445 research outputs found

    LINKAGE KAWASAN PARIWISATA SEJARAH KABUPATEN MINAHASA UTARA

    Get PDF
    Kecamatan Airmadidi adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara yang memiliki berbagai objek wisata yakni wisata alam dan wisata buatan manusia yang berupa peninggalan sejarah sejak dahulu kala. Keberadaan objek–objek wisata sejarah tersebut sangat disayangkan belum dikelola dengan baik sehingga kurang diminati oleh pengunjung.Tersebarnya objek wisata sejarah yang ada di Kecamatan Airmadidi tersebut membentuk suatu kawasan yang dihubungkan oleh sebuah lingkage.Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan mengidentifikasi eksistensi dari objek – objek wisata sejarah di kecamatan airmadidi dan menganalisis keterhubungan objek – objek wisata sejarah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu analisis spasial Overlay ( tumpang susun ) data spasial dengan menggunakan software ( SIG ) Sistem Informasi Geografis. Dari hasil penelitian dapat diketahui ada empat objek wisata budaya dan sejarah yaitu Waruga Airmadidi, Tumatenden, Waruga Rap–rap dan Waruga Sawangan. Keterhubungan Objek Wisata Waruga Rap–rap dan Objek Wisata Waruga Airmadidi, Berdasarkan hasil identifikasi, linkage visual yang menghubungkan kedua tempat wisata tersebut adalah elemen garis berupa jalan dan elemen koridor berupa bangunan dan pohon. Elemen garis, menghubungkan secara langsung dua tempat dengan satu deretan massa, keterhubungan objek wisata sejarah waruga airmadidi waruga sawangan dan tumatenden. Berdasarkan dari hasil identifikasi, linkage visual yang menghubungkan ketiga objek wisata tersebut yaitu elemen linkage garis yang berupa jalan. Elemen garis yaitu yang menghubungkan secara langsung dua tempat dengan satu deretan massa. sepajang jalan. yang menghubungkan objek objek wisata dikecamatan airmadidi belum memudahkan untuk pejalan kaki karena belum adanya jalur pedestrian. Oleh karena itu, dilakukan konsep pengembangan fisisk seperti adanya jalur pedistrian, adanya tempat duduk, penataan pohon, dan adanya lampu penerangan atau lampu jalan. Kata Kunci : Linkage, Wisata, Bersejara

    ANALISIS KERENTANAN WILAYAH PESISIR PANTAI DI PERKOTAAN TERNATE

    Get PDF
    Pesisir merupakan wilayah yang memiliki multifungsi, seperti : pusat pemerintahan, pemukiman, industri, pelabuhan, pertambakan, pertanian dan pariwisata. Multifungsi wilayah pesisir tersebut mengakibatkan peningkatan kebutuhan lahan dan prasarana lainnya, sehingga akan timbul masalah-masalah baru di wilayah pesisir. Masalah-masalah tersebut seperti perubahan morfologi pantai seperti terjadinya abrasi dan akresi. Kawasan pesisir di Kota Ternate yang mengalami kerusakan pantai di sebabkan oleh gelombang dan abrasi  yakni terdapat di Kecamatan Ternate Selatan, Kecamatan Ternate Utara dan Kecamatan Pulau Ternate. Oleh karena itu, untuk mengembalikan fungsi strategis kota pantai guna menjamin keselamatan masyarakat pesisir diperlukan terlebih dahulu perlu adanya perencanaan  kawasan pesisir yang memperhatikan aspek pengelolaan kawasan pantai untuk meminimalisir dampak bencana. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi kawasan dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap gelombang pasang dan abrasi pada Wilayah Pesisir di Perkotaan Ternate dan menyusun rencana adaptasi di wilayah pesisir pantai Perkotaan Ternate. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara kuantitatif deskriptif yaitu menjelaskan hubungan antara variable dengan menganalisis data numeric (angka) menggunakan statistic dengan software ArcGis. Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk membandingkan kondisi eksisiting di lapangan yang dilihat dari kerentanan,keterpaparan dan adaptasi di wilayah pesisir di Kota Ternate. Kondisi eksisting yang ada di konversikan ke dalam nilai dan bobot yang ditentukan sehingga memudahkan untuk melalukan analisis numerik. Setelah itu, akan dibuatkan Peta untuk melihat kondisi wilayah pesisir. Hasil studi, diketahui kawasan dengan tingkat kerentanan tinggi pada Wilayah Pesisir di Perkotaan Ternate yakni kelurahan jambula,Gambesi,Sasa dan fitu. Berdasarkan analisis menyusun rencana adaptasi di wilayah pesisir pantai Perkotaan Ternate yakni adaptasi struktural dan non struktur. Kata Kunci : Kerentanan, Adaptasi, Pesisir Panta

    STRATEGI PENANGANAN BANJIR BERBASIS MITIGASI BENCANA PADA KAWASAN RAWAN BENCANA BANJIR DI KECAMATAN BOLANGITANG BARAT KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA

    Get PDF
    Kecamatan Bolangitang Barat adalah salah satu kecamatan yang sering menjadi langganan banjir setiap tahunnya. Sesuai dengan rencana pola ruang pada RTRW Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Tahun 2011 – 2031 kecamatan ini memiliki kawasan rawan bencana banjir yang dialiri oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Bolangitang dan membentang melewati Desa Paku hingga Desa Bolangitang Induk. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi kajian risiko bencana banjir di kawasan rawan bencana banjir di Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan merumuskan strategi penanganan banjir berbasis mitigasi bencana pada kawasan rawan banjir di Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif dengan pendekatan analisis overley/superimpose untuk menganalisa tingkat kerentanan, tingkat bahaya dan tingkat risiko dari bencana banjir. Berdasarkan analisa tersebut dihasilkan kajian bahwa seluruh kawasan rawan banjir di Kecamatan Bolangitang Barat berpotensi terdampak banjir dengan risiko tinggi berada di Desa Jambusarang, Ollot II dan Paku. Strategi penanganan banjir berbasis mitigasi bencana di kawasan rawan banjir Kecamatan Bolangitang Barat terbagi menjadi dua, yaitu : (1). Mitigasi struktural berupa penjelasan mengenai pembuatan bangunan pengendali banjir seperti pembuatan tanggul, pembuatan struktur jaringan drainase, dan pembuatan drop structure;  (2) Mitigasi non struktural berupa pelatihan dan simulasi mitigasi bencana, serta pengevaluasian kebijakan pengurangan risiko dampak bencana banjir pada kawasan rawan bencana banjir di Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Kata Kunci : Mitigasi Bencana, Banjir, Kawasan Rawan Banjir, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongndow Utar

    PENGARUH LAYANAN TERMINAL BOLU DI KECAMATAN TALLUNGLIPU TERHADAP PERTUMBUHANWILAYAH KABUPATEN TORAJA UTARA

    Get PDF
    Kabupaten Toraja Utara merupakan kabupaten pemekaran yang sedang berkembang baik dari tingkat perekonomian maupun jumlah penduduk. Kabupaten Toraja Utara memiliki potensi daerah di beberapa sektor antara lain, sektor pertanian, dan sektor pariwisata. Dalam pengelolaan sektor tersebut khususnya produksi dari setiap sektor, mobilitas (perpindahan) faktor produksi sangatlah penting. Pengangkutan hasil produksi ke daerah konsumsi (pasar) dan untuk mengekspor dari suatu wilayah ke wilayah lain diperlukan tersedianya fasilitas dan pelayanan transportasi didukung oleh prasarana transportasi yang memadai , diantaranya adalah angkutan umum dan terminal. Kabupaten Toraja Utara hanya terdapat satu terminal sebagai prasarana dalam mendukung sistem transportasinya.  Terminal di Kabupaten Toraja Utara terdiri atas terminal tipe C yaitu Terminal Bolu yang berada di Kecamatan Tallunglipu. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kinerja pelayanan Terminal Bolu di Kecamatan Tallunglipu dan mengetahui pengaruh layanan Terminal Bolu terhadap Pertumbuhan Wilayah Kabupaten Toraja Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode gabungan antara kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan Importance-Performance Analysis (IPA), Customer Satisfaction Indeks (CSI) dan analisis spasial. Berdasarkan hasil penelitian ini, 1menurut responden kinerja layanan Terminal Bolu cukup puas dan ketersediaan standar pelayanan terminal tipe C (Permenhub RI No. 40 Tahun 2015) di Terminal Bolu belum terpenuhi, 2 layanan Terminal Bolu berpengaruh terhadap Pertumbuhan Wilayah Kabupaten Toraja Utara, yaitu penggunaan lahan, biaya perjalanan, nilai lahan dan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Toraja Utara.   Kata Kunci          : Layanan, Terminal, Pertumbuhan Wilaya

    KETERSEDIAAN PRASARA SARANA DALAM MENDUKUNG KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN

    Get PDF
    Kawasan Minapolitan adalah suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan, pelayanan jasa dan kegiatan pendukung lainnya. Tujuan dari pengembangan kawasan Minapolitan adalah untuk mendorong percepatan pengembangan wilayah dengan kegiatan perikanan sebagai kegiatan utama dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dengan mendorong keterkaitan Desa dan Kota dan berkembangnya sistem dan usaha minabisnis yang berdaya saing berbasis kerakyatan, berkelanjutan (tidak merusak lingkungan) dan terdesentralisasi (wewenang berada di pemerintah daerah dan masyarakat) di kawasan Minapolitan. Kabupaten Minahasa Selatan merupakan wilayah pesisir, dengan memiliki garis pantai sepanjang kurang lebih 168,59 Km dari Kecamatan Sinonsayang sampai ke Kecamatan Tatapaan. Hal ini terlihat dalam kebijakan pemerintah pusat dalam pengembangan kawasan pesisir Indonesia yang memiliki potensi yang sangat besar, berdasar keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 35/KEPMEN-KP/2013 Tentang Penetapan Kawasan Minapolitan di seluruh wilayah Indonesia. Dimana keputusan tersebut Kabupaten Minahasa Selatan ditetapkan dua Kecamatan yaitu Kecamatan Tatapaan dan Kecamatan Tumpaan. Hasil produksi perikanan tangkap Kecamatan Tatapaan dan Tumpaan pada tahun 2015 sebesar 7.855,00 ton dan 7.892,00 ton. Kabupaten Minahasa Selatan yang dimana masyarakatnya sebagian besar petani dan juga nelayan yang masih jauh dari tingkat kesejakteraan sebagian nelayan yang miskin, maka daerah ini perlu adanya penangan khusus untuk  meningkatkan hasil perikanan yang ada agar dapat mendorong laju pertumbuhan ekonomi lokal di daerah tersebut. Namun kendala yang dialami dalam pengembangan kawasan Minapolitan dalam lingkup Kecamatan yaitu keterbatasan ketersediaan Prasarana Sarana dalam pengembangan kawasan Minapolitan Kabupaten Minahasa Selatan. Maka dari itu ketersediaan Prasara Sarana Kawasan Minapolitan sangatlah dibutuhkan. Kata Kunci : Prasarana Sarana Kawasan Minapolitan, Tingkat Ketersediaan

    EVALUASI PERKEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN DI KECAMATAN SANGKUB KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA

    Get PDF
    Sektor pertanian adalah sektor yang memiliki konstribusi terbesar dalam struktur ekonomi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, sejak tahun 2006. Untuk mendukung potensi yang telah dimiliki, maka melalui RTRW Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) tahun 2011-2031, pemerintah menetapkan Kawasan Agropolitan sebagai Kawasan Strategis Ekonomi di Kecamatan Sangkub dan Pinogaluman dimana Kecamatan Sangkub sebagai pusat pengembangan kawasan agropolitan. RTRW tersebut menyebutkan bahwa strategi pengembangan kawasan agropolitan yaitu meningkatkan kualitas dan produktifitas kawasan pertanian, meningkatkan mekanisasi pertanian, meningkatkan jaringan irigasi dan meningkatkan teknologi pertanian secara tepat guna. Untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kawasan agropolitan di Kecamatan Sangkub maka diperlukan evaluasi kawasan. Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik kawasan agropolitan di Kecamatan Sangkub dan mengevaluasi perkembangan kawasan agropolitan di Kecamatan Sangkub khusus pertanian padi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, deskriptif kuantitatif, analisis evaluatif dan analisis pertumbuhan penduduk alami dengan teknik pengumpulan data primer (observasi lapangan dan wawancara langsung) dan sekunder (studi literatur, mengunjungi instansi pemerintah/ organisasi terkait dan searching data/ informasi di media internet). Jika dilihat dari hasil penelitian karakteristik kawasan agropolitan di Kecamatan Sangkub memiliki kondisi letak geografis, topografi, iklim, dan hidrologi yang sesuai untuk pertanian. Memiliki prasarana dan sarana umum yang cukup memadai untuk menunjang kehidupan para petani. Memiliki ±12 (dua belas) jenis pertanian. Memiliki lahan yang memadai untuk pengembangan kawasan. Adapun hasil evaluasi perkembagan kawasan terhadap kawasan agropolitan di Kecamatan Sangkub menunjukan bahwa kawasan ini telah memasuki tahap pengembangan atau disebut juga sebagai kawasan yang cukup berkembang.Kata Kunci: Evaluasi, Perkembangan Kawasan, Agropolita

    PENGEMBANGAN POTENSI KAWASAN WISATA AIR PANAS DI LANGOWAN

    Get PDF
    Kota Langowan memiliki berbagai potensi alam yang dapat dikembangkan menjadi salah satu daerah destinasi wisata di Kabupaten Minahasa. Potensi sumber air panas yang mengandung mineral seperti belerang banyak ditemukan pada kawasan permukiman dan pertanian di kecamatan Langowan Utara. Sumber mata air panas yang ada di kecamatan Langowan Utara berasal dari pertemuan antara air tanah dengan magma yang berada di dapur magma di jalur vulkanik dari salah satu gunung berapi yang aktif di daerah Sulawesi Utara yaitu Gunung Soputan. Sumber-sumber air panas tersebut ada yang sudah dimanfaatkan menjadi tempat pemandian air panas dan ada juga yang belum dikembangkan menjadi tempat pemandian air panas. Infrastruktur dasar seperti jalan, drainase, air bersih dan persampahan sudah terlayani dengan baik sebaliknya untuk fasilitas penunjang obyek wisata belum tersedia sesuai dengan ketentuan yang ada. Potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi beberapa tempat pemandian air panas sehingga selanjutnya wilayah kecamatan Langowan Utara dapat menjadi kawasan wisata pemandian air panas yang ada di Langowan. Berdasarkan permasalahan diatas maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik kawasan wisata air panas yang ada di Langowan dan menentukan pengembangan kawasan wisata air panas dengan konsep 3A. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan cara observasi lapangan, wawancara dan studi pustaka. Hasil penelitian ini yaitu membuat zonasi untuk pengembangan atraksi wisata alami yang ada di kecamatan Langowan Utara, zonasi untuk atraksi alami dan buatan yang ada di Langowan,  zonasi untuk aksesibilitas antar obyek wisata penunjang yang ada di Langowan dan zonasi amenities (fasilitas) yang dapat dikembangkan dalam rangka menunjang tercapainya suatu kawasan wisata air panas di Langowan.Kata Kunci : Pengembangan, Pariwisata, Air Panas, Langowan

    TIPOLOGI KEPEMILIKAN RTH DI PERKOTAAN TOBELO

    Get PDF
    Ruang Terbuka Hijau (Green Openspaces) adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat  tertentu, dan atau sarana lingkungan/kota, dan atau pengamanan jaringan prasarana, dan atau budidaya  pertanian. Perkotaan Tobelo yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara. Kondisi RTH di Perkotaan Tobelo tidak tersebar merata pada beberapa desa. Kota merupakan kecamatan yang memiliki banyak penduduk karena terletak di kawasan pusat kota, dengan fungsi perkantoran, jasa, dan perdagangan dan kawasan pemukiman yang padat penduduk. Proporsi ruang terbuka hijau di Perkotaan Tobelo saan ini masih belum memenuhi standar kebijakan tata ruang 30% dari total luas wilayah atau UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Yang menjadi permasalahan pada penelitian ini adalah bagi sebagian masyarakat yaitu sulit membedakan antara RTH privat dan publik yang ada di perkotaan Tobelo Dikarenakan perkotaan Tobelo Memiliki RTH yang memiliki lahan-lahan kebun dengan status kepemilikan lahan RTH yang sulit dibedakan mana RTH privat dengan publik. Tujuan Penelitian ini untuk menghitung luas RTH perkotaan Tobelo berdasarkan tipologi kepemilikan dan aktivitas apa saja yang ada pada masing-masing RTH Publik RTH Privat. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu peneliti melakukan observasi lapangan, mengambil dokumentasi dan mengamati aktivitas di taman kota untuk mendeskripsikan keadaan wilayah studi, berdasarkan perhitungan luas RTH luas  serta berdasarkan Tipologi Kepemilikan di perkotaan  Tobelo.   Kata  Kunci  : RTH, Tipologi, Kepemilikan, Perkotaan Tobelo

    PILIHAN ADAPTASI DI KAWASAN BERESIKO BENCANA BANJIR (STUDI KASUS : PERMUKIMAN SEPANJANG SUNGAI SARIO)

    Get PDF
    Dampak perubahan iklim tergantung kerentanan dari sistem alam dan manusia. Kerentanan menggambarkan tingkat kemudahan terkena atau ketidakmampuan suatu sistem untuk menghadapi dampak buruk dari perubahan iklim. Kerentanan terdiri dari kerentanan fisik dan kerentanan non fisik. Keragaman iklim yang terjadi dengan frekuensi yang ekstrim dapat menyebabkan bencana seperti banjir. Kota Manado termasuk dalam daerah rawan banjir dikarenakan banyaknya sungai yang mengalir dalam Kota Manado, salah satunya Sungai Sario (6,72 Km). Permukiman di sekitar sungai Sario menjadi rentan disebabkan oleh kondisi fisik seperti pemanfaatan ruang dan kondisi infrastruktur serta kondisi non fisik seperti kondisi sosial ekonomi masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi wilayah penelitian sepanjang Sungai Sario yang terdampak bencana banjir, menganalisis tingkat kerentanan banjir dan menemukan pilihan adaptasi untuk mengurangi kerentanan. Lokasi penelitian adalah permukiman sepanjang Sungai Sario. Metode yang digunakan adalah metode tumpang tindih, perhitungan indeks kerentanan dan pengkajian alternatif adaptasi berdasarkan kondisi wilayah dan peraturan terkait. Hasil analisis menunjukan 5 (lima) Kelurahan di sekitar Sungai Sario yang terdampak dan menjadi rentan terhadap bencana banjir yakni Titiwungen Selatan Lingkungan I dengan tingkat kerentanan rendah dan Lingkungan II dengan tingkat kerentanan tinggi, Sario Utara Lingkungan III dengan tingkat kerentanan sedang, Pakowa Lingkungan I dengan tingkat kerentanan sangat tinggi, Ranotana Weru Lingkungan I dengan tingkat kerentanan sedang dan Tanjung Batu Lingkungan III dengan tingkat kerentanan rendah. Pilihan adaptasi disesuaikan dengan nilai variabel kerentanan dan kemampuan adaptasi yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan yang terbagi dalam pilihan adaptasi struktural dan non struktural

    ANALISIS URBAN COMPACTNESS KOTA MANADO

    Get PDF
    Manado sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Utara sebagaimana kota-kota pada umumnya dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat.Hal ini mendorong terjadinya pertumbuhan fisik kota sehingga direncanakan atau tidak fenomena urban sprawl akan terjadi dengan sendirinya.  Fenomena urban sprawl dapat membawa dampak negative bagi perkembangan suatu kota mulai dari sisi ekonomi, sosial dan lingkungan perkotaan.  Salah satu konsep perencanaan kota yang dapat diterapkan dalam mereduksi permasalahan urban sprawl ini adalah konsep compact city. Tujuan dari   penelitian ini adalah  menentukan factor - faktor yang mempengaruhi urban compactness kota Manado serta mengukur tingkat urban compactness serta karakteristik urbannya. Metode penelitian yang dipakai adalah metode kuantitatif dengan  unit analisis yaitu sepuluh kecamatan yang  ada di kota Manado .Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan tiga faktor utama yang dipakai untuk menentukan urban compactness di kota Manado yaitu kepadatan, fungsi campuran dan intensifikasi. Dari ketiga faktor itu, ditemukan dua faktor yang secara signifikan mempengaruhi terbentuknya kota kompak di Manado yaitu faktor kepadatan permukiman dan ketersediaan fasilitas kesehatan. Dari sepuluh kecamatan yang ada di Manado, hanya kecamatan Sario dan Wenang yang saat ini memiliki karakteristik urban compactness yang tinggi berdasarkan kedua factor yang signifikan tersebut.  Kata kunci :Urban Sprawl, Urban Compactnes

    438

    full texts

    445

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SPASIAL
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇