, Destructive test, Beton ringa

    PERTUMBUHAN KEKUATAN AWAL BETON DENGAN VARIASI PERSENTASE GROUND GRANULATED BLAST FURNACE SLAG DAN FLY ASH

    No full text
    Peningkatan populasi menjadi salah satu fenomena yang tak terhindarkan. Dengan meningkatnya penduduk maka meningkat pula permintaan infrastruktur yang menggunakan semen sebagai bahan penyusunnya. Akan tetapi penggunaan semen yang berlebihan berdampak buruk pada lingkungan. Oleh karena itu salah satu inovasi yang dapat digunakan yaitu menggantikan Sebagian semen dengan GGBFS (Ground Granulated Blast Furnace Slag) dan Fly Ash. Digunakan benda uji silinder dengan dimensi 15 cm x 30 cm. Penelitian ini membahas tentang pengaruh persentase GGBFS dan Fly Ash¸ dengan variasi persentase yang berbeda-beda yaitu GGBFS 0%, 20%, dan 50%, sedangkan variasi persentase Fly Ash yang digunakan yaitu 0%, 10%, dan 20%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu, pengujian yang dilakukan pada hari ke-1, ke-3, dan ke-7 nilai kuat tekan beton secara umum akan cenderung naik. Akan tetapi pada umur 1 dan 3 kuat tekan beton secara konstan turun sehingga variasi paling baik didapatkan saat penggunaan GGBFS 0%. Sedangkan pada hari ke-7 nilai kuat tekan beton optimum didapat saat penggunaan GGBFS 0% sampai 20% dan akan turun saat penggunaan GGBFS 50%. Hasil ini mengindikasikan bahwa pengaruh GGBFS dapat dilihat pada umur pengujian terakhir karena GGBFS memperlambat proses pengikatan awal beton. Sedangkan kuat tekan dengan Fly Ash cenderung naik di variasi 10% dan turun saat Fly Ash 20%

    Analisis Perbandingan Konfigurasi Jembatan Model pada Rangka Baja Tipe K-Truss dengan Konfigurasi Rangka Jembatan Gabungan Tipe K-Truss dan Warren Truss

    No full text
    Jembatan merupakan salah satu infrastruktur penting yang berfungsi untuk menghubungkan dua wilayah yang terpisah oleh rintangan, seperti sungai, lembah, atau jalan. Dalam perancangan jembatan, pemilihan jenis struktur yang tepat sangatlah krusial untuk memastikan keamanan, efisiensi, dan daya tahan jembatan tersebut. Di antara berbagai jenis struktur jembatan, rangka baja tipe K-Truss dan Warren Truss merupakan dua konfigurasi yang sering digunakan dalam desain jembatan. Penelitian ini membandingkan kinerja struktural konfigurasi K-Truss dengan konfigurasi jembatan gabungan antara K-Truss dan Warren Truss, berfokus pada lendutan maksimum, efisiensi Demand Capacity Ratio (DCR), dan total berat material. Model jembatan skala dengan bentang 600 cm yang dianalisis menggunakan SAP2000, dengan pembebanan berupa berat sendiri dan beban terpusat plat baja 400 kg di tengah bentang. Hasil analisis menunjukkan bahwa konfigurasi gabungan K-Truss dan Warren Truss lebih efisien dibandingkan K-Truss saja. Konfigurasi gabungan memiliki DCR tarik 2,1% dan tekan 33,6%, sedikit lebih baik dari K-Truss dengan DCR tarik 2,2% dan tekan 33,4%. Berat struktur juga lebih ringan sebesar 165,62 kg dibandingkan 170,34 kg pada K-Truss, dengan selisih 2,85%. Dalam hal lendutan vertikal, konfigurasi gabungan menunjukkan kekakuan yang lebih baik dengan lendutan 0,45588 mm, lebih kecil 4,90% dari K-Truss. Secara keseluruhan, meskipun perbedaan tidak terlalu besar, konfigurasi gabungan menunjukkan efisiensi yang lebih baik baik dari sisi kekakuan maupun penggunaan material. Pemilihan desain perlu mempertimbangkan keseimbangan antara upaya meminimalkan lendutan dan efisiensi berat struktur. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam merumuskan desain jembatan yang optimal, baik untuk keperluan kompetisi akademik maupun penerapan praktis di lapangan. Kata kunci : Jembatan Rangka Baja, Warren Truss, K-Truss, Efisiensi Struktur, Lendutan, Demand Capacity Rati

    Pertumbuhan Kekuatan Awal Beton dengan Variasi Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag dan Silica Fume

    No full text
    Beton sebagai salah satu bahan konstruksi favorit di seluruh belahan dunia menjadi marak dicari seiring dengan peningkatan kebutuhan konstruksi. Peningkatan permintaan beton tidak hanya mendatangkan untung, namun meninggalkan efek buruk jangka panjang bagi bumi akibat proses produksi salah satu bahan penyusunnya yaitu semen. Produksi semen secara massal mampu mengasilkan emisi CO2 yang berdampak buruk bagi pemanasan global. Sehingga, GGBFS dan Silica Fume hadir sebagai inovasi ramah lingkungan untuk mengatasi masalah tersebut. Maka, penelitian ini mengkaji pengaruh variasi persentase GGBFS dan Silica Fume terhadap kuat tekan awal beton yang diuji pada umur 1, 3, dan 7 hari. GGBFS sebagai subtitusi sebagian semen digunakan dengan variasi 0%, 20%, dan 50% dari total cementitious material. Selain itu, digunakan variasi Silica Fume yaitu 0%, 5%, dan 7,5% dari total cementitious material. Benda uji direncanakan memiliki bentuk silinder, dengan diameter berukuran 15 cm dan setinggi 30 cm. Berdasarkan hasil pengujian, GGBFS dan Silica Fume berpengaruh terhadap kuat tekan awal beton. Hasil pengujian mengindikasikan bahwa penambahan GGBFS pada adukan beton secara umum menurunkan kuat tekan beton pada umur 1 dan 3 hari, namun dengan kadar 20% di usia 7 hari justru dapat meningkatkan kuat tekan beton, sebelum kembali menurun pada kadar 50%. Selain itu, penambahan Silica Fume cenderung meningkatkan kuat tekan awal rata-rata beton. Sedangkan kombinasi kedua material ini menurunkan kuat tekan awal ketika kadar GGBFS ditambahkan. Kuat tekan awal beton tertinggi tercatat pada penambahan GGBFS 20% dan Silica Fume 0% sebesar 29,06 MPa. Namun, bila mempertimbangkan penggunaan kedua material, kuat tekan awal beton tertinggi didapatkan saat penggunaan GGBFS 20% dan Silica Fume 5% dengan hasil 25,30 MPa. Secara umum, hasil kuat tekan awal dari kombinasi kedua material lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan material GGBFS saja atau Silica Fume saja. Kata kunci: Kuat Tekan Awal, Ground Granulated Blast Furnace Slag, Silica Fum

    Performa Geosynthethics-Encased Recycle Concrete Columns (GERCC) dan Sand-Columns sebagai Soil Reinforcement pada Jalan Tol Pandaan -Pasuruan

    No full text
    Keberadaan tanah lunak pada proyek Jalan Tol Pandaan-Pasuruan berpotensi menyebabkan penurunan tanah yang signifikan, sehingga diperlukan metode perkuatan tanah yang efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan efektivitas penggunaan kolom beton daur ulang Geosynthethics-Encased Recycle Concrete Columns (GERCC) dan Geosynthethics-Encased Sand Columns (GESC) sebagai soil reinforcement dalam mengurangi penurunan tanah, baik secara analitik maupun numerik menggunakan metode elemen hingga (FEM 2D). Analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan variasi diameter dan jarak antar kolom, serta membandingkan dua jenis material pengisi kolom (GERCC dan pasir). Parameter yang dianalisis meliputi daya dukung tanah, besarnya penurunan (settlement), serta pengaruh penggunaan geosintetik sebagai lapisan tambahan. Seluruh hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan GERCC dan GESC secara signifikan meningkatkan daya dukung tanah dan mempercepat konsolidasi. GERCC terbukti lebih efektif dibandingkan sand-columns dari penurunan tanah yang lebih kecil dan stabilitas struktur yang lebih baik, sedangkan GESC lebih baik dari segi waktu konsolidasi. Penggunaan geosintetik bertujuan sebagai filtrasi dan separasi antara tanah dan material kolom. Variasi diameter dan jarak antar kolom berpengaruh terhadap hasil akhir, di mana kolom dengan diameter dan jarak paling optimal, yaitu 1,2m dan 2,4m menunjukkan hasil terbaik. Kata Kunci : Tanah lunak, columns, soil reinforcement, konsolidasi, GERCC, GESC

    Pengaruh Variasi Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag dan Fly Ash Terhadap Kuat Lentur Beton

    No full text
    Produksi semen portland memiliki dampak lingkungan yang signifikan. Menurut data dari International Energy Agency (IEA), industri semen berkontribusi sekitar 5-7% dari total emisi CO₂ global. Selain itu, proses produksi semen memerlukan konsumsi energi yang besar, umumnya diperoleh dari bahan bakar fosil, yang berkontribusi pada perubahan iklim global. Dampak negatif ini, ditambah dengan konsumsi bahan baku yang tinggi, menjadikan produksi semen sebagai salah satu tantangan besar dalam upaya pembangunan berkelanjutan. Maka dari itu, terdapat alternatif baru yaitu Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) dan fly ash sebagai bahan campuran beton untuk meminimalisir penggunaan semen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan GGBFS dan fly ash pada campuran beton. Berdasarkan pengujian kuat lentur beton berdasarkan persentase GGBFS,  didapatkan bahwa pada umur 28 dan 56 hari secara umum naik pada persentase GGBFS 20% dan mengalami penurunan pada persentase GGBFS 50% dari berat semen, sedangkan pada pengujian kuat lentur beton berdasarkan fly ash, didapatkan bahwa pada umur 28 dan 56 hari secara umum mengalami peningkatan setelah ditambahkannya persentase fly ash sebesar 10% dari berat semen

    0

    full texts

    1,439

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇