Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
    1439 research outputs found

    STUDI EKSPERIMENTAL PERILAKU LENTUR PELAT PRACETAK SATU ARAH SKALA PENUH MENGGUNAKAN TULANGAN TARIK DUA LAPIS DENGAN VARIASI LUAS TULANGAN

    No full text
    Jembatan dapat menjadi salah satu langkah pemerintah negara Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian negaranya. Salah satu dari banyak elemen struktur pada jematan yang terpenting adalah pelat lantai kendaraan. Pelat lantai merupakan pelat beton bertulang yang digunakan untuk menopang beban tegak lurus yang diterapkan padanya. Diperlukan perkuatan pelat beton bertulang dengan salah satunya adalah tulangan tarik dua lapis dengan penggunaan luas tulangan yang tepat. Perlunya pengetahuan lebih lanjut untuk mengetahui terkait pengaruh luas tulangan pada tulangan tarik dua lapis terhadap kapasitas lentur dan lendutan pada pelat beton bertulang.  Pada penelitian ini digunakan pelat beton dengan ukuran 200 cm x 60 cm x 20 cm dengan tulangan tarik dua lapis menggunakan diameter tulangan D13. Terdapat tiga benda uji yang masing-masing memiliki luas tulangan As = 1062,29 mm2, As = 1195,07 mm2, As = 1460,64 mm2. Hasil pada penelitian menunjukkan dari semakin besar luas tulangan, maka kapasitas lentur akan pada pelat semakin kecil dan lendutan yang terjadi juga semakin kecil. Kata kunci :  Kapasitas Lentur, Lendutan, Luas Tulangan, Tulangan Tarik Dua Lapis,  Pelat pracetak

    Pengaruh Karakteristik Tanah Lunak akibat Inklusi Limbah Sisa Bangunan dan Geofoam yang Terbungkus Geosintetik

    No full text
    Indonesia saat ini sedang mempercepat kemajuan pembangunan infrastruktur, yaitu berfokus pada infrastruktur transportasi. Proyek infrastruktur transportasi yang sedang berlangsung di Jawa Timur adalah pembangunan Jalan Tol Gempol-Pasuruan, yang menjadi penghubung antara Gempol, Sidoarjo, dan Kota Pasuruan. Namun demikian, pembangunan Jalan Tol Gempol-Pasuruan menghadapi masalah karena adanya tanah lunak dengan sifat negatif di sekitarnya. Vertikal drain merupakan teknik yang sering dimanfaatkan dalam perbaikan tanah lunak untuk mempercepat tahap konsolidasi. Penggunaan material penyusun untuk drainase vertikal cukup relatif mahal dan susah untuk dibuatnya. Untuk itu perlu dilakukan percobaaan untuk menggunakan stone column yang berasal dari bahan limbah spesi. Limbah spesi yang telah rusak tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan agar mengurangi limbah yang ada. Selain menggunakan limbah bongkaran sisa konstruksi, penelitian kali ini juga menggunakan geofoam. Oleh karena itu, perlu adanya eksperimen mengenai dampak jarak dan diameter drainase vertikal dengan isi limbah spesi dan geofoam terhadap waktu, penurunan, tegangan, dan regangan yang terjadi. Penelitian ini menyajikan sifat fisik dan mekanik tanah lunak yang diperoleh dari sampel yang diambil dari jalan tol Gempol-Pasuruan. Sampel-sampel tersebut meliputi tanah lempung lunak, inti kolom granular dari bahan limbah bangunan spesi, dan geofoam. Sampel-sampel ini digunakan untuk memfasilitasi proses konsolidasi dan membandingkan penurunan, tegangan, dan regangan di antara variasi yang berbeda. Selain itu, hasil penelitian ini juga mempertimbangkan data penurunan di laboratorium. Berdasarkan data hasil penelitian, terlihat bahwa penerapan drainase vertikal dapat mempercepat proses penurunan konsolidasi hingga mencapai 90%. Efek ini lebih terasa pada tanah skala laboratorium dengan diameter dan jarak drainase vertikal yang bervariasi dibandingkan dengan tanah tanpa drainase vertikal. Kata Kunci: tanah lunak, drainase vertikal, konsolidas

    Analisis Daktilitas Kurvatur Balok Beton Bertulang akibat Pembebanan Gempa Menurut SNI 1726:2019 (Studi Kasus Gedung Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Barwijaya)

    No full text
    Negara Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia berdampak pada timbulnya potensi gempa bumi di berbagai wilayah. Maka pembangunan gedung perlu dibuat tahan terhadap gempa dengan daktilitas yang baik agar struktur mampu berdeformasi inelastik dan tidak mengalami kehancuran. Perencanaan struktur tahan gempa didasarkan pada peraturan yang berlaku yaitu SNI 1726:2019. Pada penelitian ini akan dilakukan desain ulang tulangan lentur balok yang selanjutnya dianalisis momen kurvatur dan daktilitas kurvaturnya. Daktilitas kurvatur dari balok yang didesain ulang akan dibandingkan dengan balok eksisting gedung yang ditinjau. Sampel balok induk yang dianalisis meliputi: B-1, B-2A, B-2B, B-2C, B-3A, B-4, B-5A, dan B-5B. Hasil dari penelitian diperoleh balok yang didesain ulang memiliki rasio tulangan yang lebih sedikit dibandingkan dengan balok eksisting. Perbedaan rasio tulangan ini berpengaruh pada besar nilai daktilitas kurvaturnya. Rasio tulangan yang lebih kecil menghasilkan nilai momen yang lebih kecil namun nilai kurvaturnya lebih besar. Sebaliknya rasio tulangan yang lebih besar akan menghasilkan nilai momen yang lebih besar namun nilai kurvaturnya lebih kecil. Kata kunci: SNI 1726:2019, tulangan lentur, momen kurvatur, daktilitas kurvatu

    STUDI EKSPERIMENTAL DAKTILITAS PADA BALOK BETON BERTULANG MUTU SEDANG DENGAN PENAMBAHAN TULANGAN SENGKANG PERSEGI KOMBINASI PADA DAERAH TEKAN

    No full text
    Salah satu faktor penting dalam mendesain struktur tahan gempa adalah daktilitas. Daktilitas struktur dapat ditingkatkan dengan menggunakan tulangan sengkang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sengkang persegi kombinasi pada daerah tekan balok beton bertulang terhadap daktilitas, kekuatan lentur, dan mekanisme keruntuhan balok. Spesimen uji berupa balok beton bertulang dengan dimensi 20 cm x 25 cm x 300 cm dengan tulangan tekan berukuran 2D – 13, tulangan tarik 3D – 19, serta sengkang dengan jarak Ø8-150 . Sebagai variabel penelitian, diterapkan penambahan konfigurasi sengkang persegi kombinasi dengan jarak 150 mm pada zona tekan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan daktilitas sebesar 34,49% pada balok dengan sengkang persegi kombinasi dibandingkan dengan balok normal. Selain itu, kekuatan lentur balok juga mengalami peningkatan sebesar 3,67%. Mekanisme keruntuhan yang terjadi pada balok dengan variasi sengkang ini mengikuti pola keruntuhan lentur, yaitu dengan terbentuknya retak-retak vertikal yang merambat dari serat tarik menuju serat tekan. Kata kunci : daktilitas, balok beton bertulang, pengekangan, mekanisme keruntuhan, analisis beban-lenduta

    Optimasi Pemakaian Alat Berat pada Pekerjaan Galian dan Timbunan Random Studi Kasus Proyek Bendungan Jragung Paket I

    No full text
    Penelitian ini mengambil studi kasus timbunan random pada Proyek Bendungan Jragung Paket I, Jawa Tengah. Pada paket I, pekerjaan berfokus pada galian, timbunan, penghamparan dan pemadatan, dimana setiap pekerjaan membutuhkan penggunaan alat berat. Penggunaan alat berat tidak langsung membuat pekerjaan menjadi lebih efisien, akan tetapi terdapat faktor lain yang perlu diperhatikan untuk membentuk suatu kombinasi alat berat yang efisien, seperti ketergantungan produktivitas masing-masing alat berat dan kondisi lapangan. Oleh karena itu perlu ditentukan suatu rangkaian kombinasi alat berat yang optimum. Kombinasi alat berat yang optimum berimplikasi pada tercapainya biaya total alat berat yang optimum atau dalam kasus ini termurah. Metode yang digunakan untuk mendapat suatu rangkaian kombinasi yang optimum dalam penelitian ini adalah metode Riset Operasi, dimana di dalamnya terdiri dari metode Program Dinamik, Program Linier, dan Program Bilangan Bulat. Jumlah tipe alat berat yang tersedia untuk dijadikan rangkaian kombinasi antara lain 4 tipe excavator, 4 tipe dump truck, 4 tipe bulldozer, dan 2 tipe vibratory roller. Dimana untuk tiap tipe dari alat berat tersebut dihitung angka produktivitas per jamnya, dan biaya alat per alat per jamnya, kemudian dari tiap tipe alat dibuat jalur kombinasi yang terdiri dari empat tahap. Tahap pertama terdiri dari 4 tipe excavator, tahap kedua terdiri dari 4 tipe dump truck, tahap ketiga terdiri dari 4 tipe bulldozer, dan tahap keempat terdiri dari 2 tipe vibratory roller. Lalu dengan metode Riset Operasi yang disusun berdasarkan batasan permasalahan di lapangan, dicari jalur kombinasi mana yang paling optimum. Hasil dari perhitungan Riset Operasi diperoleh kombinasi alat excavator Komatsu PC 200 (excavator tipe 4) sejumlah 4 unit, dump truck Hino FM 260 TI (dump truck tipe 3) sejumlah 26 unit, bulldozer Komatsu D65P-12 (bulldozer tipe 3) sejumlah 2 unit, vibratory Roller Bomag BW 211D-40 (vibratory roller tipe 2) sejumlah 3 unit, dimana tipe alat berat yang terpilih merupakan suatu rangkaian tipe alat yang paling optimum. Dari keempat kombinasi alat berat tersebut dihasilkan biaya penggunaan alat berat paling optimum senilai Rp 23.460.100,054 per jam

    ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL DAN TEKNIS PADA PEMBANGUNAN PERUMAHAN X DI KOTA MALANG

    No full text
    Pemerintah Indonesia menganggap rencana pembangunan, memiliki fokus yang tinggi dalam rangka mengatasi kekurangan perumahan, meningkatkan aksesibilitas perumahan terjangkau, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kota Malang adalah salah satu kota di Indonesia yang terkenal sebagai pusat pendidikan dengan sejumlah perguruan tinggi terkemuka. Karena permintaan pasar yang tinggi akan hunian rumah, maka peluang bisnis properti perumahan untuk para pengembang dan perorangan semakin menjanjikan. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah bisnis properti layak atau tidak sehingga dapat menguntungkan secara finansial bagi pengembang. Metode pada penilitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Aspek finansial yang digunakan antara lain Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Teknik pengumpulan meliputi data primer dengan cara survey lapangan dan wawancara dengan pihak perwakilan developer dan data sekunder diperoleh dari pihak-pihak yang berkaitan dengan pembangunan dan kepemilikan bangunan. Aspek kelayakan teknis yaitu Tinggi Lantai Bangunan (TLB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), dan Koefisien Dasar Hijau (KDH). Proyek Perumahan Bumi Rajasa memiliki nilai yang lebih lebih kecil dari yang disyaratkan oleh Peraturan Rencana Tata Ruang Wilayah maupun Peraturan Daerah Kota Malang, sehingga dapat dinyatakan layak, sementara nilai Koefisien Dasar Bangunan (KDH) belum memenuhi nilai minimum dari peraturan yang berlaku sehingga nilai KDB belum layak. Aksesibilitas lokasi dapat dinyatakan layak dan mampu bersaing. Nilai NPV > 0, BCR > 1, dan IRR > MARR sehingga proyek Perumahan x Layak secara aspek finansial dan layak untuk dilaksanakan. Kata Kunci : Kota Malang, perumahan, kelayakan finansia

    Perencanaan Dinding Penahan Tanah Menggunakan Soldier Pile (Studi Kasus Rumah Sakit Bhakti Bunda Malang)

    No full text
    ABSTRAK   Pembangunan RS. Bhakti Bunda Malang terletak pada tepi Sungai Brantas yang memiliki elevasi muka air dan permukaan tanah yang berbeda, sehingga perlu diberikan dinding penahan tanah berupa soldier pile pada lereng. Analisis perencanaan yang akan dilakukan meliputi perhitungan pembebanan, stabilitas tanah sebelum diberi perkuatan dan setelah diberi perkuatan, tekanan tanah lateral, dimensi dan panjang soldier pile. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan desain Soldier Pile yang dapat menahan kelongsoran pada lereng rumah sakit. Oleh sebab itu dibutuhkan data tanah yang lengkap agar bisa di gunakan sebagai dasaran dalam mendesain soldier pile. Hasil dari  perancanaan soldier pile didapatkan nilai stabilitas tanah dengan beban sebesar 26,9 kN/m2  nilai SF sebesar 0,0342. Pada perhitungan tanah lateral diperoleh nilai kedalaman pemancangan yaitu 8,375 m dimulai dari lapis keempat, sehingga total Panjang soldier pile 24 m. Direncanakan diameter soldier pile sebesar 80 cm dengan diameter tulangan utama 22 mm dan diameter sengkang 16 mm. Stabilitas lereng setelah diberi perkuatan soldier pile menjadi 3,553. Kata Kunci : Tekanan Lateral Tanah, Soldier Pile, Plaxis 2D, Faktor Keamanan (SF

    Regangan dan Pola Retak Balok Beton Bertulang Berdasarkan umur pada Presentase Ground Granulated Blast Furnace Slag 20%

    No full text
    Pembangunan di indonesia bukan hanya terfokus pada daerah di perkotaan saja namun jugaterfokus pada daerah pedesaan. Beton merupakan salah satu material yang digunakan pada saat membangun suatu bangunan yang dimana beton tersebut tersusun dari air semen dan agregat. Material GGBFS ini bisa digunakan untuk pengganti dari sebagian semen, karena material ini rendah akan panas sehingga sesuai untuk beton yang bermutu tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari apakah GGBFS yang diproduksi oleh PT Krakatau Semen Indonesia sebagai parsial semen pada beton yang dihasilkan khususnya pada umur beton. Penelitian ini menggunakan FAS yaitu 0,3. Penelitian ini menunjukkan bahwa hasil akhir dari pengujian beton dengan umur 50 dan 56 hari yang menggunakan GGBFS 20% dapat dilihat bahwa variasi umur 50 hari nilai regangannya lebih kecil daripada umur 56 hari, dan penelitian ini tidak sesuai dengan hipotesis awal semakin tua umur beton yang terjadi semakin kecil dikarenakan karung goni kemungkinan tidak dalam keadaan basah. Besar lendutan yang muncul akibat dari uji kekuatan lentur pada balok dengan kondisi pembebanan dua titik menunjukkan variasi yang cukup lendutan dibandingkan dari 3 variasi balok tersebut. Hasil pengujian kuat lentur yang dilakukan pada beton menghasilkan retakan pertama di setiap benda uji dengan pembebanan yang berbeda. Dari keseluruhan grafik tegangan regangan yang dihasilkan oleh strain gauge yang dipasang pada balok beton bertulang menghasilkan grafik yang berbeda.Kata Kunci : beton, material GGBFS, renggangan, pola reta

    ANALISIS PERILAKU LENTUR PELAT BETON BERTULANG SATU ARAH DENGAN VARIASI KETEBALAN PELAT MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA

    No full text
    Salah satu metode pelaksanaan konstruksi yang mendukung dalam percepatan pembangunan infrastruktur jembatan adalah penggunaan pelat beton precast, dimana dalam perencanaan analisis dimensinya dapat menggunakan metode elemen hingga dengan bantuan software ABAQUS. Pada penelitian ini, analisis dilakukan untuk mengetahui pengaruh variasi ketebalan terhadap perilaku lentur pelat beton bertulang satu arah menggunakan metode elemen hingga dengan pemodelan software ABAQUS. Ketebalan pelat yang digunakan diantaranya 125 mm (T-125), 150 mm (T-150), 175 mm (T-175), dan 200 mm (T-200), dengan tebal selimut beton untuk masing-masing benda uji adalah 25 mm. Output analisis berupa kapasitas beban, nilai lendutan, tegangan aksial dan regangan aksial yang kemudian akan divalidasi dengan hasil pengujian. Pada pemodelan analisis, beban diberikan di bagian atas spreader beam dan tumpuan di bagian bawah baja WF. Mesh yang digunakan berbentuk persegi/kubus dengan ukuran 25 mm. Hasil analisis membuktikan bahwa ketebalan pelat berbanding lurus dengan nilai kapasitas beban lentur maksimum dan berbanding terbalik dengan nilai lendutan maksimum, tegangan aksial (S11) maksimum dan regangan aksial (E11) maksimum. Presentase selisih kapasitas beban lentur maksimum dari hasil analisis ABAQUS untuk benda uji T-125, T-150, T-175 dan T-200 secara berturut turut adalah 8,51%, 0,76%, 0,54%, dan 0,84% lebih besar daripada hasil pengujian. Sedangkan presentase selisih nilai lendutan maksimum dari hasil analisis adalah 36,12%, 19,71%, 28,18%, dan 32,62% lebih kecil daripada hasil pengujian. Selain itu, presentase selisih nilai tegangan aksial (S11) maksimum dari hasil analisis adalah 24,95%, 19,80%, 19,16%, dan 19,96% lebih kecil daripada hasil pengujian. Sedangkan untuk regangan aksial (E11) maksimum dari hasil analisis adalah 24,43%, 18,53%, 19,16%, dan 19,96% lebih kecil daripada hasil pengujian. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa grafik hubungan beban dan lendutan maupun grafik hubungan tegangan aksial dan regangan aksial memiliki tren yang serupa dengan hasil pengujian. Kata kunci :  Pelat Beton Bertulang Satu Arah, Perilaku Lentur, Ketebalan Pelat, Metode Elemen Hingga, Software ABAQU

    ANALISIS LEBAR RETAK DAN POLA RETAK PELAT BETON BERTULANG DENGAN VARIASI LUAS TULANGAN

    No full text
    Pembangunan cepat dengan kualitas yang bagus perlu dilakukan agar dapat mempersingkat waktu untuk mencapai tujuan pembangunan Indonesia. Beton pracetak hadir menjadi solusi sebagai pelat lantai dalam kebutuhan pembangunan infrastruktur. Pelat lantai yang digunakan akan berfungsi untuk menahan beban yang melintas pada jembatan tersebut. Hal ini akan memberikan pengaruh pada struktur pelat lantai. Munculnya keretakan dan tulangan yang terkena korosi merupakan kerusakan yang mungkin terjadi pada pelat lantai tersebut. Maka dari itu, dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh luas tulangan dalam menghasilkan lebar retak dan pola retak. Pada penelitian, luas tulangan yang digunakan yaitu 1406 mm2, 1205 mm2, dan 1000 mm2 dengan tebal pelat 17,5 cm. Hasil lebar retak eksperimental pada luas tulangan 1406 mm2 sebesar 0,2571 mm saat tegangan baja 249,8 MPa dengan pola retak berupa 5 buah retak, pada luas tulangan 1205 mm2 lebar retak sebesar 0,2888 mm saat tegangan baja 247,1 MPa dengan pola retak berupa 7 buah retak, pada luas tulangan 1000 mm2 lebar retak 0,3633 mm saat tegangan baja sebesar 250,4 MPa dengan pola retak berupa 10 buah reta. Sedangkan hasil lebar retak teoritis pada luas tulangan 1406 mm2 sebesar 0,16 mm, luas tulangan 1205 mm2 sebesar 0,17 mm, dan luas tulangan 1000 mm2 sebesar 0,18 mm.  Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar luas tulangan, maka nilai lebar retak dan jumlah retak akan semakin kecil. Kata kunci: Lebar Retak, Luas Tulangan, Pelat Beton, Pembangunan Infrastruktur, Pola Retak

    0

    full texts

    1,439

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇