Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
1439 research outputs found
Sort by
PENGARUH VARIASI JUMLAH LAPIS DAN JARAK ANTARLAPIS VERTIKAL GEOTEKSTIL TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI PADA PEMODELAN LERENG PASIR KEPADATAN 74%
Perletakkan sebuah pondasi di atas atau di dekat tanah lereng akan menyebabkan zona plastis pada sisi lereng relatif lebih kecil dibandingkan dengan penempatan pondasi yang sama pada tanah yang datar. Hal ini mengakibatkan daya dukung dari pondasi tersebut secara langsung berkurang, sehingga perlu adanya perkuatan lereng berupa geotekstil untuk meningkatkan nilai daya dukung. Analisa perkuatan dilakukan pada tanah pasir dengan kepadatan 74% dengan variasi jumlah lapisan hingga 3 lapis dan variasi jarak antarlapis vertikal 0,15H, 0,18H, dan 0,21H. dari analisis hasil pengujian didapatkan semakin banyak jumlah lapis perkuatan dan semakin rapat jarak antarlapis vertikal geotekstil akan semakin meningkatkan nilai daya dukung lereng, hal ini dibuktikan dari hasil nilai BCI(u) sebesar 2,695. Kata kunci: perkuatan, daya dukung, BC
PENILAIAN RISIKO FINANSIAL DENGAN MENGGUNAKAN SIMULASI MONTE CARLO (Studi Kasus Gedung STIKES Maharani Malang)
Dalam menjalankan bisnis usaha konstruksi diperlukan manajemen risiko sehingga perusahaan konstruksi dapat terhindar dari kerugian-kerugian yang bisa terjadi di kemudian hari, utamanya kerugian finansial. Salah satu hal yang dapat menimbulkan kerugian finansial adalah kesalahan saat penyusunan rencana anggaran biaya (RAB). Untuk menghitung estimasi RAB proyek dengan tidak mengurangi analisis manajemen risiko maka dapat digunakan simulasi Monte Carlo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estimasi biaya proyek pembangunan Gedung Stikes Maharani Malang untuk setiap tinjauan prestasi pekerjaan 25%, 50%, 75% dan 100% berdasarkan simulasi Monte Carlo dengan menggunakan software Microsoft Excel dan Matrix Laboratory (MATLAB). Simulasi Monte Carlo merupakan penerapan metode Monte Carlo yang bertujuan untuk menganalisis perambatan ketidakpastian. Simulasi Monte Carlo melibatkan penggunaan angka acak (angka random) untuk memodalkan sistem sehingga pada penelitian ini digunakan dua software untuk menentukan angka random yaitu Microsoft Excel dan MATLAB dimana angka random yang diambil merupakan angka diantara nilai minimum dan maksimum setiap jenis pekerjaan yang dilakukan di proyek dan dilakukan pengulangan sesuai dengan jumlah iterasi yang terjadi dengan relative error 2% untuk kemudian dianalisis grafik frekuensi dan distribusi normalnya. Hasil perhitungan untuk setiap tinjauan prestasi pekerjaan 25%, 50%, 75% dan 100% dengan Microsoft Excel didapatkan hasil Rp.551.595.027,00, Rp.1.314.281.050,00, Rp.1.979.274.780,00 dan Rp.2.749.950.172,00. Sedangkan hasil perhitungan MATLAB adalah Rp.602.271.117,00, Rp.1.310.689.823,00, Rp.1.980.164.824,00 dan Rp.2.740.729.439,00. Hasil tersebut merupakan nilai rerata dari grafik frekuensi dan distribusi normal dan menunjukkan peluang terbesar dana yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mencapai prestasi pekerjaan yang ditinjau. Berdasarkan perhitungan dua software tersebut tidak terdapat perbedaan hasil yang besar dan kesalahan relatif cenderung kecil yaitu dibawah 1% kecuali untuk perhitungan pada tinjauan prestasi 25% dimana kesalahan relatifnya mencapai angka 8%.    Kata Kunci: simulasi Monte Carlo, penilaian risiko finansial, angka random, manajemen risiko finansia
EVALUASI PENGADAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI DENGAN E-PROCUREMENT DI KOTA MALANG DITINJAU DARI SEGI EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS
E-procurement dilatarbelakangi oleh kelemahan-kelemahan pengadaan dengan sistem konvensional yang dilakukan dengan langsung mempertemukan pihak-pihak yang terkait pengadaan, sehingga pemerintah mengeluarkan Perpres 54 Tahun 2010. Dikeluarkannya Perpres No. 54 Tahun 2010 bertujuan agar pengadaan barang/jasa Instansi Pemerintah dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efisiensi dan efektifitas pengadaan pekerjaan konstruksi di kota Malang semenjak dibelakukannya perpres 70 tahun 2012 tentang pengadaan barang dan jasa. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui tingkat efisiensi dan efektifitas, selain itu juga penelitian ini mengevaluasi kepuasan penyedia dan pengguna didalam pelelangan terhadap pengadaan pekerjaan konstruksi dengan menggunakan e-procurement di kota Malang. Penelitian ini termasuk Penelitian Hipotesis Deskriptif dan IPA (index Performance Analysis), Hipotesis Deskriptif menjelaskan bagaimana memberikan pernyataan dugaan terhadap variabel, dimana kita memberikan dugaan awal sebelum melakukan penelitian, sedangkan Metode IPA (Index Performance analysis) meneliti tentang tingkat kepuasan responden terhadap penggunaan e-procurement dalam pengadaan jasa konstruksi di Kota Malang. Penelitian ini mengevalusi prinsip efisiensi dan efektifitas didalam pengadaan barang dan jasa pada perpres 70 tahun 2012. Penentuan subjek tersebut dilakukan dengan stratified random sampling, yang terdiri dari 20 penyedia jasa konstruksi (Kontraktor) dan 27 pengguna jasa yang didalamnya termasuk Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Kelompok Kerja/Unit Layanan Pengadaan (POKJA/ULP). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan data primer dan sekunder, pada penelitian ini data primer diambil dengan menyebarkan kuisioner pada responden dengan pertanyaan dari tahap-tahap pengadaan jasa konstruksi, sedangkan data sekunder diambil dari situs resmi Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pada penelitian ini pengadaan jasa konstruksi di Kota malang sudah termasuk efisien dan efektif, setelah dilakukan penelitian tentang kepuasan responden terhadap pengadaan jasa konstruksi di Kota Malang sudah termasuk Sangat Baik. Dengan demikian penelitian ini membuktikan bahwa pengadaan jasa kosntruksi dikota malang dengan menggunakan e-procurement sudah efektif, efisien dan memuaskan. Kata Kunci: e-procurement, pengadaan pekerjaan konstruksi, IPA (Importance Performance Analysis
PEMANFAATAN MINERAL LOKAL ZEOLIT ALAM TERHADAP PERILAKU LENTUR BALOK SELF-COMPACTING CONCRETE (SCC)
Self-Compacting Concrete (SCC) is a technological innovation in the manufacture of concrete that does not require compaction process to occupy formwork and solidified itself. In this research the manufacture of SCC used to harness the potential of local natural zeolite material which has almost the same chemical compound with fly ash or silica fume. The research was conducted through the manufacture of test specimens in 3 variations SCC without natural zeolite and natural zeolite were added levels of 5%, 10%, and 15% of the weight of the cement used in the mix. Beam has a main reinforcement 2-Æ8. The performed test is filling ability test, compressive strength of concrete, and flexural strength of concrete. Filling ability of SCC was measured by the test method slump flow and V-funnel test. From flexural strength testing were obtained ultimate load and beam deflection curves. The obtained results are given of natural zeolite levels influence on the flexural strength beams. The higher levels of natural zeolites are increase the result of flexural strength, but is limited to 10% levels When compared with normal concrete beams the flexural strength beam SCC natural zeolite amounted to 132,74 kg/cm2 has a 6.49% percentage increase. This is because the SCC natural zeolite beams with levels 10% and 15% of natural zeolite have a plastic phase is longer so the load can be held to be more bigger in line with the ability of beam deformation. The increase percentage reaches 18.46% when compared with normal concrete beam. Keywords : Beams, flexural strength, deflection, SCC, natural zeolite
Pengaruh Lama Waktu Curing Terhadap Nilai CBR Dan Swelling Pada Tanah Lempung Ekspansif Di Bojonegoro Dengan Campuran 15% Fly Ash
Tanah lempung yang ekspansif merupakan tanah yang memiliki daya dukung rendah dan kembang susut yang tinggi, oleh karena itu diperlukan suatu upaya stabilisasi agar nilai CBR dan swelling menjadi lebih baik sehingga dapat digunakan sebagai tanah dasar dalam suatu konstuksi. Tanah dari daerah Bojonegoro menjadi bahan uji dalam penelitian ini. Dari hasil pengujian fisik tanah diketahui bahwa tanah di daerah Bojonegoro merupakan tanah lempung ekspansif dengan nilai CBR 3,909% dan nilai swelling 3,982%, oleh karena itu tanah tersebut memerlukan upaya stabilisasi. Upaya stabilisasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah pencampuran bahan aditif berupa fly ash.  Dalam penelitian ini dilakukan pengujian pendahuluan dengan pencampuran kadar fly ash 5%, 10%, 15%, dan 20%. Berdasarkan hasil dari pengujian pendahuluan, kadar optimum fly ash yang dapat digunakan sebagai bahan stabilisasi adalah 15%. Pencampuran tanah lempung ekspansif dengan 15% fly ash menghasilkan nilai CBR sebesar 7,892% dan nilai swelling 1,018%. Dengan melakukan curing pada campuran tanah lempung ekspansif dengan 15% fly ash, dapat menghasilkan nilai CBR dan swelling yang lebih baik. Waktu curing untuk menghasilkan CBR terbesar dan swelling terkecil adalah 28 hari. Curing selama 28 hari menghasilkan nilai CBR terbesar yaitu 16,948% dan nilai swelling terkecil yaitu 0,381%. Curing selama 28 hari dapat meningkatkan nilai CBR sebesar 433,6% dan nilai swelling turun hingga 1045,1%. Kata kunci: Lempung Ekspansif, Stabilisasi Tanah, Fly Ash, CBR, Swelling, Curin
PENGARUH CAMPURAN KADAR BOTTOM ASH DAN LAMA PERENDAMAN AIR LAUT TERHADAP LENDUTAN PADA BALOK
Beton merupakan salah satu bahan bangunan yang merupakan campuran heterogen antara agregat kasar dan agregat halus dengan pengikat semen dan air yang dalam proses pencampurannya mengalami proses pengerasan atau hidrasi dalam kurun waktu tertentu. Pada umumnya elemen – elemen pokok pada konstruksi bangunan terutama kolom, balok dan plat yang dibuat dengan beton. Dari sisi ekonomis, selain mudah dibuat dan mudah dibentuk, bahan beton juga memiliki keunggulan lain yaitu agregat pengisi pasir dan kerikil atau batu pecah sangat berlimpah di alam sehingga mudah didapat. Dari segi kekuatan, bahan beton memiliki kekuatan tekan yang sangat tinggi, artinya beton sangat ideal untuk menerima beban tekan. Lendutan merupakan fungsi dari pembebanan dan kekakuannya. Perilaku hubungan beban dan defleksi pada balok beton bertulang pada dasarnya dapat diidealisasikan menjadi bentuk trilinier. Bentuk trinlinier tersebut membagi kondisi lendutan menjadi tiga bagian yaitu daerah I sebagai kondisi elastis, daerah II sebagai kondisi kemampuan layan/serviceability, dan daerah III sebagai kondisi plastis. Daerah serviceability merupakan daerah yang dibatasi dengan terjadinya retak pertama pada beton hingga pada pembebanan 70% beban maksimum yang mampu ditahan balok. Pada penelitian lendutan balok digunakan benda uji balok beton bertulangan dengan dimensi 70 mm x 100 mm x 1100 mm, dan benda uji silinder 150 mm x 300mm untuk uji kuat tekan. Benda uji balok dan silinder dibuat dengan variasi bottom ash sebagai pengganti agregat halus sebesar 0%, 10%, 20%, dan 25%. Data lendutan diperoleh dengan pembacaan dial gauge pada setiap pembebanan.. Berdasar penelitian didapatkan nilai kuat tekan beton bottom ash lebih rendah dibanding kuat tekan beton normal. Menurunnya kuat tekan beton berpengaruh pada lendutan yang terjadi. Untuk nilai beban yang sama lendutan balok beton bottom ash sedikit lebih besar dibanding balok beton normal.Kata kunci: bottom ash, agregat halus, lendutan, balo
PENGARUH VARIASI JARAK DAN JUMLAH LAPIS PERKUATAN KOMBINASI GEOTEKSTIL DAN ANYAMAN BAMBU SATU ARAH TERHADAP DAYA DUKUNG DAN PENURUNAN PONDASI MENERUS PADA TANAH PASIR POORLY GRADED
Pembangunan yang ada di Indonesia saat ini hampir keseluruhan dalam skala yang besar, sedangkan jenis tanah yang ada di Indonesia sangat beraneka ragam, salah satu contohnya adalah tanah pasir poorly graded. Tanah ini tidak mampu menahan beban yang terlampau besar. Sehingga ditambahkan perkuatan untuk meningkatkan daya dukungnya. Sistem perkuatan yang digunakan adalah dengan memasang geotekstil geocomposite. Fungsi geotekstil dalam hal ini adalah untuk perkuatan tanah dimana geotekstil berinteraksi dengan tanah melalui gaya gesek atau gaya adhesi untuk menahan gaya tarik, sehingga daya dukung tanah dapat meningkat. Pada penelitian ini digunakan variasi jarak antar perkuatan yaitu 0.2B, 0.3B, dan 0.4B serta variasi jumlah perkuatan yaitu dua dan tiga buah. Hasil dari pemasangan geotekstil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tanah model mengalami peningkatan daya dukung. Dimana peningkatan daya dukung paling maksimum terjadi saat jarak antar perkuatan 0.4B dengan jumlah lapis sebanyak tiga. Berdasarkan pengujian ini dapat disimpulkan bahwa semakin jauh jarak antar perkuatan dan semakin banyak jumlah lapisan perkuatan maka daya dukung semakin besar pula, selama perkuatan masih dalam batas bidang runtuh dan jarak tersebut masih menjadikan perkuatan anyaman bambu masih merupakan satu kesatuan elemen Kata kunci: daya dukung, poorly graded,  geotekstil geocomposite, jarak antar perkuatan, jumlah lapis perkuatan
Studi Analisis Sambungan Balok-Kolom Dengan Sistem Pracetak Pada Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang
Pembangunan tiada henti-hentinya untuk terus dikembangkan. Akan tetapi dengan Banyaknya gedung – gedung yang dibangun membuat lahan yang tersedia semakin lama semakin sempit. Oleh karena itu, banyak daerah yang mulai membangun gedung–gedung bertingkat untuk mengatasi kekurangan lahan yang semakin sempit. Pembangunan gedung bertingkat saat ini sebagian besar masih tetap menggunakan metode beton bertulang konvensional dengan menggunakan bekisting yang dicor di tempat yang akan menelan biaya lebih mahal karena membutuhkan banyak sekali bekisting. Akan tetapi sekarang ada trobosan baru untuk mengurangi penggunaan bekisting yang banyak, yaitu dengan menggunakan metode pracetak yang dibuat di pabrik atau di lokasi proyek kemudian dirakit. Konsep pembangunan mengacu ke dalam SNI 03-2847-2002 dan SNI 03-1726-2002 sehingga acuan kedua peraturan tersebut akan didapatkan struktur yang tahan gempa, efektif, dan efisien. Dalam studi ini merupakan analisis gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang dengan zona gempa 4 yang di rencanakan kembali dengan menggunakan metode pracetak. Dari hasil studi didapatkan bahwa dimensi balok induk berukuran 40 cm x 60 cm dengan tulangan lentur digunakan D19 dan tulangan geser 10 harus memenuhi syarat aman terhadap kapasitas momen yang ada. Untuk struktur kolom lantai 1 hingga lantai 4 berukuran 80cm x 100 cm dengan menggunakan tulangan lentur D29 dan tulangan geser 10 dan lantai 5 hingga lantai 8 menggunakan dimensi 70 cm x 90 cm dengan menggunakan tulangan lentur D29 dan tulangan geser 10 harus bisa menahan berat beban yang ada diatasnya.Kata kunci : Sistem pracetak sambungan balok-kolo
Perencanaan Dinding Geser pada Struktur Gedung Beton Bertulang dengan Sistem Ganda
Dinding geser pada Sistem Ganda sebagai salah satu alternatif sistem struktur, disyaratkan untuk memikul sebagian besar beban lateral, yaitu maksimum sebesar 75%. Distribusi beban lateral pada struktur dengan Sistem Ganda adalah proporsional sesuai dengan kekakuan relatif masing-masing komponennya. Selanjutnya, dengan beban yang sudah terdistribusi, dilakukan perencanaan pada dinding geser. Dengan menetapkan kekakuan relatif dinding geser terhadap seluruh gedung, akan didapatkan dimensi dinding geser yang diperlukan untuk memenuhi kekakuan rencana. Selanjutnya, dilakukan perhitungan massa gedung dan didapatkan gaya gempa berupa gaya geser dasar nominal V. Dengan Analisis Statik Ekuivalen didapatkan gaya geser dasar horizontal Fi untuk tiap lantainya. Gaya geser Fi kemudian didistribusikan ke tiap portal yang proporsinya sesuai dengan kekakuan relatifnya, sesuai dengan syarat Sistem Ganda. Dengan memodelkan dinding geser sebagai struktur kantilever, didapatkan gaya geser dan momen lentur, dan dari analisis terhadap tributary area (area yang didukung oleh dinding geser), didapatkan gaya aksial yang bekerja pada penampang dinding geser. Dari gaya-gaya dalam hasil analisis tersebut, direncanakan tulangan tulangan horizontal dan vertikal. Kemudian dari tulangan vertikal yang terpasang, dilakukan pemeriksaan kapasitas penampang terhadap lentur dan aksial dengan bantuan diagram interaksi. Â Kata kunci : gedung, beton bertulang, Sistem Ganda, dinding geser, komponen batas