DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Not a member yet
    277 research outputs found

    Pentakostalisme dan Aksi Sosial: Analisis Struktural Kisah Para Rasul 2:41-47

    Get PDF
    Abstract. The Pentecostal Movement is a Christian movement that puts the power and work of the Holy Spirit at the first place. This movement sought to bring back the biblical Christianity as experienced by the early church. As the early church experienced a rapid growth of new souls, so it is with today's Pentecostal churches. The problem that arises is often in the effort to win the soul there is a dichotomy between power ministry, as emphasized by the Pentecostal movement, with social action. Some churches emphasize only one aspect of the ministry. Through a structural analysis approach to Acts 2: 41-47 the researcher seeks to find the ideal formulation in an attempt to win souls as in the experience of the early church. Through this approach the result is that the power ministry and social action must be carried out by the church at the same time and in balance that ultimately make the effort to win souls effectively.Abstrak. Gerakan Pentakostalisme adalah gerakan orang Kristen yang mengutamakan kuasa dan karya Roh Kudus. Gerakan ini berusaha untuk mengembalikan kekristenan yang Alkibiah sebagaimana yang dialami oleh gereja mula-mula. Sebagaimana gereja mula-mula yang mengalami pertumbuhan jiwa baru yang pesat, demikian halnya dengan gereja-gereja Pentakosta masa kini yang juga mengalaminya. Permasalahan yang muncul adalah seringkali dalam usaha untuk memenangkan jiwa ada dikotomi antara pelayanan dengan kuasa, sebagaimana yang ditekankan oleh gerakan Pentakostalisme, dengan aksi sosial. Beberapa gereja menekankan hanya pada satu segi dari pelayanan tersebut. Melalui pendekatan analisis struktural terhadap Kisah Para Rasul 2:41-47 peneliti hendak mencari formulasi yang ideal dalam usaha untuk memenangkan jiwa sebagaimana pengalaman gereja mula-mula. Melalui pendekatan tersebut diperoleh hasil bahwa pelayanan kuasa dan aksi sosial harus dijalankan oleh gereja secara bersamaan dan seimbang yang pada akhirnya membuat usaha untuk memenangkan jiwa berlangsung secara efektif

    Persinggungan Agama dan Politik dalam Teror: Menuju Terbentuknya Teologi Spiritualitas Politik dalam Konteks Maraknya Terorisme di Indonesia

    Get PDF
    Abstract. This article tries to explore the theological model of political spirituality in the context of terrorism in Indonesia. This search is done using the literature study method. In the process, the authors found that each age has a pattern or model of theology of their respective political spirituality. But in the present, by elaborating on the results of literature studies and paying attention to the context of terrorism in Indonesia and the historical journey of theological view of political spirituality in the church, the author shows that we need to pay attention to the five foundations of political spirituality theology, namely to realize a secular faith, promote moral values and political mediation, love justice and peace, serve the public interest, rule through service and love. These five foundations are expected to respond to various terrorism in Indonesia.Abstrak. Artikel ini mencoba menelusuri model teologi spiritualitas politik dalam konteks maraknya terorisme di Indonesia. Penelusuran ini dilakukan dengan menggunakan metode studi pustaka. Dalam prosesnya, penulis menemukan bahwa setiap zaman memiliki corak atau model berteologi spiritualitas politiknya masing-masing. Namun pada masa sekarang, dengan mengelaborasi hasil studi pustaka dan memperhatikan konteks terorisme di Indonesia serta perjalanan sejarah pandang teologi spiritualitas politik di gereja, penulis menunjukkan kita perlu memperhatikan lima fondasi teologi spiritualitas politik yaitu mewujudkan iman yang sekular, mengusung nilai-nilai moral dan mediasi politik, mencintai keadilan dan perdamaian, mengabdi kepentingan umum, berkuasa melalui pelayanan dan kasih. Kelima fondasi ini diharapkan dapat menanggapi berbagai terorisme di Indonesia

    Analisis Pertanyaan Retorika dalam Ayub 40:1-28

    Get PDF
    Abstract. The purpose of the analysis of the rhetorical question in Job 40: 1-28 is to look at theological and practical implications. Theologically: 1) Everything under God's control. Including Job with all the agonizing suffering he experienced remained under God's control; 2) Keep believing in God even if you do not feel His physical presence; 3) Behind the suffering of the righteous man is the divine will of God. God never allows anything to happen to believers, without God's purpose in it. In suffering there is God's gracious will, in God's will, there is His grace. So believers can reach His great purpose and plan. Practically: 1) God is big, strong and we are small, weak. Let believers  keep giving thanks to God even in suffering, then pray (ask) to God for strengthening us when we face the tests of faith; 2) Live honestly and humbly. Do not despise or judge a person for not having the spiritual experience that Ayub once experienced. For the Lord opposes the proud and the pity of the humble; 3) Rely completely on God. In both temptation and suffering, there is nothing better that believers can do than always depend entirely on God.Abstrak. Tujuan analisis pertanyaan retorika dalam Ayub 40:1-28 ini adalah untuk melihat implikasi teologis dan praktis. Secara teologis: 1) Segala sesuatu di bawah penguasaan dan kendali Tuhan. Termasuk juga Ayub dengan segala penderitaan berat yang dialaminya tetap berada di bawah penguasaan dan kendali Tuhan; 2) Tetaplah percaya pada Tuhan walau tidak merasakan kehadiran-Nya secara fisik ; 3) Di balik penderitaan orang saleh terkandung kehendak Allah yang rahmani. Tuhan tidak pernah mengizinkan sesuatu menimpa orang percaya, tanpa maksud Tuhan di dalamnya. Di  dalam penderitaan ada kehendak Tuhan yang rahmani, di dalam kehendak Tuhan ada anugerah-Nya, sehingga orang percaya bisa mencapai maksud dan rencana-Nya yang agung. Secara praktis: 1) Tuhan itu besar, kuat dan manusia kecil, lemah. Hendaklah orang percaya tetap bersyukur kepada Tuhan sekalipun dalam penderitaan dan berdoalah (mintalah) kepada Tuhan agar Ia menguatkan saat-saat menghadapi ujian-ujian iman; 2) Hiduplah jujur dan rendah hati. Janganlah memandang rendah atau menghakimi seseorang karena tidak memiliki pengalaman rohani seperti yang dialaminya. Sebab Tuhan menentang orang sombong dan mengasihani orang yang rendah hati; 3) Bergantunglah sepenuhnya kepada Allah. Dalam pencobaan maupun penderitaan, tidak ada yang lebih baik yang dapat dilakukan orang percaya selain bergantung sepenuhnya kepada Allah

    “Menjadi Sesama Manusia” Persahabatan sebagai Tema Teologis dan Implikasinya Bagi Kehidupan Bergereja

    Get PDF
    Abstract. This article shows that conceptually friendship is not something new. It has been around since someone was born, knowing himself and others. The concept of friendship has been known in the ancient world as well as many philosophers such as Aristotle, Derrida and Levinas has discussed about. The concept of friendship can also be found in the texts of Scripture. In fact, the church often fails to build encounters with other religions / faiths, resulting in tension between the church and other faiths. Therefore, this paper will show that friendship is not just a concept or important theological theme, but rather related to praxis, which is the action of someone in the encounter with others. In this context the Church is called to be a community that treats everyone as a friend, as a fellow human being created by God.Abstrak. Artikel ini memperlihatkan bahwa secara konseptual, persahabatan bukanlah sesuatu yang baru. Ia telah ada sejak manusia lahir, mengenal diri dan orang lain. Konsep persahabatan telah dikenal dalam dunia kuno serta banyak disinggung oleh para filsuf seperti Aristoteles, Derrida, dan Levinas. Konsep dan contoh persahabatan juga dapat ditemukan dalam teks-teks Alkitab. Pada praktiknya, gereja seringkali gagal dalam membangun perjumpaan dengan agama/ iman lainnya sehingga berakibat munculnya ketegangan hubungan antara gereja dengan penganut agama lainnya. Oleh karena itu, tulisan ini akan memperlihatkan bahwa persahabatan bukan sekadar konsep atau tema teologis yang penting, melainkan berkaitan dengan praksis, yaitu tindakan seseorang dalam perjumpaan dengan orang lain. Dalam konteks inilah gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang memperlakukan setiap orang sebagai sahabat, sebagai sesama manusia ciptaan Allah

    Studi Tokoh Debora dalam Kitab Hakim-Hakim 4-5: Menjawab Isu Kontemporer Kepemimpinan Wanita Dalam Organisasi Kristen

    Get PDF
    Abstract. The most dominant issue in contemporary leadership is gender issues. The position of men is considered more special than women. This view has led to the emergence of discriminatory practices against women, not least in the world of Christianity. The views of conservative theologians in relation to the realm of leadership are not so different from the above. The stereotype is often a strong reason for restricting or forbidding women to become leaders. Through this study, the author analyzes some important sections of the text from Judge 4-5 through the character analysis method, to answer the polemic and to the understanding that the effectiveness of a leader is not based on gender. Through this analysis the result is that there is no partiality to one gender in the election of a leader in the midst of God's people.Abstrak. Isu yang paling dominan dalam kepemimpinan kontemporer adalah isu gender. Kedudukan laki-laki dipandang lebih istimewa dibandingkan perempuan. Pandangan tersebut menyebabkan munculnya praktik diskriminasi terhadap kaum perempuan, tidak terkecuali dalam dunia Kekristenan. Pandangan para teolog konservatif sehubungan dengan ranah kepemimpinan, tidak berbeda jauh dengan pandangan tersebut di atas. Stereotype tersebut seringkali menjadi alasan yang kuat untuk membatasi atau melarang wanita untuk menjadi pemimpin. Melalui penelitian ini, penulis menganalisis beberapa bagian teks yang penting dari Kitab Hakim-hakim 4-5 melalui metode analisis tokoh, untuk menjawab polemik tersebut dan pemahaman bahwa keefektifan seorang pemimpin, tidak berdasarkan pada gender. Melalui analisis tersebut diperoleh hasil bahwa tidak ada keberpihakan terhadap satu gender dalam terpilihnya seorang pemimpin di tengah-tengah umat Allah

    Peranan Kejawen dan Islam dalam Praktik Ziarah serta Upacara Labuhan di Parangkusuma, Yogyakarta

    Get PDF
    Abstract. The relation between Islam and Javanese tradition is seen at a case of a pilgrimage and ritual of Labuhan at a beach of Parangkusuma, Yogyakarta. This ritual is well-known, and even became a tourism agenda, so is tha pilgrimage. The legend of a myth character like Kanjeng Ratu Kidul was engaged firmly with the kings and citizens of Mataram, specially Yogyakarta palace. In the ritual of Labuhan and pilgrimage (usually holds on Tuesday and Kliwon of Friday) in Parangkusuma showed two interested phenomenons about Islam and Kejawen interaction. There was an opinion that Islam and Kejawen interaction is a parallelism. This article used a descriptive method to explain that phenomenon. The conclusion is, the relation occurred in the practice of ritual of Labuhan and pilgrimage is a parallelism, what brought a certain understanding about Javanese, spesifically in relation with religion.Abstrak. Hubungan Islam dan Kejawen terlihat pada kasus perziarahan dan upacara labuhan di pantai Parangkusuma, Yogyakarta. Upacara labuhan cukup dikenal banyak orang bahkan menjadi agenda wisata untuk menarik wisatawan, demikian pula perziarahan. Legenda tentang tokoh mitos Kanjeng Ratu Kidul sangat erat hubungannya dengan para raja dan rakyat Mataram, khususnya keraton Yogyakarta. Dalam upacara labuhan dan perziarahan (yang biasanya dilakukan pada setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon) di Parangkusuma memperlihatkan fenomena yang menenarik untuk melihat interaksi yang terjadi antara Islam dan Kejawen. Ada pendapat yang mengatakan bahwa interaksi yang terjadi antara Islam dan Jawa pada perhelatan tersebut adalah sebuah parallelisme. Artikel ini menggunakan metode deskriptif pada fenomena yang ada di Parangkusuma Kesimpulannya adalah, interaksi yang terjadi merupakan sebuah parallelisme, yang membawa pemahaman tertentu tentang Jawa, khususnya dalam hubungan dengan agama

    Memaknai Pentakostalisme dalam Maksud Politis Lukas: Analisis Kisah Para Rasul 1:6-8

    Get PDF
    Abstract. The theology of Pentecostal is often assumed as a mere theology which related to the spiritual life, so that thinking about involvement in secular’s life is absolutely a worldliness. Pentecostalisme isn’t designed to obtain a mere spiritual implication, but also a study which arranged in a political situation with author’s political aims. The method used in this article is an analytical text on The Acts 1:6-8, and Pentecostalism descriptive, both philosophical and tehologically. The result of this analysis found that Pentecostalism keyword is a personal dynamization to a bigger political dynamization, such a nationality.Abstrak. Teologi Pentakosta seringkali dianggap sebagai sebuah teologi yang hanya berkaitan dengan kehidupan dunia roh, sehingga memikirkan keterlibatan dalam dunia profan adalah sebuah keduniawian. Pentakostalisme tidak disusun untuk sekadar memperoleh implikasi rohani, melainkan juga sebuah risalah yang disusun dalam suasana politis dengan maksud-maksud politis dari penulis. Metode dalam penelitian ini adalah analisis teks pada Kisah Para Rasul 1:6-8, dan deskripsi Pentakostalisme, baik secara teologis maupun filosofis. Hasil dari pembahasan menemukan bahwa Pentakostalisme sebagai sebuah dinamisasi personal untuk mengalami perubahan yang lebih besar dalam ranah politik, yaitu nasionalisme

    Analisis Historis terhadap Teologi Gerakan Pentakostalisme

    Get PDF
    Abstract. The purpose of this paper is to explain the historical developments, doctrines and behaviors that appear in every Pentecostal movement, so that we can distinguish between the First Wave movement, the Classical Pentecost, the Second Wave Movement, the Charismatic Movement, the Third Wave Movement, the Sign Movement and the Miracles, and Fourth Wave Movement, New Apostolic Reformation Movement (NAR). The method in this study is the study of historical analysis on the history of the development of each wave movement Pentecostalism. Through the analysis it is concluded that every wave of the Pentecostal movement is a movement that comes from God, through the work of His Holy Spirit. Although in practice there is a distorted phenomenon, but can not be generalized and then assume everything is heretical.Abstrak. Tujuan penulisan ini adalah menjelaskan sejarah perkembangan, doktrin dan perilaku yang muncul setiap gerakan Pentakostalisme, sehingga kita dapat membedakan antara gerakan Gelombang Pertama, Pentakosta Klasik, Gerkan Gelombang Kedua, Gerakan Kharismatik, Gerakan Gelombang Ketiga, Gerakan Tanda-tanda dan Mujizat-mujizat, dan Gerakan Gelombang Keempat, Gerakan New Apostolic Reformation (NAR). Metode dalam penelitian ini adalah penelitian analisis historis terhadap sejarah perkembangan setiap gerakan gelombang Pentakostalisme. Melalui analisis tersebut disimpulkan bahwa setiap gelombang gerakan Pentakostalisme adalah sebuah gerakan yang berasal dari Tuhan, melalui karya Roh Kudus-Nya. Meskipun dalam praktiknya ditemukan fenomena yang menyimpang, namun tidak dapat digeneralisasikan dan kemudian menganggap semuanya sesat

    Sebuah Analisis Terhadap Problematika Ajaran Restorasi Berkaitan Dengan Konsep Bumi Baru

    Get PDF
    Abstraks. The second coming of Christ is an event inalienable to mankind. In addition to declaring punishment for unbelievers, His second coming also fulfils the presence of a new heaven and earth in which the righteous will reign with Christ forever. Of this, the Bible records that "the heavens shall vanish with a great rumbling, and the elements of the world shall burn in the flames, and the earth and all that is therein shall pass away." But on the other hand, the view of restoration clearly teaches that the old heavens and the earth will not be totally destroyed, but renewed. Thus the problem arises: how could both of these things - the biblical concept of the new earth and the doctrine of restoration - be a harmonious truth? This paper seeks to explain and discuss the problematic teaching of the restoration in relation to the concept of the new earth. Through this paper the author hopes to elaborate the problematic of this topic clearly, especially regarding the alleged contradictions that exist. In addition, critical analysis is conducted to produce responsible solutions that contribute significantly to the study of eschatology, in which the authors believe that the teaching of restoration and the concept of the new earth is a harmonious and biblical truth.Abstrak. Kedatangan Kristus kedua kali merupakan peristiwa yang tidak dapat dielakkan oleh umat manusia.  Selain untuk menyatakan penghukuman bagi orang yang tidak percaya, kedatangan-Nya yang kedua juga menggenapi hadirnya langit dan bumi yang baru di mana orang benar akan memerintah bersama dengan Kristus selama-lamanya.  Mengenai hal ini, Alkitab mencatat bahwa “langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.”  Namun di sisi yang lain, pandangan restorasi dengan jelas mengajarkan bahwa langit dan bumi yang lama tidak akan dihancurkan secara total, melainkan diperbaharui.  Dengan demikian timbul masalah: bagaimana mungkin kedua hal ini – konsep Alkitab tentang bumi yang baru dan ajaran restorasi – merupakan kebenaran yang harmonis?    Tulisan ini berusaha memaparkan dan mendiskusikan problematika ajaran restorasi berkaitan dengan konsep bumi yang baru.  Melalui tulisan ini penulis berharap dapat menguraikan problematika topik ini dengan jelas, khususnya mengenai dugaan kontradiksi yang ada.  Selain itu, analisis kritis yang dilakukan diharapkan menghasilkan solusi yang bertanggungjawab sehingga memberikan kontribusi yang signifikan bagi studi eskatologi, dimana penulis meyakini bahwa ajaran restorasi dan konsep bumi baru merupakan kebenaran yang harmonis dan alkitabiah

    Pertobatan di Dalam Philokalia: Artikel Ulasan

    Get PDF
    Abstract. This is a review article of repentance according to the writers of Philokalia. Philokalia is a collection of texts written between the fourth and fifteenth centuries by monks and Church Fathers from the Orthodox Christian tradition. Repentance is a process of renewing the inner man with tears so that the outer man is being process of holy before God and mature in Christ. There are two main points of the review: the process of repentance and the results of repentance. The process of repentance is the renewal of NOUS to Christ's maturity so that our NOUS or the intellect is not subject to the body or the desires of the flesh. The result of repentance is the sanctity of life and baptism in truth.Abstrak. Artikel ini adalah sebuah ulasan tentang pertobatan menurut pandangan para Bapa Gereja dalam buku Philokalia. Philokalia adalah kumpulan teks yang ditulis antara abad keempat sampai kelima belas oleh para rahib dan Bapa Gereja dalam tradisi Kristen Ortodoks. Pertobatan adalah suatu proses pembaruan manusia batiniah dengan air mata sehingga manusia lahiriah kembali menjadi kudus di hadapan Allah menuju kedewasaan ke arah Kristus. Ada 2 hal pokok pembahasan yaitu proses pertobatan dan hasil pertobatan. Proses pertobatan adalah pembaruan NOUS menuju kedewasaan seperti Kristus sehingga NOUS atau the intellect kita tidak takluk pada tubuh atau keinginan daging. Hasil pertobatan adalah kesucian hidup di dalam kebenaran dan pengudusan baptisan

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇