SPASIAL
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI PULAU DOOM KOTA SORONG
Pulau Doom terletah di Kota Sorong Provinsi Papua Barat. Pulau Doom sudah ditinggali oleh masyarakat sejak masa pendudukan Belanda. Belanda sudah melirik keberadaan Pulau Doom sejak tahun 1800-an dan kemudian sekitar tahun 1935 Pulau Doom dijadikan sebagai ibu kota pusat pemerintahan Kota Sorong. Pulau Doom kini menjadi kawasan permukiman bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Seiring berkembang waktu, perkembangan permukiman di Pulau tersebut kini mulai berkembang dari tahun ke tahun dan menjadi padat akibat pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Perkembangan permukiman di Pulau Doom dari tahun 2007 hingga 2015 mengalami perkembangan yang pesat. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menganalisis arah perkembangan permukiman dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan permukiman di Pulau Doom Kota Sorong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dan analisis spasial (overlay) dengan menggunakan software ArcGIS 10.1. Berdasarkan hasil penelitian bahwa, 1arah perkembangan permukiman di Pulau Doom lebih dominan berkembang ke arah kelurahan Doom Barat pada kontur 0-10% (topografi dataran rendah) dengan perkembangan permukiman sebesar 60%. 2Faktor-faktor yang paling mempengaruhi perkembangan permukiman di Pulau Doom adalah faktor geografis, faktor kependudukan, faktor swadaya dan peran serta masyarakat dan faktor sosial budaya. Kata Kunci    : Permukiman, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Permukima
PENGEMBANGAN OBJEK WISATA BAHARI DI LIKUPANG TIMUR (STUDI KASUS : PANTAI PULISAN)
Desa Pulisan merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat potensial di kembangkan yang terletak di Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara. Di desa ini terdapat beberapa objek wisata menarik seperti pantai, goa dan terumbu karang bawah laut. Sehingga menarik banyak wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing datang berkunjung ke desa ini. Namun akses menuju ke desa ini masih belum memadai karena kondisi infrastruktur jalan yang masih belum diperbaiki. Di tambah pula sarana dan prasarana serta fasilitas penunjang pariwisata lainnya belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi–potensi wisata yang ada di desa Pulisan, kemudian membuat strategi pengembangannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis SWOT dengan dengan menggunakan matriks IFAS dan EFAS dan matriks SWOT. Matriks SWOT menunjukkan arahan dan strategi pengembangan potensi objek wisata Pantai Pulisan.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa objek wisata yang ada di Desa Pulisan sangat berpeluang untuk dikembangkan sebagai salah satu objek wisata yang ada di Kabupaten Minahasa Utara hal tersebut dilihat dari hasil analisis Strength (Kekuatan) yaitu Desa Pulisan memiliki pantai dengan daya tarik flora dan fauna yang indah, pemandangan laut yang masih alami dan pasir putih yang asri serta keindahan terumbu karang bawah laut yang tak kalah menariknya dengan Taman Laut Bunaken. Sedangkan Opportunities (peluang) dengan dikembangkannya objek wisata ini dapat membuka lapangan pekerjaan untuk masyakarat sekitar dan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Minahasa Utara. Kata Kunci: Pengembangan, Wisata, Bahari, Desa Pulisa
ANALISIS PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KECAMATAN LEMBEH SELATAN
Strategi pengembangan yang dilakukan pemerintah kota Bitung belum mampu memberi kemajuan yang signifikan dalam mengoptimalkan potensi pariwiata yang ada di Pulau Lembeh, sehingga untuk mengoptimalkan serta meningkatkan kunjungan wisatawan diperlukan perencanaan dalam upaya untuk mengembangkan sektor pariwisata yang belum di kembangkan di Pulau Lembeh Kecamatan Lembeh Selatan terlebih khusus di kelurahan Pasir Panjang dan Kelurahan Dorbolaang, dimana perencanaan ini dijaring melalui kondisi eksisting, persepsi wisatawan, masyarakat local dan pemangku kepentingan yang terkait dalam hal ini pemerintah kota Bitung. Oleh karena itu dilakukan penelitian yang bertujuan 1.Mengetahui objek wisata yang berpotensi untuk dikembangkan di kelurahan Pasir Panjang dan Dorbolaang 2.Merencanakan strategi pengembangan objek wisata di kelurahan Pasir Panjang dan kelurahan Dorbolaang. Metode yang dilakukan dalam penelitian yaitu analisis deskriptif kuantitatif dan analisis distribusi frekuensi. Hasil penelitian terdapat 8 objek wisata yang berpotensi untuk dikembangkan dan pengembangan pada 8 objek wisata yaitu pada aksesibilitas dan infrastruktur berupa sirkulasi dan transportasi, pengadaan jaringan listrik, jaringan air bersih, jaringan telekomunikasi, dan pembuatan dermaga-dermaga tambatan perahu pengunjung disetiap objek wisata, perencanaan pembangunan tempat menginap seperti hotel atau penginapan dan restoran di setiap objek wisata dan peningkatan kerja sama antar pengelola objek wisata dengan organisasi local dan organisasi pemerintah dalam hal promosi objek wisata yang ada.Kata Kunci: Potensi Objek Wisata, Strategi Pengembangan, Pariwisata
KAJIAN PENGGUNAAN LAHAN PADA KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KECAMATAN KALAWAT KABUPATEN MINAHASA UTARA
Kecamatan Kalawat adalah salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Minahasa Utara (luas 44.21 km²) Kecamatan Kalawat yang berkembang dengan jumlah penduduk yang selalu bertambah serta memiliki lokasi yang strategis karena berada di antara dua kota, yaitu Kota Manado dan Kota Bitung, sehingga Kecamatan Kalawat merupakan salah satu daerah penghubung bagi kota – kota tersebut. Kecamatan Kalawat juga mempunyai kondisi geografi yang cenderung landai sehingga terjadinya pembangunan perumahan-perumahan baru, tokoh, hotel dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Kecamatan Kalawat dan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan lahan. Perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain dari suatu waktu ke waktu berikutnya, atau berubahnya fungsi suatu lahan pada kurun waktu yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dan analisis SIG. Analisis Overlay. Dalam SIG berguna untuk menghasilkan penilaian terhadap perkembangan kota yang terjadi di Kawasan Cepat Tumbuh sedangkan Analisis Deskriptif digunakan untuk mengetahui perkembangan hasil overlay peta time series berdasarkan citra satelit dan peta kondisi eksisisting kawasan cepat tumbuh.  Kata Kunci : Perkembangan Perkotaan, Lahan, Kawasan Cepat Tumbu
PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN PERKOTAAN DI KECAMATAN KAIDIPANG
Perkembangan permukiman pada perkotaan yang semakin berkembang diikuti dengan kebutuhan lahan yang semakin meningkat maka akan berdampak terhadap penggunaan lahan yang semakin tinggi. Hal ini sama halnya terjadi di Kecamatan Kaidipang yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, sebagai ibu kota Kabupaten maka secara otomatis akan menjadi pusat segala aktivitas yang ada di wilayah Kabupaten ini. Oleh karena itu, perlu diketahui arah perkembangan permukiman dan kesesuaian lahan pada Kecamatan Kadipang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi arah perkembangan permukiman di Kecamatan Kaidipang dan menganalisis kesesuaian lahan pada kawasan permukiman di Kecamatan Kaidipang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan analisis arah perkembangan permukiman dengan menggunakan metode overlay untuk menjawab tujuan pertama dan menggunakan analisis kesesuaian lahan untuk permukiman dan menggunakan parameter kesesuaian lahan, yang dibagi kedalam 5 kelas dengan menggunakan metode skoring untuk menjawab tujuan kedua dari penelitian ini yang keseluruhan analisisnya dibantu menggunakan software Arcgis. Berdasarkan hasil penelitian ini didapat 2 hal yaitu : 1arah perkembangan di Kecamatan Kaidipang lebih mengarah ke daerah pesisir dan mengikuti jaringan jalan, 2analisis kesesuaian lahan yang dibagi ke dalam 5 kelas yaitu adalah di Kecamatan Kaidipang lahan yang sangat sesuai sebesar 182.97 Ha. Lahan  yang sesuai sebesar 3549.04 Ha, lahan yang cukup sesuai sebesar 3308.55 Ha, dimana ke 3 kelas lahan ini berada di daerah dataran rendah dan tidak teridentifikasi adanya rawan bencana. Sedangkan 2 kelas yaitu yang tidak sesuai memiliki luas lahan sebesar 1418,28 Ha, dan lahan yang sangat tidak sesuai memiliki lahan sebesar 170.34 Ha dimana lahan ini berada di daerah dataran tinggi, didaerah peisisir pantai dan daerah hutan mangrove.Kata Kunci         : Pengembangan Permukiman Perkotaan, Kesesuaian Lahan
EVALUASI SISTEM TRANSPORTASI MENUJU KOTA TOMOHON SEBAGAI COMPACT CITY
Fenomena pembangunan kota acak (urban sprawl development) yang terjadi hampir di seluruh kota di dunia yang ditandai dengan ekspansi kawasan terbangun yang lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk pada umumnya tidak diikuti oleh desentralisasi pusat kegiatan secara proporsional. Sebagai solusi dari fenomena pembangunan kota acak dicetuskan ide pembangunan compact city. Bentuk kota yang kompak akan mampu mereduksi jarak tempuh perjalanan sehingga dapat menurunkan tingkat mobilisasi penduduk di perkotaan. Kota Tomohon yang pusat pelayanan kegiatannya berada di tengah-tengah kota, menjadikan daerah pusat kegiatan ini berkembang sebagai pusat utama pertumbuhan wilayah di Kota Tomohon. Ini menyebabkan kebergantungan masyarakat pada kendaraan bermotor dalam mengakses daerah pusat pelayanan kegiatan ini semakin meningkat dan menjadi kendala bagi upaya penghematan energi untuk transportasi perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi sistem transportasi Kota Tomohon dan menganalisis tingkat kekompakan sistem transportasi menuju Kota Tomohon sebagai compact city. Dengan menggunakan metode deskriptif untuk menggambarkan konsisi sistem transportasi dan metode overlay serta teknik buffer. Penelitian ini diawali dengan mengidentifikasi kondisi sistem transportasi di Kota Tomohon, kemudian melakukan studi literatur mengenai aspek sistem transportasi pada konsep compact city. Hasil penelitian dapat memperlihatkan kondisi eksisting sistem transportasi di Kota Tomohon yang masih berorientasi pada satu moda transportasi publik dan fasilitas pendukung yang kurang baik. Hasil evaluasi tingkat kekompakan Kota Tomohon pada aspek sistem transportasi dalam konsep compact city yang telah dianalisis menunjukan hasil yang tidak kompak karena hanya dua aspek yang telah menunjukan hasil yang kompak, yaitu aksesibilitas yang tinggi dan keterhubungan jaringan jalan yang telah menghubungkan antar pusat pelayanan. Kata Kunci: Compact City, Sistem Transportasi, Struktur Ruan
EVALUASI INKONSISTENSI PEMANFAATAN RUANG DI KECAMATAN SINGKIL KOTA MANADO
Kecamatan Singkil salah satu Kecamatan yang teletak di Kota Manado, Ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Kecamatan Singkil mempunyai jumlah penduduk yang megalami peningkatan setiap tahunnya sehingga membawa dampak pada peningkatan kebutuhan penggunaan lahan, hal ini akan berdampak pada konversi lahan yang tidak sesuai dengan pemanfaatannya. Salah satunya adalah pada konversi lahan pada penggunaan lahan perkebunan menjadi penggunaan lahan permukima. Empat dari sembilan kelurahan di Kecamatan Singkil ditenggarai tidak sesuai dengan pemanfaatannya. Dalam penelitian ini metode analisis data yang dipakai untuk menunjang penelitian ini adalah menggunakan metode overlay dengan software Sistem Informasi Geografi (SIG). Peneliti menggunakan metode overlay ini untuk mengetahui pemanfaatan ruang yang terinkonsistensi di Kecamatan Singkil sehiingga dapat diketahui bahwa seluas 16,35 ha atau 4% dari luas total Kecamatan Singkil merupakan pemanfaatan ruang yang terinkonsistensi, selanjutnya menghitung dan mencari tau jenis inkonsistensi yang ada dengan menggunakan peta tematik yang sudah didigitasi batasan-batasan inkonsistensinya perbedaan kenampakannya peta tematik menggunakan aplikasi berbasis SIG sehingga dapat diketahui berbagai macam jenis penggunaan lahan yang terinkonsistensi maupun yang masih konsisten terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Manado 2014-2013 yang ada di Kecamatan Singkil. Kata Kunci: Pemanfaatan Ruang, Inkonsistensi, Kecamatan Singkil, Kota Manad
PERSEPSI WISATAWAN TERHADAP FASILITAS INFRASTRUKTUR DI PANTAI PASIR PUTIH KABUPATEN MANOKWARI PROPINSI PAPUA BARAT
Pembangunan merupakan salah satu fungsi utama yang harus dijalankan oleh pemerintah sebagai salah satu pengambil kebijakan. Pembangunan infrastruktur diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat salah satunya adalah kesejahteraan ekonomi atau mengalami peningkatan pendapatan.Manokwari merupakan salah kabupaten yang sedang berkembang, baik di lihat dari tingkat perekonomian maupun jumlah penduduknya.Untuk mendukung kegiatan dan perkembanggan pantai pasir putih dibutuhkan infrastruktur beserta kondisinya yang baik agar tidak menghambat proses perkembanggan pantai pasir putih. Kebutuhan akan infrastruktur fisik sangat penting untuk menunjang kemudahan aksesibilitas kegiatan dan perkembangan pada pantai pasir putih. Infrastruktur fisik itu misalnya adalah jalan, saluran air minum, saluran air limbah, pembuangan sampah, jaringan listrik.Mengetahui Persepsi Wisatawan Terhadap kondisi Fasilitas Infrastruktur pada Pantai Pasir Putih dan Menganalisis Tingkat kenyamanan adalah tujuan dari penelitian ini.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan analisa menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian ini untuk mengetahui kondisi fasilitas infrastruktur dan kenyamanan wisatawan terhadap fasilitas infrastruktur tersebut. Â Kata Kunci :Persepsi, Wisatawan, Infrastruktur, Panta
KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN PADA KAWASAN RAWAN BENCANA GUNUNG BERAPI DI KOTA TOMOHON
Kesesuaian lahan merupakan penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu. Kawasan rawan gunung berapi adalah kawasan yang berpotensi tinggi mengalami bencana akibat letusan gunung. Permasalahan perkembangan Kota Tomohon yang semakin pesat memberikan dampak pada peningkatan kebutuhan lahan untuk sarana permukiman. Hal ini mendorong berkembangnya aktivitas pada kawasan yang tidak sesuai peruntukkannya sebagai kawasan permukiman termasuk pada kawasan rawan gunung berapi. Untuk itu diperlukan analisis kesesuaian lahan permukiman khususnya pada kawasan yang masuk dalam  kawasan rawan bencana gunung berapi di Kota Tomohon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan analisis spasial dengan bantuan alat analisis GIS (Geography Information System). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kesesuaian lahan permukiman pada kawasan rawan bencana gunung berapi di Kota Tomohon. Berdasarkan hasil studi kesesuaian lahan permukiman pada kawasan rawan bencana gunung berapi di Kota Tomohon berdasarkan persebaran kawasan permukiman menunjukkan  kawasan permukiman yang lokasinya tidak sesuai adalah seluas 6 Hektar dengan prosentase 0,6% dari luas persebaran kawasan permukiman di Kota Tomohon dan berdasarkan peruntukkan kawasan permukiman pada RTRW Kota Tomohon menunjukkan kawasan permukiman yang lokasinya tidak sesuai adalah seluas 6 Hektar dengan prosentase 0,4% dari luas kawasan peruntukkan permukiman pada Rencana Pola Ruang RTRW Kota Tomohon. Kata Kunci : Kesesuaian Permukiman, Gunung Berapi, Kota Tomoho
PENGARUH KEGIATAN KOMERSIAL TERHADAP KINERJA JALAN (STUDI KASUS KORIDOR JALAN YOS SUDARSO, PAAL DUA)
Dalam perkembangannya saat ini Kota Manado termasuk salah satu kota yang berkembang dengan pesat. Hal ini di dukung dengan banyaknya kegiatan komersial yang berkembang mengikuti koridor jalan. Salah satunya kegiatan komersial yang berkembang di sepanjang koridor Jalan Yos Sudarso, Paal Dua dan menyebabkan kotribusi terhadap pergerakan lalu lintas meningkat sehigga menggangu kinerja jalan di koridor ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan dan pengaruh yang di timbulkan dari kegiatan komersial pada kinerja jalan. Â Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif. Hasil identifikasi menunjukan keberadaan setiap kegiatan komersial di sepanjang koridor Jalan Yos Sudarso menimbulkan pengaruh yang sangat signifikan karena banyak kegiatan komersial tidak memiliki lahan parkir. Sehingga menimbulkan hambatan samping seperti kendaraan yang hanya parkir di badan jalan oleh karena itu membawa pengaruh terhadap kinerja jalan dengan sering terjadinya tundaan atau kemacetan lalu lintas pada jam-jam tertentu. Untuk memperbaiki hal ini, serta mencegah bertambah buruknya kinerja jalan, maka diperlukan penangan lalu lintas dari pihak yang berwajib, pembuatan jembatan penyebrangan, dan membuat aturan pemberhentian angkutan umum. Kata Kunci : Kegiatan Komersial, Koridor Jalan, Kinerja Jalan, Lalu Linta