Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
Not a member yet
282 research outputs found
Sort by
Analisis Kinerja Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Senentang
The demand for clean water will continue to increase along with the growth of the city's population with sufficient quality and quantity to ensure a better life. The provision of clean water in Sintang City is the responsibility of Tirta Senentang Municipal Waterworks, the leading supplier of clean water. This study aims to measure and analyze the performance of clean water services in Sintang City. The data used in this study are primary and secondary. Primary data is in the form of public perception. Namely, customers obtained through questionnaires. Secondary data were obtained from a literature review, Tirta Senentang Municipal Waterworks performance report, Sintang Regency in numbers, and other literature. This research was conducted by analyzing the performance of Tirta Senentang Municipal Waterworks based on normative aspects (service, operation, and human resources (HR)) and analysis of public perceptions (customers). The results showed that based on public (customer) perception, the performance of Tirta Senentang Municipal Waterworks was good. However, normatively, several things still need to be improved in the performance of Tirta Senentang Municipal Waterworks, especially the service aspect
Analisis Penyediaan Air Bersih Fakultas Teknik Universitas Panca Bhakti : Studi Kasus Pada Infrastruktur Dan Keberlanjutan
Air bersih merupakan salah satu bagian dari sistem utilitas yang penting di Gedung kampus. Fakultas Teknik Universitas Panca Bhakti telah berdiri sejak tahun 1981 dengan program studi pertama yaitu program studi Teknik sipil. Sejak tahun 2023 dilakukan penambahan program studi yaitu Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan . Tujuan dalam penelitian ini yaitu mengetahui berapa besar kebutuhan air bersih dan besar kapasitas volume reservoir yang dibutuhkan di Fakultas Teknik Universitas Panca Bhakti untuk pemenuhan penyediaan air bersih dikawasan fakultas Teknik. Hasil penelitian yang didapat yaitu volume Ground water tank yang didapat sebesar 28 m3, Saat ini kapasitas yang tersedia berukuran 4 x 4 x 2,5 = 40 m3, artinya kapasitas Ground Reservoir yang ada sudah memenuhi untuk penyediaan air bersih. Dimensi roof tank yang didapat sebesar 4 m3, saat ini kapasitas tangki atas sudah memenuhi, namun jika ada penambahan program studi baru pada Gedung Fakultas Teknik perlu ditambahkan 1 buah Reservoir dengan kapasitas yang sama untuk memenuhi kebutuhan program studi baru di masa yang akan datang. Hasil simulasi jaringan distribusi air bersih Gedung menggunakan tiga ukuran pipa yaitu Ø 1/2 inch (12,07 mm) , Ø 3/4 inch (19,05 mm) dan Ø 2 inch (50,8 mm). Dimensi pipa mempengaruhi kecepatan air dalam pipa, dalam perencanaan ini digunakan pipa ukuran Ø 1/2 inch untuk distribusi pada tangki 3 pada pipa 9,12, 6 dan 7 yang berada dikawasan Gedung Fakultas Teknik sehingga memenuhi syarat kecepatan air dalam pipa yaitu sebesar 0,3-3 m/s.kecepatan aliran air yang rendah dapat menyebabkan terjadinya pengendapan sedimen dalam pipa, menimbulkan efek korosi dalam pipa, sedangkan bila kecepatan aliran air yang terlalu tinggi menyebabkan terjadinya penggerusan pipa sehingga mempercepat usia pipa.
Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) Untuk Analisis Besarnya Erosi Dan Muatan Sedimentasi Di Muara Sungai Mempawah
Kabupaten Mempawah merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Mempawah. Sejalan dengan meningkatnya pertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Mempawah, mengakibatkan terjadinya perubahan alih fungsi lahan. Dampak tersebut dapat memperparah proses terjadinya erosi lahan sehingga mengakibatkan peningkatan muatan sedimen di DAS Mempawah. Oleh karena itu, dilakukan analisis tingkat bahaya erosi di DAS Mempawah dengan menggunakan metode Universal Soil Losses Equation (USLE), membuat peta tingkat bahaya erosi DAS Mempawah, serta menganalisis beban sedimen yang diakibatkan oleh erosi DAS Mempawah dengan menggunakan metode Sediment Delivery Ratio (SDR). Nilai erosi DAS Mempawah sebesar 86.077,63 ton/ha/thn, dengan rincian luasan tingkat bahaya erosi sangat ringan seluas 24.964,67 Ha (14,05 %), tingkat bahaya erosi ringan seluas 58.490,06 Ha (32,92 %), tingkat bahaya erosi sedang seluas 50.485,62 Ha (28,41 %), tingkat bahaya erosi berat dengan luas lahan seluas 26.683,53 Ha (15,02 %), dan tingkat bahaya erosi sangat berat dengan luas lahan seluas 17.069,34 Ha (9,61 %). Muatan sedimen yang dihasilkan dari erosi DAS Mempawah sebesar 6.644.216,38 ton/ha/thn. DAS Mempawah memerlukan penanganan yang lebih serius lagi terhadap penanggulangan erosi agar mengurangi sedimen yang terjadi
Identifikasi Permukiman Pada Kawasan Hutan dan Analisis Pola Sebaran Permukiman di Kecamatan Paloh
Kecamatan Paloh terletak di Kabupaten Sambas pada Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki fungsi kawasan hutan yang besar berdasarkan SK 733 Tahun 2014 yang mencapai 8,3 juta hektar. Masalah yang dapat ditimbulkan dari lebih besarnya luas fungsi kawasan hutan dibandingkan kawasan non hutan di suatu wilayah adalah dapat terjadinya tumpang-tindih lahan antara lahan permukiman dengan kawasan hutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui luas permukiman yang masuk ke dalam fungsi kawasan hutan dan menganalisis pola sebaran permukiman. Hasil overlay peta menunjukkan terdapat permukiman yang berada di dalam kawasan hutan yaitu pada kawasan hutan produksi dan taman wisata alam dengan luas sebesar 16,8 ha atau 4,38 % dari luas keseluruhan permukiman. Bentuk sebaran permukiman di kecamatan paloh adalah linear atau memanjang yang terbangun mengikuti arah jalan. sebagian besar jalan lokal ini sudah berada pada kawasan APL dengan panjang 110,35 km (79%) yang membuat permukiman yang terbangun di dalam kawasan hutan memiliki luas yang rendah karena perkembangan permukiman di Kecamatan Paloh terjadi di sepanjang jalan. Berdasarkan analisis tetangga terdekat semua desa yang ada di Kecamatan Paloh menunjukkan pola sebaran yg mengelompok dengan nilai T semua desa yg berada di bawah 0,71
Teknologi Pengolahan Emisi dengan Menggunakan Electrostatic Presipitator (ESP)
Indonesia menduduki peringkat ke-17 di dunia dan peringkat teratas di Asia Tenggara sebagai negara yang tingkat polusi udaranya tertinggi, dengan konsentrasi PM2,5 mencapai 34,3 μg/m3. Peningkatan konsumsi energi oleh industri menghasilkan emisi yang menyebabkan pencemaran lingkungan dan gangguan pernapasan. PM2,5 lebih berbahaya bagi kesehatan dari pada PM10 karena ukurannya yang kecil dapat tersimpan dalam alveoli yang menyebabkan gangguan fungsi sistem imun. Oleh karena itu diperlukan teknologi pengendalian pencemaran udara seperti electrostatic precipitator (ESP). ESP sangat efektif sebagai pengandali partikulat yang berukuran ≤10 mikron. Tujuan penulisan makalah ini adalah mengkaji teknologi ESP. Metode yang digunakan adalah literatur review. ESP sudah banyak diterapkan di industri dalam mengolah partikulat karena efisiennya 75 hingga 99%. Prinsip utama sistem ESP adalah menangkap partikel padat yang keluar dari hasil pembakaran dengan cara memberikan arus listrik DCdan tegangan yang tinggi pada kawat elektroda bermuatan negatif. Proses ini menyebabkan partikulat tersebut bermuatan negatif dan terikat di plat yang bermuatan positif, sehingga gas buang yang lepas ke atmosfer bersih
Sistem Monitoring Kualitas Air Boiler pada Pabrik Kelapa Sawit
Boiler adalah mesin yang berfungsi untuk mengkonversi air menjadi uap dengan cara dipanaskan. Satu diantara faktor yang mempengaruhi lifetime boiler adalah air umpan. Air umpan boiler yang digunakan harus dapat dipastikan memenuhi persyaratan sebagai sumber uap dan dapat menghindari terjadinya korosi pada pipa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat monitoring kualitas air di pabrik kelapa sawit berdasarkan indikator Dissolved Oxygen (DO) yakni maksimal 4 mg/L, pH antara 7,5 hingga 9,5 dan TDS (Total Dissolved Solids) maksimal 70 ppm. Penelitian ini menerapkan sistem Internet of Things (IoT) dalam proses monitoring. Sistem pada alat dibagi menjadi dua yaitu transmitter dan receiver. Transmitter berisikan sensor DO, sensor pH, sensor TDS, dan sensor suhu yang kemudian akan diletakkan di sumber air yang akan diukur untuk mengukur kualitas sumber air. Data tersebut kemudian akan dikirimkan ke receiver menggunakan LoRa (Long Range) yang menggunakan frekuensi radio sebagai transmisi sinyal antara perangkat transmitter dan receiver. Kemudian data tersebut akan dikirim ke aplikasi Blynk dengan penerapan IoT pada alat sehingga pembacaan data dapat dilihat menggunakan smartphone. Perancangan alat ini bertujuan untuk mengatasi masalah pengukuran kualitas air yang masih dilakukan secara manual dan membutuhkan waktu yang relatif lama dengan sistem monitoring kualitas air yang real time, otomatis dan efisien
Perencanaan Pengelolaan Sampah di Objek Wisata Pantai Pulau Datok
Pantai Pulau Datok memiliki fasilitas seperti mushola, warung/café, dan penginapan yang dapat menimbulkan sampah seiring bertambahnya pengunjung. Pengelolaan sampah di Pantai Pulau Datok belum memiliki sistem pemilahan dan pengumpulan sampah sedangkan wadah sampah yang tersedia kondisinya sudah rusak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui timbulan dan komposisi sampah serta merencanakan sistem pengelolaan sampah. Pengambilan sampel dilakukan secara langsung, sampel diambil sebesar 50% dari jumlah fasilitas penghasil sampah. Pengukuran timbulan sampah dilakukan dengan menimbang berat dan mengukur tinggi sampah di dalam kotak ukur sedangkan pengukuran komposisi sampah dilakukan dengan menimbang berat setiap jenis sampah. Berdasarkan hasil penelitian, Pantai Pulau Datok menghasilkan sampah sebanyak 68,97 kg/hari atau 1,37 m3/hari yang terdiri dari sampah organik 57,38%, anorganik 41,29% dan residu 1,33%. Pengelolaan sampah yang direncanakan pada tahun 2033 ialah pemilahan, pewadahan dan pengumpulan sampah. Warung/café direncanakan menggunakan tempat sampah ukuran 240 liter sebanyak 11 unit, mushola 240 liter 1 unit, penginapan 40 liter 1 unit dan sampah disepanjang pantai 240 liter 17 unit. Armada pengumpul sampah adalah gerobak motor berkapasitas 1,5 m3 sebanyak 3 unit. Pengumpulan sampah warung/café dan sampah di sepanjang pantai adalah sebanyak 3 ritasi sedangkan mushola dan penginapan 1 ritasi. Rencana Anggaran biaya yang diperlukan adalah sebesar Rp 82.846.000
Efektivitas Sabut Kelapa dan Ampas Tebu Sebagai Bahan Pot Organik
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas kekuatan pot organik dengan inovasi bahan pot organik terbuat dari campuran ampas tebu dan sabut kelapa. Penelitian menggunakan kanji sebagai perekat. Penelitian mengkaji potensi pengurangan limbah ampas tebu dan sabut kelapa. Penelitian ini menggunakan pot plastik berdiameter 12 cm dan 9 cm berlapis kantong plastik. Penelitian dilakukan dengan variasi komposisi bahan yaitu sabut kelapa, ampas tebu dan campuran keduanya. Penelitian terhadap rendaman dalam air dilakukan untuk menguji ketahanan pot organik. Hasil uji ketahanan yang diperoleh dari ketiga variasi pot organik yaitu pot dengan bahan campuran ampas tebu dan sabut kelapa memiliki ketahanan paling baik
Analisis Faktor Dampak Lingkungan Pekerjaan Pancang dengan HSPD pada Tanah Lunak di Kabupaten Kubu Raya Dengan Metode AHP
Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi dampak lingkungan dari pekerjaan pondasi menggunakan metode Hydraulic Static Pile Driver (HSPD) di tanah lunak di Kabupaten Kubu Raya dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). AHP digunakan untuk mengidentifikasi dan memberi bobot pada faktor-faktor utama yang berdampak terhadap lingkungan, yaitu getaran alat, erosi tanah dan longsor, polusi suara, pencemaran kimia, polusi udara, dan pencemaran air tanah. Hasil penelitian menunjukkan faktor-faktor yang paling berpengaruh di antaranya adalah getaran, polusi suara dan polusi udara. Langkah utama yang disarankan adalah pengembangan teknologi baru yang dapat meminimalkan getaran dari alat berat selama proses pemancangan pondasi, yang dianggap sebagai prioritas utama. Selanjutnya, untuk mengatasi masalah erosi tanah dan longsor, diperlukan upaya mitigasi yang lebih intensif, termasuk penerapan teknik rekayasa tanah dan penggunaan vegetasi pelindung. Penelitian juga menyarankan pentingnya mengimplementasikan metode pemancangan yang dapat menghasilkan tingkat polusi suara dan pencemaran kimia yang lebih rendah
Penerapan Metode Enhanced Phytoremediation pada Lahan Bekas Tambang Emas Desa Tirta Kencana Kecamatan Bengkayang
Community gold mining activities using the amalgamation method cause soil pollution due to the use of mercury (Hg) to extract gold content which causes a decrease in soil quality and environmental damage. Enhanced phytoremediation is a method that can be applied to remove mercury levels with using the Cyperus kyllingia plant and adding supporting elements in the form of bacterial isolates that are resistant to mercury. This research aimed to determine the effectiveness of Cyperus kyllingia plants and bacterial isolates for removing mercury levels in mercury-contaminated soil, as well as observing the bacterial population and plant morphology during the research. Based on the research results, it is known that the best efficiency value for removing mercury levels is found in phytoremediation with the addition of bacterial isolates, namely 86.88%. The largest bacterial population was found in the phytoremediation reactor with the addition of bacterial isolates, namely 73.3 × 106 CFU/mL. The mercury content in polluted soil causes changes in plant morphology, namely the color of green plants changes to yellow, but plants can reproduce as indicated by an increase in the number of leaves and plant stem