Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
1439 research outputs found
Sort by
Pengaruh Penambahan Rasio Tulangan Terhadap Daktilitas Kurvatur Kolom Bertulang Dengan Baja Tulangan Berdasarkan SNI 2847:2019 (Studi Kasus Kampus Vokasi Universitas Brawijaya)
Sebagian besar wilayah di Indonesia merupakan wilayah rawan gempa. Hal ini dikarenakan secarageografis Indonesia terletak pada jalur cincin api Pasifik yaitu jalur zona aktif dengan deretan gunung vulkanisaktif di Kawasan Pasifik. Kepulauan Indonesia secara geologis terletak pada per temuan dua jalur utama gempa,yaitu jalur gempa Sirkum Pasifik dan Alpine TransasiaticKolom merupakan suatu bagian yang sangat krusial yang wajib untuk diperhatikan dalam setiappembangunan struktur. Adalah sebuah struktur utama yang berguna untuk meneruskan berat dari suatu bangunandan beban lain dari suatu struktur. Kegagalan fungsi pada suatu kolom dapat menyebabkan keruntuhan seluruhstruktur.Pada penelitian ini, gedung yang menjadi objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah gedungVokasi Universitas Brawijaya. Kemudian, peneliti akan menggunakan Software SAP2000 v.22 untuk melakukanpemodelan agar mendapatkan reaksi dan juga gaya-gaya dalam yang terjadi di bangunan tersebut, data yangdigunakan adalah data yang didapatkan dari metode studi dokumen. Setelah peneliti melakukan analisis data,data tersebut akan digunakan untuk menghitung rasio tulangan kolom berdasarkan peraturan yang berlaku.Selanjutnya, rasio penulangan akan dilakukan variasi guna mengetahui perbandingan dari daktilitas kurvaturyang terjadi di kolom.Permodelan struktur Gedung Kampus Vokasi Universitas Brawijaya dilakukan menggunakan programbantu SAP 2000. Pada program SAP 2000, struktur ini akan dimodelkan sesuai dengan kondisi yang nyata.Program ini akan membantu dalam beberapa perhitungan yang akan digunakan untuk mengecek apakah struktursudah memenuhi persyaratan yang ada di SNI 1726:2019Kata Kunci : Daktilitas Kurvatur, Rasio Tulangan, Kolom Bertulan
STUDI EKSPERIMEN PENGGUNAAN BETON BERAGREGAT DAUR ULANG TERHADAP SERANGAN NATRIUM SULFAT DENGAN SIKLUS KERING-BASAH
Infrastructure development in Indonesia is currently growing rapidly in coastal areas because Indonesia has the second longest coastline in the world, development in coastal areas has a high risk of damage due to sodium sulfate contained in seawater. The ebb and flow of seawater cause parts of the concrete to be submerged during high tide and exposed to air during low tide. Sodium sulfate attack with dry-wet cycle 3:1 is known to be the most damaging to concrete. The use of recycled coarse aggregate is also expected to be a solution to the increasing amount of concrete waste from construction. This study used cylindrical specimens measuring 15 x 30 cm using normal coarse aggregate (NCA) and recycled coarse aggregate (RCA). The dry-wet cycle begins when the concrete is 28 days old with 3 dry days and 1 wet day using 4% Na2SO4 by weight of water. The tests were carried out at the age of the concrete at 28, 84, and 168 days. From this study, it is known that the value of compressive strength of concrete is directly proportional to the value of the modulus of elasticity of concrete, where the value of the compressive strength and modulus of elasticity in RCA concrete is lower than that of NCA concrete. In addition, there is a decrease in mass in both variations with the largest decrease in RCA concrete.
Keyword: Sodium sulfate, Wet-dry ratio, Recycled Coarse Aggregate (RCA
Studi Pola Arus Teluk Lamong Akibat Pasang Surut
Sejak tahun 2011 hingga saat ini Selat Madura telah mengalami beberapa pembangunan pulau reklamasi. Pulau reklamasi ini memberikan dampak terhadap pola dan besaran arus yang ada akibat dari perubahan parameter oseanografi. Salah satu parameter yang berubah adalah pasang surut akibat dari kondisi astronomis benda-benda langit. Pola dan besaran ini sangat dipengaruhi oleh perubahan parameter luas wilayah lautan dan pasang surut. Informasi pola arus sangatlah penting untuk kepentingan pelayaran, misalnya untuk menentukan alur pelayaran, navigasi kapal, dan tata letak pelabuhan. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukannya studi pola arus ini untuk mengetahui model pasang surut di kawasan Teluk Lamong, pola arus sebelum dan sesudah adanya pulau reklamasi, dan bagaimana kondisi eksisting kecepatan arus jika dibandingkan dengan ketentuan kapal untuk bersandar di pelabuhan. Melalui hasil analisis didapatkan bawah untuk koordinat (6°56\u2703\u27\u27 LS, 112°42\u2743" BT) bulan Maret memiliki tipe diurnal atau harian tunggal dengan nilai formzahl lebih dari 3, sedangkan untuk koordinat (7°11\u2724.3" LS, 112°46\u2744" BT) untuk bulan Maret merupakan mixed tide prevailing semidiurnal dengan nilai formzahl dengan rentang 0.25 < F < 1.5. Melalui perhitungan software numerik didapatkan bahwa kondisi pasang surut purnama pada model bulan Maret mendapatkan nilai 0.5624 m dan -0.8046 m, sedangkan untuk kondisi pasang surut perbani didapatkan nilai 0.0228 m dan -0.1292 m. Hasil analisis pola arus pada Teluk Lamong pada saat pasang maupun surut memiliki perbedaan baik pada arah ataupun kecepatan. Kecepatan arus terbesar terjadi saat kondisi pasang purnama dengan kecepatan 0.0225 m/s di daerah pelabuhan milik PT Wilmar Nabati dan kecepatan 0.0131 m/s di pelabuhan Teluk Lamong, namun untuk pelabuhan Surabaya nilai terbesar didapat pada kondisi pasang perbani dengan kecepatan 0.0303 m/s. Melalui perbandingan antara model non-reklamasi dan reklamasi didapatkan bahwa perbandingan antara nilai kecepatan relatif tidak signifikan dan perbandingan pola arus pada daerah Teluk Lamong juga tidak berubah. Ketika terjadi pasang dari selatan menuju utara sedangkan saat kondisi surut maka akan bergerak dari utara menuju selatan. Analisis kecepatan dan arah arus untuk alur pelayaran kapal pada model didapatkan nilai yang masih aman dikarenakan pada semua model memiliki kecepatan < 1 m/s, sehingga tidak terdapat rekomendasi khusus terhadap kapal untuk bersandar pada saat-saat tertentu.
Kata Kunci: Arus, Pemodelan hidrodinamika, Pasang surut, Alur pelayaran, Reklamasi
Redesain Kolom Bangunan Menggunakan Struktur Beton Bertulang Kolom Pipih
Perencanaan merupakan faktor utama dalam menjamin kekuatan dan keamanan bangunan, semakin besar beban yang harus di pikul oleh struktur semakin besar juga penompang struktur yang di butuhkan agar mampu memikul beban yang ada. Pada penelitian ini akan membahas penggunaan kolom pipih sebagai penompang struktur yang di gunakan pada gedung yang sebelumnya memakai kolom konvensional (persegi). Redesain kolom pipih ini bertujuan untuk efesiensi ruangan/tempat dan menambah nilai estetika dalam suatu ruangan di bandingkan dengan penggunaan kolom konvensional serta juga memperkenalkan gaya arsitektur kolom pipih yang juga layak untuk digunakan pada bangunan gedung. Kolom pipih yang akan di gunakan pada penelitian ini dengan bentuk yang bervariasi yaitu bentuk T, L, dan I. Ukuran lebar kolom yang direkomendasikan pada penelitian ini adalah 150mm sesuai dengan ketebalan dinding. Perencanaan kolom pipih ini berlokasi di Wilayah Sumatera Barat dengan fungsi bangunan Kantor. Bangunan dibangun diatas tanah dengan kondisi sedang,sehingga bangunan masuk kedalam kategori desain seismik kelas D. pada SNI 1726:2019, bangunan kantor tersebut tergolong kedalam jenis sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK). Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan analisis statik ekivalen beradasarkan SNI 1726:2019. Dari hasil redesain kolom konvensional menjadi kolom persegi diperoleh dimensi kolom bentuk T; mm dengan konfigurasi tulangan 12-D19, Untuk kolom pipih L;mm dengan konfigurasi tulangan 12-D16, dan dimensi kolom I;mm dengan konfigurasi tulangan 12-D16.
Kata Kunci: Kolom Pipih, Statik Ekivalen, Diagram Interaksi, Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK).
 
Analisis Stabilitas Lereng Menggunakan Perkuatan Double Row Pile dengan Variasi Diameter dan Jarak Antar Pile pada Ruas Jalan Nasional, Desa Baturiti, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali
Akibat ketidakseimbangan gaya yang bekerja pada lereng ruas Jalan Nasional km 39+900, Baturiti, Tabanan, Bali, terjadi bencana longsor. Untuk menghindari terjadinya kembali kelongsoran pada lereng, diperlukan perkuatan, salah satunya dengan menggunakan pile sebanyak dua baris. Untuk mengetahui perkuatan yang optimum, diperlukan simulasi pemodelan akan pengaruh variasi diameter dan jarak pemasangan antar pile yang digunakan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi diameter dan jarak antar pile baris kedua dalam sistem perkuatan pile dua baris. Diameter yang digunakan adalah 0,3 m; 0,4 m; 0,5 m dan jarak antar pile yang digunakan adalah S/D=3 (1,8 m); S/D=4 (2,4 m); S/D=5 (3 m); S/D=6 (3,6 m). Analisis dilakukan dengan bantuan program metode elemen hingga yaitu software PLAXIS 2D dan PLAXIS 3D untuk mengetahui angka keamanan lereng. Lereng dimodelkan sesuai dengan keadaan lapangan yang meliputi geometri lereng, lapisan tanah, dan parameter tanah. Pembebanan pada model lereng meliputi beban vertikal pada puncak lereng yang mewakili beban lalu lintas dan beban gempa. Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan bahwa tipe keruntuhan lereng tanpa perkuatan adalah toe failure (keruntuhan pada kaki lereng). Variasi yang diterapkan pada baris kedua pile berpengaruh pada nilai angka keamanan pada lereng. Semakin besar diameter pile yang digunakan maka semakin besar nilai angka keamanan yang didapatkan. Analisis variasi jarak antar pile pada baris kedua memiliki hasil yang berbeda berdasarkan software yang digunakan. Pada PLAXIS 2D angka keamanan lereng semakin besar dengan mengecilnya jarak antar pile, namun tidak pada PLAXIS 3D karena adanya pengaruh soil arching antara pile baris pertama dengan pile baris kedua yang tidak terdeteksi pada PLAXIS 2D. Sistem perkuatan lereng menggunakan dua baris tiang berhasil meningkatkan nilai angka keamanan lereng hingga 36.174% (PLAXIS 2D) dan 34,393% (PLAXIS 3D) dibandingkan dengan lereng tanpa perkuatan. Peningkatan terbesar didapatkan dengan menggunakan variasi diameter 0,6 m dan jarak antar tiang S/D = 3 (1,8 m).
Kata kunci : lereng, longsor, angka keamanan, perkuatan lereng, tian
PENGARUH MANAJEMEN PENGETAHUAN TERHADAP MANAJEMEN KUALITAS PADA PERUSAHAAN KONSTRUKSI (STUDI KASUS PERUSAHAAN KONTRAKTOR X DI SURABAYA)
Manajemen pengetahuan sangat penting bagi organisasi dalam menghadapi persaingan bisnis yang kompleks dan cepat berubah. Ini mencakup proses menciptakan, mengelola, dan memanfaatkan pengetahuan organisasi untuk meningkatkan kinerja dan keunggulan kompetitif. Kualitas juga memiliki peran krusial dalam keberhasilan suatu produk, layanan, atau proses. Kualitas yang buruk dapat mengecewakan pelanggan, menimbulkan biaya lebih tinggi, dan bahkan membahayakan keselamatan. Oleh karena itu, perusahaan menggunakan manajemen kualitas untuk mencapai standar kualitas tinggi dan meningkatkan keunggulan kompetitif mereka. Di Surabaya, perusahaan konstruksi menghadapi tantangan dalam mencapai kualitas tinggi karena masalah koordinasi, kualitas tenaga kerja, dan pengelolaan pengetahuan yang kurang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen pengetahuan mempengaruhi manajemen kualitas, karena keduanya saling terkait dan berkontribusi pada kesuksesan organisasi.
Kata Kunci: Manajemen Pengetahuan, Manajemen Kualita
PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN REL SEBAGAI BAGIAN REAKTIVASI JALAN REL BONDOWOSO-TAPEN
Berdasarkan survei Humas Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Timur sebanyak 87,05% warga dan pengguna jalan raya di jalur Bondowoso-Tapen ingin berpindah ke moda transportasi kereta api. Maka dari itu upaya yang dilakukan Kementerian Perhubungan yaitu dengan rencana mereaktivasi jalur kereta Bondowoso-Tapen yang sudah berhenti beroperasi sejak 2004. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk geometrik pada jalur Bondowoso-Tapen. Berdasarkan hasil perencanaan lengkung horizontal, didapatkan sebanyak 14 lengkung. Dari 14 lengkung tersebut didapat 11 lengkung Spiral-Circle-Spiral dan 3 lengkung Full Circle. Sedangkan pada perencanaan lengkung vertikal, didapatkan hasil 17 lengkung, diantaranya 8 lengkung cembung dan 9 lengkung cekung
Studi Analisis Perencanaan Gedung 10 Lantai Hotel Namira Surabaya Menggunakan Struktur Komposit
Hotel Namira Surabaya adalah bangunan bertingkat yang dibangun dengan struktur beton bertulang yang memiliki beban mati relatif besar, yang dapat menyebabkan gaya geser yang dapat mempengaruhi kekuatan struktur terhadap gempa. Oleh karena itu, diperlukan analisis perencanaan yang melibatkan penggunaan struktur baja komposit dalam perencanaan hotel. Menurut analisis berdasarkan LRFD (Load and Resistance Factor Design) dan SNI 1729:2020, didapatkan bahwa beban hidup, beban mati, dan beban gempa memiliki dampak yang lebih signifikan pada daerah tumpuan. Hasil analisis perhitungan dari kondisi sebelum komposit dan setelah komposit mengalami perubahan. Pada balok induk sebelum komposit (phi) Mn= 248,82 kNm dan setelah komposit (phi) Mn= 524,1664 kNm, untuk balok anak sebelum komposit (phi) Mn= 143,88 km dan setelah komposit (phi) Mn= 353,113802 kNm. Hal ini menunjukkan bahwa pembesaran momen pada struktur komposit sangat berbeda-beda tergantung pada variabel yang digunakan untuk menganalisis komposit.
Kata kunci: Hotel Namira, struktur komposit, baja beto
PERBANDINGAN KEKUATAN TEKAN BETON USIA 8 JAM UNTUK DUA JENIS SEMEN
Indonesia merupakan Negara berkembang yang banyak melakukan pembangunaninfrastruktur. Pembangunan infrastruktur membutuhkan bahan struktural yang memilikikekuatan tinggi, bahan struktural yang paling sering digunakan adalah beton dengan kuat tekanawal yang tinggi. Untuk membuat beton mutu tinggi diperlukan semen dalam jumlah banyakdan jumlah FAS yang kecil. Semen Portland merupakan material yang sangat penting dalamproses pembuatan beton, namun dalam penggunaan semen Portland yang terlalu banyakmemiliki dampak yang kurang ramah terhadap lingkungan. Maka dalam penelitian inidigunakan semen GGBFS sebagai bahan pengganti sebagian fungsi semen pada campuranbeton. Penggunaan GGBFS dan bahan tambah diharapkan mampu mempengaruhi kuat tekanawal dan waktu pengerasan beton. Mix design direncanakan menghasilkan beton dengan kuattekan awal tinggi dengan menggunakan semen GGBFS. Variasi material yang digunakanadalah semen Narogong dan semen Tuban dengan subtitusi GGBFS sebesar 20%, 30% , 50%.FAS 0,25 dan 0,35 serta umur beton 8 jam. Benda uji silinder yang digunakan memiliki dimensi15 x 30 cm. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan semen GGBFS dan FAS berpengaruhterhadap kuat tekan awal beton. Penggunaan FAS dengan jumlah kecil menghasilkan nilai kuattekan awal yang lebih baik. Campuran semen Narogong menunjukkan nilai kuat tekan awalyang lebih tinggi dibandingkan dengan campuran semen Tuban. Campuran beton yangmemberikan nilai kuat tekan awal tertinggi terjadi pada kadar GGBFS 30% dan FAS 0,25dengan kuat tekan awal rata-rata sebesar 3,48 MPa.Kata kunci : kuat tekan awal, semen GGBFS, FAS, campuran beton
ANALISIS PERILAKU TEGANGAN DAN REGANGAN PADA PORTAL 2 BENTANG DENGAN VARIASI PENEMPATAN BRACING EKSENTRIS PENDEK TIPE INVERTED V MENGGUNAKAN SOFTWARE ABAQUS
Bangunan di daerah seismik seperti Indonesia harus didesain untuk menahan gaya lateral akibatgempa. Bentuk struktur yang mampu menahan gaya gempa adalah perletakan pengaku melintang (bracing)pada elemen struktur rangka portal. Konfigurasi yang umum digunakan untuk sistem rangka bresing adalahConcentrically Braced Frame (CBF) dan Eccentrically Braced Frame (EBF). EBF memiliki kekakuan elastisyang sangat baik dengan beban lateral dan daktilitas yang baik dengan beban seismik. Pemodelan strukturportal dibuat menjadi 2 bentang berukuran 4 x 4 m tiap bentangnya dengan mutu baja BJ-37. Penelitimenggunakan tipe bracing Inverted V eksentris pendek dengan variasi penempatan bracing di salah satubentang baik kanan dan kiri serta di kedua bentang kanan-kiri. Tiap model struktur portal akan dibagi menjadidua meshing yaitu meshing renggang (4) dan meshing rapat (25). Beban maksimum lateral statis diletakkanpada pojok kiri atas model struktur. Selanjutnya dilakukan running pada software ABAQUS hingga strukturmengalami keruntuhan untuk mendapatkan hasil output berupa tegangan maksimum dan regangan maksimumtiap model. Output analisis menunjukkan bahwa nilai tegangan maksimum pada komponen link beammerupakan nilai tegangan terbesar jika dibandingkan dengan komponen struktur di luar link beam (balok,kolom, bracing). Penempatan bracing pada kedua bentang portal (kanan-kiri) memberikan nilai tegangan danregangan yang paling besar namun tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan kedua model lainnya.Sehingga dari segi ekonomis, model struktur dengan penempatan bracing di salah satu bentang lebih efektif.Lalu pada struktur portal dengan penempatan bracing di kedua bentang (kanan-kiri) memiliki nilai beban inputpaling besar dan persebaran elemen kritis paling minimal apabila dibandingkan dengan kedua model lain.Dalam aspek pengaruh jumlah meshing, didapatkan hasil yang berbeda antara meshing rapat dan renggang.Kata Kunci : tegangan, regangan, penempatan bracing Inverted V, portal dua bentang, ABAQU