DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
Evaluasi Program Pembinaan Warga Gereja terhadap Kaum Pemulung
Abstract. The Church Congregation Fostering Program (PWG) is intended to serve and reach congregations, including those who fall into the category of marginalized groups, such as scavengers, to become effective members of the church and society. GMIM Getsemani Sumompo is one of the churches that has a PWG program for scavengers. Thus, this study intends to evaluate the PWG program for scavengers at GMIM Getsemani Sumompo. The evaluation was carried out using the CIPP model (Context, Input, Process, and Product). The results of the evaluation show that the PWG program for scavengers is running quite well but has not fully empowered the scavengers.Abstrak. Program Pembinaan Warga Gereja (PWG) dimaksudkan untuk melayani dan menjangkau jemaat, termasuk mereka yang masuk dalam kategori kelompok marginal, seperti pemulung, untuk menjadi warga gereja dan masyarakat yang berdaya guna. GMIM Getsemani Sumompo adalah salah satu gereja yang memiliki program PWG bagi pemulung. Dengan demikian, penelitian ini bermaksud untuk mengevaluasi program PWG terhadap pemulung di GMIM Getsemani Sumompo. Evaluasi tersebut dilakukan menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, dan Product). Hasil evaluasi menunjukkan program PWG terhadap kaum pemulung berjalan dengan cukup baik, namun belum sepenuhnya dapat memberdayakan kaum pemulung tersebut
Hermeneutika Penyusunan Materi Komsel Gereja Beraliran Pentakostal
Abstract. This study aims to explain the hermeneutic procedure for the preparation of the COOL Youth Supplement and to analyze its suitability with the Pentecostal hermeneutic concept. COOL Youth Supplement is a term for youth cell group material at GBI Gatot Subroto (GBI Gatsu) Jakarta, a church of the Classical Pentecostal. This research was carried out using qualitative methods through a literature study and phenomenology approach. The results showed that the preparation of the GBI Gatsu COOL Youth Supplement was in accordance with the concept of Pentecostal hermeneutics. Except, in the aspect of the study of the genre of the book and the faith professing of the Holy Spirit in the Pentecostal community which has not been applied in the preparation of the GBI Gatsu COOL Youth Supplement.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan prosedur hermeneutika penyusunan Suplemen COOL Youth dan menganalisis kesesuaiannya dengan konsep hermeneutika Pentakostal. Suplemen COOL Youth adalah istilah untuk materi komsel pemuda di GBI Gatot Subroto (GBI Gatsu) Jakarta, sebuah gereja dengan aliran Pentakostal Klasik. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan studi literatur dan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa penyusunan Suplemen COOL Youth GBI Gatsu sesuai dengan konsep hermeneutika Pentakostal. Kecuali, pada aspek studi genre kitab dan kesaksian Roh Kudus dalam komunitas Pentakostal yang belum diterapkan dalam penyusunan Suplemen COOL Youth GBI Gatsu
Siapa yang Bertanggung Jawab atas Tulah Kesepuluh? Sebuah Pertimbangan Etis-Teologis Terhadap Teks Keluaran 11-12
Abstract. The story of the tenth plague in the narrative of the liberation of the Israelites from Egypt in Exodus 11:1-12:36, cannot be used as a paradigm that applies to all situations and conditions, including the situation when the Indonesian people were facing the impact of the Covid-19 pandemic. The text seems to be the encounter of various theological thoughts related to theodicy, monism and dualism. Therefore, what needs to be done is a close reading of the text to disclose its difficulty. Instead of spending energy trying to figure out who is responsible for calamities or pandemics, it is better to deal with them by following health protocols and using common sense.Abstrak. Kisah tulah kesepuluh dalam narasi pembebasan umat Israel dari Mesir di teks Keluaran 11:1-12:36, tidak bisa dijadikan paradigma yang berlaku bagi semua situasi dan kondisi, termasuk situasi ketika bangsa Indonesia menghadapi dampak wabah Covid-19. Teks tersebut tampaknya merupakan hasil dari pertemuan berbagai pemikiran teologis yang berkaitan dengan teodise, monisme dan dualisme. Maka yang perlu dilakukan adalah pembacaan yang cermat terhadap teks, dalam rangka memperlihatkan kesulitan ini. Daripada menghabiskan energi untuk mencari jawaban siapa yang bertanggung jawab terhadap bencana atau wabah, lebih baik menghadapinya dengan menjalankan protokol kesehatan dan memakai akal sehat
Teologi dan Kekerasan Kolektif: Tinjauan Historis-Teologis dari Periode Bait Suci Kedua sampai Perjanjian Baru
Abstract. Theology understanding often leads to violence against others. Theology is human answer to God in the struggle of his or her faith with the world around, while violence is an act committed by a group of people against other. The question arises: can theology, which emphasizes love and kindness, be misused to carry out violence to achieve a specific purpose? The purpose of this article was to analyze acts of violence by certain groups in the name of religion using historic-theological approach. The author’s thesis is that theology does not only show love and hospitality facet but also ruthless face by using the texts of the scriptures as a basis for committing violence against others.Abstrak. Pemahaman teologi seringkali menyebabkan timbulnya tindakan-tindakan kekerasan terhadap sesama. Teologi merupakan jawaban manusia kepada Tuhan dalam pergumulan imannya dengan dunia sekitar, sementara kekerasan merupakan tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap sesama. Timbul pertanyaan: apakah teologi, yang menekankan cinta kasih dan keramahan, dapat disalahgunakan untuk melakukan kekerasan demi mewujudkan maksud tertentu? Tujuan artikel ini adalah menganalisis tindakan-tindakan kekerasan oleh kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama dengan menggunakan pendekatan historis-teologis. Tesis penulis adalah teologi tidak hanya menampilkan wajah cinta kasih dan keramahan melainkan juga menampilkan wajah yang kejam dengan menggunakan teks-teks kitab suci sebagai dasar untuk melakukan kekerasan terhadap sesama
Pendidikan Kristen Antisipatif-Transformatif: Revitalisasi Fungsi Didaskalia untuk Ketahanan Pemuda Kristen di Era Transnasionalisme
Abstract. The radical transnational ideologies can easily attack and damage Christians’ youth in this digital era. The purpose of this study is to deliniate anticipatory-transformative Christian education and the significance of revitalizing the didaskalia function as the foundation for the Christian’s youth resilience in the transnationalism era. The method in this research was the literature study method. Through this research, it was found that the didaskalia function is very urgent to be revitalized in the context of the resilience of Christian’s youth in the midst of the swift currents of transnational ideology. As an anticipatory-transformative effort, Christian Education seeks to develop an accommodative and contextual education model to build a strong foundation of Christian’s youth, which will enable them to face the complex life.Abstrak. Ideologi transnasional yang bersifat radikal dapat dengan mudah menyerang dan merusak generasi muda Kristen pada era digital ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan pendidikan Kristen antisipatif-transformatif dan pentingnya revitalisasi fungsi didaskalia sebagai pondasi ketahanan pemuda Kristen di era transnasionalisme. Metode dalam penelitian ini adalah metode studi pustaka. Melalui penelitian ini ditemukan bahwa fungsi didaskalia semakin urgen untuk direvitalisasi dalam konteks ketahanan pemuda Kristen di tengah derasnya arus ideologi transnasional. Sebagai upaya antisipatif-transformatif, Pendidikan Kristen berupaya mengembangkan model pendidikan yang akomodatif dan kontekstual dalam rangka membangun pondasi yang kuat dalam diri pemuda Kristen, yang memampukan mereka dalam menghadapi kehidupan yang kompleks
Analyzing The Grief of Naomi in The Book of Ruth
This article analyzed the grief of Naomi in the book of Ruth by using the six stages of grief by Elisabeth Kübler-Ross and David Kessler. Although Naomi could be an inadequate model in dealing with her grief, her attitude resonates with many people in dealing with their griefs. It makes this study is noteworthy. This article analyzed how Naomi dealt with her grief in the six stages of grief, namely: denial, anger, bargaining, depression, acceptance, and finding the meaning and then take the implication for the ministry during the pandemic of Covid-19. The study showed that anger and depression are visible in the story of Naomi. Acceptance is not explicit. There is no denial, bargaining, and finding the meaning stages in Naomi’s grief. She was still struggling with her grief, although she could accept the new situation with the marriage of Ruth and Boaz and the birth of Obed. Today many people struggle with grief during this pandemic. Therefore, it is essential to pay attention to vaccines and medication and notice the need for psychological help and therapy for the bereaved families
Woman Trafficking dan Respon Gereja di Nusa Tenggara Timur
Abstract. This study was a critical study to the response of the Evangelical Christian Church in Timor (GMIT) towards women trafficking phenomenon in East Nusa Tenggara (NTT). The purpose of this study was to uncover the causes of women trafficking, as well to reveal the church's response to this phenomenon. This research was conducted by a qualitative method. In this study, it was revealed that the perception of women as the second sex in a patriarchal society is the main cause of women trafficking. The church also still pays more attention to spiritual services and even participates in perpetuating patriarchal culture so that it has not provided a maximum solution to the phenomenon of women trafficking.Abstrak. Studi ini merupakan kajian kritis terhadap sikap Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) terhadap fenomena perempuan yang marak terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tujuan penelitian ini adalah untuk menguak penyebab terjadinya perdagangan perempuan dan mengungkap respon gereja menyikapi fenomena tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif. Dalam penelitian ini terkuak bahwa anggapan perempuan sebagai gender kedua dalam masyarakat patriarkhi menjadi penyebab utama terjadinya perdagangan perempuan. Gereja juga masih lebih banyak memberikan perhatian pada pelayanan rohani dan bahkan turut melanggengkan budaya patriarkhi sehingga belum memberikan solusi maksimal terhadap fenomena perdagangan perempuan