Berkala Ilmiah Pertanian
Not a member yet
    154 research outputs found

    Modifikasi dan Uji Kinerja Mesin Pemasak Semi Otomatis Gula Semut

    No full text
    Proses pemasakan dan kristalisasi gula semut, selama ini masih dilakukan dengan metode konvensional. Metode tersebut memiliki kelemahan karena gula yang dihasilkan mengandung kadar air yang tinggi dan memerlukan waktu untuk proses pembuatan yang lama. Tujuan dari penelitian ini adalah memodifikasi dan menganalisis mesin semi otomatis gula semut untuk menghasilkan gula semut dengan kadar air yang lebih rendah. Alat yang digunakan adalah Mesin Pemasak Semi Otomatis Gula Semut. Perlakuan pada penelitian ini terdiri dari frekuensi dan kecepatan pengaduk. Perlakuan kontrol mesin meliputi kecepatan pengaduk dengan penambahan inverter, alat pengaduk, blower (pengganti kipas), dan alat penggerus dengan perlakuan pengaturan 3 (tiga) frekuensi yaitu 20 Hz, 30 Hz, dan 40 Hz dan kecepatan putaran alat pengaduk yaitu 12 rpm, 18 rpm dan 24 rpm. Kedua perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 (tiga) kali. Pengujian mesin menggunakan bahan baku nira kelapa sebanyak 20 l. Peubah dilakukan dengan memperhitungkan penurunan kadar air, kecepatan pengaduk, torsi, kecepatan bahan bakar (LPG), dan biaya listrik. Modifikasi mesin pemasak semi otomatis dengan perubahan kipas menjadi blower dan penambahan inverter menghasilkan durasi pemasakan yang lebih cepat dibanding mesin pemasak sebelum modifikasi. Waktu yang digunakan mesin pemasak setelah modifikasi adalah 119,7 menit pada proses evaporasi dan 12 menit pada proses kristalisasi, sedangkan sebelum modifikasi, waktu yang digunakan untuk proses evaporasi adalah 150 menit dan 40 menit pada proses kristalisasi. Kadar air yang dihasilkan setelah modifikasi berkisar  2,17 – 2,81 % sedangkan sebelum modifikasi 2,96 – 4,56 %. Selain itu, ukuran partikel gula semut yang dihasilkan jauh lebih seragam dimandingkan dengan mesin pemasak sebelum modifikasi (berbentuk bongkahan)

    Pengaruh Hasil Metabolit Sekunder PSB (Photosyintethic Bacteria) terhadap Pertumbuhan Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.)

    No full text
    Bakteri Fotosintetik (PSB) menghasilkan beberapa metabolit diantaranya Asam Amino, zat bioaktif,Oksigen, Karbon Dioksida. Zat bioaktif dalam PSB merupakan hasil metabolit sekunder dari bakterifotosintesis salah satunya fitohormon. Peran fitohormon seperti Auksin (IAA), Giberelin, dan Sitokinpada proses fisiologis, mengatur masa dormansi perkecambahan biji, pembentukan akar, pemotongan,serta pembentukan percabangan tanaman, seperti tanaman pakcoy (Brassica rapa L.). Penelitianbertujuan untuk mengetahui pengaruh metabolit PSB (Photosyintethic Bacteria) dari sumber proteinhewani terhadap pertumbuhan tanaman pakcoy. Penelitian dilakukan di rumah kaca FakultasPertanian Universitas Andalas pada 15 Agustus hingga 25 September 2024 menggunakan bahan: tanahordo Regosol, PSB dari sumber protein hewani, dan tanaman pakcoy. Tanah diambil di Nagari KorongTiram Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Penelitianmenggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF) (36 satuan percobaan) dengan perlakuanyaitu (1) PSB telur ayam ras; (2) PSB telur ayam kampung; (3) PSB telur bebek; (4) PSB telur keongmas; dan (5) PSB daging ikan nila. Parameter penelitian yaitu hasil metabolit PSB: IAA, Giberelin, danSitokinin (pengukuran secara kuantitatif menggunakan spektrofotometer, metode kalorimetri), danNitrogen (Kjeldhal), Phospor, dan Kalium, (ekstrak HNO3). Produksi tanaman meliputi pertumbuhanvegetatif dan generatif. Indikator vegetatif adalah tinggi tanaman, dan jumlah daun, biomasa pakcoysegar dan bobot kering setelah panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PSB telur ayam rasmenghasilkan IAA, Giberlin dan Sitokinin paling tinggi. Unsur hara N, P, K tertinggi yaitu pada PSBdaging ikan nila. Pengaplikasian PSB daging ikan nila merupakan perlakuan terbaik dalammeningkatkan pertumbuhan tanaman pakcoy seperti: tinggi tanaman, jumlah helai daun, bobot segartanaman, dan bobot kering tanaman

    Pemanfaatan Tepung Ubi Ungu dan Pisang Raja dalam Inovasi Bolu dengan Pemanis Stevia

    No full text
    Bolu kukus umumnya terbuat dari bahan utama seperti tepung terigu, gula pasir, telur dan margarin.Penggantian terigu dengan memanfaatkan tepung dari ubi ungu dapat mengurangi ketergantunganpada produk impor dan lebih sehat karena bebas gluten. Penelitian ini menurunkan kalori dari guladengan menggantinya menggunakan pemanis stevia dan pisang raja matang. Tujuan penelitian iniadalah menghasilkan inovasi bolu kukus bebas gluten dan gula, mengidentifikasi efek proporsi tepungubi ungu dan pure pisang raja pada karakteristik fisikokimia dan penerimaan organoleptik. Metodepenelitian secara deskriptif 3 perlakuan (% penambahan dari tepung ubi ungu) P1 (40%), P2 (50%), P3(60%). Bahan lain yaitu telur, margarin, dan pemanis stevia. Analisis kimia meliputi kadar air dan abu(oven thermogravimetri), aktivitas antioksidan (metode DPPH), dan kadar pati, analisis sifat fisik dayakembang, analisis organoleptik meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur. Berdasarkan hasil ujiorganoleptik rentang skor 1-5 didapatkan hasil skor tertinggi setiap parameter pada P2 : skor warna4,21a ± 0,641, aroma 3.35a ± 0,646, rasa 3.09ab ± 0,900, dan tekstur 3.68b ± 0,768. Produk yangmendapatkan skor analisis organoleptic tertinggi merupakan produk terbaik dan dilanjutkan analisiskimia, dengan hasil kadar air 36,35%,kadar abu 1,80%, aktivitas antioksidan 23,12%, kadar pati 15,24%,dan daya kembang sebesar 0,68%. Inovasi bolu kukus diterima secara sensory dengan nilai rata-ratadisukai pada semua parameter dan sesuai SNI 01-3840-1995 kukus kadar air maksimal 40%, kadar abu1%

    Respon Interval Pengadukan dan Penggunaan Air Baku Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Selada Hijau Romaine pada Hidroponik Sistem Wick

    No full text
    Budidaya sayuran secara hidroponik menggunakan sistem wick merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk pemanfaatan lahan sempit pada urban farming. Jenis sistem hidroponik yang mudah digunakan adalah sistem sumbu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon interval pengadukan dan penggunaan air baku yang digunakan sebagai pengencer nutrisi terhadap pertumbuhan dan produksi selada hijau romaine. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan Faktor pertama adalah interval pengadukan dalam wadah sistem sumbu dengan 4 taraf (tanpa pengadukan, diaduk 1 kali/hari, 2 kali/hari dan 3 kali/hari) dan Perlakuan kedua meliputi penggunaan air baku yang terdiri dari 3 taraf (Air pembuangan AC, Air PDAM, Air sumber dari pegunungan). Pengulangan dilakukan sebanyak 3 kali. Variabel pengamatan meliputi: tinggi tanaman, diameter, jumlah daun, panjang akar, dan berat brangkasan basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interval pengadukan larutan nutrisi 3 kali sehari memberikan pengaruh signifikan pada semua parameter pertumbuhan dan produksi selada hijau romaine. Macam air baku yang digunakan, yaitu air AC, berpengaruh positif terhadap semua parameter pertumbuhan dan produksi. Kombinasi perlakuan interval pengadukan 3 kali/hari dengan penggunaan air baku asal pembuangan AC menghasilkan pertumbuhan dan produksi tertinggi

    Pengaruh Macam dan Konsentrasi Auksin terhadap Pertumbuhan Awal Tanaman Tebu (Saccharum officinarum) Metode Bud Set

    No full text
    Tebu adalah tanaman penghasil gula utama di Indonesia. Salah satu upaya untuk menghasilkan bibittebu unggul adalah dengan metode bud set. Untuk merangsang perakaran bud set perlu diaplikasianauksin. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Macam dan Konsentrasi Auksinterhadap Pertumbuhan Awal Tanaman Tebu Metode Bud Set. Penelitian ini menggunakan rancanganacak lengkap pola faktorial. Faktor pertama adalah macam zat pengatur tumbuh yaitu NAA, IBA, danIAA. Faktor ke dua adalah konsentrasi zat pengatur tumbuh dengan taraf kontrol, 100 ml/l, 200 ml/l,dan 300 ml/l. Data dianalisis menggunakan analisis ragam Anova, kemudian diuji lanjut DMRT dengansignifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara macam dan konsentrasi zat pengaturtumbuh berpengaruh nyata terhadap variabel jumlah daun dengan hasil terbaik IBA 200 ml/l. Pengaruhmacam zat pengatur tumbuh berpengaruh nyata terhadap variabel Jumlah akar dan volume akardengan hasil terbaik IBA. Pengaruh konsentrasi zat pengatur tumbuh berpengaruh terhadap variabelkecepatan berkecambah, jumlah anakan, jumlah akar, dan volume akar dengan hasil terbaik taraf 200ml/l

    Analisis Perilaku Konsumen dalam Pembelian Buah Lokal di Kabupaten Jember

    No full text
    Perilaku konsumen buah diperlukan sebagai bahan informasi bagi pedagang buah dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku konsumen, menentukan proses pengambilan keputusan pembelian dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian buah-buahan di kios wilayah kota Jember. Data diperoleh dari 75 responden dengan menggunakan metode convenience sampling dan diteliti dengan analisis sikap (Ab), analisis norma subjektif (SN), analisis perilaku konsumen (B~BI) dan analisis faktor. Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku konsumen dalam membeli buah-buahan di kios wilayah kota Jember adalah sebagai berikut: (1) pada kios Wilayah Kaliwates (kios Sari Buah), berada dalam perilaku pasti iya, yang dipengaruhi oleh atribut buah-buahan; (2) pada kios Wilayah Sumbersari (kios Pandawa), pasti iya perilaku yang dipengaruhi oleh atribut buah-buahan; (3) pada kios Wilayah Patrang (barokah), berada dalam perilaku pasti iya, yang dipengaruhi oleh atribut buah-buahan. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan pembelian buah-buahan di wilayah kota Jember berturut-turut adalah faktor harga (harga sesuai manfaat dan harga lebih terjangkau), faktor produk (keyakinan, motivasi dan persepsi), faktor distribusi (ketersediaan, pelayanan penjual dan lokasi) , faktor budaya (kebiasaan konsumsi), faktor individu (usia, Pendidikan, pekerjaan dan gaya hidup) dan faktor sosial (keluarga, teman dekat dan rekan kerja)

    The Effect of Starter Culture on Increasing Food Safety and Its Impact on Customer Preference

    No full text
    Aron is a fermented white corn, a traditional product of the Tengger tribe, which is susceptible to contamination by pathogenic microorganisms during its production process. The addition of starter cultures obtained from the isolation of dominant lactic acid bacteria in the natural fermentation of white corn, namely Lactobacillus and Streptococcus, was expected to inhibit the growth of pathogenic microorganisms. The aim of this study was to evaluate the ability of different concentrations of starter culture, starting from 0%, 10%, 20%, and 30% to inhibit the growth of pathogenic microorganisms, under different fermentation conditions, which are traditional fermentation at a cold temperature around 13-18°C in Tengger and controlled fermentation at 28-32°C in a laboratory in Surabaya for 6 days, with analysis done on days 0, 3, and 6. Differences in sensory characteristics of aron with the addition of starter cultures, including aroma, taste, and color, were also evaluated. The indicator used to measure the growth of pathogenic microorganisms was Enterobacteriaceae, which quantity was analyzed to evaluate the inhibition of its growth by lactic acid bacteria under both conditions. Biochemical analyses such as TSIA test, catalase test, and motility test were performed to ensure that the dominant bacteria at the end of fermentation were lactic acid bacteria. Additionally, molds that grew during fermentation in both conditions were identified. Sensory analysis was done at the end of fermentation, including aroma, taste, and colour tests, which supported by Whiteness Index, DE2000, and Chroma analyses to evaluate the impact of starter culture and environmental conditions on the resulting aron. The addition of starter cultures was shown to affect the inhibition of Enterobacteriaceae growth under both conditions. Biochemical tests serve as supporting evidence that the dominant bacteria under both conditions after 6 days of fermentation were lactic acid bacteria. Aroma was identified as an attribute likely influenced by the addition of starter culture and environmental differences, caused by the compounds produced during fermentation. It was concluded that the addition of starter culture and environmental differences affect the microbiological characteristics and aroma of aron

    Transformasi Mineral Klei pada Pertanian Intensif: Implikasi terhadap Kesuburan Tanah dan Keberlanjutan

    No full text
    Transformasi mineral klei dalam tanah akibat intensifikasi pertanian memiliki dampak signifikanterhadap kesuburan tanah dan keberlanjutan sistem pertanian. Artikel review ini mengkaji dinamikatransformasi mineral klei yang dipicu oleh praktik seperti pemupukan kimia, irigasi berlebih, danpengolahan tanah intensif. Transformasi ini memengaruhi kapasitas tukar kation, retensi hara, danstabilitas agregat tanah, dengan implikasi jangka panjang terhadap produktivitas dan kesehatan tanah.Kajian literatur dilakukan dengan meninjau publikasi dalam lima tahun terakhir yang berkaitan dengankata kunci "transformasi mineral klei," "evolusi klei pada tanah," dan "pengelolaan tanah pertanianberkelanjutan." Sumber yang dipilih berasal dari basis data ilmiah terkemuka dan mencakup studi yangsecara representatif menggambarkan transformasi mineral klei dalam sistem tanah pertanian sertadampaknya terhadap sifat tanah. Hasil kajian menunjukkan bahwa interaksi antara mineral klei, bahanorganik, dan mikroorganisme dapat mempercepat transformasi mineral, tetapi juga membuka peluanguntuk pengelolaan adaptif yang meningkatkan fungsi tanah. Oleh karena itu, strategi pertanianberkelanjutan berbasis bukti, seperti penggunaan biochar dan pertanian presisi, direkomendasikanuntuk memitigasi dampak negatif transformasi mineral klei dan mendukung keberlanjutan tanah

    Aplikasi Sludge Biogas dari Limbah Organik sebagai Pendukung Rehabilitasi Tanah Berpasir: Studi pada C Organik, N total, Rasio C/N dan Total Mikroba

    No full text
    Tanah berpasir memiliki keterbatasan dalam menyimpan unsur hara dan bahan organik, sehingga kurang mendukung prtumbuhan tanaman. Sludge biogas merupakan produk sampingan dari fermentasi anaerob yang kaya akan unsur hara dan berpotensi meningkatkan kesuburan tanah berpasir. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi sludge biogas dari berbagai bahan organik terhadap kandungan C-organik, N-total, rasio C/N, dan total mikroba tanah. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, yaitu jenis bahan sludge (sayuran, buah-buahan, tandan kosong kelapa sawit, sampah kota, dan kotoran sapi) dan dosis aplikasi (0 L/ha, 400 L/ha, 800 L/ha, 1200 L/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi sludge biogas meningkatkan kandungan C-organik, N-total, dan populasi mikroba tanah, dengan peningkatkan tertinggi pada kombinasi sludge dari sampah kota dan kotoran sapi dengan dosis 800-1200 L/ha. Rasio C/N tanah juga mengalami penurunan, menunjukkan peningkatan ketersediaan N bagi tanaman. Secara keseluruhan, aplikasi sludge biogas berkontribusi terhadap perbaikan sifat kimia dan biologi tanah berpasir serta dapat digunakan sebagai alternatif amelioran organik dalam rehabilitasi lahan marginal

    Pengaruh Komposisi Bahan dan Bentuk Media Pembibitan pada Hasil Seedling Tanaman Cabe Rawit (Capsicum frutescens L.)

    No full text
    Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia dengan nilai ekonomis tinggi. Namun, produktivitas sering terganggu oleh kualitas bibit yang kurang optimal. Penelitian ini menguji berbagai komposisi media tanam, termasuk campuran tanah, kompos, dan bahan organik lainnya, serta berbagai bentuk media seperti pot, tray, dan polybag. Dilaksanakan pada Februari 2023 di Desa Lengkong, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, penelitian ini menggunakan desain Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor, yaitu media tanam (cocopeat, lumut, dan tanah) dan bentuk media (blok tanah, polybag sosis, dan potray), melibatkan 27 unit percobaan dengan 2 ulangan. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, diameter batang, panjang akar, jumlah daun, berat segar, dan berat kering. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan uji DMRT dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi cocopeat, lumut, dan tanah memberikan hasil terbaik pada semua parameter pertumbuhan: tinggi tanaman 5,63 cm, jumlah daun 6,11 helai, diameter batang 1,60 mm, berat kering 0,06 gram, panjang akar 11,17 cm, dan berat segar 0,33 gram. Media polybag sosis adalah yang paling efektif, menghasilkan tinggi tanaman 5,89 cm, jumlah daun 6,22 helai, diameter batang 1,48 mm, berat kering 0,07 gram, panjang akar 9,44 cm, dan berat segar 0,37 gram. Hasil ini menunjukkan bahwa pemilihan komposisi media tanam dan bentuk media yang tepat sangat penting untuk meningkatkan kualitas bibit cabai rawit, yang pada akhirnya dapat mendukung produktivitas dan keberlanjutan pertanian cabai rawit di Indonesia

    123

    full texts

    154

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berkala Ilmiah Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇