Tesa Arsitektur, Journal of Architectural Discourses
Not a member yet
108 research outputs found
Sort by
ARSITEKTUR VERNAKULAR BERBASIS ARSITEKTUR TRADISIONAL : MENUJU ARSITEKTUR LOKAL YANG BERKELANJUTAN Studi kasus : Rumah di Desa Karangmalang, Kabupaten Kudus
Tulisan ini merupakan pengembangan dari beberapa penelitian rumah tradisional yang
dilakukan di Kabupaten Kudus. Fenomena yang terlihat adanya adanya perubahan yang
terjadi dari pada fungsi dan bentuk bangunan rumah tradisional Kudus yang dilakukan
penghuni untuk menata ulang ruang tradisionalnya untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Kasus
studi adalah rumah di desa Karangmalang, Kudus. Tujuan pembahasan ini adalah
pengatahuan terhadap pengembangan rumah tradisional menjadi rumah vernakular yang
sesuai dengan keberadaan rumah tradisional tersebut sehingga mempunyai nilai
keberlanjutan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan
menggunakan wawancara mendalam. Metode tersebut untuk mengetahui bagaimana proses
perubahan yang dilakukan dengan tanpa meninggalkan keberadaan ruang tradisional.
Kesimpulannya adalah menghadirkan rumah tradisional tidak perlu dilakukan dengan
menghadirkan kembali objek material dari rumah tradisional secara sesuai dengan aslinya,
melainkan melalui proses perubahan dengan memaknai ruang dan bentuk arsitektur
tradisional yang terjadi masa kini
THE EFFECTS OF POPULATION GROWTH ON MORPHOLOGICAL DEVELOPMENT OF BALINESE TRADITIONAL VILLAGE : Bayung Gede Village, Kintamani District, Bangli City, Bali Province
Bayung Gede Village is included in one of traditional villages in Bali, which until now is still preserved. The village that becomes a pioneer of traditional village development in Bangli area has population growth that continues to increase. Population growth is also affected by awig-awig or the traditional village regulations, the education and welfare level, and the community’s economy. These conditions affect the morphological and structural development of traditional village yard because the number of the need for dwellings is proportional to the number of population growth. The problem raised is how the influences of population growth on the morphological development in Bayung Gede traditional village are. The method used was descriptive analysis by collecting data method through field observation, deep interview, and literature study. This study finds a morphological development pattern of the village that currently has a concept that still firmly holds village’s awig-awig. How ever, the pattern of the settlement growth shows more flexible tolerance to the influence of new infrastructure in the surrounding areas, where the condition of the regional morphology in the traditional village yard is triggered by population growth of Bayung Gede Village
KAMPUNG VERTIKAL DI MANGGARAI, JAKARTA SELATAN BERBASIS KONSEP ARSITEKTUR FLEKSIBEL (Vertical Kampung in Manggarai, South Jakarta Based on Flexible Architectural Concepts)
Population density is a phenomenon that occurs today in Jakarta. Visible from many slums located on marginal land. The problem of limited land in the settlement make residents should save space efficiently. In a case study of Kampung Manggarai South Jakarta, vertical housing planning based on flexible architectural concepts become solution to these problems. In addressing the problem of limited land, the theory by Carmona, et al in temporal dimension and Toekio in the concept of flexibility space, be a reference to solve the problems. Among them, continuity and stability on which the building must be sustainable and able adapt to their environment; expandability and implemented over time, that the building should be able to adapt to the needs of residents in a long time. Convertibility means buildings remain subject to change without massively overhauled. Versatility and time cycle and management which space activities are shown dynamically, as the user routine. Continuity and stability are applied to the orientation of the building mass, according to the site conditions through sustainable. A modular structure which allows the internal expansion and separation of space, adapting from concept expandability and implemented over time. Convertibility applied on the recommendation of the facade design, with non-permanent material. As well as the versatility and the time cycle and management embodied in the design of multi-functional furniture and dynamic space layout corresponding to routines occupants.
Keywords: vertical housing, architectural flexibility, kampung culture
Kepadatan penduduk merupakan fenomena yang terjadi saat ini di Kota Jakarta. Terlihat dari banyaknya permukiman kumuh yang berdiri di atas lahan marjinal. Permasalahan keterbatasan lahan pada permukiman membuat warga harus menghemat ruang secara efisien. Pada studi kasus di Manggarai Pasar, Jakarta Selatan perencanaan kampung vertikal dengan konsep arsitektur fleksibel dapat menjadi solusi permasalahan tersebut. Teori oleh Carmona, et al dalam temporal dimension dan Toekio dalam konsep fleksibilitas ruang menjadi acuan dalam mendesain. Diantaranya continuity and stability dimana bangunan harus dapat berkelanjutan dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya; expandibility dan implemented over time yaitu bangunan harus dapat menyesuaikan kebutuhan penghuni dalam kurun waktu yang lama. Covertibility yaitu bangunan tetap dapat berubah tanpa harus dirombak secara besar-besaran. Serta Versatility dan time cycle and time management dimana aktivitas ruang diperlihatkan secara dinamis, sesuai rutinitas pengguna. Continuity and stability diterapkan pada orientasi massa bangunan, sesuai dengan kondisi site sehingga berkelanjutan. Struktur modular yang memungkinkan ekspansi internal dan pemisahan ruang, mengadaptasi dari konsep expandibility dan implemented over time. Convertibility terdapat pada rekomendasi desain fasad, dengan material non permanen. Serta versatility dan time cycle and management diwujudkan dalam desain furnitur multifungsi dan layout ruang yang terus berganti sesuai rutinitas penghuni.
Kata Kunci: hunian vertikal, fleksibilitas arsitektur, budaya kampun
PENANGANAN PREVENTIF TERHADAP ANCAMAN TANAH LONGSOR DI PERMUKIMAN BUKIT SELILI - SAMARINDA
Ancaman bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan semakin mengepung kawasan-kawasan permukiman di hampir seluruh Indonesia. Pun demikian yang terjadi pada masyarakat Samarinda di Bukit Selili Samarinda. Setelah mengalami longsor untuk ketiga kalinya, masyarakat Bukit Selili semakin waspada terhadap bencana longsor yang dapat terjadi sewaktu. Waktu Masyarakat Bukit Selili harus memikirkan tindakan untuk menghadapi ancaman bencana longsor. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi area rawan longsor dan menganalisis pola permukiman, pola vegetasi, pola jalan, utilitas bangunan & lingkungan di kawasan Bukit Selili untuk menghasilkan konsep preventif terhadap ancaman tanah longsor Metode yang diterapkan adalah studi kasus. Metode studi kasus mempelajari secara intensif kondisi permukiman Bukit Selili sekarang dengan bencana rawan longsor. Hal pertama yang diteliti adalah identifikasi area rawan longsor berdasar kejadian beberapa bencana longsor terakhir. Berdasar identifikasi area rawan longsor,kemudian dianalisis menggunakan kriteria pencegahan bencana, identifikasi tanah longsor, dan komponen permukiman. Penelitian difokuskan pada komponen permukiman (pola permukiman, pola vegetasi, pola jalan dan utilitas). Setiap komponen dari kriteriapermukiman dikerucutkan menjadi elemen-elemen indikator. Tahapan analisis menghasilkan konsep preventif berupa panduan-panduan struktur bangunan, utilitas, jalan, dan penanaman vegetasi. Diharapkan permukiman yang telah berumur lebih dari 100 tahun ini bisa dipertahankan terutama di area longsor renda
TIPOLOGI ELEMEN ARSITEKTUR RUMAH BANGSAL DI DESA LARANGAN LUAR PAMEKASAN MADURA
Rumah bangsal merupakan salah satu tipe arsitektur rumah tradisional di Madura. Arsitektur Jawa yang menjadi asal usul dari arsitektur Madura tercermin pada bentuk rumah bangsal yang mengadopsi dari bentuk rumah joglo. Desa Larangan Luar merupakan desa di Kabupaten Pamekasan yang masih menyimpan kekayaan peninggalan arsitektur tradisional rumah bangsal. Rumah bangsal sebagai salah satu arsitektur tradisional Madura merupakan peninggalan yang sangat berharga dan patut dijaga keberadaanya. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tipologi elemen arsitektur tradisional rumah bangsal di Desa Larangan Luar Pamekasan Madura. Metode penelitian yang digunakan pada studi ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan tipologi. Pendekatan tipologi digunakan untuk mengelompokkan elemen arsitektur yang dimiliki oleh rumah bangsal dan untuk mengetahui perubahan arsitektur rumah bangsal. Metode pemilihan kasus bangunan menggunakan metode purposive sampling, menggunakan kriteria untuk memilih kasus bangunan. Hasil studi menemukan bahwa setiap elemen arsitektur rumah bangsal memiliki tipe-tipe elemen yang dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial dan iklim
STRATEGI REKAYASA BANGUNAN RUMAH TINGGAL DI PEGUNUNGAN BERSUHU DINGIN. KASUS DESA KAPENCAR WONOSOBO
Indonesia memiliki beragam kondisi alam dikarenakan keberadaannya di daerah Tropis. Oleh karena kondisi ini di Indonesia memiliki berbagai strategi penyelesaian rumah tinggal, sesuai dengan kondisi alam tiap daerah, termasuk diantaranya kawasan pegunungan yang memiliki suhu dingin. Artikel ini merupakan hasil penelitian kualitatif yang dilakukan di desa lereng gunung bersuhu dingin, yang dilalukan di desa Kapencar.
Melalui penelitian kualitatif diperoleh temuan berupa 1) Strategi penataan sesuai suhu, 2) Strategi penataan bangunan menyikapi angin dan kelembaban udara. Dari temuan ini, diharapkan dapat diambil sikap bahwa dalam perancangan/ penataan rumah tingal di pedesan lereng gunung, harus memperhatikan suhu, angin dan kelembaban
POLA AKTIVITAS WISATA BELANJA DI KAMPUNG WISATA KERAMIK DINOYO, MALANG
Dinoyo ceramics tourist kampong has limited space in the effort to organize it. To formulate the concept of spatial planning in accordance with the needs and potential of space, is necessary to identify activity pattern of shopping as a major activity in economic activity that will be developed, as well as the use of space. This study uses observation and behavior mapping of visitors in corridors of the ceramics kampong. Observation time is chosen in rush hours of visitors which are known from questionnaire on the visitors and shop owners. Analysis of observation result and behavioral mapping is conducted by overlay analysis to understand pattern of travel or trip, pattern of activity, and points of visitors activity. While content analysis of the photos/video is performed to determine actors of activity, type of activity, physical order supporting activity, dimension of space, time of occurrence, and duration of activity. The results show that the pattern of shopping activities which occur in the kampong influenced by the type of products, accessibility, availability of parking areas and circulation, as well as the availability of other supporting facilities (signage, maps, location markers, food stalls, public toilets, an information center, etc).Dinoyo ceramics tourist kampong has limited space in the effort to organize it. To formulate the concept of spatial planning in accordance with the needs and potential of space, is necessary to identify activity pattern of shopping as a major activity in economic activity that will be developed, as well as the use of space. This study uses observation and behavior mapping of visitors in corridors of the ceramics kampong. Observation time is chosen in rush hours of visitors which are known from questionnaire on the visitors and shop owners. Analysis of observation result and behavioral mapping is conducted by overlay analysis to understand pattern of travel or trip, pattern of activity, and points of visitors activity. While content analysis of the photos/video is performed to determine actors of activity, type of activity, physical order supporting activity, dimension of space, time of occurrence, and duration of activity. The results show that the pattern of shopping activities which occur in the kampong influenced by the type of products, accessibility, availability of parking areas and circulation, as well as the availability of other supporting facilities (signage, maps, location markers, food stalls, public toilets, an information center, etc)
EVALUASI RUMAH INTI TUMBUH PERUMNAS BERDASAR KECENDERUNGAN TRANSFORMASI DESAIN (The Evaluation of Public Housing Growing Unit based on Design Transformation Tendency)
Untuk memenuhi kebutuhan akan unit rumah, pemerintah menyediakan rumah awal yang
terjangkau dan dikenal dengan Rumah Inti Tumbuh (RIT). Rumah awal tersebut direncanakan
untuk dikembangkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan spasial dan perbaikan tingkat
ekonomi pemiliknya. Penelitian telah dilakukan untuk menemukan modifikasi desain sejak
awal penghunian hingga kondisi saat ini. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan transformasi
yang diasumsikan sebagai penyesuaian arsitektural dari desain massal unit perumahan.
Pemahaman akan tendensi yang terjadi diharapkan dapat menjadi pertimbangan
rekomendasi bagaimana desain RIT di masa yang akan datang, Penelitian dilakukan dengan
metode kualitatif. Sampel yang terpilih adalah keluarga yang sudah menghuni rumah tersebut
sebagai penghuni pertama. Dari 210 pemilik unit yang diwawancarai, terdapat 50 responden
yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan Data digali dengan wawancara, observasi
lapangan dan kategorisasi kesamaan. Dari penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan
bahwa terdapat ruangan-ruangan yang cenderung ditambahkan diperluas, ditata ulang
penempatannya dalam desain rumah tinggal dan yang dipertahankan tanpa perubahan sedikit
pun.
Kata kunci: desain perumahan, penyesuaian, rekomendasi, desain awa
BENTUK-BENTUK PENYESUAIAN RUANG UNIT HUNIAN DI RUSUNAWA KOTA PONTIANAK
Untuk menyelesaikan permasalahan kebutuhan hunian, Pemerintah Kota Pontianak membangun rusunawa di kelurahan Sungai Beliung Kecamatan Pontianak Barat. Kelompok sasaran penyewa rusunawa tersebut terdiri dari berbagai latar belakang dan karakteristik yang difasilitasi dengan unit hunian dengan desain dan luasan yang seragam yaitu tipe 24. Unit hunian yang seragam, dengan penghuniyang memiliki latar belakang dan karakteristik yang beragam memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan oleh penghuni terhadap unit hunian termasuk dalam pemanfaatan ruang yang tersedia untuk kegiatan penghuni. Tulisan ini bertujuan memaparkan bentuk pemanfaatan ruang serta penyesuaian yang dilakukan pada unit hunian di rusunawa Kota Pontianak dengan harapan menjadi bahan masukan untuk desain rusunawa berikutnya . Metode yang dilakukan melalui observasi pada 30 sampel unit hunian, yang diperkuat dengan wawancara terhadap penghuni untuk mengetahui faktor penghuni yang mempengaruhi. Hasil yang diperoleh dapat dilihat bahwa ada beberapa tipe pemanfaatan dan penyesuaian ruang unit hunian. Pemanfaatan ruang tersebut cenderung terbentuk akibat pewadahan kegiatan penghuni. Penyesuaian lebih mengarah pada perubahan perabot yang tersedia sesuai dengan kebutuhan penghuni
POLA TATA RUANG KAMPUNG INDUSTRI RUMAH TANGGA STUDI KASUS : SENTRA TENUN ATBM DESA WANAREJAN UTARA DAN DESA TROSO, JEPARA
Desa memiliki ciri khas akan sebuah kegiatan dan menghasilkan satu produk yang sama. Salah satunya pada desa sentra industri tenun ATBM yang kegiatannya masih tradisional dan dalam kegiatannya melibatkan anggota keluarga serta warga sekitarnya. Metode yang digunakan metode kualitatif yang mengungkapkan fenomena yang terjadi di lokasi dan di deskripsikan. Pengumpulan data dilakukan melalui tahapan observasi lapangan dan wawancara pada narasumber. Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Wanarejan Utara, Pemalang dan Desa Troso, Jepara merupakan desa yang ditetapkan menjadi sentra tenun ATBM. Kegiatan menenun ini merupakan kegiatan yang diwariskan secara turun menurun di dalam keluarga dan berkembang menjadi kegiatan ekonomi dan mempengaruhi pada bentuk pola tata ruang yang ada. Kegiatan dimulai dari dalam rumah yang kemudian berkembang dengan adanya gandok sebagai tempat menenun dan menggunakan ruang terbuka untuk menjemur. Pola yang terbentuk dari permukiman sentra tenun ATBM di dua lokasi penelitian mengarah pada ruang terbuka yang diperlukan pada proses kegiatan menenun dan membentuk pola antara rumah tinggal, gandok, dan ruang terbuka menjadi satu keterikatan. Warga memerlukan ruang terbuka untuk menjemur benang dan kain sehingga mereka menggunakan ruang terbuka yang ada untuk menjemur, sehingga terlihat pola-pola yang terbentuk pada permukiman.
Kata kunci : industri rumah tangga, kampung, pola ruang, tata ruang, tenun ATB