Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
1439 research outputs found
Sort by
IMPLEMENTASI BUILDING INFORMATION MODELLING DALAM ANALISIS KEBUTUHAN MATERIAL ELEMEN STRUKTURAL PADA PROYEK GEDUNG PERGURUAN TINGGI NEGERI UNIVERSITAS PADJAJARAN
Dalam proyek konstruksi diperlukan manajemen proyek yang baik agar dalam proses pembangunan proyek berjalan dengan baik Salah satu faktor yang mendukung ialah volume kebutuhan material. Building Information Modelling (BIM) merupakan metode yang dapat menghitung secara otomatis menghitung volume total bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh penggunaan BIM terhadap akurasi perhitungan volume material. Pemodelan 3D dilakukan menggunakan Autodesk Revit 2022 dan yang dimodelkan adalah elemen pondasi, tie beam, kolom, dan balok. Hasil perhitungan volume material beton dari pemodelan Revit adalah 2842,69 m³, lebih kecil 5,40% dibandingkan perhitungan kontraktor. Volume besi tulangan dari pemodelan Revit adalah 14257,73 kg, lebih banyak 3,10% dibandingkan perhitungan kontraktor. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan standar dalam panjang kait dan sambungan lewatan antara perhitungan manual dan Revit serta perhitungan Revit yang otomatis memperhitungkan bentang bersih elemen.
Kata Kunci: BIM, Autodesk Revit, 3D, Volume, Beton, Besi tulangan
Pemerataan Sumber Daya (Resource Leveling) Menggunakan Algoritma Genetika dengan Bahasa Pemrograman Python
Dalam dunia industri saat ini, manajemen proyek, khususnya dalam hal penjadwalan sumber daya, memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan proyek konstruksi yang semakin kompleks. Untuk mengatasi tantangan seperti terbatasnya sumber daya, fluktuasi permintaan, dan konflik antar aktivitas, metode resource leveling digunakan untuk menyeimbangkan alokasi sumber daya dan mengurangi fluktuasi kebutuhan. Namun, dengan semakin rumitnya proyek konstruksi modern, dibutuhkan pendekatan yang lebih fleksibel dan canggih dibandingkan metode tradisional. Algoritma genetika, yang unggul dalam menjelajahi berbagai solusi, menghindari solusi lokal optimal, serta dapat menangani kendala nonlinear, muncul sebagai solusi yang potensial. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai kemampuan algoritma genetika dalam meningkatkan efisiensi penjadwalan sumber daya pada proyek konstruksi dan membandingkan hasilnya dengan metode resource leveling yang diterapkan di Microsoft Project, guna memberikan wawasan baru mengenai penerapan teknik optimasi modern dalam manajemen proyek.
Penelitian ini dilakukan dengan mengimplementasikan algoritma genetika dalam resource leveling, dengan metode jumlah kuadrat terkecil sebagai fungsi objektif. Algoritma dikembangkan menggunakan bahasa pemrograman Python untuk memberikan fleksibilitas dalam pengembangan solusi. Hasil optimasi yang diperoleh dari algoritma genetika dibandingkan dengan metode resource leveling yang diterapkan di Microsoft Project, melalui empat skenario penjadwalan dengan tingkat kompleksitas yang berbeda, serta studi kasus pembangunan gedung kantor sekolah di Makassar. Berbagai skenario dan proyek nyata tersebut diterapkan untuk menguji keandalan algoritma genetika dalam menghadapi berbagai kondisi, serta untuk dievaluasi kemampuannya dalam meningkatkan efisiensi penjadwalan sumber daya pada proyek konstruksi.
Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa algoritma genetika memiliki pengaruh positif dalam menciptakan keseimbangan penggunaan sumber daya pada proyek konstruksi. Pengalokasian sumber daya menjadi lebih merata, yang mengurangi fluktuasi dalam penggunaannya. Berdasarkan analisis, nilai kuadrat sumber daya (Z) yang dihasilkan oleh algoritma genetika lebih rendah dibandingkan dengan Microsoft Project, dengan selisih terkecil sebesar 1,21% pada contoh 2 dan selisih terbesar mencapai 5,65% pada proyek gedung kantor. Temuan ini menunjukkan bahwa algoritma genetika menghasilkan solusi resource leveling yang lebih efisien. Dengan distribusi sumber daya yang lebih seimbang dan nilai Z yang lebih rendah, algoritma genetika terbukti lebih unggul dalam mengoptimalkan penggunaan sumber daya jika dibandingkan dengan Microsoft Project.
Kata Kunci: Resource Leveling, Algoritma Genetika, Jumlah Kuadrat Terkecil
Studi Pengaruh Kalsium Nitrat dan Densitas Sel Bakteri Sporosarcina Pasteurii Terhadap Peningkatan Stabilitas Tanah Lanau Menggunakan Metode Microbially Induced Calcium Carbonate Precipitation
Tanah lanau memiliki kohesi rendah dan rentan terhadap deformasi, sehingga memerlukan metode stabilisasi yang efektif dan ramah lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode Microbially Induced Calcium Carbonate Precipitation (MICP) dengan memanfaatkan bakteri Sporosarcina pasteurii yang diinjeksi ke tanah lanau bersama larutan kalsium nitrat. Variasi kalsium nitrat yang digunakan yaitu 2%, 2,5%, dan 3%, serta tiga tingkat densitas sel bakteri. Pengujian dilakukan menggunakan Direct Shear Test untuk mengetahui pengaruh terhadap nilai kohesi dan sudut geser dalam. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi kalsium nitrat 2,5% dan densitas sel tertinggi menghasilkan kuat geser tanah paling optimal. Presipitasi kalsium karbonat terbukti mampu memperkuat ikatan antar partikel tanah, sehingga meningkatkan stabilitas tanah secara signifikan. Metode ini menunjukkan potensi sebagai solusi alternatif untuk perbaikan tanah lanau dalam bidang teknik sipil.
Kata Kunci: Microbially Induced Calcium Carbonate Precipitation (MICP), Sporosarcina Pasteurii, kalsium nitrat, densitas sel bakteri, perbaikan tanah, kuat geser, kohesi
PENGARUH JUMLAH LAPISAN GEOPOLIMER SEBAGAI COATING AGREGAT KASAR DAUR ULANG TERHADAP KUAT TARIK BELAH BETON
Recycled Coarse Aggregate (RCA) merupakan solusi berkelanjutan untuk mengurangi limbah beton, namun kualitasnya yang rendah akibat adanya sisa mortar yang menempel seringkali menurunkan performa mekanik beton. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas RCA dan kekuatan tarik belah beton dengan mengaplikasikan lapisan coating geopolimer, serta mengevaluasi pengaruh jumlah lapisan terhadap hasilnya. Lima variasi beton disiapkan: beton kontrol dengan agregat alami (NA), beton dengan RCA tanpa lapisan (RA), dan beton dengan RCA yang dilapisi geopolimer sebanyak satu (RAC1), dua (RAC2), dan tiga (RAC3) lapis. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan dua lapis (RAC2) memberikan performa optimal, meningkatkan kuat tarik belah dari 1,893 MPa (RA) menjadi 2,070 MPa. Meskipun demikian, nilai ini masih di bawah kekuatan beton NA (2,482 MPa). Studi ini menyimpulkan bahwa pelapisan geopolimer adalah metode yang efektif untuk merekayasa RCA, dengan dua lapisan menjadi konfigurasi paling optimal, meskipun belum sepenuhnya mengembalikan kekuatan beton ke level agregat alami.
Kata Kunci: Agregat Daur Ulang, Geopolimer, Kuat Tarik Belah, Coatin
Analisis Kelaikan Fungsi Jalan Studi Kasus: Jalan Patimura, Jalan Diponegoro, dan Jalan Dewi Sartika–Imam Bonjol pada Kota Batu (Road Function Eligibility Case Study: in Batu City)
Keselamatan jalan merupakan salah satu indikator penting dalam mendukung kelancaran dan keamanan mobilitas di kawasan perkotaan. Kota Batu sebagai salah satu kota wisata memiliki ruas-ruas jalan yang padat aktivitas dan rawan terhadap permasalahan lalu lintas. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi terhadap kondisi eksisting jalan menggunakan pendekatan uji laik fungsi jalan berdasarkan Pedoman Bidang Lingkungan dan Keselamatan Jalan Nomor 06/P/BM/2024 dengan sistem pemeringkatan bintang. Penelitian ini dilakukan pada lima ruas jalan utama di Kota Batu, yaitu Jalan Patimura, Jalan Diponegoro, Jalan Dewi Sartika, Jalan Imam Bonjol, dan Jalan Agus Salim, dengan total panjang 3.808 meter. Metode pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan dan rekaman video, serta pengolahan data berdasarkan atribut teknis seperti kecepatan operasional, kelandaian, dan lebar bahu jalan. Hasil pemeringkatan menunjukkan bahwa Jalan Diponegoro memperoleh bintang 4 (skor 4,58), Jalan Patimura bintang 3 (skor 6,32), Jalan Dewi Sartika bintang 4 (skor 7,10), Jalan Imam Bonjol bintang 5 (skor 3,47), dan Jalan Agus Salim bintang 5 (skor 2,21). Analisis juga menunjukkan adanya hubungan antara nilai bintang dan jumlah kecelakaan lalu lintas. Segmen dengan peringkat rendah cenderung memiliki angka kecelakaan lebih tinggi. Rekomendasi teknis yang disusun mencakup pemasangan marka jalan bertekstur, rambu batas kecepatan, penambahan zebra cross, hingga penertiban parkir dan pelebaran bahu jalan. Diharapkan dengan diterapkannya rekomendasi teknis tersebut, ruas jalan yang dianalisis dapat menjadi lebih berkeselamatan (Safer Road).
Kata kunci : Uji Laik Fungsi Jalan, Pemeringkatan Bintang, Rekomendasi Teknis, Kecelakaan Lalu Lintas, Kota Bat
Analisis Performa Bracing Baja Konsentris Tipe X sebagai Pengganti Shearwall pada Struktur Portal Beton Bertulang (Studi Kasus Gedung FKG Universitas Brawijaya)
Tingkat kerawanan gempa bumi di Indonesia tinggi akibat letaknya di antara tiga lempeng aktif dunia dan memiliki banyak gunung berapi yang aktif sehingga perlu merencanakan bangunan yang dapat menghindari keruntuhan ketika terjadi gempa bumi. Salah satu cara untuk membuat bangunan lebih stabil adalah dengan memasang bracing baja. Penelitian ini akan meninjau pengaruh penambahan bracing baja konsentris tipe X pada Gedung FKG Universitas Brawijaya dengan tiga konfigurasi lokasi bracing yang berbeda melalui tingkat kinerja struktur menggunakan analisis pushover, simpangan antar lantai, gaya geser dasar, dan periode getar alami. Hasil analisis menunjukkan tingkat kinerja yang dimiliki seluruh jenis pemodelan adalah Immediate Occupancy (IO), nilai periode getar alami pada struktur yang menggunakan bracing baja lebih kecil daripada struktur eksisting, terdapat peningkatan nilai gaya geser dasar serta penurunan pada nilai simpangan antar lantai pada struktur yang menggunakan bracing baja.
Kata Kunci: bracing konsentris, tipe X, analisis pushover, tingkat kinerja
Analisis Perbandingan Konfigurasi Jembatan Rangka Baja Tipe K-Truss dengan Konfigurasi Rangka Jembatan Gabungan Tipe Warren Truss dan K-Truss
Jembatan merupakan komponen strategis dalam sistem infrastruktur transportasi yang berperan penting dalam menunjang mobilitas dan aktivitas ekonomi. Efisiensi desain, khususnya dalam konfigurasi rangka (truss), menjadi aspek fundamental dalam mengoptimalkan kekuatan struktur sekaligus menekan biaya konstruksi dan penggunaan material. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis komparatif terhadap kinerja struktur jembatan rangka baja dengan konfigurasi K-Truss konvensional dan konfigurasi gabungan Warren Truss–K-Truss. Fokus analisis meliputi aspek lendutan, efisiensi struktur berdasarkan nilai Demand Capacity Ratio (DCR), serta kebutuhan total berat material baja. Pemodelan struktur dilakukan menggunakan perangkat lunak SAP2000 dengan mengacu pada SNI 1725:2016, mencakup pembebanan berupa beban mati dan beban lajur tipe “D”. Hasil analisis menunjukkan bahwa konfigurasi gabungan menghasilkan lendutan sebesar 4,00 mm, lebih besar dibandingkan konfigurasi K-Truss sebesar 3,25 mm, dengan selisih 23,08%. Rata-rata nilai DCR untuk elemen tekan dan tarik pada konfigurasi gabungan masing-masing sebesar 21,5% dan 8,8%, sedangkan pada konfigurasi K-Truss sebesar 11,9% dan 8,2%. Dari segi penggunaan material, konfigurasi gabungan memiliki total berat 241,43 ton, lebih ringan 25,61% dibandingkan K-Truss yang memiliki berat 303,24 ton. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa konfigurasi gabungan Warren Truss dan K-Truss mampu memberikan efisiensi material yang lebih tinggi tanpa mengorbankan kinerja struktural secara signifikan. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan desain jembatan yang lebih optimal dan aplikatif, baik dalam konteks akademik maupun implementasi teknis di lapangan.
Kata kunci : Jembatan Rangka Baja, Warren Truss, K-Truss, Efisiensi Struktur, Demand Capacity Ratio, SAP20
Studi Analisis Perilaku Balok Beton Komposit Berongga Menggunakan Baja Cold-Formed C Berhadapan terhadap Variasi Panjang Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP)
Peningkatan kebutuhan infrastruktur mendorong pemanfaatan material konstruksi inovatif yang tidak hanya kuat dan efisien, tetapi juga mendukung keberlanjutan. Salah satu material yang semakin dikembangkan adalah baja canai dingin (cold-formed steel), yang menawarkan keunggulan seperti bobot ringan, kekuatan tinggi, dan ketahanan terhadap korosi. Dalam pengembangannya sebagai elemen struktural utama seperti balok, penguatan eksternal menggunakan Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) menjadi solusi potensial dengan sifatnya yang ringan, kuat tarik, dan tahan korosi. Pada penelitian ini, dirancang balok komposit berongga menggunakan profil baja cold-formed tipe C yang disusun berhadapan dan dihubungkan dengan sekrup SDS (Self Drilling Screw). Perkuatan CFRP ditempatkan pada sisi bawah balok. Dalam penelitian ini, terdapat tiga variasi balok yang dianalisis, yaitu balok tanpa CFRP, balok dengan CFRP sepanjang 350 mm di tengah bentang, dan balok dengan CFRP sepanjang 950 mm di sepanjang bentang. Seluruh analisis dilakukan secara numerik menggunakan perangkat lunak ABAQUS. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi panjang CFRP berpengaruh terhadap kapasitas beban, lendutan, dan kapasitas lentur balok. Semakin panjang CFRP yang digunakan, semakin besar kapasitas beban dan kapasitas lentur yang dapat ditahan oleh balok. Selain itu, pada beban yang sama, balok dengan CFRP yang lebih panjang menunjukkan nilai lendutan yang lebih kecil dibandingkan variasi lainnya
Pengaruh Penambahan Serat Selulosa Filter Rokok terhadap Kinerja Marshall Campuran AC-WC Asb
Perkerasan jalan memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, ketergantungan terhadap aspal impor menjadi tantangan tersendiri, padahal Indonesia memiliki potensi besar dari Aspal Buton (Asbuton) yang belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, limbah filter rokok mengandung serat selulosa asetat yang sulit terurai namun berpotensi sebagai bahan tambah dalam campuran aspal. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan serat selulosa filter rokok terhadap kinerja Marshall campuran AC-WC Asb. Dilakukan pembuatan benda uji dengan variasi penambahan serat sebesar 4%, 5%, dan 6% dari berat total aspal yang digunakan. Data pengujian yang didapat lalu diuji secara statistik untuk memastikan signifikansi pengaruh serat selulosa terhadap kinerja Marshall. Penelitian ini menghasilkan nilai KAO sebesar 6,5% dan nilai variasi penambahan variasi kadar serat selulosa filter rokok 4% 5%, dan 6% terhadap berat total aspal mampu meningkatkan nilai Stabilitas, VIM, VMA, dan MQ serta menurunkan nilai flow dan VFB. Nilai maksimum penambahan serat selulosa filter rokok adalah 6% yang memenuhi spesifikasi dengan menghasilkan peningkatan VIM sebesar 2%, peningkatan VMA sebesar 0,5%, penurunan VFB sebesar 0,7%, peningkatan stabilitas sebesar 25%, penurunan kelelehan sebesar 19%, dan peningkatan MQ sebesar 54% dari campuran tanpa penambahan serat. Hasil uji statistik menunjukkan penambahan serat selulosa filter rokok terhadap campuran AC-WC Asb memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja Marshall
Pengaruh Penambahan Serat Alginate Terhadap Kinerja Marshall Campuran Laston Lapis Aus Asbuton (Ac-Wc Asb)
Perkerasan jalan yang berkualitas sangat penting untuk mendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas perkerasan jalan adalah dengan menggunakan aspal Buton, yang masih banyak diimpor meskipun Indonesia memiliki cadangan yang melimpah. Untuk meningkatkan kualitas campuran aspal, penelitian ini mengeksplorasi penggunaan serat Alginate, bahan alami yang diperoleh dari rumput laut cokelat, yang diperkaya dengan minyak bunga matahari sebagai bahan peremaja untuk aspal. Penambahan serat Alginate bertujuan untuk meningkatkan kemampuan self-healing (perbaikan diri) aspal yang telah rusak, memperpanjang umur jalan tanpa perlu penambahan lapisan perkerasan baru.
Penelitian ini melakukan eksperimen dengan pembuatan serat Alginate menggunakan alat microfluidic device dengan variasi kadar serat (1%, 3%, 5%, dan 7%) dan panjang serat (1 cm dan 2 cm), yang kemudian diuji menggunakan metode Marshall untuk mengukur pengaruhnya terhadap stabilitas dan aliran campuran aspal.
Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan serat Alginate dengan kadar 7% sepanjang 1 cm memberikan peningkatan VIM, VMA, stabilitas dan nilai Marshall Quotient (MQ) sebesar 0,28%, 0,24%, 17,38% dan 53,4%, sementara penurunan nilai Flow dan VFA menunjukkan perbaikan kualitas campuran aspal. Penambahan serat Alginate dengan kadar 1% sepanjang 2 cm menyebabkan peningkatan pada nilai VIM, VMA, stabilitas dan MQ masing-masing sebesar 0,1%, 0,09%, 0,90% dan 17,93%, sementara penurunan nilai VFA dan Flow menunjukkan perbaikan kualitas campuran aspal. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa penambahan serat Alginate dengan kadar yang optimal memenuhi standar karakteristik Marshall yang telah ditentukan