Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
    1439 research outputs found

    PENGARUH DIMENSI TULANGAN BAMBU TERHADAP BOND SLIP STRENGHT ANTARA TULANGAN BAMBU DAN BETON

    No full text
    Bambu adalah sumber daya alam terbarukan yang memiliki kuat tarik cukup tinggi.Oleh karena itu, bambu dapat dimanfaatkan untuk dijadikan material pengganti baja. Akantetapi pada struktur beton bertulangan bambu sering kali memiliki kegagalan berupa slip antaratulangan bambu dan beton. penambahan treatment khusus pada bambu berupa penambahanlapisan kedap air berupa sikadur 31 CFN kemudian ditaburi pasir sebelum sikadur mengeringserta pemasangan cable ties pada tulangan bambu sabagai rekayasa ulir diharapkan depatmeningkatkan kuat lekat yang terjadi antara tulangan bambu dan beton sehingga dapatmengatasi permasalahan slip yang sering terjadi anatara tulangan bambu dan beton. Dimensitulangan bambu memiliki perngaruh terhdap kuat lekat yang terjadi antara tulangan bambu danbeton. Berdasarkan hasil penelitian, varisai dimensi tulangan bambu terkecil memiliki nilaikuat lekat yang terbesar dan sebaliknya bariasi dimensi tulangan bambu terbesar memiliki nilaikuat lekat yang terkecil.Kata Kunci : tulangan bambu, kuat lekat, dimensi tulangan bamb

    ANALISIS PERILAKU TEGANGAN DAN REGANGAN PADA PORTAL 2 BENTANG DENGAN VARIASI PENEMPATAN BRACING EKSENTRIS PENDEK TIPE V MENGGUNAKAN SOFTWARE ABAQUS

    No full text
    Indonesia merupakan negara rawan terhadap gempa. Dalam perencanaan bangunan tahan gempa harusmemperhatikan keselamatan dan kenyamanan pengguna. Bahan dan sistem struktur merupakan hal yangpenting untuk diperhatikan. Baja memiliki sifat daktail (tidak getas), dimana baja mampu berdeformasi tanpalangsung runtuh. Sistem struktur yang dirasa cocok untuk mengantisipasi gaya lateral akibat gempa yaituEccentrically Braced Frames (EBF). Hal tersebut dikarenakan Eccentrically Braced Frames (EBF) memilikidaktilitas yang besar tetapi tetap memiliki kekakuan yang tinggi. Tetapi masih belum diketahui penempatanbracing yang seperti apa yang akan mengantisipasi beban lateral dengan efektif. Maka dari itu, penelitian inimenganalisis perilaku tegangan dan regangan dengan variasi penempatan bracing pada portal dengan bracingtipe V. Penelitian portal 2 bentang dengan lebar 8 m (masing-masing bentang 4 m) dan tinggi 4 m. Portalmenggunakan material baja dengan mutu BJ-37 serta menggunakan profil WF. Pada penelitian inimenggunakan tiga model portal yakni model portal dengan bracing di sisi kanan, model portal dengan bracingdi sisi kiri, dan model portal dengan bracing di sisi kanan kiri. Masing-masing dari bentuk geometri tersebutdianalisis menggunakan 2 variasi meshing yakni meshing 4 dan meshing 25. Hasil analisis menunjukkanbahwasannya pengaruh penempatan bracing terhadap tegangan dan regangan ada. Dalam hak tegangan, secaraberurutan model portal yang memiliki nilai tegangan terbesar yakni model portal dengan bracing di 1sisi kanan,lalu model portal dengan bracing di sisi kiri dan yang paling minimum menerima tegangan yakni model portaldengan bracing di sisi kanan dan kiri. Dalam aspek regangan, model portal dengan regangan paling besar secaraberurutan adalah model portal dengan bracing di sisi kanan, model portal dengan bracing di kanan kiri danmodel portal dengan bracing di sisi kiri.Kata kunci: portal eksentris, tipe bracing V, tegangan, regangan, penempatan bracing, ABAQUS StudentEditio

    ANALISIS TINGKAT KEMATANGAN MANAJEMEN PENGETAHUAN (KNOWLEDGE MANAGEMENT MATURITY LEVEL) PADA PERUSAHAAN KONSTRUKSI KUALIFIKASI MENENGAH DI KOTA SURABAYA

    No full text
    Pertumbuhan industri konstruksi di Indonesia terus mengalami peningkatan.Perusahaan konstruksi harus mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan agardapat bersaing dan bertahan. Manajemen pengetahuan merupakan salah satu upaya yangdapat diterapkan perusahaan konstruksi untuk dapat mencapai target yang diinginkan.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kematangan manajemen pengetahuan,faktor-faktor penunjang, dan strategi dalam meningkatkan manajemen pengetahuan pada PT.X. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan teknik pengumpulan datamenggunakan kuesioner dan wawancara sebagai penunjang penelitian. Berdasarkan hasilpenelitian diperoleh tingkat kematangan pada perusahaan konstruksi kualifikasi menegahsubkualifikasi BG004 studi kasus PT. X adalah 174.667, yang berada pada level 4 ataurefinement level. Faktor-faktor penunjang manajemen pengetahuan ialah manusia, keuangan,dan teknologi. Sedangkan, strategi pengembangan yang dapat dilakukan berupa penerapanISO, apresiasi, evaluasi, dan menyimpanan pengetahuan atau dokumen.Kata Kunci: perusahaan konstruksi, manajemen pengetahuan, faktor penunjang, strategipeningkatan manajemen

    ANALISIS KUAT RENCANA ELEMEN LENTUR GEDUNG GEREJA KATOLIK SANTO PAULUS SINGARAJA MENGGUNAKAN SNI 2847:2019

    No full text
    Pemilik bangunan gedung atau pengguna bangunan gedung memiliki hak jaminankelaikan fungsi bangunan gedung yang telah selesai dibangun. Hasil analisis kekuatan strukturgedung berdasarkan peraturan terbaru yang berlaku menjadi bahan pertimbangan keselamatangedung dalam uji kelaikan bangunan gedung. Pada saat perencanaan bangunan gedung seringterjadi tidak dilakukan dengan menggunakan peraturan terbaru, melainkan dengan peraturanterdahulu. Oleh karena itu, dalam tugas akhir ini akan menganalisis kekuatan struktur rencanaberdasarkan SNI 2847:2019 dengan objek yang akan digunakan adalah Gedung Gereja KatolikSanto Paulus Singaraja dengan mengambil fokus pada elemen lentur struktur bangunan gedung.Hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa kapasitas penampang balok terhadap kuatlentur elemen struktur balok Gedung Gereja Katolik Santo Paulus Singaraja memiliki nilaiterbesar pada balok BI-1 dengan nilai pada daerah tumpuan sebesar 277139563,3 Nmm untukmomen positif dan 331206431,7 Nmm untuk momen negatif, sedangkan pada daerah lapangansebesar 376603688,1 untuk momen positif dan 253977697,8 Nmm untuk momen negatif.Kapasitas penampang balok terhadap kuat lentur terkecil pada daerah tumpuan terdapat padabalok BI-4 sebesar 104871321 Nmm untuk momen positif dan sebesar 123781869,8 Nmmuntuk momen negatif, sedangkan pada daerah lapangan terdapat pada balok BR-1 sebesar126324186,3 Nmm untuk momen positif dan pada BI-4 sebesar 95652186,21 Nmm untukmomen negatif. Hasil analisis juga menunjukkan regangan tulangan baja terluar yang terjadipada daerah tarik memiliki nilai terkecil pada balok BK-1 pada daerah ujung sebesar 0,00295untuk kondisi momen negatif, dan nilai regangan terbesar pada balok BI-1 pada daerah tumpuansebesar 0,08091 untuk kondisi momen positif.Kata kunci: Elemen Lentur, Regangan, Kapasitas Penampang, SNI 2847:2019.ABSTRAC

    ANALISIS PERMODELAN PERILAKU TEGANGAN DAN REGANGAN PADA PORTAL 2 LANTAI DENGAN BRACING TIPE INVERTED-V EKSENTRIS 2 ARAH

    No full text
    Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh panjang eksentrisitas pada struktur portal 2 (dua) lantai denganbracing tipe inverted-V eksentris 2 (dua) arah terhadap nilai tegangan yang diperoleh. Kemudian untukmengetahui pengaruh panjang eksentrisitas pada struktur portal 2 (dua) lantai dengan bracing eksentris tipeinverted-V eksentris 2 (dua) arah terhadap nilai regangan yang diperoleh. Metode yang digunakan dalampenelitian ini adalah kuantitatif memakai 2 (dua) varibel yaitu bebas dan terikat. Hasil penelitian yang didapatelemen kritis pada portal dengan eksentrisitas 0 cm (konsentris) adalah elemen bracing, dimana elemen bracingpada portal konsentris mengalami tegangan dan regangan yang paling besar. Sedangkan Pada portal denganeksentrisitas 60 cm dan 120 cm, elemen yang mengalami tegangan dan regangan terbesar adalah link beam. Halini menunjukkan bahwa dengan adanya nilai eksentrisitas, maka tegangan dan regangan terbesar akan terjadi padaelemen link beam. Panjang eksentrisitas memiliki pengaruh pada nilai tegangan dan regangan yang diperoleh,portal dengan eksentrisitas 60 cm memiliki nilai tegangan dan regangan terbesar, disusul dengan portal denganeksentrisitas 120 cm, dan portal konsentris memiliki nilai tegangan dan regangan terkecil. Hal ini menunjukkanbahwa portal eksentris dengan short link memiliki nilai tegangan dan regangan yang lebih besar dibandingkandengan portal eksentris dengan long link.Kata Kunci : Bracing tipe Inverted-V. Beban Lateral Statis, Struktur Portal 2 Lantai, Tegangan dan Regangan,Struktur Portal Tahan Gempa, Bracing eksentris, Bracing eksentris 2 arah, ABAQUS Student Edition

    STUDI ALTERNATIF PERENCANAAN GEDUNG PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN MENGGUNAKAN SISTEM CASTELLATED BEAM

    No full text
    Pembangunan Infrastruktur dalam bidang kesehatan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam mendukung terciptanya prasaran pelayanan kesehatan yang berkualitas. Seperti halnya bangunan Gedung Pemerintah yang terletak di Kabupaten Lamongan memerlukanperencanaan struktur bangunan yang kompleks. Bangunan Gedung Pemerintah Kabupaten Lamongan terdiri dari 8 tingkat lantai menggunakan struktur beton bertulang, dalam proses pekerjaanpembangunan tersebut menggunakan metode struktur betonbertulang konvensional (castiinisitu)karena metode tersebut mudah untuk dikerjakan, material bangunan yang mudah didapat, dan biaya yang relatif murah, adapun kekurangannya yaitu penggunaannya cenderung memikul bebanmati yangcukup besar berasal dari beban berat sendiri dan akan mempengaruhi beban gempa yang juga relatif besar. Selain beton sebagai material utama struktur bangunan,Dalam dunia konstruksi material baja juga dinilai mampu menciptakan bangunan yang kuat dan kokoh,hingga saatini struktur baja juga berkembang memiliki beragami novasi salah satunya sistem castellated beam komposit

    PENGARUH PENAMBAHAN ZAT ADITIF PADA CAMPURAN MORTAR TERHADAP KARAKTERISTIK MEKANIS PASANGAN DINDING BATAKO

    No full text
    Pasangan dinding merupakan salah satu elemen yang penting karena memiliki pernanan dalam menyokongatap dan penahan massa tanah diatas struktur. Untuk menunjang kekuatan yang ada pada dinding batako,campuran mortar memiliki peranan penting dalam sifat mekanis pada dinding. Pada proses penelitian inidilakukan pengujian dinding batako dengan variasi aditif yaitu Alcasit, Addibond, dan Mortar Utama 301.Pada proses penelitian ini dilakukan pengujian dinding batako berukuran 47cm x 47cm x 10cm meggunakanmesin uji tekan (UTM). Pengujian ini meliputi kuat lekat, kuat tekan vertikal, kuat tekan horizontal, dan kuatgeser. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh penambahan zat aditifterhadap kuat tekan vertikal dan kuat lekat. Tetapi, penambahan zat aditif tidak berpengaruh terhadap kuatlekat horizontal dan kuat geser. Untuk pengujian lapangan, dapat diambil kesimpulan terdapat pengaruhpenambahan zat aditif terhadap karakteristik mekanis pasangan dinding batako. Peningkatan kekuatan dindingbatako terletak di uji tekan vertikal, uji tekan horizontal, dan uji geser setelah ditambah Alcasit memilikipresentase sebesar 44,228%, 20,245%, dan 36,115%, setelah ditambah Addibond yaitu dengan presentasesebeasr 63,749%, 38,746%, dan 52,788%, dan setelah ditambah dalam penggunaan Mortar Utama 301 denganpresentase sebesar 14,342%, 6,275%, dan 6,481%. Peningkatan uji lekat batako terdapat setelah penambahanAddibond sebesar 62,534%. Namun, penurunan kekuatan uji lekat batako terletak pada Alcasit yakni sebesar18,363% dan penambahan Mortar Utama 301 dengan penurunan sebesar 48,002%. Variasi addibond secarakarakteristik mekanis memiliki nilai tegangan yang besar dan nilai regangan yang kecil. Sedangkan, variasiAlcasit secara karakteristik mekanis memiliki nilai regangan yang besar dan nilai tegangan yang kecildibandingkan dengan variasi Addibond.Kata kunci : campuran mortar, dinding batako, karakteristik mekanis, penambahan zat aditif, teganganregangan

    Analisis Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap Kinerja Pekerja Pada Proyek Konstruksi Pembuangan Akhir Limbah B3 Di Kabupaten Lamongan

    No full text
    Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) adalah salah satu hak dasar bagi pekerja yang merupakan komponen dari hak asasi manusia (HAM). Sistem Manajemen K3L bertujuanmelindungi pekerja atas keselamatannya dalammelakukan pekerjaan demi kesejahteraan hidup danmeningkatkan produksi serta produktivitasnasional, menjamin keselamatan setiap orang lainyang berada di tempat kerja, dan memelihara sertamenggunakan sumber-sumber produksi secaraaman dan efisien. Untuk itu semua pihak diharapkan berperan secara proaktif dalam upayapelaksanaan K3L sesuai dengan hak, kewajiban dantanggung-jawabnya masing-masing. Dengan implementasi K3 yang selalu didasarkan pada potential hazards dan potential risks yang ada. Masih tingginya tingkat kecelakaan kerja dan berbagai ancaman keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia terutama di sektor jasa konstruksi.Menurut ILO (2015), di Indonesia tingkatkecelakaan kerja merupakan salah satu yangtertinggi di dunia. Sedikitnya terjadi 6.000 kasuskecelakaan kerja fatal yang terjadi di Indonesia pada periode tahun 2015. Menurut Badan Pusat Jaminan Sosial (BPJS) (2015) kecelakaan yangsetiap harinya dialami para buruh, penyumbangterbanyak berasal dari kecelakaan kerja konstruksiyang mencapai 30% dari total keseluruhan jumlah kecelakaan kerja. Adanya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Penerapan SMK3 dapatmengurangi risiko bahaya di tempat kerja dan dapatmenciptakan kondisi kerja yang produktif.Pembangunan Kontruksi Pembuangan AkhirLimbah B3 yang mana pada proyek ini memiliki potensi mengalami adanya risiko dalam kecelakaan kerja. Proyek ini dibangun dengan luas 30 Hektar, penggunaan alat berat dan berupa benda tajam padapembangunan ini yang tidak terelakkan dapatmenyebabkan terjadinya risiko kecelakaan kerja pada proyek ini. Diterapkan atau tidaknya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi oleh tenaga kerja pada proyek akhirnya akan mempengaruhi risiko kecelakaan yang terjadi di proyek tersebut. Melaluipenelitian ini dapat mengetahui tingkat kinerjapenerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi dari proyek Pembangunan KontruksiPembuangan Akhir Limbah B3. Untuk mengetahui tingkat penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada proyek Pembangunan KontruksiPembuangan Akhir Limbah B3 dapat dilakukandengan <spa

    STUDI ALTERNATIF PERENCANAAN STRUKTUR SAMBUNGAN BALOK– KOLOM MENGGUNAKAN SISTEM BETON PRACETAK (PRECAST) PADA GEDUNG PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN

    No full text
    Pembangunan gedung bertingkat tak ada habisnya untuk selalu ditingkatkan. Akantetapi dengan meningkatnya pembangunan gedung bertingkat membuat ketersediaan lahanyang lama kelamaan semakin sedikit. Hal ini membuat beberapa daerah mengatasi masalahketersediaan lahan yang sempit untuk pembangunan gedung bertingkat. Sampai sekarangpembangunan struktur gedung bertingkat di Indonesia metode pengerjaannya masihbanyak yang menggunakan metode beton bertulang konvensional biasa ( cast in situ )dikarenakan metode konvensional biasa prosesnya mudah dikerjakan tetapi waktupelaksanaanya yang relatif lama dan biaya yang dibutuhkan juga cukup banyakdikarenakan memerlukan banyaknya bekisting. Salah satu inovasi dimana dapatmempersingkat waktu pelaksanaanya dan mengurangi kebutuhan bekisting yaitu denganmenggunakan metode beton pracetak ( precast ). Metode beton pracetak adalah teknologikonstruksi struktur beton dimana komponen pembentukannya dibuat atau di fabrikasi,pengolahannya bisa di lahan pembuatan bahkan bisa juga di lapangan yang kemudiandipasang sehingga membentuk sebuah struktur bangunan. Untuk struktur dengan metodepracetak ( precast ), sambungan yang terpasang pada hubungan antar komponen balokdengan kolom dan kolom dengan balok merupakan hal utama yang perlu ditinjau danditeliti.Studi ini merupakan perhitungan perencanaan struktur sambungan balok – kolommenggunakan system beton pracetak ( precast ) pada Gedung Pemerintah KabupatenLamongan yang merujuk pada SNI 2847:2019 yang membahas persyaratan betonstructural untuk bangunan gedung, SNI 7883:2012 yang membahas tata cara perancanganbeton pracetak dan beton prategang untuk bangunan gedung, SNI 1727:2013 yangmembahas beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan struktur lainnya danSNI 1726:2019 yang membahas tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk strukturbangunan gedung dan non gedung. Dari hasil studi yang ada didapatkan bahwa dimensiukuran balok induk sebensar 40 cm x 60 cm dengan penulangan tarik 10D25, penulangantekan 5D25 dan kolom 60 cm x 60 cm dengan penulangan tekan 9D22, penulangan tarik9D22. Dalam sambungan antar komponen balok dan kolom menggunakan tipe sambunganbasah dengan panjang distribusi tulangan sebesar 365,148 mm dalam kondisi tekan,701,084 mm dalam kondisi tarik dan dengan panjang kait sebesar 255,604 mm.Kata Kunci: Betonlpracetak, Tulangan, Sambunga

    ANALISIS BEBAN DAN PERPINDAHAN PADA PORTAL DUA BENTANG DENGAN VARIASI PENEMPATAN BRACING EKSENTRIS TIPE V

    No full text
    Terletak pada pertemuan lempeng dunia membuat Indonesia menjadi negara yang sangat rawan terjadibencana gempa bumi. Oleh sebab itu, struktur bangunan harus dirancang kuat untuk meminimalisir kerusakanyang terjadi. Pada penelitianini, analisis akan dilakukan dengan menggunakan ABAQUS Student Edition. Dimensi portal 4 m x 4 msebanyak dua bentang. Jenis bracing yang digunakan adalah tipe V. Material yang digunakan adalah baja BJ-37 dengan profil jenis WF (Wide Flange). Total model benda uji berjumlah 6 yang terbagi menjadi 3 bentukgeometri yaitu portal dengan penempatan bracing pada kedua bentang, bracing pada bentang kiri dan bracingpada bentang kanan. Tiap bentuk geometri dianalisis dengan 2 variasi meshing yaitu meshing besar (4) danmeshing kecil (25). Pembebanan menggunakan beban lateral statis yang diletakkan pada node kiri atas struktur.Hasil analisis menunjukkan bahwa penempatan bracing memiliki pengaruh terhadap besar beban danperpindahan yang terjadi. Penempatan bracing pada kedua bentang portal akan membuat struktur mampumenahan beban yang lebih besar dengan perpindahan yang lebih kecil. Pada portal dengan bracing di kirimaupun kanan bentang memiliki kemampuan menahan beban yang hampir sama. Selisih rata-rata bebanmaksimum yang dapat ditahan yaitu 37,156% lebih kecil dibandingkan portal dengan bracing di kedua bentang.Selanjutnya, perpindahan terbesar terjadi pada model portal dengan bracing di bentang kanan. Selisih rata-rataperpindahan maksimum yang terjadi yaitu 13,128% lebih besar dibandingkan portal dengan bracing di keduabentang. Sedangkan portal dengan bracing di bentang kiri memiliki selisih perpindahan maksimum 1,327%lebih besar.Kata Kunci: Beban, perpindahan, bracing tipe V, ABAQU

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇