Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
1439 research outputs found
Sort by
Pengaruh Penambahan Silica Fume dan Fly Ash terhadap Kuat Tekan dan Modulus Elastisitas Mortar menggunakan Recycled Fine Aggregate (RFA)
Pertumbuhan pesat sektor infrastruktur di Indonesia telah mendorong tingginya permintaan material konstruksi, memicu permasalahan lingkungan berupa peningkatan limbah dan eksploitasi sumber daya alam. Pemanfaatan agregat halus daur ulang (RFA) dari limbah beton menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan. Namun, karakteristik RFA yang kurang ideal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sejauh mana penambahan silica fume (SF) dan fly ash (FA) dapat memperbaiki performa mekanik mortar berbasis RFA.Metode penelitian melibatkan pengujian kuat tekan dan modulus elastisitas pada mortar berukuran 5x5x5 cm yang diuji pada umur 28 hari. Variasi yang digunakan meliputi penambahan silica fume dengan kadar 7%, 10%, dan 15%, 15% fly ash, serta kombinasi silica fume dan fly ash ((7%, 10%, 15% SF) + 15% FA) terhadap berat semen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan silica fume mampu meningkatkan kuat tekan dan modulus elastisitas mortar RFA, dengan nilai optimum pada kadar 10%. Pengujian juga menunjukkan bahwa kombinasi penambahan 7% silica fume dan 15% fly ash mampu meningkatkan kuat tekan dan modulus elastisitas pada mortar berbasis RFA, mendekati kinerja mortar agregat alami tanpa bahan tambahan. Peningkatan ini berkaitan dengan reaksi pozzolanik yang membentuk C-S-H tambahan dan struktur mikro yang lebih rapat, sehingga meningkatkan kekuatan dan kekakuan. Meskipun demikian, kombinasi dengan kadar silica fume yang lebih tinggi bersama fly ash justru cenderung menurunkan kekuatan dan kekakuan mortar, karena penggantian semen yang berlebihan dapat membatasi pembentukan C-S-H.
Kata kunci: agregat halus daur ulang, silica fume, fly ash, kuat tekan, modulus elastisitas, morta
Analisis Tingkat Pelayanan Lalu Lintas Flyover Aloha, Sidoarjo
Jalan Aloha di Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu simpul lalu lintas penting yang menghubungkan Sidoarjo dengan Surabaya serta akses utama menuju Bandara Internasional Juanda. Kemacetan kerap terjadi akibat tingginya volume kendaraan, terutama pada jam sibuk. Untuk mengatasi permasalahan ini, dibangunlah Flyover Aloha. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja lalu lintas sebelum dan sesudah pembangunan flyover menggunakan pendekatan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023. Parameter yang dianalisis meliputi waktu tempuh (WT), kecepatan tempuh (VT), dan derajat kejenuhan (Dj). Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan dalam kinerja lalu lintas setelah flyover beroperasi, dengan nilai Dj tertinggi menurun dari 1,192 menjadi 0,768 dan WT menurun dari 64,764 detik menjadi 28,373 detik. Flyover terbukti efektif meningkatkan kelancaran dan efisiensi lalu lintas di ruas tersebut
Analisis Perbandingan Konfigurasi Jembatan Model pada Rangka Baja Tipe Warren Truss dengan Konfigurasi Rangka Jembatan Gabungan Tipe Warren Truss dan K-Truss
Sebagai komponen krusial dalam infrastruktur transportasi, jembatan memegang
peran sentral dalam memfasilitasi mobilitas dan aktivitas ekonomi. Oleh karena itu
efisiensi desain jembatan, khususnya dalam konfigurasi rangka, menjadi faktor krusial
dalam mengoptimalkan kekuatan struktur serta menekan biaya dan dampak lingkungan.
Penelitian ini membandingkan kinerja struktural jembatan rangka baja tipe Warren Truss
dengan konfigurasi rangka gabungan Warren Truss–K-Truss, berfokus pada lendutan
maksimum, efisiensi Demand Capacity Ratio (DCR), dan total berat material. Model
jembatan skala dengan bentang 600 cm yang dianalisis menggunakan SAP2000, dengan
pembebanan berupa berat sendiri dan beban terpusat plat baja 400 kg di tengah bentang.
Hasil analisis menunjukkan konfigurasi gabungan mengalami lendutan maksimum
0,73040 mm, lebih kecil 16,82% dari Warren Truss murni 0,87809 mm. Dari segi DCR,
konfigurasi gabungan lebih efisien pada elemen tarik (2,07%) dibandingkan Warren
Truss (2,97%), namun sedikit kurang efisien pada elemen tekan 33,57% untuk
konfigurasi gabungan dan 32,08% konfigurasi Warren Truss. Pada segi berat material,
konfigurasi Warren Truss murni lebih ringan (144,83 kg) dibandingkan konfigurasi
gabungan (165,62 kg). Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa konfigurasi gabungan
menawarkan performa lendutan yang superior dan efisiensi DCR tarik yang lebih baik,
namun dengan konsekuensi berat material yang lebih tinggi. Pemilihan desain harus
mempertimbangkan prioritas antara minimisasi lendutan dan efisiensi berat. Penelitian
ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan desain jembatan yang
optimal, khususnya dalam konteks kompetisi akademik dan aplikasi praktis di lapangan
Efektivitas Geosynthetic Encased-Recycled Concrete Column (GERCC) sebagai Vertical Drain dalam Perbaikan Tanah Lunak
Tanah lunak sering menjadi tantangan dalam pembangunan infrastruktur karena membutuhkan waktu konsolidasi yang lama. Untuk mempercepat proses konsolidasi, metode perbaikan tanah seperti vertical drain banyak digunakan. Sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, Geosynthetic-Encased Recycled Concrete Column (GERCC) hadir sebagai inovasi material ramah lingkungan dengan memanfaatkan bongkaran beton daur ulang yang dibungkus geosintetik dan berfungsi sebagai vertical drain. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas GERCC dalam mempercepat konsolidasi tanah lunak menggunakan pendekatan numerik, berbasis finite element method (FEM). Variasi yang dikaji meliputi jarak antar kolom (2D, 2,5D, 3D, dan 4D, dengan D adalah diameter GERCC) serta diameter kolom (0,6 m, 1 m, 1,2 m, dan 1,5 m), dengan mempertimbangkan pengaruh smear zone sebagai faktor yang memengaruhi permeabilitas radial. Hasil simulasi menunjukkan bahwa mampu meningkatkan efisiensi konsolidasi secara signifikan. Konfigurasi paling optimal diperoleh pada jarak antar kolom sebesar 2D, yang mampu mereduksi waktu konsolidasi hingga kurang lebih 85% dibandingkan kondisi tanpa perbaikan.
Kata kunci: konsolidasi, vertical drain, Geosynthetic Encased-Recycled Concrete Column (GERCC), Finite Element Method (FEM), smear zon
Pertumbuhan Kekuatan Awal Beton dengan Variasi Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag dan Merek Semen
Pesatnya kebutuhan beton dengan kuat tekan awal tinggi untuk mempercepat konstruksi mendorong penggunaan material alternatif. Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) digunakan sebagai substitusi semen Portland untuk mengurangi eksploitasi alam, namun standarisasi dan komposisi optimalnya di Indonesia masih bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi persentase GGBFS dan merek semen terhadap kuat tekan awal beton. GGBFS dari PT Krakatau Semen Indonesia digunakan pada persentase 0%, 20%, dan 50% dari total berat semen, dikombinasikan dengan semen Gresik, Padang, dan Merdeka. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 1, 3, dan 7 hari dengan FAS 0,35. Hasil menunjukkan bahwa GGBFS cenderung menurunkan kuat tekan awal pada umur 1 hingga 3 hari karena reaksi hidrolis yang lebih lambat. Namun, pada umur 7 hari, GGBFS mulai meningkatkan kekuatan, terutama pada persentase 0% hingga 20%, tergantung merek semen. Semen Padang memberikan kuat tekan awal tertinggi pada umur 1 dan 3 hari, sedangkan semen Merdeka menunjukkan peningkatan signifikan pada umur 7 hari. Disimpulkan bahwa pemilihan persentase GGBFS dan merek semen sangat krusial untuk mencapai kuat tekan awal beton yang optimal
Pengaruh Jumlah Lapisan Geopolimer sebagai Coating Agregat Kasar Daur Ulang terhadap Kuat Tekan dan Modulus Elastisitas Beton
Penggunaan agregat kasar daur ulang (RCA) dari limbah beton menjadi alternatif berkelanjutan untuk menggantikan agregat alami. Namun, tingginya porositas dan keberadaan mortar lama yang menempel menurunkan kualitas RCA. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekurangan tersebut adalah dengan pelapisan menggunakan geopolimer berbahan dasar fly ash. Geopolimer ini dibuat dari campuran larutan NaOH 12 M dan Na₂SiO₃ dengan rasio 1:2,5 serta solid-liquid ratio sebesar 2. Pelapisan dilakukan dengan metode perendaman selama lima menit, dengan variasi jumlah lapisan yaitu satu, dua, dan tiga. Penambahan jumlah lapisan geopolimer terbukti menurunkan nilai penyerapan RCA dari 6,24% (RA) menjadi 3,64% (RAC 3), serta meningkatkan berat isi dari 1,36 g/cm³ (RA) menjadi 1,40 g/cm³ (RAC 3). Kuat tekan tertinggi dicapai pada beton RAC2 sebesar 31,19 MPa, sementara pada RAC3 terjadi penurunan. Nilai modulus elastisitas beton RAC 2 juga tercatat paling tinggi di antara semua variasi RCA, yaitu sebesar 30.282,45 MPa, namun mengalami penurunan pada RAC3 menjadi 27.964,63 MPa. Berdasarkan hasil pengamatan SEM dan EDX, penurunan ini dapat disebabkan oleh retakan pada lapisan geopolimer serta reaksi geopolimerisasi yang tidak berlangsung optimal akibat overcoating. Dengan demikian, semakin banyak jumlah lapisan geopolimer dapat meningkatkan kualitas agregat daur ulang, namun pelapisan sebanyak dua kali memberikan hasil yang paling optimal terhadap peningkatan kuat tekan dan modulus elastisitas beton.
Kata kunci : Recycled Coarse Agreggate (RCA), Coating Geopolimer, Kuat Tekan Beton, Modulus Elastisitas Beton
Analisis Risiko K3 pada Proyek Menggunakan Metode FMEA dan BIM (Studi Kasus: Jembatan 9 STA 20+539 Tol Akses Patimban Paket 1)
Proyek konstruksi jembatan memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat berdampak serius terhadap keberhasilan proyek. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan risiko K3 pada pekerjaan konstruksi Jembatan 9 STA 20+539 Tol Akses Patimban menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) serta mengintegrasikan hasilnya ke dalam Building Information Modeling (BIM) guna menghasilkan safety schedule yang mendukung perencanaan keselamatan. Hasil analisis FMEA menunjukkan 26 risiko K3 yang diklasifikasikan menjadi 6 risiko tinggi, 14 risiko sedang, dan 6 risiko rendah. Risiko tertinggi adalah terjepit saat proses pemancangan dengan nilai RPN sebesar 57,5. Hasil tersebut diintegrasikan ke dalam model BIM 3D menggunakan Revit dan plugin Dynamo untuk menghasilkan safety schedule otomatis, yang kemudian divisualisasikan dalam simulasi 4D pada Navisworks. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi FMEA dan BIM dapat menjadi pendekatan efektif dalam merencanakan dan mengelola risiko K3 secara visual dan sistematis pada proyek konstruksi jembatan.
Kata kunci : Building Information Modeling, Failure Mode and Effect Analysis, Konstruksi Jembatan, Risiko K3, Safety Schedul
Studi Analisis Perilaku Kolom Panjang Komposit Berongga dengan Baja Cold Formed Tipe C Ganda
Seiring dengan perkembangan zaman berbagai permintaan untuk kebutuhan infrastruktur juga meningkat karena kebutuhan masyarakat. Sektor konstruksi juga mengalami perkembangan dengan adanya material baja cold formed. Baja tersebut memiliki keunggulan seperti daya tahan tinggi, ringan, dan ekonomis. Penggunaannya dapat dilihat pada struktur balok maupun kolom. Analisis dilakukan pada kolom yang menggunakan baja cold formed tipe C 80x30x90x0.75 yang dibuat menyatu dengan sambungan sekrup SDS (Self Drilling Screw) berdimensi 12x20 mm dengan variasi panjang 1000 mm, 1200 mm, dan 1400 mm. Selanjutnya dilakukan komposit dengan beton dimana bagian tengah kolom akan dibuat berongga. Pembebanan dilakukan dengan pembebanan merata secara bertahap sampai benda uji tidak mampu menahan beban. Sedangkan tumpuan yang digunakan adalah tumpuan jepit. Pemodelan dilakukan menggunakan software ABAQUS. Hasil analisis menunjukkan bahwa kapasitas beban maksimum terbesar terdapat pada variasi benda uji 1000 mm. Pada material baja menunjukkan sudah mencapai tegangan dan regangan maksimum sedangkan beton belum mencapai tegangan maksimum tetapi, regangannya sudah mencapai titik maksimum. Perilaku kegagalan pada semua variasi benda uji disebabkan tekuk yang disebabkan baja cold formed yang terdistribusi ke beton.
Kata Kunci: Kolom Panjang Komposit Berongga, Baja Cold-Formed, Software ABAQUS, Tegangan-Regangan, Kapasitas Beban Aksial, Perilaku Kegagalan Kolom
Pengaruh Penggunaan Recyled Coarse Aggregate (RCA) yang telah Diperbaiki oleh Bakteri Micrococcus Luteus dengan Penambahan Kadar Glukosa terhadap Permeabilitas Beton
Meningkatnya industri konstruksi menyebabkan peningkatan kebutuhan beton serta limbah pembongkaran dan konstruksi. Diperlukan pemanfaatan kembali limbah konstruksi dan pembongkaran berupa beton untuk didaur ulang menjadi recyled coarse aggregate (RCA). Diperlukan perbaikan terhadap RCA karena kualitas RCA lebih rendah dibandingkan agregat kasar alami dikarenakan terdapat sisa mortar yang menempel pada permukaan agregat. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan dengan menggunakan metode biodeposisi. Penelitian ini memanfaatkan bakteri ureolitik untuk menghasilkan enzim urease yang akan menghidrolisis urea dan mengendapkan CaCO3. Dengan menambahkan glukosa sebagai sumber karbon bakteri dalam menghasilkan eksopolisakarida. Dilakukan uji karateristik pada RCA seperti sebelum dan sesudah dilakukan perendaman dengan bakteri micrococcus luteus dengan penambahan kadar glukosa 0,1%; 0,2%; dan 0,3% selama 14 hari. Kemudian dilakukan pembuatan benda uji beton kubus dengan ukuran 15x15x15 cm. Setelah benda uji berusia 28 hari dilakukan pengujian permeabilitas beton. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa perbaikan menggunakan metode biodeposisi dengan penambahan glukosa terbukti mampu meningkatkan mutu RCA. Meningkatnya mutu RCA menyebabkan penurunan nilai permeabilitas beton
Analisis Perbandingan Konfigurasi Rangka Jembatan Baja Tipe Warren Truss Dengan Konfigurasi Rangka Jembatan Gabungan Tipe Warren Dan K-truss
Jembatan merupakan struktur vital dalam infrastruktur transportasi yang berperan penting dalam mendukung mobilitas dan aktivitas ekonomi. Efisiensi desain jembatan, khususnya dalam konfigurasi rangka, menjadi faktor krusial dalam mengoptimalkan kekuatan struktur serta menekan biaya dan dampak lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kinerja struktur antara jembatan rangka baja tipe Warren Truss dengan konfigurasi rangka gabungan Warren Truss–K-Truss. Fokus utama penelitian ini adalah pada aspek lendutan, efisiensi struktur berdasarkan nilai Demand Capacity Ratio (DCR), dan kebutuhan total berat material baja. Model struktur dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak SAP2000 dan mengacu pada SNI 1725:2016, dengan beban yang terdiri dari berat sendiri dan beban lajur “D”. Hasil analisis menunjukkan bahwa konfigurasi gabungan Warren Truss–K-Truss menghasilkan lendutan yang lebih kecil (4,00 mm) dibandingkan konfigurasi Warren Truss konvensional (4,19 mm). Selain itu, konfigurasi gabungan menunjukkan nilai DCR rata-rata yang lebih efisien untuk elemen tarik (9%) meskipun lebih tinggi pada elemen tekan (21,5%) dibandingkan Warren Truss (12% tarik dan 18% tekan). Dari segi material, konfigurasi gabungan berbobot total 241,43 ton, lebih ringan dibandingkan Warren Truss yang berbobot 285,99 ton. Temuan ini menunjukkan bahwa konfigurasi gabungan tidak hanya memberikan performa struktural yang baik, tetapi juga lebih efisien dalam penggunaan material. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan desain jembatan yang optimal, khususnya dalam konteks kompetisi akademik dan aplikasi praktis di lapangan.