Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
1439 research outputs found
Sort by
Studi Komparatif Lebar Retak Pelat Pracetak Beton Bertulang Satu Arah dengan Variasi Jumlah Lapis Tulangan Tarik
Pada pelat beton bertulang, penggunaan tulangan tarik berada pada sisi bawah pelat secara merata. Namun, saat jarak antara tulangan tidak memenuhi jarak minimum, tulangan dapat disusun menjadi beberapa lapis. Pengaturan ini berpengaruh terhadap perilaku lentur pelat, termasuk terhadap lebar retak yang merupakan faktor pemicu korosi pada tulangan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lebar retak maksimum pelat beton bertulang dengan variasi jumlah lapis tulangan tarik menggunakan secara eksperimental dengan pendekatan teoritis berdasarkan SNI 2847:2002 dan JSCE SSCS 2007. Lebar retak ditinjau secara visual dengan menggunakan alat Dinolite. Hasil penelitian dengan eksperimen menunjukkan semakin banyak jumlah lapis tulangan tarik, lebar retak akan menurun. Nilai lebar retak melalui penelitian di laboratorium secara konsisten menghasilkan nilai yang lebih besar dibanding pendekatan teoritis menggunakan SNI 2847:2002 dan JSCE SSCS 2007.
Kata-kata Kunci: Pelat Beton Bertulang, Jumlah Lapis Tulangan Tarik, Lebar Retak Maksimum, Eksperimen, Pendekatan Teoriti
Pengaruh Variasi Persentase Ground Granulated Blast Furnace Slag dan Superplastiscizer terhadap Kuat Lentur Beton
Indonesia sebagai negara berkembang dengan populasi yang besar dan ekonomi yang dinamis telah mengalami pembangunan infrastruktur yang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Pertumbuhan ekonomi yang signifikan, peningkatan urbanisasi, dan kebutuhan untuk meningkatkan mobilisasi antar wilayah menjadi pendorong utama pembangunan ini. Proyek-proyek infrastruktur berskala besar, seperti pembangunan jalan tol, jalan raya, pelabuhan, bandar udara, dan jaringan kereta api, telah mengubah lanskap ekonomi dan sosial Indonesia. Berkembangnya pembangunan Indonesia artinya meningkatnya juga kebutuhan beton. Hal yang diperhatikan adalah dampak yang dihasilkan oleh produksi salah satu bahan penyusun beton, yaitu semen. Produksi semen menyumbang sekitar 8% dari emisi CO2 global). Salah satu Inovasi yang dapat mengurangi emisi gas CO2 tersebut yakni dengan menggunakan campuran mineral sebagai bahan pengganti sebagian dari semen. Dalam Penelitian ini digunakan Ground Granulated Blast Furnace Slag 0%, 20%, dan 50% sebagai pengganti semen dengan FAS 0,35 dan serta penggunaan superplasticizier mutu beton disesuaikan pada hasil eksperimen dengan adanya variasi umur balok, setiap variasi terdapat 3 benda uji balok..Terdapat benda uji kontrol yakni balok tanpa menggunakan GGBFS dan superplasticizer untuk dibandingkan. Pada umur 28 hari dan 56 hari, dilakukan pengujian lentur pada benda uji balok. Berdasarkan pengujian kuat lentur beton didapatkan bahwa pada umur 28 dan 56 hari secara umum naik dan turun sampai dengan perentase GGBFS dalam komposisi campuran 20% dari berat semen. Untuk benda uji dengan persentase GGBFS 50% secara umum masih mengalami penurunan kuat lentur. Kekuatan lentur beton terkecil secara umum terjadi pada persentase GGBFS 50%.
Kata Kunci : Ground Granulated Blast Furnaced Slag, Supeplasticizer, Kuat Lentur, Umu
Integrasi Manajemen Risiko dengan BIM 4D dan Event Tree Analysis (ETA) pada Konstruksi Jembatan (Studi Kasus: Jembatan 6 STA 19+881 Tol Akses Patimban Paket 1)
Building Information Modeling (BIM) 4D mendukung manajemen risiko konstruksi melalui integrasi model 3D dan jadwal proyek, memungkinkan analisis potensi kecelakaan secara spasial dan temporal. Penelitian ini menganalisis risiko kerja pada Jembatan No.6 STA 19+881 Tol Akses Patimban dengan pendekatan BIM 4D, AHP, dan Event Tree Analysis (ETA). Model 3D dibuat menggunakan Autodesk Revit, prioritas risiko dinilai dengan AHP (8 responden), dan analisis skenario risiko melalui ETA (7 responden). Hasil AHP menunjukkan pekerjaan girder paling berisiko, dengan “tertimpa girder jatuh” sebagai initial event utama. ETA menghasilkan 16 skenario dengan probabilitas: kecelakaan ringan (2,165 × 10⁻³), sedang (3,251 × 10⁻⁶), berat (2,0005 × 10⁻⁹), serta tidak terjadi kecelakaan (0,5408). Mitigasi efektif meliputi pengecekan sling, pembatasan area, kepatuhan SOP, dan APD. Seluruh data diintegrasikan ke BIM 4D menggunakan Autodesk Navisworks, memungkinkan visualisasi risiko secara real-time. Pendekatan ini terbukti mendukung keselamatankerja proyek infrastruktur jembatan
Pemanfaatan Geopolimer untuk Meningkatkan Kualitas Agregat Kasar Daur Ulang sebagai Bahan Penyusun Beton
Beton merupakan salah satu elemen dari mata rantai pasok konstruksi yang memerlukan perhatian. Dalam proses produksinya seringkali menghasilkan sisa beton yang akan menjadi limbah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah mendaur ulang agregat atau Recycled Coarsed Aggregate (RCA). RCA diperoleh dari penghancuran limbah beton konstruksi. Penggunaan RCA dilakukan untuk menggantikan Natural Coarse Aggregate (NCA) sebagai material penyusun beton. Namun, RCA memiliki kekuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan NCA karena kandungan mortar residu yang masih melekat pada agregat. Biasanya RCA juga menunjukkan porositas dan penyerapan air yang lebih tinggi. Salah satu perlakuan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas RCA adalah menggunakan geopolimer sebagai coating agregat kasar daur ulang. Penelitian ini menggunakan fly ash yang direaksikan dengan alkali aktivator berupa NaOH dan Na2SiO3 dengan perbandingan 1:2,5. Molaritas sebesar 12 Mol. Variasi solid-liquid ratio adalah 1,67; 2; dan 2,5. Lama perendaman selama 5 menit. Parameter yang digunakan dalam menentukan kualitas RCA yaitu, sifat fisik, mekanik, dan mikrostruktur RCA. Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa geopolimer sebagai coating dapat meningkatkan kualitas pada agregat kasar daur ulang. Dibuktikan dengan peningkatan efektivitas penyerapan agregat kasar daur ulang setelah coating mencapai 38,59%. Selain itu, coating geopolimer meningkatkan berat isi sebesar 1,86%. Kemudian nilai Aggregate Crushing Value (ACV) menjadi lebih baik dibandingkan dengan agregat tanpa coating geopolimer. Geopolimer juga dapat mengisi pori dari mortar yang menempel pada agregat menggunakan pengujian Scanning Electron Microscope (SEM). Variasi S/L 2,5 adalah nilai yang optimal berdasarkan faktor penyerapannya. Hal tersebut disebabkan karena semakin tinggi nilai S/L, maka geopolimer akan lebih kental sehingga mampu mengisi pori pada agregat kasar daur ulang dan meningkatkan sifat fisiknya. Sedangkan semakin kecil nilai S/L, geopolimer akan semakin cair, tetapi dapat meningkatkan sifat mekanik agregat kasar daur ulang.
Kata kunci: Agregat kasar daur ulang, geopolimer, Aggregate Crushing Value (ACV), Scanning Electron Microscope (SEM)
Pemodelan Kecelakaan Sepeda Motor di Beberapa Ruas Jalan di Kota Surabaya Barat dengan Metode Generalized Linear Model
Traffic accidents, especially involving motorcycle users, are a major problem in Indonesia, with high fatality rates based on data from various studies and official reports. West Surabaya is an area with quite significant motorcycle accidents, so it is necessary to conduct an in-depth analysis of factors that can improve traffic safety. To determine the best strategy to reduce the number of motorcycle accidents, this study aims to form a motorcycle accident probability model in West Surabaya City based on geometric data and road traffic. General linear model (GLM) analysis is used to create this model based on geometric data and road traffic. This study found a significant correlation between traffic volume and speed to the level of motorcycle accidents. Motorcycle traffic accidents increase along with the increase in traffic flow on the roads reviewed around West Surabaya, and the speed that may increase. Every increase in speed value of one unit, motorcycle accidents will increase by a factor of e0.078 or equivalent to a multiplication of 1.0811
Pengaruh Penambahan Limbah Carrageenan terhadap Kinerja Marshall Campuran Lapis Aus Asbuton (AC-WC Asb)
Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan pada impor aspal dengan memanfaatkan cadangan Aspal Buton (Asbuton) yang melimpah. Namun, Asbuton sering retak akibat nilai flow yang tinggi. Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan 7,25% limbah carrageenan pada campuran Asbuton B 50/30 untuk meningkatkan kinerjanya. Benda uji dibuat dengan variasi kadar Asbuton (8-20%), kemudian dicampur dengan limbah carrageenan kering dan aspal penetrasi 60/70. Setelah dipadatkan, karakteristik Marshall diuji. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan kadar Asbuton cenderung menurunkan parameter Marshall seperti VMA, VIM, stabilitas, dan Marshall Quotient (MQ), serta meningkatkan VFB dan flow. Sementara itu, hasil uji statistik menunjukkan bahwa limbah carrageenan secara signifikan menurunkan VFB, namun tidak berpengaruh signifikan pada VMA, VIM, stabilitas, flow, dan MQ. Kadar Asbuton optimum tanpa carrageenan adalah sekitar 13,2%. Dengan penambahan limbah carrageenan, kadar Asbuton dapat ditingkatkan hingga 14% sambil tetap memenuhi standar Marshall. Nilai optimum Asbuton adalah 10,6% tanpa aditif dan 11,0% dengan limbah carrageenan. Studi ini menyimpulkan bahwa metode pengeringan carrageenan yang lebih baik dan peningkatan kadar aditif diperlukan untuk optimalisasi karakteristik Marshall lebih lanjut
EVALUASI KINERJA PELAYANAN BUS TRANS JATIM LUXURY RUTE SIDOARJO - GRESIK DENGAN METODE IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS (IPA)
Transportasi umum yang aman, nyaman, dan terjangkau merupakan salah satu kebutuhan esensial masyarakat dalam mendukung mobilitas antarkota di wilayah Jawa Timur. Kehadiran Bus Trans Jatim Luxury sebagai moda transportasi berbasis layanan premium bertujuan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Namun, guna memastikan bahwa layanan yang diberikan sejalan dengan ekspektasi pengguna sekaligus memenuhi ketentuan regulasi, diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap kesesuaian pelayanannya dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang tertuang dalam Permenhub Nomor 29 Tahun 2015. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan metode survei, di mana data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada penumpang Bus Trans Jatim Luxury. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 166 responden yang dipilih secara purposif. Data primer diperoleh dari hasil pengisian kuesioner, sementara data sekunder diperoleh dari dokumen resmi seperti regulasi, laporan operasional, dan publikasi pemerintah terkait layanan angkutan massal. Evaluasi kualitas layanan dilakukan berdasarkan 31 indikator SPM dan dianalisis menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA). Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi atribut layanan mana yang memiliki tingkat kepentingan tinggi di mata pengguna namun masih memiliki kinerja yang rendah, sehingga memerlukan perbaikan prioritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari total 31 indikator, sebanyak 22 indikator telah terpenuhi dengan baik, 5 indikator terpenuhi sebagian, dan 4 indikator belum terpenuhi. Melalui analisis IPA, ditemukan bahwa atribut seperti ketersediaan tiket resmi, sertifikasi pengemudi, dan kebersihan kabin tergolong dalam kuadran I (Concentrate Here) yang membutuhkan perhatian dan perbaikan segera. Sementara itu, atribut seperti keberadaan sabuk pengaman, kenyamanan tempat duduk, serta fasilitas hiburan audio-visual berada dalam kuadran II (Keep up the Good Work), yang berarti telah memenuhi ekspektasi dan perlu dipertahankan kinerjanya. Temuan ini menunjukkan celah antara regulasi dan persepsi pengguna, sehingga perlu fokus pada perbaikan atribut layanan yang belum optimal.
Kata kunci : Importance Performance Analysis, Pelayanan Publik, Standar Pelayanan Minimal, Transportasi Umum, Trans Jatim Luxury
Efektivitas Perbaikan Tanah Menggunakan Geosynthetic-Encased Sand Columns (GESC) dengan Variasi Jarak dan Diameter terhadap Percepatan Konsolidasi Tanah Lunak
Tanah lunak merupakan jenis tanah dengan kadar air tinggi, kuat geser rendah, dan tingkat compressibility yang signifikan, sehingga memerlukan metode perbaikan untuk mendukung daya dukung dan kestabilan konstruksi infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas variasi jarak antar kolom pada metode perbaikan tanah menggunakan Geosynthetic-Encased Sand Column (GESC) terhadap percepatan konsolidasi tanah lunak secara numerik. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak Finite Element Method dua dimensi (FEM 2D) dengan model axisymmetry yang dikonversi ke bentuk plane strain. Variasi jarak yang diterapkan meliputi 2D, 2,5D, 3D, dan 4D terhadap diameter kolom, dengan parameter analisis berupa waktu konsolidasi 90% (U90), penurunan tanah, tekanan air pori berlebih, dan nilai safety factor (SF). Hasil simulasi menunjukkan bahwa penggunaan GESC dengan variasi jarak yang lebih rapat secara signifikan mempercepat waktu konsolidasi dan mengurangi tekanan air pori. Jarak antar kolom 2D menghasilkan kinerja paling optimal dengan waktu konsolidasi tercepat sebesar 181 hari, penurunan sebesar 0,8121 m, serta tekanan air pori maksimum yang paling rendah sebesar 0,495 kN/m². Sebaliknya, peningkatan jarak antar kolom menyebabkan penurunan efisiensi, ditunjukkan oleh meningkatnya tekanan air pori dan bertambahnya waktu konsolidasi hingga 280 hari pada jarak 4D. Meskipun demikian, seluruh variasi jarak tetap memenuhi kriteria stabilitas dengan nilai SF ≥ 1,5. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan GESC efektif dalam mempercepat konsolidasi dan meningkatkan kestabilan tanah lunak, khususnya pada jarak antar kolom yang lebih rapat.
Kata Kunci : Tanah lunak, konsolidasi, GESC, FEM 2D, tekanan air pori, faktor keamana
Analisis Kelayakan Finansial Pertahapan Pembangunan Kawasan Rumah Toko di Kecamatan Merakurak, Tuban
Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, merupakan salah satu dari tiga Kawasan Strategis Provinsi berupa kawasan super koridor industri, yang membuka peluang besar bagi investor untuk berinvestasi dalam berbagai proyek, termasuk pembangunan kawasan rumah toko (ruko). Namun, banyak proyek ruko di Kabupaten Tuban mengalami kegagalan atau mangkrak, yang disinyalir disebabkan oleh perencanaan yang kurang matang atau ide penjualan yang tidak realistis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kelayakan finansial terhadap pembangunan kawasan ruko di Kecamatan Merakurak, Tuban, dengan menggunakan perspektif investasi, mengingat faktor keuangan merupakan aspek krusial dalam menentukan keberhasilan suatu investasi. Penelitian ini menggunakan metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit-Cost Ratio (BCR), dan Discounted Payback Period (DPP) sebagai indikator untuk menilai kelayakan finansial dari sepuluh alternatif pertahapan pembangunan yang dikembangkan. Berdasarkan hasil analisis, semua alternatif dinyatakan layak. Nilai NPV berkisar antara Rp 2.661.153.141 sampai dengan Rp 5.426.565.480, nilai IRR berkisar antara 20,6% sampai dengan 32,4%, nilai BCR berkisar antara 1.134 sampai dengan 1.680, dan DPP berkisar antara 3 tahun 10 bulan sampai dengan 5 tahun 3 bulan. Pemeringkatan berdasarkan indikator keuangan menunjukkan bahwa Alternatif 7 merupakan pilihan yang paling layak secara keuangan. Alternatif ini memiliki NPV tertinggi (Rp 5.426.565.480), IRR tertinggi (32,4%), BCR terbaik (1.680), dan payback period terpendek (3 tahun 10 bulan). Namun, analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kelayakan Alternatif 7 dapat terganggu jika biaya investasi meningkat 30%, volume penjualan turun 50%, atau terjadi peningkatan biaya investasi sebesar 20% bersamaan dengan penurunan volume penjualan sebesar 20%. Penelitian ini menekankan pentingnya analisis kelayakan finansial yang menyeluruh untuk memastikan keberhasilan proyek, terutama mengingat risiko yang terkait dengan pembiayaan dan permintaan pasar. Temuan ini berkontribusi pada pengambilan keputusan yang lebih tepat bagi pengembang dan investor, yang mendukung pertumbuhan investasi berkelanjutan di sektor properti komersial, terutama di Kabupaten Tuban.
Kata kunci: analisis kelayakan, kelayakan finansial, pertahapan pembangunan, rumah toko, analisis sensitivitas
Mode Choice Analysis Between Train and Bus on Malang-Surabaya Route Using Revealed Preference Method
ABSTRAK
Malang dan Surabaya merupakan dua wilayah dengan produktivitas tertinggi di Jawa Timur dan memiliki jumlah penduduk terbesar di Jawa Timur. Padatnya penduduk maupun pendatang di kedua wilayah ini mendorong tingginya permintaan moda transportasi umum, tak terkecuali kereta api komuter dan bus AKDP non patas. Saat ini, kereta api komuter menjadi transportasi umum yang paling diminati oleh masyarakat saat bepergian di rute Malang-Surabaya PP dibandingkan bus AKDP non patas. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk menyelidiki karakteristik penumpang dengan metode statistik deskriptif, mengetahui faktor pelayanan apa saja yang mempengaruhi pemilihan moda dengan metode regresi logistik biner, mendapatkan model pemilihan moda dengan metode logit biner selisih, dan mengetahui solusi perbaikan kualitas pelayanan agar penumpang tidak berpindah pilihan moda dengan metode IFAS/EFAS-SWOT. Adapun studi ini menunjukkan bahwa pemilihan moda transportasi umum tidak hanya dipengaruhi oleh aspek kuantitatif (biaya dan waktu), tetapi juga dipengaruhi oleh aspek kualitatif (pelayanan) yang telah diatur pada SPM No. 63 Tahun 2019 untuk kereta api dan SPM No. 98 Tahun 2013 untuk bus. Berdasarkan aspek kuantitatif, kereta api komuter cenderung diminati karena biaya yang murah sedangkan bus AKDP non patas cenderung diminati karena waktu perjalanan yang singkat. Berdasarkan aspek kualitatif, seluruh aspek pelayanan berpengaruh terhadap pemilihan moda dengan prioritas utama pada aspek keamanan, keselamatan, dan kemudahan. Kata Kunci : pemilihan moda, kereta api dan bus, Malang-Surabaya, revealed preference
ABSTRACT
Malang and Surabaya are two regions with the highest productivity in East Java and have the largest populations in East Java. The dense population and influx of migrants in these two regions have driven high demand for public transportation, including commuter trains and non-express AKDP buses. Currently, commuter trains are the most popular form of public transportation for people traveling on the Malang-Surabaya route compared to non-express AKDP buses. Therefore, this study aims to investigate passenger characteristics using descriptive statistical methods, identify the service factors influencing mode choice using binary logistic regression methods, obtain a mode choice model using the binary logit difference method, and determine solutions for improving service quality to prevent passengers from switching modes using the IFAS/EFAS-SWOT method. This study shows that the choice of public transportation mode is not only influenced by quantitative aspects (cost and time), but also by qualitative aspects (service) as stipulated in SPM No. 63 of 2019 for trains and SPM No. 98 of 2013 for buses. Based on quantitative aspects, commuter trains are preferred due to their low cost, while non-express AKDP buses are preferred due to their short travel time. Based on qualitative aspects, all service aspects influence mode selection, with the primary priorities being safety, security, and convenience. Keywords : mode choice, trains and buses, Malang-Surabaya, revealed preferenc