Berkala Ilmiah Pertanian
Not a member yet
154 research outputs found
Sort by
Respon Pertumbuhan Dan Hasil Jagung Lokal (Zea Mays L.) Varietas Talango Terhadap Pemberian Selenium (Se): Response Of The Growth And Production Of Local Maize (Zea Mays L.) Talango Varieties To Selenium (Se)
Local maize plants have prospects to be developed in line with the increasing demand and level of community consumption. One of the local varieties of maize, the Talango variety, has the advantages of early maturity of 75 days, long shelf life, high yield of maize and cheap seed prices. The nutritional content of the Talango variety is higher than that of hybrid maize, such as 11.24% protein, 4.96% fat and 75.6% carbohydrates. This study were to determine the best dose of selenium to growth and yield of local maize (Zea mays L.) Talango varieties. This study used Randomized Block Design (RBD) one factor consisting A0 = 0 µm, A1 = 5 µm, A2 = 10 µm, A3 = 15 µm, A4 = 20 µm, A5 = 25 µm, A6 = 30 µm, A7 = 35 µm, A8 = 40 µm, A9 = 45 µm. Each treatment will be repeated 4 times so that there are total 40 experimental units. The research variebles included plant height, root wet weight, shoot wet weight, total wet weight, flowering age, seed weight and 100 seed weight. The data obtained will be analyzed using analysis of variance (ANOVA). The result will be analyzed using Duncan Multiple Range Test (DMRT) level of α 5% to compare the effect between treatments on plant yield. The treatment of selenium (Se) doses at different levels had a positive effect on increasing the observed variables of root fresh weight, shoot fresh weight, total fresh weight, flowering age, seed weight per plant and 100 seed plant weights. The results showed that the Se treatment with doses of 20 μM to 25 μM and 35 μM to 40 μM produced the best seed weight per plant in the range of 59.25 g – 79.84 g which was significantly different from the control and other treatment doses.
Keywords: Local maize, Talango varieties, Seleniu
Perbedaan Karakteristik Sebaran Spasial Hujan di Kabupaten Jember Menggunakan Metode Inverse Distance Weighted (IDW) dan Poligon Thiessen
Rain is one of the elements that make up the climate. Rainfall in an area can be influenced by many factors. The rainfall data at a point in the rain station only represents the area at that point. Interpolation is done to present the rainfall data so that it can be easily understood. This study was conducted to determine the characteristics of the spatial distribution of rain in Jember Regency using the Thiessen Polygon and Inverse Distance Weigthed (IDW) methods and to determine the best method between the two. The data used in this study are the annual average rainfall data that has been obtained Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan Jember, Dinas PUPR Sumber Daya Air, and PTPN XII. Data processing is carried out using the ArcGIS program, and then a rainfall distribution map is made. The RMSE (Root Mean Square Error) calculation was carried out using the IDW method using 5 power levels, namely 0.5, 1, 2, 3, and 4. The results of calculations using the Thiessen polygon method produce a characteristic distribution of rainfall in which the rainfall decreases with the area moving south towards the coast. The Inverse Distance Weighted (IDW) method shows diversity with the lowest value being 94.71 mm and the highest being 406.92 mm per year. The power value 4 shows the RMSE calculation result of 0.00026 which is the lowest value
Pengaruh Pemberian Abu Sekam Padi dan Pemangkasan Tunas Lateral Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terung Ungu (Solanum malongena L)
Tanaman terung sangat sensitif terhadap cekaman kekeringan selama periode pertumbuhan dan perkembangannya. Pemberian abu sekam padi dapat membantu tanaman untuk mengurangi cekaman abiotik, seperti suhu, radiasi, air dan kekeringan. Pemangkasan tunas lateral juga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dan mengurangi penggunaan hasil fotosintat agar tidak terbuang sia-sia untuk pertumbuhan tunas yang bersifat parasit. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui interaksi antara pemberian abu sekam padi dan pemangkasan tunas lateral, mengetahui dosis abu sekam padi yang tepat, dan mengetahui persentase pemangkasan tunas lateral beserta daun yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman terung pada kondisi cekaman kekeringan. Penelitian ini dilakukan di Desa Taal Kecamatan Tapen Kabupaten Bondowoso pada bulan Februari hingga April tahun 2021. Penelitian ini menggunakan RAL faktorial dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu: dosis abu sekam padi (S) yang terdiri dari 4 taraf yaitu: S0: 0 gram/tanaman, S1: 33,6 g/tanaman S2: 44,8 g/tanaman dan S3: 56 g/tanaman. Faktor kedua yaitu pemangkasan yang terdiri dari 3 taraf yaitu: Tanpa pemangkasan, pemangkasan 50% dan pemangkasan 100%. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu kombinasi perlakuan abu sekam padi dan pemangkasan memiliki interaksi tidak berbeda nyata pada semua variabel pengamatan, pemberian abu sekam padi pada dosis S3 (56 gram/tanaman) merupakan dosis terbaik, persentase pemangkasan tunas lateral pada pemangkasan 50% (P1) merupakan tingkat pemangkasan terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman terung pada kondisi cekaman kekeringan karena pada setiap variabel pengamatan memiliki nilai tertinggi. Faktor tunggal pemberian abu sekam padi bermanfaat dalam menekan pertumbuhan akar tanaman dan dapat memadatkan tanah. Penggunaan silika pada tanaman juga dapat meningkatkan masa simpan buah sehingga lebih tahan dalam pengangkutan apabila silika disimpan pada epidermis buah. Pengaruh dari faktor tunggal kedua pemangkasan tunas lateral yaitu dapat membantu tanaman dalam mengurangi penguapan serta mengurangi aliran fotosintat pada cabang-cabang yang tidak produktif.
Kata kunci: Terung, Silika, Pemangkasan
 
Effects of Salicylic Acid to Control Bacterial Leaf Blight Disease (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) on Three Varieties of Rice
ABSTRACTBacterial leaf blight is a disease in rice plants caused by Xanthomonas oryzae pv. oryzae. The use of resistant varieties is an effective, economic and easy way to do it, but it is limited by time and place so that it needs to be induced by the addition of salicylic acid. Salicylic acid is one of the compounds that can activate enzymes that play a role in plant resistance to pathogen infection. The purpose of this study was to determine the effect of the addition of salicylic acid to rice varieties to induce its resistance to bacterial leaf blight. The research was arranged in a factorial completely randomized design (CRD) consisting of 2 factors. The first factor used was mekongga rice varieties (V1); Ciherang (V2); and IPB 3S (V3), while the second factor is the concentration of salicylic acid consisting of 0 mM (K0); 7.5 mM (K1); 10 mM (K2); and 12.5 mM (K3) with each treatment repeated 3 times, and in each study unit there were 5 plants. Results showed that the addition of salicylic acid and the use of three varieties of rice can suppress the severity of the disease HDB, its resistance status increases when compared to control and increases the content of the phenol. The best treatment of 10 mM salicylic acid concentrations with Mekongga varieties (K2V2) can suppress the severity of the HDB disease by 18.47% by showing a moderately susceptible endurance status as well as the content of the phenol increased.Keywords : Salicylic Acid, Varieties of Rice, Xanthomonas oryzae pv. oryza
PENGARUH INDUKSI MUTASI DENGAN MUTAGEN EMS (ETHYL METHANE SULFONATE) TERHADAP HASIL DAN KUALITAS KEDELAI HITAM (Glycine soja (L) Merrit)
Tanaman kedelai merupakan salah satu jenis tanaman yang menjadi sektor perekonomian Indonesia di bidang pertanian. Permintaan kedelai di Indonesia terus meningkat tiap tahunnya bersamaan dengan peningkatan jumlah penduduk. Banyaknya permintaan akan tanaman kedelai belum dapat terpenuhi akibat rendahnya produktivitas tanaman kedelai tersebut. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi mutagen EMS terhadap kualitas hasil produksi pada tanaman kedelai hitam. Manfaat dari penelitian ini adalah memperoleh informasi mengenai pengaruh konsentrasi mutagen EMS terhadap kualitas dan hasil produksi pada tanaman kedelai hitam. Penelitian ini menggunakan perlakuan yaitu konsentrasi EMS dengan lama perendaman benih selama 3 jam. Faktor konsentrasi EMS (P) dengan 4 taraf perlakuan: P0 : EMS dengan konsentrasi 0,00% (kontrol),P1 : EMS dengan konsentrasi 0,03%, P2 : EMS dengan konsentrasi 0,05%, P3 : EMS dengan konsentrasi 0,07%. Terdapat 4 perlakuan yang masing-masing perlakuan di ulang sebanyak 25 kali sehingga total satuan percobaan sebanyak 100 satuan percobaan dengan tiap polibag terdapat 1 tanaman. Hasil Penelitian selanjutnya dilakukan analisis data. Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif kunatitatif. Data yang disajikan berupa data kuantitatif dan dideskripsikan menggunakan kata-kata.
Kata kunci: Tanaman Kedelai Hitam, Mutasi Tanaman, Ethyil Methane Sulfonate
Pengendalian Penyakit Layu Fusarium oxysporum f.sp cepae pada tanaman bawang merah dengan air rebusan serai dapur (cymbopogon citratus)
Tanaman bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan tanaman hortikultura yang menghasilkan umbi yang menjadi bahan utama dasar makanan. Permasalahan dalam budidaya bawang merah apabila lingkungan iklim yang kurang mendukung dan gangguan penyakit seperti penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. Cepae dapat menurunkan hasil produksi. Gelaja penyakit ditandai dengan daun terlihat pucat, kekuningan, daun tumbuh tidak tegak, meliuk, umbi busuk dan tanaman bawang merah mudah dicabut. Penyakit ini memiliki intensitas serangan sangat tinggi mencapai 80% yang menyebabkan kematian hingga gagal panen. Pengendalian yang dilakukan yaitu dengan air rebusan dari tanaman serai dapur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi yang efektif air rebusan serai dapur dalam mengendalikan penyakit layu Fusarium pada tanaman bawang merah secara in-vivo. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan berupa konsentrasi 0%, 3%, 5%, 7%, 10% uji yang dilakukan secara in-vivo. Air rebusan serai dapur yang diperoleh bentuk cair, berwarna coklat pekat dengan bau khas seperti lemon. Senyawa yang dimiliki yaitu flavonoid, tanin, alkaloid, terpenoid dan minyak atsiri. Dari hasil uji in-vivo menunjukkan bahwa semua perlakuan konsentrasi yang berbeda-beda tidak mampu memperlambat masa inkubasi yaitu paling cepat 12 hsi dan paling lama 16 hsi. Pada tingkat keparahan penyakit layu fusarium oxysporum f.sp cepae pada tanaman bawang merah dengan konsentrasi yang berbeda tidak memberikan pengaruh secara efektif
Pengujian Konsentrasi Biofungisida Cair Berbahan Aktif Trichoderma sp. Dalam Pengendalian Penyakit Antraknosa (Colletotrichum sp.) Pada Cabai Di Lapang: Testing the Concentration of Liquid Biofungicides with Active Ingredients Trichoderma sp. in the control of anthracnose (Colletotrichum sp.) chilies in the field
Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura yang diprioritaskan di Indonesia. Kendala yang sering terjadi di masyarakat yaitu terserangnya hama atau penyakit pada cabai sehingga menurunkan produktifitas tanaman cabai. Salah satu penyakit yang menyerang tanaman cabai adalah antraknosa. Penyakit ini sendiri dapat menurunkan produksi cabai sebesar 60%. Penanggulangan yang sering dilakukan para petani pada penyakit ini yaitu dengan menggunakan bahan kimia. Akan tetapi penggunaan bahan kimia yang berlebilan mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan dan berbahaya untuk dikonsumsi. Upaya untuk meminimalisir penggunaan bahan kimia yakni dengan penggunaan agen hayati. Salah satu agen hayati yang umum digunakan adalah Trichoderma sp. tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektifitas dari beberapa konsentrasi Trichoderma sp dan mengetahui pengaruh pemberian Trichoderma sp dalam menekan penyakit antraknosa pada cabai dilapang. Rancangan percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diuji meliputi aplikasi kontrol ( tanpa cara pengendalian), konsentrasi Trichoderma sp 40ml/liter, konsentrasi Trichoderma sp 60ml/liter, konsentrasi Trichoderma sp 80ml/liter. Parameter yang diamati: 1. Keparahan penyakit 2. Kejadian penyakit 3. Efektifitas formulasi. Pemberian formulasi dengan konsentrasi 80ml/perlakuan memiliki tingakat keparahan penyakit terendah 1.12% dengan efektifitas 42,26
PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH PADAT IKAN LELE TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI PAGODA (Brassica narinosa)
ABSTRACT
Mustard pagoda (Brassica narinosa) is a vegetable that has many benefits and high economic value. Mustard Pagoda has the advantage of high nutritional content, larger mustard size and thick leaves. Consumption of mustard greens per capita from 2012-2016 continues to increase but mustard production has decreased. Production reduction in mustard pagoda plants can be optimized by providing additional nutrient requirements derived from organic matter. Overcoming this problem then cabbage mustard cultivation is carried out by adding organic material from catfish solid waste. Catfish solid waste contains high N, P, and K compared to manure. This solid waste has not been used for crop cultivation especially cabbage mustard. This study aims to determine the effect of giving catfish solid waste to the growth of mustard pagoda plants. This research method uses a Completely Random Plan (RAL) with 1 factor, catfish solid waste with 4 treatments that are repeated 6 times. The treatment used is the composition of catfish solid waste which includes A0 = control (without catfish solid waste); A1 = 90 g / polybag; A2 = 180 g / polybag; and A3 = 270 g / polybag. The results showed that the best dosage of 270 g / plant catfish solid waste that affected of canopy wet weight, canopy dry weight, and root dry weight.
Keywords: mustard pagoda, catfish solid waste, organic materials
ABSTRAK
Sawi pagoda (Brassica narinosa) merupakan tanaman sayuran yang mempunyai banyak manfaat dan nilai ekonomis yang tinggi. Sawi pagoda mempunyai keunggulan yaitu kandungan gizi yang tinggi, ukuran sawi yang lebih besar dan memiliki daun yang tebal. Konsumsi sawi per kapita dari tahun 2012-2016 terus mengalami peningkatan namun produksi sawi mengalami penurunan. Penurunan produksi pada tanaman sawi pagoda dapat dioptimalkan dengan memberikan penambahan kebutuhan unsur hara yang berasal dari bahan organik. Mengatasi permasalahan ini maka dilakukan budidaya sawi pagoda dengan penambahan bahan organik dari limbah padat ikan lele. Limbah padat ikan lele mengandung N, P, dan K yang tinggi dibanding pupuk kandang. Limbah padat ini belum digunakan untuk budidaya tanaman terutama sawi pagoda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah padat ikan lele terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman sawi pagoda. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 faktor yaitu limbah padat ikan lele dengan 4 perlakuan yang diulang sebanyak 6 kali. Perlakuan yang digunakan yaitu komposisi limbah padat ikan lele yang meliputi A0 = kontrol (tanpa limbah padat ikan lele); A1 = 90 g/polybag; A2 = 180 g/ polybag; dan A3 = 270 g/ polybag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian limbah padat ikan lele dosis terbaik dosis 270 g/tanaman yang berpengaruh terhadap berat segar tajuk, berat kering tajuk, dan berat kering akar.
Kata kunci : sawi pagoda, limbah padat ikan lele, bahan organi
RESPON KERAGAAN DAN PRODUKTIVITAS TANAMAN CABAI BESAR (Capsicum annuum L.) TERHADAP KONSENTRASI LARUTAN SODIUM AZIDA
ABSTRAK
Cabai besar merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi di Indonesia. Harga cabai besar, sering kali mengalami kenaikan terutama pada saat hari hari besar. Salah satu yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas cabai besar yaitu dengan menghasilkan kultivar baru yang unggul. Hal yang dapat dilakukan untuk menghasilkan kultivar baru yaitu dapat menggunakan perlakuan mutasi. Perlakuan mutasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mutasi kimia dengan menggunakan larutan Sodium Azida (NaN3). Perlakuan mutasi Sodium Azida (NaN3) yang digunakan yaitu dengan konsentrasi 0,75mM dan konsentrasi 1,5mM. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan tanaman cabai besar (Capsicum annuum L) yang mampu berproduksi lebih tinggi dan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi Sodium Azida terhadap keragaan dan produktivitas tanaman cabai besar (Capsicum annuum L). Manfaat dari penelitian ini yaitu untuk memberikan pengetahuan tambahan dibidang pertanian khususnya mengenai tanaman cabai besar yang diberi Sodium Azide, serta menjadi tambahan literatur bagi penelitian selanjutnya. Penelitian dilaksanakan di greenhouse Desa Lojajar Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso. Bahan yang digunakan meliputi benih cabai varietas Astina, larutan sodium azide (SA). Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 15 kali ulangan hingga terdapat 45 kombinasi perlakuan diantaranya kontrol, perlakuan sodium azide 0,75mM, dan perlakuan sodium azide 1,5mM lalu uji lanjut dengan menggunakan BNJ dengan taraf 5%. Hasil analisis ragam dapat diketahui bahwa sodium azide dengan perlakuan 0mM, 0,75mM, 1,5mM menunjukan bahwa perlakuan sodium azide 1,5mM dapat memberikan hasil terbaik dibandingan dengan perlakuan P0 (kontrol) dan perlakuan P1(Sodium azide 0,75mM) serta memberikan pengaruh positif terhadap jumlah cabang aktif yaitu sebesar 19 cabang, jumlah bunga sebesar 25 bunga, jumlah buah sebesar 20 buah dan berat buah sebesar 155,73 gram per tanaman. Namun perlakuan P0 (kontrol), P1(0,75mM), P2 (1,5mM) tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan klorofil.
Kata Kunci : Cabai Besar, Mutasi Gen, Sodium Azide(ZA
PENGARUH PENAMBAHAN KOTORAN KAMBING DAN EM4 TERHADAP KUALITAS PUPUK KOMPOS LIMBAH JERAMI PADI DAN PEMANFAATANNYA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN BAYAM (Amaranthus sp.)
Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang keberadaannya cenderung meningkat setiap tahunnya. Pembuatan kompos berbahan jerami padi merupakan salah satu upaya untuk memanfaatkan kelimpahan jerami padi. Salah satu penentu keberhasilan pengomposan adalah komposisi, dimana komposisi yang dapat ditambahkan adalah kotoran kambing, serta EM4 yang dapat dijadikan aktivator dalam pengomposan. Tanaman bayam merupakan tanaman sayur yang permintaannya terus meningkat namun produksinya menurun pada tahun 2020. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan kotoran kambing dan EM4 pada pengomposan terhadap kualitas kompos limbah jerami padi dan pertumbuhan tanaman bayam. Penelitian ini menggunakan RAL Faktorial yang terdiri dari 2 faktor, 3 taraf, dan 4 ulangan. Faktor penambahan kotoran kambing dengan taraf 0%, 20%, dan 40% dari berat jerami padi. Faktor konsentrasi EM4 terdiri dari taraf 0%, 0,1%, dan 0,2%. Variabel pengamatan yaitu nilai pH, kadar N-total, kadar P-total, kadar K-total, C-organik, C/N rasio, tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar tanaman, dan panjang akar tanaman. Hasil penelitian menunjukkan interaksi penambahan kotoran kambing dan EM4 berpengaruh nyata terhadap seluruh variabel kecuali tinggi tanaman. Interaksi penambahan kotoran kambing 40% dan konsentrasi EM4 0,1% mampu meningkatkan kadar N-total sampai 2,75%, P-total sampai 3,19%, dan K-total sampai 1,96%. Interaksi penambahan kotoran kambing 40% dan konsentrasi EM4 0,2% mampu menurunkan kadar C-organik sampai 17,32% dan nilai C/N rasio sampai 7,41. Interaksi penambahan kotoran kambing 20% dan konsentrasi EM4 0,1% mampu meningkatkan jumlah daun 21,25 helai dan berat segar sampai 22,98 gram. Interaksi penambahan kotoran kambing 20% dan konsentrasi EM4 0% mampu meningkatkan panjang akar sampai 19,10 cm