Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
Not a member yet
    282 research outputs found

    PERENCANAAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU DI KAWASAN PASAR FLAMBOYAN KOTA PONTIANAK

    Get PDF
    ABSTRAK Sampah merupakan konsekuensi kehidupan yang sering menimbulkan masalah, dan jumlahnya akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan beragam aktivitasnya.Pasar Flamboyan adalah pasar terbesar di Kalimantan Barat.Pasar ini memiliki ± 1700 pedagang dan dibuka setiap hari.Disana terdapat ruko dengan jumlah 53 unit, kios sebanyak 203 unit dan los sebanyak 1498 unit.Saat ini Pasar Flamboyan belum mempunyai sistem pengelolaan sampah terpadu. Hal tersebut akan mengakibatkan banyaknya jumlah sampah yang dihasilkan dari setiap kegiatan. Sampah yang dihasilkan dari berbagai macam penjualan akan menghasilkan sampah yang beragam pula. Penanganan sampah setiap harinya di Pasar Flamboyan untuk saat ini masih menggunakan cara lama yaitu sampah dikumpulkan ke suatu tempat pembuangan sampah sementara lalu pada sore harinya sampah diangkut oleh pihak dari dinas kebersihan untuk dibawa ke TPA. Tujuan dari perencanaan ini yaitu untuk mengetahui total timbulan sampah dan komposisi sampah yang dihasilkan di kawasan Pasar Flamboyan serta untuk merencanakan sistem pengelolaan sampah terpadu di Kawasan Pasar Flamboyan. Perencanaan pengelolaan sampah di Kawasan meliputi perencanaan dari seluruh aspek operasional pengelolaan sampah yaitu perencanaan pewadahan sampah, pengumpulan dan pengangkutan sampah serta pengolahan sampah di Kawasan Pasar Flamboyan. Pengambilan data primer dilakukan dengan cara sampling timbulan dan komposisi sampah. Sampling dilakukan dengan menggunakan metode SNI 19-3694-1994 yaitu pengukuran sampah dengan menggunakan sampling box selama delapan hari berturut-turut yang kemudian akan menghasilkan data volume, berat jenis dan komposisi sampah. Digunakan juga kuisioner untuk mengumpulkan data dari pedagang yang berupa daftar pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis.Sampel sampah yang diambil masing-masing 3 sampel untuk setiap jenis los, kios dan ruko.Pengambilan sampel dilakukan setiap hari pada pukul 10.00 WIB selama delapan hari berturut-turut ke setiap sumber sampah yang telah ditentukan. Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa total timbulan sampah di Kawasan Pasar Flamboyan adalah sebanyak 9,0370 m3/hari sampah organik dan sebanyak 1,0503 m3/hari sampah anorganik. Jumlah pewadahan di tiap sumber sampah ditentukan dari perhitungan rata-rata volume sampah perhari dibagi dengan ukuran tong sampah yang akan digunakan pada sumber tersebut. Jumlah pewadahan yang dibutuhkan untuk tiap sumber sampah Pasar Flamboyan untuk kios dan ruko yaitu sebanyak 79 buah tong sampah ukuran 10 liter dan 95 buah tong sampah ukuran 20 liter. Jumlah alat angkut sampah yang dibutuhkan untuk Pasar Flamboyan yaitu sebanyak 3 buah gerobak.TPST di Kawasan Pasar Flamboyan direncanakan akan berlokasi di bagian belakang Pasar Flamboyan. Jumlah lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan TPST Pasar Flamboyan adalah seluas 207,27 m2. Rencana anggaran biaya untuk biaya investasi yaitu sebesar Rp 960.642.206,00. Laba yang diperoleh dari hasil pengolahan sampah yaitu Rp 39.600.000,00/tahun. Biaya hasil retribusi kebersihan dari pedagang yaitu Rp 505.152.000,00/tahun. Dana yang akan dikeluarkan Pasar Flamboyan untuk operasional dan pemeliharaan yaitu Rp 254.760.000,00/tahun. Kata kunci: Pengelolaan sampah, sampah pasar, TPST

    TINJAUAN TERHADAP KONDISI DAERAH IRIGASI DESA GERINIS KOMPLEK, KABUPATEN SEKADAU

    Get PDF
    ABSTRAK Daerah Irigasi Gerinis Kompek merupakan daerah irigasi yang berada di Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Berdasarkan data dari Dinas Pekerjaan Umum Sekadau tahun 2012, daerah irigasi Gerinis Kompek ini memiliki luas lahan sekitar 75 Ha, luas lahan potensial 60 Ha dan luas lahan fungsional sekitar 45 Ha.Sumber air yang digunakan dalam daerah irigasi ini adalah sumber air yang berasal dari Sungai Merah.Berdasarkan analisa yang dilakukandengan metode Mock, besarnya ketersediaan air (debit andalan) sebesar 134,5 lt/detik, sedangkan kebutuhan air irigasinya sebesar 44,95 lt/detik. Dari analisa imbangan air untuk daerah irigasi Gerinis Komplek diketahui bahwa daerah irigasi Gerinis Komplek memiliki ketersediaan air yang lebih banyak dari kebutuhan air irigasi yang diperlukan. Walaupun ketersediaan airnya mencukupi kebutuhan air irigasi, namun saluran irigasinya mengalami kerusakan termasuk saluran tersier kiri 4 yang tidak terairi. Hal ini dikarenakan pembangunan dimensi saluran yang lebih besardibandingkan dengan kebutuhan air irigasi. Sehingga dilakukan penyelesaian secara teknis berupa desain dimensi saluran dan secara non teknis berupa konservasi.   Kata kunci: Daerah Irigasi Gerinis Komplek, metode Mock, efektifitas salura

    ANALISIS POTENSI EROSI PADA PENGGUNAAN LAHAN DAERAH ALIRAN SUNGAI SEDAU DI KECAMATAN SINGKAWANG SELATAN

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuanuntuk menganalisa tingkat potensi erosi akibat perubahan tata guna lahan yang terjadi di daerah aliran Sungai Sedau Kecamatan Singkawang Selatan dan mengetahui pengaruh terjadinya erosi terhadap kualitas air Sungai Sedau serta memberikan rekomendasi upaya konservasi lahan potensial erosi. Metode analisis potensi erosi menggunakan metode USLE berbasis Sistem Informasi Geografis (ArcMap) dan untuk menganalisis kualitas air digunakan metode grab sampling (sampel sesaat) dan pemeriksaan di laboratorium dengan parameter yang diukur yakni Kekeruhan dan TSS.Hasil analisa perhitungan menunjukkan, laju potensi erosi di DAS Sedau dalam jumlah yang besar terjadi pada tahun 2010 dengan nilai erosivitas hujan sebesar 3489,94 ton.m/ha/cm hujan, mengakibatkanluas lahan yang masuk dalam kriteria kelas bahaya erosi berat dan sangat berat sebesar 4303,09 ha. Laju potensi erosi di DAS Sedau dalam jumlah yang kecil terjadi pada tahun 2011 dengan nilai erosivitas hujan hanya sebesar 535,71 ton.m/ha/cm hujan mengakibatkan luas lahan yang masuk dalam kriteria kelas bahaya erosi berat dan sangat berat hanya sebesar 271,95 ha. Untuk hasil pemeriksaan kualitas air, diketahui parameter kekeruhan pada dua sampel air uji melebihi standar baku mutu air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 416/MENKES/PER/IX/1990,yang mana kandungan kekeruhan pada dua sampel air uji yakni T1 =26,6 mg/l dan T2=25,1 mg/l. Berdasarkan hasil identifikasi lahan potensial erosi diketahui bahwa pertanian lahan kering, permukiman dan kawasan wisata merupakan penyumbang terbesar potensi erosi. Adapun rekomendasi upaya konservasi lahan yang dapat dilakukan pada lahan potensial erosi tersebut yakni dengan melakukan tidakan konservasi tanah secara vegetative dan mekanik. Kata kunci : Erosi di DAS Sedau, USLE, Sistem Informasi Geografis, Upaya Konservas

    PERHITUNGAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN BERDASARKAN KETERSEDIAAN AIR DAN PRODUKTIVITAS LAHAN DI KECAMATAN TUJUH BELAS KABUPATEN BENGKAYANG

    Get PDF
    ABSTRAK Menurut UU No. 32 Tahun 2009 daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antar keduanya.. Lokasi penelitian terletak pada Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang, yang berdasarkan data BPS Kabupaten Bengkayang tahun 2013 dengan kepadatan penduduk yaitu sebesar 11.538 jiwa. Kecamatan Tujuh Belas merupakan daerah pemukiman agraris yang terus berkembang, namun taraf hidup penduduk di Kecamatan Tujuh Belas masih relatif rendah. Rendahnya taraf hidup penduduk ditinjau dari aspek daya dukung air dan daya dukung lahannya. Tujuan penelitian ini menentukan nilai surplus/defisit dengan membandingkan ketersediaan dan kebutuhan air, menentukan nilai surplus/defisit dengan membandingkan ketersediaan dan kebutuhan lahan, serta memberikan rekomendasi untuk ketersediaan dan kebutuhan air serta ketersediaan dan kebutuhan lahan, Meningkatkan taraf hidup penduduk Kecamatan Tujuh Belas yang ditinjau dari daya dukung air dan daya dukung lahan. Metodologi yang digunakan untuk menentukan daya dukung air dan daya dukung lahan mengacu pada Permen LH No. 17 Tahun 2009. Berdasarkan hasil penelitian yang mengacu pada Permen Lh No 17 tahun 2009, untuk ketersediaan air di Kecamatan Tujuh Belas pada tahun *(2014 – 2023) diperkirakan sama dan tidak bertambah yaitu sebesar #77.451.118 m3/tahun dikarenakan dalam penggunaan lahan untuk tahun *(2014 - 2023) tidak diketahui, sedangkan untuk kebutuhan air pada tahun 2013 sebesar 18.460.800 m3/tahun dan pada tahun 2023 mengalami peningkatan yaitu sebesar 23.775.300 m3/tahun. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah daya dukung air di Kecamatan Tujuh Belas surplus hal ini menunjukkan ketersediaan air yang sekarang dan prediksi untuk 10 tahun kedepan mencukupi kebutuhan air baik dari segi kebutuhan domestik maupun kebutuhan pangan dan lainnya. Sebaiknya kondisi yang sekarang dipertahankan sesuai dengan fungsi lahannya. Ketersediaan lahan di Kecamatan Tujuh Belas adalah 8641,489 ha, sedangkan kebutuhan lahannya adalah sebesar 4807,50 ha. Untuk kebijakan pengembangan di sektor pertanian sebagai sektor unggulan di Kecamatan Tujuh Belas, maka dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas ke luar wilayah dengan mengembangkan aksesibilitas pemasaran ke luar wilayah. Rendahnya taraf hidup penduduk Kecamatan Tujuh Belas tidak berkaitan dengan daya dukung air dan daya dukung lahan, karena berdasarkan perhitungan ketersediaan air dan kebutuhan air serta ketersediaan lahan dan kebutuhan lahan menunjukkan bahwa daya dukung lingkungannya mencukupi untuk kebutuhan manusia baik domestik maupun domestik. Kemungkinan yang menyebabkan taraf hidup rendah disebabkan oleh hal lain seperti : pendidikan yang minim, fasilitas kesehatan, dan infrastuktur yang tidak memadai penduduk untuk membawa hasil panen ke kota. Kata Kunci: Kecamatan Tujuh Belas, Daya Dukung Lingkungan Defisit,Surplu

    POTENSI GANGGUAN KESEHATAN POLISI LALU LINTAS AKIBAT KARBON MONOKSIDA (CO)

    Get PDF
    ABSTRAK Sektor transportasi merupakan sumber pencemaran udara terbesar diperkotaan, termasuk di Kota Pontianak yang mengalami pertambahan penduduk setiap tahunnya. Hal ini berpotensi meningkatkan polusi udara di Kota Pontianak, salah satunya adalah CO yang berasal dari emisi kendaraan bermotor. Salah satu kelompok masyarakat yang lingkungan kerjanya terpajan oleh CO adalah polisi lalu lintas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi CO di 5 titik persimpangan jalan di Kota Pontianak yang merupakan lingkungan kerja polisi lalu lintas, mengetahui persentase COHb dan potensi gangguan kesehatan yang dialami polisi lalu lintas serta mengetahui korelasi antara kondisi kesehatan polisi lalu lintas dengan perilaku yang dilakukan sehari-hari. Jenis penelitan yang digunakan adalah metode statistik deskriptif dan analisis korelasi. Penelitian dilakukan setiap hari Senin-Jumat selama bulan April-Mei 2014, di 5 persimpangan jalan di Kota Pontianak menunjukkan angka konsentrasi CO tertinggi berada pada titik 5, yaitu persimpangan Jalan Tanjungpura-Jalan Veteran, yaitu sebesar 150.000 μg/Nm3. Nilai ini sudah melebihi ambang batas baku mutu udara yang ditetapkan yaitu sebesar 30.000 μg/Nm3. Persen COHb tertinggi yang didapat yaitu sebesar 3,28% yang tidak menimbulkan pengaruh atau gejala terhadap kesehatan. Analisis korelasi yang dilakukan menunjukan nilai sebesar 0,264 yang menunjukkan  hubungan yang lemah, sehingga dampak CO yang dirasakan oleh responden pada saat mereka bertugas dijalan  tidak dipengaruhi oleh perilaku yang dilakukan sehari-hari oleh responden, seperti merokok, berolahraga, mengkonsumsi suplemen dan menggunakan masker. Kata kunci: konsentrasi CO, persentase COHb, polisi lalu lintas

    EVALUASI DAN OPTIMALISASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM (IPA I) SUNGAI SENGKUANG PDAM TIRTA PANCUR AJI KOTA SANGGAU

    Get PDF
    ABSTRAKKualitas air produksi yang masih berwarna kemerah-merahan menjadi masalah yang dihadapi di IPA I Sungai Sengkuang PDAM Tirta Pancur Aji Kota Sanggau khususnya bila pada musim kemarau. Tujuan dari penelitian ini yaitu, mengevaluasi kinerja unit operasi dan proses IPA I Sungai Sengkuang PDAM Tirta Pancur Aji Kota Sanggau, dan memberikan rekomendasi optimalisasi berdasarkan hasil evaluasi IPA I Sungai Sengkuang PDAM Tirta Pancur Aji untuk memenuhi kebutuhan air minum di wilayah Kota Sanggau.Tahapan penelitian ini meliputi analisa kualitas air baku, evaluasi kondisi eksisting instalasi dan optimalisasi kinerja unit operasi dan proses pengolahan instalasi, analisa kualitas air produksi, dan hasil optimalisasi unit instalasi. Kualitas air baku yang tidak sesuai dengan mutu air kelas I PP RI Nomor 82 Tahun 2001 yaitu Colliform 240/100 ml, kekeruhan 66 NTU, warna 321 Pt.Co, dan besi 0,89 mg/L. Kualitas air minum yang tidak sesuai dengan Kepmenkes RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010 yaitu warna 23 Pt.Co, DO 4,8 mg/L, dan pH 4,82. Upaya optimalisai IPA I Sungai Sengkuang PDAM Tirta Pancur Aji Kota Sanggau yaitu, dilakukan perencanaan bak pengumpul air baku dengan dimensi yaitu P=1,75 m, L=1,4 m, dan T=1 m. Mendesain ulang bak koagulasi dengan dimensi yaitu P=1 m, L=1 m, dan T=1 m, mengganti sistem pembubuhan koagulan dengan dozing proporzional, serta mengganti bak pembubuh koagulan dengan kapasitas 500 Liter. Pada unit flokulasi yaitu dengan mengatur bukaan pintu air untuk memperkecil headloss atau tinggi muka air di kompartemen I dan kompartemen II masing-masing menjadi 0,003 m. Mendesain ulang bak sedimentasi dengan P=6 m, dan L=2 m, mengganti pipa settler yang sudah korosi, menambah 2 pipa outlate, dan menambah tube settler. Merancang ulang media filter menjadi dual media filter, dengan ketebalan antrhasit=0,75 m, pasir silika=0,75 m, dan kerikil=0,5 m, dan menambah satu unit bak filtrasi dengan dimensi yaitu P=1,25 m, L=1,15 m, dan T=6 m.Kata kunci: Evaluasi, IPA, Optimalisas

    KAJIAN BEBAN PENCEMARAN SALURAN DRAINASE (PARIT) TERHADAP BAGIAN HILIR SUNGAI KAPUAS DI KELURAHAN SUNGAI JAWI LUAR KECAMATAN PONTIANAK BARAT

    Get PDF
    ABSTRAK Pontianak Barat adalah Kecamatan dengan penduduk terbanyak yaitu 127.701 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 7.592 jiwa/km2 dan laju angka pertumbuhan penduduk sebesar 1,86 %. Semakin bertambahnya populasi penduduk maka semakin banyak aktivitas penduduk yang membuang limbah, baik secara langsung ke Sungai Kapuas maupun ke saluran drainase (parit) sehingga kualitas air Sungai Kapuas menjadi tercemar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya beban pencemaran pada beberapa saluran drainase (parit) di Kelurahan Sungai Jawi Luar Kecamatan Pontianak Barat dan mengetahui perkiraan besarnya potensi beban pencemar yang dihasilkan dari aktivitas domestik pada masing – masing saluran Drainase (Parit Gang Rambutan, Parit Gang Blitar, Parit Gang Tamang 2, Parit Gang Suka pinang, Parit Gang Jagung dan Parit Gang Teratai 1) tersebut dalam upaya menentukan pengendalian beban pencemar yang terjadi. Tahapan penelitian ini yaitu pengumpulan data primer berupa dimensi saluran (lebar dan kedalaman), luas penampang  basah, kecepatan aliran, debit aliran, pengambilan sampel air, perhitungan beban pencemaran dan analisis pengendalian beban pencemar. Pengambilan sampel kualitas air  menggunakan  metode  grab sample (sampel sesaat) saat  surut terendah yaitu pada tanggal 2 Maret 2014 pukul 18.49 WIB dan saat pasang tertinggi yaitu pada tanggal 3 Maret 2014 pukul 12.00 WIB dengan parameter pencemar yaitu BOD, COD, Total Phosfat, Total Nitrogen, Total Coliform, Suhu dan pH. Hasil analisis diketahui total beban pencemaran dari ke-enam saluran drainase (parit) yang akan masuk ke Sungai Kapuas pada saat pasang adalah: BOD (436 kg/hari); COD (1.110 kg/hari); Total Phosfat (46 kg/hari); Total Nitrogen (123 kg/hari). Sedangkan pada saat surut total beban pencemaran dari ke-enam saluran drainase (parit) yang akan masuk ke Sungai Kapuas adalah: BOD (659 kg/hari); COD (2.291 kg/hari); Total Phosfat (139 kg/hari); Total Nitrogen (676 kg/hari). Adapun besarnya potensi beban pencemaran yang dihasilkan dari aktifitas domestik hingga tahun 2034 adalah: BOD (1.608 kg/hari); COD (2.895 kg/hari); Total Phosfat (647 kg/hari); Total Nitrogen (108 kg/hari) dengan laju peningkatan potensi beban pencemaran setiap parameter adalah 9,21 %. Adapun strategi pengendalian beban pencemaran air dilakukan dengan meningkatkan pengelolaan limbah melalui penyediaan sarana sanitasi, mensosialisasikan peraturan dan perundang – undangan yang berkaitan dengan pengelolaan air dan pengendalian pencemaran air, meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana pendukung dalam pengawasan sumber – sumber pencemar dan melakukan pemantauan secara rutin terhadap kualitas air sungai/parit, serta meningkatkan layanan pengangkutan sampah dan meningkatkan layanan penyediaan air bersih. Kata-kata kunci: Sungai Kapuas, Limbah Domestik, Beban Pencemaran, Pengendalia

    ANALISIS PENGARUH TINGKAT VOLUME DAN JENIS KENDARAAN TERHADAP KONSENTRASI PARTICULATE MATTER (PM10) (STUDI KASUS: JL. SUTAN SYAHRIR, JL. AHMAD YANI DAN JL. KOM. YOS. SUDARSO KOTA PONTIANAK)

    Get PDF
    ABSTRAK Perkembangan Kota Pontianak yang semakin pesat, ditambah dengan perkembangan penduduk yang semakin meningkat, telah membuat sistem transportasi jalan raya mengalami tingkat kompleksitas yang tinggi , salah satu dampak yang ditimbulkan adalah pencemaran udara perkotaan. Particulate Matter (PM10) merupakan salah satu bentuk zat pencemar yang disebabkan oleh sektor transportasi tersebutserta dapat menyebabkan gangguan kesehatan khususnya pada sistem pernapasan. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat konsentrasi partikulat udara (Particulate Matter (PM10)) khususnya di Jalan Sutan Syahrir, Jalan Ahmad Yani dan Jalan Kom. Yos. Sudarso Jeruju Kota Pontianak. Ketiga lokasi penelitian tersebut dipilih untuk mewakili peruntukkan tata guna lahan yang berbeda yaitu Jalan Sutan Syahrir berlokasi di pinggiran kota, Jalan Jend. Ahmad Yani berlokasi di tengah kota, dan Jalan Kom. Yos. Sudarso Jeruju yang berlokasi di kawasan industri. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang didapat dari BLHD Provinsi Kalbar yaitu data volume kendaraan yang melintas pada ketiga jalan tersebut. Jenis-jenis kendaraan dibagi menjadi 4 golongan yaitu golongan 1 (sepeda motor), golongan 2 (sedan, angkot, pickup), golongan 3 (bis mikro, bis), golongan 4 (truck 2 as 4 roda, truck 2 as 6 roda, truck 3 as, truk 4 as, trailer).Metode penelitian yang digunakan terbagi menjadi 2 bagian, yaitu perhitungan (perhitungan beban laju emisi transportasi dan konsentrasi Particulate Matter (PM10) dengan rumus dispersi Gaussian untuk Line Source serta analisis korelasi data untuk memperoleh hubungan antara jumlah kendaraan dengan konsentrasi Particulate Matter (PM10) menggunakan aplikasi SPSS 16. Dari hasil analisis, bahwa jenis kendaraan golongan 1 memiliki kontribusi yang paling besar terhadap konsentrasi Particulate Matter (PM10) yaitu dengan konsentrasi terbesar yaitu 901425,466 dimana nilai konsentrasi tersebut melebihi Ambang Batas Baku Mutu Udara Ambien Nasional yaitu 150 , hal ini dikarenakan sepeda motor memiliki jumlah yang paling banyak apabila dibandingkan dengan kendaraan lain di ketiga jalan tersebut. Kendaraan golongan 2 memiliki jumlah terbanyak kedua diikuti dengan golongan 4 dan 3. Maka dapat disimpulkan bahwa jumlah kendaraan total memang mempengaruhi konsentrasi Particulate Matter (PM10) pada Jalan Sutan Syahrir, Jalan Jend. Ahmad Yani dan Jalan Kom. Yos Sudarso dilihat dari hasil korelasinya yang mendekati nilai 1 (positif kuat) yaitu 0,963 dengan menggunakan aplikasi SPSS 16. Kata Kunci :Particulate Matter (PM10), Golongan Kendaraan, Korelasi

    ANALISIS URBAN HEAT ISLAND DALAM KAITANNYA TERHADAP PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DI KOTA PONTIANAK

    Get PDF
    ABSTRAK Salah satu penyebab perubahan penutupan lahan adalah semakin bertambahnya jumlah penduduk. Sementara luas Kota Pontianak tidak bertambah, perkembangan pusat perdagangan, industri, permukiman dan pertambahan jumlah kendaraan bermotor akan mengubah pola penutupan lahan dan berbagai sarana dan prasarana fisik sebagai penunjang aktivitas penduduk kota. Perubahan fisik yang dilakukan di sisi lain menimbulkan dampak negatif diantaranya adalah meningkatnya suhu permukaan. Deteksi perubahan penutupan lahan mencakup penggunaan citra penginderaan jauh di wilayah tertentu dan dari data tersebut perubahan penutupan lahan serta peningkatan suhu permukaan untuk setiap waktu dapat dipetakan dan dibandingkan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara perubahan penutupan lahan dengan perubahan sebaran suhu permukaan, dan menganalisis kaitannya dengan urban heat island. Penelitian ini menerapkan teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis. Data yang tersedia dapat berupa piktoral maupun digital kemudian diolah untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Informasi yang diperoleh dapat digabungkan dengan data-data yang mendukung ke dalam satu Sistem Informasi Geografis. Berdasarkan hasil interpretasi dan analisis citra landsat 5 TM pada tahun 2000 dan citra landsat 7 ETM tahun 2010 didapatkan bahwa terjadi perubahan penutupan lahan dari lahan yang bervegetasi menjadi lahan yang tidak bervegetasi, Perubahan penutupan lahan tersebut berpengaruh terhadap peningkatan suhu permukaan dan penurunan kelembaban. Distribusi suhu permukaan di Kota Pontianak pada tahun 2000 berdasarkan estimasi    band 6 pada citra landsat 5 TM mempunyai nilai suhu antara   <20,00 0C – 31,99 0C. Nilai suhu dengan luasan distribusi terbesar adalah suhu dengan rentang 24,00 0C – 24,99 0C yang terdistribusi di seluruh wilayah Kota Pontianak. Sedangkan distribusi suhu permukaan di Kota Pontianak pada tahun 2010 berdasarkan band 6 pada citra landsat 7 ETM mempunyai nilai suhu antara 20,00 0C - ≥ 34,00 0C. Nilai suhu dengan luasan distribusi terbesar adalah suhu ≥34,00 0C yang terdistribusi di seluruh wilayah Kota Pontianak. Nilai suhu ini cukup tinggi sehingga memunculkan fenomena Urban Heat Island. Kata Kunci : penginderaan jauh, suhu permukaan, urban heat island.

    PENGARUH PERKEBUNAN KELAPA SAWIT TERHADAP KUANTITAS AIR DENGAN PENDEKATAN NERACA AIR TANAMAN (STUDI KASUS DI PT. REZEKI KENCANA)

    Get PDF
    Kelapa sawit menjadi komoditas primadona dunia, akan tetapi konsekuensinya adalah perambahan dan konversi hutan yang tidak dapat dielakkan. Adanya perubahan penggunaan lahan akan mengubah sistem dan tatanan neraca air yang ada di wilayah gambut tersebut. Penelitian ini mengkaji nilai tatanan neraca air dengan melakukan penelitian terhadap perbandingan nilai kuantitas air khususnya surplus dari neraca air tanaman antara lahan perkebunan kelapa sawit dengan lahan hutan. Model neraca air tanaman yang dipergunakan adalah neraca air lahan Thorthwaite & Mather (1957) yang telah dimodifikasi. Nilai surplus pada lahan perkebunan sawit 1.091 mm, sementara pada lahan hutan konversi sebesar 1.151 mm. Maka langkah yang dilakukan oleh manajemen perkebunan adalah dengan mempertahankan wilayah konservasi sebagai penampung alami, rorak untuk meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah dan membuat embung besar.Kata kunci: Neraca air tanaman, kelapa sawit, lahan gambut

    253

    full texts

    282

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇