SPASIAL
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
IDENTIFIKASI TINGKAT KERAWANAN BENCANA LONGSOR DI KECAMATAN KAWANGKOAN UTARA, KABUPATEN MINAHASA
Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana alam. Salah satu faktornya karena wilayah Indonesia terletak di garis khatulistiwa sehingga menjadikan Indonesia beriklim tropis yang memiliki curah hujan tinggi. Perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu dapat menyebabkan bencana sangat mudah terjadi. Khususnya bencana longsor terjadi akibat curah hujan yang tinggi. Kawangkoan Utara adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Ibukota Kecamatan Kawangkoan Utara adalah Kiawa Dua Timur, berjarak sekitar 26 km dari Tondano, ibukota Kabupaten Minahasa. Dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis spasial dengan bantuan alat analisis GIS (Geography Information system) dan analisis skoring. Proses overlay menggabungkan peta digital beserta data-data empat peta parameter yang digunakan memiliki hasil yaitu Kecamatan Kawangkoan Utara memiliki tingkat kerawanan longsor yang tinggi dengan seluas 1018,822 Ha atau 63% dari luas total wilayah.Kata Kunci: Rawan longsor, Bencana,Geography Information system
ANALISIS PERKEMBANGAN POLA PERMUKIMAN DI SEKITAR KAWASAN STRATEGIS AGROPOLITAN RURUKAN KECAMATAN TOMOHON TIMUR
Kawasan strategis kota merupakan bagian wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kota di bidang ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan. Dalam setiap wilayah kabupaten/kota memiliki bagian wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan strategis. Kecamatan Tomohon Timur merupakan salah satu kecamatan yang ditetapkan sebagai kawasan strategis kota yaitu kawasan strategis agropolitan, yang menjadi salah satu basis ekonomi wilayah kota Tomohon. Adanya kawasan agropolitan ini akan memicu perkembangan permukiman yang berada di sekitar kawasan strategis tersebut serta dapat mempengaruhi pola perkembangan permukiman Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi perkembangan permukiman di sekitar kawasan strategis agropolitan dan menganalisis pola perkembangan permukiman disekitar kawasan strategis agropolitan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analisis spasial time series untuk melihat perkembangan permukiman dan menggunakan perhitungan analisis tetangga terdekat untuk mengetahui pola permukiman. Hasil penelitian diperoleh adanya perkembangan luas wilayah sebaran permukiman dari tahun 2004-2019 sebesar 32.85 Ha. Adanya perubahan pola permukiman tahun 2004-2019 khususnya kelurahan Rurukan 1 dan Kumelembuay, dari pola seragam menjadi pola random.Kata Kunci: Kawasan Strategis, Permukiman, Pola Permukiman
THE IMPACT OF COMMUNITY ACTIVITIES ON TRANSPORT IN THE DOWNTOWN AREA OF TOMOHON IN THE NEW NORMAL ERA
Society cannot be separated from activities in order to meet important needs. Activities to meet this need require a tool for moving places, namely modes of transportation. Movements of transportation modes must be well planned so that people can feel safe and comfortable. Since the city center of Tomohon is a diverse land use area, activities to meet the needs of the area are concentrated. This has generated interest in conducting research on the impact of community activities on transportation, especially in the context of the COVID-19 pandemic. This study aims to identify the characteristics and patterns of community activity, the factors that influence it, the extent and model of Tomohon's downtown traffic impact in the new normal era. This study uses a quantitative approach using methods of factor analysis and path analysis. The sample for this survey consisted of 400 respondents randomly selected from a target audience of people active in downtown Tomohon. The results of this survey are (1) the characteristics and patterns of community activities based on the main forms of activities carried out, the timing of activities, and the types of activities. (2) There are three community activity factors that influence before the new normal era, and there are two community activity factors that influence during the new normal era. (3) Social activity factors (F3) have the greatest impact on the traffic attraction before the new normal era, while economic, educational and religious activity factors (K1) have the greatest influence on traffic attraction during the new normal era. Keywords: factors, community activities, traffic, path analysi
KAJIAN BENTUK STRUKTUR SPASIAL BERDASARKAN POLA PERGERAKAN MASYARAKAT DI KOTA TOMOHON TERKAIT FENOMENA PANDEMI COVID-19 SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI LOKAL
Through a 2020 study, Winda Palindang¹, Octavianus HA Rogi² & Johannes Van Rate³, "Analysis of Tomohon City Transportation Policy Based on Community Movement Plans as an Indicator of City Spatial Structure" researchers identified the type of spatial structure of the city of Tomohon through a dynamic density approach with indicators of people's daily movement patterns as a result. the tendency of a polycentric spatial structure. From this statement, the researcher feels interested in developing this research, still with the same indicators, but by comparing the three periods that are currently happening, namely the period before, during and after the COVID-19 pandemic began to be under control. The purpose of this study is to see whether the state of the COVID-19 pandemic affects the shape of the existing spatial structure as well as to elaborate on the choice of the type of transportation network policy that is compatible with the identified spatial structure. The methods used are quantitative techniques and profit tabulation of origin-destination matrix development with a structured questionnaire or interview format, as well as visualization of the origin-destination matrix in the form of a desire line map or called a "desire line map". The conclusions of this research are; (1) The form of the spatial structure of the city of Tomohon in three types of periods, namely before, during, and after the COVID-19 pandemic has not changed, namely in the form of polycentric. (2) The transportation network policies that need to be considered include: accelerating the execution of the transportation network development plan according to the RTRW of Tomohon City, namely the plan for a type B terminal at the gates of the city of Tomohon, accelerating the procurement of transportation routes between sub-districts. Then the need to strengthen the carrying capacity of local service centers that can be an alternative for community activities to minimize the accumulation of trips to one area. It is recommended for the main corridor of the city of Tomohon to use the concept of a larger mass transportation considering that so many people travel using the main corridor of the city of Tomohon, as well as optimizing microbuses as a mode of transportation for inter-district destinations. And the last is improving the quality of the transportation network for the convenience of its users.Keywords: Spatial Structure, Movement Pattern, Origin-Destination Matrix, Transportation Networ
PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PENGEMBANGAN OBJEK WISATA DI KECAMATAN KEMA KABUPATEN MINAHASA UTARA
This research focuses on the community around the tourist attraction in Kema District, namely in Kema II Village, Kema III Village, and Makalisung Village. The method approach used is descriptive quantitative analysis, as well as the measuring tool used, namely the application of the SPSS (Statistical Package for the Scientists) version 25 program. The objectives, theories and analysis used are to identify the social characteristics of the community (Slamet, 1993), the forms of community participation (Dusseldorp, 1981), as well as the level of community participation (Sherry Arnstein, 1969), using analysis a frequency distribution. Then the analysis was crosstabs used to compare the number of people's participation in the first and second research objectives. The results of this study indicate that, community participation begins with the social characteristics of the community (gender, age, job level, type of work, and income level). This makes the difference between each individual characteristic that a person has in participating in community participation. Nevertheless, the community still tries and cooperates in carrying out its role in the activities of its forms of participation, without limiting the differences of each person's individual characteristics. The community's activeness in participating in activities shows that the community cares about a series of activities organized by the village government and is willing to be invited to cooperate, in order to improve and develop their village. This can be seen from the fairly good number of community participation, as well as the voluntary involvement of the community. The level of community participation, Kema II and Kema III villages are at thelevel Consultation, Makalisung Village is at thelevel Informing. Keywords: Levels and Forms of Community Participation, Tourism Object Developmen
ANALISIS TINGKAT LAHAN KRITIS BERBASIS SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS) DI KABUPATEN BANGGAI
Lahan kritis merupakan tanah yang mengalami atau dalam proses kerusakan kimia, fisik, dan biologi yang dapat mengganggu atau kehilangan fungsinya di dalam lingkungan. Kondisi ini dapat merusak tata air dan lingkungan sekitarnya. Dampak dari lahan kritis adalah penurunanan tingkat kesuburan tanah, berkurangnya ketersediaan sumber air pada musim kemarau serta banjir pada musim hujan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Banggai tahun 2012-2032, Luasan lahan kritis di Kabupaten Banggai sebesar 116.076 Ha atau 12,35% dari luas wilayah kabupaten secara keseluruhan dan pada hasil analisis Tahun 2019 luas lahan kritis mencapai ±378439.20 Ha atau 42% dengan kenaikan 30% dan rata-rata kenaikan pertahun 2012-2019 adalah 5%. Keberadaan lahan kritis ini disebabkan oleh penggundulan hutan dan dapat berdampak pada rawan bencana longsor dan kekeringan. Dari aspek penggunaan lahan Kabupaten Banggai didominasi penggunaan lahan berupa hutan lebat dengan luas ±585987 ha, dan hutan belukar dengan luas ±94154.64 ha, Penyebab utama lahan kritis pada daerah penelitian adalah karena aktivitas pertanian yang tidak memperhatikan aspek-aspek kelestarian lahan. Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode skoring dapat digunakan untuk pengambilan keputusan mengenai pengelolaan lahan secara tepat untuk menghindari kerusakan ekosistem yang ada. Peta tingkat lahan kritis dihasilkan dari overlay peta kemiringan lereng, penutupan Lahan, bahaya erosi, dan manajemen lahan yang sesuai dengan peraturan Departemen Kehutanan No. P.4/V-SET/2013. Berdasarkan hasil penelitian maka diketahuilah penyebab lahan kritis di Kabupaten banggai diantaranya di pengaruhi oleh kemiringan lereng dengan klasifikasi kemiringan 15–25 % yaitu agak curam dengan luas ±228890.63 ha atau 25%, dan tingkat bahaya erosi dengan klasifikasi erosi cukup tinggi dengan luas ±181647.32 ha atau 20% dari luas wilayah Kabupaten, dan sering terjadinya kebakaran hutan yang di sebabkan oleh alih fungsi lahan seperti pembukaan lahan pertanian dan perkebunan kelapa. persebaran tingkat lahan kritis yang ada di Kabupaten Banggai terdiri atas 23 Kecamatan dengan luas lahan kritis yaitu Kecamatan Toili Barat ±104526.15 ha atau 12%, Kecamatan Toili ±70932.84 ha atau 8%, Kecamatan Moilong ±30646.46 ha atau 3%, Kecamatan Batui Selatan ± 42504.56 ha atau 5%, Kecamatan Batui ±53228.33 ha atau 6%, Kecamatan Kintom ±47749.36 ha atau 5%, Kecamatan Nambo ±17139.13 ha atau 2%, Kecamatan Luwuk Selatan ±13012.46 ha atau 1%, Kecamatan Luwuk ±9363.79 ha atau 1%, Kecamatan Luwuk Utara ± 20573.62 ha atau 2%, Kecamatan Luwuk Timur ±20637.56 ha atau 2%, Kecamatan Masama ±21047.79 ha atau 2%, kecamatan Lamala ± 15306.97 ha atau 2%, Kecamatan Mantoh ±18114.26 ha atau 2%, Kecamatan Balantak Selatan ± 6834.70 ha atau 1%, kecamatan Balantak ±12947.52 ha atau 1%, Kecamatan Balantak Utara ± 17783.47 ha atau 2%, kecamatan Bualemo ± 98833.17 ha atau 11%, Kecamatan Pagimana ±68051.81 ha atau 8%, Kecamatan Lobu ±15777.14 ha atau 2%, Kecamatan Bunta ±54993.55 ha atau 6%, Kecamatan Simpang Raya ±14361.97 ha atau 2%, Kecamatan Nuhon ±119928.15 ha atau 13%.Kata kunci: Sistem Informasi Geografis, Tingkat Lahan Kriti
ANALISIS KAWASAN PARIWISATA PESISIR PANTAI DI KECAMATAN KOMBI KABUPATEN MINAHASA
Pariwisata cukup dominan sebagai penggerak pembangunan di Indonesia dan telah memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat dan pemerintah. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara khususnya di Kecamatan Kombi memiliki kawasan objek wisata alam pantai yang indah namun belum terekspos dan terkelola dengan baik khususnya pada aspek prasarana dan sarana pariwisata. Berdasarkan hal itu maka dilakukan analisis mengenai kondisi prasarana dan sarana pada objek wisata di Kecamatan Kombi. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan kawasan pariwisata pesisir pantai menggunakan analisis SWOT untuk menentukan kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang, serta strategi pengembangan kawasan wisata pesisir pantai sesuai dengan variabel-variabel pariwisata yang ada. Metode analisis menggunakan pedoman analisis daya tarik objek wisata alam (ODTWA) sebagai pedoman dalam menetapkan skala prioritas pengembangan objek daya tarik wisata (ODTWA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi prasarana dan sarana masih perlu ditingkatkan; faktor-faktor internal dan external analisis pengembangan kawasan wisata pesisir pantai di Kecamatan Kombi dengan strategi pengembangannya yaitu mempromosikan wisata; memanfaatkan fasilitas yang sudah ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan; dan pelatihan untuk masyarakat dalam pengelolaan objek wisata.Kata Kunci:Analisis, Kecamatan Kombi Pariwisata, Pesisir Pantai, SWO
STUDI TATA BANGUNAN & LINGKUNGAN KAWASAN PESISIR BIAK DI KABUPATEN BIAK NUMFOR
Wajah kota Biak di bagian pesisir nampak masih membelakangi pantai, yang seharusnya menghadap ke pantai. Kondisi pesisir kota Biak saat ini menunjukkan bahwa penataan kawasan tersebut belum dilakukan secara optimal karena belum adanya rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL). Hal inilah yang mendorong minat peneliti untuk melakukan pengkajian terhadap permasalahan-permasalahan yang ada dengan melakukan penelitian ilmiah dengan judul “Studi Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Pesisir Kota Biak Di Kabupaten Biak Numforâ€. Tujuan dari penelitian ini yaitu agar dapat mengidentifikasi potensi dan permasalahan yang terkait dengan penataan bangunan dan lingkungan serta agar dapat mengeluarkan konsep rencana tata bangunan dan lingkungan pada kawasan pesisir kota Biak. Komponen penulisan karya ilmiah ini menggunakan â€metode penelitian kualitatifâ€. Jenis metode penelitian yang dipergunakan adalah penelitian penjajakan (eksploratory research), yaitu penelitian yang bertujuan untuk menemukan problematik-problematik baru. Setelah diperoleh hasil berdasarkan tujuan melalui analisis kawasan guna mengetahui potensi dan permasalahan pada kawasan maka dapat dirumuskan bahwa konsep perencanaan yang dirasa tepat untuk penataan dan perancangan tata bangunan dan lingkungan pada kawasan pesisir kota Biak adalah dengan menerapkan konsep mixed-used waterfront city dan memperhatikan potensi bencana pada kawasan dengan penguatan pada struktur lingkungan serta konsep mitigasi bencana agar pembangunan pada kawasan dapat berkelanjutan. Kata Kunci: Kawasan pesisir, RTBL, Mixed-Use, Waterfront City, Distrik Biak Kota
PERENCANAAN RUANG TERBUKA PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK DI PERMUKAN PADAT KECAMATAN AMURANG
Ruang terbuka publik secara umum tidak hanya berfungsi untuk masyarakat umum saja, melainkan ruang publik yang benar-benar sesuai untuk anak bermain dan beraktivitas baik dari kondisi area ruang publik maupun dari segi fasilitas yang benar-benar ramah anak, Adapun konsep RTPRA sendiri berawal dari konsep Kota Ramah Anak (Child Friendly City) yang muncul sebagai dampak dari beberapa tren penting diantaranya, transformasi cepat dan urbanisasi masyarakat global. Tujuannya untuk menentukan lokasi sebagai area perencanaan ruang terbuka public terpadu anak di Kecamatan Amurang. Untuk menentuka fasilitas apa saja yang cocok untuk dalam perencanaan ruang terbuka public terpadu ramah anak, peneltian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil survey menentukan lokasi yang bisa di jadikan sebagai alternative perencanaan ruang terbuka public ramah anak. Dari hasil observasi survey dan wawancara langsung di lapangan di temukan bahawa beberapa fasilitas ruang terbuka yang sesuai kebutuhan masyarakat di tiap kelurahan yang ada. Kata Kunci : Perencanaan, Ruang terbuka ramah anak, Kecamatan Amurang.Â
ANALISIS RAWAN BENCANA TANAH LONGSOR DI KECAMATAN RATAHAN TIMUR KABUPATEN MINAHASA TENGGARA
Bencana alam menjadi permasalahan yang sering terjadi di Negara Indonesia, letak geografis dan bentang alam menjadi salah satu faktor sering terjadi bencana alam tersebut, jumlah kejadian bencana tanah longsor di Indonesia umumnya terjadi pada wilayah yang memiliki topografi yang curam dan memiliki curah hujan 2000mm/tahun, Kecamatan Ratahan Timur memiliki 10 Desa, Desa Pangu dan Wioi adalah desa yang memiliki bentang alam yang berbukit dan, memiliki kemiringan lereng hampir mendekati 40% menjadi salah satu faktor rawan akan terjadinya longsor. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik fisik wilayah di Kecamatan Ratahan Timur, mengetahui penggunaan lahan pada daerah rawan bencana tanah longsor Kecamatan Ratahan Timur, menganalisis tingkat rawan bencana tanah longsor. Penelitian ini Menggunakan Deskriptif analisis tumpang susun. data-data yang mendukung penelitian ini ialah curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, jenis batuan dan penggunaan lahan. Mengidentifikasi karakterstik fisik di wilayah di Kecamatan Ratahan Timur yaitu topografi, curah hujan, kemiringan lereng, geologi, jenis tanah. Penggunaan lahan tertinggi di ratahan timur ialah pertanian lahan kering bercampur semak 5028,15%, sedangkan terendah ialah pertanian lahan kering 97,94%, sedangkan penggunaan lahan untuk pemukiman aialah 85,90%. menganalisis tingkat rawan bencana longsong di Kecamatan Ratahan Timur adalah yang kategori curam dan pada desa pangu satu total luasan perumahan permukiman yaitu 13.22431 Ha, dan dalam kategori rawan bencana tanah longsor tinggi yaitu seluas 5.170786 Ha, dan serta total luas total dari desa Pangu Satu yaitu 950.2512 Ha, adapun pada Desa ini termasuk dalam kategori rawan bencana tanah longsor tinggi, adapun perumahan permukiman pada rawan bencana tanah longsor sedang dengan luasan 8.053528 Ha.  Kata Kunci : Rawan Longsor, Bencana Longsor, Ratahan Timu