SPASIAL
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA POSO (STUDI KASUS : KECAMATAN POSO KOTA)
Ruang terbuka hijau (RTH) merupakan bagian penting dari struktur pembentuk kota, dimana RTH memiliki fungsi utama sebagai penunjang ekologis kota yang diperuntukkan sebagai ruang terbuka penambah dan pendukung nilai kualitas lingkungan dan budaya suatu kawasan.Kecamatan Poso Kota yang terletak di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah.Kondisi RTH di Kecamatan Poso Kota tidak tersebar merata pada beberapa kelurahan. Kecamatan Poso Kota merupakan kecamatan yang memiliki banyak penduduk karena terletak di kawasan pusat kota, dengan fungsi perkantoran, jasa, perdagangan dan kawasan pemukiman yang padat penduduk. Proporsi ruang terbuka hijau Kecamatan Poso saat ini belum memenuhi standar kebijakan tata ruang 30% dari total luas wilayah atau UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Penelitian ini dilakukan di Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif dengan menggunakan pendekatan statistik deskriptif yaitu mendeskripsikan keadaan wilayah studi, berdasarkan perhitungan luas RTH berdasarkan luas wilayah, luas RTH berdasarkan jumlah penduduk, dan luas RTH Hutan Kota berdasarkan kebutuhan oksigen penduduk. Keywords : RTH, Kecamatan Poso Kot
KAJIAN STRUKTUR RUANG KOTA TOMOHON
Kota merupakan kawasan pemukiman yang secara fisik ditunjukan oleh kumpulan rumah-rumah yang mendominasi tata ruangnya dan memiliki fasilitas untuk mendukung kehidupan warganya secara mandiri. Untuk dapat mengoptimalkan perkembangan kota, maka pemanfaatan ruang wilayah kota perlu diarahkan dalam rencana tata ruang kota yang terdiri dari struktur ruang dan pola ruang. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik observasi dan untuk metode analisis data pada penelitian ini menggunakan deskritif kualitatif. Hasil akhir dari penelitian ini adalah kondisi struktur ruang eksisting Kota Tomohon yang secara umum sudah memenuhi kebutuhan pelayanan di Kota Tomohon, namun harus ditambahkan beberapa fasilitas yang masih kurang di kawasan-kawasan tertentu. Bentuk struktur Kota Tomohon mendekati konsep konsentris, pola perkembangan kotanya berada di tengah-tengah Kota Tomohon sebagai daerah pusat kota dan model struktur ruang Kota Tomohon apabila dilihat berdasarkan pusat-pusat pelayanannya yaitu mendekati model struktur ruang Multi nodal dimana terdiri dari satu pusat dan beberapa sub pusat dan sub sub pusat yang saling terhubung satu sama lain
ANALISIS PEMANFAATAN PARKIR PADA KAWASAN PERKANTORAN JALAN 17 AGUSTUS MANADO
Pertumbuhan pengguna kendaraan bermotor di berbagai tempat sangat tinggi, hal tersebut seiring dengan keinginan manusia akan sesuatu hal yang berhubungan dengan kebutuhan dan kepentingan. Bertambah banyaknya jumlah pegawai negeri sipil maupun pegawai swasta dan kegiatan masyarakat menyebabkan naiknya volume kendaraan. Kawasan Perkantoran Jalan 17 Agustus Manado merupakan salah satu kawasan yang padat aktifitas, berada diantara 2 kecamatan yakni : Kecamatan Wenang dan Kecamatan Wanea. Kondisi eksisting pada Kawasan Perkantoran Jalan 17 Agustus Manado memiliki 15 lahan parkir yang terdapat pada setiap kantor. Penelitian ini menggunakan metode survey pengumpulan data primer terhadap permintaan parkir berupa kendaraan yang datang dan keluar pada kantor yang memiliki masalah parkir off street yaitu Kantor Imigrasi dan Kantor BAPPEDA, serta pengumpulan data sekunder meliputi data jumlah penduduk Kota Manado 5 tahun terakhir, data jumlah kendaraan bermotor Kota Manado 5 tahun terakhir dan site plan. Hasil analisis data didapat kebutuhan kapasitas pada Kantor BAPPEDAÂ tidak mencukupi yakni dengan SRP eksisting untuk mobil 26 unit dengan kebutuhan sebenarnya 27 unit, sedangkan untuk area parkir Kantor Imigrasi masih dapat menampung 25 unit mobil dengan kebutuhan sebenarnya 14 unit. Berdasarkan hasil analisis citra pada Kawasan Perkantoran Jalan 17 Agustus Manado, maka terdapat 4Â lokasi yang dapat dijadikan sebagai alternatif area parkir pada Kawasan Perkantoran Jalan 17 Agustus Manado dengan total luas 2453
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMUKIMAN TRADISIONAL DI DESA BOTAWA KABUPATEN WAROPEN
Seiring dengan terjadinya jumlah penduduk yang terus meningkat,sedangkan jumlah tersediaan lahan untuk pemukiman yang tetap maka tidak jarang menyebabkan pada lokasi pemukiman yang dekat dengan pusat kegiatan akan timbul beberapa titik konsentrasi pemukiman hunian yang padat.Pemukiman hunian yang padat ini menimbulkan kesan kumuh bagi lingkungan sekitarnya. Desa Botawa merupakan salah satu desa di Kabupaten Waropen bagian utara yang beberapa wilayahnya memiliki Permukiman Tradisional .Permukiman tradisional di Wilayah desa botawa dapat di kategori termasuk dalam permukiman tidak tertata dengan baik dan masi bersifat tradisional. Permasalahan pemukiman tradisional di desa botawa muncul akibat kurang adanya perhatian dari pemerintah dalam pembangunan pemukiman tradisional di desa botawa,dan kurangnya perhatiaan pemerintah dalam menangani permasalahan perumahan dan pemukiman tradisional yang ada di desa botawa tersebut sehingga seringkali terjadi tumpang tindi di dalam desa tersebut mengenai batas wilayah dalam pembanguan perumahan,dan kurang adanya sosialisasi dari pemerintah daerah tetang polah hidup sehat,sehingga dari kehidupan tradisional masyarakat yang ada membuat lingkungan pemukiman tradisional yang ada di desa botawa terlihat kotor dan kumuh. Maka dari itu di perlukan suatu arahan dalam penataan lingkungan permukiman tradisional tersebut untuk menghilanhkan kekumuhan yang ada di pemukiman wilayah botawa.Dalam arahan Karakteristik pemukiman tradisional baik secara soial,ekonomi dan fisik perlu mendapat perhatiaan khusus dan partisipasi masyarakat perlu di jaring untuk mendapatkan arahan yang paling sesuai dengan keinginan dan harapan masyarakat itu sendiri. Dalam penulisan skripsi yang berjudul Partisipasi Masyarakat Dalam Pemukiman Tradisional di Desa Botawa Kabupaten Waropen, penulis menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan induktif. Dari hasil penelitian kegitan aktifitas masyarakat yang melibatkan partisiasi masyarakat di dalam pemukiman tradisional adalah tarian adat dimana presentasinya 25% dan diikuti oleh kegiatan aktifitas beribadah yang mempunyai presentasi sebesar 20%. Kemudian presentasi aktifitas partisipasi masyarakat yang paling rendah adalah bersih-bersih kampung dengan presentasi sebesar 5%
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP RELOKASI PASAR TRADISIONAL DI KELURAHAN GENGGULANG KECAMATAN KOTAMOBAGU UTARA
Pertumbuhan sektor ekonomi Kota Kotamobagu yang begitu pesat. Menyebabkan terbentuknya pusat pertumbuhan yang baru,sehingga meningkatnya aktivitas kota. Hal ini juga berdampak pada kemacetan kususnya pasar 23 maret dan pasar serasi, Hal ini membuat pemerintah Kota Kotamobagu memutuskan untuk merelokasi Pasar 23 maret dan pasar serasi ke Pasar Tradisional Genggulang di kecamatan Kotamobagu Utara. Tetapi setelah pelaksanaan relokasi dilaksanakan, masih terlihat aktivitas perdagangan yang ramai di Pasar 23 maret dan serasi, sedangkan di Pasar Tradisional Genggulang terlihat aktivitas perdagangan yang masih tampak sepi.Tujuan Penelitian untuk mengetahui bagaimana tanggapan masyarakat dan pedagang mengenai masalah relokasi pasar tersebut dan strategi apa saja yang bisa meramaikan pasar baru serta apa sebenarnya yang diinginkan masyarakat dan pedagang terkait dengan masalah ini. Dengan demikian yang menjadi sumber informasi dari penelitian ini yaitu masyarakat sekitar kususnya kecamatan Kotamobagu Utara dan Pedagang Pasar Tradisional Genggulang. Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Berdasaran hasil analisis dari penelitian ini, kesimpulan yang didapatkan yaitu mayoritas pedagang dan masyarakat sekitar menolak pelaksanaan relokasi, karena tidak tersedianya terminal di lokasi pasar yang baru yaitu Pasar Tradisional Genggulang serta lokasi pasar yang baru tidak strategis. Â Kata Kunci: Persepsi, Relokasi, Pasar Tradisiona
STRATEGI KONSERVASI EKOSISTEM MANGROVE DESA MANGEGA DAN DESA BAJO SEBAGAI DESTINASI EKOWISATA DI KABUPATEN KEPULAUAN SULA
Keberadan hutan mangrove sangat menentukan dan menunjang tingkat perkembangan sosial dan perekonomian masyarakat pantai. Penyebab utama terjadinya kerusakan hutan mangrove adalah perkembangan kota Sanana yang lebih condong kearah utara, yang merupakan pusat perkantoran di Kabupaten Kepulauan Sula. Perkembangan kota inilah yang membuat hutan mangrove mendapat tekanan yang tinggi akibat dari perkembangan infrastruktur, permukiman, pertanian, perikanan dan industry. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis kerusakan ekosistem hutan mangrove dan penyebabnya di Desa Mangega dan Desa Bajo, dan untuk mengetahui strategi pengelolaan ekosistem mangrove untuk dijadikan sebagai destinasi ekowisata. Pengumpuan data dapat di peroleh dari survey dan wawancara diperoleh dari data primer dan sekunder. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling yaitu pengambilan sampel biasanya sedikit dan dipilih menurut tujuan. Lokasi penelitian berada pada 2 desa yaitu Desa Mangega dan Desa Bajo Kecamatan Sanana Utara dengan jumlah sampel 100 orang dimana untuk Desa Mangega dengan jumlah sampel 35 orang dan Desa Bajo 65 orang. Hasil penelitian Strategi pengelolaan wisata mangrove untuk Desa Mangega dan Desa Bajo dapat di lakukan melalui Langkah-langkah perioritas utama yaitu, pertama menetapkan kawasan hutan mangrove sebagai kawasan hutan konservasi seluas 50 Ha di mana status kawasan hutan mangrove dapat diperjelas sehingga memperbaiki sumberdaya alam dan menunjang pariwisata secara berkelanjutan. Kedua untuk Desa Bajo yaitu: meningkatkan upaya rehabilitasi pada ekosistem mangrove yang telah rusak seluas 15 Ha dimana dapat dilakukan dengan melibatkan peran serta masyarakat guna memperhatikan daya dukung kawasan.  Kata Kunci: Konservasi mangrove, ekowisata dan strategi pengelolaan wisata mangrov
EVALUASI KELAYAKAN LOKASI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI KECAMATAN MANOKWARI SELATAN
Keberadaan tempat pembuangan akhir sampah (TPA), kecamatan manokwari selatan memiliki jarak ± 500m dari Pemukiman Masyarakat di Desa Maisepi dan Katebu dan jarak dari Lokasi TPA ± 1,5 km ke perkantoran Gubernur. Dengan jarak yang begitu dekat menimbulkan bau yang kurang sedap dan pencemaran lingkungan di hunian warga dan juga di perkatoran Gubernur. Sebagai upaya meningkatkan pelayanan dan mengatasi berakhirnya masa operasional TPA existing, pemerintah kabupaten Manokwari telah menetapkan lokasi TPA Sowi di dalam RTRW kabupaten Manokwari, untuk itu perlu diketahui “Bagaimana kelayakan lokasi TPA sampah Sowi ditinjau kondisi lingkungan berdasarkan analisis kritis terhadap SK SNI tentang pemilihan lokasi TPA Sampah ?â€. Tujuan penelitian ini adalah, megevaluasi kelayakan lokasi TPA sampah Sowi berdasarkan SK SNI T-11-1991-03. Untuk mengetahui kelayakan lokasi TPA sowi Kabupaten Manokwari, maka analisis yang dilakukan adalah metode skoring. Penentuan skor masing-masing variable didasarkan atas pembobotan parameter-parameter dari masing-masing variabel tersebut. Besarnya bobot dari masing-masing parameter ditentukan atas dasar besarnya pengaruh kepentingannya. Dengan demikian maka Lokasi TPA sampah Sowi Kabupaten Manokwari dapat dinyatakan layak dipertimbangkan.  Kata kunci: Tempat, Pembuangan, Sampa
EVALUASI KELAYAKAN TERMINAL ANGKUTAN UMUM DI KECAMATAN TOBELO TENGAH
Terminal angkutan umum di kecamatan Tobelo Tengah Desa Tanjung Niara dinamakan Terminal Bus Wosia Tobelo. Terminal Bus Wosia Tobelo merupakan terminal tipe C yang berfungsi melayani kendaraan angkutan umum untuk angkutan pedesaan. Akibat perkembangan Kota Tobelo yang semakin pesat menyebabkan meningkatnya kegiatan transportasi maka terminal ini harus juga melayani kendaraan umum untuk angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), angkutan kota dan angkutan pedesaan yang seharusnya dilakukan oleh terminal tipe B. Namun pada kenyataannya terminal ini tidak berfungsi secara optimal dan juga dikarenakan kegiatan pasar dan terminal belum terpusat sehingga sebagian supir angkutan umum membuat terminal bayangan di pusat kota. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan evaluasi kelayakan Terminal Bus Wosia Tobelo baik secara fisik maupun dari segi aturan untuk mengidentifikasi faktor penyebab tidak berfungsinya terminal secara optimal. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara, kuisioner, observasi dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan dua komponen yaitu kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif akan berguna untuk menyertai dan melengkapi gambaran yang diperoleh dari data kuantitatif. Hasil akhir yang diperoleh bahwa terminal Bus Wosia Tobelo sudah layak dan yang membuat terminal ini tidak berfungsi secara optimal yaitu peruntukan lahan atau letak terminal tidak sesuai dengan aturan sehingga mempengaruhi aksesibilitas pengguna angkutan umum. Dan juga sebagian besar petugas terminal belum mendapat pendidikan khusus serta pelatihan teknis perhubungan mengakibatkan dalam menjaga dan mengawasi ketertiban operasional Terminal Bus Wosia Tobelo masih sangat kurang dan belum berfungsi secara baik
ANALISIS SISTEM JARINGAN DRAINASE DI KECAMATAN KOTAMOBAGU BARAT, KOTA KOTAMOBAGU
Kecamatan Kotamobagu Barat merupakan sebuah kawasan yang telah terbangun begitu pesat dan merupakan sebuah daerah yang memiliki jumlah penduduk terpadat di antara empat kecamatan lainya yang ada di Kota Kotamobagu.Besarnya jumlah penduduk tersebut mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan, dimana lahan-lahan yang semula berupa lahan terbuka atau lahan non terbangun kini menjadi sebuah kawasan yang terbangun seiring dengan meningkatnya kebutuhan lahan sehingga mengakibatkan daerah-daerah resapan air pada wilayah ini kian mengecil.kondisi tersebut membawa dampak rendahnyakemampuan drainase untukmenampung debit air. Sampai saat ini genangan air masih saja selalu terjadi di beberapa lokasi-lokasi langganan, bahkan kini mulai merambah di lokasi-lokasi yang dulunya tidak atau jarang terjamah oleh masalah tersebut.Dari permasalahan tersebut maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut; (1) Mengidentifikasi kondisi eksisting sistem jaringan drainase di Kecamatan Kotamobagu Barat, (2) Menemukenali peran antara pemerintah dan masyarakat dalam suatu pengelolaan sistem jaringan drainase di Kecamatan Kotamobagu Barat. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah deskriptif evaluatif. Teknik analisis data dilakukan melalui cara induktif, yaitu dengan menggunakan metode deskriptif sebagai usaha mengemukakan suatu fakta dan peristiwa berdasarkan penilaian yang teridentifikasi sebelumnya. Metode ini dipilih karena parameter yang berpengaruh dalam studi ini merupakan parameter bersifat kualitatif yang didapat dari hasil survey primer. Adapun setelah itu digunankan metode pembobotan dimana data yang sebelumnya bersifat kualitatif dikonversi ke dalam bentuk kuantitatif, sehingga menjadi penilaian dari beberapa tingkatan dalam skala yang disamakan dengan menggunakan skala likert untuk selanjutnya, diklasifikasikan berdasarkan masing-masing aspek yang diteliti. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cluster Random Sampling, yaitu metode pengambilan sampel berdasarkan jumlah penduduk dari masing-masing kelurahan yang diambil secara acak untuk pengumpulan data kondisi eksisting jaringan drainase yang dilakukan dengan cara cara observasi dilapangan serta pembagian kuisioner yang diolah untuk mendapatkan skor daengan cara pembobotan. Hasil analisis yang diperoleh menunjukkan bahwa ; (1) Kondisi sistem jaringan drainase di Kecamatan Kotamobagu Barat. secara sistem pola pengaliranya tidak saling mendukung atau tersistematis mulai dari tersier, sekunder, dan primer. Sampai saat ini masih merupakan suatu sistem drainase gabungan (mix drain) dengan kata lain bukan merupakan suatu sistem yang tertata atau terencana dengan baik. Dimana hasil dari penilaian kondisi eksisting drainase imemiliki nilai rendah, dengan rata-rata 2,46. (2) Pengelolaan sistem jaringan drainase di Kecamatan Kotamobagu Barat dari penilaian peran pemerintah memiliki nilai rendah dengan bobot rata-rata 1,40. Demikian halnya pada penilaian partisipasi masyarakat memiliki nilai rendah dengan bobot rata-rata 2,22
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN WILAYAH KOTA TIDORE
Kota Tidore Kepulauan sebagai daerah otonom baru yang dimekarkan dari Kabupaten Halmahera Tengah berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang pemekaran wilayah yang diresmikan pada tanggal 31 Mei 2003. Secara fisik perkembangan Kota Tidore cenderung mengikuti pola jaringan jalan yaitu secara memanjang/linier di sekitaran kawasan pesisir. Perkembangan Kota Tidore dari tahun ke tahun berjalan lambat, Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan wilayah Kota Tidore (2) Menganalisis perkembangan wilayah Kota Tidore. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pemetaan. Data primer diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan kuisioner. Hasil penelitian diperoleh bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan wilayah Kecamatan Tidore yakni keadaan geografis, topografi, sejarah dan kebudayaan, infrastruktur dan perkembangan Kecamatan Tidore dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang lambat yaitu dimulai dari tahun 2004-2014. Pada tahun 2004-2007 kawasan perkebunan yang lebih mendominasi dan permukiman. Pada tahun 2007-2010 kawasan permukiman dan kawasan lainnya mengalami perkembangan sehingga luas perkebunan mulai berkurang. Sedangkan memasuki tahun 2011-2014 perkembangan yang terjadi tidak terlalu signifikan dan masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu perkebunan yang lebih mendominasi di kecamatan Tidore