Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
1439 research outputs found
Sort by
Pertumbuhan Kekuatan Awal Beton dengan Variasi Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag dan Accelerator
Semen Portland adalah material yang sangat penting pada campuran beton, namun penggunaan semen Portland yang tinggi dalam waktu yang lama dapat membawa dampak yang buruk terhadap lingkungan. GGBFS dapat dijadikan salah satu alternatif solusi untuk mengurangi permasalahan lingkungan akibat penggunaan semen Portland. Pada penelitian ini dilakukan pembahasan mengenai pengaruh persentase GGBFS dan accelerator pada umur beton yang berbeda terhadap kekuatan tekan awal beton. GGBFS yang digunakan yaitu dengan persentase 0%, 20%, dan 50% dari total berat semen. FAS yang digunakan sebesar 0,35. Pengujian dilakukan pada umur 1, 3, dan 7 hari. Penelitian ini menggunakan benda uji silinder dengan ukuran 15 x 30 cm. Bahan tambah yang digunakan adalah accelerator dengan kadar 1,4% berjenis Additon HE. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa persentase GGBFS memberikan pengaruh terhadap kekuatan tekan awal beton. Kekuatan beton mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya persentase GGBFS. Pada umur 7 hari beton mencapai kekuatan awal tertinggi pada persentase GGBFS 20% yaitu sebesar 29,06 MPa. Penambahan bahan tambah accelerator memberikan pengaruh terhadap kekuatan awal beton. Berdasarkan hasil pengujian pada umur 7 hari, beton dengan accelerator 1,4% memiliki nilai kekuatan awal yang lebih tinggi dibandingkan dengan accelerator 0%. Secara umum pada persentase GGBFS 50%, beton mengalami penurunan kekuatan dikarenakan kandungan GGBFS yang terlalu tinggi dapat memperlambat kekuatan tekan awal beton. Dengan adanya penambahan accelerator, pada persentase GGBFS 50% nilai kekuatan beton dapat meningkat. Persentase optimum untuk kekuatan awal beton terhadap variasi persentase GGBFS dan accelerator terdapat pada umur 7 hari yaitu dengan persentase 25% dan nilai kekuatan sebesar 32,58 MPa
Analisis Momen-Kurvatur Balok Bangunan Berdasarkan Pengaruh SRPM Menggunakan SNI 1726:2019
Keberadaan Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik merupakan salah satu penyebab utama tingginya potensi gempa bumi di negara ini. Menjadi daerah yang rawan gempa tentunya berdampak terhadap infrastruktur yang menyebabkan kerugian material dan korban jiwa. Konsep dasar konstruksi tahan gempa merupakan salah satu peranan penting dalam mencegah kerugian yang disebabkan oleh gempa bumi. Sistem Rangka Pemikul Momen (SRPM) merupakan salah satu bentuk konstruksi yang mampu menahan beban seismik. Dalam penelitian ini, penulis ingin melakukan analisis terhadap perubahan jenis SRPM apakah perubahan jenis SRPM dapat mempengaruhi daktilitas elemen struktur terkhususnya pada elemen balok dengan menggunakan bantuan software SAP 2000. Kurva hubungan antara momen dengan kurvatur dapat digunakan dalam menentukan daktilitas suatu elemen struktur khususnya balok. Pada analisis momen-kurvautr balok ini, akan diketahui bagaimana perubahan kelengkungan balok terhadap momen pada kondisi sebelum retak (crack), keadaan leleh (yield), dan keadaan ultimit (ultimate). Pada penelitian ini digunakan bangunan eksisting yang telah dimodifikasi dan dianalisis Kembali menggunakan SRPMM dan SRPMK berdasarkan acuan pedoman SNI 1726:2019. Hasil dari penelitian ini terdapat perbedaan jumlah tulangan yang digunakan yang menyebabkan perbedaan rasio tulangan antara balok yang menggunakan SRPMK dengan balok yang menggunakan SRPMM. Salah satu balok yang dijadikan objek analisis ini yakni balok B4 dari bangunan. Berdasarkan grafik momen-kurvatur didapatkan bahwa daktilitas kurvatur yang terdapat di balok yang menggunakan SRPMK lebih besar dibandingkan dengan balok yang menggunakan SRPMM.
Kata Kunci : SNI 1726:2019, Balok, Tulangan, Momen-Kurvatur, Daktilitas Kurvatur
Pengaruh Jumlah Lapisan Geopolimer sebagai Coating Agregat Kasar Daur Ulang Terhadap Kuat Tekan dan Cepat Rambat Beton dengan Menggunakan Metode Non-Destructive Test
Meningkatnya kebutuhan agregat kasar menyebabkan eksploitasi sumber daya alam, sehingga Recycled Coarse Aggregate (RCA) menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan, meskipun memiliki porositas dan daya serap tinggi serta kekuatan mekanik rendah. Penelitian ini menggunakan pelapisan (coating) RCA dengan geopolimer berbasis fly ash tipe C menggunakan larutan NaOH 12M dan Na₂SiO₃ (rasio 1:2,5) dan solid-liquid ratio 2:1, dengan variasi jumlah lapisan 1, 2, dan 3 serta perendaman selama 5 menit tiap lapisan. Hasil menunjukkan bahwa semakin banyak lapisan coating, mutu agregat semakin baik, ditunjukkan oleh penurunan penyerapan air dari 6,24% (RA) menjadi 5,38% (RAC1), 4,36% (RAC2), dan 3,65% (RAC3), serta peningkatan berat isi dari 1,36 gr/cc menjadi 1,37, 1,38, dan 1,40 gr/cc. Kuat tekan beton meningkat dari 18,08 MPa (RA) menjadi 23,47 MPa (RAC1) dan 25,87 MPa (RAC2), namun menurun menjadi 22,50 MPa (RAC3). Nilai cepat rambat gelombang (UPV) juga meningkat dari 3560,6 m/s (RA) menjadi 3618,8 m/s (RAC1) dan 3853,9 m/s (RAC2), lalu menurun menjadi 3756,1 m/s (RAC3). Penurunan performa pada tiga lapisan disebabkan oleh pelapisan berlebih yang membentuk zona lemah di antara agregat dan mortar, sehingga menurunkan efektivitas ikatan. Dengan demikian, dua lapisan coating geopolimer direkomendasikan sebagai jumlah optimal untuk meningkatkan kualitas RCA dan kinerja beton secara menyeluruh. Kata kunci : Recycled Coarse Aggregate (RCA), geopolymer coating, Non Destructive Test, Sonic Rebound (SONREB
PENGARUH PENAMBAHAN SILICA FUME DAN FLY ASH TERHADAP KUAT LENTUR MORTAR MENGGUNAKAN RECYCLED FINE AGGREGATE (RFA)
ABSTRAK
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami perkembangan infrastruktur. Proses pelaksanaan pembangunan infrastruktur material yang sering digunakan ialah beton dan mortar karena memiliki daya tahan yang mendukung untuk infrastuktur. Penggunaan material berlebihan akan menyebabkan limbah konstruksi yang menyebakan permasalahn lingkungan yang serius. Penggunaan kembali agregat daur ulang bisa menjadi solusi dalam permasalahan ini. Agregat daur ulang didapatkan dari peoses penghacuran beton, yang memiliki kualitas kekuatan dibawah agregat alami. Oleh karena itu, mortar yang dihasilkan akan mengalami penurunan kekuatan, sehingga perlu ditambahkan bahan seperti silica fume dan fly ash untuk meningkatkan kuat lentur pada mortar. Penggunaan silica fume dengan variasi 7%, 10%, dan 15% dan fly ash dengan variasi 15% dengan masing-masing terhadap berat semen. Pada penilitian dilakukan pengujian kuat lentur mortar untuk melihat beban lentur sebelum mortar mengalami kerusakan atau keretakan. Kuat lentur mortar akan di uji dengan dengan meletakan balok mortar di dua tumpuan dan pembebanan dilakukan pada titik tengah balok mortar secara tegak lurus terhadap permukaan balok dan akan diberikan pembebanan hingga mortar mengalami patah. Mortar dengan variasi RFA-SF7-FA15 atau dengan tambahan silica fume sebesar 7 % dan fly ash sebesar 15% menggunakan agregat halus daur ulang (RFA) memiliki nilai yang optimum dibanding variasi lainnya. Kuat lentur pada mortar ini memiliki pengaruh dari tambahan silica fume yang memiliki kandungan SiO2 dan fly ash memiliki kandungan CaO sehingga memberikan rekasi pada hidrasi semen yaitu CaOH membentuk kasium silikat hidrat (C-S-H). Senyawa ini akan menghasilkan mortar dengan mikrostruktur yang padat, sehingga meningkatkan kekuatan lentur pada mortar
Pengaruh Penggunaan Agregat Kasar Expanded Polystrene dengan Coating Pasta Semen terhadap Kuat Lentur Balok Beton Bertulang
Pertumbuhan infrastruktur yang cepat meningkatkan kebutuhan beton, yang berujung pada eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Untuk meminimalkan dampak lingkungan, limbah expanded polystyrene (EPS) dipertimbangkan sebagai pengganti agregat kasar dalam pembuatan beton ringan. Di perairan Indonesia, sebagian besar limbah terdiri dari EPS yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan. Penggunaan EPS dalam beton dapat mengurangi berat beton dan limbah lingkungan, namun cenderung menurunkan kekuatan beton. Penelitian ini mengevaluasi penggunaan EPS yang dilapisi pasta semen untuk mengetahui seberapa signifikan EPS yang dilapisi pasta semen akan memengaruhi kekuatan beton. Terdapat tiga variasi benda uji, yaitu beton dengan 25% EPS, 75% EPS dan beton kontrol yang menggunakan agregat kasar alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beton dengan EPS yang dilapisi pasta semen memiliki kekuatan lentur yang lebih rendah dibandingkan beton dengan agregat alami. Pengujian kuat tekan dilakukan menggunakan compression testing machine dan extensometer sebagai metode pengujian.
Kata Kunci: Expanded polystyrene, Kuat Lentur, Beton ringa
ANALISIS PENGARUH PENERAPAN LAST PLANNER SYSTEM TERHADAP PERCEPATAN PROYEK KONSTRUKSI MENGGUNAKAN MICROSOFT PROJECT (STUDI KASUS: PEKERJAAN ELEVATED FREEWAY PROYEK TOL SEMARANG – DEMAK 1A PT. HUTAMA KARYA (PERSERO))
Keterlambatan proyek konstruksi, seperti yang terjadi di pekerjaan Elevated Freeway Proyek Tol Semarang-Demak 1A, menjadi masalah umum dalam industri konstruksi. Untuk itu, melalui penelitian ini akan dievaluasi pengaruh penerapan Last Planner System (LPS) terhadap percepatan pelaksanaan pekerjaan Elevated Freeway pada Proyek Tol Semarang–Demak Paket 1A PT. Hutama Karya (Persero). Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan data primer dari program Magang MBKM, meliputi dokumen monitoring progres harian, formulir Weekly Work Plan Monitoring, Constraint Analysis Form, dan Action Plan. Analisis dilakukan menggunakan Microsoft Project untuk mengevaluasi perubahan total durasi pekerjaan dan kurva S baseline untuk mengevaluasi perubahan deviasi kurva S selama sebelas minggu sebelum dan empat minggu sesudah pelaksanaan dua kali Pull Planning Meeting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada fase Pra-LPS proyek mengalami keterlambatan dengan rata-rata deviasi kurva-S sebesar -2,69% dan perpanjangan durasi dari 322 hari menjadi 327 hari. Setelah implementasi LPS melalui Pull Planning Meeting, terjadi perbaikan signifikan dengan deviasi kurva-S meningkat dari -2,56% pada pertemuan pertama menjadi +0,77% pada pertemuan kedua, serta berhasil mengembalikan total durasi dari 361 hari menjadi 322 hari sesuai rencana awal. Penelitian membuktikan bahwa penerapan LPS efektif dalam memperbaiki koordinasi antar pihak, meningkatkan ketercapaian rencana mingguan, dan menciptakan alur kerja yang dapat diandalkan. Metode LPS dapat dinyatakan berhasil mendukung percepatan dan pengendalian proyek konstruksi dengan kompleksitas tinggi.
Kata kunci: Last Planner System, Elevated Freeway, Deviasi Kurva-S, Total Durasi Proyek, Percepatan Proyek Konstruks
Analisis Pengaruh Penerapan Last Planner System (LPS) terhadap Peningkatan Manajemen Waktu pada Proyek Menggunakan Microsoft Project (Studi Kasus: Pekerjaan Rekonstruksi Jembatan Kaligawe Proyek Tol Semarang - Demak Paket 1A PT Hutama Karya (Persero))
Keterlambatan merupakan masalah yang kerap kali terjadi pada proyek infrastruktur di Indonesia. Salah satu faktor penyebab keterlmabatan adalah lemahnya penerapan fungsi manajemen seperti perencaan dan pengendalian. Last Planner System (LPS) sebagai salah satu metode dari Lean Construction hadir sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan manajemen waktu dan kinerja proyek. Penelitian ini bertujuan untyk menganalisis pengaruh penerapan LPS terhadap peningkatan manajemen waktu pada pekerjaan rekonstruksi jembatan kaligawe, Proyek Tol Semarang-Demak Paket 1A PT Hutama Karya Persero. Adapun metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pembuatan kurva S berdasarkan action plan sebelum dan sesudah LPS yang menggunakan harga satuan dan biaya sebagai bobot pekerjaan. Selain itu tracking progress dilakukan secara mingguan menggunakan Microsoft Project. LPS diterapkan sebanyak 2 kali yaitu tanggal 5 Oktober 2023 dan 26 November 2023. Hasil Penelitian menujukkan keterlambatan sebelum penerapan LPS yaitu pada pekerjaan pembesian pier yaitu prediksi penambahan durasi sebanyak 3 hari berdasarkan MS Project, sedangkan pada kurva S menujukkan deviasi +0.02%. Perbedaan hasil ini disebabkan oleh kurva S yang dibuat hanya berdasarkan bobot sehingga tidak dapat menggambarkan pekerjaan yang berada pada jalur kritis. Sedangkan pada akhir periode LPS 1 terjadi prediksi penambahan durasi 6 hari berdasarkan MS Porject dan deviasi pada kurva S menunjukkan -4.26%. Durasi proyek juga mengalami perubahan rencana dari yang awalnya 108 hari pada Master Schedule menjadi 113 pada LPS 1 dan berhasil diselesaikan pada durasi 109 hari sesuai LPS 2. Deviasi yang terjadi meliputi: baseline september +0.02 %, LPS 1 pada M13 -4.26% dan LPS 2 pada minggu terakhir atau M16 yaitu 0.00%. Penerapan LPS terbukti dapat meningkatkan manajemen waktu proyek dengan kemampuan deteksi keterlambatan dan penyebabnya melalui tracking di MS Project. LPS juga memberikan kontribusi positif dalam pengendalian waktu pelaksanaan proyek konstruksi
Analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi dengan Metode HIRA Terintegarasi BIM pada Proyek Gedung SDN Pasar Baru
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek krusial dalam proyek konstruksi yang memiliki tingkat risiko tinggi terhadap kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko keselamatan kerja menggunakan metode Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) yang terintegrasi dengan Building Information Modeling (BIM), guna memitigasi risiko secara lebih efektif dan terstruktur. Studi dilakukan pada proyek pembangunan Gedung SDN Pasar Baru dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuisioner dan wawancara terhadap para profesional proyek, kemudian dianalisis menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas risiko. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa risiko jatuh dari ketinggian dan cedera akibat kelelahan menjadi risiko dominan dalam pekerjaan struktur. Integrasi hasil analisis ke dalam BIM dilakukan menggunakan perangkat lunak Autodesk Revit dan Dynamo untuk membentuk fitur Safety Schedule, serta divisualisasikan secara 4D menggunakan Autodesk Navisworks. Integrasi ini memungkinkan visualisasi dan manajemen risiko secara real-time, yang meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan dan koordinasi keselamatan kerja. Penelitian ini membuktikan bahwa penggabungan metode HIRA dan teknologi BIM dapat menjadi pendekatan inovatif dalam pengelolaan risiko K3 di proyek konstruksi
Perbandingan Evaluasi Kinerja Seismik Bangunan Beton Bertulang pada Sistem Open Frame dan Infill Frame (Studi Kasus Gedung X Universitas Y)
Indonesia terletak di kawasan rawan gempa akibat pertemuan beberapa lempeng tektonik, sehingga perencanaan bangunan tahan gempa menjadi hal yang sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja seismik antara dua sistem struktur pada gedung beton bertulang, yaitu sistem open frame dan sistem infill frame, dengan studi kasus pada Gedung X di Universitas Y. Analisis kinerja struktur dilakukan dengan menggunakan metode pushover dan model diagonal equivalent strut untuk dinding pengisi, sesuai dengan pedoman FEMA 356. Berdasarkan analisis kinerja struktur pada arah X dan Y, model Infill frame menunjukkan kinerja yang lebih unggul dibandingkan dengan model Open frame dalam menangani beban seismik. Pada arah X, model Infill frame memiliki gaya geser yang lebih tinggi (35.205,93 kN) dan perpindahan yang lebih rendah (236,26 mm) dibandingkan dengan Open frame (29.507,52 kN dan 264,60 mm), yang menunjukkan bahwa Infill frame lebih efisien dalam meredam energi seismik. Pada arah Y, meskipun gaya geser model Infill frame lebih besar (38.613,25 kN), perpindahan yang lebih rendah (204,85 mm) menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam menahan gaya geser. Kedua model berada pada level Damage Control, tetapi model Infill frame lebih efisien dalam mengurangi perpindahan dan merespons beban seismik, dengan periode efektif yang lebih cepat. Secara keseluruhan, Infill frame menunjukkan kinerja yang lebih optimal dalam meredam energi seismik, dibandingkan dengan Open frame, yang menunjukkan kinerja sedikit lebih buruk pada gaya geser dan perpindahan.
Kata Kunci: Kinerja Seismik, Analisis Pushover, Dinding Pengisi, Open frame, Infill frame, Sendi Plasti
Analisis Daktilitas Kurvatur Balok Beton Bertulang dengan Pembebanan Gempa Berdasarkan SNI 1726:2019 (Studi Kasus Gedung X Universitas Y)
Indonesia merupakan negara yang rawan mengalami gempa bumi. Oleh karena itu, bangunan di Indonesia harus dirancang agar tetap kuat saat terjadi gempa. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan memastikan balok pada bangunan memiliki kemampuan untuk berdeformasi secara besar, yang disebut daktilitas. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan daktilitas kurvatur antara balok lama (eksisting) dengan balok yang didesain ulang mengikuti aturan baru, yaitu SNI 1726:2019 dan SNI 2847:2019. Balok yang dianalisis diambil dari Gedung X Universitas Y. Hasil analisis menunjukkan bahwa balok desain ulang memiliki daktilitas kurvatur yang lebih besar. Hal ini berarti balok tersebut lebih aman dan lebih tahan terhadap gempa dibanding balok eksisting.
Kata Kunci: Balok Beton Bertulang, Momen Kurvatur, Daktilitas Kurvatur