DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
Efikasi Misa Online sebagai Sakramen Keselamatan pada Masa Pandemi Covid-19: Kritik Naratif Markus 5:25-34
Abstract. The emergency situation due to the Covid-19 pandemic has forced Catholics to worship by attending online mass. Although it is seen as a quick and responsive solution for the Church, many have questioned the efficacy or usefulness of online mass as a means and sign of God's salvation for His people. This paper provides an explanation of the efficacy of online mass as a sacrament of salvation by using the text Mark 5:25-34 about a haemorrhaging woman suffering who received miracles of healing after touching the garment of Jesus. This study was conducted by Narrative Criticism with the Exegetical Symbol Analysis approach. The analogy of the miracle of healing obtained by touching the robe of Jesus provides an understanding that the efficacy of online mass as a sacrament of salvation continues to work even though it is not experienced directly or in distance.Abstrak. Kondisi darurat akibat pandemi Covid-19 memaksa umat Katolik beribadah dengan mengikuti misa secara online. Walaupun dipandang sebagai solusi cepat dan tanggap Gereja, banyak yang mempertanyakan efikasi atau daya guna misa online sebagai sarana dan tanda keselamatan Tuhan bagi umat-Nya. Tulisan ini memberi penjelasan tentang efikasi misa online sebagai sakramen keselamatan dengan menggunakan teks Markus 5:25-34 tentang perempuan penderita pendarahan yang memeroleh mukjizat penyembuhan setelah menyentuh jubah Yesus. Metode yang digunakan adalah Kritik Naratif dengan pendekatan Eksegese Analisis Simbol. Analogi mukjizat penyembuhan yang diperoleh hanya dengan menjamah jubah Yesus memberikan pemahaman bahwa efikasi misa online sebagai sakramen keselamatan tetap bekerja walaupun tidak dialami secara langsung alias berjarak
WhatsApp Group Sebagai Ruang Percakapan Pastoral di Masa Pandemi Covid-19
Abstract. This study discussed pastoral activities during the Covid-19 pandemic through WhatsApp group as pastoral space. It investigated group-based communication in WhatsApp based on a survey toward the Catholic Family Ministry in the Diocese of Malang. The result was that the conversations in the WhatsApp group in form of reflections, shared links, inspiration, prayers, and information showed that the ecclesiastical community has the courage to be present and involved in human life today. Conversations in WhatsApp groups taught and shared Christian values that opposed to individualism, consumerism, and hedonism, as well as to be a space to proclaim the values of Christian life, namely: love, care, fellowship, justice, peace, solidarity, sharing and living hopefully to God the source of life.Abstrak. Penelitian ini mendiskusikan aktivitas pastoral selama masa pandemi Covid-19 yang menggunakan WhatsApp group sebagai ruang pastoral. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Studi ini mensurvey percakapan yang terjadi di Whatsapp group komunitas Catholic Family Ministry Keuskupan Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa percakapan dalam WhatsApp group berupa renungan, share link, inspirasi, doa, dan informasi menunjukkan bahwa komunitas gerejawi berani hadir dan terlibat dalam hidup manusia pada masa kini. Percakapan dalam WhatsApp group menampilkan nilai Kristiani yang melawan individualisme, konsumerisme dan hedonism di ruang digital, dan sebaliknya, menjadi ruang menyuarakan nilai-nilai kehidupan Kristiani, yaitu: cinta kasih, perhatian, persekutuan, keadilan, perdamaian, solidaritas, berbagi serta hidup penuh pengharapan kepada Allah Sang Sumber Hidup
Analisis Bahasa Kitab Kidung Agung: Suatu Upaya Melacak Peredaksian
Abstract. The results of previous research on the book of Song of Songs showed a significant difference of opinion among the scholars regarding the book's final editorial. This research aimed to trace the final period of the editorial of the Song of Songs based on Hebrew characteristics according to the period of development as stated by experts. The authors use a language research method that includes the phoneme, morphology, and syntax aspects to trace the final stage of the editor of the book of Song of Songs. The results of the analysis showed that the Song of Songs shows characteristics from ancient Hebrew to post-exilic and is heavily influenced by other languages such as Aramaic, Persian, and Greek. The fact showed that the book Song of Songs has a revision of language and contextualitation through a very long period and the final editorial is at least settled in the Persian-Greek period.Abstrak. Hasil penelitian terdahulu terhadap kitab Kidung Agung menunjukkan perbedaan pendapat yang signifikan di antara para ahli mengenai redaksi akhir kitab tersebut. Penelitian ini bertujuan menelusuri periode akhir redaksi kitab Kidung Agung dengan didasarkan pada ciri-ciri bahasa Ibrani sesuai periode perkembangannya sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para ahli. Penulis menggunakan metode penelitian bahasa yang meliputi aspek fonem, morfologi dan sintaksis untuk menelusuri tahap akhir redaksi kitab Kidung Agung. Hasil analisis menunjukkan bahwa kitab Kidung Agung menunjukkan ciri dari bahasa Ibrani kuno hingga pasca-pembuangan serta banyak dipengaruhi oleh bahasa lainnya seperti Aram, Persia dan Yunani. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kitab Kidung Agung mengalami revisi bahasa dan kontekstualisasi lewat periode yang sangat panjang dan redaksi akhir setidaknya diselesaikan pada periode Persia-Yunani
Membangun Spiritualitas Digital bagi Generasi Z
Abstract. Generation Z is a generation that is close to digital technology, so the use of digital space as a teaching tool is important for churches to do. The dichotomy of sacred and profane often colors the perception of the church in seeing the digital space, so that digital space has not been fully utilized. This research was intended propose the suitable digital spirituality for generation Z. This study was conducted by literature study. Through this study it could be concluded that cyberspace has become part of the generation Z spirituality, although the interactions and conversations in it are not always spiritually charged, therefore, the church needs to be involved in it to be able to provide guidance to generation Z.Abstrak. Generasi Z adalah generasi yang dekat dengan teknologi digital, sehingga penggunaan ruang digital sebagai sarana pengajaran menjadi penting untuk dilakukan oleh gereja. Dikotomi sakral dan profan seringkali mewarnai persepsi gereja dalam memandang ruang digital, sehingga ruang digital belum dimanfaatkan dengan maksimal. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengusulkan spiritualitas digital yang tepat bagi generasi Z. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah studi literatur. Melalui kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa cyberspace telah menjadi bagian dari spiritualitas generasi Z, meskipun interaksi dan percakapan di dalamnya tidak selalu bermuatan rohani, sehingga gereja perlu ikut terlibat di dalamnya untuk dapat memberikan bimbingan kepada generasi Z
Tampa Garam: Konsep Pendidikan Kristen Kontekstual di Maluku
Abstract. This article offers a medium for Christian Education that was born from the traditions and customs that exist in the life of Christian families in Maluku. The Christian Education Media is the tradition tampa garam, which is a tradition of conversation at the food table in the culture of the Maluku people. This tradition has been adopted by Christian families in Maluku as a medium for conveying Christian values to children. Through a qualitative approach and literature study, it could be concluded that the tampa garam tradition contains values that are in harmony with Christian teachings such as love, peace, harmony, and reconciliation.Abstrak. Artikel ini menawarkan salah satu media Pendidikan Kristen yang lahir dari tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam kehidupan keluarga Kristen di Maluku. Media Pendidikan Kristen yang dimaksud adalah tradisi tampa garam, yang merupakan tradisi percakapan di meja makan dalam kebudayaan masyarakat Maluku. Tradisi ini telah diadopsi oleh keluarga-keluarga Kristen di Maluku sebagai media penyampaian nilai-nilai Kekristenan kepada anak-anak. Melalui pendekatan kualitatif dan studi kepustakaan dapat disimpulkan bahwa tradisi tampa garam mengandung nilai-nilai yang selaras dengan ajaran-ajaran Kristiani seperti kasih, kedamaian, keharmonisan, dan rekonsiliasi
Maksud Yesus dalam Peristiwa Baptisan: Sebuah Tanggapan Teologis terhadap Marcus J. Borg
Abstract. Jesus’ baptism does not only refer to His divine role, but moreover to His divine identity. This is a theological declaration that He is God. However, Marcus J. Borg asserted that Jesus’ baptism was Jesus’ deep spiritual awareness toward spiritual world and the presence of God’s Spirit in His life. This does not indicate His divinity at all. Based on these two contradictory views, a problem remains to be solved: Is Borg’s assumption correct? What is actually Jesus’ true intention in His baptism? This was the focus of the research. This writing exerted to describe particularly Borg’s view on Jesus’ baptism, analyzed and responded to his view according to evangelical perspective. Despite the fact that Borg’s view on Jesus’ baptism has widely garnered support from modern theological readers, his theology is still far from orthodox theology because it was too socio-anthropological based analysis and ignored the Bible as God’s revelation.Abstrak. Baptisan Tuhan Yesus bukan hanya merujuk kepada fungsi jabatan-Nya, tapi lebih daripada itu, yaitu kepada identitas ilahi-Nya. Ini merupakan sebuah deklarasi teologis bahwa Ia adalah Allah. Tetapi Marcus J. Borg menyatakan bahwa baptisan Yesus sebagai sebuah kesadaran spiritual Yesus yang mendalam akan dunia roh dan kehadiran Roh Allah dalam hidup-Nya. Hal ini sama sekali tidak mengindikasikan keilahian-Nya. Mengaitkan kedua pandangan yang bertolakbelakang ini, muncul permasalahan: benarkah asumsi Borg di atas? Apakah sebenarnya yang menjadi intensi Yesus dalam peristiwa baptisan tersebut? Inilah yang menjadi fokus penelitian penulis. Tulisan ini berusaha untuk memaparkan secara khusus pandangan Borg dalam peristiwa baptisan Yesus dan menganalisis serta menanggapi pandangannya menurut perspektif injili. Terlepas dari pandangan Borg yang digemari di kalangan pembaca teologi modern tentang baptisan Yesus, pemikirannya masih jauh dari teologi ortodoks oleh karena terlalu berpijak pada analisis secara sosio-antropologis dan mengabaikan Alkitab sebagai wahyu dari Allah
Pedoman Teori Pedagogis untuk Membaca Teks-teks Kekerasan di dalam Perjanjian Lama
Abstract. This article proposes a guideline of pedagogical theory for reading, understanding, and dealing with violent texts in the Old Testament. This guideline is a collaborative construction of readers being able to place themselves as friends of violent texts in the Old Testament. This study was conducted by elaborating Eric Seibert, Jerome Creach, Leo Perdue, and Matthew Schlimm thoughts in Deuteronomy 7:1-11 reading. The result was this guideline encouraged the readers to critically interpret the text with a sense of responsibility, interpret it constructively and ethically, and to reject the violent justification of the text that has the potential to inspire and motivate violence as well.Abstrak. Artikel ini menawarkan suatu pedoman teori pedagogis untuk membaca, memahami, dan menghadapi teks-teks kekerasan di dalam Perjanjian Lama. Pedoman ini merupakan sebuah rancang bangun kolaboratif dari para pembaca Alkitab yang mampu memposisikan diri mereka sebagai sahabat bagi teks-teks kekerasan di dalam Perjanjian Lama. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan mengelaborasikan pemikiran-pemikiran Eric Seibert, Jerome Creach, Leo Perdue, dan Matthew Schlimm untuk membaca teks Ulangan 7:1-11. Hasilnya, pedoman ini memampukan pembaca untuk menginterpretasi teks secara kritis dan bertanggung jawab, secara konstruktif dan etis, sekaligus menolak pembenaran kekerasan dari teks-teks yang berpotensi untuk menginspirasi dan memotivasi kekerasan
Yesus sebagai Role Model bagi Guru Pendidikan Agama Kristen: Studi Eksposisi Matius 5-7
Abstract. This paper aimed to analyze the teaching model of Jesus in the Sermon on the Mount, in order to provide a teaching paradigm that originates from Jesus himself. This study was conducted by using Matthew 5-7exposition. The exposition resulted several effective ways in which Jesus taught. It can be concluded that Jesus worthy to be called as the Great Teacher, because it was not only the content of His great teachings but also in the way He taught that showed Him as a perfect teacher.Abstrak. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji model pengajaran Yesus dalam Khotbah di Bukit, dalam rangka memberikan paradigma pengajaran yang bersumber dari Yesus sendiri. Kajian ini dilakukan dengan metode eksposisi terhadap Matius 5-7. Dari eksposisi terhadap teks tersebut dihasilkan beberapa cara efektif dalam pengajaran yang dilakukan oleh Yesus. Dapat disimpulkan bahwa Yesus disebut sebagai Guru Agung, oleh karena bukan hanya isi ajaran-Nya yang agung tetapi juga dalam cara-Nya mengajar yang menunjukkan Ia sempurna sebagai seorang guru
Meneropong Pendidikan Kristiani di Era Pascasekularitas
Abstract. This article discusses the Christian Education model in the post-secular era. In the Indonesian context, understood as religion is challenged to learn from secularity so as not to underestimate humanity and profane dimensions of life. The discussion of this model departs from the research question how is the Christian Education model that is relevant in the post-secularity era? The question was discussed by John D. Caputo’s religion theory as the scalpel. The result was that lifestyle spirituality significantly emphasized at the issue of humanity became the core value of the Christian Education model in the post-secular era.Abstrak. Artikel ini mengkaji model Pendidikan Kristiani di era pascasekularitas. Dalam konteks Indonesia, era ini dipahami bahwa agama ditantang untuk belajar dari sekularitas agar tidak menyepelekan kemanusiaan dan dimensi-dimensi profan kehidupan. Pembahasan model ini berangkat dari rumusan masalah bagaimana model Pendidikan Kristiani yang relevan di era pascasekularitas? Rumusan tersebut dikaji melalui teori agama John D. Caputo sebagai sebagai pisau bedahnya. Hasil yang diperoleh dalam kajian ini adalah semangat spiritualitas gaya hidup yang menekankan secara nyata pada persoalan kemanusiaan menjadi nilai pokok model Pendidikan Kristiani di era pascasekularitas
Sebuah Analisis terhadap Problematika Impekabilitas Kristus Berkaitan dengan Realitas Pencobaan yang Kristus Alami
Abstract. Christ's victory over trials is an example, comfort, and assurance of believers' victory over their trials. Regarding His human nature, it was clear that the trials which Christ experienced were real trials. Yet the doctrine of Christ's impeccability, based on His divine nature, affirms that Christ was not only sinless, but could not sin also. From the point the problem arises: how can these two concepts - the reality of Christ's temptation and impeccability - be harmonized? Through a literature review carried out by discussing various opinions, both those that support the impeccability and those that reject it, it was concluded that there was no contradiction between Christ's impeccability and the reality of the trials he experienced. The impeccability of Christ is the essence of his eligibility to be our High Priest.Abstrak. Kemenangan Kristus atas pencobaan merupakan teladan, penghiburan, dan jaminan akan kemenangan orang-orang percaya atas pencobaan yang mereka alami. Berkaitan dengan natur kemanusiaan-Nya, tampak jelas bahwa pencobaan yang Kristus alami adalah pencobaan yang nyata. Namun doktrin impekabilitas Kristus, dengan berpijak pada natur ilahi-Nya, menegaskan bahwa Kristus bukan hanya tidak berdosa, tetapi Ia tidak dapat berdosa. Dengan demikian timbul masalah: bagaimana mungkin kedua hal ini – realitas pencobaan dan impekabilitas Kristus – merupakan kebenaran yang harmonis? Melalui kajian literatur yang dijalankan dengan cara mendiskusikan berbagai pendapat, baik yang mendukung pandangan impekabilitas maupun yang menolak, disimpulkan bahwa tiada kontradiksi antara impekabilitas Kristus dengan realitas pencobaan yang Ia alami. Impekabilitas Kristus sebagai esensi kelayakannya menjadi Imam Agung bagi kita