Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
1439 research outputs found
Sort by
Analisis Hambatan dalam Penerapan Green Procurement pada Proyek Konstruksi Pemerintah di Provinsi Jawa Timur
Pembangunan konstruksi di Indonesia telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan infrastruktur sebagai penopang utama. Green procurement, atau pengadaan hijau, adalah pengadaan yang mempertimbangkan aspek lingkungan, bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi, lahan, dan bahan industri, serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Penelitian metode kuantitatif melalui penyebaran kuesioner, yang dilakukan di Biro Pengadaan Barang/Jasa serta Bidang Tata Bangunan dan Jasa Konstruksi Dinas PUPR Cipta Karya Jawa Timur. Variabel yang dibahas, yaitu hambatan Pemprov Jatim dalam penerapan pengadaan yang mempertimbangkan prinsip green procurement, yang dianalisis dengan metode Relative Importance Index (RII). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan utama yang dihadapi Pemprov Jatim dalam penerapan green procurement, diantaranya kurangnya best practice, komitmen, kebijakan yang ketat, dukungan finansial, dan sosialisasi.
Kata kunci: Green procurement, hambatan, konstruksi gedung publi
ANALISIS KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) MENGGUNAKAN METODE HAZARD IDENTIFICATION RISK ASSESSMENT AND RISK CONTROL (HIRARC) PADA PROYEK PEMBANGUNAN FIKES UB
ABSTRAK Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Hazard Identification Risk Assesment and Risk Control (HIRARC). Alasan penelitian dilaksanakan dengan mempergunakan metode HIRARC dikarenakan metode ini adalah rangkaian prosedur untuk mengidentifikasikan bahaya yang mungkin terjadi selama kegiatan proyek rutin atau non-rutin, lalu dilanjutkan dengan menilai risiko dari bahaya tersebut dan kemudian membuat program untuk mengendalikannya bahaya tersebut sehingga tingkat risiko dapat diturunkan ke tingkat yang lebih rendah dalam upaya mengantisipasi terjadinya kecelakaan. Terdapat berbagai macam bahaya dalam pelaksanaan konstruksi Gedung FIKES UB. Bahaya tersebut meliputi fisik, kimia, ergonomi, dan biologi. Penilaian risiko dari proses Proyek Pembangunan Gedung Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya yang memiliki level risiko high terdiri dari 41 nilai risiko, 2 dari pekerjaan persiapan, 36 dari pekerjaan arsitektur, dan 3 dari pekerjaan MEP; level risiko moderate terdiri dari 57 nilai risiko, 5 dari pekerjaan persiapan, 17 dari pekerjaan struktur, 30 dari pekerjaan arsitektur, dan 5 dari pekerjaan MEP; level risiko low terdiri dari 17 nilai risiko, 13 dari pekerjaan arsitektur, dan 4 dari pekerjaan MEP. Pada saat belum dilakukan pengendalian, Persentase pekerjaan yang memiliki risiko tinggi adalah sebesar 36%, pekerjaan yang memiliki risiko sedang sebesar 49%, dan pekerjaan yang memiliki risiko rendah adalah sebesar 15%. Setelah dilakukan pengendalian, Persentase pekerjaan yang memiliki risiko tinggi adalah sebesar 0%, pekerjaan yang memiliki risiko sedang sebesar 36%, dan pekerjaan yang memiliki risiko rendah adalah sebesar 64%. Terjadi penurunan sebesar 36% untuk pekerjaan risiko tinggi, penurunan sebesar 13% untuk pekerjaan risiko sedang, dan peningkatan sebesar 49% untuk pekerjaan berisiko rendah Kata kunci: keselamatan, K3, HIRARC, manajemen konstruks
Pengaruh Serat Daun Nanas sebagai Bahan Aditif Campuran Lapis Aus Asbuton (AC-WC) pada Karakteristik Marshall
Kebutuhan aspal minyak Indonesia 1,2 juta ton per tahun hanya terpenuhi 50% oleh PT. Pertamina (Bina Marga, 2020), sehingga sisanya diimpor. Indonesia memiliki aspal Buton di Sulawesi Tenggara yang perlu dimanfaatkan untuk mengurangi impor, meski harus dimurnikan dahulu. Penelitian menunjukkan bahwa pencampuran serat selulosa daun nanas, yang mengandung selulosa tinggi sekitar 69,5-71,5% (Hidayat, 2008), pada campuran lapis aus asbuton (AC-WC) meningkatkan karakteristik aspal Buton. Hasil terbaik diperoleh dengan kadar serat 0,29% dan panjang 1,2 cm, menghasilkan VIM 5,34 (peningkatan 13,48%), VMA 17,91 (peningkatan 3,45%), VFB 70,24 (penurunan 4,18%), stabilitas 1316,04 kg (penurunan 4,7%), kelelehan 3,9 (penurunan 18,75%), dan MQ 337,29 (peningkatan 14,25%). Penambahan serat daun nanas membuat campuran lebih lentur dan tahan retak, meski lebih porous, sehingga diperlukan kadar aspal tinggi untuk memenuhi persyaratan. Kata Kunci: AC-WC Asb, Asbuton, Serat Daun Nanas, Serat Selulosa
Pengaruh Eksentrisitas terhadap Daktilitas dan Pola Retak pada Struktur Portal Bracing Eksentris Atas Tipe Diagonal Akibat Beban Lateral Statis dengan Perbaikan Jarak Sengkang
Indonesia, terletak di Cincin Api Pasifik, sangat rentan terhadap gempa bumi. Pada tahun 2022, BMKG mencatat 10.972 gempa, dengan 22 di antaranya menyebabkan kerusakan signifikan, menyoroti risiko terhadap bangunan. Perencanaan penting dalam membangun tahan gempa mempertimbangkan kekakuan, kekuatan, daktilitas, dan kemampuan untuk meredam energi seismik. Portal Bracing Konsentris (CBF) umumnya terhubung di persimpangan balok dan kolom namun dapat memengaruhi penempatan jendela dan pintu. Rangka Bracing Eksentris (EBF) menggunakan balok penghubung untuk mentransfer beban ke elemen lain, meskipun kurang efektif dibanding CBF. Penelitian menunjukkan perlunya meningkatkan efektivitas EBF. Portal bracing eksentris memerlukan balok penghubung yang kuat, yang dapat ditingkatkan dengan penyesuaian eksentrisitas. Penelitian menguji pengaruh eksentrisitas dan penyesuaian balok penghubung pada portal bracing diagonal dengan eksentrisitas 15 cm dan 25 cm, dibandingkan dengan CBF. Spesimen uji mengalami beban lateral serupa, membandingkan daktilitas dan pola retak dengan spesimen kontrol CBF. Studi ini menunjukkan bahwa portal C dengan eksentrisitas 0 cm menunjukkan daktilitas struktural tertinggi dibanding portal A (eksentrisitas 15 cm) dan portal B (eksentrisitas 25 cm), meskipun kekakuan portal C lebih rendah. Portal B menunjukkan kekakuan tertinggi sebesar 118,69 kg/mm. Portal A memiliki panjang retakan terpendek yaitu 336,98 cm, sementara portal C mengalami jumlah retakan terbanyak hingga 18 retakan, karena mampu menahan beban lateral hingga 1800 kg. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi daktilitas dan kekakuan sangat mempengaruhi kapasitas portal dalam menahan beban lateral. Eksentrisitas yang lebih rendah cenderung meningkatkan daktilitas tetapi mengurangi kekakuan, sementara eksentrisitas yang lebih tinggi dapat meningkatkan kekakuan tetapi mengorbankan daktilitas. Kata Kunci: Balok, Bracing, Daktilitas, Eksentrisitas, Link Beam
Analisis Pengaruh Bukaan terhadap Efisiensi Energi dan Termal Berbasis Building Information Modelling pada Proyek Gedung Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Padjadjaran
Besarnya dampak yang ditimbulkan oleh bangunan pada konsumsi energi global menimbulkan kecemasan terkait dampak jangka panjang yang disebabkan seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia. Penelitian ini menganalisis konsumsi energi operasional pada bangunan Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Padjadjaran dan memberikan alternatif desain dengan cara penambahan bukaan dan analisis dampak termal. Dengan menggunakan Building Information Modelling (BIM) sebagai alat dalam menganalisis, didapatkan hasil bahwa konsumsi energi rata-rata bangunan pada skenario eksisting adalah sebesar 326 kWh/m2/tahun. Setelah penerapan desain alternatif yang sudah direncanakan, konsumsi energi rata-rata bangunan mengalami penurunan menjadi 280 kWh/m2/tahun. Penerapan desain alternatif menimbulkan peningkatan termal maksimal sebesar 4,62⁰C. Peningkatan termal dapat dikompensasi dengan meningkatkan kecepatan udara untuk mempertahankan suhu udara seperti semula. Biaya yang dibutuhkan untuk desain alternatif sebesar Rp814.940.000,00. Desain alternatif yang diberikan mampu menurunkan emisi karbon yang dihasilkan bangunan diabndingkan dengan skenario eksisting sebesar 14,11%.
Kata Kunci: Building Information Modelling (BIM), Konsumsi Energi, Analisis Termal
Studi Potensi dan Analisis Faktor Perpindahan Penumpang pada Transportasi Umum Massal di Kota Malang
Kota Malang mengalami kemacetan lalu lintas akibat pertumbuhan cepat kendaraan pribadi dan angkutan kota yang tidak efektif, menyebabkan diperlukannya solusi salah satunya angkutan umum massal. Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik umum dan perjalanan pengguna kendaraan pribadi, mengeksplorasi pengaruh selisih waktu tempuh perjalanan dan potensi penghematan biaya terhadap keputusan pengguna kendaraan pribadi untuk beralih ke angkutan umum, mengembangkan model peluang perpindahan pengguna dari angkutan pribadi ke angkutan umum menggunakan moda transportasi minibus, untuk lebih memahami faktor-faktor yang mendorong atau menghambat perubahan preferensi transportasi masyarakat. Karakteristik umum dan karakteristik perjalanan dianalisis menggunakan analisis deskriptif, sedangkan faktor yang mempengaruhi keputusan untuk berpindah dan model peluang perpindahan dianalasis menggunakan stated preference. Melalui pemahaman mendalam tentang preferensi, kebutuhan, dan hambatan yang dihadapi oleh pengguna transportasi umum, diharapkan penelitian ini dapat memberikan rekomendasi yang konkret bagi pemerintah kota dan pihak terkait untuk meningkatkan layanan transportasi umum
Pengaruh Faktor Air Semen (FAS) terhadap Kuat Lentur Balok Beton Bertulang dengan Campuran Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) 30%
Secara umum, beton yang marak digunakan sebagai bahan utama dalam konstruksi infrastuktur terbuat dari campuran semen, air, agregat kasar, dan agregat halus, serta bisa juga ditambahkan dengan zat aditif sesuai dengan kebutuhannya. Air sebagai salah satu bahan campur adukan mortar berperan penting terhadap kekuatan beton dan biasanya disebut juga sebagai faktor air semen (FAS) dalam campuran adukan mortar. Penggunaan zat aditif dalam adukan mortar yang biasanya ditujukan untuk tujuan tertentu pada umumnya merupakan zat yang memiliki sifat pozzolan yaitu bahan yang mengandung senyawa silika maupun silika alumina yang apabila bereaksi dengan air akan membentuk kalsium hidroksida. Pengujian yang dilaksanakan dalam penelitian ini dilakukan terhadap kuat lentur balok beton bertulang berdimensi 0,15m × 0,20m × 1,0m dengan campuran GGBFS sebanyak 30% sebagai pengganti semen PCC (Portland Composite Cement) dengan variasi berupa faktor air semen (FAS) sebesar 0,3 dan 0,4. Mutu benda uji yang ditetapkan pada penelitian ini disesuaikan dengan penelitian sebelumnya, yaitu sebesar 35 MPa. Pada penelitian ini didapatkan hasil berupa penurunan sebesar 3,01% pada benda uji balok beton bertulang dengan FAS 0,4 dan campuran GGBFS sebanyak 30% dibandingkan dengan benda uji dengan nilai FAS sebesar 0,3 dengan kadar GGBFS yang sama dengan nilai rata-rata kuat lentur sebesar 7,378 MPa dan 7,156 MPa pada usia benda uji 28 hari.
Kata kunci: Ground Granulated Blast Furnace Slag, Balok Beton Bertulang, Faktor Air Semen, FAS, Kuat Lentur, Kuat Tekan, GGBFS
Analisis Kinerja Waktu dan Penjadwalan Berbasis Building Information Modelling pada Proyek Pembangunan Gedung Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya
Penggunaan BIM sebagai sebuah sistem dalam manajemen konstruksi masih belum terlaksana secara penuh dikarenakan penyedia jasa konstruksi di Indonesia masih menggunakan BIM hanya pada model 3D tanpa mengintegrasikan model dengan kinerja waktu, analisis biaya, dan energi. Dalam penelitian ini dilakukan simulasi pada Proyek Pembangunan Gedung Fakultas Kedokteran Gigi UB dengan menganalisis efisiensi durasi menggunakan metode Critical Chain Project Management menggunakan perangkat lunak Autodesk Revit untuk membuat model BIM 3D, Autodesk Naviswork untuk membuat visualisasi BIM 4D, dan Microsoft Project untuk membuat penjadwalan proyek serta melakukan analisis efisiensi durasi. Pada penyusunan jadwal menggunakan BIM menghasilkan durasi akhir 90 hari dan dilakukan efisiensi yang menghasilkan durasi akhir 83,31 hari, sedangkan pada durasi total proyek pada data sekunder adalah selama 92 hari. Didapatkan persentase perbandingan durasi pada jadwal BIM adalah 2,17 % dan 10,97% setelah dilakukan efisiensi dengan metode CCPM.
Kata kunci : Analisis durasi, Building Information Modelling (BIM), Critical Chain Project Management (CCPM), Efisiensi penjadwalan
Pengaruh Eksentrisitas terhadap Daktilitas dan Pola Retak pada Struktur Portal Bracing Eksentris Tipe V akibat Beban Lateral Statis dengan Perbaikan Jarak Sengkang
Indonesia yang terletak di atas Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia, dikenal dengan aktivitas gempa yang tinggi. Para insinyur harus merencanakan struktur yang tahan gempa untuk meminimalisir kerugian, salah satunya dengan menerapkan sistem Eccentrically Braced Frame (EBF). Penelitian ini menerapkan sistem EBF tipe V dengan jarak sengkang yang dibedakan antara struktur utama dengan balok penghubung untuk menguji portal beton mutu K-300 dengan bracing tipe V. Struktur yang diuji terdiri dari balok, kolom, pondasi, dan balok penghubung dengan variasi panjang link beam 15 cm dan 25 cm. Daktilitas benda uji portal EBF tipe V dipengaruhi oleh jarak eksentrisitas. Namun, spesimen mengalami kerusakan sehingga menghasilkan nilai daktilitas yang berbeda. Retak geser dan lentur dominan terjadi pada benda uji tanpa eksentrisitas, sedangkan retak geser dominan terjadi pada benda uji dengan eksentrisitas 15 cm dan retak lentur dominan terjadi pada benda uji dengan eksentrisitas 25 cm.
Kata kunci: Eccentrically Braced Frame (EBF), Beban Lateral Statis, Daktilitas, Pola Retak, Lin
PENGARUH EKSENTRISITAS VERTIKAL BRACING TIPE V TERHADAP TEGANGAN DAN REGANGAN PORTAL DENGAN PERBAIKAN JARAK SENGKANG
Bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia adalah gempa sehingga para perencana harus membuat bangunan yang kuat dan aman dari gempa. Inovasi dalam meningkatkan kekauan adalah dengan memasang bracing atau pengaku pada suatu bangunan. Konsep dari bracing sendiri adalah hubungan titik antara balok dengan kolom. Dengan inovasi tersebut, maka terdapat perbandingan pada portal dari Concentrically Braced Frames (CBF) dengan Eccentrically Braced Frames (EBF). Dikarenakan masih terdapat kesusahan dalam penggunaan CBF pada suatu bangunan karena terlalu kaku sehingga dibutuhkan adanya EBF dengan menggunakan eksentrisitas karena EBF memiliki kekakuan yang lebih rendah dari CBF. Menggunakan tulangan utama 6 dan sengkang 4 serta mutu beton yang digunakan adalah K-300 (26,4 Mpa) dengan perbaikan jarak sengkang pada eksentrisitas sebesar 5 cm dan ditinjau menggunakan strain gauge untuk mengetahui nilai tegangan dan regangan maksimum yang terjadi pada penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah EBF dengan eksentrisitas 15 cm memiliki tegangan maksimum yang terbesar baik dari segi baja maupun beton. Untuk hasil regangan maksimum yang terkecil dimiliki oleh CBF pada baja dan EBF dengan eksentrisitas 15 cm pada beton.
Kata Kunci: Bracing, Portal, Tegangan-Regangan, Beban Lateral