SPASIAL
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
ANALISIS PERSEBARAN LAHAN KRITIS DI KECAMATAN LOLAK KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW
Topografi Lolak beragam mulai dari daratan landai sampai berbukit dengan ketinggian tempat 7 mdpl (meter di atas permukaan laut) yang di ukur dari ibu kota kecamatan. Terdapat enam desa yang berada di perbukitan dengan ketinggian sampai 75 mdpl. Di kecamatan ini terletak gunung yang tertinggi di Bolaang Mongondow, Yaitu gunung Kabila dengan ketinggian 1.732 Meter dan terdapat material vulkanik, mengakibatkan tanah di kecamatan bersifat peka terhadap erosi. Menurut RTRW Kabupaten Bolaang Mongondow, kecamatan lolak juga memiliki kemiringan lereng yang sangat curam yaitu > 40%, Dari kedua faktor ini kecamatan lolak dinilai memiliki potensi terjadinya lahan kritis. Metode yang digunakan ialah analisis spasial dengan menggunakan Sofrwere ArcGis. Prosesnya dengan cara overlay. Data yang digunakan adalah data spasial penutupan lahan, kemiringan lerengan, tingkat bahaya erosi dan, menejemen lahan, secara garis besar tahapan analisis spasial lahan kritis terdiri dari tiga tahapan yaitu Tumpang susun data spasial, Editing data atribut, dan Analisis tabular. Hasil dan tujuan penelitian ini yaitu mengetahui persebaran lahan kritis dan pemanfaatan ruang pada lahan kritis. Kecamatan Lolak memiliki dua puluh enam desa dengan jumlah luas keseluruhan ialah 46.968,28 Ha. Kecamatan Lolak memiliki luas lahan kritis yang dibagi menjadi lima kelas antara lain : kelas tidak krtis dengan luas 13635,62 Ha, kelas potensial kritis dengan luas 27296,19 Ha, kelas agak kritis degan luas 5706,96 Ha, kelas kritis dengan luas 310,08 Ha, kelas sangat kritis dengan luas 19,54 Ha. Dengan demikian kelas lahan kritis tertinggi di kecamatan lolak di dominasi oleh kelas potensial kritis dengan luasan 27296,19 Ha atau 58,12 %, dan kelas kritis terenda didominasi oleh kelas sangat kritis dengan luasan 19,54 Ha atau 0,04 %. Hasil analisis diatas penggunaan lahan tertinggi pada lahan kritis ialah Hutan lahan kering sekunder / bekas tebangan, yaitu 15788,23 Ha atau 33,61 % dari luas kecamatan lolak, dengan penggunaan pada kelas tidak kritis 178,30 Ha, kelas potensial kritis 15593,56 Ha, kelas agak kritis 16,37 Ha. Sedangkan untuk penggunaan lahan terendah pada lahan kritis ialah Lahan terbuka, yaitu 19,55 Ha atau 0,04% dari luas kecamatan lolak, dengan penggunaan pada kelas Sangat Kritis 19,55 Ha. Kata Kunci : : Lahan Kritis, Penggunaan Lahan
EVALUASI SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DI KABUPATEN SORONG (STUDI KASUS DISTRIK AIMAS
Pengelolaan sampah menjadi permasalahan serius yang terjadi di Indonesia, walaupun secara kebijakan telah diatur dalam UU 18/2008 maupun Permen PU No. 03/Prt/M/2013. Distrik Aimas merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Sorong yang saat ini dihadapkan dengan permasalahan pengelolaan sampah, karena tingginya tingkat konsumtif masyarakat yang seiring dengan pertumbuhan penduduk. Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi peningkatan jumlah sampah di Distrik Aimas, namun belum secara komprehensif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi eksisting pengelolaan persampahan dan mengetahui persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Distrik Aimas. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan analisis penilaian menggunakan teknik skala likert. Hasil analisis menunjukan dari lima aspek persamapahan belum optimal, persepsi masyarakat juga masih kurang baik terhadap pengelolaan sampah yang ada di Distrik Aimas. Dari lima aspek pengelolaan sampah, terdapat aspek pewadahan, pengumpulan pengangkutan, dan pembiayaan yang masih kurang baik dengan skor <26
PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN PADA KAWASAN GEOTHERMAL TERHADAP SEKTOR PEREKONOMIAN MASYARAKAT DI KECAMATAN TOMPASO
Perubahan tata guna lahan yaitu bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lain disertai dengan berkurangnya tipe tata guna lahan yang lain dari suatu waktu ke waktu selanjutnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perubahan tata guna lahan pada kawasan geothermal, dan  mengetahui  hubungan  serta  pengaruhnya  terhadap  perekonomian  masyarakat  akibat  adanya pembangunan tersebut. Penelitian ini diolah melalui Analisis Spasial GIS untuk mengetahui perubahan tata guna lahan pada Kawasan Geotermal, Analisis Korelasi digunakan dalam menganalisis hubungan perubahan tata guna lahan dengan perekonomian masyarakat, serta Analisis Regresi Linear Sederhana yang digunakan dalam menganalisis pegaruh perubahan tata guna lahan pada kawasan geotermal di Kecamatan Tompaso dengan perekonomian masyarakat sekitarnya. Dari analisis korelasi diperoleh 83% memiliki hubungan signifikan dan 17% tidak signifikan., yang mengindikasikan bahwa perubahan penggunaan lahan pada Kawasan Geotermal Tompaso memiliki hubungan terhadap pendapatan masyarakat, dan dari analisis regresi sederhana didapati hasil dengan membandingkan nilai thitung dan ttabel pada 5 pasang variabel, terdapat 3 pasang variabel penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap variabel rata-rata pendapatan yakni perkebunan, permukiman dan tempat kreasi, dan sawah (thitung> ttabel), dan 2 pasang variabel penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap variabel rata-rata pendapatan. penggunaan lahan yang berpengaruh terhadap variabel rata-rata pendapatan.Kata Kunci: Tata guna lahan, perekonomian ABSTRACT Land use change is an increase in land use from one side of use to another accompanied by a decrease in other types of land use from one time to the next. The purpose of this study is to determine land use changes in the geothermal area, and to determine the relationship and influence on the community's economy due to the development. This research is processed through GIS Spatial Analysis to determine land use changes in the Geothermal Area, Correlation Analysis is used to analyze the relationship between land use change and community income, and Simple Regression Analysis is used to analyze the influence of land use changes in geothermal areas in Tompaso District. with the local economy. From the correlation analysis, it was found that83% had a significant relationship and 17% was not significant, which indicates that land use change in the Tompaso Geothermal Area has a relationship with people's income, and from a simple regression analysis the results were found by comparing the values of tcount and ttable on 5 pairs of variables, there are 3 pairs of land use variables that affect the average income variable, namely plantations, settlements and places of creation, and rice fields (tcount > ttable), and 2 pairs of land use variables that affect the average income variable. land use that affects the average income variable.Keywords: Land use, econom
ANALYSIS OF OBSTACLES TO LAND ACQUISITION FOR THE CONSTRUCTION OF MANADO – MINUT – BITUNG RAILROAD
Pembangunan infrastruktur menjadi salah satu fokus utama dari Pemerintah saat ini, dimana satu diantaranya ialah infrastruktur transportasi. Pemerintah telah mencanangkan satu rencana pembangungan kereta api yang melintasi 3 kabupaten/kota diantaranya Manado, Minahasa Utara dan Bitung di Provinsi Sulawesi Utara dalam mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting lahan yang akan dilintasi jalur kereta api dan menganalisis faktor hambatan dalam pengadaan lahan jalur kereta api Manado, Minahasa Utara dan Bitung. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif – kuantitatif dengan menganalisis kondisi eksisting lahan dan selanjutnya melakukan analisis deskriptif faktor hambatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa lintasan jalur kereta api melalui beragam kondisi fisik lingkungan alami maupun buatan yang telah ada sebelumnya serta dalam faktor hambatan pembangunan dari aspek fisik alami dilihat dari topografi wilayah terdapat hambatan pada segmen A1, A2, A4 dan B3 yang memiliki ketinggian berbeda dengan selisih 10-30 meter dan terdapat mata air pada segmen A4, selanjutanya aspek fisik buatan terdapat hambatan dimana trase melewati beberapa lokasi lahan permukiman dan bangunan hunian, perkantoran, fasilitas publik dan lahan milik pribadi, dan untuk aspek non fisik terdapat hambatan dari sebagian kecil pemilik lahan yang tidak setuju untuk diadakan pengadaan lahan untuk pembangunan jalur kereta api. Kata Kunci: Faktor Hambatan, Lahan, Jalur Kereta Api AbstractOne of the key goals of the government is infrastructure development, which includes transportation infrastructure. In order to promote economic development and expansion, the government has announced a plan to construct a train that passes through three provinces/cities in North Sulawesi, including Manado, North Minahasa, and Bitung. In order to examine the barriers to acquiring land for the Manado, North Minahasa, and Bitung railway lines, this study will first identify the present circumstances of the land that the railway line will cross. By first examining the current state of the land and then performing a descriptive analysis of the impediment elements, the analytical method used is descriptive qualitative-quantitative. The findings demonstrated that the railroad track passed through various physical conditions of the natural and artificial environments that had existed in the past as well as development barrier factors. From the natural physical aspect seen from the topography of the area, there were obstacles in segments A1, A2, A4, and B3 that had different heights with a difference of 10 to 30 meters and there is a spring in the A4 segment. As the trace passes through several locations with residential land, residential buildings, offices, public facilities, and privately owned land, there are artificial physical obstacles that need to be overcome. Additionally, there are non-physical obstacles caused by a small number of landowners who refuse land acquisition for the construction of the railway line.Keyword: Obstacles, Land, Railroa
EVALUATION OF LAND SUITABILITY FOR SETTLEMENT AREA IN NORTH MINAHASA REGENCY (RESEARCH LOCATION: DISTRICT OF KALAWAT, AIRMADIDI, KAUDITAN AND KEMA) EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DI KABUPATEN MINAHASA UTARA (STUDI KASUS: KECAMATAN KALAWAT, AIRMADIDI, KAUDITAN DAN KEMA)
Settlement has long been one of the main needs for the community. The increasing need for settlement land is caused by several factors, such as increase in population, land availability, and North Minahasa Regency Spatial Plan (RSP) 2013-2033 that make District of Kalawat, Airmadidi dan Kauditan as the settlement area designation location. In addition, the study area act as the main access to the National Tourism Strategic Area (NTSA) of Likupang, in which this area is directed as an investment center with the aim of being an economic driver. However there is a risk of deviation from the main function of the area if the process of developing a settlement area is not supported by adequate studies and directionsThe purpose of this research is to evaluate the land suitability of the existing settlements using land suitability directions, which are obtained from the analysis of land suitability and capability using two types of methods, namely spatial methods and quantitative descriptions.The result is that the land suitability directive that dominates the study area is the Protected Area Directive with a total area of 13.694,78 Ha. While the land suitability class for settlements that dominates the study location is the Very Appropriate Class, which is 299,17 Ha in Kalawat District, 487,34 Ha in Airmadidi District, 352,64 Ha in Kauditan District and 185,77 Ha in Kema District. These results indicate that most of the existing residential areas have occupied land that has a suitability for a settlement area.Keywords: Capability, Evaluation, Land, Settlement, Suitabilit
UTILIZATION OF LAND AROUND LAKE LIMBOTO, GORONTALO REGENCY PEMANFAATAN LAHAN DISEKITAR DANAU LIMBOTO KABUPATEN GORONTALO
Danau limboto masuk kategori danau yang perlu diperhatikan karena termasuk danau di Indonesia yang paling kritis. Degradasi hutan dan lahan di bagian ujung pangkal danau menjadi penyebabnya. Adapun penyebab lainnya yaitu pembangunan lahan secara sembarangan di sempadan danau yang secara langsung mengakibatkan lingkungan danau berubah menjadi area kawasan wisata, pekebunan dan pemukiman. Jenis dan proses perubahan pemanfaatan lahan sekitaran Danau Limboto dari tahun 2005-2020, metode analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) dan juga overlay peta citra Landsat digunakan untuk penelitian wilayah sekitar Danau Limboto yang kemudian dijelaskan secara deskriptif kualitatif. Penelitian ini menghasilkan bahwa dalam kurun waktu 15 tahun (2005 – 2020), mengalami perubahan pemanfaatan lahan akibat penyusutan danau luas tersebut dari menjadi peruntukan danau menjadi beberapa berupa Delta,Hutan Lebat, Hutan Sejenis, Kebun Campuran, Permukiman, Persawahan, Rawa, Semak, ladang, dan Tanah terbuka Perubahan luas lahan penyusutan terjadi karena adanya sedimentasi dari Danau Limboto yang tiap tahunya mengalami penyusutan sehingga lahan dialih fungsikan menjadi beberapa yaitu : delta, hutan lebat, hutan sejenis, kebun campuran, permukiman , rawa , sawah, semak , tanah terbuka, dan ladang. mengenai perubahan yang dilakukan di kawasan sekitar sempadan Danau Limboto berawal pada tahun 2005 sampai tahun 2020 yaitu 1,14 Ha menjadi kawasan wisata.10,53Ha menjadi lahan permukiman, dan sebesar ± 506,86 Ha menjadi lahan pertanian dan perkebunan.Kata Kunci: Jenis Pemanfaatan Lahan, Danau Limboto, Perubahan Penyusutan Dana
PEMETAAN JALUR EVAKUASI TSUNAMI DENGAN METODE NETWORK ANALYST BERBASIS SIG DI KOTA MANADO TSUNAMI EVACUATION ROUTE MAPPING USING NETWORK ANALYST METHOD BASED ON GIS IN MANADO CITY
ABSTRAKKota Manado memiliki tingkat resiko bencana Tsunami yang tinggi karena berada pada zona subduksi dari lempeng Eurasia dan pasifik di daerah utara dan timur semenanjung Minahasa. Pemetaan jalur evakuasi merupakan upaya mitigasi dari bencana tsunami. Penelitian ini menggunakan Sistem Informasi Geografis sebagai salah satu alat untuk pembuatan model informasi yang akan digunakan dalam tahap awal dalam pembuatan rencana mitigasi dengan menggunakan Metode Analisis Jaringan. Analisis Jaringan memiliki keuntungan yaitu dapat mengelompokan masing-masing jalur evakuasi dan dapat menentukan estimasi tercepat setiap jalur dengan menggunakan software ArcGis 10.8. Dengan menggunakan data jaringan jalan kota dan menentukan titik awal evakuasi berdasarkan buffer 500 m wilayah rawan tsunami. Sedangkan titik evakuasi sesuai rekomendasi RTRW Kota Manado 2014-2034 terdiri dari 13 titik yang akan menjadi titik akhir jalur, Berdasarkan metode analisis jaringan ditemukan adanya wilayah yang tidak terjangkau dan tidak mencukupi waktu evakuasi. Sehingga diperlukan penambahan titik evakuasi pada blank area berdasarkan ketinggian tempat evakuasi sehingga bisa di temukan jalur tercepat ke masing-masing titik evakuasi yang berjumlah 79 jalur dan 23 titik evakuasi tsunami di Kota Manado.Kata Kunci: Jalur Evakuasi Tsunami,Titik Evakuasi, Mitigasi, Sistem Informasi Geografis, Network Analyst (ArcGIS)ABSTRACTThe city of Manado has a high level of tsunami disaster risk because it is located in the subduction zone of the Eurasian and Pacific plates in the northern and eastern areas of the Minahasa peninsula. Mapping of evacuation routes is a mitigation effort from the tsunami disaster. This study uses a Geographic Information System as a tool for making information models that will be used in the early stages of making a mitigation plan using the Network Analysis Method. Network Analysis has the advantage that it can group each evacuation route and can determine the fastest estimate for each route using ArcGis 10.8 software. By using city road network data and determining the starting point for evacuation based on a 500 m buffer in tsunami-prone areas. While the evacuation points according to the recommendations of the 2014-2034 Manado City Spatial Planning consist of 13 points which will be the end points of the route. So it is necessary to add evacuation points to the blank area based on the height of the evacuation site so that the fastest route can be found to each evacuation point, which consists of 79 routes and 23 tsunami evacuation points in Manado City.Keywords: Tsunami Evacuation Path, Evacuation Point, Mitigation, Geographic Information System, Network,Analyst(ArcGIS
EVALUASI PEMANFAATAN LAHAN SEMPADAN SUNGAI SA’DAN (Studi Kasus : Kecamatan Tallunglipu,Kecamatan Rantepao dan Kecamatan Kesu’ Kabupaten Toraja Utara) EVALUATION OF LAND UTILIZATION ON THE SA’DAN RIVER BORDER (Case Study : Tallunglipu District,Rantepao District,Kesu District in North Toraja Regency)
Pemanfaatan lahan yaitu rangkaian kegiatan manusia di darat, seperti pemukiman, perdagangan, pertanian, dll. Setiap daerah berpotensi memanfaatkan sebidang tanah sebagai sumber kehidupan manusia. Perkembangan kota merupakan proses urbanisasi berkelanjutan yang akan membawa beban spasial pada kehidupan kota, yaitu memenuhi kebutuhan permukiman, perumahan atau perdagangan dan jasa. Bertambahnya jumlah penduduk mengakibatkan permintaan akan perumahan kurang proporsional dengan luas lahan yang tersedia. peningkatan jumlah pendudukpun semakin meningkat dan kebutuhan lahanpun meningkat serta lahan yang dapat diakses semakin mengecil , sehingga tidak mampu menjawab isu-isu penduduk yang sedang berkembang seperti ketersediaan lahan yang terbatas pada suatu 2 kota. Selain itu, sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Toraja Utara Nomor 3 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Toraja Utara Tahun 2012- 2032 ditetapkan sebagai peruntukan kawasan lindung. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengidentifikasi pemanfaatan lahan sempadan sungai sa’dan di Kecamatan Tallunglipu,Rantepao dan Kesu’ Kabupaten Toraja Utara dan Untuk menganalisis kesesuaian lahan di sempadan sungai sa’dan di Kecamatan Tallunglipu,Kecamatan Rantepao dan Kecamatan Kesu’, Kabupaten Toraja Utara. Teknik Pengumpulan data dalam penelitian adalah observasi, Telaah pustaka, dan studi dokumentasi. Untuk Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis spasial (deskriptif kuantitatif dan overlay). Berdasarkan analisa data dan pembahasan yang dibahas bahwa pemanfaatan lahan sempadan sungai Sa’dan pada Kecamatan Tallunglipu yaitu RTH,rumah tinggal,perdagangan jasa,sarana peribadatan,sarana kesehatan dan pendidikan,kebun campuran dan persawahan,pada Kecamatan Rantepao terdapat RTH,rumah tunggal,perdagangan jasa,perkantoran,sarana pendidikan dan sarana peribadatan,kebun campuran dan persawahan,pada Kecamatan Kesu terdapat RTH,rumah tinggal,industri,perdagangan jasa,sarana kesehatan,dan peribadatan.Hasil analisis kesesuain lahan pada Kecamatan Tallunglipu pemanfaatan lahan tidak sesuai seluas 7,83Ha dan sesuai seluas 4,84Ha,Kecamatan Rantepao pemanfaatan lahan tidak sesuai seluas7,26Ha dan sesuai seluas 21,79Ha,Kecamatan Kesu pemanfaatan lahan tidak sesuai seluas 2,54Ha dan sesuai seluas 1,92Ha.Kata Kunci: Evaluasi, Pemanfaatan Lahan, Sempadan Sunga
DIRECTIONS FOR DEVELOPMENT OF TOURISM VILLAGES IN EAST LIKUPANG AS KSPN IN NORTH MINAHASA REGENCY ARAHAN PENGEMBANGAN DESA WISATA DI LIKUPANG TIMUR SEBAGAI KSPN DI KABUPATEN MINAHASA UTARA
East Likupang District, located in North Minahasa Regency, is a sub-district that is included in the National Tourism Strategic Area which has very potential tourism potential that can be developed including natural tourism and cultural tourism. So that it attracts many tourists, both domestic and foreign tourists, who come to visit tourist villages in East Likupang including the villages of Marinsow, Pulisan, and Kinunang. However, other tourism supports are not yet available in the tourist attractions of each East Likupang tourist village, as well as the role of the surrounding community. This study aims to identify tourism potentials in the Likupang Timur sub-district as a KSPN in North Minahasa Regency, as well as make strategic directions for its development. The method used in this research is qualitative descriptive analysis and SWOT analysis. The results of this study indicate that tourism objects in East Likupang have a great opportunity to be developed as one of the attractions in North Minahasa Regency. With the development of this tourist attraction, it can open up employmentnopportunities for the surrounding community and increase the Regional Original Income (PAD) of North Minahasa Regency.Keywords : Development Direction, National Tourism Strategic Area Kecamatan Likupang Timur yang terletak di Kabupaten Minahasa Utara merupakan kecamatan yang masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yang memiliki potensi wisata yang sangat potensial yang dapat kembangkan meliputi wisata alam maupun wisata budaya yang sangat menarik bagi para wisatawan baik domestik hingga wisatawan mancan negara untuk datang berwisata ke Likupang Timur mencakup desa Marinsow, Pulisan, dan Kinunang. Namun penunjang pariwisata lainnya belum tersedia di objek wisata masing-masing desa wisata Likupang Timur masih serta peran masyarakat sekitar. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi potensi–potensi wisata yang ada di kecamatan Likupang Timur sebagai KSPN di Kabupaten Minahasa Utara, serta membuat Arahan strategi pengembangannya. Metode yangndigunakan dalamnpenelitian ini adalah Analisis Deskriptif Kualitatif dan Analisis SWOT, serta hasil dari penelitian ini yaitu besarnya potensi wisata pada desa-desa yang ada di Kec. Likupang Timur yang bisa dikembangkan lebih lanjut sehingga membawa dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar dan pembangunan daerah di Kabupaten Minahasa UtaraKeywords : Arahan Pengembangan, Kawasan Strategis Pariwisata Nasiona
MODEL HARGA LAHAN MENURUT PREFERENSI MASYARAKAT DI KECAMATAN LANGOWAN TIMUR
Perubahan harga lahan terjadi pada wilayah yang mengalami percepatan perkembangan seperti di Kecamatan Langowan Timur. Letak wilayah ini sangat startegis karena menjadi daerah transit ekonomi dan lintas perhubungan jalur tengah Provinsi Sulawesi Utara yang menghubungkan sejumlah kabupaten dan kota disekitarnya. Harga lahan tidak hanya ditentukan sepihak oleh penjual tetapi juga ada faktor-faktor lain seperti preferensi masyarakat untuk memiliki tanah itu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor kemauan dan kemampuan dalam masyarakat memilih dan membeli lahan kemudian merumuskan model harga lahan menurut preferensi masyarakat di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dimulai dengan analisis spasial ArcGIS dan dilanjutkan dengan analisis korelasi pearson serta analisis regresi linear berganda menggunakan software SPSS. Berdasarkan hasil analisis regresi ditemukan faktor-faktor kemauan masyarakat dalam memilih lahan yaitu Y = -599.801 + 230.404 X1 + 12.774 X2 + 60.019 X3, dimana kemauan masyarakat dalam memilih lahan dipengaruhi positif oleh tiga variabel yaitu kelengkapan fasilitas, aksesibilitas positif dan aksesibilitas negatif. Faktor-faktor kemampuan masyarakat dalam membeli lahan berdasarkan hasil analisis regresi yaitu Y = 1.010.613 - 126.235 X4 + 30.603 X5 + 34.720 X6 – 87.868 X7, dimana kemampuan masyarakat dalam membeli lahan dipengaruhi negatif oleh pendapatan dan harga lahan minimal sementara faktor total biaya pengeluaran dan kebutuhan memiliki pengaruh positif. Selanjutnya diperoleh model harga lahan menurut preferensi masyarakat di Kecamatan Langowan Timur berdasarkan hasil analisis regresi yaitu Y = 661.636 + 303.732 X1 - 98.627 X2 + 21.128 X3 - 156.778 X4 - 24.198 X5 + 77.854 X6 - 163.579 X7 dimana harga lahan dipengaruhi oleh semua variabel yaitu X1. Kelengkapan Fasilitas;  X2. Aksesibilitas Positif; X3 Aksesibilitas Negatif; X4. Pendapatan; X5. Kebutuhan; X6. Total Biaya Pengeluaran; dan  X7. Harga Lahan Minimal.Kata Kunci: Preferensi Masyarakat; Harga Lahan; Langowan Timu