445 research outputs found

    KOMPARASI HARGA LAHAN BERDASARKAN FUNGSI KAWASAN DI KOTA MANADO

    Get PDF
    Kota Manado merupakan jantung Provinsi Sulawesi Utara, dimana nilai lahan yang menjanjikan di Kota Manado menjadikan kota tersebut berkembang. Salah satu faktor Kota Manado memiliki nilai lahan yang bervariasi yaitu tergantung pada penggunaan dan peruntukkan lahan atau fungsi kawasannya. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi harga lahan di Kota Manado serta mengkomparasikan harga lahan berdasarkan fungsi kawasan di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik komparatif yang meliputi 3 (tiga) analisis yaitu analisis uji t, analisis korelasi koefisien kontingensi dan analisis uji lanjut Tukey HSD. Dari hasil analisis uji t dapat dilihat antara pasangan dua nilai rata-rata harga lahan yang memiliki perbedaan adalah 80% dan yang tidak memiliki perbedaan adalah 20%. Dari hasil analisis korelasi didapati bahwa harga lahan memiliki hubungan yang kuat dengan fungsi kawasan. Analisis akhir yang dilakukan adalah analisis uji lanjut Tukey HSD menghasilkan nilai beda besar nilai rata-rata dan simpulan beda yaitu 77% signifikan dan 33% tidak signifikan. Keseluruhan analisis menyimpulkan bahwa harga lahan di Kota Manado memiliki variasi tergantung pada fungsi kawasannya. Dari beberapa kawasan yang diteliti, disimpulkan bahwa rata-rata harga lahan transaksional tertinggi adalah kawasan perdagangan umum, dan rata-rata harga lahan transaksional terendah adalah kawasan perkebunan. Kata Kunci: Harga Lahan, Fungsi Kawasan, Komparati

    ANALISIS PERUNTUKAN LAHAN PERMUKIMAN BERDASARKAN KESESUAIAN LAHAN DI KECAMATAN AIRMADIDI

    Get PDF
    Kecamatan Airmadidi merupakan wilayah yang secara teknis dapat dimanfaatkan untuk pengembangan permukiman yang aman dari bahaya bencana alam. Dalam Rencana Tata Ruang Kabupaten Minahasa Utara  tahun 2013-2033 lahan untuk perkembangan kawasan permukiman berskala besar di Kecamatan Airmadidi  belum di tetapkan peruntukannya berdasarkan kesesuaian lahan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengidentifikasi kesesuaian lahan permukiman di Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara. 2. Menganalisis peruntukan lahan permukiman baru di Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini menggunakan metode deksriptif dengan bantuan alat analisis GIS (Geography Information System) dengan menggunakan data variable yaitu data kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, penggunaan lahan, rawan longsor, dan rawan banjir yang kemudian dilakukan analisis lewat softwere GIS dengan analisis spasial/keruangan dan penilaian berdasarkan skoring. Hasil penelitian peruntukan lahan di Kecamatan Airmadidi diperole 3 klasifikasi  yaitu klasifikasi sesuai untuk permukiman,  klasifikasi sesuai bersyarat untuk permukiman, dan klasifikasi tidak sesuai untuk permukiman. Hasil analisis peruntukan lahan permukiman baru memiliki luas 1213.85 Ha atau 14,13% dari luas keseluruhan Kecamatan Airmadidi. Dari hasil analisis juga diperole peruntukan lahan untuk permukiman baru terbesar berada di desa Tanggari dengan luas 106.94 Ha. Kata Kunci : Peruntukan Lahan , Permukiman , Kesesuaian Lahan

    ANALISIS ELEMEN – ELEMEN PEMBENTUK CITRA KOTA DI KAWASAN PERKOTAAN TAHUNA, KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE

    Get PDF
    Pada era globalisasi suatu kota dalam perkembangan  perlu adanya suatu citra kota atau identitas kota untuk sebagai penambah daya tarik kota. Tahuna memiliki kawasan pusat niaga yang disebut “Trikoraâ€. Selain berada pada pusat kegiatan perdagangan dan jasa, kawasan ini juga memiliki sejarah penting bagi perkembangan di Kawasan Perkotaan Tahuna. Kondisi ini dapat terlihat sangat jelas dari kondisi arsiktekturnya yang masih terdapat banyak bangunan tua, seperti pertokoan, perkantoran, dan juga pasar tradisional yang belum banyak berubah yang nampak pada wajah kotanya. Citra kota menjadi sesuatu yang penting untuk memperkuat identitas dan wajah kota sehingga membuat kota tersebut menarik dan memiliki daya tarik. tujuan penelitian menemukan citra kota di kawasan perkotaan Tahuna melalui lima elemen pembentuk citra kota. dalam teori Kevin Lynch yaitu, Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen – elemen pembentuk citra kota di kawasan perkotaan Tahuna  dan menganalisis elemen – lemen pembentuk citra kota di kawasan perkotaa Tahuna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dimana landasan teori yang berkaitan dengan judul analisis elemen – elemen pembentuk citra kota di kawasan perkotaan Tahuna. metode statistik deskriptif dan data kuantitatif dipakai untuk membuat kesimpulan pada peta mental maupun kuesioner berdasarkan hasil presentase responden yang berjumlah 99 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kawasan perkotaan Tahuna, kabupaten Kepuauan Sangihe berdasarkan  tata ruang kota memiliki 29 elemen pembentuk citra kota oleh kevin lynch, diantaranya ada 7 kawasan (District ), 5 elemen batas (Eedges), 2 titik temu ( Nodes ) serta memiliki 16 jalur  ( Path ). Hasil dari menurut masyarakat Tahuna, kawasan perkotaan Tahuna memiliki 24 elemen fisik sebagai elemen pembentuk citra kota, diantaranya adalah 5 elemen kawasan   ( District ), 2 elemen jalur ( Path ), 1 elemen penanda kawasan ( Landmark ), 1 elemen titik temu ( Nodes ) serta 7 elemen batas ( Edges ).  Kata Kunci : Analisis, Elemen Kota, Kawasan  Perkotaan, Citra Kota

    ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN PINELENG

    Get PDF
    Besarnya perubahan lahan ke permukiman mengindikasikan perkembangan permukiman di wilayah Pinggiran Kota. Pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan menyebabkan banyak penduduk yang akan memanfaatkan lahan untuk permukiman yang tidak sesuai dengan karakteristik lahan permukiman. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu arahan pengembangan penggunaan lahan permukiman, dalam pengembangan lahan permukiman yang baru dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk Mengevaluasi kesesuaian lahan kawasan permukiman dan Menganalisis kesesuaian lahan untuk pengembangan permukiman di Kecamatan Pineleng. Metode analisis yang digunakan adalah dengan cara deskriptif dan superimpose (overlay) data-data fisik dasar yang berkaitan dengan kesesuaian lahan untuk permukiman, kemudian dioverlay lagi dengan kawasan lindung dan arahan rencana pola ruang kawasan budidaya sehingga dapat menetapkan arahan pengembangan penggunaan lahan permukiman berdasarkan karakteristik lahan yang sesuai untuk di kembangkan. Hasil studi, berdasarkan penjumlahan parameter kesesuaian lahan didapatkan tiga fungsi lahan yaitu lahan yang sesuai untuk permukiman, lahan sesuai bersyarat untuk permukiman dan tidak sesuai untuk permukiman. Berdasarkan (overlay) kesesuaian  lahan, kawasan lindung dan arahan rencana kawasan budidaya pengembangan penggunaan lahan permukiman di Kecamatan Pineleng dapat diarahkan pada bagian wilayah Warembungan, Pineleng Satu karena memiliki daya dukung lahan yang sesuai.Kata Kunci : Permukiman, Lahan, Kesesuaian Lahan, Pengembangan Laha

    ANALISIS KETERSEDIAN PRASARANA PERSAMPAHAN DI PULAU KUMO DAN PULAU KAKARA DI KABUPATEN HALMAHERA UTARA

    Get PDF
    Sampah merupakan masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat yang ada di Pulau Kumo dan Pulau Kakara. Sistem pengelolaan persampahan yang buruk bahkan tidak tersedianya sarana pengumpulan sampah sementara (TPS) sehingga budaya perilaku masyarakat yang ada di Pulau Kumo dan Pulau kakara dalam Penanganan sampah dengan cara membakar dan menimbun di dalam tanah sehingga dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan maupun secara langsung terhadap kesehatan masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk (1). Menganalisis kondisi Prasarana Persampahan yang ada di Pulau Kumo dan Pulau kakara, (2). Menganalisis ketersediaan Prasarana Persampahan di Pulau Kumo dan Pulau Kakara. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini yakni memadukan antara metode analisis kualitatif dan kuantitatif dengan memakai pedekatan secara deskriptif yaitu analisis objek penelitian. hasil observasi dilapangan tidak terdapat sarana pengumpulan sampah sementara (TPS) akibatnya penduduk setempat menggunakan cara membakar sampah dan membuang ke laut.Kata kunci : Prasarana Persampahan, Jenis Sampah, Sumber Sampa

    SEBARAN LAHAN KRITIS DAN DAMPAKNYA TERHADAP PUSAT KEGIATAN PERKOTAAN KECAMATAN MODOINDING

    Get PDF
    Wilayah Kecamatan Modoinding memiliki Pusat Kegiatan Perkotaan di Desa Pinasungkulan, Peristiwa bencana banjir pernah terjadi pada Pusat Kegiatan Perkotan pada awal tahun 2017. Kecamatan Modoinding sebagai Kawasan Strategis Agropolitan di Provinsi Sulawesi Utara, dengan komoditas unggulan Hortikultura. Kawasan ini berada di ketinggian lebih dari 1000 meter dpl. Dampak banjir yang terjadi pada Pusat Kegiatan Perkotaan menjadi perhatian karena keberadaan lahan kritis sehingga produktivitas tanah menurun, tidak dapat menyerap air dengan baik bahkan menimbulkan bencana. Untuk mengantisipasi bencana akibat keberadaan lahan kritis maka perlu di analisis persebaran lahan kritis di Kecamatan Modoinding. Adapun metode yang dipakai yaitu analisis keruangan dengan ARC GIS 10.3. Proses analisisnya dengan cara overlay (penampalan peta). Metode ini sangat baik dipergunakan untuk mengadakan kajian keruangan. Data Penutupan Tajuk, Kemiringan Lereng, Erosi, Manajemen Lahan digunakan untuk menganalisis sehingga dapat diketahui lokasi-lokasi yang memiliki kekritisan lahan. Klasifikasi kekritisan lahan berdasarkan jumlah skor parameter kekritisan lahan. Hasil akhir dari penelitian ini mengetahui persebaran lahan kritis di Kecamatan Modoinding yang tersebar di 10 Desa. Luas Kecamatan Modoinding yaitu ±4791,03 Ha dengan sebaran lahan kritis di 10 Desa dengan total luasan ±4789,83 Ha. Desa Mokobang ±931,95 Ha, Desa Wulurmaatus ±324,78 Ha, Desa Palelon ±406,12 Ha, Desa Makaaroyen ±536,49 Ha, Desa Pinasungkulan Utara ±168,87 Ha, Desa Pinasungkulan ±56,57 Ha, Desa Linelean ±603,02 Ha, Desa Kakenturan Barat ±369,44 Ha, Desa Kakenturan ±521,73 Ha, Desa Sinisir ±871,16 Ha. Penggunaan Lahan tertinggi pada Tegalan/Ladang  ±3117,05 Ha. Dampak yang terjadi pada Pusat Kegiatan perkotaan yaitu bencana banjir dengan luasan genangan air ±35,99 m2 atau ±3,56 Ha. Kata Kunci : Lahan Kritis, Kecamatan Modoinding, Dampak di Pusat Kegiatan Perkotaan

    PENGARUH URBAN COMPACTNESS TERHADAP TINGKAT KETERSEDIAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA BITUNG

    Get PDF
    Fenomena ekspansi lahan terbuka menjadi lahan terbangun ditandai dengan banyaknya anak-anak yang kehilangan ruang bermain sehingga memilih untuk menggunakan bahu jalan sebagai alternatifnya. Trend pembangunan kota yang lebih mengarah pada kegiatan komersial menjadi penyebabnya ruang terbuka hijau berkurang. Solusi dari fenomena ini adalah pembangunan yang kompak atau compact city. Konsep kota kompak mengatakan bahwa kenaikan kepadatan harus berjalan lurus dengan ketersediaan ruang terbuka hijau. Pusat pelayanan kegiatan Kota Bitung berada di tengah kota, menjadikan wilayah berkembang dan mempengaruhi wilayah lainnya sebagai subpusat pelayanan kota. Target dari konsep kota kompak itu sendiri adalah kesejahteraaan sosial yang berarti kualitas hidup penduduk semakin membaik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji urban compactness terhadap tingkat ketersediaan ruang terbuka hijau. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui factor urban compactness yang memiliki hubungan pada ketersediaan ruang terbuka hijau dan besar pengaruh yang ditimbulkan oleh urban compactness terhadap tingkat ketersediaan ruang terbuka hijau di Kota Bitung. Pada penelitian digunakan pendekatan deskriptif-kuantitatif untuk menggambarkan kondisi kekompakkan dan ruang terbuka hijau di Kota Bitung. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk melakukan perhitungan dengan analisis korelasi yang selanjutnya akan dilakukan analisis lanjutan dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian dapat memperlihatkan bahwa faktor urban compactness yang ada di Kota Bitung masih belum memenuhi standar kekompakkan di wilayahnya. Pengaruh urban compactness terhadap tingkat ketersediaan ruang terbuka hijau menunjukkan bahwa kepadatan penduduk memiliki dampak yang signifikan terhadap ketersediaan ruang terbuka hijau di Kota Bitung.Kata Kunci : Kota Kompak, Urban Compactness, Ruang Terbuka Hija

    ANALISIS TINGKAT KEKUMUHAN KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN KOTAMOBAGU TIMUR

    Get PDF
    Perkembangan wilayah kota yang dinamis membawa berbagai macam dampak bagi pola kehidupan masyarakat kota itu sendiri, antara lain peningkatan kebutuhan kawasan permukiman. Akibat tingkat urbanisasi yang tinggi menjadikan kawasan permukiman semakin padat hingga membentuk lingkungan permukiman kumuh. Kota Kotamobagu merupakan salah satu kota di Provinsi Sulawesi Utara yang juga memiliki permukiman kumuh. Salah satu kawasan permukiman kumuh terdapat di Kecamatan kotamobagu Timur. Kawasan permukiman di Kecamatan Kotamobagu Timur memiliki permasalahan-permasalahan yang harusnya tidak dimiliki oleh kawasan permukiman, antara lain adanya kepadatan bangunan, kondisi permukiman yang tidak teratur, kurangnya sarana pendukung atau fasilitasnya yang kurang memadai. Tujuan dalam penelitian ini adalah Menganalisis tingkat kekumuhan kawasan permukiman di Kecamatan Kotamobagu Timur. Penelitian ini berlokasi di Kelurahan Kotobangon Kecamatan Kotamobagu Timur. Metode yang digunakan adalah metode analisis skoring dan analisis deskriptif untuk menghasilkan penilaian tingkat kekumuhan kawasan permukiman di Kecamatan Kotamobagu Timur. Berdasarkan hasil analisis menunjukan dari 7 kriteria kondisi fisik didalamnya yaitu kondisi bangunan, kondisi jalan, kondisi drainase, kondisi air minum, kondisi air limbah, kondisi persampahan dan kondisi proteksi kebakaran pada lokasi penelitian dikategorikan menjadi kumuh ringan.Kata Kunci :Kawasan Kumuh, Permukiman, Kondisi Fisi

    PEMETAAN ZONA RESAPAN AIR TAHURA H. V. WORANG GUNUNG TUMPA SEBAGAI INPUT PERENCANAAN DESAIN TAPAK KAWASAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOSPASIAL

    Get PDF
    Tahura H. V. Worang Gunung Tumpa merupakan salah satu infrastruktur hijau yang harus dilestarikan fungsinya guna meredam suhu panas perkotaan (urban heat island) akibat berkurangnya fungsi vegetasi dan konservasi air. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zona resapan air, menganalisis tingkat kekritisan zona - zona resapan air dan menghasilkan rekomendasi sebagai input pada dokumen perencanaan desain tapak Tahura H. V. Worang Gunung Tumpa . Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan spasial (spatial approach). Analisis spasial menggunakan metode tumpangsusun (overlay) pada perangkat lunak sistem informasi geografis. Penelitian ini menghasilkan distribusi kelas kekritisan resapan air yang baik dan tersebar pada blok – blok pengelolaan. Blok perlindungan memiliki luasan kelas kekritisan resapan air baik sebesar 27,60 Ha, blok pemanfaatan dengan luasan 113,22 Ha, blok koleksi dengan luasan 6,76 Ha, blok rehabilitasi dengan luasan 47,22 Ha, blok religi, budaya dan sejarah dengan luasan sebesar 0.30 Ha dan blok tradisional dengan luasan 11,40 Ha.Kata Kunci: Resapan Air, Desain Tapak, Tahura H.V. Worang, Gunung Tump

    ANALISIS PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN RURUKAN DI TOMOHON

    Get PDF
    Kota Tomohon memiliki sumber daya alam yang kaya terutama pada sektor pertanian. Kawasan Agropolitan Rurukan merupakan salah satu kawasan agropolitan di Provinsi Sulawesi utara yang berada di Kecamatan Tomohon Timur. Berdasarkan Rencana Tata Ruang (RTRW) Kota Tomohon Tahun 2013-2033 dari segi penataan struktur ruang Kota Tomohon, Rurukan merupakan Sub Pusat Pelayanan Kota. Rurukan juga termasuk dalam pengembangan kawasan perdagangan dan jasa yang menunjang aktivitas agroindustri, serta pengembangan kawasan hortikultura untuk tanaman sayur-sayuran. Selain itu juga termasuk dalam kawasan strategis dari sudut kepentingan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi karakteristik kawasan dan menganalisis arah dan strategi pengembangan dari Kawasan Agropolitan Rurukan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan tenik analisis deskriptif, Location Quotient (LQ), dan Strength, Weakness, Oppurtunity, Theart (SWOT). Bila dilihat dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan karakteristik Kawasan Agropolitan Rurukan memiliki kondisi agroklimat yang cocok untuk pertanian, memiliki prasarana dan sarana umu, dan sosial yang memadai. Memiliki prasarana dan sarana penunjang agribisnis, memiliki sumberdaya manusia yaitu penduduk tani dan kelompok tani, dan memiliki 9 komoditas unggulan prioritas pertanian. Pengembangan komoditas unggulan untuk meningkatkan kualitas hasil produksi. Menyediakan prasarana dan sarana penunjang agribisnis hulu, usaha tani, dan hilir serta membenahi prasarana dan sarana yang sudah tersedia. Juga dengan membuat lembaga penelitian dan pengembangan yang dapat terus memantau proses produksi agar produk hasil pertanian bias menjangkau pasar domestik lebih luas lagi. Kawasan sentra produksi dipusatkan pada 3 kelurahan yakni kelurahan Rurukan, Rurukan 1, dan Kumelembuai. Sedangkan untuk penyediaan sarana produksi dan pasar terletak di kelurahan Paslaten dan Paslaten 1. Kata Kunci: Agropolitan, Pengembangan Wilaya

    438

    full texts

    445

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SPASIAL
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇