SPASIAL
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
Analisis Penggunaan Taman Aktif Berdasarkan Aktivitas di Kota Manado
Dinamika kehidupan komunal bergantung pada adanya ruang terbuka. Masyarakat bisa mendapatkan keuntungan dari adanya area publik ini dengan menggunakannya untuk memfasilitasi acara yang mendorong interaksi antar penduduk setempat. Sebagai salah satu fasilitas publik yang juga merupakan komponen ruang terbuka hijau, taman kota berfungsi sebagai representasi ruang terbuka kota yang esensial, Taman kota memberikan banyak manfaat (multifungsi) yang terkait dengan kegiatan hidrologi, ekologi, Kesehatan, estetika, sosial, dan rekreasi, selain sebagai area terbuka hijau. Taman kota memberikan banyak manfaat (multifungsi) yang terkait dengan kegiatan hidrologi, ekologi, kesehatan, estetika, sosial, dan rekreasi, selain sebagai area terbuka hijau. Taman kota sendiri diklasifikasikan lagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu terdiri dari taman aktif dan taman pasif. Taman aktif dan taman pasif adalah dua kategori di mana taman kota dibagi. Yang dimaksud dengan “taman aktif” adalah taman yang berfungsi sebagai lokasi kegiatan seperti olahraga, relaksasi, bermain, dan kegiatan sejenis lainnya serta dilengkapi dengan fitur pendukung taman. Taman pasif, di sisi lain, adalah taman yang hanya berfungsi sebagai fitur dekoratif.
Kata Kunci: Ruang Terbuka, Taman Kota, Taman Akti
ANALISIS DAMPAK PERUBAHAN FUNGSI LAHAN TERHADAP KONDISI EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN DI KECAMATAN KAWANGKOAN BARAT, KABUPATEN MINAHASA
Pertambahan jumlah penduduk yang diikuti dengan upaya manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mengakibatkan kurangnya daya dukung suatu wilayah. Situasi ini diperparah dengan didukungnya penggunaan lahan yang berlebih. Dikarenakan sumber daya lahan menjadi semakin penting seiring dengan peningkatan populasi dan aktivitas ekonomi yang pesat memberikan tekanan pada kebutuhan lahan untuk berbagai penggunaan, seperti perluasan lahan pertanian, perkebunan, hutan produktif, perumahan, pertambangan, serta pengembangan lahan komersial dan infrastruktur (jalan, sistem irigasi, dan fasilitas umum lainnya). Perubahan penggunaan lahan di sebagian besar wilayah, khususnya dari hutan menjadi lahan pertanian dan dari lahan pertanian menjadi pemukiman, telah menurunkan kualitas lingkungan dan menjadikan lahan penting bagi kehidupan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak perubahan penggunaan lahan terhadap kondisi perekonomian masyarakat dan menetapkan faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Kawangkoan Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis overlay GIS dan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis dampak perubahan penggunaan lahan terhadap keadaan perekonomian masyarakat pedesaan di Kecamatan Kawangkoan Barat. Di Kecamatan Kawangkoan Barat, antara tahun 2009 hingga 2019, terjadi pergeseran penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi lahan pemukiman dan lahan kering, beralihnya jenis pekerjaan dari petani menjadi tukang kayu dan meningkatkan tingkat pendapatan dari 500 dari 1 juta menjadi 2 hingga 3 juta. Semakin besar perubahan penggunaan lahan, semakin tinggi pula tingkat pendapatannya.
KataKunci: Penggunaan Lahan, Pertanian, Ekonomi
 
KAJIAN KAWASAN BERPOTENSI BANJIR DAN MITIGASI BENCANA BANJIR PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) SANGKUB DI KECAMATAN SANGKUB KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA
Banjir merupakan masalah yang sering kali terjadi saat ini di kecamatan sangkub, hal itu dikarenakan intensitas hujan yang tinggi ditambah terdapat Daerah Aliran Sungai (DAS) yang melewati wilayah kecamatan sangkub membuat banjir menjadi salah satu bencana yang menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat dan pemerintah. Sehingga Penelitian ini dilakukan untuk melihat Kajian Potensi Daerah Banjir dan Mitigasi Bencana Banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sangkub, Kecamatan Sangkub, Kabupaten Bolang Mongondo Utara. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif analitik atau penelitian terapan termasuk studi investigatif, yaitu studi yang bertujuan untuk mengetahui probabilitas banjir yang saat ini terjadi di Kecamatan Sangkub Kabupaten Bolang Mongondo Utara serta identifikasi bahaya banjir yang ada Upaya Kemudahan. Pada subbagian sangkub, penggunaan penelitian kualitatif adalah proses penelitian nonmatematis dimana data dihasilkan dari hasil survei berupa observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemungkinan terjadinya banjir di wilayah tersebut yang tinggi terdapat di desa mokusato, sang tombolang dan desa pangkusa. Dengan Mitigasi yang ada di kecamatan sangkub berfokus pada mitigasi structural, dimana dalam penanganan banjir yang ada, pemerintah telah berusaha mengurangi potensi banjir dengan adanya bendungan yang memiliki peran besar dalam mengurangi potensi banjir dan juga beberapa titik evakuasi bencana. Selain itu mitigasi structural lain yaitu berupa pembuatan tanggul dan penanaman tanaman tahunan dekat dengan DAS sangkub.
Kata Kunci: Banjir, Daerah Aliran Sungai, Kerawanan, Kecamatan Sangku
ANALISIS KEKRITISAN DAERAH RESAPAN AIR DI KOTA MANADO
Kota Manado ialah ibukota Provinsi Sulawesi Utara mempunyai laju pertumbuhan penduduk yang pesat sebagai akibatnya mengakibatkan meningkatnya kebutuhan masyarakat dan memicu perubahan penggunaan lahan dari yang belum terbangun menjadi terbangun. Hal ini mengakibatkan penurunan kualitas dan daya dukung lahan yg berdampak pada daerah resapan air menjadi tidak optimal. Lokasi pada analisis kekritisan daerah resapan air terletak di 10 Kecamatan bagian daratan Kota Manado. Tujuan penelitian ini merupakan untuk mengetahui kondisi eksisting penggunaan lahan di daerah resapan air Kota Manado, dan tingkat kekritisan wilayah resapan air pada Kota Manado. Analisis ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan spasial. Analisis spasial menggunakan metode skoring serta tumpangsusun (overlay) pada software sistem informasi geografis. Penelitian ini menghasilkan jenis penggunaan lahan eksisting pada wilayah resapan air berdasarkan RTRW serta non terbangun dan tingkat kekritisan resapan air dari RTRW yaitu bisa direkomendasikan buat dilepaskan statusnya sebagai daerah resapan air atau dapat direhabilitasi membentuk tiga kelas resapan yang sudah mengalami kekritisan sedangkan tingkat kekritisan resapan air dari lahan non terbangun yaitu bisa direkomendasikan untuk menggantikan kelas resapan yg telah kritis yang telah terdapat di RTRW menghasilkan dua kelas resapan yang masih optimal.
Kata Kunci: Penggunaan Lahan; Kekritisan Resapan Air; Kota Manad
ANALISIS PENGARUH BENCANA ABRASI TERHADAP AREA PESISIR PANTAI IYOK KECAMATAN NUANGAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR
Abrasi adalah suatu proses pengikisan atau penyusutan daratan (garis pantai) akibat aktivitas arus, gelombang dan pasang surut, pantai Iyok sudah mulai terjadi abrasi, terjadinya abrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang membuat permukiman di wilayah pesisir mulai terganggu dan masyarakatpun ada dalam keadaan terancam salah satunya dengan adanya penggalian pasir secara illegal yang terus terjadi sampai sekarang sehingga sampai sekarang masih ada ancaman terjadinya abrasi di pantai Iyok dari kasus ini perlu dilihat apa saja yang menjadi pengaruh dari bencana abrasi ini, apabila tidak ada upaya konkrit maka kerugian yang ditimbulkan dari bencana abrasi ini akan semakin meningkat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi kondisi terjadinya abrasi pantai Iyok di Kecamatan Nuangan Bolaang Mongondow Timur dan untuk menganalisis pengaruh bencana abrasi terhadap area pesisir pantai Iyok Kecamatan Nuangan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kuantitatif dengan analisis spasial menggunakan metode time series. Hasil dari penelitian ini menunjukan pengaruh yang cukup besar akibat bencana abrasi yang dipengaruhi oleh penggalian illegal masyarakat yang terus terjadi, kondisi iklim tetapi juga kurangnya hutan mangrove di daerah tersebut yang berpengaruh terhadap garis pantai, permukiman, kondisi jalan dan pekerjaan masyarakat
Kata Kunci: Pengaruh Abrasi, Abrasi Pantai, Garis Pantai
 
KESESUAIAN PEMANFAATAN LAHAN EKSISTING DENGAN RENCANA DETAIL TATA RUANG (RDTR) PULAU TERNATE
Perubahan dalam penggunaan lahan merupakan hal yang tak terhindarkan dalam proses pembangunan. Pertumbuhan penduduk yang cepat dan meningkatnya permintaan akan lahan sering kali mengakibatkan konflik kepentingan dalam penggunaan lahan, serta ketidaksesuaian antara penggunaan lahan dan rencana tata ruang. Kesesuaian lahan merujuk pada sejauh mana suatu area lahan cocok untuk tujuan tertentu. Permukiman mencakup lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik di perkotaan maupun pedesaan, berfungsi sebagai tempat tinggal dan kegiatan yang mendukung kehidupan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kesesuaian penggunaan lahan yang ada dengan rencana pola ruang RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) Pulau Ternate. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan metode spasial. Analisis penggunaan lahan dilakukan melalui tumpang tindih (overlay) antara data spasial, seperti peta, dengan data atribut. Hasil penelitian mengidentifikasi dua hal utama. Pertama, dari penggunaan lahan yang sudah ada, terlihat bahwa penggunaan lahan perkebunan mencakup area terbesar dengan luas 1753 ha atau 47.59%, sementara penggunaan lahan bakau merupakan yang terkecil dengan luas 3.45 ha atau 0.09%. Kedua, melalui analisis overlay, terdapat beberapa ketidaksesuaian antara kondisi penggunaan lahan yang ada dan rencana pola ruang RDTR Pulau Ternate untuk periode 2022-2042, yang meliputi total luas 601.37 ha. Ketidaksesuaian ini menggambarkan perbedaan antara kondisi penggunaan lahan yang ada dengan rencana penggunaan lahan yang telah dirancang dalam RDTR Pulau Ternate.
Kata Kunci : Penggunaan Lahan, Perubahan Penggunaan Lahan, Kesesuaian, RDT
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP POTENSI PENGEMBANGAN TAMAN HUTAN RAYA (TAHURA) GUNUNG TUMPA SEBAGAI PRODUK EKOWISATA DI KECAMATAN BUNAKEN
Taman Hutan Distrik H.V. Worang Gunung Tumpa menawarkan pemandangan alam yang indah dan keanekaragaman hayati yang besar karena memiliki nilai konservasi yang harus dijaga dan dilestarikan. Bermanfaat dalam penerapan model wisata berbasis alam sebagai alternatif wisata berkelanjutan dan bermanfaat bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal di sekitar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap TAHURA Gunung Tumpa H.V. potensi pengembangan. Sebagai produk ekowisata di Kecamatan Bunaken. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif dan teknik analisis kuantitatif skala Likert. Hasil kajian menunjukkan bahwa masyarakat sudah memahami apa itu Tahura dan Ekowisata, sehingga ada kesadaran untuk menjaga dan melindungi potensi keanekaragaman hayati yang ada. Masyarakat dilibatkan dalam administrasi. Namun pendapatan masyarakat belum berkembang dengan adanya objek wisata alam tersebut. Masyarakat berharap para tokoh dapat mengembangkan tempat wisata tersebut agar banyak dikunjungi wisatawan dan masyarakat dapat memperoleh penghasilan dengan berjualan di daerah tersebut. Perhatian khusus harus diberikan pada infrastruktur yang ada agar wisatawan dapat menikmati dan merasa nyaman berwisata di kawasan wisata alam Tahura Gunung Tumpa.
Kata Kunci : Persepsi Masyarakat; Ekowisata; Atraksi Wisat
PENGEMBANGAN KAWASAN PRIORITAS PARIWISATA DI KABUPATEN BANGGAI
ABSTRAK
Kabupaten Banggai merupakan salah satu dari Kabupaten di Sulawesi Tengah memiliki objek pariwisata yang potensial untuk dikembangkan. Pada penelitian ini diambil 4 objek wisata yang dijadikan objek penelitian, yaitu Pantai Kilo Lima, Pulau Dua, Teluk Lalong dan Air Terjun Salodik yang merupakan wisata unggulan di Kabupaten Banggai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan sarana dan prasarana wisata unggulan serta menganalisis usulan pengembangan prioritas pariwisata di Kabupaten Banggai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis AHP dengan menggunakan 5 variabel ukur; Daya Tarik Wisata, Aksesibilitas, Akomodasi, Ketersediaan Fasilitas Penunjang dan Ketersediaan Sarana Prasarana. Proses analisis metode AHP ada tiga tahap yaitu (1) tujuan analisis: menentukan prioritas pengembangan objek wisata, (2) kriteria: daya tarik wisata, aksesibilitas, akomodasi, ketersediaan fasilitas penunjang, ketersediaan sarana prasarana, (3) alternatif: Pantai Kilo Lima, Pulau Dua, Teluk Lalong, Air Terjun Salodik. Hasil penelitian dari analisis AHP menunjukan bahwa nilai keseluruhan masing-masing alternatif objek wisata di Pantai Kilo Lima sebesar (0,46), Pulau Dua sebesar (0,18), Teluk Lalong sebesar (0,14) dan Air Terjun Salodik sebesar (0,19). Maka objek wisata yang lebih diprioritaskan dalam pengembangan kawasan prioritas pariwisata Kabupaten Banggai yaitu Pantai Kilo Lima dengan bobot nilai (0,46).
Kata Kunci : Pengembangan, AHP, Kawasan Prioritas, Kabupaten Bangga
MODEL HARGA LAHAN MENURUT PREFERENSI MASYARAKAT DI KECAMATAN LANGOWAN TIMUR
Perubahan harga lahan terjadi pada wilayah yang mengalami percepatan perkembangan seperti di Kecamatan Langowan Timur. Letak wilayah ini sangat startegis karena menjadi daerah transit ekonomi dan lintas perhubungan jalur tengah Provinsi Sulawesi Utara yang menghubungkan sejumlah kabupaten dan kota disekitarnya. Harga lahan tidak hanya ditentukan sepihak oleh penjual tetapi juga ada faktor-faktor lain seperti preferensi masyarakat untuk memiliki tanah itu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor kemauan dan kemampuan dalam masyarakat memilih dan membeli lahan kemudian merumuskan model harga lahan menurut preferensi masyarakat di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dimulai dengan analisis spasial ArcGIS dan dilanjutkan dengan analisis korelasi pearson serta analisis regresi linear berganda menggunakan software SPSS. Berdasarkan hasil analisis regresi ditemukan faktor-faktor kemauan masyarakat dalam memilih lahan yaitu Y = -599.801 + 230.404 X1 + 12.774 X2 + 60.019 X3, dimana kemauan masyarakat dalam memilih lahan dipengaruhi positif oleh tiga variabel yaitu kelengkapan fasilitas, aksesibilitas positif dan aksesibilitas negatif. Faktor-faktor kemampuan masyarakat dalam membeli lahan berdasarkan hasil analisis regresi yaitu Y = 1.010.613 - 126.235 X4 + 30.603 X5 + 34.720 X6 – 87.868 X7, dimana kemampuan masyarakat dalam membeli lahan dipengaruhi negatif oleh pendapatan dan harga lahan minimal sementara faktor total biaya pengeluaran dan kebutuhan memiliki pengaruh positif. Selanjutnya diperoleh model harga lahan menurut preferensi masyarakat di Kecamatan Langowan Timur berdasarkan hasil analisis regresi yaitu Y = 661.636 + 303.732 X1 - 98.627 X2 + 21.128 X3 - 156.778 X4 - 24.198 X5 + 77.854 X6 - 163.579 X7 dimana harga lahan dipengaruhi oleh semua variabel yaitu X1. Kelengkapan Fasilitas; X2. Aksesibilitas Positif; X3 Aksesibilitas Negatif; X4. Pendapatan; X5. Kebutuhan; X6. Total Biaya Pengeluaran; dan X7. Harga Lahan Minimal.
Kata Kunci: Preferensi Masyarakat; Harga Lahan; Langowan Timu
ANALISIS RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR KOTA MANADO BERBASIS MITIGASI BENCANA
Kota Manado terletak di wilayah pesisir pantai sehingga rentan akan fenomena alam dengan ciri geografisnya masing-masing. Pesisir Kota Manado juga rentan terhadap bencana, seperti kenaikan muka air laut yang terjadi di beberapa tahun terakhir dan juga kemungkinan dapat terjadi lagi bencana tsunami. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis karakteristik wilayah pesisir kota manado dan untuk mengetahui konsep rencana zonasi berbasis mitigasi bencana Tsunami dan kenaikan muka air laut di wilayah pesisir Kota Manado. Penelitian ini diolah melalui Analisis Spasial GIS untuk mengetahui karakteristik Kawasan pesisir, resiko bencana dan rencana zonasi berbasis mitigasi bencana. Dari analisis tersebut diusulkan 4 zona berbasis mitigasi bencana di wilayah pesisir Kota Manado, yaitu Zona Preservasi, Zona Konservasi, Zona Penyangga dan Zona Pemanfaatan.
Kata Kunci: Karakteristik Wilayah Pesisir, Resiko Bencana, Mitigasi Bencana, Konsep Zonasi Berbasis Mitigasi Bencan