SPASIAL
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
A STUDY OF CHANGES IN THE SPATIAL STRUCTURE OF BITUNG CITYBASED ON INDICATORS OF PEOPLE MOVEMENT PATTERNS, RELATED TO THE COVID-19 PANDEMIC
Bitung City, as an urban area, is characterized as a cluster of built-up areas that are relatively dense and has several residential concentration clusters and high-density service centre points scattered in several zones. So, in theoretical understanding, the city of Bitung is allegedly identified as a Polycentric city. However, when the covid-19 pandemic occurred, the city of Bitung became one of the affected. The spread of exposed areas in the city was relatively fast and provided a traumatic experience for the community. This traumatic experience also encourages changes in people's perceptions, preferences, and behaviour in travelling both within the city and in and out of the city. Undoubtedly, there has been a significant change in the daily movement patterns of local people during this pandemic in the city of Bitung. Changes in the pattern of a community movement that occurred must have impacted changes in the spatial structure of Bitung City. The purpose of the study was to identify whether or not there was a change in the type of spatial structure in Bitung City based on indicators of daily movement patterns of local people in the Period before the pandemic, the peak of the pandemic, and after the peak of the pandemic whether the change will be permanent or temporary, and identify problems based on existing conditions and associative spatial policies with the type of spatial structure of Bitung City in the future in the post-pandemic era. The analysis method was the Origin-Destination Survey method with the division of the Travel Destination Survey questionnaire and comparing based on 3 (three) pandemic times such as 1) The Period Before the Pandemic; 2) The peak of the pandemic; and 3 (three) Period After pandemic peak. The results showed that (1) The shape of Bitung city space structure in the Period before the pandemic and after the peak of the pandemic tended to be in the form of a polycentric model, while at the peak of the pandemic, the city of Bitung tended to be in the form of a Monocentric model; (2) There were several urban problems that the city of Bitung must face as a city with a tendency of Polycentric Cities based on existing conditions, and some problems during the covid-19 pandemic but not continuously.Keywords : Spatial Structure, Daily Movement Patterns, Origin Destinatio
PENGARUH PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR MINAPOLITAN TERHADAP POLA RUANG DI KECAMATAN REMBOKEN
Di Indonesia perkembangan di Kawasan Minapolitan merupakan suatu pendekatan pembangunan kawasan perdesaan melalui upaya-upaya penataan ruang kawasan perdesaan dan menumbuhkan pusat-pusat pelayanan fasilitas perkotaan yang dapat mengarah pada terbentuknya kota-kota kecil berbasis Perikanan sebagai bagian dari sistem perkotaan dengan maksud meningkatkan pendapatan kawasan perdesaan. Dalam pengembangannya, penetapan sebagai kawasan Minapolitan tentunya bukan hanya dilihat dari kondisi geografis saja, melainkan perlunya didukung oleh prasarana dan sarana sebagai pendukung aktivitas ekonomi sebagaimana layaknya sebuah wilayah pesisir. Dimana peran prasarana dan sarana di kawasan Minapolitan ialah sebagai penggerak utama kunci kesuksesan dari kawasan Minapolitan. Pola ruang dalam kawasan Minapolitan mengalami perubahan tuntutan kebutuhan ruang akibat aktivitas yang masyarakat lakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembangunan infrastruktur minapolitan terhadap pola ruang di Kecamatan Remboken. Dimana metode deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengukur dan menganalisis gambaran pengaruh infrastruktur minapolitan terhadap pola ruang di Kecamatan Remboken. Kemudian untuk menganalisis pengaruh infrstruktur minapolitan terhadap pola ruang metode analisis yang digunakan yaitu Analisis Path. Hasil uji korelasi menunjukan adanya hubungan antara prasarana dan sarana minapolitan terhadap kawasan lindung dan kawasan budidaya dan hasil uji regresi menunjukan apabila terjadi peningkatan prasarana dan sarana maka hal ini akan mempengaruhi kualitas dan peruntukkan lahan kawasan lindung dan kawasan budidaya secara positif.Kata Kunci : Prasarana dan sarana; Minapolitan; Pola Ruang, Analisis Jalu
MITIGASI RISIKO BENCANA BANJIR DI MANADO
Mitigasi adalah sebuah upaya dengan tujuan untuk meminimumkan dampak bencana dengan melakukan perencanaan yang tepat. Bencana geologi dan hidrometeorologi adalah bencana yang sering dialami Indonesia. Di indonesia bencana hidrometeorologi seperti banjir dipengaruhi oleh kuatnya angin barat dan perubahan iklim dunia. Alih fungsi lahan yang tidak tepat juga mendukung terjadinya bencana ini. Berdasarkan peta kawasan rawan bencana banjir dari kementrian agraria dan tata ruang, Kota Manado memiliki kawasan rawan bencana banjir dengan kelas rawan yang cukup tinggi terlebih wilayah pusat pemerintahan dan pusat perdagangan dan jasa. Hal ini relevan dengan kondisi geografis Kota Manado yang berada pada posisi dikelilingi pegunungan serta 5 sungai besar yang melewati Kota Manado yaitu sungai Tikala dan sungai Tondano yang menyatu di daerah Paal 2, sungai Malalayang, sungai Sario dan sungai Bailang. Sungai Tondano dan sungai Tikala mempunyai beberapa meander dan memiliki beberapa ’leher botol’ pada bagian hilirnya yang dapat mengakibatkan terhambatnya aliran air sungai sehingga dapat mengakibatkan terjadinya banjir. Selain itu pendangkalan sungai dan drainase juga kurangnya daerah resapan air memiliki peranan penting dalam terjadinya banjir. Maka dari itu perlu dilakukan analisis risiko bencana banjir Kota Manado untuk menentukan bentuk mitigasi yang sesuai. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat risiko bencana banjir di Kota Manado dan merekomendasi bentuk mitigasi bencana banjir di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan analisis dengan metode penelitian deskriptif kuantitiatif. Analisis dilakukan dengan mengacu pada PERKA BNPB No. 02 Tahun 2012 tentang pedoman umum pengkajian risiko bencana. Hasil dari penelitian ini yaitu terdapat 3 kelas tingkat risiko bencana banjir di Kota Manado. Pada kelas tinggi 53 kelurahan, sedang 2 kelurahan dan rendah 32 kelurahan. Rekomendasi kebijakan dilakukan berdasarkan tingkat risiko dengan memperhatikan faktor penyebab utamanya. Selanjutnya direkomendasikan pada setiap kelurahan. Kata Kunci: Mitigasi, Bencana Banjir, Tingkat Risik
EVALUASI SEBARAN HOME INDUSTRI PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI KOTA KOTAMOBAGU
Usaha Home industri. Home industri ialah tipe wirausaha yang masih dalam lingkup kecil. Wirausaha ini lebih gampang dicoba buat para wirausahawan yang mempunyai modal dini yang sedikit. Produk yang dapat terbuat buat home industri bermacam- macam jenisnya, antara lain kuliner makanan maupun Pakaian serta lain lain. Pada saat ini sudah banyak persaingan usaha home industri. Perkembangan penduduk dari tahun ke tahun yang terus meningkat paling utama di wilayah perkotaan menyebabkan kebutuhan hendak tempat tinggal sangat besar buat mendukung keberlangsungan hidup manusia. Tidak hanya itu, kebutuhan hendak lapangan kerja pula turut bertambah. Laju perkembangan penduduk perkotaan yang terus menjadi kilat sejalan dengan kenaikan kedudukan kota wajib sanggup diimbangi dengan penyediaan lapangan pekerjaan demi mengurangi angka pengangguran yang terus meningkat dengan sejalan dengan  meningkatnya perkembangan pendudukKata Kunci: Home industri, Kawasan Permukiman, Kota kotamobagu, Pola sebaran, spasia
EVALUASI KEMAMPUAN DAN KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DI KABUPATEN HALMAHERA TENGAH, MALUKU UTARA
Kabupaten Halmahera Tengah merupakan salah satu Kabupaten di luar pulau jawa dimana salah satu kecamatannya telah ditetapkan sebagai kawasan industri terpadu pertama di dunia, yang direncanakan bakal menyerap enam belas ribu karyawan, hal ini cukup berpengaruh terhadap lahan. Bila ditinjau dari keadaan lahan, Kabupaten Halmahera Tengah tidak seluruh lahannya bisa dikembangkan selaku tanah bermukim. Sebab kondisi morfologi yang dominan di Kabupaten Halmahera Tengah ialah kondisi morfologi perbukitan. Adapun riset ini yaitu mengenali keadaan serta kesesuaian lahan yang terdapat di Kabupaten Halmahera Tengah dan membandingkan arahan kesesuaian lahan dengan lahan yang menjadi tanah permukiman di Kabupaten Halmahera Tengah, bersumber pada rencana pola ruang dalam buku rencana tata ruang wilayah Kabupaten Halmahera Tengah 2012-2032. Tata cara riset menggunakan deskriptif kuantitatif, dengan memakai metode analisis spasial dengan dorongan SIG (sistem data geografis). Metode informasi ini memakai PP PU Nomor. 20/PRT/ Meter/2007 mengenai metode analisis wujud serta area, ekonomi dan sosial budaya dalam penataan tata ruang. Metode penilitian yang digunakan merupakan metode superimpose/overlay (Tumpang tindih) serta analisis scoring buat pemberian nilai tiap parameter. Hasil yang diperoleh, diperoleh jika tanah yang dominan merupakan tanah sangat rendah serta kesesuaian lahan yang mendominasi merupakan kesesuaian lahan buat perkebunan. Buat tanah jadikan kawasan bermukim yang direncanakan ada penyimpangan dengan hasil analisis kesesuaian lahan. Sebab tanah yang cocok untuk dijadikan lahan permukiman dengan analisis kesesuaian lahan sekitar 915.04 Hektare /54 % sedangkan yang melenceng karena terjadi penyimpangan terhadap peruntukan sebagai tanah permukiman ialah84.330 Hektare /46 % dari total keseluruhan perencanaan peruntukan untuk tanah permukiman yang direncanakan seluas 183.189 Hektare. dari total keseluruhan luas Kabupaten Halmahera Tengah.Kata Kunci: Kesesuaian Lahan, Kemampuan Lahan, Peruntukan Lahan, Permukiman
ANALISIS KEBUTUHAN MASYARAKAT TERHADAP ANGKUTAN UMUM PEDESAAN DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SELATAN
Angkutan umum pedesaan adalah kebutuhan pokok masyarakat untuk menunjang keberhasilan dalam pembangunan, namun pada beberapa daerah di Negara Indonesia yang telah mengoperasikan angkutan umum pedesaan mengalami berbagai kendala seperti buruknya infrastruktur, pelayanan tidak memadai, jangkauan angkutan umum yang kurang menyeluruh. Permasalahan ini juga terjadi di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, meningkatnya pertumbuhan penduduk serta migrasi karena pekerjaan menyebabkan banyak terjadi aktivitas masyarakat dan peningkatan kebutuhan mobilisasi. Dalam memenuhi kebutuhan perjalanan ini tersedia transportasi antar kota dalam provinsi dan antar kota antar provinsi yaitu atau damri dan mikrolet. Sedangkan untuk kebutuhan perjalanan antar desa dalam kabupaten masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi menggunakan jasa ojek konvensional dan bentor untuk perjalanan setiap harinya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi pelayanan ojek dan bentor sebagai angkutan umum pedesaan berdasarkan preferensi masyarakat sebagai pengguna dan menganalisis jenis moda dan kriteria pelayanan angkutan umum yang dibutuhkan masyarakat berdasarkan preferensi masyarakat dan kondisi eksisting. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan pembagian kuesioner. Metode analisis yang digunakan yaitu statistik deskriptif dan deskriptif kualitatif. Sedangkan uji validitas data kuesioner menggunakan program SPSS 26. Hasil penelitian menunjukan bahwa ojek dan bentor belum beroperasi secara sistematis serta tidak menyeluruh ke semua desa bahkan terdapat 3 kecamatan yang sama sekali tidak terlayani angkutan umumKata Kunci : Angkutan Umum Pedesaan, Kriteria Pelayanan, Kebutuhan Mobilisas
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KAWASAN MONUMEN DI MANADO
Persepsi merupakan bagian dari proses kehidupan yang pada setiap orang dengan cara membuat penilaian terhadap apa yang dilihat dan kemudian melakukan kegiatan berpikir untuk memutuskan apa yang akan dilakukan. Manusia merupakan individu yang dapat beradaptasi sehingga persepsi terhadap lingkungan akan mempengaruhi hubungan antara individu terhadap lingkungannya. Monumen adalah salah satu bangunan karya seni arsitektural pada suatu kawasan kota yang menarik untuk diteliti karena sebagai salah satu aset wisata, keberadaan monumen pada area ruang publik yang mudah dijangkau dapat menampilkan identitas kawasan kota Manado dan memberikan sensasi pada mata pengamat sehingga desain dari monumen dapat membentuk persepsi dari masyarakat. Tujuan yang hendak dicapai yaitu untuk menganalisa bagaimana persepsi masyarakat terhadap monumen dan karakter visual yang terdapat pada monumen Boboca, monumen God bless park dan monumen tugu Lilin. Prinsip - prinsip Gestalt yang sangat berpengaruh pada sensasi dan persepsi digunakan sebagai cara untuk menganalisis proses terbentuknya persepsi dari pengamat ketika berada di kawaan monumen. Pengamatan langsung dan menyebar kuisioner pada responden saat berada di lokasi monumen dilakukan untuk mengungkap persepsi dari masyarakat terhadap kawasan monumen di Manado. Kesimpulan yang diperoleh tentang persepsi masyarakat terhadap kawasan monumen di Manado yaitu sebagian besar responden menerima keberadaan monumen Boboca, monumen God bless park dan monumen Lilin atau adanya kecocokan antara lingkungan dengan keadaan individu saat berada dilokasi yang dipengaruhi oleh karakter visual dari masing- masing monumen dengan nilai yang berbeda - beda. Karakteristik ketiga monumen diperoleh sesuai hasil analisa elemen - elemen visual setiap monumen.Kata Kunci: Persepsi Masyarakat, Kawasan Monumen, Kota Manad
PERKEMBANGAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN (PKP) PADA KAWASAN SEKITAR JALAN RINGROAD 2 MANADO
Housing and Settlement Areas (PKP) are the forerunners of cities that have existed for thousands of years which aim to provide better protection to a large number of residents from various community groups. Housing and residential areas in Indonesia are growing, which are largely influenced by the community itself. The development of housing and settlement areas (PKP) in North Sulawesi, especially in the city of Manado, is growing. Where housing and settlement areas are marked by the increasing number of residents and residential houses that were formerly vacant land become residential land. With the increase in population, it is accompanied by the development of housing and residential areas as well as infrastructure, facilities or utilities. The research objectives are to identify housing conditions and residential areas in the area around Manado RingRoad 2 road and analyze the pattern of housing development and residential areas in the area around Manado Ring Road 2 road. The analytical methods in this study include spatial time series analysis to determine the development of housing and settlement areas and use the nearest neighbor calculation analysis to determine the pattern of housing development and settlement areas. The results of the study showed that there was a development of housing conditions and residential areas increased by 305.54 ha from 2011-2021. The pattern of housing development and residential areas in 2011-2021 experienced a housing pattern from clustered to random.Keywords : Development, Pattern, Housing and Settlement Are
EVALUASI KESESUAIAN RUANG PUBLIK LAYAK ANAK DI KOTA MANADO
Penerapan konsep kota layak anak sangat diperlukan karena pada tahun 2012 sebanyak 51,5% penduduk perkotaan adalah anak-anak. tahun 2030 jumlah anak di perkotaan mencapai 80%. Kota Manado ditunjuk menjadi kota layak anak sejak tahun 2007. Dalam rangka implementasi program kota layak anak tersebut Kota Manado mengeluarkan Peraturan Walikota No. 09 Tahun 2017 tentang Kota Layak Anak. Permasalahan yaitu Bagaimana kesesuaian Ruang Publik terhadap kriteria Ruang Publik Layak Anak di Kota Manado. Persebaran ruang publik di Kota Manado diantaranya taman pantai Malalayang, lapangan bantik, taman patung wolter, Lapangan Unsrat, god bless park, taman megasurya nusa Lestari, taman kesatuan bangsa, taman Sparta tikala dan Blue carpet Mapanget. variabel dalam penelitian diantaranya Aksesibiltas, Sarana Rekreatif, Sarana Olahraga, Sarana Pendukung dan Vegetasi, kesesuaian masing-masing komponen variabel diperoleh dari kousioner yang dibagikan dengan menggunakan metode penilain skoring. Berdasarkan hasil penilaian dapat diketahui kesesuanian ruang publik di Kota Manado berdasarkan kriteria ruang publik layak anak yang memiliki persentase kesesesuaiaan mendekati 61-100% adalah taman Sparta Tikala dengan nilai pesentase 96% dan taman God Bless dengan nilai persentase 94% yang berarti mendekati sesuai sebagai ruang publik layak anak.Kata Kunci : Kota Layak Anak, Ruang Publik, Evaluas
DEVELOPMENT OF INFRASTRUCTURE AND SUPPORTING FACILITIES FOR THE MINAPOLITAN AREA (Case Study: Kecamatan Pinogaluman Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Provinsi Sulawesi Utara)
Indonesia has a coastal area that will be known for its enormous resource potential, biodiversity, the potential for aquaculture and marine tourism potential which can be found in almost every corner of the area in its aquatic ecosystem. The basic concept of developing the minapolitan area is an effort to create balanced development between regions, especially by increasing the urban-rural linkage, namely the development of rural areas that are integrated into the urban system functionally and spatially. The fisheries sector has a comparative advantage compared to other sectors, in the form of the availability of very large natural resources and is able to produce highly competitive products and services. Most fishermen in Pinogaluman District are still far from the level of welfare, there are still obstacles experienced in the development of the Minapolitan area, one of which is the problem of the availability of infrastructure and facilities to support the development of the Minapolitan area in Pinogaluman District which is not sufficient, so it cannot support the Minapolitan area. The method used is a qualitative descriptive analysis method which is used to describe the existing condition of the infrastructure and supporting facilities of the Minapolitan area, the GAP analysis is used to provide a description related to the condition of the infrastructure and facilities of the Minapolitan area, and the analysis of development directions is used to determine the development method by analyzing external factors in the form of opportunities and threats and internal factors in the form of strengths and weaknesses. The results of the matrix analysis of the development of infrastructure and supporting facilities for the minapolitan area in Pinogaluman District are in quadrant I by looking at the strengths and opportunities in resources, providing a special strategy for the form of development of the minapolitan area. In the SO strategy, with full support from government efforts, it is hoped that there will be appropriate spatial planning. In addition, more resources are needed to repair damaged infrastructure and facilities. There are also publications regarding the minapolitan area so that this area can be paid more attention by the government. The last is to provide easy accessibility for people who are involved in Minapolitan activities, so that production activities will increase and will not be recorded. Keywords : Minapolitan, Infrastructure and Facilities, Developmen