DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Not a member yet
    277 research outputs found

    #ChurchToo, Kekerasan Seksual di Gereja dan Penguatan Komunitas

    No full text
    Abstract. The hashtag movement like #ChurchToo has become one of the ways for sexual violence survivors to express their experiences of sexual violence they have experienced in the church. #ChurchToo has an influence not only on the survivors' attitudes but also on the organizational and church's community. However, not all victims or survivors of sexual violence in the church can use this hashtag movement. The strong power relation between perpetrators as priests or clergy and victim make it difficult for victims to speak out. Through a literature review method, it is evident that the #ChurchToo hashtag movement does not have a holistic and transformative impact on preventing sexual violence in the church. This analysis suggests that for the prevention of sexual violence, the church organization cannot rely solely on one approach such as #ChurchToo. Other approaches need to be developed, such as strengthening the capacity of communities or congregations that are more contextual for preventing sexual violence in the church.Abstrak. Gerakan tagar seperti #ChurchToo telah menjadi salah satu cara penyintas kekerasan seksual mengungkapkan pengalaman dan bentuk-bentuk kekerasan seksual yang dialaminya di gereja. #ChurchToo memiliki pengaruh bukan saja terhadap sikap penyintas tetapi juga terhadap sikap gereja secara organisasi dan komunitasnya. Namun tidak semua korban atau penyintas kekerasan seksual di gereja dapat menggunakan gerakan tagar ini. Relasi kuasa yang kuat antara pelaku sebagai pendeta atau klerus dengan korban membuat korban tak mudah untuk berbicara. Dengan metode literatur review, terlihat bahwa gerakan tagar #ChurchToo tidak berdampak secara holistik dan transformatif untuk pencegahan kekerasan seksual di gereja. Hasil analisa ini menunjukkan bahwa untuk pencegahan kekerasan seksual, gereja secara organisasi tidak dapat menggunakan satu pendekatan seperti #ChurchToo saja. Perlu pula dikembangkan pendekatan lainnya, seperti penguatan kapasitas komunitas atau jemaat yang lebih kontekstual untuk langkah-langkah pencegahan kekerasan seksual di gereja

    Keramahtamahan Lot sebagai Orang Asing [גֵּר (gēr)]: Analisis Naratif Kejadian 19:1-14

    No full text
    Abstract. The aim of this article is to carry out a narrative analysis of Genesis 19:1-14 using Robert Alter's theory of narrative analysis. The story of Lot, the two angels, and the inhabitants of Sodom, is traditionally interpreted as a narrative of punishment for the Sodomites' sin of homosexuality. However, through the narrative analysis carried out it was found that the main crime of the people of Sodom was their violation of the values of hospitality towards strangers. Thus, it can be concluded that the value of hospitality towards strangers, which is part of social morality, is the main value promoted by the Old Testament.Abstrak. Artikel ini berupaya melakukan analisis naratif terhadap teks Kejadian 19:1-14 dengan menggunakan teori analisis naratif Robert Alter. Kisah antara Lot, kedua malaikat, serta penduduk Sodom, secara tradisional ditafsirkan sebagai narasi hukuman atas dosa homoseksualitas masyarakat Sodom. Namun, melalui analisis naratif yang dilakukan ditemukan bahwa kejahatan utama masyarakat Sodom adalah pelanggaran mereka terhadap nilai-nilai keramahtamahan terhadap orang asing. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai keramahtamahan terhadap orang asing, yang adalah bagian dari moralitas sosial, merupakan nilai utama yang dipromosikan oleh Perjanjian Lama

    Perkawinan Heteroseksual sebagai Bentuk Coping Religius: Studi Kasus pada Seorang Laki-Laki Kristen dengan Ketertarikan Seksual Sesama Jenis

    No full text
    Abstract. Not all individuals with same-sex sexual attraction want to express their sexual orientation, there are individuals who actually want to build a heterosexual marriage. There are various reasons that encourage this, including quite a lot of intentions to avoid the social stigma of being an individual with same-sex sexual attraction. However, various studies have revealed that there are positive reasons for marriage, one of which is religiosity. This research was a qualitative research using a case study method on a case of heterosexual marriage as a form of religious coping for a Christian man who identifies himself as religious with same-sex sexual attraction. The study showed that religiosity forms adaptive meanings for him to commit to living married life as a form of religious coping.Abstrak. Tidak semua individu dengan ketertarikan seksual sesama jenis ingin mengekspresikan orientasi seksualnya. Ada individu yang justru ingin membangun perkawinan heteroseksual. Ada berbagai alasan yang mendorong hal tersebut, seperti cukup banyak yang niatnya untuk menghindari stigma sosial sebagai individu dengan ketertarikan seksual sesama jenis. Meski begitu, berbagai penelitian telah mengungkapkan adanya alasan positif untuk menikah salah satunya adalah religiusitas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus terhadap satu kasus perkawinan heteroseksual sebagai bentuk coping religius pada seorang laki-laki kristen yang mengidentifikasi dirinya sebagai religius dengan ketertarikan seksual sesama jenis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religiusitas membentuk pemaknaan adaptif bagi individu untuk membentuk komitmen menjalankan hidup perkawinan sebagai bentuk coping religius

    Panggilan Profetik Guru-guru Kristiani dalam Perspektif Pemikiran Paul Tillich

    No full text
    Abstract. This research explored into the prophetic call of Christian teachers, viewing it through the perspective of theologian, Paul Tillich. Starting from the assumption that that teaching carries profound spiritual significance, the research explores how Tillich's insights impact modern Christian educators in comprehending the prophetic aspect of their vocation. By using a descriptive quantitative approach, this research tried to discover the manifestation of the prophetic dimensions of teachers in their daily lives. Through a survey, researchers explored their perceptions regarding the prophetic calling of teachers. The research result showed that religious teachers demonstrate the meaningfulness of prophetic teacher values through their willingness to be part of an inclusive community, teaching life values using inspirational stories, and practicing Christian values to influence society. The implementation of Paul Tillich's theological insights into the prophetic calling of Christian teachers suggested that Christian pedagogy is a kairos moment when the transformative potential of learners becomes a reality by God's grace.Abstrak. Studi ini mendalami konsep panggilan profetik guru-guru Kristiani melalui lensa teolog terkenal, Paul Tillich. Didasarkan pada keyakinan bahwa panggilan mengajar memiliki signifikansi spiritual yang mendalam, penelitian ini mengeksplorasi implikasi dari wawasan teologis Tillich terhadap pendidik Kristiani kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, penelitian ini mencoba untuk menemukan wujud dari dimensi profetik  guru-guru dalam kehidupan sehari-hari mereka. Melalui survey, peneliti menelusuri persepsi mereka mengenai panggilan kenabian para guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru-guru agama menampakkan kebermaknaan nilai profetik guru melalui kesediaan untuk menjadi bagian komunitas inklusif, pengajaran nilai-nilai kehidupan dengan menggunakan cerita-cerita inspiratif, dan pengamalan nilai-nilai Kristiani untuk mempengaruhi masyarakat. Implementasi wawasan teologis Paul Tillich ke dalam panggilan profetik guru-guru Kristiani menyatakan bahwa  pedagogi Kristiani adalah momen kairos ketika potensi transformatif peserta didik menjadi kenyataan oleh kasih karunia Allah

    Silaturahmi dan Gandong: Rekonstruksi Eklesiologi melalui Perspektif Teologi Rahim C.S. Song

    No full text
    Abstract. This article is an effort to reconstruct ecclesiology by discussing the value of silaturahmi from an Islamic perspective and the Gandong system in Maluku culture with the help of Choan Seng Song's womb theology as the theological lens. This effort was motivated by the 1999 conflict on Haruku Island which began with the conflict on Ambon Island which had damaged the fraternal relations between Christians and Muslims on Haruku Island. Meanwhile, traditional ecclesiology, because it emphasizes the superiority of the church, often makes conflicts even sharper. The results of this study show that both silaturahmi and Gandong emphasize fraternarly love which is addressed both internally and externally. These two elements are also conceived in Jesus' messianic movement, thus making it to be a relevant ecclesiology for the solution to the conflict that occurred.Abstrak. Artikel ini merupakan suatu upaya untuk merekonstruksi eklesiologi dengan mendialogkan nilai silaturahmi dari perspektif Islam dan sistem Gandong dalam kebudayaan Maluku dengan bantuan teologi rahim dari Choan Seng Song sebagai lensa teologisnya. Upaya ini dilatarbelakangi oleh adanya konflik tahun 1999 di Pulau Haruku yang berawal dari konflik di Pulau Ambon yang telah merusak relasi persaudaraan umat Kristen dan umat Islam di Pulau Haruku. Sementara itu, eklesiologi tradisional oleh karena lebih menekankan pada superioritas gereja seringkali justru menjadikan konflik semakin tajam. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa baik silaturahmi maupun Gandong menekankan kasih persaudaraan yang ditujukan baik secara internal maupun eksternal. Kedua unsur ini juga terkandung dalam gerakan mesianik Yesus sehingga menjadikannya sebagai eklesiologi yang relevan bagi solusi atas konflik yang terjadi

    Paradigma Misi dalam Konteks Kemajemukan Agama: Analisis Matius 5:13-16 sebagai Teks Misi

    No full text
    Abstract. The former mission paradigm often displays an arrogant, triumphalistic and imperialist face. Such missions often trigger disharmony in a society characterized by religious pluralism. Therefore, this paper intended to propose a new paradigm in missions by starting from the text Matthew 5:13-16 as a mission text, and not from the text Matthew 28:18-20 which is usually used as a paradigmatic text in missions. The method used in this study was context and literary analysis of Matthew 5:13-16. The result is that the mission should aim public glory for God, and not for the main aim of increasing the number of the religion adherent, through living production that is able to salt and light the public space.Abstrak. Paradigma misi lama seringkali menampilkan wajah yang arogan, triumfalistik, dan imperialis. Misi yang demikian sering kali memantik ketidakharmonisan dalam masyarakat dengan ciri kemajemukan agama. Oleh karena itu, tulisan ini bermaksud untuk mengusulkan paradigma baru dalam misi dengan berangkat dari teks Matius 5:13-16 sebagai teks misi, dan bukan dari teks Matius 28:18-20 yang biasanya dijadikan sebagai teks paradigmatik dalam misi. Metode yang digunakan dalam kanjian ini adalah analisis konteks dan literer Matius 5:13-16. Hasilnya, bahwa misi sudah seharusnya bertujuan untuk menghasilkan kemuliaan bagi Allah, dan bukan untuk tujuan utama menambah jumlah pengikut, melalui karya hidup yang mampu menggarami dan menerangi ruang publik

    Strategi Gereja dalam Misi Penginjilan kepada Generasi Alpha

    No full text
    Abstract. The purpose of this research is to describe the church's strategy in its mission of evangelizing the Alpha generation. Alpha generation is the first truly post-Christian generation and is numerically the largest in population demographic. This makes the Alpha generation the most influential religious force. This research was conducted using the literature study method. The results of this research show that this generation is spiritually shaped a lot by digital and virtual media. Therefore, the church needs to utilize digital and virtual media in its mission to evangelize them, while maintaining the role of the family, especially fathers.Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan strategi gereja dalam misi penginjilan kepada generasi Alpha. Generasi Alpha merupakan generasi pertama yang benar-benar pasca Kristen dan secara numerik merupakan yang terbesar dalam demografi kependudukan. Hal ini menjadikan generasi Alpha sebagai kekuatan agama paling berpengaruh. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa generasi ini secara spiritual banyak dibentuk oleh media-media digital dan virtual. Oleh karena itu, gereja perlu memanfaatkan media-media digital dan virtual dalam misi penginjilan kepada mereka, dengan tetap mempertahankan peran keluarga, terutama ayah

    Keterbukaan Sebagai Bentuk Keramahtamahan Dalam Konteks Keragaman Orientasi Seksual

    No full text
    Abstract. The fact that there is diversity in sexual orientation is often unacceptable, especially by heterosexual groups. This then triggered acts of violence against people with homosexual orientation. Researcher believe that violence will not occur if each people promotes hospitality. The aim of this research is to find a model of hospitality that is relevant in the context of sexual orientation diversity. This research was conducted through Focus Group Discussion (FGD) with three gay individuals from three different religions. Next, the results of the FGD were put into dialogue with various theological understandings about hospitality. In the end, this research showed that stigmatization, which is the root of acts of violence, can be suppressed if there is an openness to accept the others, in this case people with different sexual orientations.Abstrak. Kenyataan adanya keberagaman orientasi seksual seringkali tidak dapat diterima terutama oleh kelompok heteroseksual. Hal itu kemudian memicu terjadinya tindak kekerasan terhadap orang-orang dengan orientasi homoseksual. Peneliti meyakini bahwa kekerasan tersebut tidak akan terjadi apabila masing-masing pihak mengembangkan sikap keramahtamahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan model keramahtamahan yang relevan dalam konteks keragaman orientasi seksual. Penelitian ini dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) kepada tiga orang individu gay dari tiga agama yang berbeda. Selanjutnya, hasil FGD didialogkan dengan berbagai pemahaman teologis tentang keramahtamahan. Pada akhirnya penelitian ini menunjukkan bahwa stigmatisasi, yang menjadi akar tindak kekerasan, dapat ditekan apabila ada sikap keterbukaan untuk menerima sang liyan, dalam hal ini orang-orang dengan orientasi seksual yang berbeda

    Dunia yang Lestari: Eko-Eskatologi Gereja Toraja Berdasarkan Eskatologi Jürgen Moltmann

    No full text
    Abstract. The Toraja Church in its confession also discusses eschatology but does not adequately explain the concept of a sustainable world. With these issues in mind, the aim of this research is to enrich the Toraja Church Confession's conversation regarding the world and the end times from Jürgen Moltmann's eschatological perspective. This research was conducted by library research approach. The result of the research showed that the concept of a sustainable world must be understood in the cosmic escatology dimension, namely a new heaven and earth in quality. There, the Church plays an active role today as an eschatological response to ecology.Abstrak. Gereja Toraja dalam pengakuan imannya juga membahas eskatologi, namun belum menjelaskan secara memadai mengenai konsep dunia yang lestari. Dengan persoalan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk memperkaya percakapan Pengakuan Gereja Toraja mengenai dunia dan zaman akhir dari perspektif eskatologi Jürgen Moltmann. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep dunia yang lestari harus dipahami dalam dimensi eskatologi kosmik, yaitu langit dan bumi yang baru secara kualitas. Di situ peran aktif Gereja adalah sebagai respons eskatologis terhadap lingkungan hidup

    The Homeless Liturgy: Meliturgikan Ratapan, Harapan, dan Transformasi Kaum Miskin

    No full text
    Abstract. Poverty is a well-known and complex issue. Poverty has a bad impact on the poor. Thus, poverty is the duty of society, including the church. The purpose of this paper is to investigate the relationship between liturgy and poverty. The homeless liturgy is the phrase selected to describe liturgical practices in the face of poverty. This essay was conducted by socio-liturgical studies and field research. This essay suggests that the homeless liturgy is a manifestation of the church's preference for the poor, which speaks hope-lament, liberation, and promotes transformation.Abstrak. Kemiskinan adalah permasalahan klasik dan kompleks. Kemiskinan berdampak pada keberlangsungan hidup orang banyak. Untuk itu, kemiskinan bukan hanya menjadi tanggung jawab negara, melainkan juga masyarakat dan termasuk gereja. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi relasi-interaksi liturgi dan kemiskinan. Homeless liturgy merupakan istilah yang dipilih untuk merepresentasikan praktik berliturgi di tengah-tengah kemiskinan. Melalui kajian sosio-liturgis dan penelitian lapangan, artikel ini menyimpulkan bahwa homeless liturgy merupakan wujud sikap keberpihakan gereja terhadap mereka yang miskin, yang menyuarakan harapan-ratapan, yang membebaskan dan menggerakkan transformasi

    109

    full texts

    277

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇