Jurnal Online Mahasiswa S1 Arsitektur UNTAN
Not a member yet
257 research outputs found
Sort by
Mixed-Use Building di Kota Pontianak
Manusia memiliki berbagai kebutuhan hidup, contohnya tempat tinggal, tempat kerja, dan tempat berbelanja. Keanekaragaman kebutuhan tersebut berpengaruh pada kebutuhan ruang untuk beraktivitas. Demi meningkatkan efisiensi kebutuhan-kebutuhan tersebut, dibutuhkan ruang yang mampu mewadahi beberapa fungsi sekaligus. Perancangan mixed-use building menjadi upaya dalam menyatukan beberapa fungsi sekaligus dalam satu bangunan. Tema perancangan mixed-use building ini adalah TOWN (Tower of Woods and Necessity). Perancangan mixed-use building mempertimbangkan kebutuhan ruang yang dirancang, lingkungan sekitar, serta pengguna bangunan. Perancangan mixed-use building bertujuan untuk menyediakan ruang yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia serta memberi kenyamanan bagi pengguna. Mixed-use building dirancang dalam bentuk bangunan vertikal yang menyatukan bangunan, kebutuhan manusia, serta ruang hijau sebagai upaya mendukung perkembangan suatu kota. Perancangan mixed-use building ini menggunakan bentuk bangunan berbentuk podium dengan fungsi pusat perbelanjaan dan dua tower dengan fungsi hunian vertikal dan kantor sewa. Fasade podium bangunan memanfaatkan secondary skin untuk meningkatkan luas permukaan bidang dinding, sedangkan pada tower menggunakan kantilever-kantilever yang berfungsi sebagai ruang hijau sekaligus pelindung radiasi panas. Fungsi hunian dan komersial pada bangunan menjadi alasan perancangan bangunan dengan luas bersih yang dirancang secara maksimal, demi meningkatkan prospek ekonomi bangunan. Bangunan dirancang dengan ketersediaan infrastruktur utilitas sebagai pendukung kebutuhan manusia dengan desain yang mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Kata kunci: Mixed-Use Building, Penyatuan Fungsi, Bangunan Vertika
PERANCANGAN KAWASAN WISATA PENDIDIKAN DI HABITAT ORANGUTAN KABUPATEN KAPUAS HULU
Kerusakan hutan dan habitat orangutan di Pulau Kalimantan menyebabkan distribusi orangutan menjadi terfragmentasi di kantong - kantong habitat. Kondisi yang sangat mengkhawatirkan ini telah menempatkan orangutan Kalimantan ke dalam kategori terancam punah di dalam daftar merah IUCN. Salah satu cara penanganan masalah tersebut adalah melalui pembangunan sebuah Kawasan Wisata Pendidikan di Habitat Orangutan yang memiliki sarana dan prasarana untuk kegiatan wisata, pusat informasi pendidikan, pelatihan serta pusat riset bagi peneliti. Kawasan Wisata Pendidikan ini dirancang dengan konsep bangunan bermassa banyak. Bangunan yang direncanakan meliputi bangunan kantor dan pelayanan, bangunan wisatawan, bangunan peneliti, bangunan penginapan, bangunan persiapan, bangunan serbaguna, serta shelter dan dermaga.Pola penataan massa disusun mengikuti pola pemukiman masyarakat adat sekitar yang pola pemukimannya terpusat. Sistem penghawaan pada bangunan memanfaatkan potensi kawasan sekitar dengan memperbanyak bukaan sirkulasi udara pada bangunan, sedangkan untuk struktur bangunan mengadopsi struktur danbahan material lokalsehingga struktur yang digunakan aman dan mudah untuk dibangunagar bersinergi antara lingkungan lokal, dengan lingkungan sekitar tanpa mengganggu habitat dan ekosistem orangutan tetap terjaga dan terlindungi. Kata kunci : Orangutan, Kepunahan,Habitat, Kawasan Wisata Pendidika
KAWASAN OLAHRAGA REKREASI PADA RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA PONTIANAK
Ruang terbuka hijau di Kota Pontianak yang termasuk dalam ruang terbuka hijau dengan lapangan olahraga pada umumnya dikategorikan sebagai olahraga dengan lingkup pendidikan dan prestasi. Akan tetapi, ruang terbuka hijau yang dikategorikan dalam lingkup olahraga rekreasi dinilai minim untuk mengakomodir kebutuhan dan minat masyarakat. Tujuan dari perancangan ini adalah menyelesaikan masalah maupun mengembangkan potensi pada kondisi eksisting yang diimplementasikan dalam desain guna menunjang aktivitas olahraga rekreasi dan aktivitas lainnya di Kota Pontianak dengan rancangan yang berbasis ekologis. Lokasi perancangan berada di lokasi Gelanggang Olahraga Khatulistiwa yang merupakan ruang terbuka hijau yang memfasilitasi olahraga prestasi. Metode perancangan yang digunakan yaitu tahap permulaan, persiapan, pengajuan usul, dan evaluasi. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh suatu kawasan olahraga rekreasi yang belokasi di ruang terbuka hijau yang menggunakan konsep ekologis sebagai konsep utama sehingga alam menjadi penting sebagai basis desainnya. Kawasan dibagi atas empat segmen guna memudahkan dalam zonasi kawasan. Adapun fungsi yang diakomodir ke dalam kawasan yaitu fungsi penerima, fungsi olahraga, fungsi komersil, dan fungsi servis. Fasilitas dalam fungsi olahraga ditata dengan orientasi menghindari silau matahari dari arah barat dan timur. Tiap fungsi dibuat dengan menciptakan pengalaman ruang yang dekat dengan alam dengan pengaplikasian vegetasi peneduh di sekeliling fasilitas. Kata kunci: Olahraga Rekreasi, Ruang Terbuka Hijau, Kota Pontian
RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK DI KOTA PONTIANAK
Kesehatan merupakan faktor yang paling utama dalam kehidupan masyarakat, terutama kesehatan ibu dan anak, karena setiap tahunnya jumlah kelahiran dan kematian selalu meningkat dengan berbagai masalah, sehingga diperlukan adanya sebuah fasilitas kesehatan yang mewadahi pelayanan bagi ibu dan anak. Salah satu jenis pelayanan kesehatan tersebut adalah rumah sakit ibu dan anak. Perancangan rumah sakit ini mengambil lokasi di jalan Budi Utomo, Kecamatan Pontianak Utara. Lokasi ini diambil berdasarkan isu adanya pembangunan RSIA dan alasan lainnya adalah dari data Badan Pusat Statistik (2014) menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan seperti rumah sakit belum merata hingga ke Kecamatan Pontianak Utara, sehingga dengan adanya perancangan rumah sakit ini bertujuan untuk membantu para ibu dan anak dalam pemeriksaan kesehatannya. Metode perancangan yang digunakan meliputi: gagasan, pengumpulan data, analisis, sintesis dan tahap rancangan, Hasil perancangan rumah sakit ibu dan anak ini terdiri dari satu masa bangunan linier yang mengikuti bentukan lahan. Zonasi ruangan dibagi menjadi perlantai mengingat permasalahan lahan yang sempit. Orientasi, perletakkan dan sirkulasi diatur berdasarkan peraturan dan analisis yang ada, sehingga terdapat beberapa jalur sirkulasi sesuai kebutuhan kendaraan agar tidak saling bentrok dan pada fasad bangunan menggunakan beberapa bukaan jendela yang dimanfaatkan sebagai pencahayaan dan penghawaan alami didalam ruang. Kata kunci: Rumah Sakit Ibu dan Anak, Kota Pontiana
PONTIANAK CINEMA CENTER
Maraknya konsep bioskop yang tergabung pada pusat perbelanjaan seolah menjadi pedang bermata dua. Dari segi komersialitas, bioskop mendapat keuntungan dari keramaian yang ditimbulkan. Gaya hidup manusia yang telah berubah menuntut adanya konsep penunjang disamping kegiatan utama bioskop sebagai tempat pemutaran film. Pusat perbelanjaan bukanlah jangkauan setiap kalangan, sehingga konsep bioskop zaman sekarang bukanlah untuk semua orang. Fenomena yang kemudian muncul adalah, bergesernya fungsi gedung bioskop di Kota Pontianak. Bioskop hanya menjadi pemicu orang mendatangi tempat utama dengan kebutuhan lain. Fungsi sekunder dari bioskop mencoba menarik perhatian konsumen, ketika orang tersebut melakukan aktivitas lain. Gedung bioskop memiliki nilai lebih melalui pewadahan aktivitas pendukung. Bioskop sebagai fasilitas terbaik perjumpaan masyarakat dengan film, kecenderungan bioskop yang dipergunakan sebagai daya tarik dari sebuah area komersial menimbulkan miskinnya variasi tempat untuk menonton. Gejala tersebut menyimpulkan perlunya bioskop dengan konsep ruang publik. Konsep ini membuat gedung bioskop sebagai titik penggerak dalam keseluruhan fungsi gedung, tidak hanya sebagai bioskop untuk menonton film, tapi sebagai ruang publik kota yang terus hidup walau fungsi utama fasilitas sedang berhenti. Bioskop sebagai mata rantai terakhir dari proses produksi film, bioskop akhirnya dapat menjelmah menjadi wujud etalase dan media apresiasi film secara utuh. Kata kunci: Pontianak, Bioskop, pusa
PERANCANGAN PUSAT PELATIHAN MENGEMUDI DI KOTA PONTIANAK
Kota Pontianak adalah kota yang memiliki jumlah pengguna kendaraan bermotor yang terus meningkat setiap tahunnya. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan masyarakat akan kendaraan di Kota Pontianak yang terus meningkat sehingga di berlakukannya UU No. 14 tahun 1992 tentang lalu Lintas yang menyatakan bahwa setiap kendaraan bermotor maupun pengemudinya diwajibkan mempunyai/ memiliki perijinan mengemudi. Meningkatnya pengeluaran SIM (Surat Izin Mengemudi) tersebut yang memicu berdirinya biro-biro pelatihan mengemudi di Kota Pontianak sebagai suatu wadah agar masyarakat mahir mengemudi yang bertujuan untuk mendapatkan surat izin mengemudi (SIM). Pusat Pelatihan Mengemudi adalah suatu tempat yang berfungsi untuk menampung seluruh kegiatan pelatihan mengemudi dengan fasilitas-fasilitas yang memadai sehingga aman dan terbentuk suatu kepercayaan masyarakat dan diharapkan dapat mempertegas eksistensi Pusat Pelatihan Mengemudi di Kota Pontianak. Perancangan Pusat Pelatihan Mengemudi akan diarahkan lebih ke pemenuhan fasilitas dan perbedaan jenis pelatihan berdasarkan surat perijinan SIM A, B, B2 dan C yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Disamping itu juga terdapat fasilitas pelengkap berupa fungsi kesehatan (klinik), pengisian bahan bakar, bengkel, kafetaria dan pemadam kebakaran. Kata kunci: Pusat, pelatihan, mengemud
REVITALISASI UNIT PELAKSANAAN TEKNIS DAERAH LOKA LATIHAN KERJA USAHA KECIL MENENGAH MEMPAWAH
Sarana pendidikan dan pelatihan kejuruan merupakan suatu wadah yang memberikan keterampilan kejuruan bagi sumber daya manusia sebagai bekal dalam dunia kerja, dengan keterampilan tertentu yang dimiliki oleh seseorang akan mempermudah dalam mencari pekerjaan. UPTD LLK-UKM dapat menunjang dalam menciptakan manusia karya yang siap kerja. Tempat pelatihan kerja memiliki peran yang sangat vital, sehingga harus baik dari segi perancangan arsitektural sebagai tempat pelatihan. Kondisi kawasan UPTD LLK-UKM Mempawah saat ini masih belum memenuhi semua aspek tersebut. Kondisi bangunan di dalam kawasan saat ini tidak mendukung kegiatan pelatihan, terdapat beberapa masalah antara lain adalah umur dari bangunan yang sudah lebih dari 32 tahun. Selain itu hubungan dari setiap bangunan juga memerlukan penataan ulang. Kondisi kawasan yang tidak nyaman membuat minat dari calon siswa pelatihan menjadi menurun. Berdasarkan permasalahan tersebut maka tindakan Revitalisasi kawasan perlu untuk dilakukan agar kegiatan pelatihan di dalam kawasan kembali vital. Kata kunci: Pelatihan kerja, revitalisas
PANTI ASUHAN BHAKTI LUHUR UNTUK ANAK PENYANDANG CACAT DI PONTIANAK
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1988 Tentang Usaha Kesejahteraan Bagi Anak, dinyatakan bahwa anak merupakan generasi penerus dalam pembangunan bangsa dan Negara, sehingga diperlukan usaha untuk mewujudkan kesejahteraan bagi anak. Dalam beberapa keadaan tertentu, orang tua yang bertanggung jawab dalam memenuhi kesejahteraan anak tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik sehingga menimbulkan keterlantaran. Maka, Pemerintah memiliki peran dalam membuat Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang mempunyai tanggung jawab kepada anak yang tidak mempunyai orang tua dan terlantar, anak terlantar dan anak yang mengalami masalah kelakuan, untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial dengan cara memenuhi segala kebutuhan, baik berupa material maupun spiritual, meliputi sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan. Salah satunya adalah Yayasan Bhakti Luhur yang juga memiliki panti asuhan bagi para penyandang cacat. Hal utama yang menjadi pertimbangan dalam perancangan panti asuhan ini adalah aksesibilitas anak penyandang cacat di dalam bangunan sebagai pengguna utama bangunan. Konsep rancangan ini adalah memaksimalkan ruang – ruang yang terbentuk pada bangunan dan menerapkan konsep yang aman bagi penyandang cacat, terutama anak – anak, sehingga diharapkan dapat menyediakan suatu wadah berupa panti asuhan yang memberikan kenyamanan bagi pengguna di masa mendatang. Kata kunci: panti asuhan, anak, anak penyandang caca
PENATAAN KAWASAN PASAR TRADISIONAL KENANGA-ANGGREK
Pasar tradisional berperan penting sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari manusia. Salah satu pasar tradisional yang ada di Kota Pontianak ialah Pasar Tradisional Kenanga-Anggrek. Pasar ini berlokasi di Kelurahan Tambelan Sampit dan Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Lokasi pasar ini sangat strategis karena berada di tepi Sungai Kapuas Kecil dan di sekitar bangunan cagar budaya yaitu Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman dan Kompleks Keraton Kadriyah. Namun, kegiatan di pasar ini mengganggu kegiatan di kedua bangunan cagar budaya serta mencemari sungai. Oleh karena itu, pasar ini membutuhkan penataan yang dapat menanggapi sungai serta bangunan cagar budaya di sekitarnya. Metode yang ditempuh dalam proses penataan ialah mengumpulkan data melalui proses survey, wawancara serta studi literatur. Selain itu, dilakukan juga proses analisis potensi dan permasalahan terkait dengan kondisi internal dan eksternal pasar. Sehingga dihasilkan konsep programatik, skematik dan rancangan yang difokuskan pada konsep sinergi antara pasar, bangunan cagar budaya dan sungai. Konsep sinergi bertujuan agar bangunan pasar dapat menunjang fungsi wisata air dan budaya, namun tetap menjaga hierarki kedua bangunan cagar budaya. Konsep tersebut diaplikasikan pada gubahan bentuk bangunan pasar yang tidak melebihi ketinggian kedua bangunan cagar budaya. Diharapkan konsep tersebut dapat diaplikasikan pada penataan Kawasan Pasar Tradisional Kenanga-Anggrek di masa mendatang. Kata Kunci: Penataan, Kawasan, Pasar Tradisional Kenanga-Anggrek, Sinergi, Bangunan Cagar Budaya, Sunga
Terminal Petikemas pada Pelabuhan Internasional Pantai Kijing di Kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Pontianak
Terminal Petikemas pada Pelabuhan Dwikora Pontianak merupakan Terminal yang memiliki peranan dalam pendistribusian barangkeluar dan masuk dari dan menujuKota Pontianak, namun dikarenakan beberapa permasalahan diantaranya sempitnya lahan penumpukan, kurang tersedianya fasilitas umum bagi pekerja dan sering terjadinya cross circulation akanmenghambat kegiatan bongkar muat. Pantai Kijing di Kecamatan Sungai Kunyit merupakan salah satu alternatif lokasi pembangunan Pelabuhan Internasional sebagai pengembangan dari Pelabuhan Dwikora Pontianak yang dianggap paling layak berdasarkan studi kelayakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan tahun 2010. Metodologi perancangan ditempuh dengan mengumpulkan data melalui observasi dan dokumenter, proses analisis data dari berbagai aspek yaitu kondisi eksisting tapak, program ruang berdasarkan pelaku dan prosedur kegiatan, zonasi ruang secara makro dan mikro, bentuk kawasan dan bentuk bangunan yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal sebagai ciri khas kawasan.Konsep rancangan yang dihasilkan adalah pemisahan fasilitas utama dan penunjang berdasarkan pelayanan kapal domestik dan internasional dengan bentuk kawasan dari kombinasi type dermaga pier dan arah kedatangan kapal serta pemisahan sirkulasi kendaraan melalui konsep double circulation namun tetap memperhatikan jarak pencapaian ruang di dalam kawasan,dan menyediakanrest area bagi pekerja. Bentuk bangunan utama merupakanperpaduan fungsi kawasan dan penerapan nilai-nilai kearifan lokal yang dituang dalam desain bentuk atap dengan tujuan sebagaiciri khas. Kata kunci : Terminal Petikemas, Pelabuhan Internasional Pantai Kijin