SPASIAL
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
TIPOLOGI URBAN SPRAWL BERDASARKAN ATRIBUT KONTINUITAS AREA TERBANGUN DI KECAMATAN BIRINGKANAYA DAN KECAMATAN TAMALANREA, KOTA MAKASSAR
Mekanisme perkembangan Kota Makassar menyebabkan perkembangan kawasan perkotaan di kawasan pinggiran atau sub urban yang ditunjukkan melalui urban sprawl, yaitu suatu perkembangan wilayah perkotaan yang terjadi di kawasan pinggiran secara tidak teratur .Beberapa kecamatan yang mengalami urban sprawl di Kota Makassar adalah Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Tamalanrea yang mengalami pertumbuhan penduduk cukup pesat dari tahun ke tahun. Didukung dengan luas wilayah Kecamatan Biringkanaya sebesar 48,22 km2 atau 27,43% dari total luas daratan Kota Makassar dan luas wilayah Kecamatan Tamalanrea 31,84 km² atau 18,2% dari total luas daratan kota Makassar, tentunya akan berpengaruh pula terhadap pertumbuhan penduduk di lokasi penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui intensitas urban sprawl berdasarkan atribut kontinuitas area terbangun dan mengidentifikasi tipe sprawl di Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Tamalanrea di Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan analisis dengan metode penelitian kuantitaif dengan pendekatan deskriptif.Hasil penelitian terdapat 2 tingkatan urban sprawl di Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Tamalanrea, yaitu tingggi, dan rendah dan tipe urban sprawl adalah tipe lompatan katak (leapfrog development),tipe linier (ribbon development) dan tipe konsetris.Kata Kunci: urban sprawl, intensitas, atribu
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERADAAN PERMUKIMAN DI KAWASAN RAWAN LETUSAN GUNUNG BERAPI SOPUTAN
Desa Kuyanga, Desa Silian Satu berada di Kecamatan Tombatu Utara dan Kecamatan Silian Raya Kabupaten Minahasa Tenggara dan Desa Kotamenara di Kecamatan Amurang Timur merupakan desa yang dekat dengan Gunung Saputan, ketiga desa masuk radius 10 Km dari kawah gunung Api Soputan. Bila terjadi letusan berpotensi terlanda hujan abu dan dapat terkena lontaran batu (pijar) yang meyebabkan kerugian material maupun korban jiwa. Namun masyarakat tetap bermukim di daerah tersebut dalam beberapa faktor. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan faktor yang mempengaruhi keberadaaan permukiman di kawasan rawan bencana (KRB) I Gunung Api Soputan. Penelitian menggunakan analisis spasial dan analisis deskriptif statistik yaitu menggunakan tabel frekuensi. Hasil penelitian karakteristik permukiman ketiga desa yaitu, Desa Kuyanga, Silian Satu dan Kotamenara mempunyai pola permukiman terpusat dengan jenis bangunan yang berbeda, Desa Kuyanga 60 persen masyarakat menghuni bangunan semi permanen diikuti Desa Kotamenara sebesar 53 persen dan Desa Silian Satu sebesar 47 persen. Hasil analisis faktor yang mempengaruhi keberadaan permukiman ketiga desa juga berbeda, Desa Kuyanga faktor yang mempengaruhi adalah faktor akses ke tempat kerja, status kepemilikan rumah, dan dampak erupsi. Desa Silian satu dengan faktor hasil pendapatan kerja, pendidikan terakhir dan mempunyai kerabat sedangkan Desa Kotamenara hanya faktor erupis saja yang mempengaruhi.Kata kunci:.Karakteristik Permukiman, Kawasan Rawan Bencana Letusan Gunung Api, Faktor Keberadaaan Permukima
ANALISIS PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN PINELENG TAHUN 2009-2018 (STUDI KASUS : KECAMATAN PINELENG)
Permukiman merupakan wilayah yang memiliki peningkatan di karenakan adanya pertumbuhan penduduk yang pesat sehingga kebutuhan akan tempat tinggal yang menjadi pokok kebutuhan manusia menjadi meningkat , kejadian ini juga mempengaruhi lahan yang merupakan potensi fisik atau sumber daya alam yang secara kuantitas tidak akan bertambah, sedangkan pertumbuhan penduduk senantiasa mengalami perkembangan cukup pesat dari waktu ke waktu. Hal ini akan menimbulkan ketidakseimbangan antara kebutuhan penduduk akan lahan yang tidak terbatas dengan jumlah lahan yang terbatas. Kecamatan Pineleng memiliki laju pertumbuhan penduduk per tahun paling tinggi di Kabupaten Minahasa yaitu pada tahun 2010-2017 dengan angka pertumbuhan 2,62%, tingginya pertumbuhan penduduk membuat kebutuhan akan tempat tinggal menjadi meningkat dengan letak kecamatan pineleng yang berada di antara dua kota yaitu kota manado dan tomohon sehingga kecamatan pineleng menjadi kawsan yang strategis untuk bermukim dilihat dari perkembangan permukiman yang meningkat pada tahun 2009-2018 di beberapa Desa yaitu Desa Sea Tumpengan, Sea Mitra, Winangun Atas, Pineleng Satu, Lotta,dan Pineleng Dua. Kata Kunci: Perkembangan Permukiman, Pola Permukiman
STUDI PERSEPSI MASYARAKAT SETEMPAT TERHADAP DAYA DUKUNG HABITUASI KOTA PALU PASCA BENCANA TAHUN 2018
Disaster is an event or series of events that threaten and disrupt people's lives caused by both natural and/or non-natural factors including human actions, resulting in human casualties, environmental damage, property losses and psychological impacts. The traumatic experience as a result of the disaster can basically change the perception of the local community regarding the existence of their place of residence where the disaster has occurred. The analytical method used is the Likert scale, simple description, Spearman rank test and chi square test. Liker scale analysis is used for manual calculations using a formula to measure the opinions of each respondent, simple description analysis makes conclusions from the results of the questionnaire. Meanwhile, the chi square test and the rank of separman are used to find out how far the consistency of people's answer choices is related to perceptions, preferences and affection. The results of the study show that they can still survive or habituated in the city of Palu as long as the community can support each other, then they still choose to stay in the city of Palu by having the ability to seek mitigation properly and correctly. Keywords:Public perception, Likert scale, Spearman rank test and chi square test
MITIGASI BENCANA BANJIR STRUKTURAL DAN NON-STRUKTURAL DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SELATAN
South Bolaang Mongondow Regency is one of several regencies in North Sulawesi province, where this area is often referred to by observers as a non-zom area or there is no precise season to predict. So that hydrometeorological disasters, especially floods, are very likely to occur if there is no prevention stage in disaster management. The flood incident that submerged almost all areas in the sub-district on July 24, 2020 proved that preparedness was needed in dealing with the flood disaster which caused 93 houses to be heavily damaged and 165 people evacuated (DIBI, 2020). The level of disaster risk looks at how the index of the hazard, vulnerability, and capacity of a disaster can be, so that the level of risk of a flood disaster can be known. In determining disaster risk, using the policy of the Regulation of the Head of the National Disaster Management Agency Number 2 of 2012 concerning General Guidelines for Disaster Risk Assessment. The results of the existing risk level will then be used as recommendations for later flood disaster mitigation, both structurally and non-structurally. The level of flood risk resulted in 3 villages with a high level of flood risk, 14 villages with a moderate level of flood risk, and 42 villages with a low level of flood risk. Disaster mitigation that adapts to the level of risk from disasters where villages with high flood risk are recommended to make plans for physical (structural) development in an effort to reduce the danger from flooding, then villages with moderate flood risk are recommended for additions or improvements regarding physical form ( structural) flood control that already exists or does not exist, and areas with low flood risk, it is recommended to improve the physical (structural) form of existing flood control, but not optimal in the implementation system.KEYWORDS : Mitigation, Flood Disaster, Structural, Non-Structural, Risk Leve
ANALISIS KERENTANAN BENCANA BANJIR DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA
The natural disasters in Indonesia have tended to increase over the years, flood disasters will occurthroug hout the country. The increasing level off lood disasters in Indonesia does not only affect thearea,but the amount of damage that is caused is also increasing. The research location in Bolaang Mongondow Regency for floodv ulnerability.TheobjectivesofthisresearchareidentifyingFloodTeachingCallsinBolaangMongondow Utara Regency and recommending flood disaster mitigation strategies to reduce flooddisaster lottery drawings. The methodsconducted by quantitative descriptive analysis method and overlay, in which too obtain vulnerability data that combine son aflood vulnerability vulnerability to social vulnerability, physical vulnerability, economic vulnerability, and environmental vulnerability. The resultsof this study are the level of flood vulnerability in Bolaang Mongondow Utara Regency isclassified into three, namely high, medium and low, Further, the results of the analysis of the flood disastervulnerability index for 2 sub-districts with high levels of vulnerability need to be carried out by an institution or recommendation for the North Bolaang Mongondow Regency government related to disaster mitigation planning and development based on physical, social, economicand environmental aspects. keyword:Disaster,Flow,vulnerability,disastermitigation,mappin
EVALUASI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM KOTAKU DI KOTA MANADO
Pada tahun 2016 masih terdapat 35.291 hektar daerah kumuh yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia sesuai dengan hasil perhitungan luasnya daerah kumuh perkotaan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya. Kondisi tersebut dapat diperkirakan akan terus mengalami penambahan apabila tidak ada bentuk penanganan yang inovatif, menyeluruh, dan tepat sasaran. Pemerintah Kota Manado dengan program KOTAKU mendukung peningkatan akses ke infrastruktur dan mendukung pengembangan daerah kumuh perkotaan untuk mendukung penetapan evaluasi yang layak huni, produktif, dan berkelanjutan, perlu dilakukan tinjauan yang lebih mendalam terhadap program ulang yang dilakukan oleh pemerintah, perlu ada perencanaan atau dukungan dalam perencanaan keberlanjutan dalam program ini.Tujuan Dari penelitian ini untuk mengetahui analisis tingkat partisipasi masyarakat dalam Program KOTAKU di Kota Manado dan untuk mengetahui faktor penghambat dan faktor pendorong partisipasi masyarakat dalam Program KOTAKU di Kota Manado. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini ialah metode analisis skala likert dengan mengukur data dengan kuesioner. Hasil dari analisis data partisipasi masyarakat dalam program kotaku secara keseluruhan partisipasi masyarakat untuk program Kotaku masih kurang berpartisipasi, dalam analisis faktor pendukung adalah kesadaran masyarakat dalam berpartisipasi menjadi salah satu faktor pendukung dalam pelaksanaan program, sedangkan faktor penghambat adalah masih kurangnya kesadaran atau kemauan masyarakat, masyarakat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, kurang pahamnya masyarakat akan pembangunan yang baik, kurang tanggapnya masyarakat terhadap masalah-masalah yang terjadi pada lingkungannya sendiri dan fasilitas kurang memadai.Kata Kunci: Evaluasi, Partisipasi Masyarakat, Program KOTAKU
KETERSEDIAAN SARANA PRASARANA DAN KRITERIA KHUSUS KAWASAN MINAPOLITAN DI KECAMATAN NUANGAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR
Pengembangan kawasan Minapolitan bertujuan untuk mendorong percepatan pengembangan wilayah dengan kegiatan perikanan sebagai kegiatan utama dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat salah satunya pada Kabupaten Bolaang Mongondow Timur yang hampir sebagian besar daerahnya berada dibagian pesisir yang kaya akan hasil alamnya pada bidang perikanan. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana ketersediaan prasarana sarana dan kriteria khusus kawasan minapolitan di Kecamatan Nuangan Bolaang Mongondow Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan prasarana sarana pendukung serta menganalisis ketersediaan dan mengetahui tingkat ketersediaan prasarana sarana terhadap kriteria khusus pengembangan kawasan minapolitan di Kecamatan Nuangan. Metode analasisi yang deskriptif kuantitatif dan dalam analisis data menggunakan analisis skala likert. Dari hasil penelitian disimpulkan menjadi 2 dari hasil identifikasi di kategorikan sedang dan rendah di karenakan prasarana sarana yang ada saat ini pada lokasi penelitian masih dalam tahap pengembangan dan prasarana yang di butuhkan yaitu pembangunan jaringan air bersih dapat di kembangkan, untuk jaringan telekomunikasi perlu ditambah tower untuk jarinagan hp pada beberapa desa seperti pada desa Mata Bulu dan Jiko Belanga dan kebutuhan dermaga yang belum ada. Sedangkan sarana yaitu kebutuhan lembaga masyarakat (kelompok tani/nelayan), TPI, industri pengolahan ikan, lapangan penjemuran, pabrik es, lembaga keuangan, SPBU/SPDN, gedung pengolahan/pengepakkan, penyediaan benih, lemari pendingin dan bengkel perahu.Kata Kunci : Sarana, Prasarana, Minapolitan, Nuanga
ANALISIS KAWASAN STRATEGIS SOSIAL BUDAYA DI KOTA MANADO
Kawasan strategis sosial budaya merupakan kawasan dengan ciri khas dalam bidang sosial budaya yang mempunyai pengaruh penting terhadap perkembangan kota. Di Kota Manado, beberapa daerah masih mempertahankan budaya leluhurnya yaitu Suku Bantik. Suku Bantik terletak di kecamatan Malalayang. Masyarakat Suku Bantik memiliki ciri khas tersendiri dalam interaksi sosial. Tujuan dari penelitian ini ialah, untuk mendeskripsikan kondisi sosial budaya pada permukiman suku Bantik di Kecamatan Malalayang Kota Manado, dan untuk mengidentifikasi potensi permukiman Bantik di Kecamatan Malalayang sebagai kawasan strategis sosial budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode analisis deskriptif kualitatif dan ArcGIS dalam pemetaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Suku Bantik masih memegang teguh adat istiadat dalam berinteraksi satu sama lain. Suku Bantik masih melestarikan beberapa peninggalan leluhur mereka. Warisan budaya Suku Bantik memiliki jejak fisik yang berpotensi di kawasan tersebut. Permukiman suku Bantik terdapat potensi alam berupa pemandangan pantai, yang jarang ditemukan di perkotaan. Oleh karena itu, potensi permukiman Suku Bantik tidak hanya potensi budaya, tetapi juga potensi alam yang perlu dikembangkan. Kata Kunci: Kawasan Strategis, Sosial Budaya, Suku Bantik, Malalayan
KAJIAN KARAKTERISTIK MORFOLOGI PULAU LEMBEH UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA
Ekowisata yaitu suatu kegiatanobervasiwisata alam menuju ke daerah yang bertanggung jawab untuk membudidayakan unsur pendidikan,pemahaman, dan dukungan terhadap usaha konservasi sumber daya alam(SDA) dan juga guna untuk peningkatan pendapatan masyarakat lokal.. Sulawesi Utara memiliki potensi kawasan yang sangat besar sehingga wisatawan dapat dengan mudah menikmati keindahan kawasan wisata tersebut, Karakteristik yang unik sehingga menawarkan keindahan alam yang dapat dinikmati oleh para wisatawan Keunikan bentukan morfologi seringkali menjadi bentukan alam yang memiliki nilai wisata pengembangannya, kepariwisataan dikelola dan dikembangkan melalui prinsip ekowisata. Sumber data didapat melalui observasi dan analisis SWOT. Dari hasil penelitian diketahui bahwa potensi morfologi Pulau Lembeh yang dapat dikembangkan menjadi kawasan kegiatan ekowisata yaitu Pantai Kahona,Hutan Mangrove Pintu Kota dan Pantai Kareko. Dengan pertimbangan tersebut yaitu kekuatan dan peluang pada sumberdaya memberikan strategi khusus terhadap bentuk pemanfaatan sebagai kawasan ekowisata yakni dengan dilakukan strategi agresif – SO (Kekuatan dan Peluang) yang menciptakan starategi dengan mempertimbangkan kekuatan untuk memanfaatkan peluang.Kata Kunci: ekowisata, morfologi,SWO