SPASIAL
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
ANALISIS KONDISI PERMUKIMAN KAWASAN INDUSTRI PERIKANAN LAUT KELURAHAN AERTEMBAGA SATU KOTA BITUNG
Permukiman merupakan kebutuhan dasar manusia untuk tinggal dan ditunjang dengan kelengkapan prasarana,sarana dan utilitas yang memadai. Pesatnya pertumbuhan penduduk dan ekonomi di daerah perkotaan seperti kegiatan industri perikanan memicu penduduk berpindah ke daerah perkotaan ataupun pinggiran kota atau urbanisasi untuk berukim.Kelurahan Aertembaga Satu ditetapkan sebagai rencana lokasi daerah pelayanan sub pusat lingkungan 1 dalam kegiatan industri perikanan dan hal ini tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan yang sesuai dari peraturan yang ditetapkan sehingga memberikan dampak pada kualitas permukiman.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengetahui kondisi permukiman di kawasan industri sesuai dengan pedoman standar Direktorat Jendral Pekerjaan Umum (PU).Analisis kajian dilakukan secara kualitatif dengan jenis analisis deskriptif dan analisis spasial. Metode analisis deskriptif kualitatif digunakan pada data untuk menggambarkan kondisi permukiman di Kelurahan Aertembaga Satu berdasarkan variabel dan data yang telah diolah sesuai dengan PERMEN PU No. 41/PRT/M/2007 tentang Kriteria Teknis Kawasan Budidaya (hal 45-58) dan Pedoman Standar Pelayanan Minimal Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi permukiman di kawasan industri perikanan laut terbagi atas permukiman terencana (PPS Bitung) memiliki pola permukiman menyebar dengan lahan yang tidak sesuai dengan standar PU dan permukiman tidak terencana dengan pola grid dengan kondisi ekonomi dan sosial rendah,kondisi hunian yang tidak layak akibat pendapatan yang minim, akses jalan yang rusak, kurang maksimalnya pelayanan PDAM untuk memenuhi kebutuhan air penduduk ,tersumbatnya saluran drainase akibat vegetasi, minimnya ruang terbuka hijau akibat pembangunan dan perencanaan kegiatan industri serta ketersediaan fasilitas persampahan yang masih dan belum memenuhi standar yang ditetapkan kurang seperti tong sampah anoganik dan organik di setiap lingkungan.Kata Kunci: Kondisi Permukiman, Kawasan Industri Perikanan Lau
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB BANJIR Di KECAMATAN TIKALA KOTA MANADO
Menurut BPBD Kota Manado dalam beberapa dekade terakhir Manado secara periodik (terutama pada musim penghujan) selalu mengalami banjir dan genangan air, antara lain banjir yang terjadi pada tahun 2000, 2006, 2012, 2013, indikator menunjukkan bahwa banjir dan genangan air di wilayah Kota Manado semakin lama semakin meluas dan banjir yang  paling  parah yang terjadi pada tanggal 15 Januari 2014 lalu. Salah satu daerah yang terkena dampak banjir yang cukup parah yaitu di Kecamatan Tikala. Dengan keberadaan Kecamatan Tikala yang merupakan bagian dari sub DAS Tikala, secara otomatis Kecamatan ini dialiri oleh sungai Tikala/Sawangan. Sungai ini yang pada saat hujan 15 Januari lalu meluap sehingga menggenangi daerah sekitarnya. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-fakor apa saja yang menyebabkan banjir di Kecamatan Tikala. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear yaitu analisis yang menghubungkan dua variabel karena mempunyai hubungan sebab akibat yang saling berpengaruh. Pada penelitian ini variabel-variabel yang dihubungkan adalah hasil wawancara tentang faktor-faktor penyebab banjir di Kecamatan Tikala dari instansi-instansi terkait dan kemudian dihubungkan dengan hasil wawancara maupun kuesioner yang dibagikan kepada masyarakat sehingga didapat faktor-faktor yang paling dominan. Berdasarkan hasil analisa tersebut didapatkan faktor-faktor dominan yang menyebabkan banjir di Kecamatan Tikala adalah adanya curah hujan yang tinggi serta,perubahan tata guna lahan yang saat ini banyak dilakukan baik didaerah Hilir (perkotaan) dimana lahan hijau menjadi lahan terbangun maupun didaerah Hulu dari hutan menjadi lahan pertanian menyebabkan kawasan resapan air semakin berkurang sehingga run off meningkat, akibat lainnya yaitu adanya erosi dan sedimentasi disungai menyebabkan sungai menjadi dangkal dan gampang meluap
Studi Kemacetan Lalu Lintas Di Pusat Kota Ratahan
Ratahan merupakan ibukota Kabupaten Minahasa Tenggara, yang memiliki luas 6.163 Ha. Sebagai ibukota, Ratahan menjadi pusat pemerintahan dan pusat kegiatan perdagangan dan jasa sebagaimana terdapat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Minahasa Tenggara yang menetapkan Kota Ratahan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah Perkotaan (PKWp). Oleh karena itu, terdapat faktor-faktor yang menimbulkan kemacetan di kota Ratahan. Untuk mencari faktor-faktor yang menyebabkan kemacetan di pusat kota Ratahan, digunakan analisis deskriptif kualitatif, dengan melakukan penyebaran kuesioner kepada responden yang biasa melakukan perjalanan ke pusat kota Ratahan. Berdasarkan hasil analisis lokasi dan analisis wilayah ditemukan faktor internal dan faktor eksternal yang menyebabkan kemacetan di pusat kota Ratahan. Faktor internal yang ditemui adalah kapasitas jalan yang tidak memenuhi standar pemerintah. Pengaruh penggunaan lahan di pusat kota yang menyebabkan tingginya arus lalu lintas dan menimbulkan hambatan samping. Sedangkan faktor eksternalnya adalah jalan provinsi adalah satu-satunya akses utama untuk menuju dan keluar dari wilayah kabupaten Minahasa Tenggara. Aksesibilitas yang menghubungkan antar wilayah dan pusat-pusat kegiatan kawasan di Minahasa Tenggara hanya melalui jalan provinsi. Oleh sebab itu, diharapkan kepada pemerintah agar memikirkan pembukaan jalan alternatif, penyebaran fungsi kawasan secara merata di setiap kecamatan, mengurangi hambatan samping seperti parkir liar di sisi jalan. Â Kata Kunci: Kemacetan, Faktor Penyebab, Rataha
ANALISIS SISTEM TRANSPORTASI BITUNG – PULAU LEMBEH
Indonesia merupakan Negara berkembang, dalam menunjang perkembangan di Indonesia, maka diperlukan pula sistem transportasi yang memadai.Seiring dengan perubahan iklim (climate change) transportsi berkelanjutan menjadi sesuatu hal yang wajib dipatuhi dalam setiap perencanaan siatem transportasi. Sistem transportasi berkelanjutan (sustainable transportasion) menjadi sebuah jawaban dari tantangan yang dihadapi planner dan menjadi trend dalam dewasa ini, sehubungan dengan itu mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang hampir separuh daratannya terpisah oleh laut memerlukan sistem transportasi yang terhubung baik tranportasi air, darat, dan udara. Mayarakat Pulau Lembeh menggunakan dua moda transportasi sehari – hari untuk melakukan berbagai aktivitas, yaitu transportasi darat dan air, tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana sistem transportasi yang ada sekarang di pulau lembeh dengan menggunakan metode peneltian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sistem transportasi yang ada sekarang sudah baik namun belum cukup memadai, seperti jam operasional yang tidak teratur dan tertumpuknya pusat pelayanan di satu lokasi yang menyebabkan masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pelayanan sulit untuk menjangkaunya.  Kata Kunci : Sistem transportasi, Bitung – Pulau Lembeh, Transpotrasi Berkelanjuta
ANALISIS KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR JALAN Di KECAMATAN PINELENG
Peningkatan penduduk yang pesat di kecamatan Pineleng akan berdampak pada peningkatan kebutuhan masyarakat oleh karenanya infrastruktur jalan dibutuhkan dalam menunjang kebutuhan masyrakat untuk itu perlu di lakuakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kondisi serta distribusi, dan kebutuhan infrstruktur jalan di kecamatan Pineleng. Metode yang digunakan yaitu dengan melakukan teknik survey, wawancara, observasi, dan kuesioner yang berkaitan dengan Infrastruktur jalan. Data yang digunakan yaitu data penduduk, data penggunaan lahan, dan data jaringan jalan. Anlisis yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu analisis distribusi frekuensi, dan analisis spasial yang menggunakan Sistem Informasi Geografi.  Hasil akhir dari penelitian ini yaitu mengetahui kondisi fisik serta distribusi infrastruktur jalan dan kebutuhan jalan. Kondisi fisik infrastruktur jalan dikecamatan Pineleng belum sepenuhnya memadai baik kurangnya distribusi jalan, rusaknya jalan, dan buruknya material jalan. Distribusi penyediaan infrastruktur jalan menunjukan panjang jalan keseluruhan di kecamatan Pineleng yang mencapai 78.978 meter yang diklasifikasikan sebagai jalan arteri 5.015 meter, jalan kolektor 15.111 meter, jalan lokal 1.834 meter dan jalan lingkungan 20.640 meter. Material jalan aspal 61.485 meter, jalan paving 7.728 meter, jalan beton 4.648 meter, dan jalan tanah 5.117 meter. Menurut hasil kebutuhan infrastruktur jalan dengan melalui pembagian zona A,B,C,D di kecamatan Pineleng yang di klasifikasi sebagai kebutuhan pembuatan jalan baru, pengaspalan/paving, perbaikan jalan, dan pemeliharaan jalan. Untuk itu diketahui total menurut kebutuhan pada zona A mencapai 26.689 meter, zona B mencapai 7.666 meter, zona C mencapai 6.761 meter, zona D mencapai 8.469 meter. Jadi jumlah kebutuhan jalan keseluruhan di kecamatan Pineleng mencapai 49.585 meter
FAKTOR – FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP EKSISTENSI KEGIATAN WISATA KULINER TINUTUAN DI KORIDOR JALAN WAKEKE MANADO
Koridor jalan Wakeke terletak di kelurahan Wenang Utara kecamatan Wenang kota Manado. Dilihat dari status jalan merupakan  jalan lingkungan yang diapit oleh dua  jalan arteri sekunder yaitu Jalan Korengkeng dan Jalan Garuda. Oleh pemerintah telah dijadikan sebagai kawasan wisata kuliner dengan kekhasan menu yang paling dikenal yaitu tinutuan. Usaha kuliner tinutuan yang sudah berjalan puluhan tahun masih tetap eksis hingga sekarang. bahkan, terkenal sampai di kalangan orang-orang Manado yang berada tinggal di luar negeri. dan mampu bersaing dengan lokasi –lokasi kuliner lain yang ada di kota Manado. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi eksistensi lokasi usaha dengan profil usaha kuliner tinutuan dan bagaimana perubahan penggunaan ruang lokasi studi sebagai dampak dari aktifitas wisata kuliner ini. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. dengan variabel dependennya adalah eksistensi kegiatan wisata (pedagang dan pelanggan) dan variabel independennya adala variabel aksesibilitas, prasarana sarana, kebijakna pemerintah, dan penggunaan ruang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif metode analisis yang digunakan untuk menentukan dan menganalisis faktor – faktor yang berpengaruh terhadap eksistensi kegiatan wisata kuliner di Koridor Wakeke ini memakai uji kai kuadrat pearson (Pearson Chi Square) dan uji regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari semua variabel yang berpengaruh terhadap eksistensi kegiatan wisata kuliner tinutuan di koridor jalan Wakeke Manado adalah variabel aksesibilitas yang memiliki pengaruh paling paling besar, sedangkan variabel prasarana sarana dianggap tidak berpengaruh karena memiliki nilai p lebih dari 0,05. Pola perkembangan kegiatan di koridor Wakeke ini adalah berbentuk ribbon mengikuti jaringan jalan.  Kata kunci : Eksistensi, Faktor Pengaruh, Wisata Kuliner, Koridor Wakeke Manado
PERSEPSI DAN PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP PENGUNAAN RUANG TERBUKA PUBLIK DI LAPANGAN SPARTA TIKALA KOTA MANADO
Ruang terbuka publik adalah suatu tempat umum dimana masyarakat melakukan aktivitas rutin dan fungsional yang mengikat sebuah komunitas, baik rutinitas normal dari kehidupan sehari-hari maupun dalam perayaan yang periodik. Lapangan Sparta Tikala Kota Manado  digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas seperti, aktivitas olahraga, keagamaan,dan rekreasi/bersantai Dalam hal penggunaan ruang, Lapangan Sparta Tikala seharusnya memiliki kualitas yang layak, ditinjau dari ketersediaan fasilitas dan elemen pendukung yang tersedia, maka peran masyarakat sebagai pengunjung dianggap penting terhadap penilaian kualitas tersebut ditinjau dari persepsi dan preferensi mereka.Tujuan penelitian ini menganalisis persepsi dan preferensi masyarakat berdasarkan kualitas secara fisik dan non fisik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan analisa menggunakan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian, persepsi masyarakat untuk ukuran fasilitas yang telah memenuhi yaitu lapangan terbuka dan area jogging track, dan yang belum memenuhi yaitu ukuran lapangan basket. Kondisi fasilitas yang dinilai terawat yaitu lapangan terbuka,sedangkanyang dinilai kurang terawat yaitu area jogging track dan lapangan basket. Keamanan dan kenyamanan ketika berkunjung yaitu dinilai aman dan nyaman, dan kemudahan akses masyarakat ketika berkunjung yaitu mudah dalam mengakses/mengunjungi. Preferensi masyarakat untuk ukuran fasilitas yang penting dilakukan perluasan yaitu lapangan basket, dan yang tidak penting dilakukan perluasan yaitu lapangan terbuka dan area jogging track, kondisi fasilitas dan elemen yang penting dilakukan perawatan yaitu semua fasilitas dan elemen yang ada. Fasilitas dan elemen yang penting untuk ditambah jumlah yaituarea tempat parkir, tempat sampah, toilet dan vegetasi, Desain dari fasilitas dan elemen yang penting untuk diganti/ditambah desainnya yaitu drainase. Kata Kunci : Persepsi, Preferensi, Penggunaan Ruang Terbuka Publi
PENGEMBANGAN POTENSI PULAU MANTEHAGE SEBAGAI KAWASAN STRATEGIS PROPINSI SULAWESI UTARA
Kawasan strategis merupakan kawasan yang didalamnya berlangsung kegiatan yang mempunyai pengaruh besar terhadap, Tata ruang di wilayah sekitarnya, kegiatan lain dibidang sejenis dan kegiatan lain dibidang lainnya, dan/atau peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pulau Mantehage merupakan salah satu pulau kecil yang menjadi kawasan startegis Propinsi Sulawesi Utara dengan perannya sebagai zona inti konservasi Taman Nasional Bunaken.Sumberdaya alam dan ekosistem yang dimiliki Pulau Mantehage sangat potensial untuk dikembangkan. Namun kondisi Pulau Mantehage yang ada saat ini justru betolak belakang dengan status dan potensinya. Tingginya biaya pembangunan karena akses pencapaian yang melewati jalur laut berdampak pada infrastruktur dasar seperti jalan, drainase, fasilitas pendidikan, kesehatan, listrik dan komunikasi belum cukup memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi-potensi yang ada di Pulau Mantehage kemudian merekomendasikan potensi apa yang paling berpeluang dikembangkan. Alat analisis yang digunakan untuk penelitian ini adalah analisis deskriptif pada beberapa sumber, analisis SWOTÂ dengan menggunakan Matriks IFAS dan EFAS, Matriks SWOT serta analisis kebijakan. Hasil analisis deskriptif menemukan terdapat kurang labih enam potensi yang paling menonjol yakni potensi fisik alam, potensi sumberdaya pesisir dan laut, potensi perikanan, potensi perkebunan, potensi pariwisata dan potensi SDM. Hasil analisis Matriks IFAS dan EFAS menunjukkan potensi pariwisata yang paing berpeluang dikembangkan sesuai dengan karakteristik Pulau Mantehage. Hasil analisis kebijakan menunjukkan jenis wisata bahari yang perlu dikembangkan karena sesuai dengan daya tampung dan daya dukung Pulau Mantehage. Matriks SWOT menunjukan arahan dan strategi pengembangan potensi wisata bahari di Pulau Mantehage
STUDI KESIAPAN MASYARAKAT TERHADAP RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS di KOTA BITUNG
Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus ditetapkan oleh pemerintah lewat Undang-Undang Republik no. 39 tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus, Kota Bitung Kecamatan Matuari, Kelurahan Tanjung Merah merupakan salah satu wilayah yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai Kawasan Ekonomi Khusus, lewat Peraturan Pemerintah RI No.32 Tahun 2014, tujuan dari rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus adalah meningkatakan kesejahteraan hidup masyarakat, namun seringkali masyarakat masih belum siap dalam memanfaatkan kebijakkan yang ada oleh karena kurangnya usaha pemerintah dalam melibatakan masyarakat dalam proses rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus ini. Sehingga menyebabkan masyarakat merasa teralienasi dari proses rencana pengembangan. Rencana Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus ini tentunya akan berdampak terhadap kehidupan ekonomi, sosial, dan ekologi masyarakat setempat. Untuk itu diperlukan penelitian untuk mengetahui tingkat kesiapan masyarakat dalam menghadapi peluang, perubahan dan resiko yang akan dihadapai dengan adanya rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus ini di lingkungan mereka sehingga rencana pengembangan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kelurahan Tanjung Merah. Hasil penelitian menunjukan bahwa dinilai dari faktor pengetahuan, faktor sikap dan faktor respons, masyarakat Kelurahan Tanjung Merah siap menerima apabila wilayah mereka ditetapkan oleh pemerintah sebagai wilayah rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus, namun dilihat dari faktor kemampuan perindividu menunjukan masyarakat masih belum siap, karena dari kuesioner yang ada masih banyak masyarakat yang masih minim pengetahuan serta masih banyaknya masyarakat yang belum pernah mengikuti pelatihan dalam mengembangkan kemampuan dalam bidang industri. Oleh karenanya dibutuhkan upaya sosialisasi oleh pemerintah yang menjelaskan aspek peluang dan resiko secara komperhensif, serta diadakannya pelatihan kemampuan dalam bidang industri, guna terpenuhinya kesiapan masyarakat dalam memanfaatkan rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus
STUDI PENGEMBANGAN SEKTOR PARIWISATA DI KABUPATEN NABIRE
Pariwisata di Kabupaten Nabire terdiri dari beberapa klasifikasi wisata diantaranya : Wisata Bahari, Wisata Pantai, Wisata alam, Wisata Buatan, Wisata Agro dan Wisata Budaya. Potensi-potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Nabire terus dikembangkan agar dapat menjadi destinasi wisata.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi kawasan pariwisata dan potensi-potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Nabire, serta menganalisis pengembangan sektor pariwisata dalam pembangunan dengan mengandalkan potensi-potensi wisata yang dimiliki oleh Kabupaten Nabire.Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner, wawancara, observasi dan studi dokumentasi.Hasil penilitian ini menunjukkan bahwa masih kurangnya pengelolaan dalam pengembangan pariwisata, ini disebabkan oleh masih kurangnya Sumber daya manusia berbasis kepariwisataan.Fasilitas penunjang di setiap kawasan wisata juga masih sangat kurang.Hal ini sangat mempengaruhi dalam sektor pengembangan pariwisata di Nabire. Untuk itu perlu adanya kerja sama dalam pembangunan sektor pariwisata sehingga dalam pengembangan kawasan pariwisata di Kabupaten Nabire dapat menjadi Tujuan destinasi wisata yang cukup baik. Peningkatan Sumber daya manusia berbasis kepariwisataan juga perlu untuk ditingkatkan sehingga dapat menunjang pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Nabire.Perlu adanya strategi dan konsep pengembangan pariwisata untuk Kabupaten Nabire seperti adanya promosi-promosi yang menarik, peta perjalanan kawasan wisata, melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan sektor pariwisata.Dan Membentuk Lembaga yang berperan dalam bidang kepariwisataan. Kata Kunci : Pengembangan pariwisata, Kawasan Pariwisata Kabupaten Nabir