DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
Kepemimpinan Kristen Transformasional: Interpretasi 2 Timotius 3:10 dan Signifikansinya bagi Pemimpin Kristen di Era Disrupsi
Abstract. This article is intended to study transformational leadership in the praxis of Christian leadership. Paul’s leadership is one example of transformative Christian leadership. The results of the interpretation of 2 Timothy 3:10 showed that the pattern of transformational leadership presented by Paul includes two aspects, namely teaching and way of life. Paul lives what he teaches so that his leadership transforms the lives of his followers and becomes a role model for his followers. Thus, transformational Christian leadership is a leadership where a leader is willing to learn continually, broaden thoughts and world views, and then live it in the praxis of daily life.Abstrak. Artikel ini akan mengkaji kepemimpinan transformasional dalam praksis kepemimpinan Kristen. Kepemimpinan Paulus merupakan salah satu contoh kepemimpinan Kristen yang transformatif. Hasil interpretasi terhadap teks 2 Timotius 3:10 ditemukan bahwa pola kepemimpinan transformasional yang dipresentasikan Paulus mencakup dua aspek yaitu pengajaran dan cara hidup. Paulus menghidupi apa yang diajarkannya sehingga kepemimpinannya mentransformasi kehidupan pengikutnya dan menjadi panutan pengikutnya. Dengan demikian, kepemimpinan Kristen transformasional adalah kepemimpinan di mana seorang pemimpin mau untuk terus belajar, memperluas pikiran dan pandangan, dan kemudian menghidupinya dalam praksis hidup sehari-hari
Pengaruh Kompetensi Spiritual, Pedagogik, dan Sosial Guru Pendidikan Agama Kristen terhadap Kualitas Belajar Mengajar Siswa
Abstract. This research, which was conducted in Minahasa, North Sulawesi, aimed to examine the effect of spiritual competence, pedagogic competence, and social skills of Christian Religious Education (PAK) teachers. This research was conducted using quantitative methods. This study involved 30 PAK teachers in Minahasa Regency, Sulawesi. The data analyzers involved in this study used PLS software for structural equation modeling (SEM) analysis. The results of this study indicated that the quality of teaching and learning will be good and have a positive effect if the teacher has spiritual, pedagogic, and social competencies. Thus it can be concluded that the three competencies greatly affect the understanding of learning materials by students.Abstrak. Penelitian yang dilakukan di Minahasa, Sulawesi Utara ini bertujuan untuk menguji pengaruh kompetensi spiritual, pedagogi, dan keterampilan sosial guru Pendidikan Agama Kristen (PAK). Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini melibatkan seluruh guru PAK di Kabupaten Minahasa, Sulawesi yang berjumlah 30 orang. Penganalisis data yang terlibat dalam penelitian ini menggunakan perangkat lunak PLS untuk analisis pemodelan persamaan struktural (SEM). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas belajar mengajar akan baik dan berpengaruh positif jika guru memiliki kompetensi spiritual, pedagogik, dan sosial. Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa ketiga kompetensi tersebut sangat berpengaruh terhadap pemahaman materi pembelajaran oleh siswa
“Kata Orang, Siapakah Anak Manusia Itu? ... Tetapi Apa Katamu?” Gosip, Identitas Yesus dan Kategorisasi Diri Komunitas Murid Yesus
Abstract. This article attempted to read Matthew 16:13-20 in light of the Social-Scientific Approach by employing both the Gossip Theory and Self-Categorization Theory. It claimed that the author of the first Gospel emphasizes Jesus’ identity as a prototype leader of their community over the identity bestowed by the crowd through gossip. By using the Gossip Theory, this section showed that gossips circulated among the crowd have identified Jesus as a messianic prophet. On the other hand, applying the Self-Categorization Theory proved that Jesus’ concern is on his identity – as Messiah, Son of the Living God – revealed by the Father to his disciples. Finally, it was concluded that the author of the first Gospel stresses Jesus’ identity as a prototype leader of his community over the identity constructed by the gossipers.Abstrak. Artikel ini berupaya membaca Matius 16:13-20 berdasarkan Pendekatan Ilmu Sosial dengan menerapkan Teori Gosip dan Teori Kategori Diri. Klaim artikel ini adalah penulis Injil Matius menekankan identitas Yesus sebagai pemimpin prototipe dalam komunitas mereka daripada identitas yang diberikan oleh orang banyak melalui gosip. Dengan menerapkan Teori Gosip, artikel ini menunjukkan bahwa gossip yang beredar di kalangan orang banyak mengidentifikasi Yesus sebagai nabi mesianik. Penggunaan Teori Kategorisasi Diri membuktikan bahwa Yesus menaruh perhatian terhadap identitas-Nya – sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup – sebagaimana dinyatakan oleh Bapa kepada para murid. Kesimpulannya adalah bahwa penulis Injil Matius menekankan identitas Yesus sebagai pemimpin prototipe dalam komunitas-Nya daripada identitas yang terbentuk oleh gosip
Fusi Horison dalam Tugas Interpretasi Lay Preacher Kaum Pentakostal
Abstract. Sermons by Lay Preacher (LP) in Pentecostal circles are often judged to depart from arbitrary interpretations because they involve personal experience in the biblical text understanding. However, Hans-Georg Gadamer has promoted the fusion of horizon in his hermeneutic ideas, which seems to be in line with LP's practice of interpreting biblical texts. Thus, the aim of this study is to demonstrate how far fusion horizon in Gadamer's hermeneutics is applied by LP. The method used in this study is a qualitative method with a structured literature study approach and phenomenology to a LP, and church pastors who have experience being served by the LP. The results showed that the process of interpreting the biblical text by LP is in line with horizon fusion in Gadamer's hermeneutics, where LP's spiritual experience plays a role in widening the horizon in understanding the biblical text.Abstrak. Khotbah oleh Lay Preacher (LP) di kalangan Pentakostal seringkali dinilai berangkat dari penafsiran secara sembarangan karena melibatkan pengalaman pribadi dalam proses memahami teks Alkitab. Namun demikian, Hans-Georg Gadamer pernah mencetuskan fusi horison dalam gagasan hermeneutiknya, yang nampaknya sejalan dengan praktik interpretasi teks Alkitab oleh LP. Dengan demikian, tujuan studi ini adalah untuk menunjukkan sejauh mana fusi horison dalam heremeneutika Gadamer tersebut diterapkan oleh LP. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur terstruktur dan fenomenologi kepada seorang LP, dan gembala jemaat yang memiliki pengalaman dilayani oleh LP. Hasil penelitian menunjukkan proses interpretasi teks Alkitab oleh LP sejalan dengan fusi horison dalam hermeneutika Gadamer, di mana pengalaman spiritual LP berperan memperlebar horison dalam pemahaman teks Alkitab
Ketika Rumah Tidak Lagi Aman: Merefleksikan Narasi Kekerasan Seksual dalam 2 Samuel 13:1-22 melalui Perspektif Feminis
Abstract. This article aimed to reflect on sexual violence in the family through the narrative of 2 Samuel 13:1-22. Sexual violence in the family thrives in a patriarchal society structure. This article responded to the issue of gender-based sexual violence by conducting a theological reflection on 2 Samuel 13:1-22 through a feminist perspective. Therefore, this article voices the experiences and perspectives of women on the issue of sexual violence in the family as an effort to strengthen the discourse on the eradication of sexual violence in any form. This study revealed that gender inequality in the structure of a patriarchal society contributes to violence against women. Therefore, it is necessary to advocate for women victims of violence because they are in a powerless position.Abstrak. Artikel ini bertujuan untuk merefleksikan kekerasan seksual dalam keluarga yang terdapat dalam narasi 2 Samuel 13:1-22. Kekerasan seksual dalam keluarga tumbuh subur dalam struktur masyarakat patriarkis. Artikel ini merespons isu kekerasan seksual berbasis gender dengan melakukan refleksi teologis atas 2 Samuel 13:1-22 melalui perspektif feminis. Oleh karenanya, artikel ini menyuarakan pengalaman dan perspektif perempuan terhadap isu kekerasan seksual dalam keluarga sebagai usaha penguatan diskursus penghapusan kekerasan seksual dalam bentuk apa pun. Melalui kajian ini terungkap bahwa ketidaksetaraan gender dalam struktur masyarakat patriarki menyumbang terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Oleh karena itu, diperlukan advokasi terhadap perempuan korban kekerasan oleh karena mereka berada dalam posisi yang tidak berdaya
Kebangkitan Islam dan Respon Umat Kristen: Kajian Peran Seminar Agama-Agama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
Abstract. Tension between Christians and Muslims that occurred since 1965 and 1970 aroused the response of Christians, in this case the Communion of Churches in Indonesia (PGI), to build a dialogue between Christians and Muslims in the Seminar on Religions (SAA). The purpose of this study is to examine the important role of the SAA and how it should be carried out. This research was conducted using the historical method. Through this study, SAA's activities are considered to have contributed in building mutual understanding between Christians and Muslims through dialogue involving leaders from both religions.Abstrak. Ketegangan di antara umat Kristen dan Islam yang terjadi sejak tahun 1965 dan tahun 1970 membangkitkan respon umat Kristen, dalam hal ini Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), untuk membangun dialog antara Kristen dan Islam dalam kegiatan Seminar Agama-Agama (SAA). Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengkaji seberapa penting peran SAA dan bagaimana seharusnya SAA dijalankan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah. Melalui studi ini kegiatan SAA dinilai telah memberikan sumbangsih dalam membangun saling pengertian antara umat Kristen dan Islam melalui dialog yang melibatkan para tokohdari kedua agama tersebut
Pendidikan Karakter Kristen Melalui Pengutamaan Formasi Rohani
Abstract. The term spiritual formation has been widely used in many Christian contexts both within the family, school and church. This literature study will focus on explaining the concept of Christian character education based on spiritual formation. This article offers spiritual formation as a more relevant approach in building Christian character. Through this study, it was found that Christian character education can only be achieved through the application of spiritual formations both individually and in groups. Therefore, Christian educational institutions must emphasis on spiritual development efforts in character education. Spiritual formation will be able to transform the inner life so as to form a Christ-like character.Abstrak. Istilah formasi rohani telah banyak digunakan dalam banyak konteks Kristen baik dalam lingkup keluarga, sekolah maupun gereja. Tinjauan pustaka ini akan fokus pada penjelasan mengenai konsep pendidikan karakter Kristen yang berbasiskan atas formasi rohani. Artikel ini menawarkan formasi rohani sebagai pendekatan yang lebih relevan untuk membangun karakter Kristen. Melalui kajian ini diperoleh hasil bahwa pendidikan karakter Kristen hanya dapat dicapai melalui penerapan formasi rohani baik secara individu maupun kelompok. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Kristen harus lebih menitikberatkan upaya-upaya pembinaan rohani dalam pendidikan karakter. Formasi rohani akan mampu mentransformasi kehidupan batiniah sehingga membentuk karakter seperti Kristus
Belanja Online di Pasar Religius: Fenomena Church-shopping dan Tantangannya bagi Keesaan Gereja
Abstract. Consumerism culture can be found in various aspects of human life, including the church. This culture integrates economic concepts (markets, consumers, capital, resources, etc.) in religious studies, which then develops the practice of church-shopping. This article intends to examine the phenomenon of church-shopping which generally gets a bad opinion and response from the church because this practice allows people from one church to “shop” to another church. The approach used in this study is a qualitative analysis through an analytical, dialectical, and argumentative literature study. The results of this study are a different perspective in how to view the phenomenon and find that this consumption activity is not entirely bad because it also provides space for the diversity of individual people and supports the church unity.Abstrak. Budaya konsumerisme dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk gereja. Budaya ini mengintegrasikan konsep ekonomi (pasar, konsumen, modal, sumber daya, dan lainnya) dalam kajian religius, yang kemudian mengembangkan praktik church-shopping. Artikel ini bermaksud untuk mengkaji fenomena church-shopping yang pada umumnya mendapat anggapan dan respon buruk gereja karena praktik ini memungkinkan umat dari satu gereja untuk “berbelanja” ke gereja lainnya. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis kualitatif melalui kajian literatur secara analitis, dialektif, dan argumentatif. Hasil dari studi ini adalah perspektif berbeda dalam cara memandang fenomena tersebut dan menemukan bahwa kegiatan mengonsumsi ini tidak sepenuhnya buruk karena ia memberikan ruang pada keberagaman individual umat serta mendukung gerak keesaan gereja