Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
    1439 research outputs found

    Analisis Faktor Risiko Kritis dalam Penerapan Konstruksi Modular Berdasarkan Persepsi Perusahaan Konstruksi di Jakarta

    No full text
    Industri konstruksi sedang mengalami tantangan terkait dampak lingkungan, produktivitas, dan efisiensi. Teknologi konstruksi modular dapat menjadi alternatif untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada pemahaman dan kesiapan perusahaan dalam manajemen risiko, terutama pada tahap desain dan perencanaan. Penelitian ini mengidentifikasi faktor risiko kritis dalam desain dan perencanaan pada proyek konstruksi modular melalui survei kuantitatif terhadap perusahaan konstruksi di Jakarta yang pernah menangani proyek konstruksi modular di Indonesia. Dengan menggunakan analisis Severity Index (SI) dan matriks risiko, studi ini menemukan lima faktor risiko kritis. Risiko kritis ini mencakup isu-isu seperti perubahan desain oleh klien, kesalahan toleransi, kesenjangan informasi, serta spesifikasi dan gambar desain yang tidak lengkap. Kata kunci: Konstruksi Modular, Manajemen Risiko, Severity Inde

    Analisis Pengaruh Perkuatan Struktur Gedung dengan Rangka Bresing Eksentrik terhadap Ketidakberaturan Torsi, Simpangan, dan Gaya Dalam

    No full text
    Struktur gedung bertingkat di Indonesia rentan terhadap deformasi tidak teratur akibat ketimpangan kekakuan, terutama pada area evakuasi yang diperkuat dinding beton bertulang (dinding geser). Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan eksentrisitas antara pusat massa dan pusat kekakuan, memicu ketidakberaturan torsi saat terjadi gempa. Penelitian ini menganalisis pengaruh penambahan rangka bresing eksentrik (RBE) terhadap perilaku seismik struktur, khususnya pada ketidakberaturan torsi, simpangan, dan gaya-gaya dalam. Analisis dilakukan secara komparatif terhadap empat varian model struktur gedung bertingkat tujuh, dengan satu model eksisting tanpa RBE dan tiga model lainnya mengintegrasikan RBE dengan variasi panjang link horizontal (50 cm, 100 cm, dan 150 cm). Hasil menunjukkan bahwa model dengan RBE ber-link 50 cm (Model 2) memberikan kinerja paling optimal, mereduksi eksentrisitas hingga 30,15%, menurunkan simpangan antar lantai hingga 70%, serta menurunkan klasifikasi ketidakberaturan torsi dari kategori B menjadi A. Penambahan RBE juga menyebabkan redistribusi gaya dalam, dengan peningkatan gaya aksial dan geser pada area bresing, serta penurunan gaya pada elemen struktur utama lainnya. Panjang link yang lebih besar (100 cm dan 150 cm) justru menurunkan efektivitas kontrol deformasi. Dengan demikian, pemilihan konfigurasi RBE yang tepat berperan penting dalam perbaikan kinerja seismik gedung bertingkat dengan ketimpangan kekakuan

    Analisis Stabilitas Lereng dengan Perkuatan Soil Nailing dengan Variasi Jarak dan Kemiringan Menggunakan Metode Elemen Hingga

    No full text
    Pada proyek pembangunan Jalan Baru Kretek-Girijati D.I Yogyakarta, salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah kondisi topografi yang curam dan adanya lereng galian yang cenderung tegak sehingga memicu terjadinya kelongsoran lokal. Oleh karena itu, diperlukan struktur perkuatan untuk menstabilkan lereng sehingga tidak terjadi keruntuhan pada lereng tersebut. Kondisi ini tidak hanya membahayakan keselamatan pengguna jalan, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan pada infrastruktur yang sudah dibangun. Salah satu struktur perkuatan lereng yang sering digunakan adalah soil nailing. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis stabilitas lereng yang telah diberi perkuatan soil nailing, serta mengevaluasi pengaruh variasi jarak dan sudut kemiringan nail dari horizontal terhadap faktor keamanan lereng. Penelitian ini dilakukan melalui analisis secara numerik berbasis Metode Elemen Hingga (Finite Element Method) yang dimodelkan menggunakan perangkat lunak geoteknik. Metode ini dipilih karena kemampuannya dalam mensimulasikan perilaku tanah secara detail, termasuk interaksi antara tanah dan elemen perkuatan seperti soil nailing. Pemodelan lereng didasarkan pada keadaan aslinya dengan menggunakan data sekunder berupa parameter tanah, seperti sifat-sifat tanah dan modulus elastisitas, serta data material soil nailing. Analisis dilakukan dengan variasi jarak nail sebesar 1,1 m, 1,2 m, 1,3 m, dan 1,4 m serta untuk variasi kemiringan nail yaitu sebesar 100, 120, 150, 170, dan 200. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lereng tanpa perkuatan memiliki nilai faktor keamanan (FS) di bawah ambang stabilitas minimum yang direkomendasikan (FS ≥ 1,5), yaitu sebesar 1,287 sehingga diperlukan perkuatan. Dari hasil analisis, kombinasi jarak 1,1 m dan kemiringan 20° terbukti menjadi konfigurasi paling optimal karena mampu meningkatkan nilai FS hingga sebesar 29,22% dan menghasilkan FS tertinggi yaitu 1,663 sehingga memenuhi persyaratan stabilitas lereng berdasarkan SNI 8460:2017 dan FHWA 2003. Kata kunci :   lereng, soil nailing, stabilitas, variasi jarak, variasi kemiringa

    Analisis Tantangan dalam Penerapan Konstruksi Modular pada PT X di Jakarta

    No full text
    Perkembangan industri konstruksi di Indonesia menghadapi tantangan untuk terus berinovasi dalam menghadirkan solusi yang efisien, cepat, dan ramah lingkungan. Salah satu metode konstruksi modern yang mulai dilirik adalah konstruksi modular, yaitu sistem pembangunan dengan cara memproduksi komponen bangunan di pabrik dan merakitnya di lokasi proyek. Metode ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi waktu dan biaya, meminimalkan limbah konstruksi, serta mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan. Namun, di balik berbagai keunggulannya, implementasi konstruksi modular di Indonesia masih terbatas dan menghadapi berbagai hambatan seperti biaya awal yang tinggi, keterbatasan tenaga kerja terampil, serta kurangnya regulasi yang mendukung.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor tantangan yang mempengaruhi penerapan konstruksi modular di perusahaan konstruksi di Jakarta. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner, yang kemudian dianalisis menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk identifikasi tantangan utama dan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tantangan terbesar yang dihadapi adalah tingginya biaya awal serta kurangnya sumber daya manusia yang menguasai teknologi modular. Temuan ini dapat menjadi dasar penyusunan strategi implementasi yang lebih tepat guna dalam mendorong adopsi konstruksi modular di Indonesia

    Studi Komparatif Lebar Retak Balok Beton Bertulang melalui Pemodelan Elemen Hingga dan Pendekatan Teoritis dengan Variasi Jumlah Lapis Tulangan Tarik

    No full text
    Pada balok beton bertulang, tulangan tarik umumnya dipasang pada sisi bawah balok secara merata. Namun bila jarak antar batang tulangan tidak memenuhi jarak minimum, tulangan dapat disusun menjadi beberapa lapis. Konfigurasi ini berpengaruh terhadap perilaku lentur balok, termasuk terhadap lebar retak yang merupakan indikator penting yang dapat memicu korosi pada tulangan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan lebar retak maksimum balok beton bertulang dengan variasi jumlah lapis tulangan tarik menggunakan metode elemen hingga (FEM) melalui software Abaqus dan pendekatan teoritis berdasarkan SNI 2847:2002, JSCE SSCS 2007, dan Eurocode 2 (1992-1-1:2004). Data analisis FEM menggunakan output tegangan baja (S11) dan regangan plastis beton (PE11), yang kemudian digunakan untuk menghitung lebar retak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah lapis tulangan tarik, lebar retak cenderung menurun. Pemodelan dengan Abaqus menghasilkan nilai lebar retak yang secara konsisten lebih besar dibandingkan pendekatan teoritis dengan deviasi antar pendekatan teoritis antara 8-17

    ANALISIS DAKTILITAS KURVATUR BALOK AKIBAT PERBEDAAN BEBAN GEMPA RENCANA MENURUT SNI 1726:2002 DAN SNI 1726:2019 (STUDI KASUS GEDUNG A TEKNIK PENGAIRAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA)

    No full text
    Bangunan tahan gempa dibangun dengan mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan. Dalam analisis ini dapat diketahui perbandingan antara beban gempa yang mengacu pada SNI 1726:2002 dan SNI 1726:2019 serta pengaruhnya terhadap suatu bangunan. Pada analisis ini dibuat dua pemodelan yang dibantu software SAP 2000 dengan input beban gempa yang berbeda. Dari pemodelan yang telah dibuat diambil dua sampel balok dari pemodelan SNI 1726:2002 dan pemodelan SNI 1726:2019 yang memiliki momen terbesar. Perbedaan nilai momen yang dihasilkan membuat desain tulangan lentur balok yang dibutuhkan berbeda, sehingga nilai momen kurvatur dan daktilitas kurvatur yang dihasilkan juga berbeda. Kata kunci: Beban Gempa, SNI 1726, Tulangan, Momen Kurvatur, Daktilitas Kurvatur

    PENERAPAN METODE JUST IN TIME DALAM MANAJEMEN PENGADAAN BAJA TULANGAN (STUDI KASUS : PROYEK PEMBANGUNAN UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG TAHAP II)

    No full text
    Pembangunan di Indonesia terus berkembang pesat, termasuk dalam sektor konstruksi, yang menuntut manajemen material lebih efektif. Baja tulangan memiliki peran strategis dalam menentukan kekuatan dan ketahanan struktur bangunan, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara efisien untuk menghindari keterlambatan, pemborosan, dan penumpukan material. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode Just In Time (JIT) dalam pengadaan baja tulangan serta mengoptimalkan tata letak lokasi proyek guna meningkatkan efisiensi pekerjaan. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis pola pengadaan baja tulangan menggunakan metode JIT dan metode eksisting pada Proyek Pembangunan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Tahap II. Analisis meliputi aspek volume kedatangan material, frekuensi, dan interval waktu pengadaan. Selain itu, dilakukan simulasi pengaturan tata letak fasilitas proyek dengan beberapa skenario untuk meminimalkan jarak tempuh pekerja dan material. Data dianalisis dan dibandingkan dengan data aktual proyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode JIT menghasilkan pola pengadaan baja tulangan yang lebih efisien dibandingkan metode eksisting. Volume rata-rata per kedatangan pada metode JIT sebesar 25.984,69 kg lebih kecil dibandingkan metode eksisting sebesar 57.486,05 kg. Frekuensi kedatangan meningkat dari 14 kali (eksisting) menjadi 28 kali (JIT), dengan interval rata-rata lebih pendek, yaitu 4,2 hari dibandingkan 14,43 hari. Dari segi tata letak, skenario 3 yang menghilangkan stockyard besi temporer dan memindahkan gudang ke lokasi yang lebih strategis mampu mengurangi traveling distance dari 13.438 meter menjadi 12.523 meter, atau berkurang sebesar 6,81%. Langkah ini juga mendukung pengurangan volume baja tulangan sebesar 33%, sehingga mengurangi risiko penumpukan material dan meningkatkan kelancaran pekerjaan di lokasi proyek. Kata Kunci: Baja Tulangan, Manajemen Material, Just In Time, Site Layout

    Analisa Manajemen Baja Tulangan dengan Metode Just in Time (Studi Kasus: Gedung Office Proyek Pembangunan Kawasan Sains dan Teknologi(KST) Badan Riset dan Inovasi Nasional, Babarsari, Yogyakarta)

    No full text
    Penelitian ini mengkaji manajemen pengadaan baja tulangan dalam proyek konstruksi gedung perkantoran di Kawasan Sains dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Babarsari, Yogyakarta. Baja tulangan, sebagai material kritis dalam konstruksi beton, kerap menghadapi permasalahan kompleks seperti keterlambatan pengiriman, penyimpanan berlebih, dan pergerakan material yang tidak efisien. Dalam konteks ini, Metode Just in Time (JIT) diidentifikasi sebagai pendekatan strategis untuk mengatasi tantangan manajemen material konstruksi, dengan prinsip utama mengoptimalkan pengiriman material tepat pada saat dibutuhkan, mengurangi pemborosan, menghindari penumpukan berlebih, dan menjaga kualitas material. Hasil penelitian menunjukkan keunggulan signifikan metode JIT dibandingkan metode konvensional. Metode JIT berhasil menurunkan volume kedatangan material sebesar tujuh puluh persen, dengan frekuensi pengiriman yang lebih tinggi dan jumlah material per kedatangan yang lebih konsisten. Pengurangan fasilitas stockyard dari dua lokasi menjadi satu lokasi turut mendukung efisiensi ruang dan manajemen material. Analisis traveling distance menggunakan Autodesk Revit mengungkapkan penurunan jarak perpindahan sebesar sebelas persen, yang menunjukkan bahwa metode JIT tidak sekadar mengoptimalkan manajemen material, tetapi juga secara signifikan mengurangi jarak perpindahan pekerja dan material di lokasi proyek. Optimasi tata letak (site layout) menjadi komponen kunci dalam implementasi metode JIT. Perencanaan layout yang efisien memfasilitasi alur kerja yang lebih lancar, memaksimalkan penggunaan ruang, dan mengurangi pergerakan yang tidak perlu. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa implementasi metode Just in Time dalam pengadaan baja tulangan, diperkuat dengan optimalisasi tata letak, terbukti mampu meningkatkan efisiensi manajemen material. Metode ini tidak hanya menyederhanakan proses logistik, tetapi juga mendukung kelancaran distribusi material, memberikan fleksibilitas pengadaan yang lebih baik, dan pada akhirnya mengoptimalkan produktivitas proyek konstruksi. Kata Kunci: Manajemen Pengadaan, Baja Tulangan, Just in Time, Proyek Konstruksi, Optimasi Tata Leta

    Analisis Kinerja Seismik Irregular Building Menggunakan Metode Analisis Pushover serta Pengaruh Penambahan Perkuatan Bracing

    No full text
    Indonesia merupakan negara yang rawan terjadi gempa bumi karena berada pada kawasan dengan aktivitas vulkanik dan tektonik yang tinggi. Umumnya, pada daerah yang rawan terjadi gempa bumi bangunan akan didesain dengan bentuk yang beraturan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu kebutuhan manusia akan fungsi bangunan yang semakin beragam dan keinginan akan nilai estetika yang semakin tinggi menuntut bangunan tidak selalu bisa didesain dengan bentuk yang beraturan. Hal ini yang kemudian akan melahirkan sebuah konsep bernama bangunan tidak beraturan atau irregular building. Bangunan tidak beraturan atau irregular building memiliki kelemahan yaitu timbulnya torsi atau puntir pada struktur. Torsi atau puntir dapat timbul karena terdapat eksentrisitas yang merupakan jarak antara titik pusat massa dan kekakuan. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk tetap memastikan bangunan irregular aman di daerah yang rawan terjadi gempa adalah dengan mengaplikasikan perkuatan bracing baja. Pada penelitian ini, akan dilakukan peninjauan terhadap kinerja struktur menggunakan analisis pushover dan dilakukan peninjauan terhadap eksentrisitas pada struktur dengan denah struktur berbentuk T dan memiliki tinggi 10 lantai. Material yang digunakan adalah beton bertulang. Bangunan yang dimodelkan berfungsi sebagai apartemen dengan dua jenis fungsi ruang utama yaitu kamar dan gudang penyimpanan. Denah penggunaan fungsi ruang akan divariasikan dengan menempatkan gudang penyimpanan pada daerah tonjolan yang jauh dari pusat kekakuan (denah tipe 1) dan pada daerah utama yang dekat dari pusat kekakuan (denah tipe 2). Selain itu pada denah tipe 1, akan diaplikasikan 3 jenis variasi penggunaan perkuatan bracing baja. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa denah tipe 2 lebih baik dibandingkan dengan denah tipe 1, dilihat dari eksentrisitas dan kinerja struktur terutama pada titik kinerjanya. Selain itu, didapatkan bahwa pengaplikasian perkuatan bracing baja pada denah tipe 1 memiliki pengaruh terhadap eksentrisitas dan kinerja struktur terutama pada titik kinerjanya. Kata kunci : Irregular Building, Eksentrisitas, Analisis Pushover, Kinerja Struktur, Perkuatan Bracing Baj

    Efektivitas Vertical Drain pada Geosynthetic-Encased Geofoam Recycled Concrete Column dengan Variasi Jarak dan Diameter dalam Perbaikan Tanah Lunak

    No full text
    Tanah lunak dengan karakteristik kompresibilitas tinggi dan daya dukung rendah kerap menjadi kendala dalam konstruksi, terutama di wilayah pesisir dan dataran rendah. Salah satu metode perbaikan tanah yang umum digunakan adalah vertical drain, yang berfungsi mempercepat konsolidasi dengan mengurangi tekanan air pori. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas Geosynthetic-Encased Geofoam Recycled Concrete Column (GEGRCC), yaitu kolom yang tersusun dari limbah beton daur ulang dan geofoam yang dibungkus geosintetik, sebagai sistem vertical drain yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Analisis dilakukan dengan metode numerik Finite Element Method (FEM 2D). Simulasi dilakukan sebelum dan sesudah perbaikan tanah, menggunakan variasi jarak antar kolom (2D, 2,5D, 3D, 4D) dan diameter kolom (0,6 m, 1,0 m, 1,2 m, 1,5 m), serta mempertimbangkan efek smear akibat pemasangan kolom. Hasil analisis kondisi tanah eksisting menunjukkan waktu untuk mencapai konsolidasi 90% selama 1596 hari. Setelah perbaikan menggunakan GEGRCC, waktu konsolidasi menurun dengan konfigurasi terbaik tanpa smear terjadi pada jarak 2D (198,7 hari), dan dengan smear pada jarak 2,5D (333,1 hari). Rasio jarak terhadap diameter sebesar 2D menghasilkan efisiensi konsolidasi tertinggi, dengan reduksi waktu hingga 87,7% dibandingkan kondisi awal. Kata kunci: tanah lunak, vertical drain, GEGRCC, geofoam, beton daur ulang, konsolidasi

    0

    full texts

    1,439

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇