Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
Not a member yet
282 research outputs found
Sort by
ANALISIS DISPERSI GAS CO DAN SO2 DARI SUMBER TETAP (POINT SOURCE) MENGGUNAKAN MODEL METI-LIS
ABSTRAK Mesin diesel pembangkit listirk adalah suatu mesin yang dapat menghasilkan gas-gas polutan, seperti gas karbon monoksida (CO) dan gas sulfur dioksida (SO2). Proses pembakaran menghasilkan emisi buangan yang dapat mencemari lingkungan, salah satunya mesin pembangkit tenaga diesel (PLTD) milik PLTD Sei Raya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat konsentrasi pencemar, memprediksi pola dispersi gas CO dan SO2 dari sumber tetap dan mengetahui validitas hasil pemodelan Meti-lis dengan pengukuran di lapangan serta memberikan cara untuk penanggulangannya. Penelitian menggunakan program Meti-lis untuk mengetahui pola persebaran gas CO dan SO2 di udara. Hasil nilai konsentrasi dari pemantauan kualitas udara ambien untuk gas CO dan SO2 tertinggi terletak pada titik 2 dengan konsentrasi CO sebesar 130,1 μg/Nm3 dan SO2 sebesar 110,4 μg/Nm3. Konsentrasi gas CO dan SO2 tertinggi hasil dari pemodelan berada pada titik 2 yaitu konsentrasi gas CO sebesar 91,99 μg/Nm3 dan konsentrasi gas SO2 sebesar 77,57 μg/Nm3. Konsentrasi gas CO dan SO2 bila dibandingkan dengan baku mutu udara maka tingkat pencemaran masih dibawah standar baku mutu udara sesuai dengan PP No. 41 Tahun 1999. Nilai validasi antara konsentrasi hasil pemodelan dan konsentrasi hasil pengukuran langsung memenuhi kriteria dengan nilai RMSPE yang lebih kecil dari pada 10%, dimana hasil dari pemodelan memiliki tingkat validitasnya tinggi. Dalam upaya mempertahankan nilai konsentrasi gas CO dan SO2 agar tetap dibawah standar baku mutu dapat dilakukan dengan pengurangan penggunaan bahan bakar solar. Kata Kunci : point source, PLTD, pemodelan, validas
UJI TOKSISITAS AKUT LIMBAH CAIR RUMAH MAKAN TERHADAP IKAN MAS (Cyprinus Carpio L.)
ABSTRAKKeadaan air sungai di Kota Pontianak saat ini semakin mengkhawatirkan, dimana semakin banyak industri dan tempat usaha yang bermunculan. Salah satunya usaha rumah makan yang membuang limbahnya ke badan air tanpa pengolahan. Hal ini menjadi salah satu sumber pencemar perairan yang menyebabkan kematian biota air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai LC50, mengetahui karakteristik limbah cair rumah makan di Kota Pontianak dan memberikan rekomendasi bagi pemerintah. Sampel limbah cair diambil dari sisa pencucian bahan makanan dari pagi hingga siang hari. Uji toksisitas akut dilakukan dengan metode statis dalam waktu 24 jam menggunakan hewan uji ikan mas (Cyprinus carpio L) setelah itu dibuat variasi konsentrasi untuk menentukan nilai konsentrasi yang menyebabkan kematian hewan 50% dengan uji pendahuluan dan uji lanjut. Hasil uji Parameter BOD, TSS, minyak lemak, pH dan suhu limbah cair rumah makan masing-masing sebesar 692,48 mg/l; 1700 mg/l; 46 mg/l; 6,59 dan 25,8 0C. Nilai parameter limbah rumah makan tersebut melewati baku mutu KEP/MENLH/ No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Limbah Cair Domestik. Nilai LC50 rata-rata didapatkan 0,614% dan rekomendasi yang bisa diberikan kepada pemerintah yaitu penegasan tentang adanya IPAL di setiap rumah makan seperti yang tercantum di dalam PERDA/WALIKOTA/03/2004.Kata kunci : toksisitas akut, limbah cair rumah makan, ikan mas (Cyprinus carpio L.
EFEKTIVITAS PENGHALANG VEGETASI SEBAGAI PEREDAM KEBISINGAN LALU LINTAS DI KAWASAN PENDIDIKAN JALAN AHMAD YANI PONTIANAK
ABSTRAK Kawasan pendidikan memerlukan suasana yang tenang dari kebisingan. Kebisingan menyebabkan meningkatnya keluhan, menimbulkan gangguan kesehatan psikologis antara lain gangguan kenyamanan, gangguan komunikasi dan gangguan konsentrasi. Tingkat kebisingan akibat kendaraan lalu lintas dapat melebihi baku mutu kebisingan yang diperbolehkan untuk kawasan pendidikan, yaitu 55 dBA, sehingga perlu penanganan segera supaya kegiatan belajar mengajar tidak terganggu. Penanganan pereduksi kebisingan sebagai alternatif adalah dengan penghalang vegetasi. Tujuan penelitian mengetahui berapa efektivitas penghalang vegetasi yang terdapat di lokasi SMA Sultan Syarif Abdurrahman, SMK N 5 dan SD S Bruder Nusa Indah di Jalan Ahmad Yani Pontianak. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur tingkat kebisingan berdasarkan volume kendaraan lalu lintas dan mengukur volume kerimbunan daun. Tingkat kebisingan selama pengukuran adalah 69,78-75,86 dBA, melampaui baku mutu kebisingan kawasan pendidikan, 55 dBA. Total volume kerimbunan daun tertinggi terdapat di SMA Sultan Syarif Abdurrahman pada Plot 2 dengan 102593 m3, dengan hasil reduksi kebisingan oleh penghalang vegetasi tidak sebesar di SMK N 5 pada Plot 4 yang memiliki total volume kerimbunan 4877 m3. Disebabkan vegetasi di SMK N 5 Plot 4 memiliki kerapatan tumbuh vegetasi yang tinggi, kombinasi jenis dan ketinggian vegetasi yang memiliki kerapatan daun merata hingga permukaan tanah. Efektivitas vegetasi sebagai peredam kebisingan tergolong rendah, 3,69-16,04%, disebabkan jenis vegetasi dengan ciri peredam kebisingan seperti memiliki daun tebal dan kaku, kerapatan daun yang tinggi, dan kombinasi tanaman dengan berbagai tingkatan tinggi, tidak ditanam secara merata sehingga penyerapan tidak maksimal. Perlunya mempertimbangan penempatan ruang publik dan privat pada kawasan pendidikan untuk mengurangi dampak kebisingan dari aktivitas kendaraan lalu lintas. Kata Kunci : Kebisingan, Kawasan Pendidikan, Efektivitas Vegetas
ARAHAN PERENCANAAN INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN DI KAWASAN WISATA JUNGKAT BEACH, DESA JUNGKAT, KECAMATAN SIANTAN, KABUPATEN PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT
ABSTRAK Jungkat Beach adalah salah satu jenis wisata pantai yang terletak di Desa Jungkat, Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak yang telah beroperasi dari tahun 2007 hingga sekarang. Pada kawasan wisata Jungkat Beach terdapat berbagai masalah yang timbul akibat infrastruktur lingkungan yang kurang baik yang dapat mengganggu keberlangsungan kegiatan wisata dan lingkungan, sehingga diperlukannya perencanaan infrastruktur lingkungan di kawasan wisata Jungkat Beach. Penelitian ini menggabungkan konsep perencanaan berkelanjutan untuk empat infrastruktur lingkungan yang diaplikasikan dalam kawasan komersil yaitu kawasan wisata. Tujuan dari penelitian ini yaitu membuat arahan perencanaan infrastruktur lingkungan di kawasan wisata Jungkat Beach, yang meliputi (a) Infrastruktur Air Bersih, (b) Infrastruktur Air Limbah, (c) Infrastruktur Persampahan, (d) Infrastruktur Drainase. Penelitian ini menggunakan metode analisa yang umum digunakan dalam merencanakan infrastruktur di suatu kawasan. Luaran yang dihasilkan berupa data perhitungan dan gambar desain. Alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu AutoCAD 2010, EPANET ver 2.0, dan GPS. Kesimpulan yang dihasilkan yaitu: (a) Air bersih bersumber dari air permukaan yaitu kolam. Kebutuhan air bersih kawasan adalah 69.941 liter/hari. Dialirkan menggunakan bantuan pompa dengan head 9 meter dan debit 100 l/m untuk mengaliri air ke semua fasilitas. Pipa yang digunakan untuk mendistribusikan air ke fasilitas penginapan adalah PVC 1,5 inch, fasilitas restoran adalah PVC 2 inch, dan fasilitas kantin adalah PVC 1 inch. Diameter pipa transmisi adalah pipa PVC 2,5 inch. (b) Air limbah yang disalurkan berasal dari kegiatan domestik. Debit rencana air limbah adalah 60.162 liter/hari. Air limbah dialirkan menggunakan sistem gravitasi. Jenis pipa yang digunakan adalah pipa PVC 1,5 inch untuk jaringan S1, pipa PVC 2 inch untuk jaringan S2, pipa PVC 1 inch untuk jaringan S3, pipa PVC 2,5 inch untuk jaringan S4, pipa PVC 3 inch untuk jaringan S5. (c) Timbulan sampah pada tahun 2023 adalah 1,23 m3/hari. Bahan yang digunakan untuk wadah komunal dan TPS adalah HDPE. Jumlah wadah komunal di sekitar lokasi wisata 12 unit ukuran 60 liter, kantin 8 unit ukuran 50 liter, restoran 6 unit ukuran 60 liter dan hotel 4 unit ukuran 25 liter. Jumlah wadah pada TPS sebanyak 2 unit ukuran 700 liter. Sampah organik yang dihasilkan dibuat pupuk kompos dan sampah anorganik dijual ke pengumpul atau pengrajin barang bekas. (d) Infrastruktur drainase yang direncanakan menggunakan saluran terbuka berbentuk segiempat di alirkan secara gravitasi. Pada bagian atas saluran diberi Gratting Stell. Dimensi saluran pada daerah I (tersier) memiliki h = 0,40 m dan b = 0,64 m, daerah II (tersier) memiliki h = 0,34 m dan b = 0,54 m, daerah III (sekunder) memiliki h = 0,55 m dan b = 0,88 m, sedangkan daerah IV (primer) memiliki h = 0,62 m dan b = 0,99 m. Kata Kunci: Infrastruktur Lingkungan, Infrastruktur Wisata, Wisata Pantai
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT PISANG DAN TANAMAN Mucuna bracteata SEBAGAI PUPUK KOMPOS
ABSTRAK Pisang kepok (Musa paradisiaca formatypica) adalah salah satu buah yang banyak dikonsumsi di Kalimantan Barat, khususnya Kota Pontianak. Tingginya konsumsi pisang kepok ini mengakibatkan kulit pisang kepok akan semakin banyak terbuang. Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu adanya solusi untuk mengurangi sampah kulit pisang kepok, salah satunya dengan pengomposan. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan sampah kulit pisang kepok dan tanaman Mucuna bracteata untuk dijadikan kompos yang lebih bermanfaat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pupuk kompos tersebut merupakan kompos yang baik berdasarkan SNI : 19-7030-2004 dengan parameter nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta mengetahui waktu pengomposan terbaik. Penelitian ini diawali dengan pengaktifan bioaktivator EM-4. Kemudian dimulai proses pengomposan dengan komposisi 5 kg kulit pisang kepok, 0,5 kg daun Mucuna bracteata, dan bioaktivator EM-4 sebanyak 100 mL yang ditambahkan pada hari ke-0, 7, dan 14. Proses pengomposan dilakukan selama 21 hari, dimana pengecekan suhu dan tingkat keasaman (pH) dilakukan setiap hari. Selanjutnya dilakukan uji kualitas kompos dengan parameter nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) pada hari ke-7, 14, dan 21. Hasil terbaik proses pengomposan yaitu kadar dari nitrogen (N) 3,44%, kadar fosfor (P) yaitu 0,35%, dan kalium (K) 9,85%, sedangkan waktu terbaik pada hari ke-21. Berdasarkan SNI : 19-7030-2004, kadar minimum N yaitu 0,4%, P 0,1% dan K 0,2%, sehingga kompos yang terbuat dari campuran kulit pisang kepok dan tanaman Mucuna bracteata berpotensi menghasilkan alternatif kompos yang baik. Kata kunci: kulit pisang, Mucuna bracteata, kompo
Remediasi Tanah Tercemar Logam Timbal (Pb) Menggunakan Tanaman Bayam Cabut (Amaranthus tricolor L.)
ABSTRAKPencemaran tanah oleh logam timbal (Pb) merupakan salah satu bentuk pencemaran yang sangat berbahaya bagi mahluk hidup. Jumlah logam timbal (Pb) di dalam tanah yang telah melebihi standar baku mutu menyebabkan lingkungan tidak dapat mengadakan pembersihan sendiri (self purification), sehingga diperlukan suatu alternatif pengolahan khusus. Salah satunya adalah dengan metode fitoremediasi menggunakan tanaman bayam cabut (Amaranthus tricolor L.). Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji potensi tanaman bayam cabut dalam meremediasi logam Pb dalam tanah serta proses yang terjadi dalam penyerapan tersebut dan seberapa besar kinetika reaksinya. Penelitian ini dilakukan dengan menanam tanaman bayam cabut yang telah disemai selama 2 minggu di tanah dengan rentang pH 6,2-6,9 dan telah tercemar Pb dengan konsentrasi 100 mg/kg. Selanjutnya diukur kadar Pb di dalam tajuk tanaman yang ditanam di tanah tercemar pada hari ke-7, ke-14 dan ke-21 serta tajuk tanaman yang ditanam di tanah tidak tercemar pada hari ke-21. Selain di tajuk, dilakukan juga pengukuran pada akar tanaman yang ditanam di tanah tercemar pada hari ke-21. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai bioconcentration factor (BCF) sebesar 0,071 dan translocation factor (TF) sebesar 0,12. Nilai tersebut menujukan bahwa tanaman bayam cabut termasuk dalam akumulator rendah dan proses yang terjadi dalam remediasi adalah fitostabilisasi. Nilai konstanta laju reaksi (k) proses remediasi ini adalah sebesar 0,1613 hari-1 dan mengikuti orde 1 yang menunjukan bahwa laju dari reaksi ini bergantung pada konsetrasi reaktan dipangkatkan dengan satu atau laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi. Walaupun penyerapan Pb oleh tanaman bayam cabut tergolong rendah, tetapi kondisi tanaman yang secara visual masih sehat dan baik serta pertumbuhannya yang cepat menjadikan tanaman ini masih dapat dipertimbangkan sebagai agen fitoremediasi pencemaran Pb di tanah.Kata Kunci : Fitoremediasi, logam timbal (Pb), tanaman bayam cabut (Amaranthus tricolor L.
PENGARUH REMBESAN CUBLUK TERHADAP KUALITAS AIR PERMUKAAN DAN AIR TANAH DI KOTA PONTIANAK
ABSTRAK Penampungan limbah tinja (black water) masyarakat Kota Pontianak rata-rata masih menggunakan sistem cubluk. Penggunaan cubluk yang hanya memiliki dinding penyangga tanpa pelapis dasar menyebabkan limbah yang dihasilkan dari jamban/ kamar mandi akan langsung masuk kedalam tanah, hal ini sangat berpotensi menyebabkan pencemaran air dan air tanah di sekitarnya, mengingat lahan di Kota Pontianak sendiri berupa rawa (lahan basah) yang selalu tergenang baik pada saat pasang maupun surut, ini dapat menyebabkan limbah dari cubluk tersebut dengan sangat mudah merembes. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kadar pencemaran dan penyebaran pencemaran dari rembesan cubluk terhadap kualitas air tanah di Kota Pontianak. Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah metode grab sampling. Dilakukan pengambilan sampel sebanyak 5 titik di sekitar cubluk rumah warga dan 1 titik di badan air. Penelitian ini dilakukan di Gg. Mawar, Jalan Pal V, Kecamatan. Pontianak Barat, Kota Pontianak. Waktu pengambilan sample dilakukan dalam 2 variasi waktu yaitu pada saat kondisi air pasang dan saat kondisi air surut. Parameter yang akan diuji yaitu BOD, pH, Fosfat, Nitrat, dan Bakteri E. Coli. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan di laboratorium, pada kondisi surut nilai maksimum BOD yaitu 545 mg/l, fosfat yaitu 2,47 mg/l, Nitrat yaitu 88,74 mg/l, dan E.Coli 12 per100 ml. sedangkan pada kondisi pasang nilai maksimum BOD yaitu 371,20 mg/l, fosfat yaitu 1,96 mg/l, Nitrat yaitu 92,87 mg/l, dan E.Coli 6 per100 ml. Menurut Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air menunjukkan keenam titik pengambilan sampel air tanah di sekitar cubluk yang mencemari air tanah dengan parameter pencemar di atas ambang baku mutu terutama pada kondisi surut. Pola sebaran zat pencemar yang berasal dari cubluk dapat mencemari pada radius rata-rata 15,67 m. Semakin banyak jumlah cubluk pada suatu kawasan/ wilayah maka akan semakin besar pencemaran yang dihasilkan. Kata Kunci : Cubluk, Air Tanah, Lahan Basah, Pencemara
PENGARUH PENGGUNAAN PUPUK TERHADAP KUALITAS AIR TANAH DI LAHAN PERTANIAN KAWASAN RAWA RASAU JAYA III, KAB. KUBU RAYA
ABSTRAK Pada lahan pertanian penggunaan pupuk sangatlah berpengaruh demi kelangsungan hidup tanaman di lahan pertanian, akan tetapi di sisi lain penggunaan pupuk dapat mempengaruhi kualitas air tanah dikarenakan pupuk yang digunakan adalah pupuk kimia atau anorganik salah satunya pupuk NPK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk NPK (Nitrogen, Fosfor, dan Kalium) dan persentase kenaikan konsentrasi terhadap kualitas air tanah serta mengetahui pola penyebaran yang disebabkan penggunaan pupuk NPK sebelum pemupukan dan 3 (tiga) hari setelah pemupukan di lahan pertanian kawasan rawa Rasau Jaya III, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya. Metode pada penelitian ini adalah melakukan pengukuran kedalaman ke muka air tanah dengan membuat sumur pantau sebanyak 25 (dua puluh lima) buah dengan jarak ± 50 meter dan menganalisa pola sebaran kedalaman ke muka air tanah, untuk mewakili tingkat pencemaran air tanah diambil 5 (lima) buah sampel kualitas air pada sumur pantau secara diagonal. Pengambilan sampel kualitas air dilakukan pada 2 (dua) fase yaitu saat sebelum pemupukkan dan 3 (tiga) hari setelah pemupukkan, pupuk NPK yang digunakan dengan perbandingan 20:10:10 yaitu 20% Nitrogen, 10% Fosfat, dan 10% Kalium. Hasil penelitian mendapatkan bahwa kualitas air tanah karena konsentrasi N, P, dan K melebihi baku mutu PP RI No.82 Tahun 2001 kelas II, di mana titik konsentrasi tertinggi berada di titik D4. Analisis kualitas air tanah dengan persentase kenaikan tertinggi pada Konsentrasi Nitrogen (N) di titik B2 saat sebelum pemupukkan sebesar sebesar 29,58 mg/l dan saat setelah pemupukkan sebesar 77,45 mg/l dengan persentase kenaikan 161,83% (di atas baku mutu). Konsentrasi Fosfor (P) di titik D4 tertinggi saat sebelum pemupukkan sebesar 1,89 mg/l dan saat setelah pemupukkan 49,03 mg/l dengan persentase kenaikan 2494,18% (di atas baku mutu). Konsentrasi Kalium (K) di titik B2 tertinggi saat sebelum pemupukkan sebesar 8,4 mg/l dan saat setelah pemupukkan sebesar 34,92 mg/l dengan persentase kenaikan 315,71%. Aliran air tanah di lokasi penelitian mengikuti ketinggian elevasi tanah, mengalir tempat tinggi menuju ke tempat yang rendah membawa kontaminan dan terjadi penyebaran kontaminan pada elevasi tanah yang relatif rendah. Kata Kunci : Air Tanah, Pola Sebaran Kontaminan, Pupuk NPK
STUDI PENGOLAHAN LIMBAH TINJA UNTUK LAHAN BASAH
ABSTRAKMasyarakat Kota Pontianak rata-rata menggunakan sistem cubluk sebagai tempat penampungan limbah tinja. Penampungan limbah tinja seperti ini dapat mencemari air tanah. Model dari sistem pengolahan limbah tinja yang digunakan yaitu septik tank yang terbuat dari bahan fiber dan dilengkapi dengan filter. Sistem pengolahan limbah tinja ini dibuat hanya berupa prototype yaitu dalam skala kecil atau skala laboratorium. Dalam penulisan ini dilakukan penelitian terhadap efisiensi media filter yang digunakan di dalam prototype septik dengan waktu detensi yang berbeda yaitu 1 hari, 2 hari dan 3 hari. Penelitian ini dilakukan dengan menguji sampel air limbah setelah melewati media filter selama 1 hari, 2 hari dan 3 hari. Pembuatan prototype septik tank ini dilakukan di Laboratorium Hidrolika Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura. Efisiensi pengolahan lanjutan dengan filter yang telah dihitung menunjukkan bahwa waktu detensi 3 hari merupakan waktu detensi terbaik dengan memiliki nilai efisiensi hingga 92,86% dalam menurunkan kadar bakteri E.Coli. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik bahwa effluent standar parameter BOD 56 mg/L untuk waktu detensi 3 hari telah memenuhi baku mutu effluent standar Air Limbah Domestik. Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air bahwa stream standar untuk parameter Nitrat belum memenuhi baku mutu kelas air yang paling rendah (kelas IV) yang diperuntukkan untuk pengairan.Kata-kata kunci : Air limbah tinja, Prototype septik tank, Efisiensi Media Filte
PENYISIHAN LOGAM PADA LINDI DENGAN SISTEM SUB-SURFACE CONSTRUCTED WETLAND
ABSTRAK Salah satu hasil dari proses pengolahan sampah yang dilakukan di TPA adalah air lindi. Sebagian besar sampah yang diolah di TPA Batu Layang berasal dari limbah domestik, walaupun demikian, di dalam air lindi tersebut juga memiliki kandungan logam. Keberadaannya di lingkungan harus dihindari karena apabila logam berat masuk ke dalam rantai makanan dalam kadar tertentu dapat mengganggu kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar efisiensi penyisihan logam Cu, Zn, dan Fe pada lindi dengan menggunakan sistem Sub-surface Constructed Wetland menggunakan tanaman Cyperus papyrus dan Echinodorus palaefolius, membandingkan besar efisiensi antara tanaman Cyperus papyrus dan Echinodorus palaefolius dalam penyisihan logam pada lindi dan menentukan waktu detensi yang efektif untuk menurunkan kadar logam pada lindi. Setelah dilakukan penelitian, efisiensi penyisihan logam Cu, Fe dan Zn pada lindi dalam bak I dengan tanaman echinodorus paleofolius berdasarkan hasil analisis sampel awal lindi masing-masing sebesar 34.5%, 85.5% dan 94.2% dan pada bak II dengan tanaman cyperus papyrus masing-masing sebesar -3.4%, 76.4% dan 91.4%. Apabila berdasarkan hasil analisis effluent hari ke-0, maka efisiensi penyisihan logam pada bak I masing-masing sebesar 87.7%, 99.3% dan 95.5% sedangkan pada bak II masing-masing sebesar 75.9%, 98.8% dan 93.4%. Tanaman echinodorus paleofolius mampu menyerap logam Cu, Fe dan Zn dengan efisiensi penyerapan masing-masing sebesar 82.9%, 92.3% dan 90.5%, lebih banyak dibandingkan dengan tanaman cyperus papyrus yang memiliki efisiensi penyerapan masing-masing 71.5%, 90.8% dan 87.6%. Waktu detensi yang efektif dalam penurunan logam Cu, Fe dan Zn pada bak I dengan tanaman echinodorus paleofolius adalah 6 hari, sedangkan pada bak II dengan tanaman cyperus papyrus, waktu detensi untuk ketiga logam adalah 9 hari. Kata kunci: Lindi, Logam, Constructed Wetlan