Tesa Arsitektur, Journal of Architectural Discourses
Not a member yet
108 research outputs found
Sort by
Lokalitas Pada Tatanan Kawasan Candi Baru Semarang
Dalam era globalisasi sangat menarik untuk mencermati pengembangan dan perkembangan berbagai kota di Indonesia. Yang sering terlihat, pada beberapa kota dialami perkembangan yang kacau pada bagian kotanya. Di sisi lain, terdapat bagian kota yang tetap dan tak berubah. Dalam kasus Kota Semarang, terdapat bagian kota yang relatif tidak berubah. Bagian kota yang tidak berubah ini merupakan hasil perencanaan kota oleh Karsten, seorang arsitek Belanda dan dia juga sebagai penasehat kota pada era penjajahan Belanda. Kota Semarang merupakan kota yang direncanakan oleh Karsten secara utuh. Latar belakang akademik, ideologi serta situasi sosial politik yang mempengaruhinya, mempunyai andil besar pada Karsten dalam merancang kota dan arsitekturnya. Dari fakta sejarah diketahui, perencanaan kota dan arsitektur yang mampu bertahan adalah yang memiliki konsep perencanaan yang menerapkan lokalitas. Kasus Penelitian ini ada pada sebagian segmen kawasan Kota Semarang. Dari pemahaman berbagai teori-teori tentang kota, arsitektur, dan lokalitas, akan didapat dominasi dan peran aspek lokal dalam karyanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap aspek lokal pada konsep pemikiran Karsten pada kasus studi. Manfaat penelitian ini adalah sebagai referensi di dalam mengembangkan ilmu arsitektur. Penelitian ini juga akan memberi wawasan baru kepada para masyarakat akademisi tentang pentingnya aspek lokal pada perencanaan kota dan arsitektur, serta akan memberi kejelasan, bahwa suatu kota akan tetap bertahan bila memiliki arsitektur kota memiliki relasi dengan lokalitas setempat. Kontribusi penelitian kepada masyarakat adalah sebagai masukan untuk menciptakan lingkungan yang baru pada artifak kotanya, melalui pendekatan konservasi kawasan kota yang baik
STRATEGI PENAFSIRAN PUSAKA DI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG (STUDI KASUS SITUS RANDUSARI – SEMARANG)
Abstract Many studies on the preservation of cultural heritage have been carried out, but only focus on the physical aspect. Studies that only focus on the physical do not have the power to last long because conservation activities will only focus on how to return the investment on physical development. The research aims to find significance in the interpretation and meaning of heritage preservation which will form the basis of a comprehensive and sustainable conservation strategy. This study uses the Historical Interpretation Strategy (HIS) as part of the seven steps of Heritage Urban Landscape (HUL). History tracing is done by diachronic and synchronic methods. The case study was conducted at the Randusari site in the Archdiocese of Semarang by conducting field surveys, interviews, questionnaires and a Discussion Group Forum with the Archdiocese of Semarang, government officials and professional associations. This study finds significance in the interpretation of heirlooms and the meaning of heirlooms at the Randusari Site, such as Education, Youth, Humanity and Catholicism as the basis for conservation at the Randusari Site. Keywords: Interpretation, significance, heritage, Randusari Site, meaning AbstrakKajian pelestarian cagar budaya sudah banyak dilakukan, namun hanya berfokus pada aspek fisik saja. Kajian yang hanya menitikberatkan pada aspek fisik tidak memiliki kekuatan untuk bertahan lama karena kegiatan pelestarian hanya akan berfokus pada cara untuk mengembalikan investasi atas pembangunan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan signifikansi dalam penafsiran dan makna pusaka pelestarian pusaka yang akan menjadi dasar strategi pelestarian yang komprehensif dan berkelanjutan. Penelitian ini menerapkan Strategi Interpretasi Sejarah (HIS) atau Strategi Penafsiran Pusaka sebagai bagian dari tujuh langkah Heritage Urban Landscape (HUL). Penelusuran sejarah dilakukan dengan metode diakronis dan sinkronis. Studi kasus dilakukan di situs Randusari di Keuskupan Agung Semarang dengan melakukan survei lapangan, wawancara, kuesioner dan Forum Grup Disscusion dengan Keuskupan Agung Semarang, pejabat pemerintah, dan asosiasi profesi. Kajian ini menemukan signifikansi dalam penafsiran pusaka dan makna pusaka di Situs Randusari yaitu Pendidikan, Kebaruan, Kemanusiaan, dan Katoliksitas sebagai dasar dalam pelestarian di Situs Randusari.Kata kunci: Penafsiran, signifikansi, pusaka, Situs Randusari, makn
Impact of Population Density on Physical Environmental Quality
This study aims to identify and assess population density that causes slums and physical effects on the environment in the Simpang Dago area. The methodology used is a qualitative research method on the object's condition by conducting a literature study and collecting related documents. The study was conducted with a case study in one area in the city of Bandung. The results showed that the achievement of comfort, safety, health, and mutual satisfaction is expected to help reduce population density impact in the Simpang Dago area. To achieve that goal, a study of population density impact on the quality of the physical environment. The solution of densely populated areas problem by relocating residents and providing affordable vertical housing by considering various aspects. The implication of this study's results is due to the dense population and houses' distance is too close; therefore residents around the Simpang Dago area must be concerned about their environment's cleanliness. In addition, not all population density gives negative impacts to the quality of an area's physical environment, depending on the residents' awareness
INDEKS VISUAL FURNITUR DAN ARSITEKTUR JENGKI BERBASIS DATA PRESEDEN ARSITEKTUR
AbstractThe history and development of architectural styles and furniture always advance concurrently. The changes that occurred in the architecture will be reflected in the furnishing and vice versa. The character similarities and connection between architecture and furniture are not just associated with the styles, but furniture and architecture also have concurrence in structure integration, colors, texture, fabrication process, and visual components. Moreover, the relation is also depicted in the Jengki buildings and furniture, which is one of the base styles for the aesthetic value of Indonesian post-independence design. However, even though both of them have a typically unique pattern, there is no basis regarding special characteristic that is a visual geometric element as the ground for the similarity of both design patterns. This topic is compelling to observe, especially in the visual features of Jengki architecture and furniture. This research attempted to analyze the visual elements and characteristics of Jengki's design artifacts using precedents analysis on Jengki-style buildings and furniture. The results showed that there are characteristics and general patterns of Jengki, which included specifications and visual characteristics, along with visual similarities between the two. Afterward, the data was compiled into a Jengki visual indexing database consisting of 36 images of Jengki visual geometric elements. The database can be used as a resource and guidance in interpreting and assessing the level of Jengki design style also a reference for designing Jengki-style furniture. Keywords: Architecture, Furniture, Jengki, PrecedentAbstrakSejarah dan perkembangan gaya arsitektur dan furnitur selalu berjalan beriringan. Perubahan yang terjadi pada arsitektur akan tercermin pada furnitur begitu juga sebaliknya. Kesamaan karakteristik dan hubungan antara arsitektur dan furnitur tidak hanya terkait pada gaya, lebih dari itu furnitur dan arsitektur memiliki keselarasan dalam integrasi struktur, warna, tekstur, proses fabrikasi, dan komponen visual. Hal tersebut juga tergambar pada bangunan dan furnitur jengki yang merupakan salah satu gaya yang menjadi dasar nilai estetika desain paska-kemerdekaan Indonesia. Keduanya memiliki pola ciri khas yang unik namun belum ada landasan mengenai ciri khusus berupa elemen geometri visual yang menjadi latar belakang kesamaan pola desain keduanya, hal ini sangat menarik untuk diamati terutama pada unsur visual arsitektur dan furnitur jengki. Studi ini mencoba menganalisis elemen visual dan ciri-ciri artefak desain Jengki menggunakan analisis preseden pada bangunan jengki dan dikomparasikan dengan ciri visual furnitur bergaya jengki. Hasil studi menunjukkan adanya karakteristik dan pola umum jengki yang mencakup spesifikasi dan ciri khas visualnya serta persamaan visual di antara keduanya. Kemudian disusun sebuah database indexing visual jengki yang terdiri dari 36 gambar elemen geometri visual jengki. Database Indeks visual tersebut dapat digunakan sebagai referensi dan panduan dalam menerjemahkan dan menilai tingkat gaya desain jengki dan referensi bagi perancangan produk furnitur bergaya jengki.Kata kunci: Arsitektur, Furnitur, Jengki, Preseden
PENGARUH SUARA AIR PADA BANGUNAN MASJID TERHADAP PERASAAN TENANG SAAT BERIBADAH
AbstractMosques as places of worship for Muslims need to have good quality of comfort. Acoustic comfort is one of them, it is very important to achieve the quality of comfort for people worshiping in the mosque. Each individual has a different response to the audial quality in the surrounding environment. Naturally, psychological responses can be affected by existing audial responses. The sound of nature can produce a positive impact in the form of calm and comfort for humans. By manipulating natural elements, especially water in interior design, it is expected to have a positive impact in the form of a sense of calm and comfort. In worship, feeling calm will affect the comfort in worship and is also expected to improve the quality of worship. This study aims to identify the influence of the sound of water felt by the congregation. This study uses a quantitative approach with descriptive research methods. Data collection techniques used are literature studies and questionnaires. The results of this study indicate that water can have a fairly good impact on increasing comfort and solemnity in worship. However, to make water an element of interior design, there are many things that need to be considered because each individual has a different response to water features.Keywords: sound of water, mosque, psychology, acoustic comfort. AbstrakMasjid sebagai tempat ibadah umat Islam perlu memiliki tingkat kualitas kenyamanan yang baik, salah satu yang harus dipenuhi adalah kenyamanan akustik. Setiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap kualitas audial di lingkungan sekitarnya. Secara alamiah, respons psikologis dapat terpengaruh oleh respons audial yang ada. Suara alam dapat menghasilkan dampak yang positif berupa ketenangan dan kenyamanan bagi manusia. Dengan memanipulasi unsur alam, khususnya air dalam desain interior, diharapkan dapat memberikan dampak positif berupa rasa tenang dan nyaman. Dalam beribadah, perasaan tenang akan mempengaruhi kenyamanan dalam beribadah dan juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas peribadatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh suara air yang dirasakan oleh jamaah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur dan kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa air dapat memberikan dampak yang cukup baik untuk meningkatkan kenyamanan dan kekhusyukan dalam beribadah. Namun untuk menjadikan air sebagai elemen desain interior, ada banyak hal yang perlu diperhatikan karena setiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap fitur air.Kata kunci: suara air, masjid, psikologi, kenyamanan akustik
SYNTACTIC MEASUREMENT UNTUK PEMETAAN POLA EVAKUASI PADA PUSAT KOTA (STUDI KASUS KOTA NAGA, FILIPINA)
Abstract Living in a dense urban center with high natural disaster risk, require an effective evacuation strategy to save many lives while disaster happen. To design an evacuation and mitigation plan effectively, it should be based on the measurement of potential pattern that created on the spatial nature of urban center. Philippines is chosen as a case study because it is known that it still experiencing some natural disaster seasonally, including Naga City that still has a poor evacuation planning, such as urban-scale assembly point plan. The space syntax method is used to determine the quality degree of evacuation planning to assembly point in scale such as sub-urban or urban scale, where in this research is applied in urban center of Naga City. The quality is assessed by several indicators, including connectivity, choice, integration, nodes, and depth. It is identified and found that the public spaces in Naga City is the most potential assembly point in case of mitigation, based on syntactic analysis with space syntax method. disaster evacuation mapping is important as a basis for public information and management in urban scale. Keywords: evacuation plan, mitigation strategy, space syntax, urban disaster management Abstrak Tinggal di pusat kota yang padat dengan risiko bencana alam yang tinggi memerlukan strategi evakuasi yang efektif untuk menyelamatkan banyak nyawa saat bencana terjadi. Untuk merancang rencana evakuasi dan mitigasi secara efektif harus didasarkan pada pengukuran pola potensial yang dibuat berdasarkan pada sifat spasial suatu kota. Filipina dipilih sebagai studi kasus karena diketahui masih mengalami beberapa bencana alam secara musiman, termasuk Kota Naga yang masih memiliki perencanaan evakuasi yang buruk, seperti rencana titik perakitan skala kota. Metode space syntax digunakan untuk menentukan tingkat kualitas perencanaan evakuasi sampi ke detail titik berkumpul dalam skala seperti sub-perkotaan sampai perkotaan, di mana dalam penelitian ini diterapkan di pusat kota Kota Naga. Kualitas dinilai oleh beberapa indikator, diantaranya connectivity, choice, integration, nodes, dan depth. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang publik di Kota Naga adalah titik kumpul paling potensial untuk bermitigasi, berdasarkan analisis sintaksis dengan metode space syntax. Pemetaan evakuasi bencana penting bagi pemetaan evakuasi sebagai dasar informasi dan manajemen publik dalam skala perkotaan.Kata kunci: rencana evakuasi, strategi mitigasi, space syntax, manajemen bencana kot
Sirkulasi Pergerakan Pada Gedung Rektorat Universitas Bengkulu
Gedung Rektorat merupakan salah satu gedung yang memiliki peranan penting dalam menjalankan kegiatan di lingkungan Universitas baik kegiatan yang akan direncanakan, dilaksanakan, maupun dievaluasi. Sirkulasi pergerakan pada suatu bangunan memiliki banyak fungsi dalam menjalankan perannya, sehingga sedemikian rupa dirancang agar aktivitas atau kegiatan berjalan dengan baik. Dengan latar belakang tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sirkulasi pergerakan pada Gedung Rektorat Universitas Bengkulu. Metode penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif kualitatif, yaitu mendeskripsikan hasil pengamatan yang dilakukan melalui observasi lapangan berdasarkan teori sirkulasi yang dilakukan secara sistematis dan aktual. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa Gedung Rektorat menerapkan beberapa pola sirkulasi pergerakan dalam ruang yang berrtujuan untuk mencapai suatu tujuan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan guideline dalam pengembangan dalam mendesain sirkulasi pergerakan dalam ruang pada Gedung Rektorat Universitas
Arsitektur Biophilic Untuk Mendukung Pengembangan Desain Hunian Di Era Kegiatan Work From Home (Pandemic Covid 19)
Pandemi Covid-19 mengharuskan manusia untuk dalam kurun waktu tertentu menghindari interaksi langsung antar manusia. Untuk menjaga produktivitas kerja, maka banyak langkah yang dilakukan termasuk kegiatan bekerja dari rumah (work from home). Perubahan pola aktivitas ini mempengaruhi cara pandang manusia untuk menciptakan kantor kecil di rumah mereka. Usaha untuk menciptakan ruang kantor tersebut bukanlah tanpa sebab. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jobstreet.com ternyata proses berpindahnya aktivitas bekerja dari kantor ke dalam hunian tidak bisa begitu saja berpindah. Banyak aspek yang melatarbelakangi kegiatan bekerja tidak bisa berjalan baik di dalam rumah. Beranjak dari permasalahan tersebut, maka timbulah sebuah pertanyaan tentang bagaimana merancang sebuah ruangan kerja yang terpisah dari aktivitas rumah yang mampu memberikan pengalaman bekerja dengan kualitas yang baik, sehingga kegiatan work from home dapat berjalan sebagaimana mestinya. Penelitian ini mengambil obyek pada sebuah hunian yang terletak di perumahan Cluster Naraya BSB City Semarang. Dimana perumahan ini memliki mayoritas penghuni berusia produktif yang disinyalir terdampak dengan kebijakan bekerja dari rumah. Arsitektur Biofilia menjadi teori utama dalam melihat sejauh mana perancangan pengembangan ruang kerja dapat memberikan dampak kualitas bekerja dari rumah yang baik
Study of Teritoriality in Mass Housing for Middle-Lower Class Through The Use of Space by Residents of Housing Case Study Perumnas Larangan dan Kecapi, Kota Cirebon
Perumnas Larangan and Kecapi is a mass housing built in 1979, located in Harjamukti sub-district of Cirebon City. The presence of Perumnas aims to meet the needs of occupancy for the middle to lower class society. In the process of settling by inhabitant, many changes occur as the needs of shelter. Utilization of public space into private space is one of them. This research has a purpose to know the pattern of territorial form middle to lower class society through space utilization by residents in Perumnas Larangan-Kecapi Cirebon city. The method used in this research is qualitative descriptive method, which is describe the relationship between data and findings qualitatively, grounded theory is used as the foundation of looking for gaps with field conditions. From the analysis, it can be seen that interpreting the territory of residential inhabitants do not have clear spatial limitation on secondary territory and public territory, different from primary territory which has clear enough limitatio
On-Site Upgrading : Strategi Memenuhi Adequate Housing di Kampung Kota
Housing and settlement conditions are still things that need to be resolved in Indonesia. Settlements in many cities in Indonesia still have many shortcomings in terms of physical conditions and basic infrastructure. The government has tried a method to overcome this problem through the Kampung Improvement Program (KIP). However, KIP has not been able to solve the problem whose effects are sustainable. There are still many urban poor living in slums urban areas. Given the above understanding, there is an urgency to look into a method to solve the problems. On-site upgrading is a step that can be used as a method for solving Kampung problems in Indonesia. This paper examines what and how the concept of on-site upgrading can provide sustainable effects in Indonesia