DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
To Sangserekan dan Air Sungai Maiting: Upaya Membangun Teologi Ekonomi Berwawasan Ekologis Toraja
Abstract. Ecological issues have become global and local problems that are increasingly expanding into humanitarian issues, namely social, spiritual, political and economic. This article focuses on ecological damage and social injustice that occur in the lives of the lembang Paku and Ma'dong communities. This research aimed to propose the concept of Panenteism-Sangserekan as an effort to build Theology-Ecology-Economy in the Toraja context. The research used qualitative methods through a literature review approach. The result of this study is Christian theology and local wisdom that can be the basis of spirituality and morality of the Toraja people in the face of ecological damage.Abstrak. Persoalan ekologis telah menjadi masalah global maupun lokal yang kian hari semakin meluas menjadi masalah kemanusiaan, yakni sosial, spiritual, politik, dan ekonomi. Artikel ini menitikberatkan pada kerusakan ekologis dan ketidakadilan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Lembang Paku dan Ma’dong. Penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan konsep Panenteisme-Sangserekan sebagai upaya membangun Teologi-Ekologi-Ekonomi dalam konteks Toraja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui pendekatan kajian pustaka. Dari kajian ini dihasilkan Teologi Kristen dan kearifan lokal yang dapat menjadi dasar spiritualitas dan moralitas orang Toraja dalam menghadapi kerusakan ekologis
Afirmasi Agama dan Negasi atas Ateisme dalam Pemikiran Kant tentang Moralitas
Abstract. Believing in God and not is a human attitude in facing the ontological big reality, including his existence. Various arguments have proven the existence of God whether through ontological, cosmological, or teleological evidence in the context of philosophy and theology. This paper presents Kant's thinking which rejected all these arguments. Using Wittgenstein's method of philosophical investigation, this paper showed that for Kant, such evidence was a futile effort because human reason is limited. Kant argued that through morality, humans can find God and religion. Through morality too, Kant rejected atheism. This study can contribute to the deepening of the discussion on the existence of religion, which has always been the subject of awareness of human existence; as well as being material that can be presented in public discussions to maintain social harmonization.Abstrak. Mempercayai Tuhan dan tidak adalah sikap manusia dalam menghadapi realitas besar ontologis, termasuk keberadaan dirinya. Berbagai argumen telah berupaya untuk membuktikan keberadaan Tuhan melalui bukti ontologis, kosmologis, dan teleologis dalam konteks filsafat dan teologi. Tulisan ini menghadirkan pemikiran Kant yang menolak semua argumentasi itu. Dengan metode investigasi filosofis ala Wittgenstein, tulisan ini menunjukkan bahwa bagi Kant, pembuktian-pembuktian adanya Tuhan tersebut merupakan upaya kesia-siaan lantaran akal budi manusia itu terbatas. Kant mengetengahkan bahwa melalui moralitas, manusia bisa menemukan Tuhan dan agama. Melalui moralitas pula, Kant menolak ateisme. Kajian ini dapat memberikan kontribusi pada pendalaman diskusi tentang eksistensi agama, yang selalu menjadi bahan kesadaran eksistensi manusia; sekaligus menjadi bahan yang dapat dihadirkan pada diskusi-diskusi publik untuk menjaga harmonisasi sosial
Profleksi Liturgi Misional Pentakostal: Revitalisasi Liturgi Pentakostal dalam Ibadah Minggu
Abstract. The phenomenon of the Pentecostal liturgical movement has been shown to significantly change the face of Christianity globally. The most effective particularity for this movement is its liturgical style which is relevant and connected to contemporary culture. Pentecostal creative liturgy has proven to be a contributing factor in the development of this movement. However, along with the development and growth of the Pentecostal movement, implied a shift in focus from missionary goals to individual goals in the liturgy of worship. This is certainly a challenge for the Pentecostal Church in revitalizing its liturgy. This study used qualitative research methods by utilizing various data from literature studies. This paper aimed to construct the concept of proflexion which was initiated by Joas Adiprasetya in revitalizing the Pentecostal liturgy. The results showed that the concept of proflection is in line with the vitality of the Pentecostal liturgical movement at this time.Abstrak. Fenomena gerakan liturgi kelompok Pentakostal telah terbukti secara signifikan mengubah wajah kekristenan secara global. Adapun partikularitas yang paling efektif bagi gerakan ini adalah corak liturginya yang relevan terkoneksi dengan budaya kontemporer. Liturgi kreatif Pentakostal telah terbukti menjadi faktor pendukung dalam perkembangan aliran ini. Namun seiring dengan pekembangan dan pertumbuhan gerakan Pentakostal tersebut, tersirat pergeseran fokus dari tujuan misional ke tujuan individual dalam liturginya ibadahnya. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi Gereja Pentakostal dalam merevitalisasi liturginya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan memanfaatkan berbagai data dari studi literatur. Penulis mengajukankonstruksi konsep profleksi yang digagas oleh Joas Adiprasetya dalam merevitalisasi liturgi Pentakostal.Hasil penelitian menunjukkan konsep profleksi sejalan dengan vitalitas gerakan liturgi Pentakostal pada masa kini yang berlandaskan karya Roh Kudus
Pengintegrasian Gereja Semua dan Bagi Semua dalam Teologi Disabilitas di Pelayanan Bagi dan Bersama Penyandang Disabilitas
Abstract. Disability is one of Indonesia's theological contexts. Discrimination and accessibility are two keywords that circulate when discussing disability. So, what about theology when talking about disability associated with ministry? This article discusses efforts to integrate the church of all and for all in the theology of disability in ministry for and with persons with disabilities. This integration was conducted through literature research on books and journals that discuss disability theology, disability ecclesiology, and ministry. This research showed that the church of all and for all can be integrated into ministries for and with persons with disabilities. This integration allows acceptance and accommodation for people with disabilities to participate in the church.Abstrak. Disabilitas merupakan salah satu konteks pergumulan teologi di Indonesia. Diskriminasi dan aksesibilitas menjadi dua kata kunci yang beredar kala membahas disabilitas. Lantas, bagaimana dengan teologi ketika membahas disabilitas yang dikaitkan pelayanan? Tulisan ini membahas upaya pengintegrasian gereja semua dan bagi semua dalam teologi disabilitas di pelayanan bagi dan bersama penyandang disabilitas. Integrasi ini dikerjakan melalui penelitian pustaka terhadap buku dan jurnal yang membahas teologi disabilitas, eklesiologi disabilitas, dan pelayanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gereja semua dan bagi semua dapat diintegrasikan dalam pelayanan bagi dan bersama penyandang disabilitas. Integrasi ini memungkinkan adanya penerimaan dan akomodasi bagi penyandang disabilitas agar berpartisipasi dalam gereja
Sabat dan Sikap Eskapis: Analisis Struktur Ibrani 4:1-16
Abstract. The Sabbath is a topic that continues to receive attention in Christianity. However, it also becomes a continuing source of debate its practical application. The Sabbath often turns to mere escapism, which is, having time for oneself. Therefore, through an exegetical-expositional method—a thorough analysis of the structure of the Epistle to Hebrews 4—this research presents the biblical basis for entering the Sabbath. The structural analysis in this study showed that the entire letter to Hebrews 4 is an inseparable series. Hebrews 4:1-11 shows that the Sabbath is God's promise that is still progressively valid. Verse 12-13 emphasizes the role of God's word as the basis for entering the resting place, and verse 14-16 suggests the significance of the High Priest, Jesus Christ, who is the intermediary for entering the resting place. With these three biblical foundations, the Sabbath is no longer an escapism but a momentum to entering God’s own rest.Abstrak. Sabat merupakan topik yang terus mendapat perhatian di dalam Kekristenan. Namun, Sabat juga terus menjadi sumber perdebatan pada penerapan praktisnya. Seringkali Sabat juga hanya menjadi sekadar eskapisme, yakni waktu bagi diri sendiri. Karena itu, melalui metode eksegetikal-eksposisional – analisis menyeluruh pada struktur Surat Ibrani 4 – penelitian ini hendak menyajikan landasan biblis untuk memasuki Sabat. Analisis struktur dalam penelitian ini menunjukkan bahwa keseluruhan surat Ibrani 4 merupakan rangkaian yang tak terpisahkan. Ibrani 4:1-11 menunjukkan bahwa Sabat sebagai hari perhentian merupakan janji Allah yang masih berlaku secara progresif. Sementara Ibrani 4:12-13 menekankan peran firman Allah sebagai landasan untuk memasuki tempat perhentian, dan Ibrani 4:14-16 mengemukakan mengenai peran Imam Besar yaitu Yesus Kristus yang menjadi pengantara untuk memasuki tempat perhentian. Dengan ketiga landasan biblis ini, maka Sabat tidak lagi sekadar menjadi eskapisme, tetapi menjadi momentum untuk memasuki perhentian Allah sendiri
Diskursus Keberagaman Agama dan Implikasinya dalam Praksis Pendidikan Agama Kristen
Abstract. This paper intended to show the praxis of Christian Religious Education (CRE) in the midst of religious diversity in Indonesia. This paper departed from the author's concern that religious diversity in Indonesia that is often to be the cause of conflicts in Indonesia. This study was conducted by making use of the approach of Cynthia M. Campbell's thoughts on religious diversity. The results of this study showed that biblical texts, that used to be the basis for being exclusive, need to be re-read to produce a more inclusive and tolerant meaning in the context of religious diversity in Indonesia. The results of the re-reading can then be implemented as teaching materials for CRE that can foster awareness of the students’ nationalism.Abstrak. Tulisan ini bermaksud untuk memperlihatkan praksis Pendidikan Agama Kristen (PAK) di tengah-tengah keberagaman agama di Indonesia. Tulisan ini berangkat dari kegelisahan penulis di mana keberagaman agama di Indonesia sering menjadi penyebab konflik di Indoensia. Kajian ini dilakukan dengan memanfaatkan pendekatan pemikiran Cynthia M. Campbell tentang keberagaman agama. Hasil dari kajian ini memperlihatkan bahwa teks-teks Alkitab yang selama ini dijadikan sebagai dasar bersikap eksklusif perlu dibaca ulang untuk menghasilkan makna yang lebih inklusif dan toleran dalam konteks keberagaman agama di Indonesia. Hasil pembacaan ulang tersebut kemudian dapat menjadi bahan materi pengajaran PAK yang dapat menumbuhkan kesadaran hidup berbangsa dan bernegara para peserta didik
Gereja Pilgrimasi: Menggagas Bentuk Keanggotaan Persekutuan Misional Diaspora dalam Pelayanan Gereja Toraja
Abstract. The church’s mission in a fluid world requires new spaces of service. If the church is not responsive and critical of its reality, it is difficult for the church to be present to answer the needs of the people. One interesting reality is the existence of the diaspora. The extent to which the church's mission reaches the diaspora as a missional space is a challenge. This paper aimed to propose a form of diaspora missional fellowship membership in the ministry of the Toraja Church. The method used was a qualitative method with observation survey technique through two congregations in Tana Toraja and North Toraja and interviews with purposive sampling technique to some specifically determined people. Through this research, it was concluded that pilgrimage churches confront the church with a way of doing church based on the spirit of pilgrimage, which crosses the boundaries of geography, territory and church walls.Abstrak. Misi gereja di dunia yang cair membutuh ruang-ruang pelayanan baru. Jika gereja tidak responsif dan kritis terhadap realitasnya, sulit bagi gereja hadir menjawab kebutuhan umat. Salah satu realitas menarik adalah keberadaan diaspora. Sejauh mana misi gereja menjangkau diaspora sebagai ruang missional menjadi sebuah tantangan. Tulisan ini bertujuan untuk mengusulkan bentuk keanggotaan persekutuan misional diaspora dalam pelayanan Gereja Toraja. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik survey observasi melalui dua jemaat di Tana Toraja dan Toraja Utara dan wawancara dengan teknik purposive sampling terhadap beberapa orang yang ditentukan secara khusus. Melalui penelitian ini disimpulkan bahwa gereja pilgirimasi memperhadapkan gereja pada cara bergereja yang dilandasi oleh semangat peziarahan, yang melewati batas geografi, teritorial dan tembok-tembok gereja
Peran Roh Kudus dalam Penderitaan Orang Kristen
Abstract. Indonesia is prone to natural disasters and crime. These natural disasters and crimes cause suffering in human life, including the lives of Christians. In the suffering experienced by Christians, the question arises what is the role of the Holy Spirit in this kind of suffering? The author attempts to answer this question by using the literature research method. Through this study it can be concluded that the Holy Spirit plays a role in the entire life of a believer, including in everyday life that is supposed to be profane.Abstrak. Indonesia rawan terhadap bencana alam dan kejahatan. Bencana alam dan kejahatan ini menimbulkan penderitaan di dalam kehidupan manusia termasuk kehidupan orang-orang Kristen. Di dalam penderitaan yang dialami oleh orang Kristen maka muncul pertanyaan apakah peranan dari Roh Kudus dalam penderitaan tersebut? Penulis berupaya untuk menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan metode riset literatur. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa Roh Kudus berperan dalam seluruh kehidupan orang percaya sepenuhnya, termasuk dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat profan
Examining the Representation of Women as Wise Authorities and Alpha Women in the Book of Proverb
The Book of Proverbs contains numerous moral teachings and wise sayings. However, the representation of women in this book is often depicted as unequal and unjust, particularly regarding their status and roles. This article aimed to assess the representation of women in the Book of Proverbs and explore how they can be perceived as authoritative sources of wisdom and as alpha women. Through an exegetical study that examines theologians’ views on women’s representation in the Book of Proverbs, the role of women in this book will be analyzed to reclaim their status as wise individuals and strong women in both private and public realms. This understanding is crucial for creating a gender-balanced and equitable interpretation that is not influenced by patriarchal cultural norms
The Work of Religious Extension Workers in Strengthening Religious Moderation in North Tapanuli
The recent rise in cases of intolerance in Indonesia has encouraged the government to make various efforts to maintain religious harmony for the integrity of the Indonesian nation. One of them is through strengthening religious moderation. Religious extension workers are at the forefront of realizing a program to strengthen religious moderation in all work units within the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia, including religious extension workers in North Tapanuli district. The focus of this research is the strategic role of Religious Extension Workers in implementing the strengthening of the religious orientation in the assisted communities, and what efforts have been made by the Ministry of Religious Affairs of North Tapanuli in preparing and empowering religious extension workers as agents or mobilizers religious moderation. This research was conducted by qualitative method. From the research it was found that the presence of religious extension workers in the community is very important to provide counseling and community guidance in caring for plurality and play its role as a driver of strengthening religious moderation