Tesa Arsitektur, Journal of Architectural Discourses
Not a member yet
108 research outputs found
Sort by
KAJIAN ADAPTIVE REUSE PADA BANGUNAN PIZZA HUT KOTABARU YOGYAKARTA SEBAGAI BANGUNAN KOMERSIAL (Adaptive Reuse Study On Pizza Hut Kotabaru Yogyakarta As A Commercial Building)
Bangunan pada Kawasan Cagar Budaya (KCB) di Yogyakarta diatur agar sesuai dengan gaya arsitektur setiap kawasan. Pada KCB Kotabaru, gaya arsitektur yang digunakan adalah Indis atau Kolonial. Adaptive reuse merupakan salah satu strategi yang diterapkan pada bangunan agar memiliki fungsi relevan di era modern tanpa mengubah ciri khas arsitekturnya. Objek penelitian ini berfokus pada bangunan Pizza Hut bergaya Arsitektur Indis di Jl. Jenderal Sudirman No. 65, Yogyakarta, yang termasuk cagar budaya tingkat provinsi (kelas C), dimana adaptive reuse yang dilakukan harus mengacu pada kebijakan dan regulasi pemerintah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pendekatan adaptive reuse diterapkan pada bangunan Pizza Hut dengan pertimbangan regulasi kawasan dan peraturan penggunaan bangunan cagar budaya tingkat provinsi (kelas C). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pengambilan data melalui observasi lapangan dan analisis dokumen regulasi serta kebijakan pemerintah, menggunakan variabel penelitian berdasarkan teori Shearing Layers of Change. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan adaptive reuse pada bangunan Pizza Hut sebagai bangunan komersial di KCB Kotabaru dilakukan secara selektif tanpa mengubah karakter utama bangunan. Elemen site, structure, dan sebagian skin dipertahankan, sedangkan penyesuaian dilakukan pada services, space plan, dan stuff untuk mendukung operasional restoran modern
KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN PASAR 16 ILIR SEBAGAI DESTINASI WISATA KOTA DI TEPI SUNGAI MUSI PALEMBANG (The Development Concept of the Pasar 16 Ilir Area as an Urban Tourism Destination at the Musi Riverside Palembang)
Kawasan Pasar 16 Ilir merupakan pusat perdagangan tertua di tepi Sungai Musi. Seiring perkembangan zaman, pembangunan infrastruktur yang masif menyebabkan citra kawasan yang dahulu aktivitasnya berbasis air perlahan bergeser ke darat. Aktivitas yang terpusat pada area tertentu, serta kurang aktifnya jalur perdagangan sungai saat ini, menimbulkan penurunan fungsi serta lemahnya citra sebagai kawasan berorientasi sungai dengan budaya ripariannya. Studi ini bertujuan untuk merumuskan konsep pengembangan kawasan Pasar 16 Ilir sebagai destinasi wisata kota. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori elemen pembentuk citra kota oleh Kevin Lynch. Hasil menunjukkan bahwa konektivitas elemen jalur (path) pada kawasan belum mengarahkan manusia untuk dapat berinteraksi dengan sungai, sehingga diusulkan konsep pengembangan jalur terkoneksi ke tepian sungai. Tepi (edge) kawasan belum secara keseluruhan dapat terakses yang mengakibatkan batas ini terabaikan, dengan demikan konsep harus dapat mempertegas karakter elemen alam dan buatan manusia untuk dapat merespons karakter riparian. Konsep Distrik (district) yang merespons persoalan karakter kawasan yang belum kuat, yakni dengan mendialogkan fungsi masa lampau dengan masa kini. Simpul (node) pada kawasan berusaha menjawab persoalan kurangnya ruang berkumpul, yakni lewat penciptaan ruang aktivitas publik di sepanjang tepian sungai. Tengaran (landmark) belum terepresentasi dengan baik pada kawasan, sehingga dibutuhkan titik orientasi visual pada setiap zona. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan untuk model pengembangan kawasan perdagangan tepi sungai guna memperkuat karakter dan menceritakan kembali keunikan kawasan
ANALISIS PENERAPAN NEARLY ZERO EMISSION BUILDING DALAM UPAYA MENGURANGI EMISI KARBON PADA SEKTOR BANGUNAN (Analysis of the Implementation of Nearly Zero Emission Buildings Efforts to Reduce Carbon Emissions in the Building Sector)
Indonesia's urbanization issue ranks fourth in Southeast Asia. Urbanization correlates with a 1% increase in emissions for every 1% increase in the population. In the building sector, this trend will increase the demand for building construction, impacting building resources such as power plants (energy sector). The energy sector contributes the highest carbon emissions at 94.64%. This rise in carbon emissions can hinder the goal of reducing emissions by 29% by 2030. The Nearly Zero Emission Building (NZEB) approach is proposed as a solution for energy efficiency. The NZEB approach involves steps during the pre-construction phase using passive strategies and post-construction with active strategies through building operations to reduce building energy needs. This research uses a qualitative method based on three standards from three countries with different climates to review the implementation results. The analysis results show three strategies: passive strategies (orientation, natural lighting, and ventilation), active strategies (Building Management Systems (BMS), renewable energy use, and building materials), and alignment with Green Building to maximize this approach. In Indonesia, alignment with the Green Building Council Indonesia (GBCI) is necessary. GBCI has designed Greenship "Net Zero," focusing on assessments such as air quality, natural openings, and carbon emission reduction calculations. This will help quantitatively reduce carbon emissions in the building sector
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DAN ANALISIS PEMANFAATAN LAHAN DI DESA OESENA, KABUPATEN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR, PASCA BENCANA LONGSOR (Evaluation of Residential Land Suitability and Land Use Analysis in Oesena Village, Kupang Regency, East Nusa Tenggara, After the Landslide Disaster)
Salah satu wilayah pemukiman yang terkena dampak bencana longsor akibat keretakan dan pergeseran tanah dari lereng gunung di Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur ialah Desa Oesena. Fenomena ini mengakibatkan keruntuhan bangunan rumah warga dan kerusakan pada konstruksi jalan. Pemanfaatan sumber daya alam yang tidak teratur atau daya dukung tanah yang melebihi batas menjadi faktor pemicu terjadinya longsor. Berdasarkan fenomena pergeseran tanah di kawasan permukiman, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kesesuaian lahan permukiman di Desa Oesena serta menganalisis pemanfaatan lahan yang ada sehingga dapat dijadikan pedoman dalam desain kawasan terbangun. Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif kualitatif yang didasarkan pada kajian data primer dan sekunder yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan penduduk desa setempat, pengamatan lapangan pada rumah warga yang terdampak bencana longsor, serta studi literatur untuk mengetahui kesesuaian lahan yang tepat. Hasil dari penelitian ini ialah pedoman atau arahan untuk pemilihan kesesuaian lahan bagi pembangunan pemukiman baru bagi warga Desa Oesena yang terdampak bencana longsor
KAJIAN KONSERVASI CAGAR BUDAYA GEDUNG DPRD KOTA TEGAL (The Conservation of Cultural Heritage in The Regional Respresentative Council Building of Tegal City)
Gedung DPRD Kota Tegal merupakan Bangunan Cagar Budaya yang telah diresmikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal dan ditetapkan oleh Walikota Tegal pada tahun 2019. Pentingnya DPRD Kota Tegal sebagai fasilitas kegiatan pemerintahan, maka dilakukan konservasi pada gedung DPRD Kota Tegal pada tahun 2014 dengan rehabilitasi khususnya pada bagian kusen, jendela, dan pintu yang berfungsi untuk merawat gedung DPRD Kota Tegal agar kondisi gedung tetap prima. Studi ini bertujuan untuk menelusuri konservasi dan pemeliharaan gedung DPRD Kota Tegal sesuai dengan peraturan konservasi bangunan cagar budaya. Studi ini menerapkan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, observasi dan dokumentasi, serta wawancara yang selanjutnya dianalisis lebih lanjut. Studi menunjukkan bahwa gedung DPRD Kota Tegal sebagai gedung cagar budaya tetap berfungsi sejak dibangun hingga sekarang yang bersanding dengan kebutuhan kenyamanan pengguna gedung sehingga membuat kondisi gedung harus dijaga dan dilestarikan keasliannya. Pelestarian dilakukan dengan tindakan konservasi dengan melakukan penggantian material lama dengan material baru seperti kondisi orisinal, juga perawatan khususnya pada bagian pintu, jendela, dinding, dan elemen struktur pada gedung
IDENTIFIKASI POLA SPASIAL PERMUKIMAN BANTARAN SUNGAI MARTAPURA DI KAWASAN KOTA BANJARMASIN (Identification of Spatial Settlement Patterns Along the Martapura River in Banjarmasin City)
Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan peningkatan jumlah kebutuhan ruang yang diperlukan untuk tempat tinggal, fasilitas umum, dan infrastruktur lainnya. Sementara itu, peningkatan jumlah ruang dapat memicu pertumbuhan dan perkembangan sebuah kawasan, baik dari segi pembangunan fisik maupun ekonomi, sehingga kawasan tersebut mengalami transformasi yang signifikan. Hal ini mempengaruhi pertumbuhan pola spasial permukiman pada sebuah kawasan. Fenomena ini memengaruhi pertumbuhan pola spasial permukiman pada sebua kawasan yang dibentuk dari karakteristik elemen pembentuk permukiman diantaranya alam, manusia, masyarakat, bangunan, dan jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pola spasial permukiman bantaran Sungai Martapura di Kota Banjarmasin. Metode yang digunakan ialah kualitatif. Analisis spasial dilakukan terhadap data yang diperoleh melalui observasi lapangan dan wawancara dengan penduduk lokal. Hasil analisis menemukan empat pola spasial permukiman di bantaran Sungai Martapura, yaitu: pola linier satu sisi, pola linier dua sisi, pola curvalinier, dan pola acak tidak beraturan. Pola acak tidak beraturan merupakan pola spasial unik, yang memberikan gambaran tentang dinamika pola spasial permukiman bantaran Sungai Martapura di Kota Banjarmasin. Hasil penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi yang lebih efektif dalam pelestarian lingkungan sungai, pengelolaan risiko bencana, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat di bantaran sungai
TIPOLOGI BUKAAN PADA KAWASAN AMPENAN (Typology of Openings in the Ampenan Area)
Kawasan Ampenan di Kota Mataram merupakan kawasan niaga yang ada sejak masa penjajahan Belanda di Indonesia. Kawasan ini dulunya dihuni oleh pendatang multietnik yaitu orang dari bangsa Cina, Melayu, Arab, dan Bugis. Perkembangan kawasan dimulai sejak tahun 1800-an, yang ditandai dengan beralihnya fungsi ruang menjadi pelabuhan dan perdagangan internasional dalam kawasan tersebut. Sepanjang Jalan Yos Sudarso dan Jalan Niaga yang merupakan jalan utama dalam kawasan Ampenan, berdiri bangunan yang dahulunya adalah rumah-toko serta gudang persenjataan milik Belanda, sehingga menjadikan koridor ini penting untuk melakukan dokumentasi arsitektur dalam kawasan. Rekam jejak serta dokumentasi mengenai karakteristik fisik muka bangunan dari kawasan bersejarah ini sangat minim, sehingga studi ini dapat menjadi acuan dalam pengembangan kawasan lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi distribusi tipologi bukaan pada bangunan-bangunan di kawasan kota tua Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur, wawancara, dan pengamatan langsung. Analisis dan pembahasan secara deskriptif dilakukan untuk memberikan uraian terhadap karakteristik bukaan. Studi ini mengungkap bahwa material yang digunakan pada elemen bukaan diantaranya adalah kayu, kaca pasir, dan besi sebagai teralis. Lebih jauh, tipe bukaan yang ditemukan adalah 2 (dua) tipe pintu, 3 (tiga) tipe jendela, dan 1 (satu) tipe kombinasi pintu dan jendela
EMPAT KELOMPOK PERUBAHAN KEGIATAN DAN PENYESUAIAN HUNIAN DI MASA PANDEMI COVID-19
AbstractThe Covid-19 pandemic has had impacts in the human life. To reduce the Covid-19 transmission virus, most of the community activities outside home and meeting with people have shifted to be carried out the home. This new habit makes various changes in activities and adjustments in housing that have been carried out as form of adaptation to the pandemic. This study aims to explore the changes in activities and adjustments in the housing during the pandemic era. This study is using qualitattive explorative method. Data was collected using an open online questionnaire. The data analysis was carried out in three steps, such as open coding, axial coding, and selective coding. The findings show that there are four groups of activity change and housing adjustment in the Covid-19 pandemic era, including recreational group, productive group, health care group, and close to family group. This research contribute as a consideration in planning and designing residential in the pandemic and post-Covid-19 eras.Keywords: Housing, adaptation, adjustment, pandemic Covid-19AbstrakPandemi Covid-19 telah memberi dampak bagi kehidupan manusia. Untuk mengurangi penularan virus Covid-19, kegiatan masyarakat di luar hunian dan bertemu dengan orang banyak sebagian besar telah beralih dilakukan di dalam hunian. Kebiasaan baru ini membawa berbagai perubahan kegiatan dan penyesuaian di dalam hunian banyak dilakukan sebagai bentuk adaptasi terhadap pandemi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perubahan kegiatan dan penyesuaian pada hunian di era pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif bersifat eksploratif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner daring yang bersifat terbuka. Tahap analisis data dilakukan dengan tiga tahap yakni open coding, axial coding, dan selective coding. Temuan menunjukkan bahwa terdapat empat kelompok perubahan kegiatan dan penyesuaian hunian di era pandemi Covid-19, diantaranya kelompok rekreatif, kelompok produktif, kelompok peduli kesehatan, dan kelompok dekat dengan keluarga. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi sebagai pertimbangan dalam perencanaan dan perancangan hunian di era pandemi maupun pascapandemi Covid-19.Kata kunci: Hunian, adaptasi, penyesuaian, pandemi Covid-1
RESILIENSI TERHADAP BENCANA BANJIR DAN TOPAN DI KOTA NAGA: PENDEKATAN BUDAYA SEBAGAI SOLUSI DESAIN
AbstractNatural disasters like floods and hurricanes happens often in Philippines, causing damage to public infrastructure and agricultural land. Naga City, a growing city in Philippines, is no exception. The disaster recovery process is often iterative and works top-down, so that the provided help is only temporary and inefficient. This lack of efficiency is caused by the non- involvement of the community during planning process. The problem can be solved by implementing cultural strategy and community involvement in recovery process to increase community resilience. The local spirit of mutual assistance, bayanihan, is widely spread throughout Naga City’s social culture. The Barangay Hall, a space that serves as administrative office and public space, is where the community gathers. The cultural potential of Naga City’s community is explored to design post-disaster facility. This study aims to find elements of local culture that can be applied in post-disaster building design. Through literature review, this study incorporates bayanihan culture and disaster-resilient building principles to propose a new type of Barangay Hall as a post-disaster facility. This study produced a Barangay Hall design that accommodates activities to improve community-building, providing safe place during emergency, and is independently self-supporting.Keywords: Natural Disasters, Evacuation Center, Resilience, Philippines, Cultural approachAbstrakFilipina sering mengalami bencana alam, seperti banjir dan angin topan, yang mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur publik dan lahan pertanian. Hal ini juga dialami oleh Kota Naga, kota yang sedang berkembang di Filipina. Proses pemulihan pascabencana seringkali dilakukan secara terpusat dan menggunakan pendekatan top-down, sehingga terkadang bantuan yang diberikan hanya beroperasi pada kurun waktu tertentu saja dan selanjutnya terbengkalai. Ketidakefisienan tersebut timbul akibat tidak adanya partisipasi masyarakat dalam proses pemulihan pascabecana. Pendekatan budaya yang melibatkan masyarakat pada proses pemulihan lebih ideal untuk mewujudkan resiliensi masyarakat. Di Kota Naga sendiri, masyarakat memiliki semangat gotong-royong yang kuat, yang disebut bayanihan. Budaya masyarakat tersebut tercermin dalam tipologi bangunan khas lokal, Barangay Hall, yang berfungsi sebagai kantor administrasi dan tempat kegiatan komunal. Pada studi ini, potensi budaya Kota Naga akan dieksplorasi untuk merancang fasilitas pascabencana berupa bangunan pusat evakuasi. Melalui kajian literatur, studi ini memasukkan budaya bayanihan dan prinsip-prinsip bangunan tanggap bencana untuk mengusulkan tipologi Barangay Hall yang baru sebagai fasilitas pascabencana. Studi ini menghasilkan perancangan Barangay Hall yang mewadahi kegiatan komunitas untuk meningkatkan kerja sama masyarakat, memberikan tempat yang aman untuk berlindung saat evakuasi, serta mampu mendukung keberlanjutan bangunan dan lingkungan secara mandiri
STUDI KUAT TEKAN BATAKO RAMAH LINGKUNGAN (ECO-BRICK) DENGAN KOMPOSIT MATERIAL SAMPAH KONSTRUKSI DAN SAMPAH STEROFOAM (Study of Compressive Strength of Environmentally Friendly Brick (Eco-brick) with Composite Materials of Construction and Styrofoam Waste)
Salah satu isu utama yang menjadi fokus pembahasan masyarakat dunia saat ini adalah isu pemanasan global. Penyebab terjadinya pemanasan global sendiri adalah penggunaan energi yang terlalu besar sehingga menyebabkan munculnya efek rumah kaca dan dunia konstruksi menjadi salah satu penyumbang efek rumah kaca terbesar setelah dunia industri dan kendaraan. Konstruksi berkelanjutan adalah upaya dalam menekan penggunaan energi dalam proses konstruksi, salah satu bentuknya adalah dengan menggunakan material bangunan yang ramah terhadap lingkungan seperti pengembangan eco-brick. Penelitian yang dilakukan berupa pengembangan eco-brick dengan memanfaatkan limbah konstruksi dan limbah sterofoam sebagai bahan penyusun eco-brick. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode pengujian laboratorium berupa uji tekan dengan membandingkan kuat tekan antara material eco-brick yang dikembangkan dengan material serupa yang telah lebih dahulu banyak digunakan masyarakat untuk konstruksi dinding seperti batu bata dan bata ringan. Komposisi dari pembuatan eco-brick sendiri terdiri dari semen 20%, pasir 20%, limbah konstruksi 40%, dan Sterofoam 20%. Hasil penelitian menunjukan bahwa kuat tekan maksimum dari eco-brick yang dikembangkan rata-ratanya adalah 55.83 kN, batu bata rata-ratanya 196.3 kN, dan bata ringan rata-ratanya 30 kN. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa eco-brick layak untuk nantinya bisa menjadi alternatif untuk dimanfaatkan pada konstruksi dinding. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi inovasi pengambangan material dinding yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan ekonomis namun bermutu tunggi