Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
Not a member yet
282 research outputs found
Sort by
INVENTARISASI EMISI CH4 DI TPA BATU LAYANG KOTA PONTIANAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT
ABSTRAKSalah satu gas rumah kaca penyebab perubahan iklim adalah CH4, yang dihasilkan oleh timbunan sampah. Emisi CH4 dari sampah merupakan hasil dekomposisi anaerobik dari bahan organik dalam sampah. Timbunan sampah yang semakin tinggi di TPA tanpa pengolahan lebih lanjut dapat menimbulkan emisi CH4 yang semakin besar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui timbulan dan komposisi sampah TPA Batu Layang Kota Pontianak, menentukan estimasi emisi CH4 di TPA Batu Layang Kota Pontianak dengan menggunakan rumus IPCC dan memberikan rekomendasi berupa upaya mitigasi dan adaptasi berdasarkan jumlah emisi CH4 di TPA Batu Layang Kota Pontianak. Perhitungan emisi CH4 menggunakan acuan rumus IPCC Waste Model Calculation tahun 2006 dengan Tier-2. Hasil penelitian menunjukkan Timbulan sampah Kota Pontianak pada tahun 2015 adalah 0,52 kg/org/hari dengan komposisi sampah yang didominasi oleh sampah organik dengan presentase 81,4% dan sampah anorganik 18,6%. Nilai potensi emisi CH4 di TPA Batu Layang Kota Pontianak Tahun 2015 adalah 4298,95 ton/tahun dan pada proyeksi Tahun 2020 adalah 4720 ton/tahun. Upaya mitigasi dan adaptasi yang dapat direkomendasikan adalah dengan sosialisasi teknik 3R, optimalisasi pengomposan dari sumber maupun TPA, peningkatan pengoperasian TPA dengan mengaplikasikan tanah penutup secara berkala, dan pemanfaatan volume gas yang lebih banyak di TPA, sehingga dapat mengurangi emisi CH4 yang lepas keatmosfer. Kata Kunci : Sampah, CH4, TPA Batu Layang
EVALUASI PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA PONTIANAK
ABSTRAK Pontianak merupakan ibukota daerah Kalimantan Barat yang memiliki jumlah penduduk sekitar 587.169 jiwa (BPS, 2014). Pertambahan jumlah penduduk sangat mempengaruhi terjadinya masalah sampah yaitu perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat yang dapat meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik sampah. Meningkatnya volume timbulan sampah memerlukan pengelolaan. Pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh dinas kebersihan berfokus kepada pengumpulan dan pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Alat pengangkutan sampah yang memadai akan dapat mengangkut seluruh sampah kota. Namun, jumlah alat pengangkutan sampah berupa arm roll yang dimiliki oleh dinas kebersihan saat ini hanya sebanyak 18 unit (Dinas Kebersihan, 2014). Jumlah tersebut belum cukup untuk mengangkut semua sampah yang ada di Kota Pontianak dan menyebabkan banyak sampah yang tertinggal di lokasi TPS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pengangkutan sampah di Kota Pontianak saat ini dan mengetahui manajemen pengangkutan sampah yang berkaitan dengan jumlah alat pengangkutan sampah dan ritasi pengangkutan sampah sesuai dengan volume sampah yang dihasilkan, serta mengetahui rute alternatif pengambilan sampah per kecamatan yang efektif di Kota Pontianak saat ini. Metode yang digunakan dalam pengambilan data adalah dengan cara observasi, studi literatur, dan studi dokumentasi. Observasi dilakukan di 6 kecamatan yang ada di Kota Pontianak. Pada tiap kecamatan dipilih 2 titik lokasi kontainer berdasarkan jarak terdekat dan terjauh dari lokasi TPA Batu Layang. Jadi, banyaknya titik lokasi kontainer yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini berjumlah 12 titik. Dalam pengambilan sampel menggunakan metode Stratified sampling. Stratified sampling adalah perilaku pemberian tingkatan atau kelas pada data yang dipilih secara acak berdasarkan jarak terdekat dan terjauh dari lokasi TPA. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola pengangkutan yang digunakan di Kota Pontianak saat ini menggunakan sistem HCS (Hauled Container System) dan manajemen pengangkutan sampah di Kota Pontianak masih belum optimal karena adanya kekurangan jumlah alat penangkutan sampah berupa arm roll sebanyak 13 unit dengan ritasi pengangkutan menjadi 6 ritasi per hari. Penambahan jumlah arm roll sebanyak 13 unit dan peningkatan ritasi pengangkutan menjadi 6 ritasi per hari pada setiap pengangkutan menyebabkan semua sampah di Kota Pontianak dapat terangkut dengan baik dan tidak ada yang tersisa. Kata Kunci: Sampah, Pola Pengangkutan, Alat Pengangkuta
UJI TOKSISITAS LIMBAH CAIR TAHU TERHADAP KUTU AIR TAWAR (DAPHNIA MAGNA)
ABSTRAKLimbah cair industri tahu yang dibuang ke badan air penerima tanpa pengolahan merupakan salah satu sumber pencemar di perairan yang menyebabkan kematian biota akuatik sehingga perlu dilakukan uji toksisitas akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai LC50 limbah cair dari industri tahu yang terdapat di Kota Pontianak. Uji toksisitas akut dilakukan dengan metode statis dalam waktu 48 jam menggunakan hewan uji kutu air tawar (Daphnia magna). Konsentrasi rata-rata parameter limbah cair dari industri tahu yang didapatkan yaitu BOD sebesar 532,46 mg/L, COD 1870,20 mg/L, TSS 747 mg/L, amonia 432,50 mg/L, pH 5,58 dan suhu 32 oC. Nilai parameter limbah cair tahu tersebut melewati baku mutu KEP/MENLH/ No.5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Kedelai dan KEP/MENLH/ No.3 Tahun 2010 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Kawasan Industri. Nilai LC50 rata-rata dari limbah cair tahu sebesar 3,56%. Peningkatan nilai BOD, COD, TSS, amonia dan pH akan menyebabkan peningkatan mortalitas hewan uji..Kata Kunci : LC50-48 jam, toksisitas, limbah cair tahu, kutu air tawar (Daphnia magna)
POTENSI TANAMAN HIAS DALAM MEREMEDIASI TANAH TERCEMAR LOGAM MERKURI (Hg) (STUDI KASUS : TAILING MANDOR)
ABSTRAK Aktivitas penambangan emas tanpa izin di Mandor telah lama ditinggalkan selama 10 tahun dan menghasilkan limbah tanah (tailing) berpotensi merusak lingkungan yaitu limbah merkuri yang berasal dari proses amalgamasi. Logam berat dalam tanah sangat sulit untuk diuraikan dan memerlukan biaya yang besar untuk memulihkannya. Metode yang efektif dan efisien dapat digunakan yaitu fitoremediasi. Penelitian ini menggunakan kemampuan tanaman hias hanjuang (Cordyline fruicosa), helikonia (Heliconia psittacorum) dan lidah mertua (Sansevieria trifasciata) untuk mengurangi cemaran logam merkuri (Hg) dalam tanah. Penelitian dilakukan selama 2 bulan dengan komposisi media tanam yang digunakan adalah tanah biasa tanpa tailing (kontrol), tanah tailing, tailing dan kompos kemudian dianalisis kandungan logam merkuri (Hg) tanaman dengan metode analisa AAS (Atomic Absorption Spectrophotometric). Tujuan penelitian ini adalah efisiensi penyerapan merkuri (Hg) dan besarnya nilai BCF dan TF dari tanaman hias. Berdasarkan hasil penelitian nilai efisiensi penyerapan pada tanaman hias hanjuang (Cordyline fruicosa) sebesar 29,03%, helikonia (Heliconia psittacorum) sebesar 42,98% dan lidah mertua (Sansevieria trifasciata) sebesar 57,36% terdapat di media campuran tailing dan kompos sedangkan di media tailing yaitu 25,30% ; 35,71% ; 46,72%. Nilai bioconcentration factor (BCF) yang dihasilkan oleh tanaman hanjuang (Cordyline fruicosa) sebesar 0,290, helikonia (Heliconia psittacorum) sebesar 0,378 dan lidah mertua (Sansevieria trifasciata) sebesar 0,463 terdapat di media campuran dan media tailing sebesar 0,235 ; 0,319 ; 0,400. Nilai translocation factor (TF) di media campuran oleh tanaman hanjuang (Cordyline fruicosa) sebesar 0, helikonia (Heliconia psittacorum) sebesar 0,106 dan lidah mertua (Sansevieria trifasciata) sebesar 0,241 dan media tailing sebesar 0,051 ; 0,202 ;0,157. Nilai TF dan BCF menunjukkan ketiga tanaman hias ini termasuk dalam akumulator sedang dan proses remediasi adalah fitostabilisasi. Kata Kunci : Mandor, Fitoremediasi, Logam Merkuri (Hg), Tanaman Hia
ANALISIS BEBAN EMISI CO DAN CH4 DARI KEGIATAN PEMBAKARAN SAMPAH RUMAH TANGGA SECARA TERBUKA (Studi Kasus Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya)
ABSTRAK Emisi dapat dihasilkan dari proses alam maupun aktivitas manusia. Emisi menjadi kunci utama terjadinya pencemaran lingkungan khususnya pencemaran udara. Salah satu aktivitas yang berpotensi menimbulkan emisi adalah pembakaran sampah rumah tangga secara terbuka. Berdasarkan hasil observasi lapangan, sistem manajemen pengelolaan dan pengolahan sampah di wilayah Kecamatan Sungai Kakap belum maksimal. Hal ini menyebabkan sebagian besar masyarakat mengolah sampah rumah tangga yang dihasilkan dengan cara membakar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui timbulan sampah rumah tangga di Kecamatan Sungai Kakap, mengetahui persentase penduduk membakar sampah dan frekuensi pembakaran, mengetahui perkiraan beban emisi CO dan CH4 dari kegiatan pembakaran sampah rumah tangga secara terbuka melalui perhitungan berdasarkan faktor emisi U.S. EPA (2001), serta memberikan rekomendasi yang tepat sebagai upaya pengurangan emisi. Pengambilan sampel sampah dilakukan dengan metode stratified random sampling berdasarkan klasifikasi pendapatan masyarakat. Klasifikasi pendapatan masyarakat didasarkan pada UMK (Upah Minimum Kabupaten) Kubu Raya Tahun 2015. Kelompok rumah dibagi menjadi dua golongan yaitu kelompok rumah dengan tingkat pendapatan masyarakat dibawah dan diatas nilai UMK. Sebanyak 46 rumah menjadi objek sampling untuk mendapatkan data timbulan sampah. Berdasarkan perhitungan dengan rumus Slovin, sebanyak 110 kuesioner disebarkan untuk mendapatkan data persentase penduduk membakar sampah serta data frekuensi pembakaran sampah. Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata timbulan sampah untuk Kecamatan Sungai Kakap yaitu sebesar 0,176 kg/orang/hari. Persentase penduduk membakar sampah di Kecamatan Sungai Kakap sebesar 66,4% dengan nilai frekuensi pembakaran sekitar 2 kali/minggu. Hasil perhitungan nilai beban emisi akibat pembakaran sampah di Kecamatan Sungai Kakap untuk gas CO yaitu sebesar 59,294 ton/tahun dan untuk gas CH4 yaitu sebesar 9,059 ton/tahun. Nilai beban emisi tersebut diperkirakan akan semakin tinggi seiring dengan pertambahan jumlah penduduk apabila tidak ada upaya pengurangan emisi. Rekomendasi yang dapat diberikan dalam upaya pengurangan emisi di Kecamatan Sungai Kakap adalah dengan merubah pola pikir dan paradigma masyarakat melalui pendekatan edukatif, pemberlakuan sanksi kepada masyarakat yang melakukan pembakaran sampah secara terbuka, serta perbaikan sistem manajemen sampah wilayah melalui penyediaan pelayanan persampahan dan penerapan 3R (Reuse, Reduce, Recycle) secara sederhana dengan melibatkan masyarakat. Kata Kunci : Pembakaran Sampah Secara Terbuka, Kecamatan Sungai Kakap, Beban Emisi,Emisi CO dan CH
ANALISIS DAMPAK KEBISINGAN TERHADAP KOMUNIKASI DAN KONSENTRASI BELAJAR SISWA SEKOLAH PADA JALAN PADAT LALU LINTAS
ABSTRAKKebisingan adalah salah satu jenis polusi yang berpengaruh terhadap lingkungan. Salah satu sumber polusi suara adalah kebisingan yang berasal dari jalan padat lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebisingan di MTsN 1 Pontianak di Jalan Alianyang serta mengetahui pengaruh kebisingan terhadap komunikasi dan konsentrasi belajar siswa di sekolah tersebut kemudian memperkirakan upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak kebisingan bagi para siswa. Waktu pengukuran adalah pada range jam 06.30-09.00 dan 10.00- 13.00 WIB dengan menggunakan Sound Level Meter. Pemilihan jam pengukuran kebisingan berdasarkan laporan Penyusunan Tataran Transportasi Lokal Kota Pontianak tahun 2012 oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika dan disesuaikan dengan jam saat masuk kelas yaitu pada saat masuk sekolah dan jam masuk kelas setelah istirahat. Pengukuran dampak kebisingan terhadap komunikasi dan konsentrasi belajar siswa dalam penelitian ini menggunakan kuesioner sebanyak 90 lembar yang dibagikan merata pada tiap kelas. Tingkat kebisingan pada MTsN 1 Pontianak melebihi ambang batas kebisingan untuk sekolah yaitu sebesar 55 dB. Tingkat kebisingan terbesar pada Jalan Alianyang adalah 74.2 dB, sedangkan pada halaman sekolah sebesar 66,6 dB. Dari analisis kuesioner, 96% siswa menyatakan bahwa sekolah tersebut bising, dan 89% responden menyatakan kebisingan dari lalu lintas mengganggu konsentrasi mereka dalam proses belajar mengajar di kelas. Dari analisis prestasi belajar siswa kelas 8 dan 9 yang mengalami penurunan sebanyak 62,5%. Upaya penanganan untuk mengurangi tingkat kebisingan adalah dengan menanam pepohonan di depan sekolah, membuat barrier kebisingan pada sekolah, membuat marka jalan dan rambu lalu lintas, serta ruangan kelas yang dapat dibuat lebih kedap suara dengan menambahkan bahan peredam sehingga kebisingan tidak masuk dan mengganggu proses belajar mengajar di kelas. Kata kunci : Kebisingan di Sekolah, Konsentrasi, Gangguan Komunikasi
Pengaruh Konservasi Arwana dan Pengelolaan Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu
ABSTRAK Arwana merupakan sumber daya alam dalam bentuk ikan hias kebanggaan Indonesia, yang banyak ditemukan di kawasan Danau Sentarum Kalimantan Barat. Jenis arwana yang ada di dunia, jenis ikan hias yang paling populer dan berkelas adalah Arwana asal Indonesia, yang jenis super red dan golden red. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : pertama, mengidentifikasi karakteristik sosial ekonomi serta persepsi masyarakat sekitar kawasan Konservasi Arwana di Desa Nanga Empangau di Kabupaten Kapuas Hulu; kedua, mengetahui manfaat ekonomi dari penangkaran ikan Arwana di daerah kawasan Konservasi Danau Lindung di Desa Nanga Empangau di Kabupaten Kapuas Hulu ; ketiga, mengetahui perkembangan pengelolaan lingkungan berbasis lokal terhadap masyarakat di Desa Nanga Empangau di Kabupaten Kapuas Hulu ; keempat, mengetahui peluang pemberdayaan nilai kearifan lokal dalam kebijakan pengelolaan lingkungan pada konservasi arwana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dan studi literatur. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis deskripstif, dan regresi logistik dengan bantuan program Excel dan SPSS (Statistical Package for Social Science) versi 16.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : pertama, mayoritas masyarakat di Desa Empangau berpendapatan ≤Rp. 1.250.000,00, berpendidikan Sekolah Dasar (SD), serta memiliki pekerjaan petani dan nelayan dengan pengetahuan konservasi yang biasa saja; kedua, konservasi dan kearifan lokal berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap pendapatan, sedangkan pendidikan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat; ketiga, pengelolaan lingkungan berbasis kearifan lokal di Desa Empangau menggunakan peraturan adat-istiadat yang masih berlaku baik tertulis dan tidak tertulis; keempat, peluang pemberdayaan nilai kearifan lokal dalam kebijakan pengelolaan lingkungan pada konservasi Arwana sangat besar. Kata Kunci : Arwana, Konservasi, Kearifan Loka
STUDI ALAT DESTILASI SEDERHANA BENTUK PIRAMID UNTUK PENGOLAHAN AIR LAUT MENJADI AIR BERSIH
ABSTRAK Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Tidak semua daerah mempunyai sumber daya air bersih yang baik. Di Kalimantan Barat khususnya di Kota Pontianak krisis air bersih terjadi akibat tecemarnya sumber air baku, karakteristik tanah daerah Kota Pontianak yang sebagian berupa tanah gambut dan juga akibat intrupsi air laut. Berangkat dari masalah tersebut maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mencari alternatif pengolahan air, yaitu dengan proses destilasi atau penyulingan air. Teknologi destilasi merupakan pemisahan komponen suatu bahan berdasarkan perbedaan titik didih dengan memanfaatkan energi panas. Sejumlah volume air dengan variasi volume yang berbeda dilewatkan ke dalam sebuah alat destilasi sederhana berbentuk piramid. Variasi volume tersebut yaitu 1000 ml, 1500 ml dan 2000 ml dengan masing-masing volume dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali percobaan. Pada penelitian ini digunakan sumber air baku air laut yang diambil dari Pantai Samudera Indah Kabupaten Bengkayang. Dari hasil penelitian diperoleh volume sampel air dengan efisiensi paling tinggi yaitu 1000 ml dengan efisiensi pengolahan air sebesar 37%. Pada penelitian tersebut tercatat suhu lingkungan penelitian adalah sebesar 38°C dansuhu di dalam alat sebesar 88°C. Sedangkan berdasarkan parameter kimia yaitu pengujian kadar Klorida (Cl) mengalami penurunan dari 19.850 mg/l menjadi rata-rata 15,97 mg/l, Magnesium (Mg) dari 2,06 mg/l menjadi rata-rata 1,60 mg/l, Sulfat (SO4) dari 3700 mg/l menjadi rata-rata 33,67 mg/l, Natrium (Na) dari 11.748,25 mg/l menjadi rata-rata 63,95 mg/l. Secara keseluruhan kualitas air hasil proses destilasi ini sudah memenuhi standar baku mutu yang diperbolehkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492 tahun 2010 tentang air minum. Kata Kunci : destilasi, pengolahan air laut, salinitas, suhu (°c
PENGOLAHAN AIR TANAH DENGAN SISTEM MULTIFILTRASI MENGGUNAKAN CANGKANG KERANG, ZEOLIT DAN KARBON AKTIF
ABSTRAK Air tanah dangkal yang berasal dari peresapan air permukaan mengandung banyak komponen yang terlarut ketika air elewati lapisan tanah seperti besi dan zat organic yang menyebabkan air menjadi berasa, berbau dan berwarna. Berdasarkan hal tersebut, maka air tanah perlu diolah terlebih dahulu. Salah satu pengolahan air yang dapat digunakan adalah dengan sistem multifiltrasi (filtrasi bertingkat) dengan menggunakan media filter cangkang kerang yang berasal dari kerang darah (Anadara granosa), zeolit dan karbon aktif. Ketebalan media filter merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses filtrasi sehingga diperlukan penelitian untuk mencari ketebalan masing-masing media filter yang sesuai. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan variasi ketebalan ketiga media filter, yakni cangkang kerang, zeolit dan karbon aktif guna mendapatkan efektivitas pengolahan yang paling maksimum. Pengujian dilakukan bertahap dimulai dari optimasi ketebalan media filter cangkang kerang, zeolit dan terakhir karbon aktif. Optimasi ketebalan media filter dilakukan dengan melakukan variasi ketebalan terhadap salah satu jenis media filter sedangkan ketebalan kedua media filter lainnya tetap. Pengolahan air dilakukan menggunakan suatu rangkaian alat yang terdiri atas tiga pipa galvanis dengan diameter 3 inchi dan ketinggian 70 cm. Debit aliran sebagai variabel tetap adalah 1,25 l/menit, variasi ketebalan media filter sebagai variabel bebas adalah 25, 35 dan 45 cm, serta parameter kualitas air sebagai variabel terikat meliputi pH, besi, zat organik dan warna. Efektivitas maksimum pengolahan air gambut berdasarkan hasil optimasi ketebalan media filter ialah pada variasi ketebalan media filter cangkang kerang 35 cm, zeolit 45 cm dan karbon aktif 45 cm dengan kenaikan pH dari 5,19 menjadi 9,33, penurunan kadar besi sebesar 59,64% dari 3,03 mg/l menjadi 1,22 mg/l, penurunan kadar zat organik sebesar 62,22% dari 113,76 mg/l menjadi 42,98 mg/l serta penurunan kadar warna dalam air sebesar 35,61% dari 50,32 menjadi 32,40 Pt-Co. Kata-kata kunci : air tanah, cangkang kerang, karbon aktif, multifiltrasi, zeoli
RANCANG BANGUN ALAT PENGOLAH AIR GAMBUT SEDERHANA SEBAGAI SOLUSI PERMASALAHAN AIR BERSIH MASYARAKAT PEDESAAN
ABSTRAK Sulitnya pemenuhan kebutuhan air bersih mengakibatkan masalah lain yang kompleks. Salah satu permasalahan yang dapat ditimbulkan adalah menjadi buruknya sanitasi di lingkungan tersebut yang kemudian berdampak pada masalah kesehatan masyarakat di lingkungan tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut maka pada penelitian ini dilakukanlah perencanaan sebuah alat pengolahan air gambut yang bertujuan untuk membuat sebuah alat yang sederhana dan efisien sehingga dapat memberikan pelayanan air bersih kepada masyarakat yang sebagian besar masih menggunakan air gambut untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Pada alat yang telah dirancang selanjutnya akan dilakukan uji coba untuk mengetahui efisiensi alat untuk menurunkan parameter warna, kekeruhan, TDS, pH, Besi (Fe) dan Mangan (Mn). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengolahan menggunakan alat yang telah dirancang terbukti mampu menurunkan beberapa parameter sampai pada standar baku mutu yang telah ditetapkan oleh PERMENKES No.416/MENKES /PER/IX/1990. Parameter pH pada titik 1 mengalami peningkatan dari 2,9 menjadi 5,31 dan untuk titik 2 mengalami penurunan dari 7,6 menjadi 5,32. Parameter warna mengalami penurunan dari 743 Pt-Co menjadi 23 Pt-Co dan untuk titik 2 mengalami penurunan dari 639 Pt-Co menjadi 6 Pt-Co. Parameter kekeruhan pada titik 1 megalami penurunan dari 3,25 NTU menjadi 2,94 NTU dan untuk titik 2 mengalami penurunan dari 11,9 NTU menjadi 2,44 NTU. Parameter TDS (Total Disolved Solid) pada titik 1 mnegalami penurunan dari 38,8 mg/l menjadi 26,5 mg/l dan pada titik 2 mengalami peningkatan dari 21,8 mg/l menjadi 27,8 mg/l. Parameter mangan (Mn) pada titik 1 mengalami peningkatan dari 0,01 mg/l menjadi 1,22 mg/l dan pada titik 2 mengalmi peningkatan dari 0,4 mg/l menjadi 1,42 mg/l. Parameter besi (Fe) pada titik 1 mengalami penurunan dari 0,83 mg/l menjadi 0,18 mg/l dan pada titik 2 mengalami penurunan dari 4,19 mg/l menjadi 0,24 mg/l. Dari hasil uji tersebut, terdapat beberapa parameter yang masih belum memenuhi standar baku mutu, sehingga diperlukan perbaikan pada rancangan alat agar air hasil olahan menjadi lebih baik dan sesuai standar baku mutu. Kata kunci: gambut, efisiensi, baku mutu