Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
Not a member yet
282 research outputs found
Sort by
POTENSI AIR TANAH BEBAS DI DAERAH KECAMATAN PONTIANAK SELATAN (STUDI KASUS JALAN SELAYAR – JALAN HARAPAN JAYA)
ABSTRAK Kelurahan Kota Baru Kecamatan Pontianak Selatan di jalan Selayar sampai jalan Harapan Jaya sebagai lokasi penelitian merupakan daerah pemukiman serta perdagangan yang sering mengalami kekurangan air terutama pada musim kemarau.Daerah tersebut sebenarnya sudah terjangkau oleh jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) namun jumlah air masih terbatas dan kualitas yang masih kurang baik. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi kekurangan air baku adalah dengan memanfaatkan sumber air tanah dangkal sebagai sumber air baku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi air tanah bebas di Jalan Selayar – Jalan Harapan Jaya, untuk mengetahui pola aliran air tanahnya dan untuk mengetahui pola sebaran pencemaran air tanah.Tahap penelitian dimulai penentuan titik sampel yang berada di 12 titik sumur untuk pengukuran tinggi muka air, sedangkan uji kualitas air diambil 4 sumur ,penentuan titik lokasi dilihat berdasarkan tata guna lahan serta aktivitas yang berlangsung disekitar sumur dan data sekunder yaitu data tofografi. Pengambilan sampel air saat kemarau (3 Februari 2014) dan setelah hujan (1 Maret 2014) serta pengujian kualitas air untuk parameter TSS, TDS, pH, Besi, BOD, dan Sulfat yang dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Berdasarkan perhitungan debit menurut Kepmen Energi dan SDM No.1451/10/MEM/2002 di daerah penelitian berpotensi kecil karena debit air < 2 l/detik yaitu 0,0073 l/detik saat kemarau dan 0,0088 l/detik setelah hujan. Untuk kualitas air sumur di Jalan Selayar – Jalan Harapan Jaya untuk parameter TSS, TDS, pH, dan Sulfat memenuhi standar baku mutu menurut PP No. 82 Tahun 2001 air kelas I. Sedangkan parameter BOD dan besi (Fe) melebihi standar baku mutu menurut PP No. 82 Tahun 2001 air kelas I yaitu air yang peruntukannnya dapat digunakan untuk air baku air minum atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama untuk peruntukan tersebut. Untuk arah aliran air tanah air mengalir dari arah selatan menuju arah utara yang akan bermuara di Sungai Kapuas dan pola sebaran pencemaran air tanah tidak merata karena dipengaruhi oleh sanitasi yang kurang baik namun tetap mengikuti arah aliran air tanah Kata - kata Kunci : Air Tanah, Potensi Air Tanah, Pola Sebaran Pencemara
PENGARUH TINGKAT EKONOMI TERHADAP JUMLAH PEMAKAIAN AIR BERSIH DOMESTIK DI KOTA PONTIANAK
ABSTRAKAir bersih merupakan masalah yang vital bagi kehidupan manusia. Setiap hari kita membutuhkan airbersih untuk keperluan sehari – hari. Oleh sebab itu, penyediaan air bersih menjadi hal yang sangat pentinguntuk dikaji. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah pemakaian rata - rata per orang perhari di Kota Pontianak; mengetahui pengaruh tingkat ekonomi terhadap jumlah pemakaian air bersih domestikdi Kota Pontianak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi metode penelitian asosiatif(korelasional) dan metode penelitian survei. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan metoderegresi berganda dan regresi logistik dengan bantuan program Excel dan SPSS (Statistical Package for SocialScience) versi 16.0. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pemakaian rata – rata air bersih Kota Pontianak ialah157 liter/orang/hari sementara standar kebutuhan air yang digunakan PDAM ialah 150 liter/orang/hari.Penelitian ini juga menunjukkan secara simultan/serempak bahwa jumlah pendapatan rata – rata keluarga,jumlah pengeluaran rata – rata keluarga tanpa pengeluaran air dan tingkat harga PDAM, luas tanah rumah,penghuni rumah, tingkat pendidikan KK dan pelayanan PDAM berpengaruh secara signifikan terhadap jumlahpemakaian air bersih PDAM. Secara parsial yang mempengaruhi jumlah pemakaian air PDAM secara signifikanialah jumlah penghuni rumah dan jumlah pendapatan rata – rata. Semakin besar jumlah penghuni rumah danjumlah pendapatan keluarga, semakin besar pula jumlah pemakaian air bersih PDAM di Kota Pontianak.Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa tingkat ekonomi mempengaruhi jumlah pemakaianair bersih PDAM di Kota Pontianak. Semakin tinggi tingkat ekonomi keluarga semakin besar pula jumlahpemakaian air bersih PDAM Kota Pontianak. Penelitian ini merekomendasikan agar PDAM Kota Pontianakdapat meningkatkan kualitas pelayanannya baik dari segi kualitas, kuantitas dan kontinuitas sertapendistribusian air PDAM juga hendaknya disesuaikan dengan kepadatan penduduk.Kata Kunci : Air Bersih, Tingkat Ekonomi, Pemakaian Ai
KAJIAN BEBAN PENCEMARAN BEBERAPA SALURAN YANG BERMUARA KE SUNGAI KAPUAS DI KECAMATAN PONTIANAK UTARA KOTA PONTIANAK (Studi Kasus: Kelurahan Batulayang dan Siantan Hilir)
ABSTRAKKota Pontianak memiliki banyak saluran berupa anak sungai dan juga parit yang bermuara di Sungai Kapuas. Sungai Kapuas tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Pontianak sebagai sumber air baku pengolahan air minum, budidaya perikanan, air baku industri, rekreasi, pertanian, kegiatan MCK dan penunjang sarana transportasi. Berkembangnya aktivitas di sepanjang aliran anak sungai dan parit tersebut berpotensi dalam meningkatkan beban pencemaran, meningkatnya kepadatan penduduk menyebabkan volume limbah domestik dan beban pencemaran di saluran - saluran tersebut meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya total beban pencemar dari tujuh saluran di Kecamatan Pontianak Utara yang akan masuk ke Sungai Kapuas dan mengetahui perkiraan besarnya potensi beban pencemar yang dihasilkan dari aktivitas domestik pada masing – masing saluran (Parit Telok Melano, Parit Sahang Besar, Sungai Sahang, Parit Belanda, Parit Cek Khwok, Parit Pak kacong, Sungai Kunyit) tersebut dalam upaya menentukan pengendalian beban pencemar yang terjadi.Tahapan penelitian ini yaitu pengumpulan data primer berupa dimensi saluran (lebar dan kedalaman), luas penampang basah, kecepatan aliran, debit aliran, pengambilan sampel air, perhitungan beban pencemaran masing – masing saluran, perhitungan estimasi potensi beban pencemaran untuk proyeksi 20 tahun dan analisis pengendalian beban pencemar. Pengambilan sampel kualitas air menggunakan metode grab sample saat surut terendah yaitu pada tanggal 2 Maret 2014 pukul 18.49 WIB dan saat pasang tertinggi yaitu pada tanggal 3 Maret 2014 pukul 12.00 WIB dengan parameter yang dianalisis yaitu BOD, COD, TP, TN, Total Coliorm, suhu dan pH.Hasil analisis diketahui total beban pencemaran dari ke-tujuh saluran yang akan masuk ke Sungai Kapuas pada saat pasang adalah: BOD (2.410 kg/hari); COD (16.662 kg/hari); Total Posfat (115 kg/hari) dan Total Nitrogen (4.352 kg/hari), sedangkan pada saat surut total beban pencemaran dari ke-tujuh saluran yang akan masuk ke Sungai Kapuas adalah BOD (2.244 kg/hari); COD (10.274 kg/hari); Total Posfat (131 kg/hari) dan Total Nitrogen (3.334 kg/hari). Adapun besarnya potensi beban pencemaran yang dihasilkan dari aktifitas domestik hingga tahun 2034 adalah: BOD (1.186 kg/hari); COD (2.273 kg/hari); Total Posfat (85 kg/hari) dan Total Nitrogen (508 kg/hari), dengan laju peningkatan potensi beban pencemaran setiap parameter adalah sebesar 8,4 %. Adapun strategi pengendalian beban pencemaran air dilakukan dengan meningkatkan kegiatan pengawasan sumber – sumber pencemar, merealisasikan rencana pembuatan IPAL komunal domestik, meningkatkan peran serta dan pemahaman masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan serta meningkatkan layanan pengangkutan sampah di wilayah Kecamatan Pontianak Utara.Kata- kata kunci: Sungai Kapuas di Kota Pontianak, Limbah Domestik, Beban Pencemaran, Pengendalianpencemara
ANALISIS WILLINGNESS TO PAY MASYARAKAT TERHADAP PENINGKATAN PELAYANAN PDAM DI JALAN DANAU SENTARUM DAN SEKITARNYA
ABSTRAK Air merupakan faktor penting dalam pemenuhan kebutuhan vital bagi mahluk hidup diantaranya sebagai air minum atau keperluan rumah tangga lainnya. Air yang digunakan harus bebas dari kuman penyakit dan tidak mengandung bahan beracun. Berkaitan dengan hal tersebut, dengan adanya sarana dan prasarana air bersih serta ditunjang perencanaan yang baik diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memenuhi akan kebutuhan air bersih, karena kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci (bermacam-macam cucian) dan sebagainya. Pelayanan pendistribusian air di Kota Potianak tidak semua jalur pendistribusian dapat menggunakan air dari PDAM ini dengan maksimal karena adanya kendala dalam pendistribusian air tersebut maka ada beberapa wilayah di Kota Pontianak yang mengalami permasalahan dalam pengaliran air bersih dari PDAM Kota Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode CVM (Contingent Valuation Method) digunakan untuk mengestimasi biaya yang akan dikeluarkan masyarakat, dan metode regresi berganda digunakan untuk menganalisa faktor-faktor dominan yang mempengaruhi masyarakat dalam membayar iuran PDAM setiap bulannya. Pogram yang dapat membantu dalam penelitian ini yaitu Microsoft Excel 2007 dan SPSS versi 16. Hasil Penelitian yang dihasilkan yaitu besarnya estimasi nilai WTP (willingness To Pay) masyarakat terhadap peningkatan pelayanan PDAM di Jalan Danau Sentarum dan sekitarnya yaitu Rp 1.800,-. Sedangkan faktor-faktor dominan yang mempengaruhi kesediaan membayar masyarakat dalam membayar iuran air untuk peningkatan pelayanan PDAM di Jalan Danau Sentarum dan sekitarnya yaitu tingkat pendapatan, tingkat pengetahuan dan pengeluaran rata-rata rumah tangga. Kata Kunci: WTP (willingness To Pay), PDAM Kota Pontiana
EVALUASI DAN OPTIMALISASI KINERJA IPA I PDAM KOTA PONTIANAK
Perusahaan daerah air minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa Pontianak merupakan salah satu perusahaan daerah yang bertanggungjawab dalam penyediaan air bersih di kota Pontianak. IPA I Imam Bonjol merupakan IPA yang paling tua di PDAM Kota Pontianak mempunyai kapasitas pengolahan sekitar 150 liter/detik yang mulai dioperasikan pada tahun 1962. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas air baku dan air hasil produksi IPA I apakah sudah sesuai standar baku mutu menurut peraturan yang ada dan mengetahui efisiensi penyisihan di tiap unit pengolahan IPA I serta memberikan rekomendasi perbaikan. Metodologi yang digunakan adalah mengevaluasi kinerja IPA I berdasarkan kriteria desain dan menganalisa kualitas air baku dan air hasil produksi dengan standar baku mutu yang telah ditetapkan. Dari hasil penelitian bahwa air baku sungai Kapuas sudah memenuhi standar baku mutu air baku kelas I menurut PP.No. 82 Tahun 2001, tetapi untuk kekeruhan dan warna di atas baku mutu yaitu 39 NTU melebihi standar baku mutu 25 NTU dan warna 248 Pt.Co melebihi standar baku mutu 50 Pt.Co. Unit pengolahan IPA I terdiri dari koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi. Pada unit koagulasi mempunyai efisiensi penyisihan kekeruhan 71,79% dan warna 72,89%. Unit flokulasi efisiensi penyisihan kekeruhan 82,05% dan warna 87,90%. Unit Sedimentasi efisiensi penyisihan kekeruhan 82,05%, warna 91,13% dan besi 95,55%. Unit filtrasi efisiensi penyisihan kekeruhan 79,49%, warna 91,53 %, dan besi 95,55%. Air hasil produksi IPA I belum memenuhi standar baku mutu air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.492/MENKES/PER/1V/2010. Parameter yang belum sesuai standar baku mutu air minum adalah parameter warna, kekeruhan, aluminium. Parameter warna mempunyai konsentrasi 41,20 Pt.Co di atas standar baku mutu 15 Pt.Co, kekeruhan 7 NTU di atas standar baku mutu 5 NTU, aluminium 4 mg/L di atas standar baku mutu 0,2 mg/L. Parameter yang berada di bawah standar baku mutu adalah TDS, sulfat, dan besi. TDS mempunyai konsentrasi 110 mg/L di bawah standar baku mutu 1000 mg/L, sulfat mempunyai konsentrasi 25 mg/L di bawah standar baku mutu 250 mg/L, besi mempunyai konsentrasi 0,03 mg/L di bawah standar baku mutu 0,3 mg/L. Secara keseluruhan kinerja unit pengolahan IPA I masih baik, tetapi pada unit flokulasi perlu adanya perbaikan untuk mengoptimalkan kinerja unit tersebut, yaitu dengan menambahkan baffle channel pada unit pengolahan sehingga kinerja di unit flokulasi dapat menjadi lebih baik. Kata kunci : IPA , Air Baku, Efisiens
RANCANG BANGUN SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DOMESTIK TERPADU (COMPACT SYSTEM)
ABSTRAK Pemukiman yang pada umumnya tidak memiliki pengolahan limbah cair, menyebabkan sebagian besar limbah cairnya (grey water) dibuang melalui sumur peresapan maupun langsung kedalam badan air yang ada di lingkungan sekitar, sehingga akan mengakibatkan tercemarnya badan air maupun air tanah yang ada. Dalam upaya menurunkan kandungan pencemar yang terdapat di dalam limbah cair domestik, diperlukan suatu pengendalian yaitu dibangunnya suatu instalasi pengolahan limbah cair domestik. Tujuan dari perancangan dan pembuatan instalasi pengolahan limbah cair domestik terpadu ini adalah mendapatkan kualitas efluen yang memenuhi baku mutu kualitas air kelas III, dan mengetahui efisiensinya. Tahapan perancangan instalasi pengolahan limbah cair domestik terpadu meliputi : pengumpulan data sekunder dan analisis awal, perancangan sistem yang diikuti pembuatan sistem, serta pengujian dan evaluasi kinerja yang dilakukan sebanyak 3 kali pengujian (triplo) dengan kapasitas pengolahan 50 liter. Sampel limbah awal yang di analisis memiliki karakteristik COD sebesar 108 mg/l, 27 mg/l, 94 mg/l, TSS sebesar 58 mg/l, 2 mg/l, 100 mg/l, sedangkan Total Coliform sebesar 1600, 16x105, 90x104, (MPN). Komponen yang terdapat pada Instalasi ini yaitu : (1) tangki aerobik dengan dimensi tinggi 43 cm, panjang dan lebar 40 cm dengan ketebalan dinding tangki 5 cm dan memiliki pengaduk propeller. (2) Tangki clarifier dengan dimensi tinggi dan lebar 48 cm, panjang 34 cm dengan kedalaman kerucut lumpur 7 cm yang. (3) Tangki filtrasi pasir lambat dengan dimensi tinggi 48 cm, panjang dan lebar 20 cm dengan media dari atas kebawah yakni pasir halus, pasir kasar, kerikil, karbon aktif dengan kedalaman masing – masing media 10 cm. (4) Tangki desinfeksi dengan dimensi tinggi 25 cm panjang dan lebar 60 cm yang menggunakan sinar matahari. Karakteristik efluen yang dihasilkan yaitu COD sebesar 70 mg/l, 41 mg/l, 31 mg/l, TSS sebesar 1 mg/l, 3 mg/l, 1 mg/l, Total Coliform sebesar 0, 1100, 1600 (MPN). Rata – rata efisiensi yang diperoleh dari pengolahan tersebut untuk COD sebesar 51 %, TSS sebesar 98,5%, Total Coliform sebesar 99,5%. Nilai parameter dari effluen yang dihasilkan telah memenuhi baku mutu kualitas air kelas III. Kata kunci: COD, IPAL Compact, Lumpur Aktif, Sinar UV, Total Coliform, TSS
BEBAN PENCEMARAN PADA KAWASAN PADAT PENDUDUK (STUDI KASUS SUNGAI BELIUNG)
ABSTRAK Saluran drainase Sungai Beliung merupakan salah satu saluran primer yang dimanfaatkan untuk menampung dan mengalirkan air limpasan hujan dan limbah cair domestik secara tercampur. Peningkatan kepadatan penduduk menyebabkan meningkatnya volume limbah domestik dan beban pencemaran di saluran tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kualitas air dan beban pencemaran yang terjadi dalam upaya pengendalian pencemaran air. Tahapan penelitian ini yaitu pengumpulan data primer berupa dimensi saluran (lebar dan kedalaman), luas penampang basah, kecepatan aliran, debit aliran, pengambilan sampel air dan perhitungan beban pencemaran. Pengambilan sampel kualitas air menggunakan metode grab sample saat kondisi pasang dan surut dengan parameter pencemar yaitu TSS, DO, BOD dan pH. Kualitas air di saluran drainase Sungai Beliung, berdasarkan hasil uji laboratorium untuk parameter pencemar yang mewakili, hanya memenuhi baku mutu untuk kelas IV menurut PP RI No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yang peruntukannya untuk mengairi pertanaman. Kondisi ini menunjukkan bahwa air di saluran drainase Sungai Beliung tidak dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti air minum maupun aktifitas mandi,cuci,kakus. Beban pencemaran tertinggi di muara saluran (titik 5), berdasarkan parameter TSS saat pasang yaitu 1144 kg/hari, saat surut yaitu 1387 kg/hari dan untuk parameter BOD saat pasang yaitu 543 kg/hari, saat surut yaitu 1065 kg/hari. Rata-rata beban pencemaran saat surut lebih tinggi dari pada saat pasang, dimana rata-rata beban pencemaran berdasarkan parameter TSS saat pasang yaitu 642 kg/hari, saat surut yaitu 437 kg/hari dan rata-rata beban pencemaran berdasarkan parameter BOD, saat pasang yaitu 494 kg/hari, saat surut yaitu 304 kg/hari. Kata kunci : Beban pencemaran, Saluran drainase, Sungai Beliung Pontianak Bara
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR RUMAH MAKAN MENGGUNAKAN SISTEM KOMBINASI ABR DAN WETLAND DENGAN SISTEM KONTINYU
ABSTRAKSalah satu masalah yang timbul akibat meningkatnya kegiatan rumah makan/restaurant adalah tercemarnya air pada sumber-sumber air karena menerima beban pencemaran yang melampaui daya dukungnya. Berdasarkan tingkat kepadatan penduduk dan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia, maka air limbah yang berasal dari rumah makan untuk masa yang akan datang berpotensi menjadi ancaman yang cukup serius terhadap pencemaran lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui karakteristik limbah cair domestik rumah makan Raje Laot; (2) Mengetahui efektifitas pengolahan limbah cair domestik dengan menggunakan kombinasi prosese Anaerobic baffle reactor (ABR) dan wetland dalam satu unit teknologi pengolahan; (3) Mengetahui waktu tinggal terbaik untuk mengolah limbah cair domestik dengan kombinasi proses Anaerobic baffle reactor (ABR) dan wetland. Dalam penelitian ini digunakan sistem kombinasi anaerobic baffle reactor (ABR) dan sistem lahan basah (wetland) ke dalam satu unit teknologi pengolahan air limbah untuk mengurangi ancaman limbah cair domestik bagi lingkungan. Proses kombinasi pengolahan dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pengolahan limbah cair domestik. Limbah cair yang dihasilkan oleh rumah makan Raje Laot dikumpulkan ke dalam satu bak penampungan di dalam laboratorium untuk kemudian diolah dengan variasi waktu tinggal 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Dalam studi kasus penelitian ini, hasil pengolahan terbaik dengan metode kombinasi ABR dan wetland mampu menurunkan konsentrasi pencemaran dengan nilai efisiensi pengolahan pH 6,47, BOD sebesar 57,1 %, TSS 72,4 %, COD 58,7 % dan Minyak-Lemak dengan efisiensi 97,1 %. Nilai efisiensi tersebut menunjukan bahwa persentase penurunan konsentrasi pencemar paling baik terjadi pada waktu tinggal pengolahan 48 jam atau 2 hari.Kata Kunci: Air Limbah domestik, ABR dan Wetland, Waktu tinggal, Efisiens
PENGGUNAAN TAWAS CAIR RECOVERY DARI LIMBAH PADAT LUMPUR PDAM KOTA PONTIANAK SEBAGAI KOAGULAN UNTUK PENGOLAHAN AIR BERSIH
ABSTRAK Limbah padat lumpur (LPL) PDAM dari proses koagulasi yang belum diolah atau dimanfaatkan hingga saat ini langsung dibuang ke Sungai Kapuas dan berpotensi mencemari air sungai. Studi terhadap pemanfaatan kembali aluminium pada LPL PDAM Kota Pontianak sebagai koagulan dilakukan untuk mengolah limbah sehingga dapat digunakan kembali dalam bentuk tawas cair, menentukan kondisi terbaik dan dapat menentukan biaya yang diperlukan untuk recovery dan aplikasinya. Recovery aluminium meliputi pengeringan dan kalsinasi lumpur, pengambilan kembali aluminium dengan metode asidifikasi menggunakan H2SO4 konsentrasi 10 M. Berat kering LPL PDAM yang digunakan sebesar 2 gram, kecepatan aduk 40 rpm selama 120 menit dan pengendapan selama 60 menit. Konsentrasi aluminium yang didapatkan dari tawas cair recovery sebesar 646, 13 ppm atau setara dengan 161,53 mg. Tawas cair recovery diaplikasikan pada proses koagulasi-flokulasi terhadap air baku untuk melihat efektifitas kerja tawas cair. Kondisi terbaik untuk tawas cair yaitu pada dosis 12 mg, kecepatan aduk cepat 160 rpm dan kecepatan aduk lambat 20 rpm dengan persen penyisihan kekeruhan sebesar 99,26%. Biaya yang diperlukan untuk proses recovery dan aplikasi pada tawas cair sebesar Rp 1.188/L. Kata kunci: recovery, tawas cair, koagulas
POTENSI AIR TANAH DANGKAL DI DAERAH KELURAHAN KOTA BARU KECAMATAN PONTIANAK SELATAN - KOTA PONTIANAK (Studi Kasus Jalan Dr. Sutomo – Ampera)
ABSTRAKDaerah Kota Baru, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, tepatnya di jalan Dr. Sutomo sampai jalan Ampera merupakan daerah pemukiman serta perdagangan yang sering mengalami kekurangan air bersih terutama pada musim kemarau. Daerah tersebut sebenarnya sudah terjangkau oleh jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) namun jumlah air masih terbatas dan kualitas masih kurang baik hanya melayani 78.194 pelanggan dengan cakupan 74,1% penduduk (Perusahaan Daerah Air Minum Kota Pontianak, 2012). Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi kekurangan air baku adalah dengan memanfaatkan sumber air tanah bebas sebagai sumber air baku. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kuantitas air menurut Kepmen Energi dan SDM No.1451/10/MEM/2000, kualitas air berdasarkan PP No.82 Tahun 2001 kelas I serta arah aliran/pola sebaran didaerah penelitian. Pengukuran tinggi muka air tanah dan pengambilan sampel air tanah pada waktu sebelum hujan/kemarau pada tanggal 3 Februari 2014 dan setelah hujan pada tanggal 1 Maret 2014. Sumur yang dipilih sebanyak 12 titik untuk pengukuran tinggi muka air tanah serta kuantitas air di daerah penelitian sedangkan uji kualitas dipilih 4 sumur dengan metode pengambilan sampel menggunakan grab sampel. Parameter yang di uji adalah TSS, TDS, Besi (Fe), pH, Sulfat (SO4) dan BOD5. Kuantitas air tanah sebelum hujan untuk debit maksimum 0,003645 l/detik sedangkan setelah hujan debit maksimum sebesar 0,004062 l/detik. Hasil ini menunjukkan bahwa kuantitas air tanah bebas di daerah tersebut masuk kedalam kategori potensi kecil karena berada < 2 liter/detik. Analisis kualitas air sumur parameter TSS tertinggi sebelum hujan 89 mg/l dan terendah 11 mg/l sedangkan nilai tertinggi setelah hujan 73 mg/l dan terendah 3 mg/l. Nilai TDS tertinggi sebelum hujan 742 mg/l dan terendah 189,9 mg/l sedangkan nilai tertinggi setelah hujan 1148 mg/l dan terendah 213 mg/l. Nilai Besi (Fe) tertinggi sebelum hujan 9,294 mg/l dan terendah 0,896 mg/l sedangkan nilai tertinggi setelah hujan 0,306 mg/l dan terendah 0,034 mg/l. Nilai pH tertinggi sebelum hujan sebesar 7,25 dan terendah 6,82 sedangkan nilai tertinggi setelah hujan 6,93 dan terendah 6,142. Nilai Sulfat (SO4) tertinggi sebelum hujan 32 mg/l dan terendah 0 mg/l sedangkan nilai tertinggi setelah hujan 77 mg/l dan terendah 25 mg/l. Nilai BOD tertinggi sebelum hujan 135,59 mg/l dan terendah 17,28 mg/l sedangkan nilai tertinggi setelah hujan 24,91 dan terendah 12,2 mg/l. Hasil uji kualitas air tanah menunjukkan tidak layak untuk digunakan untuk air baku air minum dan/atau peruntukan lainnya karena masih terdapat parameter yang berada di atas baku mutu. Pola aliran air tanah di daerah penelitian mengalir dari arah selatan menuju ke arah utara yaitu bermuara ke sungai kapuas. Pola sebaran parameter pencemar mengikuti arah arah aliran air tanah dan dipengaruhi oleh aktivitas yang ada disekitar lokasi sumur.Kata Kunci : Air Tanah, Kuantitas air tanah, Kualitas air tanah, arah aliran, pola sebaran parameter pencemar