Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
1439 research outputs found
Sort by
PENGARUH JUMLAH LAPISAN GEOPOLIMER SEBAGAI COATING AGREGAT KASAR DAUR ULANG TERHADAP KUAT LENTUR BALOK BETON
Peningkatan aktivitas konstruksi di Indonesia menghasilkan volume limbah beton yang signifikan, menimbulkan masalah lingkungan dan peningkatan emisi gas rumah kaca. Pemanfaatan agregat kasar daur ulang (RCA) dari limbah beton menjadi solusi berkelanjutan untuk melestarikan sumber daya alam. Namun, RCA memiliki kualitas lebih rendah dibandingkan agregat alami (NCA), ditandai dengan daya serap air lebih tinggi dan berat jenis lebih rendah karena sisa mortar yang menempel. Untuk mengatasi kelemahan ini, diusulkan metode pelapisan (coating) menggunakan geopolimer berbasis abu terbang (Fly Ash) untuk mengisi pori-pori dan meningkatkan ikatan antara agregat dengan pasta semen. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh jumlah lapisan geopolimer (satu, dua, dan tiga lapisan) pada RCA terhadap kualitas agregat dan dampaknya pada kuat lentur balok beton. Penelitian ini membandingkan kinerja beton menggunakan agregat kasar alami (NCA), RCA tanpa perlakuan, dan RCA dengan variasi jumlah lapisan geopolimer. Hasil penelitian menunjukkan pelapisan geopolimer meningkatkan kualitas fisik RCA, di mana berat isi meningkat dan penyerapan air menurun seiring penambahan lapisan. Beton dengan RCA tanpa perlakuan mengalami penurunan kuat lentur sebesar 19,9% dibandingkan beton NCA (4,06 MPa). Pelapisan satu kali (RAC1) meningkatkan kuat lentur menjadi 3,54 MPa, dan pelapisan dua kali (RAC2) mencapai nilai optimal sebesar 3,63 MPa (naik 11,7% dari RCA). Namun, penambahan lapisan ketiga (RAC3) secara drastis menurunkan kuat lentur menjadi 3,26 MPa. Disimpulkan bahwa aplikasi dua lapis geopolimer adalah perlakuan optimal untuk meningkatkan kuat lentur balok beton yang menggunakan RCA, karena lapisan berlebih justru bersifat merugikan.
Kata kunci: Agregat Kasar Daur Ulang, Geopolimer, Abu Terbang, Coating, Kuat Lentur
Pengaruh Jumlah Lapisan Geopolimer Sebagai Coating Agregat Kasar Daur Ulang Terhadap Penyusutan Kering Beton
Industri konstruksi di Indonesia diproyeksikan mengalami pertumbuhan pesat hingga menempati peringkat ke-4 dunia, sehingga ketersediaan material konstruksi seperti beton menjadi semakin vital. Penggunaan agregat kasar alami secara masif berdampak negatif terhadap lingkungan dan sumber daya alam, sehingga dibutuhkan alternatif seperti agregat kasar daur ulang (RCA). Namun, RCA memiliki kualitas yang lebih rendah akibat sisa mortar dan retakan permukaan, sehingga diperlukan upaya peningkatan kualitas melalui pelapisan geopolimer berbahan dasar fly ash. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh jumlah lapisan geopolimer (1, 2, dan 3 lapisan) terhadap kualitas RCA dan penyusutan kering beton. Parameter yang dianalisis meliputi nilai penyerapan dan berat isi agregat, serta penyusutan kering beton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jumlah lapisan geopolimer dapat menurunkan penyerapan air hingga 42% dan meningkatkan berat isi hingga 2,3% dibandingkan RCA tanpa pelapisan. Selain itu, peningkatan jumlah lapisan juga menurunkan penyusutan kering beton secara, yaitu hingga 26,5% pada tiga lapisan. Dengan demikian, semakin banyak lapisan geopolimer pada RCA maka kualitas agregat daur ulang semakin meningkat dan penyusutan kering beton semakin menurun
Pengaruh Penambahan Fly Ash dan Silica Fume terhadap Permeabilitas Beton Menggunakan Recycled Coarse Aggregate (RCA)
Percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia telah mendorong peningkatan volume limbah konstruksi, terutama limbah beton, yang memiliki potensi besar mencemari lingkungan. Upaya memanfaatkan limbah beton sebagai Recycled Coarse Aggregate (RCA) menawarkan alternatif yang berkelanjutan, namun masih menghadapi kendala teknis berupa meningkatnya permeabilitas beton. Hal ini disebabkan oleh ciri khas RCA, yaitu keberadaan sisa mortar lama pada permukaannya yang memiliki porositas tinggi dan berdampak negatif terhadap durabilitas beton. Dengan mempertimbangkan latar belakang tersebut, fokus utama dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tingkat keberhasilan dari aditif pozzolanik, yakni fly ash dan silica fume, dalam menurunkan permeabilitas beton RCA sehingga kualitasnya dapat mendekati beton konvensional. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan melalui metode eksperimen di laboratorium dengan pengujian utama berupa uji permeabilitas air yang mengacu pada standar DIN 1048 Part 5. Spesimen uji yang digunakan berbentuk kubus berdimensi 15x15x15 cm dan diuji setelah beton berumur lebih dari 28 hari. Variasi campuran yang dibuat meliputi beton kontrol dengan NCA dan beton dengan RCA. Selain itu, dibuat juga variasi dengan penambahan 15% fly ash pada beton NCA dan RCA, serta kombinasi penambahan 15% fly ash dan silica fume dengan kadar 7%, 10%, dan 15% pada beton RCA. Hasil pengujian permeabilitas menunjukkan bahwa penggunaan RCA meningkatkan permeabilitas secara drastis sebesar 150,66% dibandingkan beton NCA, akibat tingginya porositas sisa mortar. Namun, kelemahan ini berhasil diatasi secara efektif melalui penambahan fly ash dan silica fume. Kombinasi optimal dari 15% fly ash dan 15% silica fume terbukti mampu menurunkan permeabilitas beton RCA secara signifikan sebesar 54,83%. Efek sinergis bahan tambah ini berhasil memadatkan matriks beton, sehingga permeabilitas beton RCA hampir setara dengan beton normal (NCA).Kata Kunci : Permeabilitas, Recycled Coarse Aggregate (RCA), Fly ash, Silica fume
Kuat Lentur Beton dengan Variasi Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag dan Merk Semen
Semen merupakan komponen utama dalam pembentukan beton yang berperan penting dalam menentukan mutu akhir. Namun, proses produksi semen menghasilkan emisi CO₂ yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu upaya untuk mengurangi emisi tersebut adalah dengan memanfaatkan Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) sebagai pengganti parsial semen. GGBFS adalah limbah dari proses pengolahan besi yang kaya akan kalsium dan silika. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi persentase GGBFS (0%, 20%, dan 50%) serta jenis merk semen (Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Merdeka) terhadap kuat lentur beton pada umur 28 dan 56 hari. Pengujian dilakukan menggunakan benda uji balok berukuran 60 × 8 × 10 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan GGBFS hingga 20% cenderung meningkatkan kuat lentur beton, terutama pada umur 56 hari. Beton dengan campuran GGBFS dan Semen Gresik menghasilkan kuat lentur yang lebih stabil dan cenderung tinggi dibandingkan merek lainnya. Nilai kuat lentur tertinggi sebesar 7,59 MPa diperoleh pada Semen Merdeka tanpa campuran GGBFS pada umur 56 hari. Secara keseluruhan, Semen Gresik menunjukkan performa kuat lentur yang lebih baik dibandingkan Semen Padang dan Semen Merdeka.
Kata Kunci : Ground Granulated Blast Furnace Slag, Merk Semen, Kuat Lentu
Analisis Biaya Kemacetan dan Polusi Udara akibat Kegiatan Parkir dan PKL di Jalan Zaenal Zakse
Kemacetan lalu lintas dan pencemaran udara merupakan dua permasalahan utama di kawasan perkotaan yang saling berkaitan. Jalan Zaenal Zakse di Kota Malang merupakan salah satu ruas jalan dengan tingkat aktivitas ekonomi tinggi yang menyebabkan terjadinya alih fungsi ruang jalan menjadi area parkir dan lokasi berdagang Pedagang Kaki Lima (PKL).Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya biaya kemacetan dan biaya polusi udara yang ditimbulkan dari aktivitas tersebut. Metode yang digunakan mencangkup pendekatan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) untuk analisis kinerja jalan,metode Direktorat Bina Marga untuk biaya kemacetan, metode PCI untuk perhitungan Biaya Operasional Kendaraan (BOK), serta metode Litman yang disesuaikan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 12 Tahun 2010 untuk menghitung biaya polusi udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas efektif jalan menurun akibat hambatan samping dan penggunaan bahu jalan yang tidak sesuai fungsi. Biaya kemacetan yang dihasilkan mencapai yaitu Rp66.735.863.037.646,40 per tahun, sedangkan biaya polusi udara mencapai Rp164.362.765.828,67 per tahun. Temuan ini menunjukkan perlunya penataan ulang ruang jalan, relokasi parkir dan PKL ke lokasi yang lebih tepat, serta pengawasan lalu lintas yang lebih konsisten untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas lingkungan perkotaan.
Kata Kunci: Kemacetan Lalu Lintas, Polusi Udara, PKL, Parkir, PC
PENENTUAN SKALA PRIORITAS PERBAIKAN JALAN MENGGUNAKAN METODE PAVEMENT CONDITION INDEX (PCI) DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
ABSTRAK
Infrastruktur jalan yang andal merupakan prasyarat fundamental bagi mobilitas penduduk dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Kecamatan Widodaren di Kabupaten Ngawi menghadapi tantangan signifikan terkait kondisi jaringan jalan yang kurang memadai, yang berpotensi menghambat aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di sektor pertanian dan industri kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model penentuan skala prioritas perbaikan jalan yang objektif dan komprehensif dengan mengintegrasikan dua metode: Pavement Condition Index (PCI) untuk penilaian kondisi fisik perkerasan dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk analisis keputusan multikriteria. Empat ruas jalan utama dianalisis: Jalan Raya Ngawi, Jalan Raya Maospati, Jalan Ngrambe, dan Jalan Nglondan. Metode PCI digunakan untuk mengukur tingkat kerusakan secara visual, sementara AHP digunakan untuk membobotkan prioritas berdasarkan tiga kriteria utama: Kondisi Perkerasan Jalan (KPJ), Kinerja Jalan (KJ), dan Tata Guna Lahan (TGL). Data dikumpulkan melalui survei lapangan, studi literatur, dan kuesioner yang diisi oleh para ahli dari instansi terkait. Hasil
analisis PCI menunjukkan bahwa Jalan Ngrambe berada dalam kondisi "Buruk" (PCI 39,56),
sedangkan tiga ruas lainnya dalam kondisi "Sedang". Namun, hasil analisis AHP menunjukkan urutan prioritas perbaikan yang berbeda: Jalan Raya Maospati (skor 0,257) menjadi prioritas utama, diikuti oleh Jalan Raya Ngawi (0,237), Jalan Nglondan (0,107), dan Jalan Ngrambe (0,099). Temuan ini menyoroti bahwa faktor strategis tata guna lahan dan pendekatan pemeliharaan preventif pada aset jalan nasional menjadi pertimbangan yang lebih dominan dari pada tingkat kerusakan fisik semata. Kombinasi metode PCI dan AHP terbukti efektif dalam menyediakan kerangka kerja pengambilan keputusan yang berbasis data dan komprehensif bagi pemerintah daerah.
Kata kunci : Pavement Condition Index (PCI), Analytical Hierarchy Process (AHP), Prioritas Perbaikan Jalan, Manajemen Aset Jalan, Widodaren
Pendekatan Non-destruktif Berbasis UPE (Ultrasonic Pulse Echo) untuk Deteksi Cacat Tulangan pada Beton Pracetak: Analisis Amplitudo dan B-Scan
Kerusakan beton pracetak yang kerap kali terjadi dalam sebuah struktur dapat membuat sebuah struktur mengalami kegagalan fungsinya. Untuk mencegah hal tersebut diperlukan adanya pemeliharaan dan pemeriksaan struktur beton secara rutin. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada beton adalah beban berlebih, kondisi lingkungan, dan kesalahan dalam perencanaan maupun pelaksanaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cacat tulangan pada beton pracetak menggunakan metode Ultrasonic Pulse Echo (UPE). Beton, sebagai material konstruksi utama, menghadapi tantangan berupa cacat seperti retakan, rongga, dan korosi yang dapat menurunkan kekuatannya. Dengan pertumbuhan infrastruktur di Indonesia, kebutuhan untuk evaluasi struktur yang efisien dan ekonomis semakin meningkat.
Penelitian ini menggunakan benda uji beton bertulang yaitu dengan dimensi 35 cm x 45 cm x 22 cm.Terdapat 10 jenis benda uji pada penelitian ini berupa beton dengan selongsong dan tanpa selongsong, dimana terdapat perbedaan dari segi dimensi dan kondisi tiap tulangan seperti tulangan sehat, tulangan berkarat, dan tulangan yang menggunakan akrilik sebagai permodelan rongga. Pengujian menggunakan alat Schmidt Hammer untuk kuat tekan dan PUNDIT PL-200PE untuk UPE. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak PL-Link untuk menentukan hasil yaitu scanning, waveform dan velocity.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa amplitudo pada benda uji dengan selongsong seng dan waterpath lebih rendah dibandingkan dengan tulangan sehat atau korosi. Sementara itu, benda uji tanpa selongsong seng menunjukkan perbedaan amplitudo yang tidak signifikan antara kondisi tulangan sehat dan korosi, sehingga memerlukan analisis lebih lanjut. Pada hasil B-scan, benda uji dengan selongsong seng memberikan visualisasi posisi tulangan yang lebih jelas dan terdefinisi. Sebaliknya, benda uji tanpa selongsong seng menghasilkan spektrum warna yang lebih menyebar, menyebabkan posisi tulangan sulit didefinisikan dan menunjukkan penurunan letak tulangan. Cacat berupa rongga atau korosi pada tulangan sulit diidentifikasi secara visual melalui pemindaian.
Kata Kunci: UPE (Ultrasonic Pulse Echo), Beton Pracetak, Cacat Tulanga
Analisis Momen-Kurvatur Kolom Bangunan Berdasarkan Pengaruh SRPM Menggunakan SNI 1726:2019
Lokasi Indonesia di Cincin Api Pasifik, yang terkenal dengan aktivitas gempa bumi yang intens, sehingga membuat berisiko tinggi terhadap gempa bumi. Gempa bumi yang kuat merusak infrastruktur dan menyebabkan banyak korban jiwa dan kerugian ekonomi. Konstruksi dan desain bangunan tahan gempa merupakan komponen penting dalam mengurangi risiko gempa bumi. Pada konteks struktur bangunan, komponen struktur atas yang paling penting dalam mendukung beban bangunan adalah kolom. Pada penelitian ini penulis ingin melakukan analisis apakah perubahan jenis SRPM dapat mempengaruhi kekuatan dan daktilitas struktur dengan menggunakan bantuan software SAP 2000. Kurva hubungan antara kurvatur dan momen dapat digunakan untuk menentukan nilai daktilitas suatu kolom. Analisis momen-kurvatur kolom akan dilakukan untuk mengetahui bagaimana perubahan sudut regangan kolom terhadap momen pada kondisi sebelum retak (crack), keadaan leleh (yield), dan keadaan ultimit (ultimate). Penelitian ini menggunakan bangunan eksisiting yang dimodifikasi dan dianalisis kembali menggunakan SRPMM dan SRPMK yang berdasarkan acuan SNI 1726:2019. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan tulangan yang digunakan sehingga mengakibatkan perbedaan rasio tulangan antara kolom yang menggunakan SRPMM dengan SRPMK. Terdapat satu kolom yang ditinjau, yaitu kolom K1 dari bangunan. Berdasarkan momen-kurvatur didapatkan bahwa daktilitas kurvatur yang terdapat pada kolom yang menggunakan SRPMK lebih besar dibandingkan dengan yang menggunakan SRPMM.
Kata Kunci: SNI 1726, Kolom, Rasio, Momen-Kurvatur.
Pengaruh Penggunaan Agregat Kasar Expanded Polystyrene Berukuran Satu Sentimeter dengan Coating Pasta Semen terhadap Kuat Tekan dan Modulus Elastisitas Beton dengan Metode Non-Destructive Test
Peningkatan kebutuhan beton akibat pertumbuhan infrastruktur yang pesat memicu eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Untuk mengurangi dampak lingkungan, limbah expanded polystyrene (EPS) dipertimbangkan sebagai pengganti agregat kasar dalam beton ringan. EPS merupakan limbah yang sulit terurai dan mencemari lingkungan, terutama di laut Indonesia. Penggunaan EPS dalam beton dapat mengurangi berat dan limbah lingkungan, tetapi cenderung menurunkan kekuatan beton. Penelitian ini mengevaluasi penggunaan EPS yang dilapisi pasta semen untuk meningkatkan kekuatan beton. Lima jenis beton diuji: 25% EPS, 50% EPS, 75% EPS, 100% EPS, dan beton kontrol dengan agregat kasar alami. Hasil menunjukkan bahwa beton dengan EPS yang dilapisi pasta semen memiliki modulus elastisitas dan kekuatan tekan lebih rendah dibandingkan beton dengan agregat alami. Uji hammer, UPV, kompresi, dan SonReb digunakan sebagai metode pengujian.
Kata Kunci: Expanded polystyrene, Non-destructive test, Beton ringa
Kuat Tekan Beton dengan Variasi Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag dan Merek Semen
Dengan meningkatnya proyek konstruksi, kebutuhan semen juga mengalami peningkatan. Namun, produksi semen menghasilkan sekitar 2,5% emisi CO2 global, yang berdampak negatif ke lingkungan. Salah satu inovasi untuk mengurangi emisi ini adalah dengan mengganti sebagian semen portland dengan GGBFS. Pada penelitian ini dilakukan pembahasan mengenai pengaruh persentase GGBFS dan merek semen yang berbeda berdasarkan umur beton terhadap kuat tekan beton. Penelitian ini mengganti semen secara parsial dengan GGBFS dengan persentase 0%, 20%, dan 50% dari berat semen. Selain itu, merek semen yang digunakan meliputi Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Merdeka. Penelitian ini menggunakan benda uji silinder dengan dimensi 15 cm x 30 cm. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengujian kuat tekan beton pada umur 28 dan 56 hari secara umum naik dan turun sampai dengan persentase GGBFS 20% dari berat semen. Pada umur 56 hari, secara umum kuat tekan beton masih mengalami kenaikan walupun tidak signifikan mengindikasikan bahwa material GGBFS semakin lama umur beton maka semakin naik juga nilai kuathtekan beton. Kekuatan tekan beton terbesar terjadi pada Semen Gresik dengan persentase GGBFS 20% pada umur 56 hari dengan nilai kuatgtekan yaitu 35,03 Mpa. Dapat disimpulkan bahwa nilai kuat tekan beton Semen Gresik lebih bagus dibandingkan dengan Semen Padang dan Semen Merdeka.
Kata kunci : Ground Granulated Blast Furnace Slag, Merek Semen, Kuat Teka