Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
1439 research outputs found
Sort by
Studi Analisis Perilaku Sambungan Balok Kolom Baja Canai Dingin (Cold Formed Steel) C Double Berkebalikan terhadap Variasi Jumlah Sambungan Sekrup
Salah satu inovasi material bangunan yang saat ini banyak berkembang adalah penggunaan material baja cold-formed sebagai pengganti material baja konvensional dengan efektivitas tinggi, ekonomis, pelaksanaanya mudah, ringan, dan ramah lingkungan. Selain itu, material tersebut merupakan material ramah lingkungan yang dapat mendukung realisasi sustainable development goals. Salah satu implementasi baja cold formed yang sedang berkembang adalah penggunaan baja cold formed sebagai material struktur balok kolom. Sebagai struktur balok kolom, sambungan memiliki peran penting yang berlaku sebagai faktor kritis suatu struktur secara keseluruhan. Ketebalan penampang baja cold-formed yang tipis (0,378 mm – 6,35 mm) berdampak pada adanya potensi tekuk pada baja cold-formed. Pada penelitian ini dilakukan pengujian struktur balok kolom dengan pemberian beban lentur pada ujung balok dengan tumpuan jepit bebas, sedangkan kolom didesain dengan tumpuan jepit-jepit. Benda uji pada penelitian ini adalah profil balok kolom baja cold-formed C 80.30.9 dengan tebal 0,75 mm dipasang ganda berkebalikan (back to back) dengan sambungan sekrup SDS 12x20 diameter 4 mm dengan dua variasi jumlah sekrup pada benda uji yaitu variasi jumlah 8 sekrup pada setiap pelat siku (top angle/ seat angle), dan variasi jumlah 4 sekrup pada setiap pelat siku (top angle/ seat angle). Analisis dilakukan dengan dua cara yaitu disesuaikan perhitungan tahanan sambungan sekrup pada SNI 7971:2013 dan anlisis menggunakan software ABAQUS. Hasil pada analisis penelitian ini, didapatkan adanya perbedaan analisis perhitungan SNI 7971:2013 dan software ABAQUS, untuk variasi 8 sekrup memiliki perbedaan hasil nilai beban maksimum sebesar 15,75%, sedangkan untuk variasi 4 sekrup memiliki perbedaan hasil nilai beban maksimum sebesar 47,86%. Untuk hasil analisis lendutan dan momen didapatkan bahwa semakin besar beban maka semakin besar lendutan dan momen yang terjadi, dan semakin banyak sambungan sekrup maka semakin kuat benda uji, begitu pula adanya penambahan pelat dalam yang dapat memperkuat benda uji.
Kata kunci : Baja Cold Formed, Beban, Jumlah Sekrup, Lendutan, ABAQUS
STUDI ANALISIS PERILAKU SAMBUNGAN BALOK-KOLOM BAJA COLD – FORMED C DOUBLE (BERHADAPAN) TERHADAP VARIASI JUMLAH SAMBUNGAN SEKRUP
Salah satu material yang dapat meningkatkan efektivitas pada ketahanan bangunan serta penekanan dalam biaya konstruksi pada era saat ini ialah material baja cold-formed. Di Indonesia, membutuhkan bangunan yang memiliki ketahanan ataupun kekuatan bangunan yang tinggi. Sehingga, bangunan yang terdiri dari dua elemen struktur utama yaitu balok dan kolom dapat menggunakan material dari baja cold-formed. Pada penelitian ini untuk mengetahui perilaku kekuatan serta kapasitas beban maksimum pada struktur sambungan balok-kolom, dapat dilakukan pemodelan benda uji sambungan pada balok-kolom dengan variasi jumlah sekrup melalui software ABAQUS. Penggunaan baja cold-formed dengan menggunakan sambungan sekrup perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian ini menggunakan profil kanal ganda (C) 80x30x9x0,75 mutu G550 dengan panjang pada balok yaitu 1000 mm dan kolom 500 mm. Profil ini akan disusun secara berhadapan (Toe to Toe) membentuk box yang disambung menggunakan sekrup SDS 12x20. Tumpuan yang dipakai pada kolom yaitu jepit-jepit dan pada balok yaitu ujung bebas. Variasi jumlah sekrup yang dipakai ialah variasi 8 sekrup dan variasi 4 sekrup. Sehingga, dilakukan perbandingan perilaku sambungan balok-kolom berdasarkan analisis SNI 7971:2013 dan software ABAQUS. Didapatkan hasil kapasitas beban maksimum yang diampu pada struktur balok-kolom berdasarkan analisa SNI 7971:2013 dan software ABAQUS mencapai 45,56% untuk variasi 8 sekrup dan 5,14% untuk variasi 4 sekrup. Semakin banyaknya jumlah sekrup pada sambungan akan semakin kuat dan besar kapasitas beban yang akan diterima pada struktur sambungan tersebut.
Kata kunci: Baja Cold-Formed, Kapasitas Beban, Sambungan Balok-Kolom, Software ABAQUS, Variasi Jumlah Sekrup
Analisis Perilaku Dinding Pasangan Batu Bata pada Rumah Sederhana Satu Lantai di Kabupaten Cirebon terhadap Beban Lateral Akibat Gempa
Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap gempa karena lokasinya di persimpangan tiga plat tektonik. Dampak gempa ini seringkali signifikan, terutama pada bangunan, terutama struktur perumahan sederhana yang terbuat dari batu bata. Bangunan-bangunan ini tidak dibangun untuk tahan gempa karena mereka tidak mematuhi standar yang diperlukan. Untuk mengevaluasi kekuatan batu bata merah di Kabupaten Cirebon, sebuah studi dilakukan menggunakan ASTM C67 – 03a untuk menentukan kuat tekan, modul elastisitas, dan modul geser. Tekanan geser pada dinding kemudian dianalisis dengan membandingkannya dengan tekanan geser maksimum yang mampu ditahan oleh dinding bata merah. Kekuatan gempa di simulasi dalam dua konfigurasi, dengan persentase yang bervariasi di arah X dan Y. Penelitian ini menemukan bahwa tekanan pemotongan terbesar yang tercatat adalah 1,92 kg/cm2 dalam konfigurasi 100% kekuatan dalam arah X dan 30% kekuatan di arah Y, sementara konfigurasi 30% kekuatan dalam kedua arah menghasilkan stres pemotretan maksimum 1,80 kg / cm2.
Kata Kunci: gempa, dinding pasangan batu bata merah, rumah satu lantai, tegangan geser
ANALISIS DAYA DUKUNG TANAH LERENG PASIR DR 88% MENGGUNAKAN PERKUATAN DOUBLE ROW PILE VARIASI POSISI DENGAN DIAMETER BARIS KEDUA D2 = 2 CM
Pembangunan dilakukan pada lereng menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi keterbatasan lahan pada tanah datar. Pergerakan massa tanah lereng yang cukup besarmengakibatkan ketidakstabilan bangunan yang terletak di lereng dan penurunan dayadukung yang akhirnya menyebabkan kegagalan superstruktur. Salah satu upaya yangdilakukan untuk stabilitas lereng adalah dengan memberi pile sebagai perkuatan tanah. Padapenelitian ini, dilakukan analisis pemodelan lereng dengan variasi posisi perkuatan pile bariskedua menggunakan metode FEM pada program PLAXIS dan ABAQUS untuk memperolehbesarnya penurunan tanah dan nilai daya dukung yang terjadi sehingga didapatkanpeningkatan kapasitas daya dukung tanah BCI dan membandingkan dengan hasileksperimen. Hasil akhir penelitian diperoleh bahwa terjadi peningkatan kapasitas dayadukung lereng antara tanpa perkuatan dengan adanya perkuatan double row pile, dimanaposisi pile sebagai perkuatan lereng mempengaruhi peningkatan nilai daya dukung tanahlereng. Posisi pile optimum yang dapat menghasilkan kapasitas daya dukung lerengmaksimum berada ketika rasio posisi pile Lx1/L = 0,9 dan Lx2/L = 0,6. Nilai BCI palingtinggi diperoleh sebesar 56,2% dan peningkatan BCI paling kecil sebesar 25,7%.
Kata kunci : BCI, Lereng Pasir, Perkuatan Pile Dua Baris, FEM
Pengaruh Penambahan Olahan Limbah Expanded Polystyrene Dalam Bentuk Lateks Butiran Pada Beton Terhadap Kuat Tekan dan Kuat Tarik Belah Beton Dengan Metode Destructive Test
Indonesia merupakan salah satu negara pengguna expanded polystyrene atau styrofoam terbesar di dunia. Besarnya penggunaan styrofoam berbanding lurus dengan besarnya limbah yang ditimbulkan akibat styrofoam itu sendiri. Limbah styforoam merupakan limbah yang memiliki dampak sangat buruk bagi kesehatan dan lingkungan. Maka dari itu, penelitian ini merupakan suatu upaya untuk mengurangi limbah styrofoam dengan cara mengubah limbah styrofoam menjadi lateks dan ditambahkan pada beton sebagai bahan tambah (admixture). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh olahan limbah styrofoam terhadap kuat tekan beton, kuat tarik belah beton, dan berapa kadar lateks yang paling optimum sebagai bahan tambah beton. Lateks yang digunakan dalam penelitian berupa butiran. Cara mendapatkan lateks butiran adalah pertama mencampurkan styrofoam pada bensin dengan perbandingan 1gr styrofoam : 4 ml bensin, pencampuran ini akan menghasilkan lateks cair. Selanjutnya, lateks cair didiamkan selama 3 hari hingga mengeras dan kering, lalu setelah mengeras lateks tersebut dipotong-potong menjadi butiran-butiran yang berukuran sama seperti agregat kasar. Butiran-butiran tersebut yang disebut dengan lateks butiran. Penelitian ini memiliki 4 variasi benda uji dengan masing-masing variasi memiliki 6 buah benda uji, jadi total 24 benda uji. Variasi tersebut adalah beton dengan kandungan 0%, 5%, 10%, dan 15% lateks butiran. Benda uji berupa silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Hasil dari pengujian menyimpulkan bahwa penambahan lateks butiran menurunkan kuat tekan dan kuat tarik belah beton. Penambahan lateks butiran berbanding lurus dengan penurunan kualitas beton. Jadi semakin banyak jumlah lateks butiran yang terkandung pada beton maka kualitas beton semakin menurun. Dan kadar optimum lateks yang memberikan kuat tekan dan kuat tarik belah yang paling tinggi adalah 0%.
Kata Kunci : Beton, styrofoam, Kuat tekan, Kuat tarik belah, lateks butira
Analisis Kinerja Struktur Portal terhadap Gempa dengan Pemodelan Dinding sebagai Elemen Shell
Pada pembangunan gedung, dinding pengisi berperan sebagai pemisah antara ruang yang saling berhubungan dari segi arsitektural. Walaupun seringkali dianggap tidak memiliki pengaruh pada kekuatan struktur bangunan, dinding pengisi pada beberapa kasus kerusakan akibat gempa bumi dapat menunjukkan adanya transfer beban gempa dari portal ke pasangan dinding. Berdasarkan permasalahan tersebut, direncanakan sebuah penelitian mengenai pengaruh penggunaan dinding batu bata terhadap perilaku struktur secara keseluruhan. Dinding batu bata dimodelkan sebagai elemen shell dengan tiga pemodelan, yaitu portal terbuka, portal tertutup dengan bukaan, dan portal tertutup.
Pemodelan dinding dapat memperbesar kekakuan struktur sehingga portal tertutup memiliki nilai perpindahan dan simpangan antar tingkat terkecil. Daktilitas struktur juga dipengaruhi oleh pemodelan dinding sehingga portal tertutup memiliki faktor daktilitas terkecil. Keberadaan bukaan pada dinding dapat menurunkan kekakuan struktur dan meningkatkan sifat daktilitas struktur. Berdasarkan ATC-40, pemodelan dinding pada struktur dapat meningkatkan kinerja struktur menjadi lebih baik.
Kata Kunci: Pemodelan Dinding Pengisi, Elemen Shell, Perpindahan, Simpangan Antar Tingkat, Daktilitas, Kinerja Struktu
Perencanaan Bangunan Menggunakan Struktur Beton Bertulang Kolom Pipih
Pada umumnya kolom sebagai penopang struktur berbentuk bujur sangkar atau persegi panjang, pada tulisan ini akan membahas penggunaan kolom pipih sebagai penopang struktur. Kolom pipih sangat banyak digunakan pada dunia konstruksi bangunan modern karena penggunaan kolom pipih dapat menambah nilai efisiesi ruangan dibandingkan penggunaan kolom konvensional. Kolom Pipih dapat dibentuk seperti bentuk +, T, dan L. Ukuran lebar kolom yang direkomendasikan adalah 150 mm sesuai dengan tebal dinding agar tonjolan-tonjalan pada dinding tidak terlihat. Perencanaan bangunan yang menggunakan kolom pipih berlokasi di Kota Malang dengan fungsi bangunan hunian. Bangunan dibangun diatas tanah dengan kondisi tanah sedang, berdasarkan fungsinya bangunan termasuk dalam kategori resiko II sehingga bangunan hunian ini termasuk kategori desain seismik D. Pada SNI 2847:2019; Pasal 18.2.1.7 mengizinkan penggunaan rangka pemikul momen menengah (SRPMM) untuk kategori D jika memiliki kekuatan dan ketegaran yang sesuai dengan pasal tersebut. Perencanaan bangunan ini menggunakan metode analisis statik ekivalen berdasarkan SNI 1726:2019. Dari hasil analisis struktur diperoleh dimensi pelat 120 mm, dimensi balok & sloof 250 x 500 mm, dimensi kolom + 150 x 600 x 600 mm dengan rasio tulangan 2,6% sehingga digunakan 20D16, dimensi kolom T 150 x 600 x 600 mm dengan rasio tulangan 3,6% sehingga digunakan 20D19, dan dimensi kolom L 150 x 600 x 600 mm dengan rasio tulangan 1,7% sehingga digunakan 20D13.
Kata Kunci: kolom pipih, statik ekivalen, diagram interaksi, sistem rangka pemikul momen menengah (SRPMM)
MEKANISME SELF-HEALING PADA MORTAR YANG MENGGUNAKAN BAKTERI Bacillus subtilis
Beton digunakan secara luas dalam dunia konstruksi karena memiliki banyak kelebihan. Namun, beton juga memiliki kekurangan, seperti rentan mengalami keretakan. Perbaikan keretakan ini memerlukan upaya manusia dan menjadi masalah jika keretakan terjadi di area yang sulit dijangkau. Untuk mengatasi masalah ini, telah dikembangkan penelitian mengenai perbaikan keretakan beton dengan bantuan bakteri melalui proses yang disebut perbaikan sendiri beton dengan presipitasi kalsium karbonat yang diinduksi secara microbial (MICP). Dalam proses MICP, digunakan bakteri Bacillus subtilis yang akan menghasilkan kalsium karbonat (CaCO3) melalui proses metabolisme bakteri. Endapan kalsium karbonat (CaCO3) ini akan menutupi keretakan pada beton. Pada penelitian ini digunakan benda uji mortar 20x5,5x5,5 dengan 2 perlakuan bakteri saat dicampurkan dengan mortar, yaitu bakteri terenkapsilasi natrium alginat (beads) dan tanpa terenkapsulasi natrium alginat (inokulum). Kemudian medium UMB (Urea Mineral Broth) dan Ca asetat atau zat nutrisi yang digunakan diberi 2 variasi, yang mana perbandingan kandungan variasi A dan variasi B yaitu (1:2). Efektivitas kinerja bakteri akan dinyatakan dengan persentasi healing efficiency. Hasil yang diperoleh adalah mortar inokulum memiliki nilai healing efficiency sebesar 65,5%. Sedangkan mortar beads hanya mencapai 62%. Selain itu ditemukan bahwa mortar dengan zat nutrisi variasi A memiliki hasil yang sedikit lebih baik daripada zat nutrisi variasi B dengan nilai healing efficiency beads 65% dan inokulum 70%. Sedangkan mortar dengan zat nutrisi variasi B hanya memiliki nilai healing efficiency beads 59% dan inokulum 61%
Studi Analisis Perencanaan Gedung Hotel Exindo 57 Nganjuk Jawa Timur Menggunakan Struktur Komposit
Hotel Exindo 57 Nganjuk Jawa Timur merupakan bangunan bertingkat tinggi yang dibangun dengan struktur beton bertulang yang memiliki beban mati relatif besar, yang dapat menyebabkan gaya geser yang dapat mempengaruhi kekuatan struktur terhadap gempa. Oleh karena itu, dilakukan analisis perencanaan yang melibatkan penggunaan struktur baja kompisit dalam perencanaan hotel. Menurut analisis berdasarkan LRFD (Load and Resistance factor Design) dan SNI 1729:2020, didapatkan bahwa beban hidup, beban mati, dan beban gempa memiliki dampak yang lebih signifikan pada daerah tumpuan. Hasil analisis perhitungan pada kondisi sebelum komposit dan setelah komposit mengalami perubahan. Pada Balok induk sebelum komposit Mn= 44,5388 kNm dan setelah komposit Mn= 575,069 kNm, untuk balok anak pada kondisi sebelum komposit Mn= 2,1478 kNm dan setelah komposit Mn= 181,054 kNm. Hal ini menunjukkan bahwa pembesaran momen pada struktur komposit sangat berbeda-beda tergantung pada variabel yang digunakan untuk menganalisis komposit.
Kata Kunci: Hotel Exindo 57, struktur baja komposit, baja beton, balok baja, bangunan tahan gemp
ANALISIS STABILITAS LERENG MENGGUNAKAN PEKUATAN DOUBLE ROW PILE DENGAN VARIASI POSISI DAN JARAK ANTAR PILE PADA RUAS JALAN NASIONAL, DESA BATURITI, KECAMATAN BATURITI, KABUPATEN TABANAN, BALI
Keruntuhan lereng merupakan peristiwa yang terjadi ketika gaya penahan lebih kecil dari gaya penyebab longsor. Salah satu contoh keruntuhan lereng yang terjadi adalah lereng di ruas Jalan Nasional, Baturiti, Tabanan Bali. Salah satu langkah antisipasi mencegah keruntuhan lereng pada masa mendatang adalah dengan menggunakan perkuatan berupa tiang dua baris. Perlu dilakukan penelitian untuk mencari tahu pengaruh dari variasi tiang baris kedua untuk mendapat perkuatan yang optimum. Penelitian ini dilakukan untuk mengamati pengaruh variasi posisi dan jarak antar pile baris kedua pada sistem perkuatan pile dua baris. Posisi pile yang digunakan adalah Lx2/L = 0,4; Lx2/L = 0,5; Lx2/L = 0,6; Lx2/L = 0,7. Sementara jarak antar pile yang digunakan adalah S/D = 3; S/D = 4; S/D = 5; S/D = 6. Analisis stabilitas lereng dilakukan dengan program metode elemen hingga yaitu PLAXIS 2D dan PLAXIS 3D. Pemodelan lereng dilakukan sesuai lereng asli di lapangan, meliputi geometri lereng, lapisan tanah, dan parameter tanah. Pembebanan dilakukan dengan beban vertikal pada puncak lereng dan juga beban gempa. Berdasarkan hasil analisis, didapat tipe keruntuhan lereng yang terjadi adalah keruntuhan kaki lereng. Hasil penelitian menunjukan bahwa variasi yang digunakan berpengaruh pada peningkatan nilai angka keamanan yang didapat. Semakin kecil jarak antar tiang maka semakin besar nilai angka keamanan yang didapat, namun konfigurasi dari tiang juga berpengaruh terhadap nilai angka keamanannya. Sementara semakin deket posisi tiang pada kaki lereng maka semakin besar pula nilai angka keamanan yang didapat. Sistem perkuatan lereng menggunakan tiang dua baris mampu meningkatkan nilai angka keamanan lereng hingga 37,74% terhadap lereng tanpa perkuatan. Peningkatan paling besar tersebut diperoleh menggunakan variasi posisi Lx2/L = 0,4 dan jarak antar tiang S/D = 3.
Kata kunci : Angka keamanan lereng, perkuatan lereng, tiang, posisi tiang, jarak antar tian