DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
Mengajarkan Nasionalisme Lewat Momentum Perayaan Paskah: Refleksi Kritis Keluaran 12:1-51
This research is due to social phenomenon in Indoensia lately, where tendention of nationalism is decreasing. Church, which is being a part of this nation component, has responsibility to build its people’s sense of nationalism, not mere making them as heavenly citizen. The aim of this article is to point out a biblical study about Passover celebration at the first time in The Old Testament, which constituted a commemoration of Israel nationality deliverance from the bondage of Egypt, what was to become an implication of Jesus’ death and resurrection event. It uses a historical analysis on biblical text Exodus 12:1-51 with exposition approach for acquiring an event implication in Old Testament theology context. After reading the whole text in the passage, considering its context and genre, then reconstruct its narrative and analyze it, so the conclusion is, that Passover celebration in the first time is God’s action to deliver Israel as a nation from Egypt. The research finding is to recommend that Passover celebration in future will be able to increase church’s sense of nationality in Indonesia context.Artikel ini adalah sebuah penelitian yang berkaitan dengan fenomenologi sosial di Indonesia dewasa ini, di mana kecenderungan memupusnya sikap nasionalisme anak bangsa. Gereja Tuhan sebagai bagian dari komponen bangsa ini memiliki tanggung jawab untuk membangun rasa nasionalisme umat, tidak hanya sekadar menjadikannya warga surga seperti idealisme teologi. Tujuan artikel ini untuk menunjukkan kajian biblikal tentang perayaan Paskah yang secara asali merupakan peringatan tentang perjuangan pembebasan Israel sebagai sebuah bangsa, yang di kemudian hari memberikan implikasi teologis pada peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus. Metode yang digunakan adalah analisis historis pada teks Keluaran 12:1-51 dengan pendekatan eksposisi, untuk mendapatkan implikasi peristiwa dalam konteks teologi Perjanjian Lama. Setelah membaca teks secara keseluruhan, lalu memperhatikan konteks dan genre sastera, merekonstruksi narasi teks dan menganalisisnya, maka disimpulkan bahwa pada awalnya peristiwa Paskah merupakan perbuatan ilahi untuk membebaskan Israel dari penjajahan Mesir. Temuan pembahasan dan simpulan merekomendasikan agar momentum perayaan Paskah dapat meningkatkan rasa nasionalisme gereja dalam konteks Indonesia
Menggagas Penerapan Pengajaran Tentang Akhir Zaman Dalam Pendidikan Agama Kristen Di Tingkat Sekolah Dasar Dan Menengah Pertama
Eskatologi, khususnya dalam tradisi gereja kita merupakan salah satu topik yang terabaikan. Bahkan dalam pendidikan agama kristen di sekolah, kita dapat melihat tidak ada topik khusus mengenai eskatologi.Topik tentang eskatologi sangat penting untuk diajarkan kepada siswa di sekolah agar mereka dapat mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Dalam pengajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) di sekolah, seharusnya topik atau pelajaran ini mendapat perhatian dan alokasi waktu yang cukup. Melalui topik atau pelajaran ini diharapkan dapat memperkuat keimanan siswa; menolong siswa untuk merubah sikap yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan menanamkan dalam diri siswa bahwa kelak Tuhan Yesus akan datang untuk yang kedua kalinya. Eschatology, particularly in the tradition of our church is one of the neglected topic. Even, in Christian religious education in schools, we can see there is no specific topic about eschatology.The topic of eschatology is very important to be taught to students in schools, so that they can prepare as well as possible for the Lord Jesus' second coming.This topic should have received attention and allocation on sufficient time. This topic is expected to strengthen students’faith, helping them exchanging attitudes which are not in accordance with the will of God and convince that one day the Lord Jesus shall come
Analisi Kritis Ajaran “Rhema” Dan “Logos” Dalam Perspektif Kaum Pentakosta
Istilah Logos dan rhema adalah dua kata yang sering dijumpai dalam komunikasi firman melalui mimbar di gereja maupun diskusi teologi. Penggunaan dua istilah ini terkadang tidak pada porsinya; ada tendensi yang dilakukan beberapa pengkhotbah dari kalangan Pentakosta untuk meletakkan istilah rhema lebih “unggul” dari logos. Konseptualisasi teologis secara berimbang pun diabaikan dalam penggunaan dua istilah ini. Kajian ini bersifat analisis-eksegetis dari penggunaan konsepsi logos maupun rhema dalam Alkitab, yang bertujuan untuk menemukan makna yang tepat dan berimbang tentang penggunaan kedua konsep tersebut. Sehingga pada akhirnya didapatkan bahwa kedua istilah tersebut adalah sama, tidak ada yang lebih di antaranya, kecuali fungsi yang saling melengkapi. The terminology of Logos and rhema is oftenly found in communicating God’s Word in church and also in theological discussion. The using of both words sometimes is not at its place; there’s such tendency of placing rhema superior of logos from some Pentecostal preachers. There is an ignorance of proportionate theological concept of both terms. This is a study of exegetical analysis of conceptualizing logos and rhema in Bible, which purposing to find an exact and proportional meaning of both terms. Finally, both words are equal, not is superior, except a function of complementary from each other
Penggunaan Rotan Dalam Pendisiplinan Anak Menurut Kitab Amsal 23:13-14
Pendisiplinan anak secara keras telah dianggap sebagai cara kuno dan tidak beradab pada era modern yang benar-benar menaruh penghargaan yang tinggi pada hak asazi manusia. Cara yang dipakai lebih banyak menggunakan pendekatan yang penuh dengan toleransi terhadap kehendak anak. Namun demikian, pada kenyataannya metode pendisiplinan secara lunak tersebut nampaknya telah menimbulkan permasalah baru, diantaranya hilangnya rasa hormat anak terhadap otoritas yang sepatutnya dihormati. Amsal 23:13-14 adalah merupakan salah satu contoh bagaimana Alkitab mengajarkan cara untuk mendisiplinkan anak. Melalui kajian terhadap teks tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pendisiplinan anak dengan menggunakan rotan adalah sesuatu yang relevan untuk diterapkan. Meskipun nampak keras, namun metode pendisiplinan tersebut tidak melanggar hak anak, sebaliknya dapat membentuk karakter baik anak. Chastisement is regarded as out of date and uncivilized way in this modern era which gives great respect in human rights. Fully tolerance toward children will is the mostly to be used approach. In fact, nevertheless, this soft disciplining method appear to bring about new problems, such as the lost of children respect to the authority that should be respected. Proverbs 23:13-14 gives a theaching of the bible how to disciplining children should be. Through the text study, it is concluded that chastisement with rod is still relevantly implemented. Eventhough it is so strict, this method is not abusive to the children rights but forms children good characters
Hikmat Sebagai Implikasi Pendidikan Kristiani: Refleksi 1 Raja-raja 3:1-15
Di dalam sutdi Perjanjian Lama, hikmat menjadi bagian yang terpenting dalam aktualisasi hidup tokoh yang berhasil. Di antara tokoh tersebut adalah Salomo yang disebut sebagai orang yang paling berhikmat, sehingga pada zamannya ia tidak tertandingi dalam banyak hal mencakup seluruh aspek kehidupan mausia saat itu. Intinya, Perjanjian Lama menunjukkan nilai lebih yang diberikan oleh hikmat yang tidak dapat dilakukan oleh orang pada umumnya. Kajian ini merupakan penelitian teks 1 Raja-Raja 3:1-15 tentang hikmat yang diperoleh Salomo. Hikmat yang diberikan oleh Allah pada waktu itu pada hakikatnya adalah sebuah jawaban atas permintaan Salomo tentang hati yang mendengar atau dengar-dengaran. Di sisi lain, Pendidikan Kristen hadir untuk mendidik peserta didik memiliki sikap hati yang tunduk, mendengar kepada firman Tuhan. Studi ini bertujuan untuk menunjukkan pencapaian hidup yang berkualitas oleh hikmat melalui Pendidikan Kristiani. In the Old Testament study, wisdom becomes a most important theme of succeesful men’s actualizing live. It is Solomon as a wisest man of his time, so none could stand against, in many things involving whole life’s aspect. The point is, Old Testament shows superior value given by wisdom which people couldn’t do in general. This study is a textual research on 1 Kings 3:1-15 which about Solomon’s acquiring wisdom. God’s giving wisdom basically is a response on what Solomon asked before, that is about a hearing heart. On the other side, Christianity Education is existing to educate people for having a heart of obey, to hear God’s Word. This study is aiming to show achieving life’s quality by wisdom through Christianity Education
Allah Memanggil Umat-Nya Untuk Menjadi Gereja Yang Tekun Berdoa Menurut Kisah Para Rasul 4: 23 – 31
Doa merupakan sebuah aktivitas yang erat hubungannya dengan denyut nadi kekristenan; sehingga muncul semacam ungkapan, bahwa doa adalah nafas kehidupan orang percaya. Sejatinya, kegiatan doa bukanlah sebuah rutinitas ibadah belaka, melainkan pusat kehidupan itu sendiri. Dari zaman Yesus ada di muka bumi hingga pada pelayanan para rasul di Yerusalem bersama jemaat mula-mula, doa menjadi energi dari setiap pelayanan bahkan sendi kehidupan yang dilakukan. Artikel ini menyajikan sebuah telaah eksegetis tentang doa dalam Kisah Para Rasul 4:23-31, yang bertujuan menunjukkan secara biblikal sifat doa yang penting dan urgen. Pada akhirnya, gereja didorong untuk memahami esensi doa dan mulai berdoa dengan tekun. Pray is an activity most related to Christian’s life; so there is a saying that prayer is believers’ breath of life. Substantially, praying is not mere routinized of service, but also life center. From the time of Jesus was on earth untill the apostles’ ministry with early church in Jerusalem, pray becomes energy of every ministry even life. This article is giving an exegetical study of pray in Acts 4:23-31, which aim to show biblically character of pray, which is important and urgent. At least, it encourages church to understand the essence of pray and begin to pray on and on
Khotbah Pengajaran Versus Khotbah Kontemporer
Khotbah merupakan bagian dari proses ibadah di gereja yang bertujuan memberikan penjelasan kepada warga gereja. Namun demikian, beberapa kotbah yang disampaikan bukannya memberikan penjelasan yang alkitabiah sebaliknya hanya memberikan pernyataan-pernyataan yang ambigu dan ambivalensi, bahkan cenderung provokatif. Khotbah yang disampaikan kiranya kembali pada pola alkitabiah, yaitu khotbah pengajaran seperti yang dilakukan Tuhan Yesus Kristus dan para rasul. Khotbah pengajaran berorientasi pada berita Alkitab yang memiliki wibawa ilahi. Khotbah pengajaran bukanlah kotbah yang memberikan banyak alasan-alasan tertentu, tetapi yang memiliki makna teologi dan aplikatif.Disisi lain, khotbah kontemporer telah diterima dengan tangan terbuka oleh beberapa gereja yang tingkat pemahaman terhadap Alkitab dan iman Kristen masih sah untuk dipertanyakan. Hal itu tidak menjadikan gereja tersebut memiliki perspektif negatif, melainkan semakin meningkatkan kesadaran teologis secara normatif; apakah khotbah yang disampaikan selama ini sudah sehat atau menjadi beban warga gereja sehingga tidak memberikan pertumbuhan spiritualitas seperti yang diharapkan. Kajian ini bersifat eksplanatif-argumentatif, tentang khotbah pengajaran versus khotbah kontemporer, sehingga pada akhirnya pembaca mampu merekonstruksi makna kotbah yang selama ini telah dihidupi dan menghidupkan dalam kehidupannya sehari-hari. Sermon is one of element in church service, which aim to explain the people of God. Nevertheless, some sermons preached not to give biblical explanation, otherwise make some ambiguous, even tend to be provocatively. Sermon presumably back to biblical pattern, that is a teaching sermon what Jesus ever did and also with the apostles. Teaching sermon is biblical oriented, which has divine authority. It is not about giving many reasons, but having theological sense and applicable. In other side, contemporary sermon has been received with hand opened by some churches which their biblical understanding is proper to be questioned. That doesn’t make the church has negative perspective, but more increases theological awareness normatively; either sermon has been preached sensely or become burden for God’s people, so they couldn’t grow up spiritually as expected. This article explains argumentatively about teaching sermon versus contemporary one, which at least the reader can reconstructing the meaning of sermon that has been lived within and living by in daily life