DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Not a member yet
    277 research outputs found

    Deus Absconditus: Dialektika Pemazmur dan Meister Eckhart untuk Menemukan Jalan Spiritual Mistik di Tengah Penderitaan

    No full text
    Abstract. This article focuses on the dialectical encounter of the cataphatic and apophatic spirituality paths which are by psalmist based on “why” and Meister Eckhart on “without why” in responding to the reality of life, especially amid suffering. For the psalmist, the where, why, and when questions arise not from doubt but from Yahweh’s steadfast love (ḥesed). Even though the psalmist and Eckhart have different perspectives, the dialectic leads to discovery of the other side of God’s face, namely Deus absconditus, the absent God. The dialectically contributed theologically to the form of discovering mystical spirituality amid the agony. At the same time, this enlightens Christians about a mystical path that the face of God can be found not only in Immanuel but also in Deus absconditus; God’s presence is through His absence.Abstrak. Artikel ini berfokus pada perjumpaan dialektik jalan spiritualitas katafatik dan apofatik oleh pemazmur yang mendasarkan pada “mengapa” dan Meister Eckhart pada “tanpa mengapa” dalam menyikapi realitas kehidupan, terkhusus di tengah penderitaan. Bagi pemazmur, pertanyaan di mana, mengapa, dan kapan, bukan muncul dari keraguan melainkan dari keyakinan pada kasih setia (ḥesed) Yahweh. Sekalipun pemazmur dan Eckhart memiliki perspektif yang berbeda, namun dialektika tersebut menuju pada penemuan sisi lain wajah Allah, yaitu Deus absconditus, Allah yang absen. Perjumpaan dialektik tersebut memberikan kontribusi secara teologis berupa penemuan spiritualitas mistik di penderitaan. Ini sekaligus memberikan pencerahan bagi orang Kristen tentang jalan mistik bahwa wajah Allah dapat ditemukan tidak hanya pada Immanuel melainkan juga pada Deus absconditus; Allah yang hadir melalui ketidakhadiranNya

    Kepedulian Sosial yang Rasional dan Mendidik: Analisis Sosial dan Analisis Argumentasi 1 Timotius 5:3-16

    No full text
    Abstract. A number of forms of social care have become church traditions throughout time. On the other hand, many have predicted that in 2023 the world, including Indonesia, will experience quite heavy economic pressure. In a situation like this, what if the church also experiences a crisis, either financially or in terms of other resources? Can the tradition of social care be annulled? To answer this question, this paper conducted argumentation analysis and social analysis in interpreting 1 Timothy 5:3-16. This study showed that Paul reminded the congregation leader (Timothy), that despite limited conditions, he must not annul this tradition, but in its implementation it must be making sense and educating. Thus, it can be concluded that the church in Indonesia needs to apply making sense and educating principles in practicing a number of social care traditions.Abstrak. Sejumlah bentuk kepedulian sosial telah menjadi tradisi gereja di sepanjang masa. Pada sisi lain, sejumlah pihak memprediksi bahwa pada 2023 dunia, termasuk Indonesia, akan mengalami tekanan ekonomi yang cukup berat. Dalam situasi seperti ini, bagaimana jika gereja ternyata juga mengalami krisis, baik krisis dalam hal keuangan maupun dalam hal sumber daya yang lain? Dapatkah tradisi kepedulian sosial itu dianulir? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini menggunakan analisis argumentasi dan analisis sosial dalam memaknai 1 Timotius 5:3-16 ini. Kajian ini menunjukkan bahwa Paulus mengingatkan pemimpin jemaat (Timotius) meskipun kondisi keterbatasan tidak boleh menganulir tradisi tersebut, tetapi dalam pelaksanaannya haruslah rasional dan mendidik. Dengan demikian dapat disimpulkan, gereja di Indonesia perlu menerapkan prinsip rasional dan mendidik dalam mempraktikkan sejumlah tradisi kepedulian sosial

    Teodise dan Covid-19

    No full text
    Abstract. The Covid-19 pandemic has created human’s suffering. Human suffering itself has evoked many questions about God's omniscience and omnipotence, which are often known as theodicy problem. This paper is an attempt to account for God's ways of human suffering. The method used in this study was a literature study by conducting a reflective analysis of several philosophers and theologians' thoughts. The results of this study showed that faith in Jesus Christ enables people to accept suffering positively. Suffering can bring to awareness of human limitations, awareness that suffering can be turned into strength, raise a sense of optimism for a better future, and awaken solidarity.Abstrak. Pandemi Covid-19 telah membuat manusia menderita. Penderitaan manusia itu sendiri telah mengundang banyak pertanyaan terhadap kemahatahuan dan kemahakuasaan Allah, yang sering dikenal dengan persoalan teodise. Tulisan ini adalah sebuah usaha untuk mempertanggungjawabkan jalan-jalan Tuhan atas penderitaan manusia. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah studi literatur dengan melakukan analisis reflektif dari beberapa pemikiran filsuf dan teolog. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa iman kepada Yesus Kristus membuat orang dapat menerima penderitaan secara positif. Penderitaan dapat mengajarkan kesadaran akan keterbatasan manusiawi, kesadaran bahwa penderitaan dapat diubah menjadi kekuatan, bangkitnya rasa optimis akan masa depan yang lebih baik, dan bangkitnya solidaritas

    Analisis Kepemimpinan dalam Gereja: Studi Perbandingan Kepemimpinan Gereja Protestan dan Gereja Pentakostal

    No full text
    Abstract. This research aimed to prove that leadership in the church plays an important role in creating a healthy and dynamic church life. This research is a field research using a combination of qualitative and quantitative methods. The results showed that there are differences in leadership between the Indonesian Protestant Christian Church (GKPI) and the Indonesian Holy Pentecostal Church (GEPKIN), where the leadership style in GKPI is transformational, while leadership in GEPKIN applies more spiritual leadership/pastoral leadership style. The difference in leadership style shows that the leadership style must be relevant to the characteristics of the church to be able to create a healthy and dynamic church life.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa kepemimpinan di gereja memegang peranan penting dalam menciptakan sebuah organisasi untuk mewujudkan kehidupan gereja yang sehat dan dinamis. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan gabungan antara metode kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kepemimpinan antara Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) dan Gereja Pantekosta Kudus Indonesia (GEPKIN), di mana gaya kepemimpinan di GKPI adalah transformasional, sedangkan kepemimpinan di GEPKIN lebih menerapkan gaya kepemimpinan rohani/kepemimpinan pastoral. Perbedaan gaya kepemimpinan tersebut menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan harus relavan dengan karakteristik gereja untuk dapat mewujudkan kehidupan gereja yang sehat dan dinamis

    [Resensi Buku] Intergenerational Christian Formation

    No full text

    Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Penghayatan Seksualitas Mahasiswa Calon Imam di Seminari Tinggi

    No full text
    Abstract. The education of candidates for the priesthood at the Major Seminary aims to produce priests who are qualified according to the expectations of the Church, namely serving God and others in total self-devotion. For this reason, priests voluntarily embrace celibacy. This choice is not without obstacles, therefore through spiritual formation in the seminary, prospective priests cultivate self-maturity to be able to live their sexual life correctly and healthily. This research aimed to explain the correlation of spiritual formation in seminary on the sexuality appreciation of prospective priests. The method used in this research was descriptive quantitative statistical analysis of 30 students at St. Mikhael Major Seminary Kupang. From this study it can be concluded that the longer the formation period, the higher the spiritual intelligence and healthy sexuality appreciation of the prospective priests.Abstrak. Pendidikan calon imam di Seminari Tinggi bertujuan untuk menghasilkan imam-imam yang berkualitas sesuai harapan Gereja, yaitu melayani Tuhan dan sesama dalam pengabdian diri yang total. Untuk itu imam secara sukarela menganut hidup selibat. Pilihan ini bukanlah tanpa tantangan karena itu melalui pembinaan di seminari, calon imam mengolah kematangan diri agar mampu menghayati kehidupan seksualnya secara benar dan sehat. Penelitian ini diadakan untuk dapat menjelaskan pengaruh pembinaan kerohanian di seminari terhadap penghayatan seksualitas calon imam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik kuantitatif deskriptif terhadap 30 mahasiswa di Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa semakin lama masa pembinaan, semakin tinggi pula kecerdasan spiritual dan penghayatan seksualitas yang sehat dari para calon imam

    Memahami Psikologi Perkembangan Remaja sebagai Upaya Merencanakan Pelayanan Pastoral yang Peka Kesehatan Mental Remaja

    No full text
    Abstract. Teenage years are a phase in which humans experience significant changes in their physical, psychosocial, and spiritual aspects. If these changes are not addressed wisely and if teenagers also experience external pressures, it will certainly have an impact on mental health. Teenagers are vulnerable to mental health disorders, such as stress and depression, and even attempt to harm themselves to suicide. The Church's concern is to conduct a pastoral service that is contextual and relevant to the struggles of teenagers as members of the congregation to help teenagers' mental health by focusing on their psychological development. A literature study approach was used to analyze data on the urgency of teenage mental health as well as teenage mental health from the perspective of teenage developmental psychology. The study found that a youth-friendly pastoral service is a pastoral action that is sensitive to teenagers’ mental health.Abstrak. Masa remaja adalah sebuah fase kehidupan di mana manusia mengalami perubahan-perubahan yang signifikan dalam dirinya terkait fisik, psiko-sosial, dan spiritual. Jika perubahan-perubahan tersebut tidak disikapi dengan bijak, dan jika remaja juga mengalami tekanan-tekanan di luar dari dirinya, maka tentu akan berdampak pada kesehatan mental. Remaja akan rentan terhadap gangguan kesehatan mental seperti stres, depresi, bahkan upaya menyakiti dirinya sendiri hingga tindakan bunuh diri. Keprihatinan Gereja ialah melakukan suatu pelayanan pastoral yang kontekstual dan relevan bagi pergumulan remaja sebagai anggota jemaat dalam menolong kesehatan mental remaja dengan memperhatikan perkembangan psikologi dari remaja. Pendekatan studi pustaka digunakan untuk menganalisis data mengenai urgensi dari kesehatan mental remaja, dan juga kesehatan mental remaja dari perspektif psikologi perkembangan remaja. Kajian tersebut menemukan  sebuah pelayanan pastoral yang bersahabat kepada remaja menjadi aksi pastoral yang peka akan kesehatan mental remaja

    Evaluasi Program Sekolah Minggu Dengan Menggunakan Model Evaluasi CSE-UCLA

    No full text
    Abstract. As a form of non-formal education, Sunday School should also undergo evaluation procedures like educational programs in general. The results of this evaluation are very useful as information and a basis for developing the program in the future. Currently, there are many program evaluation models that can be utilized by program managers. One of them is the CSE-UCLA model. Therefore, the aim of this research is to see the effectiveness of using the CSE-UCLA model evaluation approach to evaluate the Sunday School program. The research method used in this research is a qualitative method. The result of the research showed that the CSE-UCLA evaluation model can be effectively used to evaluate educational programs, including education that has a religious spiritual atmosphere.Abstrak. Sebagai satu bentuk pendidikan nonformal, Sekolah Minggu semestinya juga menjalani prosedur evaluasi sebagaimana program pendidikan pada umumnya. Hasil evaluasi tersebut sangat berguna sebagai informasi dan pijakan dalam pengembangan program tersebut di masa yang akan datang. Pada masa kini ada banyak model evaluasi program yang dapat dimanfaatkan oleh pengelola program. Salah satu di antaranya adalah model CSE-UCLA. Karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk melihat efektivitas penggunakan pendekatan evaluasi model CSE-UCLA untuk mengevaluasi program Sekolah Minggu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model evaluasi CSE-UCLA dapat secara efektif digunakan untuk mengevaluasi program pendidikan, termasuk pendidikan yang bernafaskan spiritual keagamaan

    Natal sebagai Peristiwa Historis: Menelusuri Sejarah Natal 25 Desember

    No full text
    Abstract. Christmas of Jesus Christ is an annual celebration whose history is often neglected. As an important part of the ecclesiastical calendar, writings about Christmas usually revolve around reinterpreting Christmas theologically. This article will review the Christmas of Jesus Christ from a historical perspective by examining ecclesiastical documents from the past as an effort to find historical evidence regarding the Christmas event of Jesus Christ on December 25. By analizing historical documents, it was showed that Christmas on December 25 was recorded in early church documents and was not merely the result of acculturation from pagan culture, thus making the church have a basis for celebrating Christmas in accordance with Divine time pattern.Abstrak. Natal Yesus Kristus adalah perayaan tahunan yang sejarahnya sering diabaikan. Sebagai bagian penting dalam kalender gerejawi, tulisan tentang Natal biasanya berkutat tentang pemaknaan ulang mengenai Natal secara teologis. Tulisan ini akan mengulas Natal Yesus Kristus dari perspektif historis dengan meneliti dokumen-dokumen gerejawi dari masa lalu sebagai usaha mencari dan menemukan bukti-bukti sejarah tentang peristiwa Natal Yesus Kristus pada tanggal 25 Desember. Dengan memperhatikan dokumen-dokumen sejarah yang tersedia, didapati hasil dari penelitian ini adalah penetapan Natal 25 Desember sudah tercatat dalam dokumen gereja mula-mula dan bukan semata-mata hasil akulturasi dari budaya pagan, sehingga membuat gereja memiliki dasar untuk merayakan Natal sesuai dengan tata pola waktu Ilahi

    Teologi Keanggotaan Gereja di Era Digital

    No full text
    Abstract. Churches of the reformation tradition interpret church membership juridically. The question arises, what about church membership in the digital age? In the digital era, a person can become a member of another church's digital channel, besides remaining a juridical member of the original church, and can even participate in the fellowship of worship and service through the online church channel. This paper aimed to show reflectively that the church needs to interpret its existence in the digital era by revisiting its membership theology. The approach used in this research is qualitative with phenomenological methods. The findings of this study showed that the choice of human subjectivity and connectivity factors determine church membership in the digital era. In the end, it is concluded that the idea of discipleship can bring together aspects of church legitimacy and subjective human choice.Abstrak. Gereja-gereja dengan latar belakang tradisi reformasi memaknai keanggotaan gereja secara yuridis. Muncul pertanyaan, bagaimana dengan keanggotaan gereja di era digital? Di era digital seseorang bisa menjadi anggota pada channel digital gereja lain, selain tetap menjadi anggota secara yuridis dari gereja asal, bahkan dapat berpartisipasi dalam persekutuan ibadah dan pelayanan melalui channel gereja online tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan secara reflektif bahwa gereja perlu memaknai keberadaannya di era digital dengan melihat kembali teologi keanggotaannya. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini ialah kualitatif dengan metode fenomenologi. Temuan dałam penelitian ini menunjukkan bahwa faktor pilihan subjektivitas manusia dan konektivitas turut menentukan keanggotaan gereja di era digital. Pada akhirnya disimpulkan bahwa gagasan murid dapat mempertemukan aspek legitimasi gereja dan pilihan subjektif manusia

    109

    full texts

    277

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇