Tesa Arsitektur, Journal of Architectural Discourses
Not a member yet
108 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN MODEL HUNIAN RAMAH BANJIR UNTUK KAWASAN DAS KRUENG BARO: PENDEKATAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL ARSITEKTUR ACEH DAN PENGELOLAAN RUANG (Development of a Flood-Resilient Housing Model for the Krueng Baro Watershed Area, Pidie: A Local Wisdom-Based Approach in Acehnese Architecture and Spatial Management)
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model hunian ramah banjir di wilayah Aceh dengan mengadaptasi prinsip-prinsip arsitektur tradisional Rumoh Aceh. Fokus penelitian adalah Gampong Pante Aree di Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, yang sangat rentan terhadap banjir akibat letaknya yang dekat dengan DAS Krueng Baro serta faktor-faktor seperti topografi dataran rendah, curah hujan tinggi, dan sistem drainase yang tidak memadai. Penelitian ini mengintegrasikan kearifan lokal dengan strategi mitigasi banjir, dengan mengusulkan model desain yang tidak hanya meningkatkan ketahanan terhadap banjir tetapi juga mempromosikan desa sebagai destinasi wisata mitigasi bencana. Tujuan utamanya adalah menciptakan zonasi spasial berdasarkan risiko banjir dan memberdayakan ekonomi lokal melalui pengembangan wisata edukasi mitigasi bencana. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui studi lapangan dan observasi untuk menilai kerentanan desa terhadap banjir. Triangulasi data dilakukan untuk memastikan akurasi dengan membandingkan hasil wawancara, observasi lapangan, dan peta risiko banjir. Penelitian ini mengembangkan model perencanaan spasial yang mengintegrasikan arsitektur Aceh dengan praktik pengelolaan lahan berkelanjutan, mencakup elemen-elemen kunci seperti struktur bangunan panggung, ventilasi alami, dan strategi mitigasi bencana. Model ini dirancang untuk menyediakan tempat perlindungan yang aman selama evakuasi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan binaan dan ekosistem sekitarnya secara mandiri
TAMAN DALAM SEBAGAI SISTEM PENGHAWAAN ALAMI PADA HUNIAN (Inneryard As A Natural Ventilation System In Residences (Case Study: House In Cipayung)
Pandemi telah berlalu, namun demikian upaya penyehatan rumah terus dilakukan. Rumah dituntut untuk lebih siap jika terjadi kemungkinan pandemi di masa mendatang. Salah satunya adalah kebutuhan akan penghawaan alami dan pencahayaan alami. Strategi pencahayaan dan penghawaan diwujudkan untuk memenuhi persyaratan rumah sehat. Terlebih jika rumah tinggal juga mengalami perubahan dari bentuk awal karena tuntutan kebutuhan ruang dari penghuni. Sehingga hanya menyisakan satu sisi bangunan yang berhubungan dengan ruang luar. Permasalahan ini dicoba diselesaikan melalui penambahan inneryard. Penelitian ini mendiskripsikan kondisi sebelum dan sesudah penambahan inner yard pada rumah tinggal di Cipayung. Penelitian ini mengambil data in-situ dengan berpedoman pada standart rumah yang nyaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inneryard belum memenuhi persyaratan standart sepenuhnya. Nilai intensitas cahaya dan temperatur udara terpenuhi. Namun kelembaban relatif dan kecepatan udara belum terpenuhi. Secara rasio luas ruangan dan luas bukaan telah dipenuhi, namun laju pertukaran udara sangat dipengaruhi oleh kecepatan udara yang masuk ke dalam ruangan. Tetap memerlukan konfigurasi bukaan yang tepat, yang mampu memicu pergerakan udara dalam ruang
TINJAUAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN PADA KAMPUNG LAWAS MASPATI, SURABAYA (Sustainable Environmental Overview Of Lawas Maspati Village, Surabaya)
Penelitian ini bertujuan untuk meninjau praktik lingkungan berkelanjutan di Kampung Lawas Maspati, Surabaya. Kampung Lawas Maspati dikenal sebagai salah satu kawasan yang berusaha mempertahankan kearifan lokal sambil menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan dilihat dari aspek sosial, lingkungan dan ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, di mana data diperoleh melalui observasi lapangan, dan analisis dokumentasi terkait program lingkungan yang telah dilaksanakan di kampung tersebut. Dalam ruang lingkup sosial, penelitian ini menganalisis bagaimana keharmonisan sosial dapat dicapai melalui partisipasi masyarakat dan interaksi sosial yang kuat. Pada aspek ekologi, fokus diberikan pada efisiensi energi, transportasi hijau, pengelolaan limbah, dan perlindungan lingkungan, yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dari perspektif ekonomi, penelitian ini mengevaluasi cara-cara untuk meningkatkan vitalitas ekonomi melalui pelestarian warisan budaya dan pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kampung Lawas Maspati telah menerapkan berbagai inisiatif berkelanjutan seperti pengelolaan sampah berbasis masyarakat, pemberdayaan dan kerjasama seluruh warga dan penghijauan area publik dan rumah warga. Upaya-upaya tersebut mendukung tiga aspek keberlanjutan yaitu, sosial, ekonomi dan lingkungan. Temuan ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi praktis untuk pengembangan kampung berkelanjutan di wilayah perkotaan lainnya di Indonesia
TRANSFORMASI PENGALAMAN PELANGGAN MELALUI DESAIN: KAJIAN DI CONCORDIA LOUNGE BANDARA INTERNASIONAL NGURAH RAI (Transforming Customer Experience Through Design: A Study at Concordia Lounge, Ngurah Rai International Airport)
Sebagai pusat pariwisata utama di Indonesia, Bali tidak hanya menjadi destinasi wisata tetapi juga merupakan titik transit penting untuk berbagai kegiatan regional, nasional, maupun internasional. Perkembangan ini menjadikan transportasi udara menjadi pilihan utama bagi banyak orang karena efisiensi waktu dan kenyamanan yang ditawarkannya. Dari perspektif ini, ruang tunggu eksekutif bandara berperan sebagai pilihan ternyaman bagi penumpang yang menunggu keberangkatan, didukung oleh fasilitas yang dibuat untuk memberikan kenyamanan dan kepuasan kepada pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran elemen desain dalam aspek sense of place terhadap kepuasan pelanggan di Concordia Lounge, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. Melalui metode kualitatif dengan observasi dan wawancara, penelitian ini berupaya mendapatkan elemen-elemen fisik dan non-fisik di dalam lounge yang mempengaruhi emosi, persepsi dan pengalaman pengunjung. Menelaah aspek sense of place di dalam lounge ini merupakan elemen penting untuk memahami pengalaman autentik yang dirasakan oleh para wisatawan selama berwisata di Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain yang cermat serta integrasi elemen budaya Bali secara signifikan berkontribusi pada terciptanya kenyamanan dan kepuasan pengguna, sekaligus memperkuat identitas lokal sebagai daya tarik utama. Kata kunci: Sense of Place, Kepuasan Pelanggan, Lounge, Bandara Internasional Ngurah Ra
PENGARUH KETERBATASAN LAHAN TERHADAP TATA RUANG SEKOLAH DAN AKTIVITAS DI SMPN 102 JAKARTA (The Effect af Land Limitations on School Spatial Layout and Activities at SMPN 102 Jakarta)
Penelitian ini dilatar belakangi oleh keterbatasan lahan di SMPN 102 Jakarta Timur yang berdampak pada tata ruang sekolah dan aktivitas pembelajaran. Fenomena ini relevan mengingat pentingnya desain tata ruang sekolah dalam mendukung efektivitas pembelajaran, terutama di kawasan urban dengan lahan terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh keterbatasan lahan pada tata ruang, menilai tata letak ruang sekolah, dan memahami pola pergerakan aktivitas di SMPN 102 Jakarta Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pendekatan induktif untuk memahami hubungan antara keterbatasan lahan, tata ruang, dan aktivitas. Data dikumpulkan dari observasi langsung, pengukuran luas lahan, serta analisis fungsi dan sirkulasi ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan lahan berdampak pada densitas ruang dan efisiensi penggunaannya. Tata ruang sekolah telah memanfaatkan desain linier untuk memaksimalkan lahan, namun sirkulasi antar ruang masih kurang optimal, terutama pada jam sibuk seperti pergantian kelas. Aktivitas siswa dan guru terhambat oleh keterbatasan ruang publik, seperti kantin dan lapangan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa desain tata ruang yang adaptif diperlukan untuk mengatasi keterbatasan lahan. Saran utama adalah optimalisasi ruang multifungsi, peningkatan sirkulasi, dan pemanfaatan area vertikal untuk mendukung kenyamanan dan efisiensi aktivitas pembelajaran. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi perancangan sekolah di kawasan perkotaan dengan lahan terbatas.Kata Kunci : Keterbatasan Lahan, Tata Ruang, Aktivitas Pembelajaran, Efisiensi Ruang, Sirkulasi Ruan
KAJIAN EFESIENSI SIRKULASI RUANG TEMPORER DI MUSEUM LAMBUNG MANGKURAT DI BANJARBARU DENGAN EKSPERIMEN SPACE SYNTAX (study of temporary space circulation efficiency in Lambung Mangkurat Museum in Banjarbaru with space syntax experiment)
Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru memiliki peran strategis sebagai pusat pelestarian budaya dan sejarah Kalimantan Selatan. Namun pengelolaan ruang, khususnya pada area temporer yang digunakan untuk pameran sementara, sering kali mengalami kendala dalam efisiensi tata ruang. Hal ini berdampak pada kurang optimalnya sirkulasi pengunjung dan penempatan elemen pameran yang seharusnya mendukung interaksi serta pengalaman visual yang maksimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode Space Syntax sebagai pendekatan analisis konfigurasi ruang. Metode Space Syntax memungkinkan pemetaan tata ruang berdasarkan aspek konektivitas, integrasi, dan visibilitas. Melalui analisis peta aksial dan grafik visibilitas, penelitian ini menyiarkan bagaimana pengunjung berinteraksi dengan ruang temporer di museum, serta mengidentifikasi area dengan tingkat konektivitas rendah dengan gradasi warna sebagai penilaian yang menjadi penghambat aliran pengunjung. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa beberapa ruang memiliki tingkat integrasi yang kurang memadai, terutama pada jalur sirkulasi menuju wilayah belakang. Hasil penelitian ini menghasilkan rekomendasi desain untuk meningkatkan efisiensi ruang sementara. Solusi yang diusulkan meliputi penataan ulang jalur sirkulasi untuk meningkatkan konektivitas antarruang, penempatan elemen pameran di kawasan dengan visibilitas tinggi, serta pemanfaatan teknologi modern untuk menciptakan pengalaman interaktif. Selain itu, desain yang lebih strategis diusulkan untuk memperbaiki aksesibilitas pengunjung dari pintu masuk hingga ruang pameran utama. Penelitian ini memberikan kontribusi nyata bagi pengelolaan Museum Lambung Mangkurat dalam menciptakan tata ruang yang lebih efisien, fungsional, dan mendukung kenyamanan pengunjung. Temuan ini juga diharapkan menjadi rujukan bagi pengelolaan museum lain yang memiliki tantangan serupa dalam mengoptimalkan tata ruang temporer, sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang berkelanjutan
PERILAKU DALAM MEMANFAATKAN FASILITAS PUBLIK (STUDI KASUS KAMPUNG BAHARI TAMBAK LOROK) (Behavior in Utilizing Public Facilities (Case Study of Kampung Bahari Tambak Lorok))
Tambak Lorok merupakan salah satu kawasan permukiman pesisir di Kota Semarang yang dikenal dengan tangkapan laut serta kondisi kawasan yang termasuk kumuh. Sehingga, pada tahun 2015 Pemerintah Kota Semarang mencanangkan peremajaan Kawasan Tambak Lorok menjadi Kawasan Kampung Bahari Tambak Lorok yang salah satu upayanya berbentuk pembangunan taman di sepanjang Jalan Tambak Rejo. Pembangunan taman di sepanjang Jalan Tambak Rejo dimaksudkan sebagai salah satu sarana sosialisasi dan rekreasi bagi masyarakat, namun dikarenakan kondisi wilayah dan ketersediaan lahan terbuka membuat banyak sekali jenis aktivitas yang terjadi pada taman tersebut seperti terjadinya aktivitas interaksi, bermain, menunggu seseorang, atau hanya sekedar bersantai seperti tidur atau berteduh. Analisis penelitian ini akan difokuskan pada pengamatan berbagai jenis aktivitas yang terjadi, intensitas penggunaan, pemanfaatan, serta identifikasi pengguna ruang. Metode pengamatan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan behaviour mapping. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa jenis kegiatan yang terjadi didominasi oleh masyarakat Tambak Lorok dengan aktivitas dan perilaku penggunaan yang variatif saat pagi sampai sore hari, namun jarang terjadi aktivitas pada malam hari. Kegiatan yang terjadi mulai dari kegiatan jual – beli dari pedagang asongan, kegiatan bermain bola dari remaja, dan kegiatan bersantai oleh masyarakat lokal
POLA TERITORIALITAS DAN PERSONALISASI RUANG DI ASRAMA – BOARDING SCHOOL SEMI MILITER (Territoriality Patterns and Personalization of Space In a Semi-Military Boarding Schools Environment)
Penelitian ini membahas pola teritorialitas dan personalisasi ruang di asrama Boarding School semi militer, dengan fokus pada perilaku spasial siswa terhadap pengaturan dan penggunaan ruang di asrama. Teritorialitas dalam penelitian ini mengacu pada klaim ruang yang dilakukan oleh siswa untuk menunjukkan identitas diri, dan menciptakan rasa aman dalam lingkungan yang terstruktur serta memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi. Sementara personalisasi ruang, seperti dekorasi dan pengaturan barang pribadi bertujuan untuk memperkuat rasa kepemilikan dan kebersamaan, mengurangi potensi konflik antar sesama, dan meningkatkan kesejahteraan emosional siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan pustaka (literature review) dengan analisis deskriptif, yang disertai dengan observasi lapangan untuk mendapatkan data empiris sebagai pemahaman lebih lanjut mengenai pola teritorialitas dan personalisasi ruang di lingkungan asrama - Boarding School semi militer. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang bermanfaat bagi pihak sekolah dan desainer dalam mendesain ruang yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga dapat mendorong perkembangan sosial dan emosional mereka
WAYFINDING DAN AKSESIBILITAS INKLUSIF DI SITUS RATU BOKO: INTEGRASI SIMULASI SPASIAL DAN DESAIN INTERPRETATIF (Inclusive Wayfinding and Accessibility at the Ratu Boko Site: Integration of Spatial Simulation and Interpretive Design)
Pemahaman jalur pegunjung merupakan masalah menonjol ketika wisatawan mengunjungi Kawasan Situs Ratu Boko, Lokasi situs yang berada di atas bukit menghadirkan tantangan navigasi, terutama karena minimnya peta interpretative dan Keterbatasan akses bagi difabe. Tanda arah tanpa pengaturan jalur dapat mempengaruhi pemahaman dan pengalaman meruang dalam situs. Pendekatan yang digunakan meliputi SHAPE (Spatial Human Accessibility Planning and Evaluation), survei Wayfinding Questionnaire (WQ), dan analisis spasial dengan QGIS. Metode yang digunakan adalah Mixed Method dimana pengumpulan data kondisi nyata lapangan didapat melalui observasi lapangan, sementara preferensi pengguna diperoleh melalui survei. Batasan pembangunan dan pengembangan sesuai regulasi merupakan tantangan yang harus diselesaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen wayfinding seperti tanda-tanda, peta, dan penanda arah di dalam mempengaruhi navigasi pengunjung. Diperlukannya intervensi sistem informasi non-permanen dan adaptif untuk mendukung aksesibilitas dan konservasi. Rekomendasi diarahkan pada penguatan elemen visual, penambahan media informasi berbasis teknologi, dan pengembangan jalur akses umum dan difabel sesuai dengan regulasi pelestarian cagar budaya
STRATEGI KONSERVASI MONUMEN KETENANGAN JIWA: MELESTARIKAN MEMORI KOLEKTIF PERTEMPURAN LIMA HARI DI SEMARANG (Conservation Strategy for the Monument Ketenangan Jiwa: Preserving the Collective Memory of the Five-Day Battle in Semarang)
Monumen Ketenangan Jiwa di Semarang merupakan salah satu situs bersejarah yang berkaitan erat dengan peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang. Dibangun untuk mengenang 150 warga sipil Jepang yang tewas, monumen ini memiliki nilai emosional, budaya, dan manfaat bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis signifikansi, relevansi, dan strategi pelestarian monumen agar tetap relevan di masa kini. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui observasi lapangan dan kajian literatur, penelitian ini menemukan bahwa monumen tersebut tetap relevan sebagai simbol memori kolektif dan edukasi sejarah, meskipun menghadapi tantangan pelestarian seperti aksesibilitas yang kurang memadai dan kondisi lingkungan yang buruk. Berdasarkan analisis, pendekatan konservasi yang komprehensif direkomendasikan, mencakup pengembangan fasilitas pendukung, aksesibilitas, pencahayaan lanskap, dan elemen edukasi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan manfaat monumen, baik secara materiil maupun imateriil sebagai area wisata refleksi spiritual dan edukatif bagi pengunjung terutama generasi muda. Dengan demikian, Monumen Ketenangan Jiwa dapat terus memainkan perannya dalam memperkuat identitas budaya dan sejarah masyarakat, serta memberikan kontribusi positif yang relevan dengan kondisi saat ini