445 research outputs found

    PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP POTENSI BAHAYA LONGSOR DENGAN PENDEKATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KOLONODALE KABUPATEN MOROWALI UTARA

    Get PDF
    Perkembangan wilayah perkotaan Kolonodale sebagai ibukota Kabupaten Morowali Utara, telah menyebabkan perubahan tutupan lahan dari lahan tidak terbangun (lahan hijau) menjadi lahan terbangun. Perubahan tersebut terjadi akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur wilayah. Pembangunan di Kabupaten Morowali Utara belum terarah pada perencanaan ruang yang berkelanjutan sehingga pembangunan cenderung mengarah pada tata ruang yang dapat menyebabkan munculnya potensi bahaya longsor. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perubahan tutupan lahan dan menentukan tingkat kerawanan longsor di kawasan perkotaan Kolonodale. Perencanaan tata ruang terhadap bahaya longsor dikaji dalam analisis keruangan (spasial). Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan superimpose (overlay).  Data-data fisik dasar yang berkaitan dengan perubahan tutupan lahan merupakan data series tahun 2006, 2011, 2016 yang dioverlay untuk mengetahui perubahan tutupan lahan di kawasan perkotaan Kolonodale. Parameter bencana longsor yang dianalisis yakni  kelerengan, jenis tanah, curah hujan, dan penggunaan lahan. Hasil analisis, diketahui bahwa kawasan perkotaan Kolonodale mengalami perubahan tutupan lahan dalam kurun waktu 10 tahun seluas 75,81 Ha atau 4,71%. Dengan menggunakan metode overlay berdasarkan empat parameter bencana longsor (kelerengan, jenis tanah, curah hujan, dan penggunaan lahan) maka diperoleh tiga klasifikasi tingkat kerawanan longsor yakni tingkat kerawanan rendah, tingkat kerawanan sedang, tingkat kerawanan tinggi. Kerawanan longsor  terbesar yakni klasifikasi tingkat kerawanan sedang seluas 1.424.16 Ha atau 88,46 % dari luas total wilayah perkotaan Kolonodale. Kata Kunci : Tutupan Lahan, Longsor, Sistem Informasi Geografi

    IDENTIFIKASI PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN KORIDOR JALAN TRANS SULAWESI DI AMURANG

    Get PDF
    Penggunaan lahan di suatu wilayah selalu terkait dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya. Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan semakin intensifnya aktivitas penduduk di suatu tempat berdampak pada meningkatnya perubahan penggunaan lahan. Salah satu ditunjukan yaitu perubahan di sepanjang koridor Jalan Trans Sulawesi di Amurang. Amurang termasuk salah satu kota yang berkembang dengan jumlah penduduk yang setiap harinya meningkat serta memiliki berbagai macam kegiatan perkotaan yang tidak sedikit yang menyebabkan kebutuhan akan ruang juga tidak sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan dan mengkaji  faktor – faktor apa yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan koridor Jalan Trans Sulawesi di Amurang. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif dengan metode deskriptif dan menggunakan analisis SIG (Sistem Informasi Geografi). Perubahan penggunaan lahan koridor jalan Trans Sulawesi di Amurang meliputi perubahan luas lahan dan fungsi bangunan perubahan tersebut cenderung meningkat setiap tahunnya, yaitu perubahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun. Jenis perubahan fungsi yang terjadi yaitu perubahan fungsi dari tanah kosong menjadi perdagangan jasa, hunian menjadi perdagangan jasa, hunian menjadi perdagangan jasa sekaligus hunian, dan perdagangan jasa menjadi perdagangan jasa lainnya. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di Koridor Jalan Trans Sulawesi adalah penduduk, aksesibiltas, prasarana dan sarana, daya dukung lahan, ekonomi dan kebijakan pemerintah.Kata Kunci : Penggunaan lahan, Korido

    PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA DI KECAMATAN TOMOHON TIMUR

    Get PDF
    Kegiatan pariwisata merupakan kegiatan yang strategis untuk dikembangkan di Kecamatan Tomohon Timur Kota Tomohon, dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu potensi pariwisata yang di miliki Kota Tomohon adalah agrowisata di Kecamatan Tomohon Timur, kawasan agrowisata ini dikelola oleh penduduk setempat secara tradisional. Dengan adanya potensi dan permasalahan yang ada, maka dari itu dilakukan penelitian untuk mengkaji “Pengembangan Kawasan Agrowisata Di Kecamatan Tomohon Timurâ€. Tujuan penelitian ini adalah megidentifikasi karakteristik kawasan agrowisata dan untuk menetapkan strategi pengembangan kawasan agrowisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif yang bersifat deskriptif kualitatif yang dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian dengan menggambarkan atau menguraikan secara jelas apa yang ada dilapangan, dan analisis SWOT merupakan suatu alat yang efektif dalam membantu menstrukturkan masalah, terutama dengan melakukan analisis alas lingkungan strategis, yang lazim disebut sebagai lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Secara internal sejumlah Kekuatan (strengths) atau sumberdaya,dan kelemahan-kelemahan (weaknesses) atau keterbatasan/kekurangan, dan secara ekstemal akan berhadapan dengan berbagai Peluang (opportunities) atau situasi/kecenderungan utama yang menguntungkan berasal dari luar, dan ancaman - ancaman (threats) situasi/kecenderungan utama yang tidak menguntungkan berasal dari luar. Berdasarkan hasil studi, didapat bahwa; karakteristik wilayah kawasan agrowisata untuk mendukung pengembangan kawasan agrowisata, yaitu prasarana di kawasan agrowisata sudah tersedia, kemiringan lereng yang beraneka ragam, namun aksesbilitasnya belum cukup baik, tersedia juga lahan yang sesuai dan produktif dan juga masyarakatnya sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani. Rekomendasi strategi yang digunakan adalah membuat master plan kawasan Agrowisata, memanfaatkan investasi guna pengadaan sarana dan prasarana, dan peningkatan pemberdayaan masyarakat.   Kata Kunci : Pengembangan, Kawasan, dan Agrowisata

    UPAYA PENANGANAN INFRASTRUKTUR KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN DI TANJUNG SELOR, KALIMANTAN UTARA

    Get PDF
    Masalah perkotaan pada saat ini telah menjadi masalah yang cukup rumit untuk diatasi. Perkembangan perkotaan membawa pertumbuhan kota pada konsekuensi negatif lewat beberapa aspek, termasuk aspek lingkungan.Timbulnya banyak pemukiman kumuh diperkotaan dimana menjadi penyebab tidak terkendalinya pembangunan perumahan dan permukiman sehingga menyebabkan muncul kawasan kumuh pada beberapa bagian kota sebagai dampak dari penurunan daya dukung lingkungan. Permukiman kumuh hingga saat ini masih menjadi masalah utama yang dihadapi di kawasan permukiman perkotaan. Menumpuknya sumber mata pencaharian di kawasan perkotaan menjadi magnet yang cukup kuat bagi masyarakat perdesaan (terutama golongan MBR) untuk bekerja di kawasan perkotaan dan tinggal di lahan lahan ilegal yang mendekati pusat kota, hingga akhirnya menciptakan lingkungan permukiman kumuh. Di sisi lain, belum terpenuhinya standar pelayanan minimal (SPM) perkotaan pada beberapa kawasan permukiman yang berada di lahan legal pun pada akhirnya juga bermuara pada terciptanya permukiman kumuh di kawasan perkotaaan.Kawasan Bulu Perindu dan Tanjung Rumbia merupakan kawasan kumuh yang berada di Ibu kota Kabupaten Bulungan dalam RP2KPKP Kabupaten Bulungan 2016 kawasan ini menjadi prioritas penanganan dengan kategori kumuh berat. Permasalahan pada kawasan Bulu Perindu dan Tanjung Rumbia terkait dengan ketersediaan infrastruktur yang  menggambarkan kondisi infrastruktur Bulu Perindu dan Tanjung  Rumbia yang belum memadai. Tujuan penelitian mengidentifikasi ketersediaan pelayanan infrastruktur permukiman kumuh berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) di lokasi penelitian, serta menganalisis upaya penanganan infrastruktur permukiman kumuh pada kawasan penelitian. Penelitian ini menggunakan Metode analisis Kuantiatif Deskriptif. Hasil analisis menunjukan kondisi faktual di lapangan yaitu belum tersedianya infrastruktur yang memadai di kedua kawasan tersebut. Identifikasi ketersediaan infrastruktur dengan perhitungan SPM dan analisis upaya penanganan infrastruktur kawasan permukiman kumuh Bulu Perindu dan Tanjung Rumbia adalah dengan melakukan Pencegaha dan Peningkatan Kualitas.                                             Kata Kunci: Permukiman, Infrastruktur, Kekumuha

    FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIDAK TERKELOLANYA OBJEK WISATA PANTAI BATU PINAGUT BOLAANG MONGONDOW UTARA

    Get PDF
    Pantai Batu Pinagut terletak di Boroko Utara kecamatan Kaidipang Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Pantai pasir putih yang indah terletak pada posisi yang strategis dalam kota, sudah termasuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata (KSP), beberapa fasilitas telah dibangun namun belum dilakukan pengelolaan lebih lanjut dari Pemerintah. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab dan menentukan faktor dominan yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara. Penelitian ini menggunakan metode  kuantitatif deskriptif yaitu dengan melakukan pengamatan dan pengambilan data dilapangan  dengan teknik survey atau observasi lapangan dan ditunjang wawancara dengan yang memiliki kepentingan. Setelah penyusunan data dilakukan analisis data menggunakan teknik analisis SWOT untuk menstrukturkan masalah dan mengetahui besarnya nilai dan bobot dari faktor-faktor penyebab yang diperoleh sehingga dapat diketahui pula faktor dominan yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diketahui empat faktor yang menyebabkan tidak terkelolanya objek wisata pantai Batu Pinagut Bolaang Mongondow Utara yaitu belum disahkannya RIPPDA, pungutan masuk (retribusi) tidak diberlakukan, status kepemilikan lahan masih dimiliki warga, kurangnnya budaya sadar wisata masyarakat/pengunjung dan lemahnya promosi. Dengan menggunakan metode skoring  maka diketahui faktor dominan yang dominan adalah belum disahkannya RIPPDA.   Kata Kunci : Faktor Penyebab Tidak Terkelola, Objek Wisata Pantai, Batu Pinagut Bolmu

    POLA PERKEMBANGAN KECAMATAN WANEA BERDASARKAN MORFOLOGI RUANG

    Get PDF
    Perkembangan suatu kota pada umumnya berbeda-beda hal ini dikarenakan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut pada setiap wilayah kota. Faktor-faktor tersebut antara lain: kondisi geografis, topografi wilayah, jumlah penduduk, kondisi sosial ekonomi penduduk dan peran pemerintah. Morfologi perkotaan adalah penataan atau formasi keadaan kota yang sebagai objek dan sistem yang dapat diselidiki secara struktural, fungsional, dan visual. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mengetahui pola perkembangan lahan berdasarkan morfologi ruang di Kecamatan Wanea, dan untuk mengetahui perkembangan  penggunaan lahan Kecamatan Wanea dari kajian faktor-faktor internal dan eksternal. Dalam penelitian ini, morfologi kota didasarkan pada aspek pola penggunaan lahan, pola-pola jalan dan tipe atau karakteristik bangunan. Untuk menganalisis suatu pola morfologi kota dapat dilakukan dengan dua analisis perancangan kota yaitu, analisis overlay dan analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa perkembangan fisik ruang Kecamatan Wanea tidak banyak mengalami perubahan di mana luas lahan yang mengalami perubahan sebanyak 149,91 Ha atau 19,09% dari luas Kecamatan Wanea, sedangkan luas lahan yang tidak mengalami perubahan sebanyak 635,34 Ha atau 80, 91%. Perkembangan Kecamatan Wanea secara umum sangat dipengaruhi sebanyak 65% oleh situasi dan kondisi internal, namun beberapa unsur eksternal yang menonjol juga dapat mempengaruhi sebanyak 35% perkembangan Kecamatan Wanea.Kata Kunci: Pola penggunaan lahan, Pola-pola jalan, Tipe atau karakteristik banguna

    PERENCANAAN KOMPONEN “WATER SENSITIVE URBAN DESIGN†KAWASAN RAWAN BANJIR DI KECAMATAN SINGKIL KOTA MANADO

    Get PDF
    Kecamatan Singkil merupakan salah satu Kecamatan di Kota Manado yang sebagian wilayahnya merupakan daerah yang termasuk dalam kategori rawan terhadap bencana banjir (RTRW Kota Manado).Water Sensitive Urban Design (WSUD) adalah konsep perencanaan lahan dan rekayasa pendekatan keteknikan yang mengintegrasikan siklus air perkotaan,  air hujan, air tanah, pengelolaan air limbah dan air bersih, ke dalam desain perkotaan untuk meminimalkan kerusakan lingkungan dan meningkatkan daya tarik estetika dan rekreasi.WSUD dianggap dapat meminimalisir dampak dari bencana banjir yang terjadi pada Kecamatan Singkildengan memanfaatkan langkah yang tepat dalam desain dan operasi pembangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi,mengevaluasi, dan menganalisis kondisi dan ketersediaan komponen WSUD yang terdapat di Kecamatan Singkil serta untuk merencanakan komponen WSUD yang tepat pada kawasan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptifkualitatif terhadap komponen WSUD eksisting pada Kecamatan Singkil. Tahapan pada penelitian yaitu identifikasi elemen WSUD pada kondisi eksisting, evaluasi berupa potensi dan masalah pada sampel, dilanjutkan dengan analisis sampel yang nantinya akan menjadi bahan pertimbangan bagi tahapan perencanaan nantinya. Berdasarkan hasil studi, dapat ditarik 2 kesimpulan  yaitu elemen eksisting dari 5 komponen WSUD. Pada hasil evaluasi dan analisis didapati berbagai kondisi beragam dari elemen tersebut mulai dari kondisi, luasan, karakteristik, potensi, masalah, dan ketersediaan yang beragam dari setiap sampel tersebut dan menjadi pengantar bagi analisis berdasarkan karakteristik elemen tersebut serta kebijakan dan guidelines WSUD yang digunakan peneliti. Perencanaan menghasilkan peta rencanan zonasi dari ke 5 komponen tersebut serta Peta Grand Design untuk menunjukan integrasi antar kelima komponen tersebut.   Kata Kunci : Perencanaan, Komponen, Rawan Banjir, Water Sensitive Urban Desig

    EVALUASI KAWASAN RESAPAN AIR DI KOTA MANADO

    Get PDF
    Pesatnya pembangunan Kota Manado, mengakibatkan alihfungsi lahan, terutama lahan lindung menjadi lahan budidaya. Jumlah penduduk yang meningkat setiap tahun, mengakibatkan pemintaan akan lahan permukiman semakin meningkat di Kota Manado, padahal wilayah Kota Manado hanya memiliki 15% lahan datar dari luas wilayah kota secara keseluruhan.  Maka, perkembangan lahan permukiman mulai merambah wilayah kawasan lindung seperti kawasan resapan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kota Manado dan mengkaji perubahan-perubahan yang terjadi khususnya pada Kawasan  Resapan Air yang telah di tetapkan RTRW Kota Manado 2014-2034. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskritif analitis, dan analisis data menggunakan  ArcGIS. Hasil penelitian diperoleh bahwa perubahan kawasan resapan air periode tahun 2006-2017 adalah  5,31%  dari total luas kawasan resapan air di wilayah Kota Manado, di mana  lahan kawasan resapan air berubah menjadi kawasan permukiman dan komersial. Kata Kunci : Kawasan Resapan Air, Kota Manad

    KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN KUMUH PESISIR STUDI KASUS : DESA LIKUPANG DUA DAN DESA LIKUPANG KAMPUNG AMBONG, KECAMATAN LIKUPANG TIMUR, KABUPATEN MINAHASA UTARA, PROVINSI SULAWESI UTARA

    Get PDF
    Empat puluh tujuh Kota Otonom dari sembilan puluh empat Kota Otonom di Indonesia  memiliki karakteristik geografis kawasan pesisir. Dominasi jumlah kota pesisir di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat wajar mengingat morfologi NKRI berupa kepulauan yang berjumlah sekitar 17.480 pulau dengan 95.181 Km bentang garis pantai dari seluruh pulau tersebut. Gambaran tentang kondisi wilayah seperti itu mencerminkan bahwa diperlukan suatu pendekatan berwawasan kepesisiran yang komprehensif mencakup dinamika interaksi berbagai aspek/sektor di kawasan pesisir tersebut. Desa Likupang Dua dan Desa Kampung Ambong merupakan desa di wilayah pesisir Kabupaten Minahasa Utara yang memiliki fungsi yang penting dalam RTRW Kabupaten Minahasa Utara 2011-2031. Letaknya yang strategis sebagai gerbang menuju pulau-pulau dibagian Utara, serta potensi kekayaan bahari dan pesona wisata alam yang memukau menjadi alasalan kenapa wilayah ini perlu mendapatkan perhatian khususdari pihak-pihak terkaitguna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi yang dimiliki memberikan daya tarik yang kuat dan menimbulkan konsentrasi penduduk dan permukiman yang tinggi. Penduduk membangun tanpa memperhatikan legalitas lahan dan aturan-aturan terkait pembangunan permukiman yang benar, sehingga kondisi ini menciptakan kekumuhan bagi lingkungan permukiman di lokasi penelitan.Dilatarbelakangi  persoalanpermukiman kumuh, mendorong penelitian ini dilakukan. Tujuan penelitian,menganalisis tingkat capaian pelayanan infrastruktur permukiman pesisir berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) di lokasi penenlitian, serta mengindentifikasi tingkat kekumuhan permukiman pesisir pada kedua desa penelitian berdasarkan ketersediaan Infrastruktur.Penelitian ini menggunakan Metode Analisis Kuantitatif Deskriptif.Hasil analisis menujukan kondisi faktual di lapangan yaitu belum tersedianya infrastruktur yang memadai di kedua desa tersebut dengan nilai SPMsecara keseluruhan belum tercapai sehingga terjadi kekumuhan.Analisa dan perhitungan SPM dan analisa tingkatan kategori kumuh di wilayah Desa Likupang Dua dan Desa Likupang Kampung Ambong menempatkan kedua desa tersebut masuk dalam kategori kumuh sedang.   Kata Kunci :Wilayah Pesisir, Permukiman, Infrastruktur, Kekumuha

    KOMPARASI STRUKTUR RUANG KOTA TOMOHON DAN KOTA KOTAMOBAGU BERDASARKAN DISTRIBUSI DAN PROFIL DENSITAS

    Get PDF
    Struktur ruang merupakan bagian dari organisasi keruangan sebuah kota dan mencirikan penggunaan lahan tertentu di kota. Faktor-faktor pembentuk pola dan struktur keruangan suatu kota bervariasi dari waktu ke waktu, terutama kota-kota di Indonesia terkait dengan perkembangan sejarahnya.Struktur ruang perkotaan  menurut Alain Bertaud dapat didefinisikan dan dibandingkan dengan menggunakan 3 indikator,yaitu  distribusi densitas, profil densitas dan pola perjalanan sehari-hari. Kota Tomohon dan Kota Kotamobagu adalah kota yang terletak di Sulawesi Utara dengan latar belakang sejarah perkembangan kota yang hampir sama. Meskipun sejarah perkembangan kotanya hampir sama akan tetapi memiki karakteristik wilayah yang berbeda. Karena adanya karakteristik yang berbeda diduga ada perbedaan pola struktur ruang yang terjadi.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan membandingkan struktur ruang Kota Tomohon dan Kota Kotamobagu terkait indikator distribusi dan profil densitas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoden analisis deskriptif untuk mengolah dan menafsirkan data yang diperoleh dan metode analisis komparatif untuk melihat perbandingan yang ada. Berdasarkan hasil studi, 1Hasil analisis distribusi densitas dan profil densitas,struktur ruang Kota Tomohon cenderung Polisentris sedangkan Kota Kotamobagu cenderung Monosentris.2 Kota Kotamobagu distribusi densitasnya berpusat pada satu zona dan saling menghimpit satu sama lain sehingga membentuk pola struktur ruang yang kompak sementara kota Tomohon distribusi densitasnya membentuk pola clustered/ berkelompok-kelompok dan menyebar/acak. Berdasarkan profil densitas,pengaruh  jarak menuju pusat kota tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepadatan penduduk di kedua kota.Kata Kunci : Struktur Ruang, Distribusi Kepadatan, Profil Kepadatan, Kota Tomohon, Kota Kotamobag

    438

    full texts

    445

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SPASIAL
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇