Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Not a member yet
    1439 research outputs found

    Evaluasi dan Penanganan Simpang Jalan Laksda Adi Sucipto Kota Malang

    No full text
    Kemacetan pada simpang Jalan Laksda Adi Sucipto di Kecamatan Blimbing KotaMalang umumnya diakibatkan arus lalu lintas yang padat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengevaluasi kinerja simpang, serta menentukan alternatif penanganan yang paling efektif antara rekayasa fase lalu lintas, rekayasa geometri atau pelebaran jalan, dan pembangunan bangunan penunjang berupa flyover. Terdapat beberapa data yang dibutuhkan untuk menganalisis kondisi eksisting kinerja simpang pada studi ini antara lain data primer yaitu data geometrik, data arus lalu lintas dan data hambatan samping dan data sekunder yang meliputi kenaikan jumlah kendaraan di Kota Malang. Hasil penilaian pada jam puncak menunjukkan derajat kejenuhan simpang sebesar 1,47 dengan tundaan rata-rata 475,5 det/smp, yang berarti tingkat pelayanan simpang termasuk dalam nilai indeks F. Hasil analisis kondisi kinerja simpang kemudian dijadikan acuan dalam pemilihan alternatif yang berpotensi memperbaiki kinerja simpang. Dari hasil analisis, antara alternatif yang diberikan yaitu rekayasa fase lalu lintas, pelebaran geometri jalan, dan membangun flyover, yang dapat mengurangi derajat kejenuhan menjadi 0,28 dengan tundaan rata-rata simpang 14,56 det/smp pada jam puncak, dengan tingkat pelayanan naik menjadi A adalah hasil dari penggunaan alternatif pembangunan flyover. Dengan peningkatan nilai indeks pelayanan yang signifikan dapat disimpulkan bahwa pembangunan flyover pada simpang Jl. Laksda Adi Sucipto dinyatakan paling efektif dalam mengatasi kemacetan pada simpang ini.Kata Kunci: Flyover, Simpang Bersinyal, Simpang Jl. Laksda Adi Sucipt

    Pengaruh Kekakuan Sambungan pada Rangka Jembatan Baja terhadap Gaya Dalam, Deformasi, dan Tegangan Elemen Batang

    No full text
    Sambungan pelat buhul pada rangka jembatan baja yang diatur dalam pedoman Bina Marga selalu dianggap sebagai sambungan sendi-sendi. Padahal pelat buhul tersebut memiliki kekakuan dan disambung dengan banyak baut. Oleh karena itu, tentunya terdapat perbedaan analisis gaya dalam, deformasi, dan tegangan apabila menganggap sambungan rangka jembatan berupa sambungan sendi dan jepit. Penelitian ini menggunakan model jembatan rangka baja kelas A bentang 40 m dari Bina Marga 2005 dan dibantu dengan Analisis pemodelan dibantu dengan software SAP2000 Trial Version yang terdapat fitur Partial Releases/ Partial Fixity untuk mendefinisikan kekakuan sambungan sendi dan jepit pada pemodelan rangka jembatan baja. Adapun hasil analisis yang ingin diperoleh adalah perbandingan gaya dalam, deformasi, dan tegangan kedua pemodelan. Selain itu, dilakukan pula pembuktian klasifikasi pelat buhul sebagai sambungan sendi menggunakan lebar efektif Whitmore dan perhitungan tegangan yang terjadi pada pelat buhul. Hasil penelitian diperoleh nilai gaya aksial batang yang dimodelkan dengan sambungan sendi mengalami penurunan rasio 0,105% untuk gaya tarik maksimum dan 0,112% untuk gaya tekan maksimum apabila dimodelkan sebagai sambungan jepit. Deformasi maksimum yang dimodelkan dengan sambungan sendi mengalami penurunan rasio 0,291% apabila dimodelkan dengan sambungan jepit. Sebaliknya, nilai tegangan yang dimodelkan dengan sambungan sendi mengalami peningkatan rasio 11,8% terhadap nilai keamanan apabila dimodelkan dengan sambungan jepit. Selain itu, Rasio indeks kekakuan lentur pelat buhul terhadap batang yang disambungan dengan lebar efektif Whitmore hanya sebesar 0,404% sehingga masih termasuk klasifikasi sambungan sendi. Adapun tegangan yang terjadi sisi pelat buhul adalah 24,933 MPa untuk tegangan tekan dan 23,504 MPa untuk tegangan tarik. Kata kunci: deformasi, gaya dalam Jembatan rangka baja, kekakuan sambungan, teganga

    STUDI EKSPERIMENTAL LEBAR RETAK PELAT PRACETAK BETON BERTULANG SATU ARAH SKALA PENUH MENGGUNAKAN TIGA LAPIS TULANGAN TARIK DENGAN VARIASI LUAS TULANGAN

    No full text
    Jembatan berperan penting dalam meningkatkan aksesibilitas, terutama di jalan tol yang menghubungkan kota-kota besar. Penggunaan pelat beton pada jembatan sering digunakan karena menyediakan permukaan datar. Namun, retak pada beton dapat menyebabkan tulangan terbuka dan korosi, sehingga mengurangi umur layanan struktur. Penelitian ini melibatkan pembuatan tiga spesimen pelat beton bertulang satu arah dengan tiga lapis tulangan tarik D10 yang bervariasi luasnya, yaitu 1021 mm², 1178 mm², dan 1414 mm². Benda uji memiliki dimensi 200 x 20 x 60 cm. Pengujian menggunakan LVDT untuk mengukur lendutan dan Dinolite untuk mengukur lebar retak. Pelat diuji setelah berumur lebih dari 28 hari dengan cara memberikan beban garis yang bertambah setiap 100 kg sampai ditemukan retak pertama dan bertambah 200 kg secara bertahap hingga tegangan baja mencapai kuat layan. Dari studi literatur penelitian sebelumnya dengan pendekatan rumus  ditemukan bahwa luas tulangan berpengaruh terhadap pola dan lebar retak maksimum pada pelat. Semakin besar luas tulangan, semakin kecil lebar retak maksimum dan semakin sedikit jumlah retak yang terjadi. Pada hasil penelitian, luas tulangan 1021 mm², memiliki lebar retak maksimum yaitu 0,3148 mm dengan jumlah 8 garis retak. Pada luas tulangan 1178 mm², lebar retak maksimum adalah 0,2598 mm dengan jumlah 7 garis retak. Pada luas tulangan 1414 mm², lebar retak maksimum adalah 0,2195 mm dengan jumlah 6 garis retak. Penelitian ini mengindikasikan bahwa peningkatan luas tulangan mengurangi lebar dan jumlah retak pada pelat beton multilapis sehingga diperoleh rumus eksperimental yaitu wmaks = 2,59 As-1,187 fs

    Studi Rencana Trase Jalan Akses Menuju Kampus Universitas Brawijaya Di Kepanjen

    No full text
    Universitas Brawijaya (UB) akan melakukan ekspansi ke Kabupaten Malang dengan memanfaatkan lahan hibah seluas 30 hektar dari Pemerintah Kabupaten Malang untuk pembangunan gedung bagi 4255 mahasiswa Fakultas Vokasi. Penelitian ini bertujuan memberikan rekomendasi trase sebagai jalan akses menuju kampus UB di Kepanjen. Studi ini melibatkan survei primer seperti volume lalu lintas, data sosial ekonomi, dan data AHP (Analytical Hierarchy Process), serta data sekunder seperti jumlah mahasiswa, dosen, dan karyawan Fakultas Vokasi. Analisis tarikan menuju kampus UB di Kepanjen dilakukan untuk mengetahui potensi pergerakan tarikan, menggunakan regresi dari penelitian sebelumnya karena kampus dan jalan akses belum ada. Lebar jalan diasumsikan 7 meter dengan analisis derajat kejenuhan yang menunjukkan kinerja baik. Analisis AHP digunakan untuk menentukan aspek prioritas dan rekomendasi trase, dengan 21 responden survei. Bobot prioritas aspek teknis 0,5, aspek sosial 0,28, dan aspek biaya 0,22. Trase 1 dengan skor 3,56 direkomendasikan sebagai jalan akses menuju kampus UB di Kepanjen, mengungguli trase 2 dan 3 dengan skor masing-masing 1,46 dan 1,34. Kata Kunci: Jalan Akses, Tarikan, Lebar Jalan, AHP (Analytial Hierarchy Procces), Rekomendasi Tras

    Pengaruh Curah Hujan dan Gempa terhadap Lereng pada Proyek Pembangunan Taman Teknologi Tower Turyapada dengan Metode Kesetimbangan Batas

    No full text
    Proyek Pembangunan Taman Teknologi Tower Turyapada terletak di Provinsi Bali, dimana pada lokasi tersebut rawan mengalami gempa bumi dan terletak di perbukitan sehingga memiliki curah hujan tinggi. Pada lereng yang ditinjau akan dibangun perkerasan jalan sehingga dibutuhkan analisis stabilias lereng menggunakan geostudio untuk mengetahui nilai keamanan (SF) lereng. Analisis tersebut akan dilakukan dengan pengaruh curah hujan dan gempa terhadap lereng. Pada penelitian ini memasukkan parameter tanah berupa nilai kohesi, berat jenis tanah, sudut geser dalam, dan permeabilitas. Untuk pembebanan yang digunakan berupa beban perkerasan jalan, beban kendaraan, beban akibat curah hujan, dan beban gempa. Didapatkan nilai SF lereng alami sebesar 1,882; lereng galian sebesar 3,228; lereng galian dengan perkerasan jalan sebesar 3,173; lereng galian dengan perkerasan jalan dipengaruhi curah hujan sebesar 2,906; lereng galian dengan perkerasan jalan dipengaruhi gempa sebesar 2,637. Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa lereng termasuk lereng stabil dan tidak perlu perkuatan. Kata kunci: stabilitas lereng, bishop, safety facto

    ANALISIS STABILITAS TIMBUNAN SAMPAH DI TPA SEGAWE, KABUPATEN TULUNGAGUNG AKIBAT PENGARUH AIR HUJAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA

    No full text
    Peningkatan pertumbuhan penduduk akibat fertilitas (angka kelahiran) maupun migrasi (perpindahan) telah menyebabkan produksi sampah meningkat. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah penduduk Kabupaten Tulungagung pada tahun 2020 berjumlah 66.321 jiwa dengan luas daerah Kabupaten Tulungagung kurang lebih 1.055,65 km². DLH (Dinas Lingkungan Hidup) mencatat pada tahun 2022 jumlah sampah mencapai 120 ton/hari. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tulungagung mengoperasikan fasilitas pembuangan dan pengolahan limbah rumah tangga yang dijuluki TPA Segawe yang memiliki luas TPA sekitar 5 hektare serta memiliki status sebagai aset milik pemerintah daerah. Apabila peningkatan produksi sampah ini tidak diiringi dengan evaluasi dan perbaikan fasilitas pengelolaan sampah, berbagai masalah serius dapat timbul, seperti pencemaran lingkungan dan kerugian kesehatan masyarakat. Berdasarkan informasi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tulungagung, pada tahun 2022, kapasitas TPA diperkirakan hanya mampu menampung sampah selama dua tahun lagi dari masyarakat Kabupaten Tulungagung. Oleh karena itu, diperlukan analisis stabilitas lereng untuk mengetahui ketinggian maksimum lereng agar efisiensi dan umur TPA dapat diperhitungkan sesuai kondisi di lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui stabilitas kondisi timbunan sampah pada saat kering dan basah di TPA Segawe, Kabupaten Tulungagung, serta mengetahui hasil analisis stabilitas timbunan sampah pada saat ketinggian maksimum dalam keadaan tanah yang stabil. Penelitian dilakukan dengan pengambilan sampel tanah pada TPA Segawe pada bulan Desember 2023 dan referensi terdahulu. Sampel tanah dasar diuji di Laboratorium Mekanika Tanah & Geologi Universitas Brawijaya dan disimulasikan berdasarkan komposisi/properties sampah di TPA Segawe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian maksimum dari stabilitas lereng pada TPA Segawe adalah 23 meter dengan kemiringan sudut 30 derajat. Nilai faktor keamanan lereng timbunan sampah di TPA Segawe pada bulan Desember 2023 memiliki ketinggian maksimum 23 meter dengan sudut kemiringan 30°. Nilai faktor keamanan timbunan sampah pada kondisi eksisting adalah 1,99, yang menunjukkan bahwa lereng dalam kondisi aman dan masih dapat ditinggikan. Hasil analisis stabilitas lereng menunjukkan bahwa lereng dengan sudut kemiringan 30 derajat berkategori aman hingga ketinggian 23 meter (SF>1,25). Untuk kemiringan lereng 45 dan 60 derajat, lereng berkategori labil pada ketinggian 23 meter (SF<1,2). Penambahan ketinggian timbunan yang melebihi nilai tersebut tidak disarankan karena sudah memasuki batas keruntuhan lereng. Nilai faktor keamanan lebih besar ketika lereng dan material dalam keadaan kering daripada basah, dikarenakan adanya air yang sangat berpengaruh terhadap kestabilan lereng. Sebagai contoh, lereng akan mengalami penurunan faktor keamanan sebesar 33,3% atau sama dengan koefisien pengali sebesar 2/3 ketika dalam kondisi basah. Kata kunci: Stabilitas, Timbunan, Sampah, TPA, Tulungagung, Hujan, Lereng, Kemiringan, Keamanan, Analisi

    Pengaruh Bentuk Pilar Jembatan Terhadap Tekanan Aliran dengan Pemodelan Numerik

    No full text
    Sungai merupakan saluran terbuka yang dimensinya berubah seiring waktu, di mana aliran air biasanya bergerak dari hulu ke hilir mengikuti bentuk penampang saluran. Namun, penyempitan atau infrastruktur keairan dapat menghambat dan mengubah pola aliran, yang bervariasi dalam kecepatan, volume, dan tingkat bahaya. Keruntuhan jembatan akibat kegagalan kestabilan pilar jembatan menjadi penyebab yang paling sering terjadi. Permasalahan ini banyak dijumpai pada jembatan melintang sungai dengan posisi pilar di Tengah aliran sungai. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan simulasi aliran di sekitar pilar jembatan dalam kondisi aliran sub kritis dan super kritis dengan menganalisis kecepatan aliran dan gaya tekan akibat tekanan aliran yang terjadi dan mengetahui pengaruhnya terhadap pilar jembatan. Penelitian ini mensimulasikan aliran di sekitar pilar jembatan dalam kondisi sub kritis dan super kritis, menggunakan tiga jenis penampang pilar: segi empat, kapsul, dan palung. Hasilnya menunjukkan bahwa tinggi muka air, kecepatan aliran, dan tekanan aliran berbeda-beda bergantung pada bentuk penampang pilar dan kedalaman saluran, dengan pilar palung terbukti paling efektif dalam menerima gaya tekan akibat aliran

    Analisis Pengaruh Perubahan Beban Gempa Rencana Berdasarkan SNI 1726:2012 dan SNI 1726:2019 terhadap Kebutuhan Tulangan pada Kolom (Studi Kasus Gedung X Universitas Y di Kab. Kediri)

    No full text
    Indonesia merupakan daerah rawan gempa. Dengan disadarinya hal tersebut maka ditetapkan peraturan perencanaan bangunan tahan gempa. Peraturan terkini terkait bangunan tahan gempa yaitu SNI 1726:2019. Namun, beberapa bangunan masih menggunakan peraturan sebelumnya, yaitu SNI 1726:2012. Maka dari itu, dilakukan penelitian untuk mengetahui sistem rangka struktur dan pengaruh penggunaan beban gempa respons spektrum berdasarkan SNI 1726:2012 dan SNI 1726:2019 terhadap kebutuhan tulangan pada struktur kolom di Gedung X Universitas Y di Kab. Kediri. Analisis dilakukan sebanyak dua kali menggunakan bantuan program analisis struktur dan pemodelan 3D. Dari hasil analisis diambil empat sampel kolom untuk analisis kebutuhan tulangan. Didapatkan bahwa sistem struktur pada gedung yang ditinjau yaitu Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan hasil nilai gaya dalam momen, gaya aksial, dan gaya geser yang lebih besar dengan beban gempa respons spektrum berdasarkan SNI 1726:2019. Perbedaan ini didasari oleh perbedaan nilai percepatan gempa periode, T < 1 detik di grafik respons spektrum. Perbedaan nilai gaya dalam berpengaruh pada perbedaan kebutuhan tulangan kolom. Perencanaan struktural kolom merujuk ke SNI 2847:2013 dan SNI 2847:2019. Kata kunci: gempa bumi, struktur kolom, respons spektrum, SNI 1726, SRPM

    PERBANDINGAN TEGANGAN GESER ANTARA DINDING BATA MERAH DENGAN DINDING BATA RINGAN PADA RUMAH TINGGAL AKIBAT PENGARUH GEMPA

    No full text
    Material penyusun dinding pada rumah tinggal di Indonesia umumnya merupakan bata merah lokal, namun, kini bata ringan mulai banyak digunakan sebagai pengganti bata merah. Perbedaan material pada dinding bangunan dapat mengakibatkan respons seismik yang berbeda. Oleh karena itu, dilakukan penelitian pada tiga variasi denah rumah tinggal satu lantai dengan material dinding bata merah dan dinding bata ringan untuk mengetahui perbandingan besar respons gempa, tegangan geser, serta variasi besar tegangan geser yang terjadi pada setiap denah. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa denah dengan dinding bata ringan memiliki respons akibat gempa dan tegangan geser yang lebih kecil dibandingkan denah dengan dinding bata merah. Namun, tegangan geser izin milik dinding bata ringan juga lebih rendah, sehingga walaupun memiliki respons gempa dan tegangan geser yang lebih kecil, dinding bata ringan lebih dahulu mengalami kerusakan. Besar tegangan geser yang dialami oleh setiap denah juga bervariatif walaupun bangunan memiliki ukuran yang sama. Perbedaan ini disebabkan karena perbedaan karakteristik masing-masing denah yang meliputi persebaran kekakuan dinding pada arah-X dan arah-Y, eksentrisitas dinding dari titik pusat kekakuan, dan juga arah gaya geser akibat torsi.Kata kunci : dinding bata merah, dinding bata ringan, tegangan gese

    PENJADWALAN TENAGA KERJA DENGAN PEMERATAAN SUMBER DAYA (RESOURCE LEVELING) MENGGUNAKAN MS PROJECT PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG ASRAMA STIKES (KEPANJEN)

    No full text
    Alokasi sumber daya yang tidak efisien, terutama tenaga kerja, merupakan masalah umum dalam proyek konstruksi. Penggunaan tenaga kerja dalam proyek konstruksi masih sangat bervariasi, dan alokasi tenaga kerja yang diperlukan untuk suatu proyek mungkin sangat tinggi atau sangat rendah. Jadi, sumber daya harus didistribusikan secara merata untuk meminimalkan fluktuasi ini. Untuk penelitian ini, kami memilih aplikasi Microsoft Project  sebagai alat untuk  membuat jadwal. Object yang ditinjau dalam penelitian ini ialah proyek pembangunan Gedung Asrama STIKES. Alokasi sumber daya dalam penelitian ini dilakukan pada jenis sumber daya yang seringkali menerima alokasi terbesar ialah pekerja. Berdasarkan analisis  hasil pemerataan yang dilakukan tanpa mengubah total durasi  proyek, diperoleh pengurangan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan per hari yang paling besar. Jumlah maksimal pekerja yang dibutuhkan sebelum dilakukan pemerataan ialah 220 pekerja. Namun setelah dilakukan pemerataan jadi, jumlah maksimal pekerja yang dibutuhkan menjadi 201 orang pekerja. Kata kunci: Pemerataan Sumber Daya, Gedung Asrama STIKES, Pekerja

    0

    full texts

    1,439

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇